Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » AS Mengancam Negara-Negara Arab yang Mau Menormalisasi Hubungan dengan Suriah

AS Mengancam Negara-Negara Arab yang Mau Menormalisasi Hubungan dengan Suriah

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Pasangan ini (Bashar dan Asma) selama bertahun-tahun dicitrakan sebagai penjahat keji, pembunuh massal rakyatnya sendiri, oleh media Barat (dan media pro-teroris). Mereka diperangi selama 10 tahun oleh milisi-milisi “jihad” (alias teroris) yang datang dari berbagai penjuru dunia (termasuk ekstremis dari Indonesia). Milisi-milisi teror ini dipasok dana dan senjata oleh AS, Inggris, Israel, Turki, dan negara-negara Teluk.

Tapi, mereka tetap bertahan, tidak melarikan diri ke luar negeri, tetap melindungi rakyat dari penjagalan para teroris. Mereka tidak mungkin bisa bertahan bila benar mayoritas rakyat menolak mereka. Waktu pun membuktikan bahwa mayoritas rakyat Suriah mendukung mereka (Assad kembali menang pilpres bulan lalu, dengan suara mayoritas).

Negara-negara Arab pensupport “jihadis” juga sudah mulai memperbaiki hubungan, misalnya UAE, Bahrain, Oman kembali membuka kedutaan mereka di Damaskus.

Namun, baru-baru ini, AS mengancam negara-negara Arab yang ingin menormalisasi hubungan dengan Suriah. Pejabat AS untuk Urusan Timur Dekat (Acting Assistant Secretary for Near Eastern Affairs), Joey Hood, mengingatkan, jika negara-negara Arab memilih jalur normalisasi, mereka berisiko terkena tekanan ekonomi dari Amerika Serikat. [1]

AS memberlakukan “Caesar Act”, yaitu undang-undang untuk menghalangi transaksi bisnis dengan pemerintahan Assad.

Untuk membangun kembali Suriah yang sudah diporakporandakan oleh “jihadis” selama 10 tahun, yang dibutuhkan Suriah adalah:

1. investasi dari berbagai negara (dan ini dihalangi oleh AS)

2. AS angkat kaki dari Suriah; kehadiran tentara AS di Suriah sama sekali tanpa izin pemerintah Suriah, bahkan yang dilakukan AS adalah mencuri minyak dan gandum Suriah, lalu dibawa ke negara tetangga (dijual), dibantu oleh milisi bersenjata.

AS juga melakukan embargo, menghalangi kembalinya para pengungsi Suriah, dan menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan (kecuali ke wilayah yang diduduki “jihadis” tentu saja). Ditambah pula dengan menghalangi negara lain untuk berinvestasi di Suriah, semua aksi AS jelas membuat mayoritas rakyat Suriah menderita.

Jadi selain ISIS dan afiliasi Al Qaida yang hobi menjagal warga, AS pun juga “menjagal” bangsa Suriah.

Terakhir, kita patut bangga pada pemerintah Indonesia: tak pernah menutup KBRI di Damaskus, selalu setia pada negara sahabat yang dulu pertama mengakui kemerdekaan Indonesia (tentu tugas utama KBRI adalah melindungi warga Indonesia, termasuk para mahasiswa, yang berada di Suriah).

[Ada 5 negara Arab yang paling awal mengakui kemerdekaan Indonesia: Mesir (1946), Suriah (Juli 1947), Lebanon, Saudi, Yaman.

…Palestina gimana? Para aktivis kemerdekaan Palestina-lah yang di awal-awal aktif menyuarakan dukungan pada Indonesia; mereka yang berada di Mesir telah melobby pemerintah Mesir agar mau mengakui kemerdekaan Indonesia. Palestina belum merdeka sampai sekarang, makanya Indonesia konsisten membantu Palestina.]

Bangsa Indonesia sudah membuktikan kepada bangsa Suriah dan Palestina bahwa kita bukan pengkhianat dan kita tidak tunduk pada tekanan tukang jagal yang sesungguhnya: Amerika Serikat.

[1] pernyataan pejabat AS tersebut disampaikan kepada media Arab, Al Arabiya [https://english.alarabiya.net/…/Citing-sanctions-US…]

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: