Kajian Timur Tengah

Beranda » Afganistan

Category Archives: Afganistan

Sumber Ideologi Teror Bisa Muncul dari Banyak Hal

Saya miris membaca berbagai komen yang merendahkan Islam, ketika ada yang membahas terorisme di medsos. Bahkan postingan donasi untuk NTT saja ditunggangi untuk melancarkan hate speech pada umat Muslim.

Benar bahwa berbagai aksi teror di berbagai tempat, terutama sejak perang Suriah, dilakukan atas nama Islam. Di Suriah ada ratusan milisi teror yang mengaku Muslim, antara lain ISIS. Saya pun sudah menulis sangat banyak tulisan membongkar perilaku para teroris ini, juga 2 buku tentang Suriah.

Tapi yang sering (sengaja) dilupakan oleh mereka yang menghina-hina umat Islam, adalah: siapakah korban terbanyak terorisme itu dan siapa yang paling berdarah-darah dalam perang melawan teror di Irak dan Suriah? Jelas kaum Muslim sendiri. Rakyat Irak dan Suriah bahu-membahu bersama militer mereka dalam perang-perang melawan ISIS (dan kelompok teror lain).

(lebih…)

Telah terbit: “Message for Humanity – Selections of essays and writings by Andre Vltchek”. Buku ini berisi 15 esai dan tulisan karya Andre Vltchek yang dipilih oleh 11 teman, kolega, dan kawan Andre dari berbagai belahan dunia. Mereka menjelaskan mengapa esai / tulisan tersebut penting bagi kemanusiaan.

[Saya, Dina Y. Sulaeman, salah satu di antara yang mendapatkan kehormatan untuk berbagi dalam buku ini.]

Buku ini mencakup berbagai masalah di berbagai wilayah seperti Afghanistan, Suriah, China, Oseania.

Jurnalis senior terkemuka, John Pilger, menulis uraian singkat untuk buku ini. Dia menulis: “Andre Vltchek is humanity’s and journalism’s immeasurable loss. Andre honoured the description ‘maverick’ — he was a maverick without peer. Whenever a vital issue was pushed into the recesses of our memory, Andre would rescue it and remind us why we should never forget: why we should keep fighting for what was right. Perhaps above all, he understood the nature of imperialism and tore away its modern disguises with his powerfully moral, bracing prose. I salute him.”

Buku ini diterbitkan oleh Badak Merah Pte. Ltd. Buku (edisi kindle) bisa dibeli di: https://www.amazon.com/dp/B08RDXJ31S/

Berita yang terlewat…

Ada berita yang terlewat: “Indonesia membuka layanan calling visa untuk Israel”

Saya copas sebagian isinya;

Saat seluruh perbatasan Indonesia masih ditutup untuk kunjungan orang asing karena pandemik COVID-19, pemerintah mendadak membuka layanan “calling visa”. Layanan ini dibuka untuk delapan negara, termasuk Israel, Ketujuh negara lain adalah Afghanistan, Guinea, Korea Utara, Kamerun, Liberia, Nigeria dan Somalia.

Dalam keterangan tertulisnya, Kabag Humas dan Umum Dirjen Imigrasi, mengatakan: alasan dibukanya kembali pelayanan calling visa ialah karena banyaknya tenaga ahli dan investor yang berasal dari negara-negara calling visa.

Menilik situasi, waktu, serta alasan dibukanya layanan calling visa ini menarik. Sampai saat ini, praktis Indonesia masih menutup perbatasannya dari kunjungan warga negara asing, sesuai dengan Permenhukham No. 1/2020, yang kemudian diganti dengan Permenhukman No. 26/2020 tentang Visa dan Izin Tinggal Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru.

Jadi, kalau payung besar penutupan perbatasan negara untuk perlindungan dari COVID-19 masih diberlakukan, mengapa justru Ditjen Imigrasi secara khusus membuka layanan calling visa untuk delapan negara itu? Alasan tenaga ahli, investor, kawin campur menurut saya kurang cocok dikenakan ke delapan negara, mengingat kondisi ekonomi dan politik yang sama atau di bawah Indonesia. Kecuali Israel.

Mungkinkah, ketujuh negara itu hanyalah “pelengkap” bagi Israel?

Baca selengkapnya tulisan jurnalis senior, Uni Lubis, membahas masalah ini: https://www.idntimes.com/opinion/politic/amp/uni-lubis/mendadak-pemerintah-indonesia-buka-visa-calling-untuk-israel

——————–

Komentar saya: pihak-pihak yang menghendaki dibukanya hubungan diplomatik Indonesia-Israel memang kelihatannya semakin kuat. Kalau masih ada yang berani bersuara dukung Palestina biasanya langsung dicap “radikal” dan disamakan dengan kelompok onoh yang memang -sayangnya- terbukti radikal.

Padahal pembela Palestina itu sangat luas faksinya.. bahkan orang-orang non-Muslim pun sangat gigih menjadi pembela Palestina (misalnya, para aktivis BDS di negara-negara Barat atau aktivis di Amerika Latin).

Pembelaan pada Palestina dan penolakan atas penjajahan Israel, mengecam kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Israel adalah AMANAH UUD 1945 kita: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Semoga pemerintah Indonesia bisa tetap menjaga amanah ini, dan tidak tertipu oleh jargon-jargon kosong seperti “kalau mau mendamaikan dua pihak ya harus berteman dengan kedua pihak dong!” atau “Israel itu negara sangat kaya dan sangat canggih, kita bisa untung besar kalau buka hubungan diplomatik dengan Israel!”

Sekedar mengingatkan: tanggal 29 November adalah hari yang ditetapkan PBB sebagai “Hari Solidaritas Internasional Bersama Bangsa Palestina”

Yang berminat dengan isu Afghanistan.. ini ada webinarnya.

***

Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP) mempersembahkan PSKP Webinar Series #16 dengan tema “PEACE TALKS PEMERINTAH AFGHANISTAN-TALIBAN: AKANKAH PEPERANGAN BERAKHIR?”. Webinar ini akan diselenggarakan pada:

Hari/Tanggal: Senin, 5 Oktober 2020

Jam: 13.00 – 15.00 WIB

Tempat: Google Meet

Narasumber:

1. Yon Machmudi, PhD, Pendiri InMind Institute dan Kepala Post-Graduate Program of The Middle Eastern and Islamic Studies, Universitas Indonesia. 2. Dr. Dina Y Sulaeman, Pengamat Geopolitik dan Founder Indonesia Center of Middle East Studies

Pemantik : Efriza, Direktur Eksekutif PSKP

Moderator: Zeezilia, Manajer Departemen Politik Internasional PSKP

Webinar ini gratis & terbuka untuk umum Tersedia e-certificate Link

Registrasi Perserta: https://bit.ly/formpendaftaranwebinarpskp16 Link

Google Meet: http://bit.ly/WebinarPskp16

Contact Person: Rikza (+6282 313 694 762)

Harap cantumkan alamat email dan nama lengkap dengan benar ketika melakukan registrasi.

Mesin Perang AS Terus Aktif Selama Pandemi Covid-19

Di tengah pandemik global akibat virus corona, miliaran manusia di seluruh dunia didera kecemasan; sebagian menderita sakit, sebagian mengalami kesulitan ekonomi yang berat. Tetapi mesin perang AS tak pernah berhenti.

Di video ini (5 menitan) dijelaskan apa yang dilakukan AS di Iran dan Venezuela pada bulan Maret 2020 ini. Iran sebagai negara yang paling parah terdampak Covid 19 di Timur Tengah sangat membutuhkan suplai obat-obatan dan peralatan medis, namun dihalangi oleh sanksi/embargo AS, dan bahkan AS menetapkan embargo baru. Sementara Venezuela yang sudah habis-habisan dihajar sanksi ekonomi, kini menghadapi ancaman serangan militer, karena AS sudah mengirimkan pasukannya ke lepas pantai Venezuela.

(lebih…)

Video: Turki Menggunakan Pengungsi Sebagai Senjata

Penggunaan pengungsi/migran sebagai senjata untuk menekan negara lain bukan hal baru. Anda bisa baca di artikel Kelly Greenhil, Weapons of Mass Migration: Forced Displacement as an Instrument of Coercion; Strategic Insights, v. 9, issue 1 (2010).

Di video ini terihat jelas bagaimana Turki menggunakan pengungsi untuk menekan Uni Eropa agar mau membantunya mempertahankan Idlib (supaya tidak diambil alih oleh Suriah; padahal Idlib adalah wilayah Suriah). Akibatnya, hari ini Yunani menghadapi krisis pelanggaran perbatasan yang terorganisasi, masif, dan ilegal yang dibacking oleh Turki.

Hal yang jadi catatan dari arus pengungsi dari Turki ke Yunani:
-Yunani sepertinya dipilih jadi “korban” karena negara inilah yang menolak NATO membantu Turki di Idlib.
-Kebanyakan pengungsi yang dilepas adalah laki-laki muda, kuat, dan sebagian terlihat eks milisi teror (lihat video)
-Kebanyakan pengungsi yang dilepas adalah non Suriah, melainkan: Afghanistan, 64%, Pakistan, 19%, Iraq, Iran, Morocco, Ethiopia, Bangladesh, Egypt: 5.4%, Τurki, 5%, Suriah, 4% dan Somalia, 2.6% (sumber data: https://bit.ly/2VYzawW)

Sumber video: akun jubir pemerintah Yunani, Stelios Petsas https://bit.ly/3aF3Y9Y

Deradikalisasi Salah Kaprah

Ini menyambung tulisan saya kemarin. Ada komentator yang bilang: “Perempuan itu tidak boleh dipaksa-paksa cara berpakaiannya! Emangnya bu Dina mau kalau pemerintah memaksa ibu pakai kebaya?”

Awalnya saya kesal. Ibaratnya, saya sudah membahas isu sampai bab 7, eh dia komen soal isu di bab 1. Masa saya harus ulangi lagi? Tapi, pagi ini, saya pikir, pertanyaan itu memang perlu dijawab.

Jadi begini ya, sejak lama, saya mendeteksi ada upaya deradikalisasi versi AS yang sedang dikembangkan di Indonesia. Mengapa? Karena saya tahu ada duit AS (dalam jumlah besar) yang sedang disebar ke berbagai kalangan sipil untuk proyek-proyek deradikalisasi.

Tentu, saya sepakat dengan pentingnya deradikalisasi. Yang sudah lama kenal saya, tahu bahwa saya bertahun-tahun jadi korban bullying jahat kelompok radikal/simpatisan jihadis. Jadi jelas saya bukan di kubu mereka.

Tapi, kerisauan saya, KEMANA konsep deradikalisasi yang fundingnya dari Barat itu dibawa?

(lebih…)

Apakah Kewajiban Berhijab Memundurkan Perempuan?

Kemarin saya lihat ada video yang isinya memperingatkan publik akan bahaya radikalisme. Tapi contoh yang dipakai adalah Afghanistan dan Iran, diperlihatkan bahwa dulu perempuan di 2 negara itu bebas tidak pakai jilbab, sekarang tertindas karena pemaksaan syariat (pakai jilbab). Saya pun menulis ini. Ada grafik/tabel, untuk melihatnya, cek ke web ya.

***

Apakah Kewajiban Berhijab Memundurkan Perempuan?

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah: bergantung sistem dan kinerja pemerintahan yang mewajibkan hijab tersebut. Kita tidak bisa menggeneralisasi, masing-masing negara atau provinsi (di Indonesia ada provinsi dengan Perda Syariah) yang mewajibkan hijab memiliki kondisi yang berbeda.

Misalnya, kewajiban hijab di Afghanistan dan Iran, sangat berbeda output-nya karena di Afghanistan, kelompok yang berkeras mewajibkan hijab adalah Taliban yang berhaluan Wahabi; sementara di Iran pemerintahan dibangun atas syariah versi Syiah Ja’fariah. Jadi, saat bicara soal Syiah, perlu juga ditanyakan ‘Syiah versi mana?’ Shah Pahlevi pun bermazhab Syiah; akhir-akhir ini juga muncul “Syiah London” yang kontroversial.

(lebih…)

Catatan Harian Warga AS: “Kelompok Teroris Adalah Sekutu Kita”

Artikel ini bagus sekali, menjelaskan ‘apa yang dipikirkan dan dilakukan elit AS’ di berbagai penjuru dunia, mulai dari Afghanistan tahun 1980-an, lalu Eropa Timur, lalu Afrika, Timur Tengah, bahkan Indonesia.

Ditulis oleh orang AS, Chris Kanthan (penulis buku “Deconstructing the Syrian War”). Sudah diterjemahkan ICMES ke Bahasa Indonesia.

Cara nulisnya juga menarik dan mudah dicerna. Wajib baca bila ingin memahami bagaimana peran yang dilakukan kelompok-kelompok “jihad” atas nama Islam untuk membantu elit AS menguasai sumber daya alam di berbagai penjuru dunia.

https://ic-mes.org/politics/catatan-harian-warga-as-kelompok-teroris-adalah-sekutu-kita/

Diplomasi Zaman Now vs Diplomasi Era Zadoel

Debat Keempat Pilpres kemarin saya ikuti dengan seksama karena temanya cocok dengan bidang studi saya, Hubungan Internasional. Ada hal yang menarik untuk ditelaah, soal diplomasi dan ‘kepentingan nasional’.

Pertanyaan dari panelis adalah, “…Keberhasilan dalam diplomasi internasional tergantung pada kemampuan negara menawarkan keunggulannya kepada negara-negara lain. Keunggulan tersebut bisa dalam bentuk kebudayaan, ekonomi, pertahanan, dan gagasan solutif. …Menurut Bapak apa keunggulan bangsa Indonesia yang akan ditawarkan dalam diplomasi internasional dan bagaimana strategi utk mewujudkannya?

Jawaban Presiden Jokowi, keunggulan kita adalah “Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.”

Hal ini direspon Capres Prabowo bahwa diplomat asing itu “menghitung kekuatan kita”. Yang dimaksud Prabowo adalah kekuatan militer, karena selanjutnya yang disebutnya adalah ‘berapa kapal selam, pesawat, peluru kendali yang kita punya?’

Dalam tulisan singkat ini, saya hanya ingin menjelaskan bahwa secara paradigmatik, kedua tokoh ini berbeda bagai bumi dan langit.

(lebih…)