Kajian Timur Tengah

Beranda » Uncategorized » Pandemi dan Kapitalisme-Data

Pandemi dan Kapitalisme-Data

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

oleh: Raul Diego

Apa yang disebut Great Reset tidak lebih dari sekadar kampanye untuk mengubah umat manusia menjadi kumpulan data, yang dapat digunakan oleh hedge fund dan perusahaan transnasional terkuat di dunia untuk menciptakan lebih banyak keuntungan bagi diri mereka sendiri dan klien mereka.

Membangun Kembali Kapitalisme (reinvent capitalism)

Menurut Kamus Bahasa Inggris Cambridge, ekonomi adalah “sistem perdagangan dan industri dimana kekayaan suatu negara dibuat dan digunakan.” Selama beberapa abad terakhir, sistem ini didominasi oleh paradigma kapitalisme, di mana pemilik modal (kapital) swasta-lah yang mengontrol perdagangan barang dan jasa; bukan negara.

Perdagangan budak dan ekonomi perkebunan pada awal periode kolonial di Amerika adalah di antara manifestasi awal dari paradigma kapitalisme ini. Ketika itu, kaum kaya Eropa yang semula menguasai sumber-sumber alam dan ekonomi feodal digantikan oleh  gagasan John Locke tentang  kepemilikan pribadi.  Gagasan yang dilandasi dogma quasi-relijius ini kemudian menguasai teori ekonomi Barat selama tiga ratus tahun berikutnya.

Saat ini, paradigma kapitalisme telah kehabisan pembenaran moral yang selama ini diandalkan para pendukungnya.  Kebenaran telah semakin muncul, keserakahan kaum kapitalis semakin terungkap seiring dengan semakin besarnya jurang antara kekayaan dan kemiskinan. Segelintir orang menguasai kekayaan yang amat-sangat besar sementara puluhan juta orang tenggelam dalam kemiskinan dan perang memperebutkan sumber daya terus melanda di seluruh penjuru dunia.

Setelah memeras setiap tetes terakhir kekayaan alam, dan tidak ada lagi tanah untuk ditinggali, atau pasar untuk ditemukan, para pemilik modal mencari jalan hidup baru dengan membuat “salinan virtual” atas modal. Kini, “kekayaan intelektual” menggantikan kekayaan fisik;  proses biologis dan perilaku manusia disusun ulang menjadi model baru perburuhan.

Para kapitalis kini sedang berupaya “menerjemahkan” dunia nyata menjadi dunia palsu digital yang dapat menyediakan pasar keuangan dengan angka dan statistik yang dibutuhkan untuk melaksanakan kontrak pasar modal “manusia jenis baru”.  Inilah bentuk modal baru yang berbahaya, yang dikumpulkan dari kode genetik kita dan jenis-jenis data lainnya, yang akan menjadi dasar dari sebuah dunia keuangan jenis baru. Dunia keuangan jenis baru ini didirikan oleh teknologi “blockchain” dan terus dipantau dan diperbarui melalui status biosekuriti yang sedang berkembang.

[Note: blockchain adalah teknologi yang digunakan sebagai sistem penyimpanan data digital yang terhubung melalui kriptografi; kriptografi adalah mata uang digital, seperti bitcoin, etherium, dll.]

Para pemimpin dunia, para penguasa hedge fund, dan perusahaan transnasional terkuat di dunia telah menyebut-nyebut “Great Reset” selama pandemi Covid-19. Great Reset tidak lebih dari sekadar kampanye untuk mengubah umat manusia menjadi kumpulan data, yang dapat mereka gunakan untuk menciptakan lebih banyak keuntungan bagi diri mereka sendiri dan klien mereka.

Untuk saat ini, mereka tidak memiliki cukup uang untuk mewujudkannya dan kita masih memiliki kekuatan untuk memastikan mereka tidak bisa melakukannya.

[Note: setelah pandemi ini, berbagai organisasi dunia dan tokoh-tokoh dunia menyuarakan “great reset” atau “memulai ulang” tatanan dunia, atau istilah lainnya “reinvent capitalism” (menciptakan/membangun kembali kapitalisme). Antara lain, baca di sini dan sini.] 

Langkah Mendekati “Normal”

Kembalinya “ke kondisi normal” akan membutuhkan sertifikat vaksinasi Covid, menurut mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Blair adalah salah satu dari banyak pemimpin dunia yang mendorong “paspor vaksin”. Uni Eropa berencana meluncurkannya segera setelah musim panas ini di seluruh negara anggotanya. Kebutuhan akan “sertifikat vaksinasi digital” telah mencapai konsensus total di Eropa, menurut Kanselir Jerman Angela Merkel. Sementara itu, negara-negara di luar Uni Eropa mungkin akan segera menerima standarisasi dan protokol penegakan untuk kredensial vaksin yang dirancang oleh tim peneliti dan akademisi dari Inggris, Australia, Kanada, dan Karibia.

Upaya “standarisasi dan protokol penegakan untuk kredensial vaksin” itu dipimpin Andy Knight, ilmuwan politik Universitas Alberta. Proyek ini didanai oleh Dana Pengembangan Penelitian Jaringan Universitas Seluruh Dunia (Worldwide Universities Network – WUN). Knight dalam interview baru-baru ini menekankan bahwa vaksinasi tidak boleh diperlakukan sebagai “masalah nasionalistik.” Ia menegaskan bahwa keamanan global bukan lagi terkait ancaman militer, tetapi terkait ancaman kesehatan. Ia memperingatkan adanya “bubarnya kerja sama internasional” yang menurutnya harus dihadapi melalui “kerja sama antara sektor publik dan swasta.”

Andy Knight

Memang, sponsor Knight berkomitmen pada Sustainability Development Goals (SDGs) PBB. SDGs adalah 17 program PBB yang berpusat pada isu “perubahan iklim”, yang akan dicapai melalui kerja sama publik-swasta-filantropi. Proyek yang dipimpin Knight akan digabungkan ke dalam studi kebijakan enam bulan SDGs. Program SDGs ini didukung oleh  didukung oleh Rockefeller Foundation dan organisasi filantropi lainnya, dan salah satu landasan utama “Great Reset” sekarang adalah menampilkan Covid-19 sebagai andalan proyek itu.  

The Commons Project

Pada bulan Oktober 2020, MintPress meliput sebuah organisasi bernama The Commons Project, yang pada saat itu sedang melaksanakan tes resmi pertama aplikasi paspor kesehatan bernama “CommonPass” di Newark, New Jersey, di hadapan pejabat CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat) dan para agen di kantor Perbatasan dan Bea Cukai AS. Jika dilacak latar belakang para pendiri The Commons Project, terlihat hubungan mereka dengan CDC dan operasi intelijen rahasia di seluruh dunia.

Dr. Bradley A. Perkins memimpin penyelidikan CDC terhadap serangan antraks tahun 2001; menjabat sebagai kepala Meningitis dan Patogen Khusus (Meningitis and Special Pathogens), menjadikannya sebagai pakar antraks (anthrax expert) di lembaga tersebut. Dia kemudian ditunjuk sebagai Wakil Direktur Kantor Strategi dan Inovasi CDC, dan akhirnya mengepalai divisi, yang terdiri dari 50 kantor cabang di seluruh dunia dan memiliki anggaran sebesar $ 11,2 miliar Dollar AS. Perkins sebelumnya di tahun 1989 memimpin sebuah tim Epidemic Intelligence Service (EIS) di CDC, sebuah  unit khusus yang awalnya dibentuk untuk  “menangkap komunis jika mereka mulai menyebarkan wabah di semenanjung Korea.” Perkins kemudian naik jabatan sebagai kepala unit bioterorisme CDC lalu bersama dengan lima rekannya ditunjuk untuk memimpin penyelidikan antraks.

Dapat dikatakan bahwa saat itulah puncak karir Perkins. Ia bekerja sama dengan Direktur CDC, Julie Gerberding, untuk menciptakan kemampuan tanggap darurat (emergency response capability) yang paling mutakhir senilai $ 2 miliar Dollar AS di masa pemerintahan Bush, ketika terjadi epidemi Flu Burung H5N1.

Perkins hingga kini menjadi tokoh paling berpengaruh di badan pencegahan penyakit di Amerika Serikat, di mana dia tampaknya sangat berniat untuk merombak pendekatan negara terhadap kesehatan publik secara radikal. Dia membawa impiannya itu ke perusahaan swasta, antara lain, Human Longevity, Inc, dimana ia pernah menjadi Chief Medical Officer (CMO) empat tahun. Human Longevity, Inc. adalah  sebuah perusahaan pengurutan DNA yang didirikan oleh Dr. Craig Venter, orang pertama yang mengurutkan genom manusia.

Dr. Bradley Perkins

Pada tahun 2017, tepat sebelum Perkins mengundurkan diri sebagai CMO di Human Longevity, dia memberikan presentasi yang cukup mencerahkan di “Konferensi Ide Abu Dhabi Institut Aspen” (Abu Dhabi Ideas). Konferensi itu diadakan di New York University, di mana Perkins menjelaskan dengan sangat rinci tentang apa yang dia dan rekan-rekannya lakukan dalam bisnis pengurutan DNA bertujuan untuk menciptakan “perubahan kesehatan masyarakat.”

Dia tampil dalam sebuah panel session dengan pakar transhumanis lain yang juga mendorong “revolusi genom” di dunia, seperti Aubrey de Grey, yang saat ini menjabat sebagai penasihat sains untuk transhumanist project Jeffrey Epstein (sekarang berganti nama menjadi Humanity +).

[Note: Jeffrey Epstein adalah konglomerat AS yang pada Juli 2019 dipenjara karena kasus prostitusi anak-anak dan penyeludupan pekerja seks yang melibatkan tokoh-tokoh ternama dunia. Kasus Epstein dihentikan setelah ia bunuh diri di penjara pada Agustus 2019.]

Perkins menguraikan tentang manfaat genomik sebagai garda terdepan dalam perawatan kesehatan di masa mendatang.  Dalam pidatonya yang berjudul “Synthetic Life to Human Health,” Perkins menjelaskan bagaimana genomik “akan menjadi pemercepat dalam memperpanjang umur manusia berkinerja tinggi.” Ada empat faktor yang memungkinkan hal ini terwujud. Faktor pertama dan terpenting adalah “penurunan biaya sekuensing genom keseluruhan secara radikal,” yang turun dari sekitar tiga miliar dolar pada awalnya menjadi sekitar seribu dolar atau “sekitar tiga ribu dolar jika Anda memasukkan komponen analitik” per peta kode DNA.

Faktor kedua, munculnya komputasi awan (cloud computing), yang menurut Perkins “hampir tidak cukup untuk mulai menampung data yang banyak ini, [yang memungkinkan] kami untuk memanipulasi dan menganalisisnya.” Faktor ke-3 adalah adopsi utama pembelajaran mesin (AI) untuk “menafsirkan” data.

Terakhir, Perkins menyoroti perubahan yang sangat penting dari “perawatan kesehatan berbasis volume ke perawatan kesehatan berbasis nilai.” Di sini, Perkins mengacu pada uang tunai, seperti ia jelaskan selanjutnya. Menurutnya, mengingat bagaimana genomik “akan mendorong kemajuan luar biasa dalam asuransi jiwa dan kesehatan [serta] kemajuan luar biasa dalam penyediaan layanan kesehatan dengan memberdayakan model perawatan kesehatan generasi baru. “

“Apa yang akan kita mulai,” prediksi Perkins dengan berani, tidak lain adalah “meretas perangkat lunak kehidupan,” dan “untuk pertama kalinya, mencoba memahami semua instruksi yang membangun, mengoperasikan, dan mereproduksi kita sebagai manusia.” Dia mengilustrasikan maksudnya dengan anekdot tentang bagaimana pelopor genomik Venter “duduk di depan komputer dengan gagasan bahwa dia sebenarnya bisa merancang genom, urutan huruf DNA; menghasilkan genom itu secara artifisial; memasukkan ke dalam sebuah membran dan menciptakan kehidupan dari awal. ”

Perkins menganggap bahwa ide Venter tahun 2010 itu mungkin “lebih penting” daripada pengurutan genom manusia itu sendiri. Momen “eureka” ketika seorang ilmuwan Barat mengembangkan “sistem ketuhanan” (God-complex) adalah apa yang akan mengubah “pengobatan dari ilmu kedokteran yang didukung oleh data menjadi ilmu data yang didukung oleh dokter,” demikian menurut Perkins. Ia selanjutnya memperingatkan tentang “gangguan mendalam dalam diri kita dalam format kedokteran saat ini. Namun gangguan itu tidak akan ada lagi dalam waktu dekat. “

Platform bioinformatika Human Longevity Tersimpan di server cloud Amazon.  Ini hanyalah salah satu dari beberapa teknologi pengurutan generasi mendatang yang dirancang untuk melakukan jenis pekerjaan pengurutan genom komparatif (comparative genome sequencing). Teknologi inilah yang diandalkan oleh Perkins dan rekan industri ilmu hayatnya dalam mencapai apa yang dia impikan sebagai “perusahaan berskala terbesar yang pernah ada yang menerjemahkan bahasa biologi dalam bentuk kode DNA linier ke dalam bahasa kesehatan dan penyakit.”

[Note: Amazon adalah sebuah perusahaan yang didirikan Jeff Bezos. Kekayaan Bezos saat ini lebih dari 192 miliar Dollar AS, dan dia salah satu manusia terkaya di dunia.]

Perkins mengakui bahwa “genom dalam isolasi tidak terlalu berguna” dan bahwa bisnis genomik pada dasarnya adalah “membangun data/catatan kesehatan terintegrasi,” agar dapat menghubungkan “data klinis berkualitas tinggi” dengan seluruh urutan genom. “Kami sedang dalam bisnis membangun database yang besar,” ungkap Perkins. Tanpa itu, revolusi genomik akan mati.

Aplikasi CommonPass

Tapi, dengan CommonPass, Perkins terus melakukan semua yang dia bisa untuk membangun database itu. Bagaimanapun, paspor biometrik yang diperlukan di semua pintu masuk pelabuhan/bandara akan sangat membantu untuk mendapatkan tambang emas data genomik. Inilah peluang yang tidak akan dilepaskan oleh para pemegang saham mayoritas perusahaan lain yang melibatkan Perkins, bahkan sebelum bergabung dengan organisasi nirlaba Human Longevity.

Setelah keluar dari karirnya yang panjang di CDC, Perkins bergabung dengan Vanguard Health System sebagai Wakil Presiden Eksekutif dan Kepala Pejabat Transformasi. Perusahaan ini adalah operator rumah sakit dan klinik lintas nasional yang diperdagangkan secara publik,  dikendalikan oleh The Blackstone Group dari tahun 2004 lalu dijual ke Tenet Healthcare pada tahun 2011. Perusahaan ini membentuk “jaringan rumah sakit yang dimiliki investor” ketiga terbesar di Amerika Serikat. Tenet, seperti banyak perusahaan perawatan kesehatan milik swasta lainnya, telah diguncang oleh kontroversi dan korupsi.

Rabbi Arthur Schneier, presiden dan pendiri the Appeal of Conscience Foundation, (kanan), memberikan penghargaan pada Lee Hsien Loong, PM Singapura (2019). Kiri: Stephen A. Schwarzman, CEO and Co-Founder of Blackstone; Ho Ching (istri PM). Duduk: mantan Menlu AS, Henry Kissinger. (Diane Bondareff/AP)

Perkins menerima uang senilai 1,9 juta Dolar AS untuk kemudian pindah dari Vanguard, tepat sebelum merger. Baru tahun lalu, Blackstone mengakuisisi  Ancestry.com Inc. dengan harga 4,7 miliar Dolar AS, menjadikannya pemilik basis data DNA pribadi terbesar di dunia, yang berisi genom 18 juta orang di 30 negara.

Penguasaan Data Melalui Bisnis Kesehatan

Berikut ini uraian lebih lanjut mengenai penguasaan data melalui bisnis kesehatan. Penambangan besar-besaran data genom selain dilakukan oleh Blackstone juga terlihat dalam akuisisi 23andMe oleh Richard Branson pada bulan Januari 2021, melalui fasilitas special-purpose vehicle, untuk mengambil DNA konsumen.

“Dalam hal genetika, Anda memerlukan kumpulan data yang sangat besar,” kata CEO Federation Bio Emily Drabant Conley terkait pertanyaan tentang harta DNA Blackstone. Mantan eksekutif 23andMe ini menjelaskan bahwa karena “genom itu sendiri sangat luas dan rumit serta ada begitu banyak perbedaan di antara orang-orang”, calon pelanggan seperti perusahaan farmasi besar (Big Pharma) minimalnya membutuhkan kumpulan data 10 juta orang.

Namun, kemampuan Blackstone untuk memonetisasi DNA kita tidak sebatas pasar yang ada saat ini. Kepemilikan sahamnya yang signifikan dalam bisnis perawatan kesehatan, asuransi, dan perusahaan ritel memberi perusahaan swasta ini kemampuan untuk mencampur-dan-mencocokkan kumpulan data kolektif yang mereka miliki untuk menemukan segmen baru. Misalnya, ada kemitraan Spotify dan Ancestry.com untuk merancang “desain DNA playlist musik” dan kombinasi kumpulan data genetik dan perilaku lainnya.

Dengan demikian Blackstone memiliki sebuah “gambaran yang mencakup semua hal tentang perilaku konsumen,” sebagaimana dijelaskan oleh profesor keuangan Fakultas Bisnis Universitas Pennsylvania Wharton.  Namun, ada dampak dari kepemilikan data sangat besar ini. Digabungkan dengan data genomik, data ini dapat menghasilkan skenario kontrol fasis [pengontrolan umat manusia] yang benar-benar mengerikan.

Inisiatif seperti Blockchain for Social Impact Coalition dari Bank Dunia mempromosikan pembuatan “solusi dan aplikasi blockchain Ethereum yang menangani masalah sosial dan lingkungan global” melalui IXO protocol. Program ini memungkinkan siapa saja untuk menyampaikan, mengevaluasi, atau berinvestasi dalam sustainable development impacts, dengan bukti “dampak ekonomi kripto” (crypto-economic proof of Impact). Lembaga seperti Social Finance Israel, yang didirikan oleh Sir Ronald Cohen, mendorong penerapan protokol tersebut melalui beberapa program percontohan untuk menilai metrik seperti analitik data waktu nyata (like real-time data analytics), verifikasi dampak jarak jauh, dan kelangsungan token dampak (bond-specific cryptocurrencies) di bidang pendidikan dan bidang lainnya.

[Note: kata “impact” terkait dengan impact investment. Ini merupakan model investasi baru, yang mengklaim tidak sekadar mencari keuntungan, tapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan. Impact investment sebenarnya sangat terkait dengan penambangan data. Baca di sini.]

Yayasan yang berbasis di Hong Kong, Impact Oxygen Foundation (iO2) mengoperasikan platform layanan social impact di China yang disebut  ShanZhai City, yang melaksanakan blockchain-based impact projects di negara tersebut; sebagaimana juga di Myanmar, Laos, Thailand dan Brazil. Pada tahun 2018, CEO perusahaan startup social impact diundang untuk mengikuti workshop dua hari yang diadakan oleh bank raksasa, UBS, dan IXO Foundation dengan tujuan “menciptakan generasi baru mekanisme impact financing, menggunakan Web3 dan teknologi blockchain.” Sebelumnya, ShanZhai City menjalin “kerja sama strategis” dengan IXO untuk “merevolusi infrastruktur keuangan sosial” (social finance).

Revolusi ini memerlukan kemampuan untuk “mengukur, mengevaluasi, menilai, dan menandai data dampak terverifikasi” yang diperoleh melalui pengumpulan data kita di mana-mana, teknologi pengawasan. Lalu, mereka akan menyerahkannya ke lembaga keuangan untuk mendapatkan keuntungan dari investasi yang mereka buat terhadap kemiskinan dan kesengsaraan di seluruh dunia.

[Note:Dengan kata lain, berbagai proyek yang diklaim bertujuan mengentaskan kemiskinan, kerusakan lingkungan, dll, sebenarnya adalah penambangan data (data mining), sementara persoalannya tidak teratasi. Demikian pula paspor kesehatan biometrik, meski diklaim untuk kesehatan, namun tujuan utamanya adalah data mining.]

Jejaring Korporasi yang Saling Mengunci

Ketika Donald Trump memotong dana untuk program PREDICT USAID pada Maret 2020, ada yang menilai itu sebagai keputusan yang salah: mengapa menutup program yang selama sepuluh tahun terakhir berfokus pada pengumpulan virus corona tepat ketika sedang ada pandemi Covid-19?

Tapi sebenarnya, program itu sudah lama selesai. Pencipta program ini, Dr. Dennis Carroll; direktur globalnya Dr. Jonna Mazet; dan Peter Daszak, ilmuwan terkemuka yang telah menyimpan ribuan sampel virus corona di database Institut Virologi Wuhan, telah pergi membentuk lembaga nirlaba baru untuk mengembangkan “tanggapan strategis terhadap kebutuhan untuk memprediksi, mencegah, dan merespons dengan lebih baik ancaman pandemi virus di masa depan dan untuk melindungi kita semua dari konsekuensi terburuknya. “

Lembaga baru itu bernama Global Virome Project (GVP) yang segera bekerja sama dengan The Trinity Challenge, sebuah koalisi global “para partner yang bersatu dalam tujuan yang sama, membangun pemahaman dan aksi untuk melindungi dunia lebih baik di hadapan ancaman kesehatan.”

Pendiri koalisi ini, antara lain the Bill & Melinda Gates Foundation, Facebook, Google, The London School of Economics, Glaxo-Smith Klein, McKinsey & Company, Microsoft, Tencent dan banyak lagi yang lain.

Lembaga/Perusahaan Pendiri Trinity Challenge

Akan lebih menarik jika kita membaca daftar anggota reguler, di antaranya Pierre Omidyar’s Palantir, yang memiliki data kontroversial dalam perjanjian management  dengan Kementerian Kesehatan Inggris (NHS); the Clinton Health Access Initiative (CHAI), yang anggota dewannya, yaitu Dame Sally Davies, menjadi pemimpin the Trinity Challenge. Sally Davies juga merupakan mantan ketua penasehat medis Inggris. Selain itu, ada nama Tsinghua University, dan lain-lain.

Inilah jejaring yang saling berjalin-berkelindan. Jaringan keanggotaan dan asosiasi saling terkait dan hampir semuanya terlihat seperti lubang kelinci yang saling bertaut, dan orang-orangnya “itu lagi-itu lagi” sehingga memunculkan kesimpulan bahwa ini adalah satu klub besar yang berjuang untuk mencapai tujuan yang sama. Dalam satu kasus yang sangat menonjol, salah satu nama paling terkenal yang terkait dengan rezim vaksinasi global, Bill & Melinda Gates Foundation, terkait (ter-link) dengan “social impact investment” yang mendukung member Trinity Challenge.

Global Impact Advisors adalah perusahaan konsultan dari San Mateo, California, yang dipimpin CEO Amy Adelberger, seorang alumni Bill & Melinda Gates Foundation yang dikenal telah meluncurkan program senilai  $33 juta Dolar AS untuk menangani penyakit TBC, berpartner dengan Kementerian Sains dan Teknologi China selama dia bergabung dengan yayasan tersebut. Perusahaan Adelberger fokus pada “pada penerapan solusi berbasis pasar untuk kesehatan global dan tantangan pembangunan”. Perusahaan itu terlihat mendapatkan hampir semua kliennya dari Bill & Melinda Gates Foundation dan— berkat perannya sebagai program manager dalam program TBC di China, perusahaannya tetap berfokus pada isu-isu terkait TBC.

Jika kita membaca section “public-private partnerships” pada website perusahaan tersebut, terlihat Adleberger memenuhi “harapan” Gates Foundation “peningkatan skala nasional [dari] inovasi di seluruh China”, serta kemitraan lainnya senilai multi-juta-dollar dengan pemerintah China.

The Commons Project [yang telah dijelaskan sebelumnya] juga memiliki keterkaitan erat dengan Big Pharma, Big Tech [perusahaan teknologi informasi, seperti Facebook], akademisi dan organisasi-organisasi federal, seperti terlihat dalam daftar Anggota Dewan.

Melihat jejaring ini, muncul perasaan yang tak terhindarkan, bahwa mereka adalah kumpulan pialang kekuasaan yang sangat terorganisir dengan baik, meski relatif kecil, yang bertekad untuk membentuk ekonomi berbasis data dalam upaya untuk menghembuskan kehidupan baru ke dalam sistem kapitalisme yang tidak dapat dibeli oleh siapa pun lagi. 

[Note: ini kembali ke penjelasan di awal mengenai kapitalisme, ketika semua tanah dan kekayaan alam sudah habis disedot, perlu dicari pasar baru dan sumber-sumber keuangan baru lagi]

Para misionaris dari “ekonomi pasar bebas” berusaha keras untuk meyakinkan kita bahwa mereka benar-benar mengutamakan kepentingan rakyat saat ini, setelah berabad-abad melancarkan perang tanpa henti, korupsi yang kejam, dan perusakan lingkungan. Seolah kini, tiba-tiba saja, keadaan darurat kesehatan masyarakat menyentuh jiwa mereka,  memicu rasa kasih sayang yang sudah lama mati; lalu mereka menawarkan solusi yang anehnya, sudah mereka siapkan. Imbalan atas solusi yang mereka punyai itu, kita harus melepaskan kemanusiaan kita dan hidup di balik layar dan berbicara satu sama lain hanya melalui aplikasi pesan terenkripsi.  [note: bicara lewat Zoom, WA, dll]

Selain itu, mereka meyakinkan kita, bahwa ini sudah seharusnya. Mereka telah melihat kesalahan dalam cara mereka dan siap untuk mengantarkan paradigma ekonomi yang lebih manusiawi, lebih “berkelanjutan”, di mana orang kaya akhirnya berinvestasi pada orang miskin, orang sakit, dan tunawisma sebagai bagian dari “moral” baru ekonomi.

Tetapi, pertanyaan yang jelas untuk mereka adalah, jika kesengsaraan bisa mendatangkan profit, insentif apa yang ada untuk pemberantasannya?

[note: jika kemiskinan dan penyakit mendatangkan laba, bukankah bagi penguasa modal, lebih baik kemiskinan dan penyakit tetap ada supaya laba tetap mengalir?]

Penutup

Kapitalisme telah berinvestasi dalam kesengsaraan dalam sepanjang usianya, dan selalu menemukan bahwa kesengsaraan sangat menguntungkan mereka. Menciptakan “kembaran digital” dunia memberikan peluang yang jauh lebih besar untuk mendapatkan keuntungan. Tetapi, hal ini ditebus dengan menghancurkan kehidupan nyata manusia dan menggantinya dengan “titik dan tanda hubung dan sinyal listrik” [kode-kode digital] yang hanya berguna untuk pasar keuangan.

Perang Dingin yang panjang dan berlarut-larut dengan China dan blok Timur berpotensi menghasilkan lebih banyak pengungsi, lebih banyak kemiskinan, lebih banyak trauma, dan lebih banyak tahanan. Dengan kata lain, lebih banyak aset untuk pasar modal manusia. Tapi, sebelum itu terjadi, mereka membutuhkan DNA kita untuk mengukur proyek percontohan dan memberi makan leviathan yang kelaparan saat ia meronta-ronta di planet yang terbatas.

[note: leviathan adalah monster yang disebut dalam Alkitab, metafora/perumpamaan untuk “musuh yang sangat kuat”]

*****

Tulisan ini adalah terjemahan dari sebagian tulisan Raul Diego di MintPress News. Diego adalah staf di MintPress News, jurnalis foto independent peneliti, penulis, dan pembuat film dokumenter. Tulisan asli bisa dibaca di sini. Penjelasan di dalam kurung [Note…] adalah tambahan dari penerjemah.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: