Kajian Timur Tengah

Beranda » Afganistan » Kisah Amerika yang Angkat Kaki dari “Kuburan Imperium”

Kisah Amerika yang Angkat Kaki dari “Kuburan Imperium”

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Oleh:
Dina Yulianti
Dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran

FIXINDONESIA.COM – Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, beberapa hari lalu mengumumkan bahwa misi perang AS di Afghanistan akan resmi berakhir pada tanggal 31 Agustus.

Namun demikian, proses penarikan pasukan telah berlangsung dan Bagram Airfield, pangkalan militer AS terbesar di Afghanistan, telah diserahkan kepada Pasukan Pertahanan dan Keamanan Nasional Afghanistan. AS juga telah menyelesaikan penyerahan tujuh pangkalan militer lainnya.

Menurut CBS News 9 Juli, komandan pasukan NATO di Afghanistan, Jenderal Scott Miller, juga akan segera angkat kaki dan menyerahkan pasukan yang tersisa di bawah tanggung jawab seorang jenderal bintang dua.

Pengumuman Biden ini merupakan sebuah peristiwa bersejarah, dimana akhirnya AS meninggalkan kancah perang yang telah berlangsung 20 tahun. AS pergi dari Afghanistan dengan membawa kekalahan, bila ditinjau dari tujuan awal perang tersebut, yaitu “untuk membubarkan basis operasi terorisme di Afghanistan dan untuk mengalahkan rezim Taliban” (pidato Presiden Bush, 2001). 

Kini, ketika AS angkat kaki, justru power Taliban semakin kuat. Bahkan AS terpaksa bernegosiasi panjang, duduk semeja dengan Taliban sebelum akhirnya angkat kaki. Kini, proses perundingan tengah berlangsung antara pemerintah Afghanistan dan Taliban untuk membicarakan masa depan negara mereka.

Invasi AS (bersama pasukan NATO) ke Afghanistan dimulai pada 7 Oktober 2001. Invasi itu dilakukan menyusul serangan teror 911 (9 September 2001) terhadap beberapa target, antara lain gedung WTC di New York, yang menewaskan ribuan orang.

Pemerintah AS menuduh Al Qaida sebagai pelaku serangan dan dengan segera menggalang dukungan internasional untuk melancarkan “Perang Melawan Terorisme.” Bahkan Bush pernah mengancam negara-negara yang enggan bergabung dalam perang itu dengan kalimat, “Kalau tidak bersama kami, berarti kalian sedang melawan kami” (you’re either with us or against us in the fight against terror).

Taliban adalah kelompok yang beranggotakan para santri (taleb bermakna pelajar) dari madrasah-madrasah radikal.  Mereka kemudian angkat senjata dan mengalahkan faksi-faksi lain di Afghanistan sehingga menjadi penguasa di negeri tersebut sejak 1996.

Rezim Taliban memberlakukan syariat Islam versi pemahaman radikal mereka, termasuk di antaranya larangan bagi kaum perempuan untuk terlibat dalam aktivitas publik. Hanya dalam waktu dua bulan, serangan AS dan koalisinya berhasil membuat rezim Taliban terguling.

Selanjutnya, AS memfasilitasi terbentuknya pemerintahan baru dalam sistem demokrasi. Pada tahun 2002, pemerintahan transisi Afghanistan terbentuk, dipimpin Presiden Hamid Karzai.

Namun, Taliban masih terus mengontrol sebagian besar wilayah sehingga tentara AS masih terus bercokol di Afghanistan dengan alasan untuk melawan Taliban dan membantu pemerintahan interim Afghanistan. Militer Afghanistan yang dibentuk atas bantuan AS kemudian berperang melawan Taliban. Korban berjatuhan di semua pihak.

Di pihak militer Afghanistan, pada periode 2014-2019, sekitar 45.000 tentara Afghan tewas. Sementara itu, sejak dimulainya invasi ke Afghanistan tahun 2001, sebanyak 3.500 pasukan koalisi internasional tewas, 2.300 di antaranya adalah warga AS.

Inilah yang disinggung oleh Biden dalam pidatonya 9 Juli lalu, “Kepada mereka yang meminta kami untuk tetap tinggal [di Afghanistan], berapa ribu lagi putra-putri AS yang ingin Anda hadapkan pada resiko? Berapa lama Anda mau mereka tinggal di sana?”

Biden lebih lanjut menyatakan bahwa sedemikian lamanya perang Afghanistan, ada tentara yang ikut berperang di sana 20 tahun yang lalu dan kemudian anak mereka juga bergabung dalam militer dan berperang di medan yang sama. Dengan demikian, perang itu telah dilalui oleh dua genarasi.

“Apa Anda juga mau anak mereka, atau cucu mereka, ikut dalam perang yang sama?” tanya Biden.

Ada hal menarik (dan ironis) yang disampaikan jurnalis RT, Rick Sanchez (9/7). Sanchez pernah mewawancarai  marinir AS yang berada di pegunungan Tora Bora pada tahun 2001-2002 dan sang marinir menyatakan,”Kami sudah mengetahui dimana posisi Bin Laden sejak tahun pertama. Kita bisa menyelesaikan perang pada saat itu juga.”

Tetapi, menurut Sanchez, elit di Washington, antara lain Dick Cheney dan Donald Rumsfeld, melarang militer AS membunuh atau menangkap Bin Laden saat itu. Bin Laden akhirnya dibunuh militer AS di Pakistan, sepuluh tahun kemudian.

Tujuan mereka adalah perang diperlama karena akan diperluas ke Irak. Pada Maret 2003, AS menyerang Irak dengan tuduhan bahwa Saddam Husein mendukung Al Qaida dan menyimpan senjata pembunuh massal. Tuduhan itu bertahun-tahun kemudian terbukti bohong belaka, namun korban jiwa sudah sangat banyak. 

Menurut laporan PBB tahun 2019, sejak dimulainya invasi AS tahun 2001, sebanyak 32.000 warga sipil Afghanistan tewas. Data lain menyebutkan bahwa pada periode 2005-2019, sebanyak 26.000 anak-anak Afghanistan tewas atau cacat. 

Penyebab kematian tersebut, antara lain adalah serangan drone yang dilakukan oleh AS. Menurut laporan “Costs of War Project” yang dirilis Brown University pada Desember 2020, jumlah warga sipil Afghanistan yang tewas dalam serangan drone yang dilakukan oleh AS dan sekutunya telah meningkat 330% sejak 2017. Ini adalah angka tertinggi sejak tahun-tahun pertama serangan AS tahun 2001. AS meningkatkan serangan drone ini untuk menekan Taliban agar mau bernegosiasi.

Akhirnya, kedua pihak mencapai kesepakatan damai pada akhir Februari 2020 yang antara lain isinya AS siap pergi dari Afghanistan dan sebaliknya Taliban menjamin tidak akan memberikan perlindungan kepada teroris, serta bersedia melakukan negosiasi dengan pemerintah Afghanistan.

Afghanistan dikenal sebagai negara atau kawasan yang sulit untuk dikuasai. Imperium demi imperium, negara demi negara, telah gagal untuk bercokol lama di sana.

Karena itulah Afghanistan dijuluki sebagai “Kuburan Imperium” (graveyard of empires). Kini, AS pun mengikuti jejak imperium sebelumnya, angkat kaki dari wilayah yang telah diporakporandakannya selama dua puluh tahun dan menghabiskan dana perang sebanyak 2 triliun USD.***

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: