Kajian Timur Tengah

Beranda » Diplomasi » HAMAS Kembali Ke Damaskus, Apa Kabar Akhi-Ukhti IM?

HAMAS Kembali Ke Damaskus, Apa Kabar Akhi-Ukhti IM?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/804387584219919

Obrolan saya dengan seorang teman mahasiswa Indonesia di Suriah.

Dia: “Hamas udah balik ke Damaskus.”

Saya: “Hah, apa?! Jangan sampai si Khaled balik lagi! Pengkhianat!”

Dia: “Gak lah.. dia sih pasti udah diblack list.”

***

Ya, ada perkembangan besar terjadi hari Rabu lalu (19/10). Tokoh HAMAS (dan beberapa organisasi perjuangan Palestina lainnya) datang ke Damaskus, disambut langsung oleh Presiden Assad.

“Kami memulihkan hubungan kami dengan Suriah dengan konsensus kepemimpinan kami… Kami telah mengatasi masa lalu,” kata pemimpin senior Hamas, Khalil al-Hayya (di video: pria yang berjalan di samping kiri Assad).

Sementara itu, Presiden Assad menegaskan bahwa persatuan di antara faksi-faksi Palestina adalah dasar kekuatan mereka dalam menghadapi penjajahan Israel dan memulihkan hak-hak mereka. Assad menegaskan, sikap Suriah tidak akan berubah baik sebelum perang, maupun kini pasca perang: Suriah tetap mendukung perjuangan bangsa Palestina.

**

Para akhi-dan ukhti pendukung HAMAS di Indonesia, sejak awal para teroris angkat senjata untuk menggulingkan Assad, sangat sengit dan tidak ragu-ragu menyebarkan fitnah soal Assad dan Suriah (mereka bilang: Assad membantai kaum Sunni). Mereka juga jahat sekali membully dan memfitnah orang-orang sesama Indonesia yang berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di Suriah.

Mengapa mereka demikian? Karena, kesetiaan mereka memang pada organisasi (Ikhwanul Muslimin), bukan pada NKRI. Jadi, ketika IM di Suriah angkat senjata untuk kudeta, IM di Indonesia pun beramai-ramai membantu, baik dana, maupun propaganda. Terorisme di Suriah mereka sebut sebagai “jihad”.

Yang paling kacau adalah HAMAS. Organisasi pejuang Palestina ini memang lahir dari IM. Karena mereka lebih setia pada organisasi IM, mereka mengkhianati pemerintah Suriah, dan ikut-ikutan dalam aksi penggulingan rezim tersebut. Mereka melupakan bahwa seharusnya mereka setia pada Palestina, dan tetap fokus berjuang memerdekakan negeri mereka. Tapi, demi sesama IM, mereka khianati pemerintah Suriah yang selama puluhan tahun mendukung mereka.

Tahun 2011, para pemimpin Hamas (Ismail Haniyeh dan Khaled Mash’al) secara terbuka mendukung pemberontakan “jihadis” (bahkan bersama-sama mengibarkan bendera jihadis FSA). Mereka tinggalkan markas besar mereka di Damaskus pada 2012, lalu berlindung ke Qatar.

Tindakan ini tentu saja membuat marah Iran, yang selama puluhan tahun memberikan bantuan dana dan teknologi persenjataan kepada HAMAS. Iran pun menghentikan bantuannya.

Suriah tentu saja marah, antara lain disampaikan oleh Mufti Suriah, Syekh Hassoun. Beliau pernah berorasi, “Wahai Khaled Mash’al! Katakan pada orang-orang Gaza, siapa yang memeluk kalian di Suriah??”

Assad dalam salah satu pidatonya, menyindir, “Ada kelompok-kelompok Palestina yang menjadikan negeri kami sebagai hotel, ketika masa sulit, mereka tinggalkan kami.”

HAMAS sepertinya lupa bahwa negara-negara Arab yang kaya raya itu tidak pernah serius dalam membantu kemerdekaan Palestina, karena mereka sangat tunduk pada AS. Bahkan Turki, yang mensponsori dan mendanai pembentukan FSA (“jihadis” versi Ikhwanul Muslimin) dan selalu mencitrakan diri sebagai pembela Palestina, kini menormalisasi hubungannya dengan Israel (hubungan diplomatik keduanya tidak pernah putus, tapi sempat turun level; kini sudah kembali ke saling kirim Dubes).

Membela Palestina dengan konsisten harus ditebus dengan embargo, dan bahkan operasi penggulingan rezim (seperti yang dialami oleh Iran dan Suriah). Karena itulah negara-negara Arab dan Turki (yang dipuja-puja akhi-ukhti IM Indonesia) hanya bermain retorika dan kasih dana saja, tidak serius dalam membantu “ikhwan” mereka.

Akhirnya, ketika situasi semakin sulit, Hamas kembali mendekati Iran. Saat pemakaman Jend. Qassem Soleimani yang gugur dibunuh AS, Ismail Haniyah datang ke Teheran, memuji Soleimani sebagai “syuhada Al Quds” karena memang bantuan Soleimani sangat besar pada faksi-faksi pejuang Palestina.

Pemerintan Iran memberi maaf, dan kembali membantu HAMAS. Kini Suriah juga memaafkan. Mengapa? Karena bagi kedua negara ini, yang penting adalah kemerdekaan Palestina dan keruntuhan rezim penjajah Zionis.

Tapi, jangan lupa, jejak kejahatan para teroris IM (dan Al Qaida, dan ISIS) tidak bisa dihapus begitu saja. Suriah, negeri yang sebelumnya sangat aman, ekonominya sangat kuat, dan mampu membantu perjuangan Palestina, termasuk menampung jutaan pengungsi Palestina (dan diperlakukan sama seperti warga asli), sudah jauh berubah. Selama 10 tahun mereka diperangi oleh para teroris bersenjata super lengkap (disuplai AS, Inggris, Turki, dan Teluk). Ratusan ribu orang tewas dibunuh para teroris, jutaan menjadi pengungsi. Ekonomi Suriah kini dalam kondisi yang sangat sulit.

Di Indonesia, kerusakan juga sudah ditimbulkan oleh para akhi dan ukhti ini. Narasi kebencian dan kebohongan yang mereka sebarkan di negeri ini, semakin meruyak menjadi “mindset” (cara pikir). Tanpa sadar, mereka telah mendidik banyak orang untuk jadi radikal. Kalau beda, kafirkan saja. Kalau kafir, bunuh saja, penggal saja. Isu yang diangkat bukan cuma Suriah (ini malah sudah lewat, mereka sudah kalah di Suriah). Tapi cara pikir orang-orang hasil didikan mereka masih terus ada.

Bagaimana menyembuhkan sikap dan cara pikir yang jahat ini? Entahlah, pastinya butuh waktu sangat panjang.

Kini, ketika HAMAS sudah berbaik-baik dengan Damaskus, apa mereka akan minta maaf atas semua fitnah yang telah mereka sebarkan? Bagaimana cara minta maaf pada ratusan ribu orang yang sudah terbunuh akibat dituduh “kafir” atau “pembela rezim kafir”?

Yang jelas, karena Suriah, topeng mereka kini terbuka.

Semoga Suriah mampu tegak membangun kembali negerinya, semoga Palestina segera merdeka. Dan semoga NKRI bisa terus jaya, tidak tumbang dirongrong para pengkhianat yang punya banyak kedok.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: