Kajian Timur Tengah

Beranda » Afganistan » Operasi Penggulingan Rezim di Iran (1)

Operasi Penggulingan Rezim di Iran (1)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Silakan simak dulu postingan saya sebelumnya, soal NED, CIA, dan operasi penggulingan rezim di berbagai negara. Di situ disebutkan, agar massa bisa bergerak dalam satu kesatuan, perlu persatuan di level alam bawah sadar. Di antara yang digunakan adalah simbol, nyanyian, pengalaman di masa lalu.

Di tiap negara target, tentu isu yang dipakai berbeda. Untuk Ukraina, dalam aksi penggulingan rezim tahun 2014, isunya adalah kebebasan (bersatu dengan Eropa Barat) dan Russophobia (yel-yel yang dipakai para demonstran adalah anti-Rusia, padahal 30% warga Ukraina sendiri beretnis Rusia).

Untuk Iran, dari dulu sampai sekarang, isu yang sering dipakai adalah hijab. Mereka ciptakan narasi, selembar kerudung yang dipakai perempuan Iran (dan juga di negara manapun, termasuk oleh saya) adalah representasi penindasan agama.

Hijab seolah dipisahkan dari keseluruhan sistem yang diberlakukan. Hijab di Afghanistan, jelas beda dengan hijab di Iran. Karena paradigmanya sejak awal memang berbeda. Hijab di Afghanistan dalam rezim Taliban, satu paket dengan paradigma yang memandang kaum perempuan tidak boleh aktif di ruang publik (sekolah, berkarir, berpolitik, dll).

Tapi, hijab di Iran, satu paket dengan upaya memajukan kondisi perempuan di segala lini. Karena, paradigma yang dipakai: hijab hanyalah etika berpakaian di depan umum, sama sekali bukan untuk menghalangi aktivitas perempuan di ruang publik.

Saya pernah tulis, cara mengukur kemajuan dan kesejahteraan perempuan, parameter internasional yang dipakai oleh PBB, bukanlah ada secarik kain atau tidak di kepalanya, melainkan kesehatan, pendidikan, kesempatan kerja, partisipasi politik, dll. Nama parameternya: Human Development Index.

Di aspek pendidikan, dengan hijab di kepalanya, jumlah perempuan Iran yang mendapatkan pendidikan saat ini, jauh meningkat pesat dibanding di zaman kerajaan Shah Pahlevi. Jadi, tidak ada jaminan kan, bahwa jika perempuan tidak berhijab pasti pendidikannya lebih terjamin?

Data tahun 2021: kaum perempuan Iran mampu memperoleh peringkat teratas ujian masuk universitas dua kali lipat dibandingkan dengan laki-laki (kecuali untuk bidang teknik). Artinya, mereka lebih pintar dibanding laki-laki, dan difasilitasi untuk masuk universitas.

Data 2021: lebih dari 4.500 perempuan mendaftar program doktor setiap tahun, dan dalam tiga tahun terakhir rata-rata jumlah tesis doktor yang didaftarkan perempuan setara dengan 40 persen dari total disertasi yang terdaftar di database.[1]

Mengapa pemahaman soal ini penting buat orang Indonesia?

Pertama, karena sebagian orang Indonesia (termasuk penulis di media) ikut nyinyir tanpa bukti, menyebut bahwa di Iran terjadi kekerasan dan pembunuhan untuk memaksa orang berhijab.

Kedua, karena narasinya diarahkan kepada Islamophobia, antipati pada semua yang berbau Islam. Di Indonesia, narasi ini kan sudah lama juga disebarkan, sekarang kasus Iran dimanfaatkan untuk mendukung narasi mereka. Mereka benturkan hijab versus baju tradisional. Mereka ciptakan image bahwa hijab adalah budaya Arab.

Anehnya, banyak perempuan berhijab di Indonesia yang tidak sadar, ada apa di balik narasi mereka ini dan siapa pembawa narasi antihijab di Indonesia sebenarnya? Petunjuk dari saya: kaitkan dengan NED.

Btw, beberapa waktu yll, saya diwawancarai oleh teman saya soal kasus hijab di Iran, lalu dia mencantumkan wawancara itu sebagai bagian dari tulisannya [ada di bagian akhir]. Bila berminat silakan membacanya:

https://medwahindonesia.com/menelisik-iran-revolusi…/

[1] https://www.tehrantimes.com/…/Women-s-share-in-research…

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: