Kajian Timur Tengah

Beranda » Afganistan

Category Archives: Afganistan

Mesin Perang AS Terus Aktif Selama Pandemi Covid-19

Di tengah pandemik global akibat virus corona, miliaran manusia di seluruh dunia didera kecemasan; sebagian menderita sakit, sebagian mengalami kesulitan ekonomi yang berat. Tetapi mesin perang AS tak pernah berhenti.

Di video ini (5 menitan) dijelaskan apa yang dilakukan AS di Iran dan Venezuela pada bulan Maret 2020 ini. Iran sebagai negara yang paling parah terdampak Covid 19 di Timur Tengah sangat membutuhkan suplai obat-obatan dan peralatan medis, namun dihalangi oleh sanksi/embargo AS, dan bahkan AS menetapkan embargo baru. Sementara Venezuela yang sudah habis-habisan dihajar sanksi ekonomi, kini menghadapi ancaman serangan militer, karena AS sudah mengirimkan pasukannya ke lepas pantai Venezuela.

(lebih…)

Video: Turki Menggunakan Pengungsi Sebagai Senjata

Penggunaan pengungsi/migran sebagai senjata untuk menekan negara lain bukan hal baru. Anda bisa baca di artikel Kelly Greenhil, Weapons of Mass Migration: Forced Displacement as an Instrument of Coercion; Strategic Insights, v. 9, issue 1 (2010).

Di video ini terihat jelas bagaimana Turki menggunakan pengungsi untuk menekan Uni Eropa agar mau membantunya mempertahankan Idlib (supaya tidak diambil alih oleh Suriah; padahal Idlib adalah wilayah Suriah). Akibatnya, hari ini Yunani menghadapi krisis pelanggaran perbatasan yang terorganisasi, masif, dan ilegal yang dibacking oleh Turki.

Hal yang jadi catatan dari arus pengungsi dari Turki ke Yunani:
-Yunani sepertinya dipilih jadi “korban” karena negara inilah yang menolak NATO membantu Turki di Idlib.
-Kebanyakan pengungsi yang dilepas adalah laki-laki muda, kuat, dan sebagian terlihat eks milisi teror (lihat video)
-Kebanyakan pengungsi yang dilepas adalah non Suriah, melainkan: Afghanistan, 64%, Pakistan, 19%, Iraq, Iran, Morocco, Ethiopia, Bangladesh, Egypt: 5.4%, Τurki, 5%, Suriah, 4% dan Somalia, 2.6% (sumber data: https://bit.ly/2VYzawW)

Sumber video: akun jubir pemerintah Yunani, Stelios Petsas https://bit.ly/3aF3Y9Y

Deradikalisasi Salah Kaprah

Ini menyambung tulisan saya kemarin. Ada komentator yang bilang: “Perempuan itu tidak boleh dipaksa-paksa cara berpakaiannya! Emangnya bu Dina mau kalau pemerintah memaksa ibu pakai kebaya?”

Awalnya saya kesal. Ibaratnya, saya sudah membahas isu sampai bab 7, eh dia komen soal isu di bab 1. Masa saya harus ulangi lagi? Tapi, pagi ini, saya pikir, pertanyaan itu memang perlu dijawab.

Jadi begini ya, sejak lama, saya mendeteksi ada upaya deradikalisasi versi AS yang sedang dikembangkan di Indonesia. Mengapa? Karena saya tahu ada duit AS (dalam jumlah besar) yang sedang disebar ke berbagai kalangan sipil untuk proyek-proyek deradikalisasi.

Tentu, saya sepakat dengan pentingnya deradikalisasi. Yang sudah lama kenal saya, tahu bahwa saya bertahun-tahun jadi korban bullying jahat kelompok radikal/simpatisan jihadis. Jadi jelas saya bukan di kubu mereka.

Tapi, kerisauan saya, KEMANA konsep deradikalisasi yang fundingnya dari Barat itu dibawa?

(lebih…)

Apakah Kewajiban Berhijab Memundurkan Perempuan?

Kemarin saya lihat ada video yang isinya memperingatkan publik akan bahaya radikalisme. Tapi contoh yang dipakai adalah Afghanistan dan Iran, diperlihatkan bahwa dulu perempuan di 2 negara itu bebas tidak pakai jilbab, sekarang tertindas karena pemaksaan syariat (pakai jilbab). Saya pun menulis ini. Ada grafik/tabel, untuk melihatnya, cek ke web ya.

***

Apakah Kewajiban Berhijab Memundurkan Perempuan?

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah: bergantung sistem dan kinerja pemerintahan yang mewajibkan hijab tersebut. Kita tidak bisa menggeneralisasi, masing-masing negara atau provinsi (di Indonesia ada provinsi dengan Perda Syariah) yang mewajibkan hijab memiliki kondisi yang berbeda.

Misalnya, kewajiban hijab di Afghanistan dan Iran, sangat berbeda output-nya karena di Afghanistan, kelompok yang berkeras mewajibkan hijab adalah Taliban yang berhaluan Wahabi; sementara di Iran pemerintahan dibangun atas syariah versi Syiah Ja’fariah. Jadi, saat bicara soal Syiah, perlu juga ditanyakan ‘Syiah versi mana?’ Shah Pahlevi pun bermazhab Syiah; akhir-akhir ini juga muncul “Syiah London” yang kontroversial.

(lebih…)

Catatan Harian Warga AS: “Kelompok Teroris Adalah Sekutu Kita”

Artikel ini bagus sekali, menjelaskan ‘apa yang dipikirkan dan dilakukan elit AS’ di berbagai penjuru dunia, mulai dari Afghanistan tahun 1980-an, lalu Eropa Timur, lalu Afrika, Timur Tengah, bahkan Indonesia.

Ditulis oleh orang AS, Chris Kanthan (penulis buku “Deconstructing the Syrian War”). Sudah diterjemahkan ICMES ke Bahasa Indonesia.

Cara nulisnya juga menarik dan mudah dicerna. Wajib baca bila ingin memahami bagaimana peran yang dilakukan kelompok-kelompok “jihad” atas nama Islam untuk membantu elit AS menguasai sumber daya alam di berbagai penjuru dunia.

https://ic-mes.org/politics/catatan-harian-warga-as-kelompok-teroris-adalah-sekutu-kita/

Diplomasi Zaman Now vs Diplomasi Era Zadoel

Debat Keempat Pilpres kemarin saya ikuti dengan seksama karena temanya cocok dengan bidang studi saya, Hubungan Internasional. Ada hal yang menarik untuk ditelaah, soal diplomasi dan ‘kepentingan nasional’.

Pertanyaan dari panelis adalah, “…Keberhasilan dalam diplomasi internasional tergantung pada kemampuan negara menawarkan keunggulannya kepada negara-negara lain. Keunggulan tersebut bisa dalam bentuk kebudayaan, ekonomi, pertahanan, dan gagasan solutif. …Menurut Bapak apa keunggulan bangsa Indonesia yang akan ditawarkan dalam diplomasi internasional dan bagaimana strategi utk mewujudkannya?

Jawaban Presiden Jokowi, keunggulan kita adalah “Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.”

Hal ini direspon Capres Prabowo bahwa diplomat asing itu “menghitung kekuatan kita”. Yang dimaksud Prabowo adalah kekuatan militer, karena selanjutnya yang disebutnya adalah ‘berapa kapal selam, pesawat, peluru kendali yang kita punya?’

Dalam tulisan singkat ini, saya hanya ingin menjelaskan bahwa secara paradigmatik, kedua tokoh ini berbeda bagai bumi dan langit.

(lebih…)

Tim Jihad Washington

Artikel yang ditulis Andre Vltchek ini menarik untuk dibaca. Andre mewawancarai banyak orang selain saya, antara lain seorang alumni “jihad” Afghanistan. Penuturan si alumni ini memperlihatkan pola yang sama dengan ‘jihad’ Suriah: dulu dia pergi ke Afghanistan karena konon katanya warga Muslim diserang oleh kaum komunis; sekarang kelompok yang sama ‘jihad’ ke Suriah karena konon warga Sunni dibantai Syiah. Kloter yang terakhir ini yang bikin repot, ketika ISIS keok di Suriah, mereka harus dibiayai pulang ke Indonesia dan harus pula dibiayai untuk ikut program deradikalisasi (entah ada manfaatnya atau tidak).

Silahkan baca di sini: Washington’s Jihadi Express: Indonesia-Afghanistan-Syria-Philippines

Ini pernyataan saya yang dikutip Andre:

“Jihad in Indonesia – against the Western imperialism? Oh no, no way…” smiles Dina Y. Sulaeman, an Indonesian political analyst, an author of the book “Salju Di Aleppo” (Snow of Aleppo):

“Jihad in which Indonesians want to participate is based on hate… In my book, I explain that the Indonesian fighters in Syria are mainly affiliated with several groups: ‘Ikhwanul Muslimin’, ‘Hizbut Tahrir’ and Al Qaeda/ISIS. Unfortunately these groups have supporters in Indonesia. They keep spreading fake photos and videos about Syria, to ignite sympathy, even anger of Indonesian people, so they give donations or even join jihad. It’s a good deal for them. They are waging ‘holy war’, they’ll go to heaven, and plus they get paid. They accuse president Assad of being ‘infidel’. That’s their rallying cry.”

“Indonesian mass media ‘coverage’ is only directly translating what is said by the Western media: the CNN, the BBC and others…. If not those, then at least Al-Jazeera which is often even worse… As a result, Indonesians are ‘very concerned’ about Syria.’ Of course, in my books I’m trying to correct the misconceptions, but the propaganda apparatus is so powerful.”

Bagaimana Cara AS Mendirikan Al Qaida/ISIS?

Ini copas status saya di FB tgl 18 Nov (yang dg segera di-report oleh takfiri, sehingga status tsb dihapus FB dan saya diblokir, tidak bisa posting di FB selama beberapa hari). Saya tambahi beberapa info baru.

====

Mungkin ada yang bertanya-tanya, gimana cara AS mendirikan Al Qaeda, ISIS, dll.? Sedemikian begonyakah orang Muslim sampai nggak nyadar kalo dikerjain? Tentu saja, caranya enggak blak-blakan dong. Sangat tersistematis (emangnya AS itu bego, apa?). AS tidak langsung hadir di lapangan, tetapi pakai tangan “ustadz-ustadz” dan aliran dananya pun kadang lewat negara-negara kroninya (seperti diakui oleh Hillary Clinton, CIA bekerja sama dengan Pakistan dan Arab Saudi). Makanya ada status FB orang Indonesia yang saat ini sedang jihad di Suriah, dia bilang, “Senjata mujahidin itu memang dari Amerika; malah bagus kan, canggih! [halooo…???] tapi bukan gratisan, melainkan sumbangan dari Arab Saudi dll.”

Poin penting pertama: berpikirlah kritis, jangan membeo melulu dan berkata “kata ustadz ana..” melulu.

Poin kedua: yang perlu kita -terutama ibuk-ibuk- catet adalah metode indoktrinasi paham kebencian dan teror kepada anak-anak melalui buku. Kalau ditemukan buku-buku semacam itu, segeralah perbaiki pemahaman anak; ingatkan bahwa Islam adalah agama yang welas asih.

Foto di bawah ini adalah salah satu halaman di buku sekolah dasar anak-anak Afghan (zaman Soviet).

afgh-textbook-jihad

(lebih…)

Taliban dan Berpikir Sistemik

taliban-flag1Taliban dengan darah dingin membantai 132 anak-anak sekolah di Pakistan. Menarik mengamati tanggapan publik atas kasus ini. Sebagian mengecam keras, mengapa Islam dan Allah dijadikan alasan untuk membunuh anak-anak. Sebagian lagi, terutama media-media takfiri (dan simpatisannya) yang selama ini memang dikenal sebagai pendukung Taliban (termasuk petinggi partai you-know-who yang pernah menulis puisi memuja Osama Bin Laden), tentu saja bungkam atau berupaya menjustifikasi (dan mengalihkan isu dengan memblow-up penyanderaan di Sidney yang dilakukan oleh penjahat buronan pemerintah Iran -dan diberi suaka oleh Australia.) Lalu bagaimana dengan ribuan warga Pakistan yang sejak 2004 dibantai bak tikus oleh drone (pesawat tanpa awak) AS? Lalu, bagaimana dengan tewasnya anak-anak muda di Paniai, Papua, baru-baru ini? Mengapa tidak banyak komentar dari bangsa ini? (Untuk pembantaian di Pakistan, presiden kita dengan sigap menulis komen di facebooknya).

Saya ingin mengajak Anda untuk berpikir sistemik: holistik, memandang konflik dalam sebuah peta besar; tidak fokus pada konflik tertentu saja. Taliban, ya, memang sadis dan sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin. Tapi, faktanya, mereka muslim dan mengaku (mengira) sedang memperjuangkan Islam. Dan, banyak simpatisan Taliban merasa sedang berjihad karena mengira yang sedang dilawan oleh Taliban adalah AS. Dan, memang faktanya, pemerintah AS adalah pelaku kejahatan kemanusiaan terbesar di dunia sepanjang sejarah (silahkan baca buku William Blum, orang AS, betapa pemerintah AS telah melakukan sangat-sangat banyak pembunuhan di muka bumi ini di balik kedok demokrasi. Judul bukunya “Demokrasi, Ekspor AS yang Paling Mematikan”).

Jadi, tidak bisa melepaskan fenomena Taliban dengan keberadaan AS. Sebagian (terutama yang tidak suka bila sebuah konflik dikaitkan dengan AS) akan buru-buru menyebut ini teori konspirasi. Tidak. Teori konspirasi adalah mengait-ngaitkan sejumlah fenomena satu sama lain dengan dilandasi khayalan (contoh: melihat simbol mirip Bintang Daud di sebuah masjid, langsung menuduh DKM-nya Zionis, padahal siapa tahu si desainer sekedar tulalit, tak paham simbol Bintang Daud). Tapi, jika kita mengungkapkan adanya konspirasi antara aktor-aktor politik, lengkap dengan bukti-bukti valid, itu bukan teori konspirasi.

brezenskiMisalnya, baca wawancara Counterpunch dengan Zbigniew Brzezinski, penasehat presiden Carter (dan presiden-presiden AS berikutnya, termasuk Obama) mengakui bahwa CIA mendanai Mujahidin Afghanistan. Versi Inggris ada di sini, versi kutipan-terjemahan saya copas dari sini:

Jurnalis:Mantan Direktur CIA, Robert Gates, menyatakan dalam memoarnya “From the Shadows”, bahwa CIA mulai memberikan bantuan kepada Mujahadin di Afghanistan 6 bulan sebelum Soviet menginvasi Afghanistan. Pada masa itu, Anda adalah penasehat keamanan Presiden Carter. Karena itu Anda memainkan peran dalam urusan itu. Benarkah demikian?

(lebih…)

Malala dan Surat dari Taliban

Malala dan Ancaman Transnasional Taliban

Dina Y. Sulaeman

Malala Yousafzai, gadis remaja yang kepalanya ditembak Taliban sepulang sekolah,  kini telah sembuh dari luka parah yang dideritanya. Kejadian penembakan itu membuat dunia internasional tersentak. Ternyata, di zaman semodern ini, masih ada kelompok yang melarang anak perempuan sekolah. Dan parahnya, larangan itu dilakukan atas nama Islam, agama yang justru sangat mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan. Eropa bisa keluar dari Abad Kegelapan justru setelah berkenalan dengan khazanah keilmuan Islam.

Malala, meski masih belia (lahir 12 Juli 1997), aktif memperjuangkan hak pendidikan bagi anak-anak perempuan di tanah kelahirannya, yang selama ini dirampas oleh Taliban. Dia fasih berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris, sehingga suaranya terdengar jauh ke berbagai penjuru dunia. Dia diwawancarai banyak media dan bahkan ada jurnalis Barat yang membuat film dokumenter  khusus tentangnya. Ini rupanya membuat Taliban semakin naik pitam dan memutuskan menembaknya. Pada tanggal 10 November 2012, Sekjen PBB mencanangkan tanggal 12 Juli sebagai Hari Malala yang menandai perjuangan untuk menunaikan hak pendidikan bagi anak perempuan sedunia.

Pada tanggal 12 Juli 2013, Malala pun diundang memberikan pidato di hadapan Majlis Umum PBB, yang dihadiri oleh Sekjen PBB, Ban Ki Moon. Pidatonya sungguh luar biasa, apalagi mengingat usianya yang baru 16 tahun. Bagian yang paling menarik adalah betapa beraninya Malala mengungkapkan ‘hakikat’ Taliban yang sebenarnya. Berikut ini kutipannya.

(lebih…)