Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Kenangan: Obrolan di Persian Kabab

Kenangan: Obrolan di Persian Kabab

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Hari Sabtu kemarin adalah awal musim semi di Iran dan dirayakan sebagai hari tahun baru (Nowruz). Menurut film pendek yang ditayangkan BBC, Nowruz bukan cuma dirayakan di Iran, tapi juga di Tajikistan, Rusia, India, Turki, Irak; dan totalnya ada 300 juta orang sedunia yang merayakan awal musim semi ini. [1]

Beberapa teman dari Iran mengirimkan WA ucapan selamat Nowruz ke saya, tentu sebagai bagian dari tradisi mereka saja. Soalnya, di Indonesia kan tidak ada musim semi.

Lalu masuk WA dari seorang teman, orang Indonesia, yang menikah dengan pria Iran. Namanya Shinta. Dia juga mengucapkan selamat tahun baru.

Saya jadi teringat pertemuan saya pertama kali dengan Shinta, bulan Januari 2021. Shinta dan suaminya membuka kedai kebab Persia (bisa cek di GoFood: Persian Kabab) di Lotte Mart, Bintaro. Karena kebetulan saya ada urusan di Bintaro, sekalian kopdar deh.

Shinta adalah pembaca tulisan-tulisan saya di FB, lalu kami bertegur sapa via FB dan berlanjut di WA. Jadi, Shinta dari jauh “menyaksikan” perjalanan saya selama ini, ups and down hidup saya “gara-gara” menulis soal Suriah.

Sebaliknya, saya tidak tahu apa-apa tentang Shinta, sampai pertemuan kami itu. Rupanya, di saat saya (dan netizen lainnya) sibuk “perang” di dunia maya bertahun-tahun melawan narasi media mainstream + narasi pro-radikalis/teroris Suriah, Shinta mengalami “pertempuran” yang riil [tahun 2014-2016; ISIS berdiri 2013].

Di kedai kebabnya, dia menghadapi hinaan orang-orang. Mall itu ramai oleh pengunjung, dan ada saja orang yang mampir sekedar untuk melemparkan hinaan. Iran, kafir! Syiah sesat!

Untungnya, suami Shinta waktu itu belum bisa bahasa Indonesia, jadi dia tidak menangkap kekasaran orang-orang Indonesia yang termakan hoax soal Suriah itu.

[hoax -nya: “Syiah membantai Sunni di Suriah”… Karena mazhab mayoritas di Iran adalah Syiah dan Iran membantu pemerintah Suriah dalam melawan ISIS dan milisi teror lainnya, Shinta yang berjualan makanan Iran jadi sasaran kebencian para pendukung teroris itu.]

Saya terharu mendengar kisah Shinta. Rasanya, “penderitaan” saya dulu ga ada apa-apanya. Setidaknya, radikalis/pro-teroris Suriah itu tidak bicara kasar secara langsung di depan saya. Mereka “cuma” main ancam atau menghina di medsos, mengghibah, main boikot (kalau saya diundang jadi pembicara, mereka berupaya membubarkan; saya dulu punya TK, mereka hasut ortu-ortu agar keluar dari TK saya, dll).

Anyway, Shinta terus bertahan, dan lambat-laun, seiring dengan keoknya ISIS (dan kelompok teroris lainnya ) di Suriah (mulai akhir tahun 2016), hate speech yang dialaminya juga semakin berkurang. Bisnisnya juga semakin maju. Kehidupan pernikahannya juga semakin membahagiakan karena status suaminya akhirnya disetujui untuk menjadi Permanent Residence (KITAP). Dengan ekspresi ceria, Shinta bercerita bahwa berbeda dari era pemerintahan yang dulu, kini urusan birokrasi terkait pernikahan campur jauh lebih mudah.

Sambil mengobrol, Shinta dengan cekatan menyiapkan berbagai jenis kebab yang dipesan pembeli (umumnya via GoFood). Dulu dia ada pegawai, tapi sekarang, gara-gara c*v*d, penjualan menurun drastis sehingga Shinta sendirian mengurus kedainya. Sang suami mempersiapkan bahan-bahan masakan di rumah. Namun itulah hidup, selalu ada naik dan turun. Tugas kita adalah menjalaninya dengan sabar.

Saya menyantap kebab buatan Shinta dengan lahap, enak banget. Shinta juga menyiapkan minuman hangat, terbuat dari saffron. Hm.. rasa lezatnya masih terbayang sampai sekarang.

Sebelum pulang, Shinta mendesak saya untuk datang lagi sekeluarga, dan menginap di Bintaro. Shinta janji akan memasakkan masakan Iran khusus buat saya sekeluarga. Benar-benar tawaran yang menggiurkan.

Sejujurnya, saya terharu sekali, tapi saya tahan-tahan. Saya teringat ceritanya tentang kesulitannya di masa lalu, dan kesulitan saya sendiri. Tapi, Allah selalu memberi ganti dengan kebahagiaan. Memang demikian janji-Nya kan, setiap kesulitan selalu datang bersama kemudahan.

Saya ingin memeluknya, tapi terhalang protolol c*v*d.

Di tahun baru ini, saya mengucapkan doa ini buat Shinta:

روزهای سلامتی، شادی، پیروزی، مهر و دوستی و عشق را برای شما آرزومندم ..عید نوروزتان مبارک باد.

(Artinya, tanyakan saja pada google translate ya)

[1] https://www.youtube.com/watch?v=on9KQ5UTq4U&t=24s

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: