Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Pilpres dan Vaksin Iran

Pilpres dan Vaksin Iran

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Begitu Raisi menang dalam pilpres Iran, media mainstream Barat, maupun media Indonesia (yang bermodal copas-terjemah) dan para “pengamat” yang juga cuma modal copas dari media Barat, demikian juga para pemimpin Israel, ramai menyebarkan narasi yang SERAGAM: presiden baru Iran ini “tukang jagal”, kata mereka.

Bahkan koran Sindo, membuat infografis yang isinya: Raisi pernah “memerintahkan penyiksaan pada wanita hamil”, “tahanan dilempar dari tebing”, “orang-orang dicambuk dengan kabel listrik”.

Orang yang otaknya cerdas, dikiiit aja, bisa merasakan keanehan dari berita ini. Apa mereka pikir, Iran itu negara barbar di benua antah-berantah? Kalau benar Iran negara se-barbar itu, mengapa Human Development Index-nya jauh lebih tinggi dari pada Indonesia?

Iran dan Indonesia itu sama-sama negara berkembang. Bahkan Iran lebih sengsara dari Indonesia karena sejak 1980 sampai sekarang terus-menerus dihajar embargo dan propaganda sektarian dari berbagai penjuru angin. Tapi, di tengah berbagai kepayahan itu, Human Development Index-nya Iran jauh di atas Indonesia (Iran ranking 70, Indonesia di ranking 107). Siapa yang mengukur HDI? PBB. Di antara poin penilaiannya: pendidikan, kesehatan, kondisi perempuan, dll, dan itu semua tidak bisa dicapai dalam waktu semalam. Trend angka HDI Iran terus naik, pun bila dibandingkan dengan HDI di era Shah Pahlevi dulu.

“Mana mungkin media mainstream berdusta!” mungkin ada yang bilang demikian.

Apa kalian lupa kebohongan media mainstream soal Irak tahun 2003, soal Libya, soal Suriah? LSM ala Amnesty Internasional juga tidak selalu jujur dalam laporannya. Baca buku saya Salju di Aleppo, yang antara lain menelaah isi laporan AI soal Suriah.

Tapi bangsa yang mereka citrakan sebagai bangsa barbar itu, malah lebih maju dari Indonesia: sudah bisa memproduksi vaksin sendiri (berbahan inactivated virus, bukan protein S+live adenovirus seperti vaksin buatan Barat), berhasil menjadi salah satu pusat medis di Timur Tengah (baca tulisan Pak Dahlan Iskan), serta mencapai kemajuan sains lainnya, termasuk nuklir (untuk tujuan damai, antara lain untuk bidang medis dan produksi listrik, supaya tidak bergantung pada energi fosil).

Kalau saja bangsa Iran memble secara sains dan teknologi, pastilah sudah lama ringsek akibat embargo puluhan tahun. Dan kemajuan sains dan teknologi jelas TIDAK COMPATIBLE dengan “rezim barbar” seperti yang mereka kisahkan itu.

Menurut saya, para “pengamat” dan media-media mainstream Indonesia, daripada nyinyir terus soal Iran dengan berbasis hoaks, lebih baik lakukan hal yang bermanfaat buat bangsa sendiri.

Misalnya, kita dorong agar pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Iran untuk alih teknologi pembuatan vaksin, biar bisa diproduksi di Indonesia, tanpa perlu bayar royalti. Sekarang ini kan kita beli vaksin yang sudah jadi (ada juga yang kita beli “bibit”-nya aja, lalu ditambahin adjuvant sendiri). Tentu akan lebih menguntungkan bila kita benar-benar memproduksi sendiri.

Ayo, Indonesia juga bisa!

Tulisan Dahlan Iskan soal kemajuan medis Iran https://www.disway.id/r/1353/ganti-hati-di-iran

Video: jawaban Mr. Raisi saat wartawan Al Jazeera mengkonfirmasi tuduhan pelanggaran HAM.

[Bila kurang paham terjemahannya: intinya, menurut Raisi, di tahun 1998 itu ada gerakan terorisme ala ISIS dan mereka melakukan pelanggaran HAM kepada rakyat. Argumen Raisi: apakah menghukum para pelaku kejahatan dan pelanggar HAM adalah pelanggaran HAM?]

Tentu penonton bebas menyimpulkan, mau tetap ala zombie [komen ‘syiah-syiah’ melulu], atau jadi merasa perlu mencari/meneliti, apa sih yang sebenarnya terjadi? Atau, ya udah, ngapain dipikirin, yang penting tahan diri sebar berita yang belum tentu benar. V

ideo lengkap konperensi pers Mr. Raisi (dengan terjemahan): https://www.youtube.com/watch?v=En4Y1Mv9KYM&t=356s

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: