Kajian Timur Tengah

Beranda » Afganistan » Logika Ngawur Fans Taliban Indonesia & Fans ISIS Indonesia

Logika Ngawur Fans Taliban Indonesia & Fans ISIS Indonesia

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Beberapa hari yang lalu, saya buka Twitter. Eh, ternyata yang sedang trending saat itu tagar ISIS. Saya klik dan “takjub” melihat percakapan orang-orang itu. Di foto ini ada 2 di antaranya. Mengapa saya blur namanya? Soalnya saya ga sudi mempromosikan akun-akun ngaco.

Jadi ceritanya, ada berita “Taliban Menghancurkan Markas ISIS di Kabul.” Nah para fans Taliban di Indonesia langsung happy karena rupanya mereka ingin sekali membuktikan bahwa “Taliban bukan teroris, Taliban beda dengan ISIS.”

Mengapa mereka sedemikian ingin membuktikan bahwa Taliban bukan teroris dan beda dari ISIS? Rupanya (kalau dibaca percakapan mereka itu), ini terkait dengan kasus KPK. Mereka sakit hati pada para buzzer yang menyebut NB dkk sebagai Taliban. Jadi, ini masih lanjutan era Perang Suriah: para fans Taliban ini membawa-bawa konflik Timteng ke Indonesia.

[Disclaimer: saya peneliti & akademisi, saya BUKAN buzzer dan saya BUKAN pendukung Taliban, apalagi ISIS.]

—-

(1) Cuitan paling atas: dari fans Taliban

ISIS benci Taliban

BuzzerRp benci Taliban

ISIS = BuzzerRp

Jelas orang ini sama sekali tidak paham logika. Silogisme itu disusun dari premis mayor dan premis minor. Premis mayor itu dicirikan dengan kata “semua”. Kedua premis pun harus berisi info yang benar Misal: semua manusia pasti mati; Bahlul manusia; maka Bahlul pasti mati.

Jadi “silogisme” yang disusun oleh si fans Taliban ini salah (falasi). Kalau mau pakai falasi yang sama, bisa saja kan disusun begini:Fans Taliban benci ISISBuzzerRp benci ISIS Fans Taliban = BuzzerRpatau:Fans Taliban benci BuzzerRpFans ISIS benci BuzzerRpFans Taliban = Fans ISIS

😃
😃

(2) Cuitan kedua: dari fans ISIS. Jadi, mereka ini membela ISIS. Caranya dengan mengatai Taliban = Syiah. Alasannya , karena Taliban datang ke konsulat Iran di Kabul.

Jadi, dia mencoba memfitnah Taliban sebagai Syiah. Dia pura-pura lupa (atau memang tidak tahu) apa yang terjadi pada tahun 1998. Saat itu, Taliban melakukan pembantaian massal kepada orang Afghan yang Syiah di kota Mazhar-i Sharif. HRW melaporkan ada 2000 orang yang tewas. Di antara yang tewas adalah diplomat dan jurnalis Iran.

Jadi menyimpulkan “Taliban bersaudara dengan Syiah” hanya karena Taliban bertemu dengan diplomat Iran, jelas ngawur.

Sekedar info, sampai hari ini Taliban tidak pernah meminta maaf atas kejahatan mereka itu. Akibat kejahatan Taliban itu, orang-orang Syiah-Afghan (kebanyakan dari etnis Hazara) mengungsi ke Iran, jumlahnya 4-5 juta (yang tercatat dan diurus oleh UNHCR hanya 800ribuan).

Saat Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021, Iran juga kembali kebanjiran pengungsi, orang-orang Hazara yang ketakutan, takut dibantai lagi. Kata seorang pejabat Iran, kemungkinan sekarang total ada 6 jutaan Afghani di Iran.

Kalau Anda pernah ke Iran, kemanapun Anda menoleh, dengan mudah ketemu orang Afghan. Anda bayangkan, jika ada 6 juta Afghan di Indonesia dan mereka dibiarkan hidup bebas, menikmati semua layanan publik (puskesmas, sekolah), dan jadi tukang atau buruh; sementara warga Indonesia sendiri kesulitan ekonomi. Terbayang, betapa beratnya menampung pengungsi?

Inilah sebabnya Iran tetap membuka konsulat di Kabul dan mau bernegosiasi dengan Taliban. Inilah pilihan politik yang rasional. Kepentingan Iran adalah Afghanistan yang damai dan stabil, sehingga para pengungsi bisa pulang kampung. Iran melakukan pendekatan serta masih berbaik sangka, semoga saja Taliban ver 2.0 ini sudah lebih rasional, tidak lagi takfiri dan membantai kaum Syiah seperti dulu.

Apa benar Taliban bisa berubah? Secara resmi, meski tidak pernah meminta maaf atas kejahatan di masa lalu (cuma ngeles, “oh itu di luar komando”), jubir Taliban versi 2.0 ini telah mengeluarkan pernyataan menolak takfirisme dan berjanji akan melindungi kaum minoritas.

Buktinya gimana? Ya kita musti tunggu. Tapi, ini bisa jadi catatan untuk fans Taliban di Indonesia. Apa mereka masih berperilaku takfiri, sementara kini idola mereka menolak takfirisme? Rekam jejak kejahatan mereka ini tidak bisa dihapus. Selama 10 tahun, mereka mendukung Al Qaida Suriah untuk angkat senjata melawan pemerintah yang sah di Suriah.

Apa hubungan Al Qaida dan Taliban? Taliban secara resmi tidak disebut “teroris” oleh PBB. Kalau ISIS dan Al Qaida, resmi teroris. Jadi wahai BuzzerRp, cek n ricek data dulu ya.

Nah, Al Qaida ini bikin cabang dimana-mana, dengan berbagai nama. Al Qaida awalnya berdiri di Pakistan, lalu setelah Taliban berkuasa, tahun 1998 mereka pindah markas ke Afghanistan atas seizin Taliban. Artinya: mereka punya kesamaan ideologi (tidak sama persis, tapi satu “kotak”).

Terakhir: coba tanya ke fans Taliban di Indonesia, apa mereka menyebut Al Qaida teroris? Coba google: tokoh politik di Indonesia yang bikin puisi memuji Bin Laden.

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: