Kajian Timur Tengah

Beranda » Afganistan

Category Archives: Afganistan

AS Adalah Negara Oligarki

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/535243811318739

Selama ini AS selalu mengklaim sebagai negara demokrasi. AS juga telah mendanai perang dan penggulingan rezim di puluhan negara dunia dengan alasan demokratisasi. Kudeta di Ukraina tahun 2014, yang disponsori AS, juga dilakukan dengan alasan demokrasi.

Tapi, jika demokrasi, mengapa AS terus-terusan mengeluarkan dana besar-besaran untuk perang di luar negeri, padahal di dalam negerinya sendiri masih banyak rakyat yang miskin? Apakah “suara rakyat” AS memang setuju dengan pembiayaan perang yang mengorbankan kesejahteraan mereka?

Data resmi dari Biro Sensus AS, “hanya” 11,4% dari populasi (yaitu 37 juta orang) di Amerika yang hidup pada atau di bawah garis kemiskinan, pada tahun 2020.

(lebih…)

Gimana Kabar “Jihadis” dari Suriah di Ukraina?

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/1406270366471099

Beberapa waktu yll saya menulis soal pengiriman “jihadis” dari Suriah. Sumbernya Al Mayadeen. Nah, ada komentator nyinyir soal foto (karena Al Mayadeen ternyata pakai foto lama, tapi sebenarnya, kalau pakai logika, informasi pengiriman “jihadis” ini kan diam-diam, jadi memang tidak/belum ada fotonya). Lalu ada juga yang nyinyir karena Al Mayadeen memasukkan info yang salah soal pertemuan Putin dengan pemimpin Jerman.

Saya sudah menuliskan update info di status tsb (mengoreksi soal foto dan soal pertemuan Putin).

Tapi, yang PALING PENTING DIPERHATIKAN adalah: benarkah ada pengiriman “jihadis” dari Idlib ke Ukraina?

(lebih…)

Barangkali ada yang berminat membaca (tulisan saya dkk).

“Islam Nusantara dan Upaya Menciptakan Perdamaian Berbasis Agama (Religious Peacemaking): Gagasan Nahdlatul Ulama dalam Menciptakan Perdamaian di Afghanistan”

ABSTRAK: Krisis sosial politik di Afghanistan menunjukkan konsekuensi yang mengejutkan, terutama setelah kembalinya Taliban merebut negara itu setelah digulingkan oleh Amerika Serikat (AS) pada tahun 2001. Masyarakat internasional telah mengupayakan negosiasi damai selama sepuluh tahun terakhir. Padahal, Indonesia telah memainkan peran penting dalam mendamaikan faksi-faksi di Afghanistan dengan melibatkan ormas-ormas keagamaan, dalam hal ini Nahdlatul Ulama (NU). Narasi agama tidak bisa dikesampingkan dalam resolusi konflik karena Taliban menggunakan justifikasi agama dalam tindakan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap narasi keagamaan yang digunakan NU untuk menenangkan faksi-faksi yang berseberangan, termasuk Taliban. Metode penelitian kualitatif yang digunakan adalah wawancara dengan informan kunci dan didukung oleh berbagai sumber. Penelitian ini menemukan bahwa Nahdlatul Ulama telah memberikan kontribusi perdamaian dengan pendekatan keagamaan, yaitu hermeneutika perdamaian dan empathy detachment. Dalam implementasinya, NU menggunakan narasi keagamaan Islam Nusantara. Selain itu, NU juga berhasil menciptakan kapasitas, pembangunan institusi, dan kesepakatan di antara faksi-faksi yang bertikai.

(Info: artikel ini berbahasa Inggris, yang saya tulis di atas, terjemahan judul dan abstraknya)

https://journal.walisongo.ac.id/…/wal…/article/view/8945

Israel dan Ukraina

Bahasan soal konflik Ukraina bisa dari berbagai aspek. Saya kali ini akan bahas soal Israel. Mengapa? Karena buzzer Israel sudah mulai berisik. Antara lain narasi mereka: para pembela Palestina kok diam saja ketika Ukraina mau dijajah Rusia?

Tentu saja, itu narasi yang salah kaprah. Kata siapa Rusia mau menjajah Ukraina? Tapi itu nanti lagi saya tulis. Yang saya soroti saat ini, mengapa buzzer Israel berisik ya? Ada buzzer Israel (dan memang orang Israel) dengan follower 473 ribu yang menulis dengan rasis begini dalam bahasa Arab (artinya, ditujukan pada orang-orang Arab):

“Presiden Muslim Afghanistan berurusan dengan Amerika; ia mengkhianati tanah airnya dan mencuri negaranya. Dalam perang, dia melarikan diri seperti kecoa dan tikus. Presiden Yahudi tidak mengkhianati tanah airnya, dia tidak mencuri tanah airnya, dia berjuang dan berjuang dan tidak akan melarikan diri. Dia melawan mereka yang menyerang negaranya. Inilah perbedaan antara Anda [Muslim] dan kami. Pikir ulang baik-baik, jika Anda ingin menghina orang Yahudi.”

(lebih…)

Kumpulan tweet pagi gini: Biden salah ngomong

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/317998080284417

(1) Biden, presiden super power dunia, kesulitan mengingat, negara mana yang sudah/sedang dikacaukannya: “And there is no way we were ever going to unite Ukraine…I mean excuse me Iraq…Afghanistan.”

(2) Yang dia maksud adalah “tidak ada jalan bagi AS untuk mempersatukan Afghanistan.” “Kecelakaan” bicara ini sebenarnya menunjukkan beberapa hal: a) telah terlalu banyak negara yang dicampuri urusannya oleh AS, sampai si presiden di lupa, nama negara yang dimaksudnya.

(3) b) AS, negara “kampiun demokrasi”, yang menebar perang di sana-sini, menebar dana di sana-sana utk NGO, dg alasan “menegakkan demokrasi”, ternyata tidak mampu memilih presiden yang sehat di antara 330 jt rakyatnya.

(4) ini menunjukkan bahwa demokrasi di AS adalah demokrasi yang lumpuh, yang bermain adalah kekuatan uang raksasa, yang digelontorkan perusahaan senjata, minyak, dll. Dengan uang mereka bisa mengatur siapa yang terpilih sbg presiden.

(5) Kalaupun yang menang partai sebelah, kondisi tak jauh berbeda. Baik Republik maupun Demokrat keduanya sama saja, para presidennya tetap gila perang, demi mencari profit bagi perusahaan senjata dan migas.

(6) 5 perusahaan senjata terbesar mengeluarkan dana utk lobby politik thn 2020: Lockheed Martin, Boeing, Northrop Grumman, Raytheon Technologies, dan General Dynamics, total $60 juta. Menurut data dari OpenSecrets, Biden saat kampanye pilpres menerima jutaan usd dari mrk.

Follow twitter saya: @dina_sulaeman

Logika Ngawur Fans Taliban Indonesia & Fans ISIS Indonesia

Beberapa hari yang lalu, saya buka Twitter. Eh, ternyata yang sedang trending saat itu tagar ISIS. Saya klik dan “takjub” melihat percakapan orang-orang itu. Di foto ini ada 2 di antaranya. Mengapa saya blur namanya? Soalnya saya ga sudi mempromosikan akun-akun ngaco.

Jadi ceritanya, ada berita “Taliban Menghancurkan Markas ISIS di Kabul.” Nah para fans Taliban di Indonesia langsung happy karena rupanya mereka ingin sekali membuktikan bahwa “Taliban bukan teroris, Taliban beda dengan ISIS.”

Mengapa mereka sedemikian ingin membuktikan bahwa Taliban bukan teroris dan beda dari ISIS? Rupanya (kalau dibaca percakapan mereka itu), ini terkait dengan kasus KPK. Mereka sakit hati pada para buzzer yang menyebut NB dkk sebagai Taliban. Jadi, ini masih lanjutan era Perang Suriah: para fans Taliban ini membawa-bawa konflik Timteng ke Indonesia.

[Disclaimer: saya peneliti & akademisi, saya BUKAN buzzer dan saya BUKAN pendukung Taliban, apalagi ISIS.]

(lebih…)

Tentang Qatar

Sebenarnya, yang mengikuti dengan intens konflik Suriah, pasti sudah tahu rekam jejak Qatar dalam konflik Suriah.

Tapi mungkin ada yang belum paham, jadi saya akan ceritakan sedikit.

Qatar memberi perlindungan pada Yusuf Qardhawi yang memfatwakan “jihad” di Suriah, bahkan membunuh siapa saja, baik sipil, militer, bahkan ulama, yang bekerja sama dengan Assad. Fatwa mengerikan ini disiarkan oleh televisi. Tak lama setelah fatwa keji ini keluar, di Damaskus terjadi aksi bom bunuh diri di dalam masjid. Saat itu, Syekh Buthi, ulama besar Suriah (Ahlussunnah) sedang berceramah, beliau pun gugur syahid.

Qardhawi adalah ulama Ikhwanul Muslimin dan sebagian “jihadis” yang angkat senjata di Suriah adalah jihadis IM. Di awal era Perang Suriah, Khaled Mash’al, tokoh Hamas (berideologi Ikhwanul Muslimin) yang bertahun-tahun dilindungi oleh pemerintah Suriah, membelot dan pindah ke Qatar. Sementara di lapangan, sebagian milisi Hamas malah ikut perang bersama “jihadis” melawan Assad.

(lebih…)

Perempuan-Perempuan Palestina

Ketika Barat (dan banyak orang lainnya, termasuk orang Indonesia) sedemikian khawatir tentang nasib perempuan Afghanistan, nasib perempuan Palestina terlupakan. Bahkan saya pun, sudah lama tidak menulis soal Palestina, meskipun tentu saja, saya selalu mengikuti perkembangan di sana.

Saya ingin menceritakan kisah 3 perempuan Palestina ini.

[Foto 1-kiri] Anhar Al Deek adalah seorang ibu muda (25 tahun), cantik, punya dua anak kecil. Pada bulan Maret 2021, dalam kondisi hamil 4 bulan, dan punya bayi usia setahunan, dia pergi ke perkebunan milik keluarganya di Ramallah. Di atas tanah itu, ada lebih dari selusin pemukim ilegal Israel sedang membangun rumah (inilah yang dihadapi warga Palestina di Tepi Barat, tanah mereka bisa dirampas semaunya orang-orang Israel yang sengaja didatangkan berbagai dari penjuru dunia).

Israel menuduh Anhar mau menyerang para pemukim ilegal itu dengan pisau. Bayangkan: Anhar perempuan, dituduh mau menyerang lusinan lelaki perampas tanah keluarganya dengan pisau, dan dia yang dipenjara.

(lebih…)

Beda Antara Islamic Emirate of Afghanistan (IEA) dan Islamic Republic of Iran (IRI)

IEA memang masih belum jelas bentuknya, semua masih ‘sementara’, jadi kita memang masih wait and see. Sementara itu IRI sudah terlihat bentuk dan hasilnya (bisa diukur dengan parameter yang diakui internasional, misalnya Human Development Index dan berbagai data statistik).

Tapi, dalam beberapa webinar yang saya ikuti, Iran kadang disebut-sebut, dibandingkan dengan IEA. Yang parah, ada orang-orang yang menyamakan IRI dengan IEA.

Misalnya, ada orang yang mengkhawatirkan pemerintahan ala Taliban dengan kata-kata “nanti kayak Iran…dulu perempuan Iran setelah revolusi Iran juga mengalami penindasan; padahal perempuan Iran berjasa dalam revolusi.”

Dari awalnya aja sudah salah: kan di Afghanistan tidak ada revolusi? Karena tidak ada revolusi, jelas perempuannya tidak ikut revolusi. Fakta bahwa perempuan Iran berjasa dalam revolusi saja sudah menunjukkan jauhnya perbedaan struktur sosial (dan kekuatan posisi perempuan) di Iran dan di Afghanistan. Ketika informasi dasar saja sudah salah, logika penyamaannya pun ya jelas salah.

Berikut ini komentar saya soal perbandingan dua pemerintahan ini:

(lebih…)

Menilik Pemerintahan Baru Taliban-Afghanistan, Pakar dari Unpad Sebut Memprihatinkan dan Ingkar Janji

Taliban telah mengumumkan pemerintahan baru Afghanistan pada Selasa 7 September 2021 lalu.

Kelompok Taliban menunjuk Mullah Hasan Akhund, seorang teman dekat mendiang pendiri Mullah Omar, sebagai kepala pemerintahan.

Pengumuman itu disampaikan juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid dalam konferensi pers di Kabul.

Menanggapi hal tersebut, Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Dina Yulianti menilai, hal ini memprihatinkan.

“Terdapat hal yang memprihatinkan dari kabinet sementara yang ditetapkan Taliban. Pertama, tidak ada menteri perempuan, kedua, tidak ada menteri dari kalangan minoritas, dan ketiga, tidak ada keterlibatan tokoh-tokoh dari pemerintahan sebelumnya,” ujar Dina kepada FIXINDONESIA.COM pada Kamis 9 September 2021.

Menurut Dina hal itu bertentangan dengan janji-jani Taliban setelah mereka menguasai Kabul. Pasalnya kata Dina sebelumnya kelompok Taliban itu mengatakan akan membentuk pemerintahan inklusif dan melindungi hak-hak perempuan.

(lebih…)