Kajian Timur Tengah

Beranda » Afganistan » Sumber Ideologi Teror Bisa Muncul dari Banyak Hal

Sumber Ideologi Teror Bisa Muncul dari Banyak Hal

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Saya miris membaca berbagai komen yang merendahkan Islam, ketika ada yang membahas terorisme di medsos. Bahkan postingan donasi untuk NTT saja ditunggangi untuk melancarkan hate speech pada umat Muslim.

Benar bahwa berbagai aksi teror di berbagai tempat, terutama sejak perang Suriah, dilakukan atas nama Islam. Di Suriah ada ratusan milisi teror yang mengaku Muslim, antara lain ISIS. Saya pun sudah menulis sangat banyak tulisan membongkar perilaku para teroris ini, juga 2 buku tentang Suriah.

Tapi yang sering (sengaja) dilupakan oleh mereka yang menghina-hina umat Islam, adalah: siapakah korban terbanyak terorisme itu dan siapa yang paling berdarah-darah dalam perang melawan teror di Irak dan Suriah? Jelas kaum Muslim sendiri. Rakyat Irak dan Suriah bahu-membahu bersama militer mereka dalam perang-perang melawan ISIS (dan kelompok teror lain).

Ironisnya, Amerika Serikat, dengan alasan melawan teroris, setiap tahun menjatuhkan bom-bom secara masif ke negeri-negeri Muslim. Data dari CFR, tahun 2016 saja, AS menjatuhkan 26.171 bom di Suriah, Irak, Afghanistan, Libya, Yaman, Somalia dan Pakistan.

Artinya, rata-rata 3 bom setiap jam dijatuhkan AS di negeri-negeri mayoritas Muslim. ARTINYA: korban terbesar terorisme adalah kaum Muslim dan dalam tubuh kaum Muslim sendiri jelas ADA PERLAWANAN terhadap para teroris, bahkan perlawanan yang riil, dengan mempertaruhkan nyawa.

Desa/kota di Irak dan Suriah yang dilindungi/dibebaskan oleh milisi-milisi sukarelawan anti-ISIS bukan cuma yang dihuni oleh Muslim, tetapi juga yang berpopulasi Kristen.

Sekarang, apa sih DEFINISI terorisme?

Majelis Umum PBB dalam Resolusi 49/60 tahun 1994 mendeskripsikan terorisme sebagai berikut (saya terjemahkan dari B. Inggris):”

Tindak kriminal, yang dimaksudkan atau diperhitungkan untuk memprovokasi keadaan teror (ketakutan) di masyarakat umum, yang dilakukan oleh orang atau sekelompok orang tertentu untuk tujuan politik, dengan pertimbangan apapun tidak dapat dibenarkan, baik itu politik, filosofis, ideologis, rasisme, etnis, agama atau hal-hal lain yang mungkin digunakan untuk membenarkannya.”

Perhatikan bahwa menurut PBB, tindak terorisme bisa berasal dari banyak hal: politik, filosofis, ideologis, rasisme, etnis, agama, dll.

Dalam definisi ini, hanya disebut “agama”, tidak merujuk pada Islam (saja). Karena faktanya, di dunia ini terjadi kasus-kasus teror yang dilandasi oleh kebencian agama, yang dilakukan di luar umat Muslim.

Misalnya, tahun 1994 Baruch Goldstein, seorang Yahudi ekstrim menembaki jamaah masjid Ibrahim di Hebron yang sedang sholat Subuh dan menewaskan 29 orang. Israel menyebut Goldstein pelaku tunggal, tapi saksi mata menyebut dia bersama sejumlah orang lain.

[Meski tidak ada media Barat yang menyebut Goldstein teroris, tapi ingat lagi definisinya “tindakan kriminal… memprovokasi keadaan teror (ketakutan) di masyarakat umum..dilandasi agama…”]

Jadi, kalau benar Anda mau bersama-sama melawan radikalisme dan menjaga keutuhan negeri ini, hilangkan dulu kebiasaan hate speech pada pihak lain. Akar radikalisme adalah kebencian, intoleran pada pihak yang berbeda. Mari mulai dari diri sendiri. Berlagak sedang melawan terorisme dengan menghina-hina umat lain di medsos adalah sikap yang salah kaprah.

Saya sih curiganya, mereka itu memang “buzzer” dari pihak tertentu yang ingin Indonesia terus kisruh. Kita yang waras perlu mewaspadai akun-akun seperti ini.

#SaveNKRI#CintaNKRI

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: