Kajian Timur Tengah

Beranda » Afganistan

Category Archives: Afganistan

Iklan

Catatan Harian Warga AS: “Kelompok Teroris Adalah Sekutu Kita”

Artikel ini bagus sekali, menjelaskan ‘apa yang dipikirkan dan dilakukan elit AS’ di berbagai penjuru dunia, mulai dari Afghanistan tahun 1980-an, lalu Eropa Timur, lalu Afrika, Timur Tengah, bahkan Indonesia.

Ditulis oleh orang AS, Chris Kanthan (penulis buku “Deconstructing the Syrian War”). Sudah diterjemahkan ICMES ke Bahasa Indonesia.

Cara nulisnya juga menarik dan mudah dicerna. Wajib baca bila ingin memahami bagaimana peran yang dilakukan kelompok-kelompok “jihad” atas nama Islam untuk membantu elit AS menguasai sumber daya alam di berbagai penjuru dunia.

https://ic-mes.org/politics/catatan-harian-warga-as-kelompok-teroris-adalah-sekutu-kita/

Iklan

Diplomasi Zaman Now vs Diplomasi Era Zadoel

Debat Keempat Pilpres kemarin saya ikuti dengan seksama karena temanya cocok dengan bidang studi saya, Hubungan Internasional. Ada hal yang menarik untuk ditelaah, soal diplomasi dan ‘kepentingan nasional’.

Pertanyaan dari panelis adalah, “…Keberhasilan dalam diplomasi internasional tergantung pada kemampuan negara menawarkan keunggulannya kepada negara-negara lain. Keunggulan tersebut bisa dalam bentuk kebudayaan, ekonomi, pertahanan, dan gagasan solutif. …Menurut Bapak apa keunggulan bangsa Indonesia yang akan ditawarkan dalam diplomasi internasional dan bagaimana strategi utk mewujudkannya?

Jawaban Presiden Jokowi, keunggulan kita adalah “Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.”

Hal ini direspon Capres Prabowo bahwa diplomat asing itu “menghitung kekuatan kita”. Yang dimaksud Prabowo adalah kekuatan militer, karena selanjutnya yang disebutnya adalah ‘berapa kapal selam, pesawat, peluru kendali yang kita punya?’

Dalam tulisan singkat ini, saya hanya ingin menjelaskan bahwa secara paradigmatik, kedua tokoh ini berbeda bagai bumi dan langit.

(lebih…)

Tim Jihad Washington

Artikel yang ditulis Andre Vltchek ini menarik untuk dibaca. Andre mewawancarai banyak orang selain saya, antara lain seorang alumni “jihad” Afghanistan. Penuturan si alumni ini memperlihatkan pola yang sama dengan ‘jihad’ Suriah: dulu dia pergi ke Afghanistan karena konon katanya warga Muslim diserang oleh kaum komunis; sekarang kelompok yang sama ‘jihad’ ke Suriah karena konon warga Sunni dibantai Syiah. Kloter yang terakhir ini yang bikin repot, ketika ISIS keok di Suriah, mereka harus dibiayai pulang ke Indonesia dan harus pula dibiayai untuk ikut program deradikalisasi (entah ada manfaatnya atau tidak).

Silahkan baca di sini: Washington’s Jihadi Express: Indonesia-Afghanistan-Syria-Philippines

Ini pernyataan saya yang dikutip Andre:

“Jihad in Indonesia – against the Western imperialism? Oh no, no way…” smiles Dina Y. Sulaeman, an Indonesian political analyst, an author of the book “Salju Di Aleppo” (Snow of Aleppo):

“Jihad in which Indonesians want to participate is based on hate… In my book, I explain that the Indonesian fighters in Syria are mainly affiliated with several groups: ‘Ikhwanul Muslimin’, ‘Hizbut Tahrir’ and Al Qaeda/ISIS. Unfortunately these groups have supporters in Indonesia. They keep spreading fake photos and videos about Syria, to ignite sympathy, even anger of Indonesian people, so they give donations or even join jihad. It’s a good deal for them. They are waging ‘holy war’, they’ll go to heaven, and plus they get paid. They accuse president Assad of being ‘infidel’. That’s their rallying cry.”

“Indonesian mass media ‘coverage’ is only directly translating what is said by the Western media: the CNN, the BBC and others…. If not those, then at least Al-Jazeera which is often even worse… As a result, Indonesians are ‘very concerned’ about Syria.’ Of course, in my books I’m trying to correct the misconceptions, but the propaganda apparatus is so powerful.”

Bagaimana Cara AS Mendirikan Al Qaida/ISIS?

Ini copas status saya di FB tgl 18 Nov (yang dg segera di-report oleh takfiri, sehingga status tsb dihapus FB dan saya diblokir, tidak bisa posting di FB selama beberapa hari). Saya tambahi beberapa info baru.

====

Mungkin ada yang bertanya-tanya, gimana cara AS mendirikan Al Qaeda, ISIS, dll.? Sedemikian begonyakah orang Muslim sampai nggak nyadar kalo dikerjain? Tentu saja, caranya enggak blak-blakan dong. Sangat tersistematis (emangnya AS itu bego, apa?). AS tidak langsung hadir di lapangan, tetapi pakai tangan “ustadz-ustadz” dan aliran dananya pun kadang lewat negara-negara kroninya (seperti diakui oleh Hillary Clinton, CIA bekerja sama dengan Pakistan dan Arab Saudi). Makanya ada status FB orang Indonesia yang saat ini sedang jihad di Suriah, dia bilang, “Senjata mujahidin itu memang dari Amerika; malah bagus kan, canggih! [halooo…???] tapi bukan gratisan, melainkan sumbangan dari Arab Saudi dll.”

Poin penting pertama: berpikirlah kritis, jangan membeo melulu dan berkata “kata ustadz ana..” melulu.

Poin kedua: yang perlu kita -terutama ibuk-ibuk- catet adalah metode indoktrinasi paham kebencian dan teror kepada anak-anak melalui buku. Kalau ditemukan buku-buku semacam itu, segeralah perbaiki pemahaman anak; ingatkan bahwa Islam adalah agama yang welas asih.

Foto di bawah ini adalah salah satu halaman di buku sekolah dasar anak-anak Afghan (zaman Soviet).

afgh-textbook-jihad

(lebih…)

Taliban dan Berpikir Sistemik

taliban-flag1Taliban dengan darah dingin membantai 132 anak-anak sekolah di Pakistan. Menarik mengamati tanggapan publik atas kasus ini. Sebagian mengecam keras, mengapa Islam dan Allah dijadikan alasan untuk membunuh anak-anak. Sebagian lagi, terutama media-media takfiri (dan simpatisannya) yang selama ini memang dikenal sebagai pendukung Taliban (termasuk petinggi partai you-know-who yang pernah menulis puisi memuja Osama Bin Laden), tentu saja bungkam atau berupaya menjustifikasi (dan mengalihkan isu dengan memblow-up penyanderaan di Sidney yang dilakukan oleh penjahat buronan pemerintah Iran -dan diberi suaka oleh Australia.) Lalu bagaimana dengan ribuan warga Pakistan yang sejak 2004 dibantai bak tikus oleh drone (pesawat tanpa awak) AS? Lalu, bagaimana dengan tewasnya anak-anak muda di Paniai, Papua, baru-baru ini? Mengapa tidak banyak komentar dari bangsa ini? (Untuk pembantaian di Pakistan, presiden kita dengan sigap menulis komen di facebooknya).

Saya ingin mengajak Anda untuk berpikir sistemik: holistik, memandang konflik dalam sebuah peta besar; tidak fokus pada konflik tertentu saja. Taliban, ya, memang sadis dan sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin. Tapi, faktanya, mereka muslim dan mengaku (mengira) sedang memperjuangkan Islam. Dan, banyak simpatisan Taliban merasa sedang berjihad karena mengira yang sedang dilawan oleh Taliban adalah AS. Dan, memang faktanya, pemerintah AS adalah pelaku kejahatan kemanusiaan terbesar di dunia sepanjang sejarah (silahkan baca buku William Blum, orang AS, betapa pemerintah AS telah melakukan sangat-sangat banyak pembunuhan di muka bumi ini di balik kedok demokrasi. Judul bukunya “Demokrasi, Ekspor AS yang Paling Mematikan”).

Jadi, tidak bisa melepaskan fenomena Taliban dengan keberadaan AS. Sebagian (terutama yang tidak suka bila sebuah konflik dikaitkan dengan AS) akan buru-buru menyebut ini teori konspirasi. Tidak. Teori konspirasi adalah mengait-ngaitkan sejumlah fenomena satu sama lain dengan dilandasi khayalan (contoh: melihat simbol mirip Bintang Daud di sebuah masjid, langsung menuduh DKM-nya Zionis, padahal siapa tahu si desainer sekedar tulalit, tak paham simbol Bintang Daud). Tapi, jika kita mengungkapkan adanya konspirasi antara aktor-aktor politik, lengkap dengan bukti-bukti valid, itu bukan teori konspirasi.

brezenskiMisalnya, baca wawancara Counterpunch dengan Zbigniew Brzezinski, penasehat presiden Carter (dan presiden-presiden AS berikutnya, termasuk Obama) mengakui bahwa CIA mendanai Mujahidin Afghanistan. Versi Inggris ada di sini, versi kutipan-terjemahan saya copas dari sini:

Jurnalis:Mantan Direktur CIA, Robert Gates, menyatakan dalam memoarnya “From the Shadows”, bahwa CIA mulai memberikan bantuan kepada Mujahadin di Afghanistan 6 bulan sebelum Soviet menginvasi Afghanistan. Pada masa itu, Anda adalah penasehat keamanan Presiden Carter. Karena itu Anda memainkan peran dalam urusan itu. Benarkah demikian?

(lebih…)

Malala dan Surat dari Taliban

Malala dan Ancaman Transnasional Taliban

Dina Y. Sulaeman

Malala Yousafzai, gadis remaja yang kepalanya ditembak Taliban sepulang sekolah,  kini telah sembuh dari luka parah yang dideritanya. Kejadian penembakan itu membuat dunia internasional tersentak. Ternyata, di zaman semodern ini, masih ada kelompok yang melarang anak perempuan sekolah. Dan parahnya, larangan itu dilakukan atas nama Islam, agama yang justru sangat mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan. Eropa bisa keluar dari Abad Kegelapan justru setelah berkenalan dengan khazanah keilmuan Islam.

Malala, meski masih belia (lahir 12 Juli 1997), aktif memperjuangkan hak pendidikan bagi anak-anak perempuan di tanah kelahirannya, yang selama ini dirampas oleh Taliban. Dia fasih berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris, sehingga suaranya terdengar jauh ke berbagai penjuru dunia. Dia diwawancarai banyak media dan bahkan ada jurnalis Barat yang membuat film dokumenter  khusus tentangnya. Ini rupanya membuat Taliban semakin naik pitam dan memutuskan menembaknya. Pada tanggal 10 November 2012, Sekjen PBB mencanangkan tanggal 12 Juli sebagai Hari Malala yang menandai perjuangan untuk menunaikan hak pendidikan bagi anak perempuan sedunia.

Pada tanggal 12 Juli 2013, Malala pun diundang memberikan pidato di hadapan Majlis Umum PBB, yang dihadiri oleh Sekjen PBB, Ban Ki Moon. Pidatonya sungguh luar biasa, apalagi mengingat usianya yang baru 16 tahun. Bagian yang paling menarik adalah betapa beraninya Malala mengungkapkan ‘hakikat’ Taliban yang sebenarnya. Berikut ini kutipannya.

(lebih…)

Islam: Terorisme atau Cinta?

Upaya mengaitkan pengeboman di Boston dengan kata ‘jihad’ semakin terlihat. Meski mengakui bahwa penyelidikan masih berlangsung, Foreign Policy 22 April merilis artikel berjudul ‘Boston’s Jihadist Past’ (Masa Lalu Pejuang Jihad Boston). Inilah proses stigmatisasi dan stereotyping media Barat terhadap kata ‘jihad’. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah esensi Islam adalah cinta? Lalu mengapa kini Islam justru seolah identik dengan kekerasan? Konflik yang paling dominan terjadi di Timur Tengah, yang justru didominasi kaum muslim. Apa yang sebenarnya tengah terjadi?

Dalam diskusi bertajuk Islam: Risalah Cinta Semesta yang digelar Masjid Salman dan Penerbit Mizan, serta didukung oleh Studia Humanika, 19 April 2013, dua pembicara, Yasraf Amir Piliang (YAP) dan Haidar Bagir (HB), berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan ini melalui perspektif masing-masing.

YAP menguraikan bahwa ada tiga bagian dalam  masalah ini: akar kekerasan, realitas kekerasan, dan citra kekerasan.

1. Realitas kekerasan, yaitu: berbagai aksi terorisme yang dilakukan muslim (misalnya, Al Qaida), atau kekerasan yang dilakukan kelompok-kelompok Islam terhadap umat agama lain, atau terhadap mazhab/aliran yang dianggap sesat.

2. Citra kekerasan. Citra adalah sesuatu yang artifisial, dikonstruksi, dan bahkan disimulasi dengan tujuan untuk menciptakan citra tertentu. Hal ini terkait dengan politik media global. Mereka melakukan ideologisasi Islam; mereka menyebarkan opini bahwa Islam adalah agama yang berideologi kekerasan. Media global adalah ruang perang ‘simbol’ antarkepentingan untuk menguasai opini publik. Artinya, opini publik dibangun melalui perang informasi di ruang publik. Media memiliki dua pilihan: de-re (menyampaikan sesuai realitas) atau de-dicto (menyampaikan sesuai kepentingan sekelompok tertentu). Media Barat telah melakukan de-dicto, membangun opini publik tentang Islam sebagai agama kekerasan.

(lebih…)

Please Don’t Be a Muslim

Dina Y. Sulaeman

Menyusul tragedi pengeboman di Boston, situs Washington Post memuat artikel berjudul “Please Don’t Be a Muslim” (semoga jangan orang Islam).  Ya, saat mendengar berita pengeboman di Boston, agaknya, hampir semua orang, termasuk kaum muslim, secara refleks teringat pada Al Qaida atau sejenisnya. Menurut artikel tersebut, meski tragedi Boston masih belum diselidiki, di twitter sudah bertebaran pesan singkat, Please don’t be a ‘Muslim.’ Semoga jangan muslim pelakunya. Ungkapan belasungkawa juga segera dilakukan kaum muslim berbagai negara melalui media sosial. Seolah mereka semua sedang diposisikan sebagai tertuduh dan cepat-cepat berusaha menunjukkan bahwa mereka tidak setuju dengan aksi pengeboman itu. Menyedihkan, sejak tragedi  9 September 2001 (penghancuran gedung WTC), terorisme menjadi identik dengan muslim.

Segera setelah  9/11, Bush menggandeng DK PBB, NATO, dan EU dan berhasil menggalang 33 negara untuk bergabung dalam pasukan koalisi War on Terrorism (WoT)  yang langsung dipimpin AS sendiri. Pada Oktober 2001, WoT mulai dilancarkan di Afghanistan dengan misi menumbangkan Taliban dan menangkap pimpinan Al Qaida, Osama bin Laden, tertuduh utama pelaku 9/11. Selanjutnya, pada 2002, pasukan khusus AS bekerjasama dengan militer Philipina dengan misi mengusir kelompok Abu Sayyaf dan Jamaah Islamiyah dari Pulau Basilan. Tahun yang sama, perang juga dilancarkan ke beberapa kawasan muslim Afrika yang juga dituduh menjadi basis teroris. Tahun 2003, perang kembali diluncurkan ke Irak dengan misi menggulingkan Saddam Husein atas tuduhan menyimpan senjata pembunuh massal yang mengancam keamanan dunia. Selain perang fisik, AS juga menggalang dukungan internasional untuk bersama-sama melancarkan WoT di wilayah masing-masing, termasuk di Indonesia.

Sebelum dilanjutkan, mari kita lihat dulu, apa definisi terorisme. Kaplan (1981) mengatakan bahwa terorisme dimaksudkan untuk menciptakan situasi pikiran yang sangat menakutkan (fearful state of mind). Lebih jauh lagi, situasi ketakutan ini tidaklah ditujukan kepada para korban teroris melainkan kepada audiens (khalayak) yang bisa jadi tidak ada hubungan dengan para korban. Hal senada juga diungkapkan Oots (1990, p.145) yang menulis bahwa terrorisme dimaksudkan untuk menciptakan “ketakutan yang ekstrim di tengah khalayak yang lebih besar daripada korban langsung.”

(lebih…)

Syria di Republika

Dina Y. Sulaeman*

Pada 11 Februari lalu, kolom Resonansi  harian Republika menurunkan sebuah artikel yang menurut saya sangat menyedihkan. Bagaimana mungkin seorang jurnalis senior, mantan Pemimpin Redaksi harian besar di Indonesia itu, sedemikian awamnya dalam memahami konflik Syria dan konstelasi politik global? Sang jurnalis yang bernama Ikhwanul Kiram Mashuri (IKM) itu menyandarkan analisisnya dari sebuah video yang  belum diverifikasi kebenarannya, lalu menyimpulkan bahwa “musuh umat Islam tidak hanya Zionis, melainkan juga rezim brutal seperti Assad.”

Bagaimana mungkin seorang jurnalis senior sampai tidak tahu bahwa perang Syria sangat diwarnai perang propaganda dan bahkan disebut-sebut sebagai “A Photoshoped Revolution” saking banyaknya rekayasa informasi foto yang diunggah melalui internet untuk memprovokasi opini publik. Berkali-kali pihak oposisi mengunggah foto berdarah-darah di internet dan menyebutnya sebagai ‘korban Assad’. Lalu, biasanya para blogger-lah (sayang sekali, mengapa bukan jurnalis?) yang berjasa  menemukan bukti bahwa foto-foto itu mengabadikan kejadian berdarah di tempat lain (umumnya di Gaza).  Bahkan kantor berita sekelas BBC ketahuan menggunakan foto korban perang Irak dan menyebutnya itu korban pembantaian tentara Assad.

Kaum oposisi Syria pun membuat sangat banyak rekaman video amatir lalu diunggah di  internet. Video dari pihak oposisi ini dengan sangat cepat disebarluaskan ke seluruh dunia, bahkan direlay dan disiarkan ulang oleh media massa mainstream. Video-video itu terbagi ke dalam beberapa jenis: pembantaian sadis yang disebut sebagai korban kebrutalan Assad, pembantaian sadis yang diiringi takbir (dilakukan oleh pasukan oposisi), dan video berisi propaganda relijius, yang sepertinya dibuat utk membangkitkan semangat jihad Islam. Video seperti ini biasanya memperlihatkan para pemberontak sedang menembakkan senjata dengan diiringi takbir, tayangan para pemberontak sedang sholat berjamaah, atau (konon) demo sejumlah massa yang menginginkan khilafah di Syria.

Bila IKM menyodorkan video tentang Hamzah Al Khatib yang (konon) dibunuh oleh tentara Assad (IKM tidak memberi bukti apakah secara jurnalistik video itu sudah terverifikasi), bagaimana bila dia menonton salah satu video sangat brutal yang diunggah oleh kaum oposisi? Video itu sudah terverifikasi (The Guardian memverifikasinya kepada Mustafa al-Sheikh, Ketua Dewan Tinggi Militer FSA) dan bisa diliat di you tube dengan kata kunci ‘syrian+rebel+execute+Aleppo [1]. Dalam video itu, sejumlah pria tak berbaju diseret keluar oleh sejumlah orang besenjata lalu dijejerkan ke dinding, dan kemudian ditembaki (bukan ditembak satu persatu, melainkan dibombardir peluru secara terus-menerus selama 43 detik). Setelah itu hening sekejap lalu diikuti teriakan takbir. Dipastikan, pelakunya bukan tentara Assad. Mustafa al-Sheikh, Ketua Dewan Tinggi Militer FSA, menyebut korban pembantaian adalah klan Al Berri, dan menyebutnya sebagai shabiha. Dalam logika Sheikh, mereka sah-sah saja membantai Berri dengan alasan: Berri adalah shabiha.

(lebih…)

Obama dan Hiperrealitas

Dina Y. Sulaeman*

Pilpres Amerika Serikat tahun ini terasa kurang seru. Sangat Amerika. Obama meraih kemenangan dengan mendulang suara kaum perempuan yang pro pada kebijakannya soal aborsi; kaum muda dan gay yang lebih merasa cocok dengan nilai-nilai liberal yang diusung Obama, atau kaum Hispanik yang merasa terlindungi oleh kebijakan pro-imigran Obama. Bahkan kaum sosialis pun mendukungnya, dengan alasan kebijakan ekonomi Obama lebih sosialis, dibandingkan Romney yang sangat pro-kapitalis.

Bandingkan dengan pemilu 2008 yang sangat gegap gempita. Slogan Change dan Yes We Can menggema ke seluruh penjuru dunia. Saat itu pilpres AS seolah menjadi pilpres bagi dunia. Demam Obama melanda warga dunia. Kemenangan Obama disambut meriah, mulai dari Beijing hingga Khartoum. Belasan juta orang saling berjejaring di internet, membangun sesuatu yang disebut the power of we, kekuatan kita bersama, demi mendukung Obama. Massa di akar rumput secara sukarela menggalang aksi-aksi pengumpulan dana untuk disumbangkan kepada Obama dan terkumpullah 1,6 juta dollar. Obama menjadi representasi mereka yang tertindas, kaum pariah, dan umat yang mendambakan perubahan. Obama tampil bak Messiah, Sang Juru Selamat.

(lebih…)