Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » (3) Apa Ikhtiar yang Bisa Kita Lakukan?

(3) Apa Ikhtiar yang Bisa Kita Lakukan?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

—ini tulisan bagian ke-3, sebaiknya baca dulu 1 dan 2 biar lebih paham—

Orang-orang bergelar tinggi di bidang medis dengan cepat berdalih di media: “tidak ada kaitan antara merebaknya kasus hepatitis akut dengan vaksinasi c*vid-19.”

Argumen mereka konyol sekali, “Karena, para korban kan anak-anak yang belum divaksin c*vid.”

Mengapa konyol? Karena, mereka melupakan apa yang disebut SHEDDING (penyebaran virus ke lingkungan).

WHO sudah mengemukakan hipotesis: hepatitis akut ini disebabkan adenov*rus. Tapi, mengapa bisa menyebar cepat ke berbagai negara di Eropa, lalu sampai juga ke Indonesia?

Salah satu kemungkinan kuatnya: menyebar lewat vaksin karena ada vaksin-vaksin yang mengandung adenov*rus hidup. Salah satunya, merk AZ.

Adenov*rus live mutan (Chadox) yang dimasukkan ke vaksin AZ itu bereplikasi (kalau ada yang mengatakan Chadox tidak bereplikasi, coba tanyakan ke dia, dengan cara apa virus mutan Chadox itu diperbanyak untuk dijadikan vaksin?)

Karena v*rus Chadox-nya (yang ada di vaksin AZ) adalah v*rus hidup, ia pasti akan bereplikasi dan menimbulkan sakit. Tapi, karena adenov*rus ini virus yang tidak beramplop -beda dengan coronavirus- proses penularan dan kemunculan sakitnya memakan waktu lebih lama.

Ketika seseorang sakit akibat replikasi v*rus dalam tubuhnya, pasti akan terjadi SHEDDING. Misal, kita sakit flu, kita akan bersin, atau batuk, nah saat itulah v*rusnya shedding (menyebar). Untuk hepatitis, shedding ke lingkungan antara lain melalui feses, muntah, urin.

Jadi, karena ada SHEDDING ini, yang beresiko terkena hepatitis akut ini bukan cuma anak-anak dan bukan cuma mereka yang sudah divaksin AZ.

Itulah sebabnya, yang dipersoalkan seharusnya bukan “sudah divaksin atau belum” TAPI MENGAPA SEJAK AWAL TIDAK DITELITI DULU? Bukankah vaksin tsb bisa disuntikkan dulu ke kelinci/tikus, lalu cek, apa benar Chadox-nya tidak bereplikasi seperti kata pabriknya? Mengapa klaim dari pabrik diterima begitu saja?

(Baca tulisan saya sebelumnya, virolog MIC sudah meneliti dan menyuntikkan AZ ke kelinci dan memang si kelinci kena hepatitis parah, pneumonia, dan radang di organ reproduksi. Info tambahan: catet “organ reproduksi” —> coba cek, apakah ada bapak-bapak yang kesulitan “anu” setelah divaksin AZ? )

Tapi… yang sudah terjadi, ya mau diapakan lagi, sudah lewat. Tinggal tunggu saja, mereka yang bertanggung jawab (yang seharusnya meneliti dan melindungi rakyat) pasti akan menerima karmanya.

Yang penting ke depannya: rakyat harus belajar dan mandiri, perhatikan apa yang akan dimasukkan ke tubuh, pilih yang aman, jangan percaya begitu saja pada apa kata pabrik.

Yang penting, sekarang: APA SOLUSINYA?

Foto yang saya taruh inilah ikhtiar yang bisa dilakukan rakyat, dengan cara mudah dan murah. Penjelasannya, baca saja di sini: https://pekokers.wordpress.com/…/mengantisipasi-varian…/

=====

Note: Supaya lebih paham, silakan baca dua tulisan saya sebelumnya (yang merangkum/menulis ulang penjelasan dari virolog Pak MIC):

(1) “Hipotesis Varian Shanghai” https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/photos/a.234143183678611/1411153332644251/

(2)“Hepatitis Akut, Wabah Berikutnya?” https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/photos/a.234143183678611/1415320742227510/

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: