Kajian Timur Tengah

Beranda » Ekonomi Politik Global » Pilpres Suriah dan Pelajaran untuk Faksi Ikhwanul Muslimin

Pilpres Suriah dan Pelajaran untuk Faksi Ikhwanul Muslimin

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/1642653179251553

Bashar Al Assad menang pemilu untuk ke-2 kalinya pasca perubahan UUD Suriah. Kalau dihitung sejak masa ia pertama kali jadi presiden, ini adalah periode ke-4 kalinya.

Dulu, menurut UUD Suriah, seseorangbisa jadi presiden seumur hidup (ikut pilpres terus) Tapi, menyusul aksi-aksi demonstrasi di tahun 2011 – awal 2012 awal, Assad melakukan berbagai upaya reformasi, memenuhi tuntutan para demonstran, antara lain, perubahan UUD mengenai masa jabatan. Kini, seseorang hanya boleh jadi presiden 2x berturut-turut (seperti di Indonesia). Masa jabatannya 7 tahun.

Perubahan UUD itu disahkan melalui referendum nasional. Seharusnya, segera dilakukan pemilu. Tapi, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, bekerja sama dengan milisi-milisi Al Qaida (yang kemudian menjelma jadi ISIS) malah angkat senjata. Tuntutan yang awalnya adalah reformasi dalam sistem demokrasi, tiba-tiba berubah jadi “mendirikan khilafah di Suriah.”

Karena perang, pemilu yang didasarkan oleh UUD yang baru itu, terlaksana tahun 2014. Saat itu Assad menang.

Tentu saja, yang setuju Suriah berubah jadi “khilafah” ya cuma orang-orang IM, Hizbut Tahrir, dan milisi Al Qaida (dengan berbagai nama). Rakyat Suriah mayoritasnya tetap ingin demokrasi. Makanya milisi-milisi “pemberontak” itu tidak banyak dapat dukungan dari rakyat Suriah sehingga merekrut “jihadis” dari seluruh dunia, termasuk INDONESIA.

Makanya, rakyat Suriah memilih berdiri bersama Assad. Sebagiannya, termasuk kaum perempuan, bergabung dengan pasukan sukarelawan, melawan para teroris. Kini, di pilpres 2021, mereka kembali memilih Assad.

Karena IM dan HT serta Al Qaida punya “cabang” di Indonesia (dengan berbagai nama ormas), jelas kondisi di Suriah berimbas ke Indonesia. Saya sudah cerita panjang lebar di ratusan tulisan (mungkin sudah mencapai ribuan, karena saya menulis soal Suriah sejak 2011) dan di dua buku saya.

Kemenangan Assad di pilpres 2021 jelas menunjukkan kekalahan telak bagi IM. Mereka tidak berhasil mendapatkan dukungan mayoritas rakyat Suriah. Mereka kini malah sudah identik dengan teroris karena memang terbukti melakukan aksi-aksi terorisme di Suriah. Akibat syahwat kekuasaan, ingin berkuasa di Suriah, IM mau bergabung dengan teroris. Meski mereka mengklaim sedang jihad, tapi jejak digital tidak bisa dihapus, mereka terbukti selama ini bekerja sama dengan Al Qaida dan ISIS.

Seandainya mereka mau mengikuti saja proses demokrasi yang ada (tidak tergoda angkat senjata), bikin partai, bukan tidak mungkin pada akhirnya mereka berkuasa. Mungkin bukan di pilpres 2021, tapi pilpres selanjutnya (karena Assad sudah tidak bisa maju lagi).

Akibat syahwat kekuasaan di Suriah, kini faksi IM di beberapa negara dilabeli teroris. Di Indonesia, para pengikut IM masih “aman.” Tapi kaum moderat sudah paham, mereka inilah yang sering bikin onar dalam percaturan politik dalam negeri.

Yang paling sial, gara-gara posisi IM yang salah fatal di Suriah, upaya pembelaan terhadap Palestina di Indonesia pun rada kocar-kacir.

Kubu ZSM dengan gencar menyamakan SEMUA para pembela Palestina SAMA dengan “pendukung teroris” hanya gara-gara faksi IM di Indonesia mengaku bela Palestina.

Sebaliknya, faksi IM di Indonesia pun tetap bertahan dengan narasi sektarian mereka, memfitnah Iran yang jelas-jelas bantu Palestina, baik secara diplomatik maupun teknologi persenjataan. Mereka ini memang ga pernah mau belajar, keras kepala, dan takfiri.

Di sinilah pentingnya kaum moderat tetap bersuara membela Palestina. Jangan sampai ruang ini diisi oleh “mereka” melulu. Jangan sampai yang muncul di TV membela Palestina ustad-ustad mereka melulu sehingga kembali meraih dukungan publik; sementara pembicara yang lain sok-sok netral.

Padahal kebijakan luar negeri kita sudah jelas, Presiden dan Menlu sudah jelas posisinya: KITA MEMBELA BANGSA PALESTINA sampai mereka meraih kemerdekaannya. Membela Palestina sama sekali tidak sama dengan pembelaan pada kaum radikal dan takfiri.

Selamat untuk Bangsa Suriah. Tetap ✊🇵🇸#freePalestine

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: