Kajian Timur Tengah

Beranda » Blog&Web About Global Politics » Master Deddy dan Histeria Para Pengepul

Master Deddy dan Histeria Para Pengepul

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Master Deddy Corbuzier itu orang sangat cerdas dan berkarakter kuat, makanya bisa sampai di posisinya hari ini. Beliau sama sekali bukan youtuber alay. Bintang tamu yang beliau pilih pastilah sudah diteliti dulu rekam jejaknya.

Jadi lucu banget kalau para pengepul dan fansnya histeris banget di kolom komen, menyebut “salah undang narsum”. Bahkan sekarang video diskusi saya dan Master Deddy di IG sudah dihapus (oleh pihak IG, tentu karena banyak yang report). Gaes, kalian itu benar-benar meremehkan profesionalitas Master Deddy dan timnya.

Bahkan ada emak-emak histeris yang menulis surat untuk Master Deddy, membantah saya dengan cara sangat rendah dan murahan. Sama sekali tidak ada argumen intelektual. Dan saat dicek rekam jejak emak-emak histeris ini, ternyata dia punya lembaga pengepul donasi. Oalaa.. pantesan histeris.

Lihat screen shot iklan lembaga donasi si emak ini di komen dan mari kita analisis dengan cara intelek. Bukan dengan cara histeris dan main fitnah.

Disebutkan di iklan donasi itu: “ada 10 sekolah yang ditarget (dibom/diserang) oleh rezim Bashar Assad setiap hari.”

Saya kasih tahu ya, di PBB itu ada skema “humanitarian intervention.” Kalau ada bukti otentik terbukti kejahatan kemanusiaan di Suriah, Dewan Keamanan PBB bisa memberi mandat kepada NATO untuk menyerbu.

Mungkin ada yang bilang: ya kan PBB juga tebang pilih? Nah, yang ngerti geopol, pasti ngerti kalau sejak puluhan tahun yll, AS sudah gemes banget ingin menggulingkan Assad. Dulu, AS membacking pemberontakan Ikhwanul Muslimin di era Hafez Assad. Sekarang, di era Bashar Assad, AS juga mendukung operasi penggulingan rezim yang dilakukan “pemberontak moderat” (ini istilah yang dipakai media Barat untuk FSA, Jaish Al Islam, HTS, dll itu). Para pengepul menyebut mereka “mujahidin”.

Jadi, kalau benar ada bukti valid, AS akan terdepan menggalang Sidang DK, memaksakan agar ada humanitarian intervention. Tapi selama ini ga bisa, bukti yang disodorkan selalu saja ketahuan “bermasalah”, dengan gampang diveto oleh China dan Rusia.

Kalau bukti sudah sangat otentik, China dan Rusia juga ga mau mengorbankan national interest mereka. [kalimat ini berbasis teori, tidak asal ditulis; sepertinya sulit dipahami oleh mereka yang cuma bisa histeris “syiah-syiah”].

Satelit AS itu bisa memantau semua pergerakan di Suriah. Kalau benar Assad tiap hari membombardir 10 sekolah, AS akan terdepan mengabarkan pada dunia. Rusia juga punya satelit semacam itu. Makanya, setelah Rusia setuju membantu Suriah pada 2015, dengan segera Rusia bisa mengeluarkan foto satelit, merekam pergerakan truk-truk minyak yang dicolong ISIS, masuk ke Turki.

(Pertanyaannya: AS pasti juga punya foto satelit yang sama, mengapa tidak dirilis? Bukankah AS mengaku datang ke Suriah melawan ISIS? Mereka yang paham geopol Timteng pasti sudah tahu jawabannya apa.)

Selama ini, saking sulitnya mendapatkan bukti “kejahatan” pemerintah Suriah, yang bisa jadi syarat untuk keluarnya mandat PBB ke NATO, Barat pun membikin-bikin bukti.

Misalnya, lewat Amnesty Internasional. Sejak awal konflik, yaitu sejak awal munculnya demo-demo massa di Daraa, AI dengan cepat merilis laporan berjudul “Deadly detention: Deaths in custody amid popular protest in Syria”.

Laporan itu dirilis Agustus 2011, padahal demo pertama di Daraa terjadi Maret 2011. Artinya dalam waktu 5 bulan, AI sudah membuat laporan dengan kesimpulan: pemerintah Suriah melakukan kejahatan kemanusiaan (crimes against humanity) dan menyerukan dunia internasional mengambil tindakan menghukum pemerintah Suriah.

Namun pertanyaannya, bagaimana mungkin hanya dalam lima bulan, AI bisa membuat laporan itu? Bila pemerintah Suriah dituduh melakukan ‘serangan secara luas dan sistematis’, artinya, kawasan yang harus diteliti juga sangat luas dan menggunakan metode penelitian yang benar, antara lain melewati prosedur desain penelitian, persiapan, pelaksanaan penelitian, pengolahan data, interpretasi data, penulisan, dan pengecekan keakuratan penulisan.

Kenyataannya, sebagaimana dicantumkan dalam “aksi cepat lapor” itu, peneliti AI melakukan wawancara kepada orang-orang Suriah yang sudah mengungsi ke Lebanon dan Turki, dan berkomunikasi dengan email dan telepon dengan warga di Suriah, yang disebut sebagai “keluarga korban, aktivis HAM, dokter, dan tahanan yang baru dibebaskan”. Narasumber lainnya adalah aktivis HAM yang tinggal di luar Suriah.

Lebih parah lagi, di halaman 5, AI mengaku sendiri kok, “Amnesty International has not been able to conduct first-hand research on the ground in Syria during 2011” [AI tidak bisa melakukan penelitian langsung lapangan di Suriah selama 2011]. Artinya: TIDAK ADA SUMBER PRIMER.

Orang yang paham penelitian, pasti paham apa maksud tidak ada sumber primer, tidak ada corroboration, dan tidak ada cross-checking. Untungnya di PBB banyak orang pintar, jadi mereka punya kapabilitas untuk meneliti sebuah laporan.

Ok segini dulu. Saya cuma mau kasih lihat, gini lho cara intelek membantah orang.

Pesan saya: monggo kalian menggalang donasi, tapi JANGAN BOHONG demi mengumbar kemarahan publik (supaya mau merogoh kocek). Karena, dampaknya ngefek banget, banyak orang yang jadi teradikalisasi karena info bohong, lalu lama-lama sangat mungkin jadi teroris. Kalau kalian benar cinta kemanusiaan, carilah donasi dengan cara manusiawi juga.

——–

Note: Master Deddy TIDAK berkomentar apapun ke saya soal surat si emak ini. Jadi yang saya tulis ini murni pendapat pribadi, tidak ada koordinasi dengan Master Deddy.

Yuk ikuti ajakan Master Deddy di podcast terbarunya, agar kita semua berani bicara melawan orang-orang yang menyebar kebencian, yang suka mengkafir-kafirkan, demi menjaga keutuhan bangsa ini.

https://www.youtube.com/watch?v=E4KmQWUoTvs&t=44s

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: