Kajian Timur Tengah

Beranda » Ekonomi Politik Global » “GHOUTA Timur Digempur, Suriah Kembali Berdarah-darah”.

“GHOUTA Timur Digempur, Suriah Kembali Berdarah-darah”.

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Demikian judul kampanye pada laman website resmi organisasi kemanusiaan berbasis di Jakarta, Aksi Cepat Tanggap (ACT). Dalam kampanye bertanggal 21 Februari itu, ACT menyatakan, sejak 19 Februari (2018), militer Suriah membombardir daerah pinggiran Ibukota Damaskus itu dan mengakibatkan sediktnya 250 warga sipil tewas.

Gempuran Suriah atas Ghouta Timur, satu dari sedikit wilayah yang masih dikendalikan pemberontak bersenjata, memicu ‘histeria’ global, terutama di media Barat. Mereka bahkan menyebutnya “Neraka di Dunia”. Di media sosial, tagar #SaveGhouta pun mewabah. Di Indonesia, ACT menjadi yang terdepan dalam kampanye ini.

Baliho ‘Selamatkan Ghouta’ milik ACT telihat di berbagai sudut jalan utama Jakarta dan sekitarnya. Di sisi Jalan TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan, misalnya, terpampang baliho berlatar merah selebar enam meter. Foto bangunan yang luluh lantak dan tiga anak menangis memenuhi hampir tigaperempat bagian baliho. Di bagian bawah baliho, ACT menulis dua nomor rekening dengan pesan ‘Stop Suriah Memerah Darah’.“

Hingga Senin pekan lalu, donasi yang terkumpul untuk Ghouta mencapai 11,6 miliar rupiah,” kata juru bicara ACT, Lukman Aziz Kurniawan, ketika menerima INDOPRESS.ID di kantornya, Jakarta, Kamis 15 Maret. Lukman bilang, baliho ‘Selamatkan Ghouta’ telah terpajang di hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk Papua.

Untuk menyalurkan bantuan fulus itu, ACT menerjunkan tim dari Indonesia menuju Turki. Di Istanbul, ACT memiliki kantor cabang dan bermitra dengan organisasi kemanusiaan Turki, Insani Yardim Vakfi atau yang tenar dengan singkatan IHH. Dengan jaringan seperti itu, Lukman bilang, mereka yakin bantuan mampu menembus masuk ke Ghouta Timur.

Sebagai catatan, jarak Ghouta Timur dari perbatasan Turki mencapai 450-an kilometer atau setara dengan jarak Jakarta-Semarang. Wilayah ini berbeda dengan Aleppo yang hanya 90-an kilometer dari perbatasan Turki, sehingga bantuan yang dikirim saat ramainya #SaveAleppo memiliki peluang lebih besar sampai ke tangan yang berhak ketimbang Ghouta Timur. Terlebih, jalur menuju Ghouta Timur dari Turki kini telah diambil alih oleh militer Suriah.

Lukman sendiri enggan menjelaskan, bagaimana bantuan itu bisa tiba di Ghouta dan tidak jatuh ke tangan yang salah. “Sangat dirahasiakan polanya,” katanya. Dia memastikan bahwa relawan lokal ACT mampu menembus Ghouta tanpa izin Damaskus meskipun wilayah itu telah lama dikepung militer Suriah.

“Bagaimana mungkin kami melapor ke Pemerintah Suriah ketika mereka sendiri mengebom warganya,” ujar Lukman. “Mereka tentu tidak akan memberi izin.”

*****

Tulisan di atas saya copas dari reportase Indopress.id yang mewawancarai langsung ACT. Lanjutannya silakan baca di sini: https://www.indopress.id/…/kabut-bantuan-selamatkan-ghouta

Tapi di video ini, https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/2886474871592791 Anda bisa saksikan sendiri, rakyat Suriah justru lega dibebaskan dari kepungan teroris di Ghouta timur pada 23 Maret 2018. Mereka 5 tahun ditahan di Ghouta, tidak boleh keluar, dijadikan “tameng manusia” oleh para teroris, antara lain Jaysh al-Islam, the Al-Rahman Legion, Ahrar al-Sham, and Tahrir al-Sham.

Dari mana kita tahu bahwa ini video mereka sedang bersama tentara nasional Suriah? Di menit 3:01, terlihat bendera, ada strip merah dengan bintang 2 (bukan strip hijau+bintang 3 yang biasa dikibarkan teroris) dan warga berseru “Allah, Souria, Bashar-u bass” (Allah, Suriah, dan Bashar, cukup bagi kami).

Kesimpulannya?

Silakan ambil sendiri. Dan kalian para pengepul donasi, daripada memfitnah dan mencaci maki, lebih baik siapkan argumen yang valid untuk menjelaskan kontradiksi narasi kalian selama ini.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: