Kajian Timur Tengah

Beranda » Afganistan » Puzzle Afghanistan

Puzzle Afghanistan

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Karena saya punya ketertarikan khusus pada jurnalis perempuan di kawasan perang (pernah saya tulis https://www.facebook.com/watch?v=1180457479100579), saya terus ngepoin IGnya Charlotte Bellis (Aljazeera). Hari ini dia posting foto dengan para Taliban di bandara Hamid Karzai, Kabul. Pakaian dan sepatu yang dipakainya santai banget (Foto-1). Setelah itu, si Taliban mengajari Bellis cara pakai Humvee yang ditinggal tentara AS. Sejak awal Taliban menguasai Kabul 15 Agustus 2021, Bellis ya kayak gitu penampilannya.

Beda dengan Clarissa Ward (CNN), yang full hijab dan berbaju hitam-hitam saat meliput “kemenangan” Taliban (foto-2).

Beberapa hari sebelum Taliban menguasai Kabul, Ward mewawancarai komandan ISIS-K, di Kabul. Jadi, ISIS-K ada di Kabul dong. AS dan tentara Afghan -sebelum Taliban mengambil alih kota- kok santai aja? Wartawan CNN aja tahu dimana nongkrongnya ISIS-K.

[Lalu setelah ada bom ISIS, AS balas membombardir. Tapi seperti biasa, saat AS mengebom teroris, korban yang lebih banyak justru rakyat sipil. Dan jangan lupa, pasca kekalahan ISIS tahun 2017 di Irak dan Suriah, ribuan milisi ISIS diterbangkan oleh helikopter AS dan helikopter ‘tak dikenal’, ke Afghanistan; ini diungkap pejabat Iran & Rusia.]

Dalam wawancara itu, si komandan ISIS-K menyatakan melawan Taliban karena Taliban “kurang syar’i”; mereka ingin penerapan Islam yang lebih ketat lagi.

Anehnya, Ward saat meliput Taliban (yang disebut kurang syar’i) malah bela-belain full hijab. Tapi saat mewawancarai komandan ISIS-K, dia pakai hijab tidak syar’i. (foto 3)

Untunglah Ward selamat, ga diapa-apain oleh ISIS-K. Padahal demi “kesyar’ian”, ISIS-K dengan berdarah dingin mengebom saudara-saudara sebangsanya sendiri (pengeboman di seputar airport Kabul pada masa evakuasi).

Mari pindah ke kisah Mullah Ghani Baradar. Baradar adalah salah satu pendiri Taliban (bersama Mullah Omar).

[Mullah Baradar pernah datang ke Indonesia 2019, resmi. Menlu Retno pada 26 Agustus 2021 terbang ke Doha dan di sana bertemu perwakilan politik Taliban.]

Tahun 2001, saat AS membombardir Afghanistan, Baradar termasuk di antara beberapa elit Taliban yang menawarkan perdamaian. Tapi AS menolak dan terus membombardir negeri itu (dan berlanjut hingga 20 tahun kemudian).

Baradar lalu lari ke Pakistan dan di sana dia ditangkap dan dipenjara, sampai 2018, ketika ia dibebaskan atas permintaan AS. Baradar dibawa ke Doha dan di sanalah AS-Taliban bernegosiasi, sampai akhirnya tanda tangan perjanjian damai Februari 2020.

[Pantesan, saat saya wawancara seorang narasumber untuk riset saya, beliau bilang, fakta bahwa Baradar ada di Doha dan bernegosiasi dengan AS, menunjukkan bahwa dia itu “moderat.” Kalau enggak, mana mungkin dibawa ke Doha. Kata ‘moderat’ maksudnya: dia ga terlalu strict, bisa diajak ngomong oleh AS.]

Lalu, ada lagi masalah dengan Panjshir (kawasan/lembah yang masih belum dikuasai Taliban). Di sana ada ribuan milisi yang menyatakan perlawanan kepada Taliban, dipimpin Ahmad Massoud.

Siapa Ahmad Massoud? Ahmad adalah anak dari Ahmad Shah Massoud; dulu adalah komandan perang Mujahidin melawan Soviet, lalu melawan Taliban. Shah Massoud tewas dua hari sebelum 911, dibunuh oleh Al Qaida yang menyamar jadi wartawan.

Ahmad baru berusia 32 tahun. Dia melalui masa mudanya di Eropa. Dia sekolah di akademi militer di Sandhurst (Inggris), kuliah ilmu perang di King’s College, dan kuliah master di politik internasional di London. Skripsi dan tesisnya adalah tentang Taliban.

Anak muda ini baru kembali ke Afghanistan tahun 2016 dan mulai berpolitik pada 2019. Dan sekarang, tiba-tiba ia memimpin “perlawanan.” Yang memberikan dukungan terbuka kepadanya, siapa lagi kalau bukan Bernard Henri Levy (makelar perang terkemuka dari Prancis, tokoh Zionis garis keras; yang ngikutin tulisan saya selama ini pasti tahu). (Foto-4)

Udah segitu dulu ceritanya. Ini seperti sedang mengumpulkan puzzle. Saya mengamati karena memang profesi saya pengamat/ peneliti/pengajar/penulis. Ga perlu komen nyinyir. Kalau tidak suka melihat saya suka mengamati Timteng, ya unfollow aja, gitu aja kok repot.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: