Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Mohon maaf postingan sebelumnya saya ralat. Seharusnya yang benar: BEKAS Dubes RI untuk Ukraina, BUKAN DUBES yang saat ini.

Mohon maaf postingan sebelumnya saya ralat. Seharusnya yang benar: BEKAS Dubes RI untuk Ukraina, BUKAN DUBES yang saat ini.

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

====

Sikap “Setuju” Indonesia Atas Resolusi PBB Soal Rusia

Tanggal 2 Maret yll, saya diwawancarai live oleh Tribun. Yang membuat saya terkejut, pewawancara bilang: bekas Dubes Indonesia di Ukraina menyebut bahwa “keberadaan neo-Nazi di Ukraina adalah hoax.” Lalu dia minta konfirmasi dari saya. Tentu saja jelaskan bahwa itu bukan hoax.

Alhamdulillah, saya cukup bangga, karena pendapat saya selama ini (yang saya tulis beberapa kali di FP ini, juga saya sampaikan dalam wawancara dengan Tribun) ternyata terkonfirmasi oleh pernyataan Prof. Hikmahanto Juwana (Guru Besar Hukum Internasional) terbaru.

Beliau menyesalkan sikap “setuju” yang diambil Indonesia atas resolusi Majelis Umum PBB 2 Maret 2022 soal Rusia. Beliau bilang, “…secara tak langsung, Indonesia menentukan tindakan invasi Rusia sebagai salah. Padahal dua negara yang berseteru pasti memiliki justifikasi berdasarkan Piagam PBB dan hukum internasional. Satu hal yang pasti Rusia tidak akan menyatakan dirinya melakukan perang agresi atau serangan terhadap integritas wilayah negara lain.”[1]

Nah, ini juga point saya sejak awal: aspek hukum internasionalnya masih perdebatan, mengapa harus buru-buru menghakimi? (soal hukum internasional ini, juga saya jelaskan di wawancara dengan Tribun).

Masalah Rusia-Ukraina ini kan ada beberapa dimensi:

(1) separatisme, sebagai buntut dari kudeta “revolusi berwarna” dan rasisme dari kelompok ultranasionalis neo-Nazi pro-kudeta

(2) genosida atas etnis minoritas di Donbass (yaitu etnis Rusia)

(3) ekspansi NATO ke timur, sampai nyaris mengepung Rusia. Rusia memiliki kekhawatiran besar atas keamanan dan kedaulatannya, mengingat track record AS selama yang selalu mengacau negara orang.

Dalam terjadinya poin 1, 2, dan 3, itu campur tangan AS sangat-sangat jelas. Bahkan Prof Mearsheimer, profesor terkemuka Hubungan Internasional dari AS (para penstudi HI pasti kenal), sejak 2015 juga menyatakan bahwa AS salah dalam kasus Ukraina ini. [2]

Di tengah perdebatan ini, sangat tidak bijak bila Indonesia mengikatkan diri pada satu pihak (AS maupun Rusia). Seharusnya ABSTAIN saja, akan lebih menguntungkan untuk kepentingan nasional kita sendiri.

[1] Soal Prof Mearsheimer: https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/289616323275797

[2] Pernyataan Prof Hikmahanto: https://amp.dw.com/…/guru-besar-ui…/a-60995070

WAWANCARA DINA SULAEMAN DENGAN TRIBUN

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: