Kajian Timur Tengah

Beranda » Diplomasi » ANNAS dan Abainya Para Pejabat Soal Geopolitik

ANNAS dan Abainya Para Pejabat Soal Geopolitik

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/756006485630621

Beberapa pejabat yang digaji negara, antara lain Walikota Bandung, H. Yana Mulyana, S.E., Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kota Bandung, perwakilan Dansesko TNI, Camat Lengkong, dan Kapolsek Lengkong diberitakan menghadiri peresmian “gedung dakwah ANNAS”. [1]

Kepanjangan ANNAS adalah “Aliansi Nasional Anti Syiah”. Sebagian tokoh ANNAS punya rekam jejak hitam soal Suriah. Menurut info yang saya dapat, ANNAS ini organisasi tanpa bentuk, tidak ada SK Kemenkumham-nya. Tanah dan gedung dakwahnya atas nama siapa? Entah.

Lalu, kok pejabat negara yang digaji dengan uang rakyat mau meresmikannya?

Kemungkinan jawabannya ada dua: (A) mereka dengan sadar sepenuhnya ingin mengadu domba umat Islam, atau (B) mereka abai geopolitik, tidak paham apa bahayanya narasi ala ANNAS.

Kalau jawaban (A) yang benar, silakan pihak berwenang (Densus/BNPT) yang mengurus. Saya mau menulis untuk kategori (B) saja, barangkali bermanfaat untuk para pejabat lainnya supaya tidak tersandung batu yang sama.

ANNAS didirikan tahun 2014, ketika Perang Suriah sedang panas-panasnya. Sebagian ustadz pendirinya punya rekam jejak menyebarluaskan narasi hoaks “Kaum Sunni di Suriah dibantai Syiah, karena itu hati-hati dengan umat Syiah di Indonesia!” (dan seiring dengan narasi ini, gerombolan pengepul donasi pun bergerak, “kumpulkan donasi terbaik Anda untuk rakyat Suriah.”)

Nah, buat apa sih, para ustadz terkenal itu sibuk mengimpor konflik Suriah di Indonesia? Jawabannya: untuk kepentingan politik pribadi, penggalangan dana untuk Suriah (sebagian masuk ke kas sendiri), dan untuk perekrutan jihadis di Suriah.

Mengapa harus ada rekrutmen jihadis dari Indonesia (dan dari sekitar 100 negara sedunia) supaya ikut perang di Suriah? Emangnya rakyat Suriah kemana? Kalau benar mereka dizalimi pemerintahnya, ya mereka dong angkat senjata?

Tahun 2011 (sebelum perang), Suriah itu lebih makmur daripada Indonesia lho! (didasarkan pada Human Development Index). Bahkan CIA dulu menyebut Suriah sebagai salah satu negara teraman di dunia. Apa mayoritas rakyat Suriah yang angkat senjata melawan pemerintah? Atau hanya segelintir saja dari mereka (kan kelompok radikal memang ada dimana-mana), dibantu jihadis dari seluruh dunia?

Nah, di sinilah pentingnya PEMAHAMAN GEOPOLITIK. Kalau paham geopolitik, kita bisa menyatukan titik-titik yang berserakan (connecting the dots). Kita bisa tahu, apa kepentingan negara-negara Barat “bermain” di Suriah? Kita bisa mendeteksi, para ustadz di Indonesia yang pro-terorisme di Suriah, ternyata berjejaring dengan organisasi transnasional.

Yang teroris di Suriah bukan cuma ISIS lho. Jadi kalau mereka mengaku anti-ISIS, belum tentu anti-teroris, karena ada ratusan milisi lainnya dengan berbagai nama. Kita juga jadi waspada dengan aksi penggalangan donasi yang dikumpulkan dari orang-orang Indonesia yang mereka tipu dengan foto/video hoaks Suriah.

Lalu, dengan pemahaman geopolitik pula, kita bisa PAHAM, apa akibat mengerikan bila narasi kebencian ala ANNAS dibiarkan?

Di Suriah, mayoritas populasinya bermazhab Ahlusunnah. Korban terbanyak yang dibunuh oleh ISIS, Al Qaida, dkk adalah umat Sunni dan ulama Sunni (salah satunya: Syekh Al Buthy, ulama terkemuka di dunia asal Suriah, buku-bukunya dipakai di berbagai pesantren di Indonesia). Mengapa mereka membunuh sesama Sunni? [para teroris ini kan mengaku Sunni, padahal terdoktrin Wahabisme.]

Karena, dalam keyakinan mereka, “Semua yang bekerja sama dengan pemerintah Suriah, baik sipil, militer, ataupun ulama, wajib dibunuh.” (Ini adalah “fatwa” Syekh Qardhawi, disiarkan oleh televisi Aljazeera).

Jadi: di Indonesia pun, inilah yang akan terjadi bila gerombolan ANNAS ini dibiarkan. Yang akan jadi korban bukan umat Syiah saja (yang jumlahnya sangat minoritas itu). Mereka akan dengan mudah menuduh siapapun sebagai Syiah atau “simpatisan Syiah,” pemerintah pun bisa dituduh Syiah atau “antek Syiah.” Inilah yang terjadi di Suriah.

Dalam deklarasi ANNAS 2014, pun, sebagian orator menyeru agar jangan pilih Jokowi. [4] Padahal, apa urusan Jokowi dengan Syiah?

Pemerintah Suriah itu sebenarnya sosialis-nasionalis-sekuler (bukan pemerintahan agama), dan dipilih melalui pemilu. Silakan cek UUD Suriah.

Dan.. masih panjang lagi ceritanya. Anda bisa baca dua buku saya (Prahara Suriah & Salju di Aleppo), download gratis. [2] Atau, bila perlu audiensi, supaya saya ceritakan selengkap-lengkapnya, saya juga siap. Atau, undang alumni Suriah (orang-orang Indonesia yang pernah kuliah resmi di Suriah, bukan “alumni jihadis”). Mahasiswa Sunni asal Indonesia itu sejak dulu banyak yang kuliah di Suriah. Tahun 2021, ada 31 mahasiswa Sunni Indonesia dikirim ke Suriah, dapat beasiswa.

Demikian. Jangan abai geopolitik. Mari jaga NKRI dengan cerdas geopolitik.

Note: di video ini, Anda bisa simak potongan orasi Abu Jibril dalam acara Deklarasi ANNAS di Bandung. Perhatikan betapa jahatnya kata-katanya, berbohong dengan mengutip Nabi pula. Abu Jibril sudah meninggal tahun 2021. Anaknya, Ridwan, bergabung dengan Al Qaida Suriah dan tewas di sana tahun 2015. Tokoh ANNAS yang lain adalah Farid Okbah, sudah ditangkap Densus tahun 2021 karena kasus terorisme. FO juga sangat sering bicara menyebar narasi hoaks soal Suriah. Rekam jejaknya baca di tulisan saya [3]

[1] https://suaranasional.com/…/wali-kota-bandung-resmikan…/

[2] https://ic-mes.org/e-book/

[3] https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/photos/a.234143183678611/1308733142886271/

[4]video dan liputan deklarasi ANNAS: https://liputanislam.com/…/deklarasi-anti-syiah-siapa…/

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: