Kajian Timur Tengah

Beranda » Afganistan » Afghanistan: Mungkinkah Berdamai dengan Taliban?

Afghanistan: Mungkinkah Berdamai dengan Taliban?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Dina Yulianti (Dosen Prodi Hubungan Internasional Unpad)

FIXINDONESIA.COM – Kondisi di Afghanistan semakin genting pascapenarikan tentara Amerika Serikat. Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Afghanistan, Deborah Lyons, melaporkan bahwa situasi keamanan memburuk dan telah terjadi kondisi darurat kemanusiaan. Menurut Lyons, “Afghanistan sekarang berada pada titik balik yang berbahaya. Ada dua kemungkinan di depan, negosiasi perdamaian yang sejati atau justru krisis yang tragis” (UNAMA, 2021).

Konflik dan kekerasan terutama terjadi karena Taliban mulai bergerak dari kota ke kota untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan pemerintahan Afghanistan. Media massa memberitakan bahwa upaya pengambilalihan kekuasaan itu dilakukan dengan kekerasan sehingga selain menjatuhkan banyak korban jiwa, juga memicu pengungsian besar-besaran warga dari berbagai kota ke arah Kabul.

Laporan dari Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA) menyebutkan, dalam periode 1 Januari- 31 Juni, sebanyak 1.659 warga sipil tewas dan 3.524 lainnya terluka. Sebanyak 38% dari jumlah korban adalah akibat dari penggunaan bahan peledak IED oleh Taliban. Sebanyak 8% korban akibat serangan udara yang dilakukan militer Afghanistan (yang dilakukan untuk melawan Taliban). Korban lainnya adalah akibat pertempuran (saling-serang secara langsung) atau pembunuhan terencana yang hampir semuanya dilakukan Taliban.

Perkembangan ini sangat kontras dengan optimisme yang disampaikan banyak pihak setelah ditandatanganinya Perjanjian AS-Taliban di Doha pada Februari 2020. Indonesia termasuk negara yang hadir menyaksikan penandatanganan perjanjian damai tersebut. Menlu Retno mengatakan bahwa kesepakatan damai ini adalah langkah pertama dalam proses perdamaian di Afghanistan dan merupakan “perkembangan yang sangat menggembirakan yang telah kita tunggu-tunggu untuk waktu yang lama” (Jakarta Post, 2020). Salah satu butir dalam perjanjian itu adalah Taliban bersedia untuk melakukan negosiasi damai dengan pemerintah Afghanistan.

Perjanjian damai AS-Taliban adalah hasil dari proses panjang bergesernya pendekatan militeristik yang dilakukan AS ke arah resolusi konflik yang mengakomodasi semua pihak yang terlibat. Pada tahun 2001, AS menginvasi Afghanistan dengan alasan untuk mencari Osama bin Laden (tertuduh pelaku pengeboman 911) dan menggulingkan rezim Taliban yang memberikan perlindungan kepada Bin Laden.

Dalam waktu singkat Taliban terguling dan AS menginisiasi Konperensi Bonn untuk merundingkan pemerintahan transisi. Taliban sama sekali tidak dilibatkan dalam konperensi ini dan terus dikejar oleh militer AS dalam operasi ‘perang melawan terorisme’. Warga sipil pun terjebak di tengah konflik akibat serangan udara dari militer AS dan NATO, maupun serangan oleh Taliban. Selama 20 tahun (2001-2021) pendudukan AS di Afghanistan, korban sipil mencapai sekitar 100.000 jiwa.

Selama 10 tahun pertama invasi AS dan NATO di Afghanistan, pendekatan yang dilakukan AS adalah militeristik. Mereka terus mendatangkan tambahan pasukan ke Afghanistan dan terus melakukan serangan, namun Taliban tetap tidak bisa dikalahkan. Bahkan pada  tahun 2008, seiring dengan peningkatan tentara asing hingga mencapai 70.000 orang, justru menjadi tahun yang paling mematikan bagi AS dan NATO. Kondisi ini mendorong munculnya suara-suara desakan dari akademisi, politisi, dan pengamat agar AS berunding dengan Taliban.

Secara teori, resolusi konflik memang membutuhkan pelibatan semua pihak. Misalnya, menurut William Zartman, kunci untuk mencapai resolusi konflik adalah “memberikan pengakuan dasar terhadap legitimasi kelompok pemberontak, …tidak berarti bahwa mereka diasumsikan sebagai pihak yang benar; ini hanya cara memandang bahwa mereka punya tuntutan yang sah, meski mereka tidak menggunakan cara-cara yang sah untuk mencapai tuntutan itu” (Waldman & Ruttig, 2011).

Akhirnya, mulai Juni 2011, AS secara terbuka menyatakan akan melibatkan Taliban dalam upaya mencapai rekonsiliasi. Meskipun, di saat yang sama, AS terus melakukan penyerangan ke berbagai kawasan di Afghanistan dengan alasan mengejar teroris.

Upaya mendekati Taliban juga dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Pada tahun 2017, Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, datang ke Jakarta dan meminta kepada Presiden Jokowi agar Indonesia berperan aktif dalam proses perdamaian Afghanistan. Indonesia pun menyambut baik permintaan ini.  Peran Indonesia dalam upaya perdamaian ini difokuskan pada pelibatan ulama dan pemberdayaan perempuan di Afghanistan.

Pada tahun 2018, Indonesia mengadakan pertemuan ulama Afghanistan, Indonesia, Pakistan untuk membahas perdamaian di Afghanistan. Lalu, pada Juli 2019, delegasi Taliban datang ke Indonesia dan melakukan pertemuan tertutup dengan sejumlah pihak, di antaranya Wakil Presiden Jusuf Kalla, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kunjungan ini sempat memunculkan keresahan publik, bagaimana mungkin sebuah milisi bersenjata yang selama ini diidentikkan dengan aksi-aksi kekerasan atas nama agama, disambut secara resmi di Indonesia?

Memang disayangkan bahwa pemerintah tidak cukup memberikan penjelasan mengenai alasan pertemuan itu. Namun, bila kembali merunut bagaimana AS telah mengubah posisinya, yaitu mau melibatkan Taliban dalam negosiasi, kita bisa menduga bahwa ini adalah bagian dari implementasi teori resolusi konflik mengenai pentingnya melibatkan semua pihak yang berseteru. Beberapa pengamat awalnya memandang optimis kunjungan Taliban ke Jakarta; antara lain, kunjungan ini diharapkan bisa menginspirasi Taliban agar tidak lagi melakukan kekerasan atas nama agama.

Namun demikian, perkembangan terbaru di Afghanistan menunjukkan bahwa segala optimisme mengenai perubahan sikap Taliban masih jauh panggang dari api. Kekerasan yang terjadi selama beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa masih sangat panjang proses yang harus dilalui untuk menciptakan perdamaian di Afghanistan. Pertanyaan mengenai kemungkinan berdamai dengan Taliban masih terus menggantung dan belum bisa terjawab. ***

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: