Kajian Timur Tengah

Beranda » Diplomasi » “Berdamai” dengan Israel? (2)

“Berdamai” dengan Israel? (2)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Kesalahkaprahan istilah “berdamai” dalam isu Israel-Palestina, sudah saya bahas di bagian pertama. Sekarang kita bahas “normalisasi.” Mengapa ada pihak yang mendorong Indonesia “menormalisasi” hubungan dengan Israel? Mengapa dipakai kata “normal”?

Kalau dalam teori resolusi konflik, normalisasi artinya mengembalikan hubungan diplomatik, kerjasama di bidang ekonomi, pengaturan keamanan, dll.

Tapi ada hal yang lebih “dalam” di balik kata “normalisasi” ini, yaitu “menganggap normal” atau “proses di mana gagasan dan perilaku yang mungkin berada di luar norma sosial menjadi dianggap normal.”

Status Israel adalah menjajah [dokumen resmi PBB dipakai istilah “occupy” atau “menduduki”] tanah bangsa Palestina. Israel melakukan berbagai kejahatan kemanusiaan terhadap orang Palestina dan melakukan sistem apartheid. Karena dilandasi keyakinan bahwa ras Yahudi lebih unggul dan istimewa dibanding ras lain sedunia, Israel memberlakukan aturan-aturan apartheid terhadap orang Palestina. Human Rights Watch sudah melaporkan soal ini, April 2021.

Nah, Israel dengan berbagai cara berusaha “menormalkan” ini semua. Di antara caranya, membayar buzzer-buzzer pro-Israel. Cara lain, mengadakan event seni/hiburan berskala internasional. Misalnya, mengundang penyanyi terkenal dunia untuk show di Israel, atau yang terbaru, mengadakan Miss Universe 2021.

Menariknya, Miss Greece (Yunani) menolak hadir ke Israel. Jelas Miss Yunani ini tidak bisa dikatai “kadrun” oleh buzzer pro-Israel (kan biasanya itulah cara mereka menghina orang-orang pro-Palestina).

Miss Yunani bernama Rafaela Plastira ini menulis:

“Saya tidak bisa naik ke panggung dan berpura-pura tidak ada yang terjadi sementara orang-orang [Palestina} berjuang untuk mempertahankan hidup mereka di luar sana.”

“Saya sangat sedih, karena saya menunggu bertahun-tahun untuk mewujudkan impian saya … Saya mencintai semua negara di dunia, tetapi hati saya bersama orang-orang yang berjuang untuk hidup mereka di Israel dan Palestina.”

[note: ada orang Palestina yang menjadi warga Israel, termasuk kaum Arab Badui; mereka mengalami diskriminasi/apartheid; ini dilaporkan antara lain oleh Human Rights Watch 2021]

Keputusan Rafaela Plastira ini disambut luas oleh para pendukung Palestina dari berbagai penjuru dunia. Lalu dia menulis lagi:

“Sangat indah melihat betapa banyak cinta dan dukungan serta pengertian yang saya dapatkan dari kalian semua.”

“Palestina, kamu tidak hanya ada di pikiranku setiap hari, tetapi kamu memiliki tempat terindah di hatiku selamanya.”

Plastira juga menuliskan kalimat ini “kemanusiaan berada di atas kontes kecantikan.”

Sebaliknya, ada banyak Miss negara lain yang tetap datang ke Israel [untungnya Indonesia tidak mengirim wakilnya].

Para Miss itu mempromosikan “visit Israel”. Di foto ini terlihat salah satu promosinya, yaitu “jalan-jalan melihat kampung Arab Badui”. Mereka memakai “baju tradisional Arab Badui” (padahal itu baju tradisional Palestina) dan memasak “makanan tradisional Arab Badui” (padahal itu makanan tradisional Palestina).

Inilah upaya menormalisasi Israel secara budaya. Menciptakan citra bahwa Israel “sama saja dengan negara normal lainnya.” Padahal, jelas Israel bukan negara normal. Israel punya “basic law” (hukum dasar), yaitu: Israel adalah negara khusus untuk orang Yahudi [Israel as the Nation-State of the Jewish People]. Ini jelas sebuah rasisme terang-terangan.

Israel adalah negara pelaku “settler colonialism.” Secara rutin Israel mengadakan program “pulang kampung” (Aaliyah), orang-orang Yahudi dari berbagai negara didatangkan, dijadikan warga Israel, lalu ditempatkan di perumahan-perumahan ilegal di Tepi Barat.

[Note: perumahan ilegal/illegal settlement adalah pelanggaran hukum internasional; sudah berkali-kali dikecam oleh resolusi PBB. Harap maklum, PBB memang cuma bisa mengecam, tapi minimalnya secara hukum internasional ada dokumen resmi soal kejahatan Israel ini].

Nah, apakah bangsa Indonesia, yang katanya “menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan moral” kalah cerdas dan kalah empati dari Miss Yunani? Apa mau “menormalisasi” Israel? Jelas tidak.

_____

*bagian-1: https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/244696037733127)

*berita mengenai Miss Yunani: https://greekreporter.com/…/greece-contestant-boycotts…/

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: