Kajian Timur Tengah

Beranda » kajian timur tengah » Cerita dari Beirut (4)

Cerita dari Beirut (4)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Sekarang, cerita yang ringan-ringan saja. Suatu pagi, saya berkesempatan jalan-jalan, ditemani oleh dua mahasiswi Indonesia yang kuliah di University of Tripoli, sekitar 50 km dari Beirut. Saya sempat nitip belikan kartu telpon Lebanon ke mereka. Harganya 20 USD, tapi 3 hari, kuotanya habis dan saya terpaksa mengandalkan wifi hotel lagi. Berbahagialah kita di Indonesia yang biaya internetnya murah banget.

Tujuan awal kami, mau ziarah ke makam Imam Auza’i. Imam Al-Auza’i adalah ulama besar Ahlussunnah yang hidup di tahun 706-774 M. Saya copy dari Wiki: “Al-Auza’i adalah nisbah ke daerah Al-Auza’, salah satu wilayah di Damaskus. Menurut Adz-Dzahabi, dia adalah seorang “Syaikh Islam, ‘alim dari Syam.” Dia bertempat-tinggal di Al-Auza’, sebuah kampung kecil di daerah Bab al-Faradis, di dekat Damaskus, kemudian dia pindah ke Beirut hingga meninggal di sana.”

Kami naik taksi yang dipesan online. Ternyata, kebiasaan di Beirut, meski di aplikasi online sudah tertera harganya, saat kita sudah duduk di dalam taksi, si sopir akan meminta tambahan biaya. Jadi, semisal di aplikasi harganya 70 lira, dia minta tambah jadi 100 lira. Kemampuan tawar-menawar penting di sini.

Sampai di makam, ternyata masih tutup. Jadi kami memutuskan mencari tempat pembuat roti, buat sarapan. Setelah beberapa lama berjalan, ga nemu juga. Tiba-tiba saat saya menoleh ke kiri, di sebuah gang, saya melihat laut di ujung gang. Saya pencinta laut. Jadi, langsung saya ajak gadis-gadis manis dan pintar itu belok masuk ke gang.

Sayangnya, pantainya kotor dan bau, karena rumah-rumah di sekitar pantai langsung mengalirkan air limbah rumah ke laut. Walhasil kami cuma foto-foto sebentar (di foto sih lautnya tetap indah), lalu jalan lagi. Di gang itu pula, kami menemukan sebuah warung makan kecil yang menyediakan sarapan. Makanannya enak-enak, saya suka. Mungkin karena melihat kami ini orang asing, mungil-mungil (aku sih ga ngerasa mungil), kayak orang nyasar, pesen makanan juga sedikit (padahal segini juga sudah kenyang banget), si bapak pemilik warung memberi kami bonus satu porsi makanan semacam bubur. 😅

Saya bayar dengan duit 50 USD, dan dikasih kembalian setumpuk uang lira, lupa berapa. Dengan perut kenyang, kami kembali jalan ke makam Imam Auza’i, berziarah sebentar, lalu balik ke hotel karena saya masih ada agenda formal dari panitia, bertemu dengan Menteri Kebudayaan Lebanon.

Terima kasih Fitri dan Rabiah yang sudah berkenan menemani saya jalan-jalan. 🥰

[Sekedar info, Fitri selain tekun kuliah, juga berbisnis hijab online, cek IG-nya @hnfahijab, atau fp Hnfahhijab]

#CeritaBeirut

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: