Kajian Timur Tengah

Beranda » Afganistan » Pengamat Timur Tengah: Ini Penyebab Taliban Berkuasa Tanpa Perlawanan

Pengamat Timur Tengah: Ini Penyebab Taliban Berkuasa Tanpa Perlawanan

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

FIXINDONESIA.COM – Pengamat Timur Tengah yang juga Dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Dina Yulianti menyebutkan, jika melihat pemberitaan baik di media nasional dan internasional, proses pengambilalihan kota demi kota di Afghanistan berjalan cepat dan nyaris tidak ada perlawanan. Bahkan ibu kota pun (Kabul) jatuh ke tangan Taliban nyaris tanpa perlawanan. 

“Presiden Afghanistan pergi begitu saja, padahal sudah berjanji akan terus berjuang melawan Taliban. Ada dua kemungkinan, pertama Taliban punya kekuatan yang besar. Namun, ini kontradiktif dengan informasi bahwa jumlah pasukan Taliban cuma enam puluh ribuan. Sementara pasukan Afghanistan yang dipersenjatai dan dilatih AS selama ini mencapai tiga ratus ribuan,” kata Dina kepada FIXINDONESIA.COM, Selasa 17 Agustus 2021. 

Menurutnya, kemungkinan kedua, Taliban mendapatkan dukungan dari sebagian warga Afghanistan sehingga mereka begitu saja menyerahkan kendali kota kepada Taliban.

Pasalnya, untuk sebagian warga sipil, opsi mereka ada dua, pertama, AS tetap ada di Afghanistan dan setiap saat mereka terancam oleh bom-bom yang dijatuhkan AS dan menyebabkan kematian anggota keluarga mereka.  Atau kedua, menerima kekuasaan Taliban, tanpa kehadiran AS.

“Saya lebih melihat fenomena ini sebagai bukti kegagalan proyek perang AS. Sudah 20 tahun AS menduduki Afghanistan dengan alasan akan membantu bangsa Afghanistan untuk memiliki pemerintahan dan militer yang kuat dan demokratis. Namun yang terjadi adalah AS terus-menerus melakukan pembunuhan kepada warga sipil dengan alasan mengejar teroris,” jelasnya.

Amerika Serikat mengaku sudah mengeluarkan dana 2,4 Triliun USD, lanjut Dina, tapi yang menikmati adalah military industrial complex.

Banyak pebisnis perang yang menjadi kaya raya dari proyek Afghanistan sementara rakyat Afghanistan tetap miskin dan menderita. Rakyat Afghanistan menjadi korban di tengah-tengah perang berkepanjangan antara AS & NATO versus Taliban

“Jangan pula dilupakan bahwa AS-lah (bersama Arab Saudi dan intel Pakistan) yang dulu membentuk milisi “Mujahidin” pada era Perang Dingin, demi melawan Uni Soviet. Selain mensuplai dana dan senjata, AS bahkan mencetak buku-buku bermuatan ekstrem dan indoktrinasi kekerasan untuk diajarkan kepada anak-anak sekolah Afghanistan. Hasil “didikan” AS era Perang Dingin itulah yang kini menjadi Taliban,” pungkasnya.***

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: