Kajian Timur Tengah

Beranda » Uncategorized » Film “Sayap-Sayap Patah”: Review ala Saya

Film “Sayap-Sayap Patah”: Review ala Saya

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Disclaimer: ini bukan review ala kritikus film yang ndakik-ndakik soal sinematografi yes, ini review ala saya. Review-nya panjang pula, banyak kisah di luar film. Anda suka atau tidak, bukan urusan saya. Tujuan saya adalah edukasi dan menumpahkan isi pikiran. Saya tidak dibayar sama sekali menulis ini, jadi saya bukan buzzerRp seperti tuduhan haters.

**

Suatu hari, saya bertemu seseorang, di sebuah acara informal, di pesta pernikahan. Beliau tidak mengenalkan diri, hanya menyebut nama. Tapi, atas alasan tertentu, saya menduga beliau polisi.”

“Maaf, Bapak polisi ya?” tanya saya.

“Bukan mbak, saya Densus,” jawabnya sambil tertawa.

Saya agak bingung, lalu beliau menjelaskan bahwa di tengah masyarakat seolah ada pembedaan, seolah Densus itu beda sama polisi. Karena saya ga mendapati itu (mungkin karena lingkungan saya tidak berurusan dengan Densus/polisi), saya menjawab “Ooo..” saja.

Singkat cerita, akhirnya kami ngobrol sebentar. Antara lain, beliau cerita bagaimana perjuangan menguntit terduga teroris, bisa berbulan-bulan di hutan. Dalam kondisi seperti itu, timnya merasakan bahwa asupan spiritual sangat penting, jadi mereka membiasakan diri Yasinan, ngaji, dan baca doa-doa.

Berkat asupan spiritual itu, menurutnya, banyak kejadian ajaib yang mereka dapati. Pernah suatu hari, setelah berbulan-bulan mencari seorang terduga teroris (dan tidak ketemu di mana rimbanya), setelah mengaji, tiba-tiba saja ada orang yang kecebur sungai, anggota timnya segera meloncat untuk membantu. Eh, ternyata yang dibantu ini orang yang mereka cari-cari selama ini (dan ada beberapa kisah lain).

Bertahun-tahun kemudian, saya dan mahasiswa saya melakukan riset terkait terorisme, mewawancarai beberapa eks-napiter. Bayangkan saja, kami mewawancarai orang-orang yang benar-benar melakukan aksi pengeboman, dan yang benar-benar pergi ke Suriah; orang yang selama ini ada di tv atau kami baca beritanya di media. Kami menanyakan bagaimana proses mereka sampai akhirnya memutuskan untuk melakukan aksi teroris berkedok “jihad” dan bagaimana proses mereka untuk kembali.

Artinya: para teroris itu memang ADA, riil, mereka ditangkap Densus, menjalani hidup di penjara, sambil mendapatkan pembinaan dan akhirnya menemukan jalan untuk ‘kembali.’

Pengalaman saya sebelumnya pun, terutama sejak 2012, sejak saya dibully oleh para simpatisan teroris Suriah menunjukkan bahwa radikalisme dan terorisme itu MEMANG ADA di negeri ini. Bukankah ADA orang-orang Indonesia yang saat ini ditahan di Suriah, para anggota ISIS. Bukankah ada anak “ustad” yang juga tewas karena bergabung dengan teroris di Suriah? [google saja]. Jejak digital para pendukung ISIS dan Al Qaida Suriah, bukankah ADA? Korban bom bunuh diri yang mereka lakukan di Indonesia, kan juga ADA? Korbannya ada yang masih hidup dalam kondisi yang sangat menyedihkan.

Mengapa saya membahas soal ADA?

Karena, narasi yang sering disampaikan oleh para radikalis dan teroris di Indonesia adalah: MENGABURKAN KE-ADA-AN ini. Mereka sering sekali menciptakan teori konspirasi: ga ada itu radikalis dan terorisme! Itu hanya narasi pengalihan isu! Itu hanya proyek pemerintah! Itu hanya alat untuk memarginalkan umat Islam!

Apalagi, setelah ramai kasus kejahatan Ferdi Sambo, muncul narasi, “Tuh kan, yang teroris itu polisi! Umat Islam terus yang disalahin!”

Menurut saya, ini adalah FALASI (kesalahan berpikir) yang kalau dalam istilah ilmu mantiq (logika) disebut “tabrir”, berlepas dari kejahatan yang dilakukannya dengan menunjukkan kesalahan orang lain (menganggap kesalahan si A sebagai bukti dari ketidakbersalahan si B). Bukankah sangat mungkin, A dan B sama-sama salah?

Atau dengan kata lain:

Sangat mungkin Densus melakukan kesalahan/abuse of power (seperti tuduhan sebagian pihak, saya tidak tahu benar/tidaknya karena belum meneliti sendiri). Tapi, kesalahan tidak membuat kejahatan terorisme jadi benar kan? Tidak membuat “terorisme” itu jadi ilusi belaka kan? Kan memang ADA?

Sekali lagi, saya bukan buzzer, dan tidak sedang membela polisi/Densus. Sejak 2012 sampai hari ini 2022, saya menulis ribuan tulisan soal jejaring teroris Suriah di Indonesia dari perspektif geopolitik dan ekonomi politik global. Saya juga pernah cerita terbuka, mengeluhkan kinerja polisi. Saya lapor ke Polda soal kejahatan para radikalis yang meneror saya di medsos, dicuekin tuh sama mereka. Saya juga mengeluhkan, saat acara saya diancam oleh jamaah anu anu.. justru yang dilakukan polisi saat itu adalah KAMI yang harus bubar. Bahkan, ada acara resmi bedah buku saya, diadakan kampus, lalu batal karena ancaman Jamaah Anshorus Syariah. Mana polisi? Entah.

Tapi, saya sedang mengarahkan FOKUS tulisan saya pada RADIKALISME-TERORIS-nya.

Demikian pengantar saya. Jadi, review ini memang khusus untuk mereka yang punya logika dan menerima bahwa radikalisme dan terorisme itu memang ada di Indonesia. Menerima, untuk kemudian bersama melakukan pencegahan sesuai kemampuan masing-masing.

**

Film ini dibuka dengan adegan pembunuhan seseorang (yang rupanya anggota Densus yang disusupkan ke jaringan teror). Suasana tegang segera menyergap saya. Nyawa sedemikian tak berharganya buat mereka. Buat saya, adegan ini memicu kenangan pada ancaman-ancaman terror yang saya terima di medsos akibat saya menulis soal Suriah (dan membongkar hoaks-hoaks yang disebarkan oleh para radikalis soal Suriah). Saya mengenang rasa takut saya, bertahun-tahun (sejak 2012 lho! Sekarang 2022), mengenang cara-cara Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang membantu saya menerima rasa takut itu, accept, embrace…tapi, maju dan jalan terus.

Selanjutnya, film ini secara bergantian memunculkan adegan antara kisah cinta yang manis antara anggota Densus Bernama Aji dan istrinya yang bernama Nani. Dan sebagai perempuan, memang terasa di hati saya, betapa resahnya seorang istri menanti suaminya dalam keadaan tak pasti, entah akan pulang hidup atau dalam keadaan tak bernyawa.

Beberapa adegan penggerebekan teroris juga membuat saya terkenang pada cerita dari pak Densus (yang saya ceritakan di awal). Ya memang seperti itulah yang beliau ceritakan. Menunggu, mengawasi bertahun-tahun. Ketika sudah benar-benar mau melakukan aksi, baru bisa ditangkap (karena kalau belum sampai tahap aksi, ga bisa ditangkap, karena akan dituduh melanggar HAM). Seringkali, karena menunggu ada aksi dulu, semua sudah terlambat.

[Note: ini berdasarkan UU Terorisme yang lama, ya. Kalo UU baru (disahkan 21 Juni 2018), aktivitas di tahapan persiapan pun sudah bisa ditangkap.  Kerusuhan di Mako Brimob terjadi tgl 8 Mei 2018.]

Keistimewaan film ini menurut saya adalah, akting semua pemainnya bagus banget, seperti alami. Misalnya, Iwa K yang jadi teroris, lha kok cocok banget, Nugie yang jadi bosnya Aji, luwes banget aktingnya. Dia berusaha memunculkan sisi manusiawi saat menginterogasi terduga teroris, misalnya, menawari makanan, atau mengatakan, “Kamu itu seusia anakku. Kenapa kok ga lanjut SMA?” dengan nada kebapakan (kepada Rosyid, pelaku aksi terorisme).

Apa benar demikian cara Densus menginterogasi? Ya ga tau, saya kan tidak pernah kerja di Densus.

Acting Nicholas Saputra dan Ariel Tatum juga so sweet banget. Mereka seolah alami berperan suami-istri. Tapi… saking ‘alami’-nya saya jadi risih banget saat ada adegan percintaan antara Aji dan Nani. Menurut saya itu adegan yang tidak perlu (kalaupun dihilangkan tidak akan mempengaruhi kisah filmnya).  Justru karena ada adegan ini, saya tidak merekomendasikan film ini ditonton anak dan remaja. Kalau orang dewasa ya bolehlah, tapi sebaiknya tundukkan pandangan (ya, saya memang konservarif dalam urusan ini).

Adegan bom bunuh diri juga ditunjukkan dan ini membuat saya berkali-kali menutup mata karena ngeri. Pelakunya gadis remaja yang tidak menggunakan jilbab. Saya memang menangkap di keseluruhan film ada kehati-hatian, untuk tidak mengidentikkan aksi terorisme dengan agama tertentu. Secara halus/tersirat saja di sana-sini dimunculkan soal ideologinya, misalnya dalam dialog, “Menurut mereka, saya ini kurang beriman.”  (Semua juga tahu siapa kelompok yang selalu ngaku paling beriman dan pegang kunci surga).

Kisah si gadis mengapa sampai mau meledakkan diri, sayangnya, tidak dieksplorasi. Tapi memang sulit mengeksplorasi kalau si pembuat film ingin berhati-hati, kuatir dituduh jadi “penista agama”.

Kalau dieksplorasi, apalagi melibatkan pakar neurologi, sepertinya akan lebih bagus dalam mengedukasi publik. Saya teringat pernah webinar membahas terorisme dengan seorang pakar di bidang syaraf, beliau tidak/belum mendapatkan jawaban, bagaimana cara para mentor teroris itu bisa memengaruhi seorang ibu agar mau meledakkan diri dengan membawa anaknya.

Kekurangan dalam acting, menurut saya, justru di tokoh Rosyid. Menurut saya, kalau dari penampilan seperti si Rosyid ini (yang kelihatan galau dan ‘ga jelas’, bajunya juga kucel) harusnya om Aji dkk curiga dong (masa ga ada insting, gitu?). Kalau saya jadi sutradaranya, si Rosyid akan saya suruh dandan perlente, ala esmud, misalnya supaya masuk akal jika para jagoan Densus sampai ga curiga.

Puncak adegan tentu saja saat para tahanan teroris di Mako Brimob menjebol tahanan dan menyandera beberapa anggota Densus, termasuk Aji. Silakan tonton saja sendiri, supaya tidak spoiler.

Nah, di akhir cerita, para teroris itu ditahan. Seorang gadis muda yang mungkin saking kesalnya, berteriak, “Tonjok aja!” dan disambut tawa penonton lain.

Dan di akhir film, sumpah, ada beberapa penonton yang bertepuk tangan. Saya juga ingin bertepuk tangan, menunjukkan apresiasi, tapi saya terlalu sedih.

Semoga saja, jiwa-jiwa baik yang rela mempertaruhkan nyawa untuk menjaga NKRI selalu dilindungi-Nya. Dan keluarga yang mereka tinggalkan juga selalu dalam lindungan-Nya.

Dan buat saya, sekali lagi, masing-masing kita, bila mengakui bahwa masalah radikalisme dan terorisme ini memang ADA, tentu perlu melakukan sesuatu, semampunya.

***

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: