Kajian Timur Tengah

Beranda » Afganistan » Jurnalis Perang Perempuan

Jurnalis Perang Perempuan

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Saya sering salut pada jurnalis perang perempuan. Dulu, saya pernah ingin seperti mereka, terjun langsung ke medan-medan perang. Tapi jalan hidup saya sesuatu yang lain lagi.

Tentu saja, tidak semua jurnalis perang layak dipuji karena ada juga yang memberitakan propaganda bahkan hoaks (yang mengikuti Perang Suriah pasti tahu) karena mereka bekerja di media mainstream. Media mainstream sudah terbukti berkali-kali menjadi corong kepentingan pemodal yang menginginkan perang.

Dalam Perang Suriah, Aljazeera termasuk media mainstream yang menyebarkan propaganda antipemerintah Suriah (dan berpihak kepada pemberontak/jihadis). Bahkan, beberapa kali kedapatan memberitakan info palsu. Yang sudah 10 tahun bersama saya mengikuti Perang Suriah, pasti tahu. Info-info palsu media mainstream soal Suriah berkali-kali didebunk oleh saya (dan oleh teman-teman lain).

[Semoga mereka yang sekarang sibuk men-debunk hoaks soal Taliban bisa ingat bahwa mereka dulu produsen hoaks soal Suriah.]

Untuk Perang Suriah, jurnalis perang perempuan yang paling gigih memberikan pengimbangan informasi dan mengkonter informasi bohong, adalah Vanessa Beeley dan Eva Bartlett. Mereka berdua ini jurnalis independen, tidak bekerja pada perusahaan media mainstream.

Ada lagi yang lain, namanya Serena Shim, bekerja untuk Press TV. Tahun 2014, Shim melaporkan tentang pasukan ISIS yang masuk ke Suriah lewat perbatasan Turki, menyamar dalam truk yang membawa logo sebuah LSM dan World Food Programme. Serena sempat mengatakan kepada bosnya, bahwa dia diancam oleh intelijen Turki dan dituduh melakukan spionase. Dua hari kemudian, dia tiba-tiba tewas dalam kecelakaan mobil yang mencurigakan dan hingga kini kasusnya belum terungkap.

Untuk konflik di Afghanistan, ada satu jurnalis perempuan yang saya ikuti. Bahkan story IG-nya pun saya kepoin, @charlottebellis. Tentu saja, saya tetap skeptis, karena dia bekerja untuk Aljazeera.

Media ini, berbasis di Qatar. Taliban sejak 2013 punya kantor di Doha, Qatar. Dan Qatarlah yang selama ini memfasilitasi berbagai perundingan antara AS dengan Taliban, dan antara pemerintah Afghan dengan Taliban. Jadi ini “Qatar connection” ya kan? Agak-agak mencurigakan. Kita tunggu saja. Skeptis itu sah-sah saja.

Tapi, saya tetap salut pada sang jurnalis perempuan. Biar bagaimana pun, ketika semua orang asing buru-buru kabur keluar Afghan, dia tetap tinggal, dan dengan kalem melakukan reportase dari pinggir jalanan Kabul, itu SESUATU banget. Coba lihat mulai 00:20 dia sampai dua kali refleks mengangkat bahunya karena kaget mendengar bunyi tembakan, tapi tetap kalem menyampaikan laporannya.

Dia juga -sejauh ini, entah besok lusa ya – terlihat melaporkan apa adanya, tidak bombastis dan tidak kasih opini tendensius.

[Ada yang ingat, jurnalis perempuan CNN yang mengaku melaporkan kejadian pasca “serangan senjata kimia” di Suriah; dia malah mencium sebuah benda di kawasan itu lalu berkata “ugh, bau sekali!” Duh mbaaak… kita penonton tuh ga bego-bego amat kalik. Kalau benar di situ ada serangan senjata kimia, elo ga akan nekad mengendus-endus apapun di kawasan itu! Bahkan kamu seharusnya pake baju ala astronot gitu.]

Tidak semua yang didapatkan Bellis di lapangan muncul di layar Aljazeera. Misal, di IG story-nya, dia tampilkan video wawancara dengan lelaki Afghan di tepi jalan. Si Afghan ini bilang, dia ingin ikut dievakuasi ke luar negeri karena dulu pernah jadi tentara Afghan. Selain itu, “saya juga udah capek diomelin terus sama istrii.” Nah kalimat yang terakhir ini tidak muncul di layar Aljazeera 😃😃

Kemarin Bellis menyediakan diri untuk QnA di IG-nya. Ada request untuk menyiarkan kondisi langsung dari dalam airport. Bellis menjawab, “Kalau kami masuk ke airport, nanti pasukan AS memaksa kami dievakuasi, jadi kami tidak bisa lagi melaporkan berita.” Bellis bertahan di Kabul, bersama beberapa wartawan asing lainnya; ada juga yang perempuan. (lihat di 00:52).

Ada pertanyaan “mengapa jurnalis kok selalu keliatan kalem?” Dia menjawab dengan menunjukkan rekaman ‘behind the scene’, terlihat ekspresi wajahnya tertekan. Ya, meski terlihat tenang di depan kamera, pastilah hati kecil tidak tenang berada di kawasan yang setiap saat bisa saja ada bom meledak. (lihat di 01:02).

Yah, pokoknya, saya sampai hari ini salut deh pada Bellis. Entah besok atau lusa ya. Semoga mbak Bellis selamat selalu di sana dan selalu konsisten memberitakan kondisi di Afghanistan apa adanya.

**

Semoga semua jurnalis perang di manapun selalu memberitakan kondisi dengan penuh kejujuran. Karena, apa yang mereka beritakan dampaknya sangat luas. Ingat perang Suriah, pemberitaan media punya andil besar dalam ketertipuan banyak orang sehingga mau bergabung dengan ISIS dan milisi “jihad” lainnya.

Semoga mereka selalu terlindungi. Sejak 2001 hingga 2021, ada 27 wartawan perang (dari berbagai negara) yang gugur di Afghanistan.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: