Kajian Timur Tengah

Beranda » Afrika Selatan » Rasisme Kaum “Kulit Putih”

Rasisme Kaum “Kulit Putih”

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/1086012568848637

Salah satu hal yang menyedihkan dari konflik Ukraina-Rusia ini adalah semakin terang-terangannya narasi rasis atau “white supremacist,” yaitu narasi yang memandang bahwa orang kulit putih lebih unggul daripada kulit berwarna. Di video ini Anda bisa lihat sebagiannya.

Secara umum, memang terlihat perbedaan besar reaksi mereka atas konflik ini. Betapa mereka sangat bersimpati pada orang Ukraina dan menyerukan “hentikan perang.” Kemana suara mereka saat Yaman dibombardir selama 7 tahun? Saat Suriah hingga kini masih diduduki pasukan AS dan dibombardir nyaris tiap hari oleh Israel?

Data tahun 2017 saja, pasukan Amerika Serikat menjatuhkan sedikitnya 26.171 bom di negara-negara mayoritas Muslim. Data tahun-tahun lainnya kurang lebih sama, berbeda sekian ribu bom. Tapi, mereka tidak peduli karena korbannya kaum kulit berwarna.

Cara pandang rasis seperti inilah yang membuat negara-negara imperialis Eropa (dan AS, yang awalnya juga dari Eropa) merasa berhak menjajah negara-negara Asia, Afrika, Timur Tengah.

Bahkan imperialisme itu berlangsung hingga kini, tapi dalam bentuk baru yang menghegemoni, sehingga banyak orang-orang di Dunia Ketiga tidak merasa dijajah, padahal sumber daya alam mereka terus dirampas. Justru sebaliknya, orang-orang Dunia Ketiga banyak yang terkagum-kagum dan menjadikan para imperialis sebagai idola dan parameter.

“Jika orang pribumi yang bicara, diabaikan. Orang bule yang ngomong, dianggap hebat.”

Bukankah Holocaust terjadi di Eropa? Bukankah orang-orang Eropa yang “beradab” itulah yang memulai dua perang dunia? Pembantaian di Bosnia, yang sangat-sangat brutal, dilakukan oleh orang bermata biru dan berambut pirang, korbannya pun demikian. Belum lagi bila dihitung berbagai perang proxy mereka di berbagai penjuru dunia. Jadi, kaum kulit putih sebenarnya tidak berhak mengklaim sebagai “paling beradab.”

Pelajaran buat orang Indonesia:

1. Perhatikan bahwa kesukuan (etnisitas) di Eropa bisa memicu perang. Bahkan Eropa yang seolah lebih beradab dari kita pun sering terjebak dalam perang brutal karena perbedaan suku. Jadi, mari kita jaga baik-baik persatuan bangsa Indonesia

2. Semua manusia sama berharganya. Kita harus membangun rasa percaya diri dan kemandirian. Ambil/tiru hal-hal yang baik dari siapa saja, tapi tidak perlu minder pada siapa pun.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: