Kajian Timur Tengah

Beranda » Afganistan

Category Archives: Afganistan

Logika Ngawur Fans Taliban Indonesia & Fans ISIS Indonesia

Beberapa hari yang lalu, saya buka Twitter. Eh, ternyata yang sedang trending saat itu tagar ISIS. Saya klik dan “takjub” melihat percakapan orang-orang itu. Di foto ini ada 2 di antaranya. Mengapa saya blur namanya? Soalnya saya ga sudi mempromosikan akun-akun ngaco.

Jadi ceritanya, ada berita “Taliban Menghancurkan Markas ISIS di Kabul.” Nah para fans Taliban di Indonesia langsung happy karena rupanya mereka ingin sekali membuktikan bahwa “Taliban bukan teroris, Taliban beda dengan ISIS.”

Mengapa mereka sedemikian ingin membuktikan bahwa Taliban bukan teroris dan beda dari ISIS? Rupanya (kalau dibaca percakapan mereka itu), ini terkait dengan kasus KPK. Mereka sakit hati pada para buzzer yang menyebut NB dkk sebagai Taliban. Jadi, ini masih lanjutan era Perang Suriah: para fans Taliban ini membawa-bawa konflik Timteng ke Indonesia.

[Disclaimer: saya peneliti & akademisi, saya BUKAN buzzer dan saya BUKAN pendukung Taliban, apalagi ISIS.]

(lebih…)

Tentang Qatar

Sebenarnya, yang mengikuti dengan intens konflik Suriah, pasti sudah tahu rekam jejak Qatar dalam konflik Suriah.

Tapi mungkin ada yang belum paham, jadi saya akan ceritakan sedikit.

Qatar memberi perlindungan pada Yusuf Qardhawi yang memfatwakan “jihad” di Suriah, bahkan membunuh siapa saja, baik sipil, militer, bahkan ulama, yang bekerja sama dengan Assad. Fatwa mengerikan ini disiarkan oleh televisi. Tak lama setelah fatwa keji ini keluar, di Damaskus terjadi aksi bom bunuh diri di dalam masjid. Saat itu, Syekh Buthi, ulama besar Suriah (Ahlussunnah) sedang berceramah, beliau pun gugur syahid.

Qardhawi adalah ulama Ikhwanul Muslimin dan sebagian “jihadis” yang angkat senjata di Suriah adalah jihadis IM. Di awal era Perang Suriah, Khaled Mash’al, tokoh Hamas (berideologi Ikhwanul Muslimin) yang bertahun-tahun dilindungi oleh pemerintah Suriah, membelot dan pindah ke Qatar. Sementara di lapangan, sebagian milisi Hamas malah ikut perang bersama “jihadis” melawan Assad.

(lebih…)

Perempuan-Perempuan Palestina

Ketika Barat (dan banyak orang lainnya, termasuk orang Indonesia) sedemikian khawatir tentang nasib perempuan Afghanistan, nasib perempuan Palestina terlupakan. Bahkan saya pun, sudah lama tidak menulis soal Palestina, meskipun tentu saja, saya selalu mengikuti perkembangan di sana.

Saya ingin menceritakan kisah 3 perempuan Palestina ini.

[Foto 1-kiri] Anhar Al Deek adalah seorang ibu muda (25 tahun), cantik, punya dua anak kecil. Pada bulan Maret 2021, dalam kondisi hamil 4 bulan, dan punya bayi usia setahunan, dia pergi ke perkebunan milik keluarganya di Ramallah. Di atas tanah itu, ada lebih dari selusin pemukim ilegal Israel sedang membangun rumah (inilah yang dihadapi warga Palestina di Tepi Barat, tanah mereka bisa dirampas semaunya orang-orang Israel yang sengaja didatangkan berbagai dari penjuru dunia).

Israel menuduh Anhar mau menyerang para pemukim ilegal itu dengan pisau. Bayangkan: Anhar perempuan, dituduh mau menyerang lusinan lelaki perampas tanah keluarganya dengan pisau, dan dia yang dipenjara.

(lebih…)

Beda Antara Islamic Emirate of Afghanistan (IEA) dan Islamic Republic of Iran (IRI)

IEA memang masih belum jelas bentuknya, semua masih ‘sementara’, jadi kita memang masih wait and see. Sementara itu IRI sudah terlihat bentuk dan hasilnya (bisa diukur dengan parameter yang diakui internasional, misalnya Human Development Index dan berbagai data statistik).

Tapi, dalam beberapa webinar yang saya ikuti, Iran kadang disebut-sebut, dibandingkan dengan IEA. Yang parah, ada orang-orang yang menyamakan IRI dengan IEA.

Misalnya, ada orang yang mengkhawatirkan pemerintahan ala Taliban dengan kata-kata “nanti kayak Iran…dulu perempuan Iran setelah revolusi Iran juga mengalami penindasan; padahal perempuan Iran berjasa dalam revolusi.”

Dari awalnya aja sudah salah: kan di Afghanistan tidak ada revolusi? Karena tidak ada revolusi, jelas perempuannya tidak ikut revolusi. Fakta bahwa perempuan Iran berjasa dalam revolusi saja sudah menunjukkan jauhnya perbedaan struktur sosial (dan kekuatan posisi perempuan) di Iran dan di Afghanistan. Ketika informasi dasar saja sudah salah, logika penyamaannya pun ya jelas salah.

Berikut ini komentar saya soal perbandingan dua pemerintahan ini:

(lebih…)

Menilik Pemerintahan Baru Taliban-Afghanistan, Pakar dari Unpad Sebut Memprihatinkan dan Ingkar Janji

Taliban telah mengumumkan pemerintahan baru Afghanistan pada Selasa 7 September 2021 lalu.

Kelompok Taliban menunjuk Mullah Hasan Akhund, seorang teman dekat mendiang pendiri Mullah Omar, sebagai kepala pemerintahan.

Pengumuman itu disampaikan juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid dalam konferensi pers di Kabul.

Menanggapi hal tersebut, Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Dina Yulianti menilai, hal ini memprihatinkan.

“Terdapat hal yang memprihatinkan dari kabinet sementara yang ditetapkan Taliban. Pertama, tidak ada menteri perempuan, kedua, tidak ada menteri dari kalangan minoritas, dan ketiga, tidak ada keterlibatan tokoh-tokoh dari pemerintahan sebelumnya,” ujar Dina kepada FIXINDONESIA.COM pada Kamis 9 September 2021.

Menurut Dina hal itu bertentangan dengan janji-jani Taliban setelah mereka menguasai Kabul. Pasalnya kata Dina sebelumnya kelompok Taliban itu mengatakan akan membentuk pemerintahan inklusif dan melindungi hak-hak perempuan.

(lebih…)

Puzzle Afghanistan

Karena saya punya ketertarikan khusus pada jurnalis perempuan di kawasan perang (pernah saya tulis https://www.facebook.com/watch?v=1180457479100579), saya terus ngepoin IGnya Charlotte Bellis (Aljazeera). Hari ini dia posting foto dengan para Taliban di bandara Hamid Karzai, Kabul. Pakaian dan sepatu yang dipakainya santai banget (Foto-1). Setelah itu, si Taliban mengajari Bellis cara pakai Humvee yang ditinggal tentara AS. Sejak awal Taliban menguasai Kabul 15 Agustus 2021, Bellis ya kayak gitu penampilannya.

Beda dengan Clarissa Ward (CNN), yang full hijab dan berbaju hitam-hitam saat meliput “kemenangan” Taliban (foto-2).

Beberapa hari sebelum Taliban menguasai Kabul, Ward mewawancarai komandan ISIS-K, di Kabul. Jadi, ISIS-K ada di Kabul dong. AS dan tentara Afghan -sebelum Taliban mengambil alih kota- kok santai aja? Wartawan CNN aja tahu dimana nongkrongnya ISIS-K.

[Lalu setelah ada bom ISIS, AS balas membombardir. Tapi seperti biasa, saat AS mengebom teroris, korban yang lebih banyak justru rakyat sipil. Dan jangan lupa, pasca kekalahan ISIS tahun 2017 di Irak dan Suriah, ribuan milisi ISIS diterbangkan oleh helikopter AS dan helikopter ‘tak dikenal’, ke Afghanistan; ini diungkap pejabat Iran & Rusia.]

(lebih…)

Karena di postingan sebelumnya (video Putin), ada yang ngata-ngatain Putin (“kan dulu Soviet juga menginvasi Afghanistan”), silakan baca tulisan John Pilger ini, sudah kami terjemahkan.

Di sini bisa diketahui, bagaimana awalnya Afghan dipimpin oleh raja (sistem monarkhi), lalu si raja dikudeta oleh kelompok sosialis People’s Democratic Party of Afghanistan (PDPA).

Saat itu era Perang Dingin, jadi AS tidak rela ada pemerintahan yang pro-Soviet. AS pun menggelontorkan dana 500 juta USD, di antaranya untuk membentuk Mujahidin, dengan tujuan menggulingkankan pemerintahan PDPA ini. Lalu, Soviet masuk untuk membela PDPA, dst.

Silakan klik untuk membaca selengkapnya https://ic-mes.org/…/john-pilger-sejarah-afghanistan…/

Antara Afghanistan, Libya, Suriah, dan Palestina

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/430823678307054

[Poin penting: homebase Al Qaida adalah Afghanistan dan Al Qaida (berdiri 1998) menggunakan Afghanistan untuk mendirikan kamp-kamp pelatihan mereka atas seizin rezim Taliban yang berkuasa di pada era 1996-2001.]

Gerakan Al Qaida ada di berbagai penjuru dunia, termasuk di Suriah, Libya, bahkan Indonesia. Nama yang dipakai beda-beda di tiap negara.

Di Libya, Al Qaida bernama Libyan Islamic Fighting Group (LIFG). Pendirinya bernama Abdelhakim Belhaj. Al Qaida Libya mengadakan aksi-aksi demo anti-Qaddafi dan melakukan berbagai serangan bersenjata, yang tentu saja dilawan tentara pemerintah. Tapi yang muncul: tuduhan bahwa Qaddafi melakukan pembunuhan massal.

Upaya penggulingan Qaddafi ini didukung AS. Dewan Keamanan PBB mengizinkan NATO untuk “mengambil langkah yang diperlukan.” Dan NATO pun membombardir Libya. Alasannya: untuk menyelamatkan bangsa Libya dari kediktatoran Qaddafi.

(lebih…)

Terkuak! Ini Awal Mula Hubungan Indonesia-Afghanistan Terjalin

Pengamat Timur Tengah, Dina Yulianti mengisahkan awal mula hubungan IndonesiaAfghanistan terjalin. 

Menurut Dina, Afghanistan adalah di antara negara-negara yang paling awal mengakui kemerdekaatn RI, yaitu pada tahun 1947. Pada tahun 1961 Presiden Sukarno pernah berkunjung ke Afghanistan

“Lalu Presiden Afghanistan, Karzai datang ke Jakarta 2012 dan Presiden Ghani tahun 2017. Presiden Jokowi melakukan kunjungan balasan tahun 2018,” ungkapnya kepada FIXINDONESIA.COM, Selasa 31 Agustus 2021. 

Dina menjelaskan, selama masa kekuasaan Taliban 1996-2001, pemerintah Indonesia menutup KBRI Kabul dan baru dibuka kembali tahun 2004. 

Kemudian pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah Indonesia berupaya berperan aktif untuk memediasi kelompok-kelompok yang bertikai di sana. 

“Antara lain waktu itu dengan bantuan BIN, berhasil dijalin hubungan dengan para ulama di berbagai provinsi,” ujar wanita yang juga menjabat sebagai dosen di Universitas Padjadjaran. 

(lebih…)

Jurnalis Perang Perempuan

Saya sering salut pada jurnalis perang perempuan. Dulu, saya pernah ingin seperti mereka, terjun langsung ke medan-medan perang. Tapi jalan hidup saya sesuatu yang lain lagi.

Tentu saja, tidak semua jurnalis perang layak dipuji karena ada juga yang memberitakan propaganda bahkan hoaks (yang mengikuti Perang Suriah pasti tahu) karena mereka bekerja di media mainstream. Media mainstream sudah terbukti berkali-kali menjadi corong kepentingan pemodal yang menginginkan perang.

Dalam Perang Suriah, Aljazeera termasuk media mainstream yang menyebarkan propaganda antipemerintah Suriah (dan berpihak kepada pemberontak/jihadis). Bahkan, beberapa kali kedapatan memberitakan info palsu. Yang sudah 10 tahun bersama saya mengikuti Perang Suriah, pasti tahu. Info-info palsu media mainstream soal Suriah berkali-kali didebunk oleh saya (dan oleh teman-teman lain).

[Semoga mereka yang sekarang sibuk men-debunk hoaks soal Taliban bisa ingat bahwa mereka dulu produsen hoaks soal Suriah.]

(lebih…)