Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » “Model Kerja Sama Pemerintah/Militer AS dengan Pebisnis: dari Timteng sampai Indonesia”

“Model Kerja Sama Pemerintah/Militer AS dengan Pebisnis: dari Timteng sampai Indonesia”

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Kekuatan resistensi (perlawanan) telah menyerang pangkalan militer AS di Al-Tanaf (Suriah) (25/11). Pangkalan militer ini ilegal karena tidak diizinkan oleh pemerintah Suriah. Ini adalah kali pertama kali al Tanaf diserang secara langsung. Jubir Pentagon mengatakan, drone yang dipakai adalah buatan Iran tapi tidak diluncurkan dari Iran. Jubir Pentagon juga menyebut AS berhak “membela diri” tapi belum merencanakan pembalasan. (Bagaimana mungkin AS, yang secara ilegal menduduki Suriah, bicara soal “membela diri”?)

Serangan di Al Tanaf Itu terjadi hanya beberapa hari setelah pesawat tempur Israel, terbang dari arah pangkalan Amerika itu, mengebom Suriah, menyebabkan 1 tentara Suriah tewas dan melukai 3 lainnya. Kemudian, ada serangan teroris di Damaskus, yaitu bom yang ditempelkan ke bis militer (20/11). Korban tewas 14 personel militer Suriah. Tidak ada milisi teror yang mengaku sebagai pelaku, dan karena ini bukan bom bunuh diri ala “jihadis”, kemungkinan besar agen Israel pelakunya.

Pentagon (militer) AS selalu mengklaim, tentaranya didatangkan ke Suriah untuk melawan ISIS. Tetapi, Trump, yang memang selalu blak-blakan (sehingga membuka topeng AS) secara eksplisit mengatakan, bahwa tentara AS di Suriah untuk “menjaga agar minyak selalu mengalir”.

Dan memang yang terjadi, ada kontrak jual beli minyak antara milisi Kurdi (yang dibentuk AS, alasannya untuk melawan ISIS) dengan perusahaan AS yang baru dibentuk tahun 2019, yaitu Delta Crescent Energy LLC. Perusahaan ini didirikan mantan duta besar AS untuk Denmark, James Cain; James Reese, mantan perwira di Delta Force; dan John P. Dorrier Jr., mantan eksekutif di GulfSands Petroleum, sebuah perusahaan minyak yang berbasis di Inggris dengan kantor dan pengalaman pengeboran di Suriah. [1]

Nah, inilah “model kerjasama pemerintah/militer dan swasta di AS” dalam menguasai sumber daya alam atau membuka pasar di negara lain. Pemerintah/militer AS sering menjadi pembuka jalan bagi masuknya pebisnis AS.

Di sebuah film dokumenter yang pernah saya tonton (lupa judulnya), seorang tentara AS mengeluhkan gajinya yang jauh lebih kecil dibanding para pekerja di ladang minyak yang dia jaga. Ladang minyaknya di mana? Di Irak. Si tentara terlihat kesal, ngapain jauh-jauh dikirim ke Irak untuk jagain ladang minyak (milik perusahaan swasta).

Di negara yang berkembang yang “damai” (tidak ada perang fisik), model yang mirip sebenarnya diimplementasikan, tapi dengan cara “damai” pula.

Misalnya, Menko Marives datang ke AS dan di sana dia ketemu dengan Penasehat Keamanan Nasional. Ternyata (salah satu) yang mereka bicarakan adalah “investasi perusahaan AS di bidang kesehatan.”

“Luhut menjelaskan, pihaknya telah bertemu dengan Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat Jake Sullivan dan mengungkapkan rencananya untuk membawa Merck berinvestasi di Indonesia. Luhut juga meminta bantuan Sullivan untuk membujuk Merck membangun pabrik obat Covid-19 di Indonesia. “Saya sampaikan kerja sama kita yang cukup luas. Dan kalau mau membantu Indonesia secara konkret, tolong bilang ke Merck untuk membangun pabrik obat Covid-19 di Indonesia,” tutur dia. [2]

———

[1] https://www.politico.com/…/delta-crescent-energy-syrian…

[2] https://investor.id/…/luhut-punya-permintaan-khusus-ke…

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: