Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Daraa

Daraa

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Karena besok saya akan webinar, membahas hoaks (saya khusus bahas hoaks Suriah, narsum lain, bahas topik lain), saya jadi teringat pada kisah kota Daraa.

Dulu, di akhir tahun 2011, saya pernah menulis soal Daraa, kota tempat dimulainya aksi-aksi demo menentang Bashar Assad. Banyak yang menyamakan aksi demo ini dengan aksi demo di negara-negara Timteng lainnya di masa yang sama (Arab Spring). Padahal tidak, yang terjadi di Suriah berbeda (demikian pula Libya).

Di Daraa, sebelum aksi demo yang menurut media Barat “damai”, senjata-senjata sudah disiapkan, masuk dari Jordan. Tentara-tentara berbahasa non-Arab sudah berdatangan di perbatasan Jordan-Suriah. Lalu, ketika terjadi bentrokan antara polisi dan demonstran, media Barat (dan media-media nasional di Indonesia yang cuma modal copas-terjemah) dengan sangat masif menyebarluaskan narasi: Assad diktator, membantai rakyatnya sendiri.

Narasi tersebut terus diulang hingga bertahun-tahun berikutnya. Tahun 2013, Republika (Ikhwanul Kiram Mashuri), menulis artikel berjudul “Apakah Musuh itu Hanya Zionis Israel?” dengan mengutip kasus Daraa (versi mainstream). Intinya, dia bilang, Assad sangat kejam, sama kejamnya dengan Zionis dan umat Islam perlu melawannya.

Padahal, di negara-negara Arab lain, juga di Barat, atau di Indonesia, kan “biasa” terjadi bentrokan antara polisi dan demonstran (bila si demonstran melakukan kekerasan, apalagi bersenjata). Kemudian terbukti kan, Daraa hingga 2021 terus menjadi basis milisi-milisi teror (“mujahidin”, kata fans mereka di Indonesia).

Pada September 2021, Daraa akhirnya kembali berada di bawah kontrol pemerintah Suriah. Lho, kemarin-kemarin emangnya gimana? Di sana, milisi-milisi “jihad” masih bercokol, karena tentara Suriah tidak bisa terus menyerang, ada negara-negara lain yang ikut campur. Akhirnya, Rusia turun tangan menjadi penengah: tentara Suriah dilarang melanjutkan operasi pengambilalihan Daraa, para teroris disuruh berhenti mengirim bom ke target-target pro-pemerintah.

Tapi, teroris-teroris di Daraa terus melakukan serangan kepada warga sipil. Sejak pertengahan 2019 saja, mereka melakukan lebih dari 1.136 serangan dan pembunuhan yang merenggut nyawa 774 warga Suriah, termasuk 12 wanita dan 22 anak-anak, dengan tembakan, ledakan IED, serta bunuh diri. serangan mobil dan motor. Geng-geng teroris itu juga bertempur di antara mereka sendiri, membunuh para pemimpin dan anggota geng saingannya.

Perlu diketahui, ada Pasukan Khusus Inggris (UK Special Forces) di wilayah tersebut. Pada Maret 2020, dilaporkan bahwa helikopter RAF Chinook yang berbasis di Siprus dikerahkan untuk menyelamatkan tentara Inggris anggota SAS (Special Air Service) yang disebut “terluka dalam ledakan IED jauh di dalam zona perang di Suriah selatan.” [maksudnya, di Daraa].

Selama beberapa bulan terakhir, tentara Suriah terus berusaha merebut Daraa, sambil tetap mengupayakan negosiasi (kali ini Rusia tidak terlalu ikut campur). Akhirnya, gencatan senjata antara pemerintah Suriah dan milisi “jihad” dicapai pada 31 Agustus.

Tapi, menariknya, seminggu sebelum kesepakatan ini tercapai, Raja Abdullah II Yordania telah bertemu dengan Presiden Putin di Moskow untuk “memprioritaskan penyelesaian masalah keamanan Daraa.” Ngapain Raja Abdullah mengurusi Daraa? Baca lagi paragraf ketiga.

Pada 9 September, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menjelaskan perjanjian untuk menyelesaikan ketegangan provinsi Daraa. Antara lain, Lavrov mengatakan bahwa Daraa akan sepenuhnya kembali ke tangan Suriah, dan para milisi “jihad” itu harus keluar dan menyerahkan senjata mereka.

Menariknya, penjelasan Lavrov disampaikan saat konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Israel, Yair Lapid. Artinya: Israel berkepentingan juga di sini; supaya Daraa tidak jatuh sepenuhnya ke tangan tentara Suriah.

Kekalahan teroris di Daraa memberikan pukulan pada Israel, mengapa?

Pertama, Israel sangat berkepentingan Assad terguling; dan sejak para teroris kalah di sebagian besar wilayah Suriah, Israel-lah yang secara berkala membombardir Suriah dengan jet-jet tempur mereka.

Kedua, sedang terjadi proses pergeseran kekuatan di kawasan:-Mesir dan Turki sedang memulai upaya normalisasi (yang terputus sejak presiden Mursi dari IM digulingkan). Menlu Israel sampai bela-belain datang ke Mesir pada 13 Sept yll. Karena, salah satu syarat yang diminta Mesir kepada Turki adalah: Turki harus menarik tentaranya dari Suriah.

-AS juga ketar-ketir melihat semakin menguatnya Iran dan Hezbollah berkat kasus minyak Lebanon. Meski diembargo, Iran tetap berhasil mengirim minyak ke Hezbollah melalui Suriah.

Bahkan, supaya rakyat Lebanon tidak semakin mendukung Hez dan Iran, AS memberikan “keringanan” kepada pemerintah Lebanon: sanksi untuk Suriah dibatalkan sebagian, Suriah diizinkan menjadi tempat perlintasan gas alam dan listrik dari Mesir ke Lebanon. Jalur pipa gasnya: dari Mesir ke Jordan lalu ke selatan Suriah, yaitu Daraa (dan lanjut ke Homs, lalu ke Tripoli-Lebanon).

Artinya, para teroris di Daraa memang sudah tidak punya pilihan selain menyerah. Para pelindung mereka sudah angkat tangan.

Menurut jurnalis independen, Vanessa Beeley, yang meliput langsung ke Daraa, bulan September 2021 ini, “…ini tidak hanya memberi tahu kita mengapa Daraa sangat penting bagi proyek migas AS dan rencana pencurian sumber daya alam Suriah, tetapi juga menunjukkan kepada kita kecerdasan Damaskus dalam mengamankan Daraa dalam permainan catur regional. AS telah dipaksa “tunduk” oleh sebuah negara yang telah berdiri tegak selama 10 tahun melawan intervensi militer proksi-proksi AS [yaitu Suriah] dan oleh sekutu paling setia Suriah di Lebanon [yaitu Hezbollah].”

***

[data dalam tulisan ini, terkait perkembangan terbaru di Daraa, bersumber dari tulisan Vanessa Beeley: https://off-guardian.org/…/syrias-so-called-cradle-of…/]

Photo: bendera Suriah kembali berkibar di Daraa, September 2021, by Vanessa Beeley

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: