Kajian Timur Tengah

Beranda » Blog&Web About Global Politics » Indonesia Mau Belajar Pertanian ke Israel? (1)

Indonesia Mau Belajar Pertanian ke Israel? (1)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Tentu saja ini sangat absurd. Indonesia sudah sangat banyak ahli yang mampu memaksimalkan produksi tanaman pangan. Masalahnya tinggal di kebijakan dan implementasi. Disertasi saya membahas soal ini, jadi saya tidak asal klaim. Salah satu informan riset saya adalah Prof. Mubiar (alm) dari ITB. Beliau berhasil menciptakan sebuah metode penanaman padi yang berbasis kearifan lokal Sunda, dengan tingkat panen yang sangat tinggi dengan modal rendah (tanpa perlu bergantung pada benih pabrik, insektisida kimia, dan pupuk pabrik).

Ketika saya tanya beliau, “Mengapa metode ini tidak diimplementasikan secara besar-besaran di seluruh Indonesia?” Beliau menjawab, “Itu juga pertanyaan saya.” Metode beliau ini sudah sampai kok ke level elit, sudah pernah panen massal juga dihadiri Pak SBY.

Karena itulah, sangat absurd kalau pertanian digadang-gadang sebagai “pintu” untuk membuka hubungan diplomatik Indonesia-Israel. Berita Jerusalem Post (11 Jan 2022) yang saya tampilkan screenshotnya ini, berjudul “Bagaimana pertanian membuat menteri pertahanan Indonesia berbicara tentang normalisasi dengan Israel.”

Berikut ini saya terjemahkan sebagian isinya:

**

Kerja sama pertanian telah memainkan peran besar dalam menghangatnya hubungan antara Israel dan Indonesia baru-baru ini, dengan Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto memimpin dari Jakarta. Serangkaian pertemuan, pernyataan, dan laporan dalam beberapa bulan terakhir tahun 2021 menunjukkan bahwa Israel dan Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, semakin dekat.

Baru-baru ini, seorang pejabat diplomatik senior [Israel] mengkonfirmasi bahwa Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken telah mengangkat topik normalisasi tersebut dengan Menlu Indonesia bulan lalu, dan Yerusalem telah diberitahu sebelumnya. “

Prosesnya panjang,” kata pejabat itu. “Ada satu pertemuan dan kemudian yang lain dan pesawat tanpa tanda dan semua hal sinematik yang menyertainya – dan kemudian, suatu hari, itu [normalisasi] terjadi.”

Beberapa dari pertemuan rahasia itu datang dari sumber yang tidak terduga: kerjasama pertanian.

Hmuel Friedman, seorang konsultan pertanian, pengusaha dan penasihat senior mantan menteri pertanian Yair Shamir, telah bekerja di pusat R&D pertanian di Indonesia. Salah satu mitra dalam proyek itu – dan lainnya yang melibatkan pengetahuan pertanian Israel – adalah Prabowo. “

Ketahanan pangan [food security/keamanan pangan] bagi suatu bangsa tidak kalah pentingnya dengan keamanan [security] itu sendiri, dan [Subianto] sangat setuju dengan saya tentang itu,” kata Friedman pekan ini.

“Itulah yang kami tahu [bagaimana] untuk membawanya. Pada akhirnya, kami membawa hasil dan melihat petani yang puas [atas hasilnya], jadi tidak masalah dari mana asalnya.”

Friedman mengatakan dia mengetahui pembicaraan normalisasi antara Yerusalem dan Jakarta, tetapi tidak terlibat di sisi politik. “Saya percaya bahwa hubungan antarnegara perlu dimulai dari sana, dengan ketahanan pangan,” katanya. “Tidak dengan senjata – dengan makanan.” [1]

**

Di tulisan selanjutnya saya akan bahas soal “ketahanan pangan” versus “kedaulatan pangan.” Tapi tulisan ini, saya hanya mengingatkan: ketika Israel mengklaim sebagai negara yang maju teknologi pertaniannya, ingin “memuaskan petani,” di saat yang sama, Israel telah melakukan kejahatan luar biasa kepada para petani Palestina.

Di FOTO yang saya tampilkan ini, terlihat petani Palestina berusaha menanamkan kembali pohon zaitun yang dicabut tentara Israel. Ini kejadian bulan Januari 2021. Ketika itu, buldoser militer Israel menghancurkan dua hektar lahan pertanian dan puluhan pohon zaitun di kota Hebron, Tepi Barat, menurut penduduk setempat. Sepanjang tahun 2020, lebih dari 8.400 pohon zaitun dicabut atau dibakar Israel. Data Okt-Nov 2021, ada 794 pohon zaitun dicabut, 1040 pohon ditebang atau dirusak, 201 pohon dibakar, dan panen dari 1821 pohon dicuri. [2]

Israel memberlakukan aturan: petani Palestina harus minta izin dulu sebelum ke kebun mereka. Izin hanya diberikan dua kali setahun (di musim semi dan musim gugur), itupun cuma beberapa hari, sehingga petani tidak cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

Aturan izin itu, alasannya, supaya tentara bisa mendampingi para petani (karena beresiko diganggu para pemukim ilegal Zionis). Tapi, di lapangan, sering terjadi, tentara tidak hadir ketika kejahatan dilakukan oleh warga Israel. Atau, kalau pun mereka hadir, mereka malah melindungi pemukim Israel. Ketika panen, para pemukim Zionis sering menyerang petani, dan ketika para petani melawan, yang ditangkap tentara, atau dilempari granat kejut dan gas air mata, justru para petani Palestina. [3]

Apa kita mau belajar bertani dari para penjahat ini?

[1] https://www.jpost.com/international/article-692184

[2]https://www.premiere-urgence.org/…/how-settler…/

[3] https://www.yesh-din.org/…/a-summary-of-the-2021-olive…/

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: