Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Jilbab

Jilbab

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Gara-gara urusan hijab di Iran, netizen di Indonesia banyak yang ikut nyinyir. Orang yang memberi informasi pembanding (termasuk saya), disebut “buzzer Iran”. Lha kalian yang nyinyir, buzzer apa? Buzzer Islam Liberal buatan Barat? Atau buzzer Amerika? Bukankah AS sangat berkepentingan dengan tergulingnya rezim di Iran?

Atau buzzer Israel? FYI: Israel dengan tidak tahu malu menyatakan mendukung “penegakan HAM di Iran”, padahal kaum perempuan Palestina setiap hari dilanggar HAM-nya, anak-anak, ayah, dan saudaranya dibunuhi oleh serdadu Zionis. Kalian pernah menyinyiri Israel? Atau malah warga Palestina yang kalian nyinyiri, kalian sebut sebagai Arab atau “kadrun”?

Mereka yang menyinyiri Iran, saya perhatikan, berusaha memunculkan narasi menyamakan Iran = Taliban = kadrun. Sungguh ini kebodohan, entah memang tidak paham geopolitik, atau memang sengaja menyesatkan opini publik Indonesia, supaya semakin antipati dengan yang berbau-bau Islam serta menyudutkan orang yang berhijab.

Keributan soal jilbab di Iran ini sudah pernah terjadi tahun 2017. Saat itu, saya menulis di blog, berjudul “Perempuan, Jilbab, dan Ekonomi”

https://dinasulaeman.wordpress.com/…/qa-tentang-iran-3…/

Antara lain poin saya:

1. Mengapa hijab dianggap sebagai faktor kemunduran ekonomi atau represi terhadap perempuan di sebuah negara? Mengapa tidak memperhatikan indikator-indikator lainnya dalam menilai kondisi perempuan? Mengapa tidak melihat sistem sebuah negara secara komprehensif?

2. Kalau hijab dianggap penyebab utama buruknya kondisi perempuan, mengapa di negara-negara Afrika yang mayoritas nonmuslim, atau di Indonesia, yang tidak ada kewajiban hijab, kondisi perempuan juga bermasalah? (KDRT, kemiskinan, terpaksa bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga, korban perdagangan manusia, dll). Perhatikan indeks2 pengukuran kondisi perempuan dari UNDP supaya objektif.

Silakan baca saja sendiri tulisan saya tsb.

Dan… karena pekerjaan saya bukan buzzer (saya punya pekerjaan wajib yang harus dituntaskan dan sangat menyita waktu), saya memang belum sempat menulis kejadian terbaru, (Beberapa hari yll sempat diwawancarai Seroja TV, https://www.youtube.com/watch?v=mNYop5ttMdY )

Lagi pula, tidak ada pula kewajiban saya untuk menulis kan? Saya menulis di medsos atau tidak, itu suka-suka saya, karena memang tidak cari duit dari sini. Semoga para netizen tidak tahu malu yang sesukanya menyebut saya buzzer mendapat hidayah.

Menurut saya, kalian itu sama saja seperti “kadrun” yang kalian hina-hina selama ini. Kelompok radikalis biasanya hanya mau dengar “ustad ana” dan tidak mau mendengar argumen yang berlawanan dengan keyakinan mereka. Orang yang berseberangan, dikatai kafir.

Netizen-liberal-sok-demokrasi-sok-pembela-perempuan pun sama saja: hanya mau mendengar versi media Barat dan menolak mendengar argumen yang berlawanan dengan keyakinan mereka. Orang yang berseberangan, dikatai dengan label-label semau mereka.

Setali tiga uang. Yang paham geopolitik pasti tahu, jaringan kedua kelompok yang seolah beda kendaraan ini sebenarnya sama aja. Ingat, siapa yang merawat teroris yang terluka di Suriah? Israel.

Siapa yang menyuplai senjata untuk teroris di Suriah? AS.

Terakhir: Indonesia ini bukan Iran. Kita ini punya Pancasila dan UUD 1945, yang menjamin kebebasan beragama, kita punya hak untuk berhijab, dan mereka yang mengatai hijab sebagai budaya Arab atau kadrun artinya tidak Pancasilais.

Iran gimana? Kalau memang mau mengkritisi kondisi di sana, lakukan dengan intelek, gunakan teori-teori politik yang pas, indikator-indikator yang memang diakui PBB, bukan menyinyiri satu kejadian dengan 1 perspektif saja.

Contoh gampangnya, kalian merasa membela sebagian orang Iran yang menolak hijab… tapi bagaimana dengan mayoritas warga Iran yang lain yang pro-hijab dan sistem Islam? Darimana kita bisa tahu bahwa mayoritas pro-hijab? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan mudah kalau kalian paham sistem pemerintahan dan sistem demokrasi yang sesungguhnya, bukan cuma modal nyinyirin hijab.

Jangan #ngakuberlogikatapinirlogika

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: