Kajian Timur Tengah

Beranda » Blog&Web About Global Politics » MEMBELA PALESTINA BUKAN BERARTI GANTI BENDERA

MEMBELA PALESTINA BUKAN BERARTI GANTI BENDERA

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Membela Palestina itu bukan berarti kita GANTI BENDERA ya! Aneh banget kalau ada yang menggeser opini seperti ini. Seolah kalau kita bela Palestina, bendera kita ganti jadi bendera Palestina.

Bendera orang Indonesia ya jelas tetap merah putih. Kebijakan luar negeri kita juga jelas, pro Palestina. Masak Presiden Jokowi dibilang ganti bendera?

Bu Menlu Retno pernah bilang, “Palestina Ada di Jantung Politik Luar Negeri Indonesia.” Pak Jokowi pernah bilang, “Palestina ada di setiap helaan nafas diplomasi Indonesia.”

Begitu sulitkah memahami bahwa bahwa pembelaan kepada Palestina adalah amanah dari Bapak Bangsa kita, Bung Karno; amanah UUD 45, “bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan..?”

Begitu mudahnya sebagian netizen termakan propaganda yang ingin menggeser opini kemana-mana, termasuk ke urusan bendera. Tujuan penggeseran opini ini (sadar atau tidak) adalah melemahkan pembelaan kepada Palestina, sekaligus menggoyang kebijakan luar negeri RI.

Kalau tidak sanggup mikir yang berat, tidakkah tersisa sedikit saja hati nurani?

Banyak yang tidak paham bahwa pembelaan kepada Palestina sebenarnya terkait dengan pembelaan pada bangsa kita sendiri.

Misalnya, pihak-pihak “moderat” yang consern pada terorisme, apakah Anda tahu bahwa “jihad” Suriah sangat erat kaitannya dengan Israel?

Militer Israel mengakui sendiri bahwa mereka menyuplai dana dan senjata pada para “jihadis” Suriah. Saat “jihadis” Suriah terluka di perbatasan, dibawa ke rumah sakit di Israel. Bahkan dijenguk oleh Netanyahu. Tokoh-tokoh politik AS sendiri juga sudah mengecam bantuan dana dan senjata yang diberikan pemerintah AS kepada “jihadis”.

Mengapa AS dan Israel yang mengaku ‘pro demokrasi’ itu malah mendukung para teroris/”jihadis”? Lalu AS bahkan membunuh Jenderal Soleimani yang sukses memimpin perang mengalahkan ISIS?

Jawabannya: karena Assad adalah pembela Palestina di garis depan; artinya, dia adalah salah satu musuh terbesar Israel. Selain itu, ada bisnis raksasa gas alam yang membuat AS dkk perlu mengontrol Suriah (baca buku saya “Prahara Suriah”, download gratis di google).

Itulah sebabnya, ISIS (serta kelompok “jihadis”/teroris lain) tidak pernah menyerang Israel. Bahkan Menteri Perang Israel, Moshe Ya’alon menyatakan, “Di Suriah, jika pilihannya antara Iran dan ISIS, saya memilih ISIS.” [1]

Kalau kalian consern pada terorisme di Indonesia, pahami benang merahnya dengan situasi Timur Tengah.

Kalau kalian consern pada masalah ekonomi dan memahami soal imperialisme ekonomi, ini juga ada kaitannya dengan Israel.

John Perkins, dalam bukunya Confessions of an Economic Hit Man menceritakan bahwa modus operandi lembaga-lembaga keuangan AS dalam mengeruk uang bangsa Indonesia (dan negara berkembang/miskin lain) adalah dengan memberikan hutang raksasa kepada negara-negara berkembang.

Tulis Perkins, “Salah satu kondisi pinjaman itu –katakanlah US $ 1milyar untuk negara seperti Indonesia atau Ekuador—negara ini kemudian harus memberikan 90% dari uang pinjaman itu kepada satu atau beberapa perusahaan AS untuk membangun infrastruktur—misalnya Halliburton atau Bechtel. Ini adalah perusahaan yang besar. Perusahaan-perusahaan ini kemudian akan membangun sistem listrik atau pelabuhan atau jalan tol, dan pada dasarnya proyek seperti ini hanya melayani sejumlah kecil keluarga-keluarga terkaya di negara-negara itu. Rakyat miskin di negara-negara itu akan terbentur pada hutang yang luar biasa besar, yang tidak mungkin mereka bayar.”

Lalu siapakah pemilik Halliburton atau Bechtel yang disebut Perkins? Siapa pemilik saham Big Oil yang menguasai ladang-ladang minyak di Indonesia? Mana saja perusahaan transnasional yang mengeruk uang sangat-sangat banyak di Indonesia dan seluruh dunia (sebagian dengan cara-cara kotor)? Misalnya, perusahaan multinasional air minum yang jualan air alami, sementara rakyat di sekitar pabriknya malah kekeringan.

Silakan cek, dan Anda akan menemukan nama-nama keluarga/dinasti Yahudi pro-Israel atau Kristen Evangelis yang sangat kaya. Merekalah tulang punggung ekonomi Israel. [Catat: yang dipersoalkan bukan Yahudi-nya atau Kristen-nya, melainkan dukungan mereka pada rezim yang melakukan kejahatan kemanusian di Palestina].

Sumbangan dana raksasa dari mereka, serta dukungan politik-militer AS, yang membuat rezim Zionis Israel bertahan hingga hari ini, terus melanjutkan kejahatannya di Palestina, serta tak pernah bisa diajak bernegosiasi secara adil demi kehidupan damai di Palestina.

Gilad Atzmon pernah menulis tentang “blood money”-nya Israel dan ia menyimpulkan, “Kita semua adalah Palestina, karena kita menghadapi musuh yang sama”. [2]

[1]https://www.timesofisrael.com/yaalon-i-would-prefer…/

[2]https://gilad.online/…/gilad-atzmon-israeli-economy-for…

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: