Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika

Category Archives: Amerika

Trump dan Era Post-Truth (Pasca Kebenaran)

trumpMenyambung tulisan saya sebelumnya soal Hoax CNN dan Trump, saya ingin membahas sesuatu yang agak filosofis. Kemenangan Trump bikin banyak orang baper, termasuk orang-orang Indonesia (di fesbuk, minimalnya). Ada yang kuatir bahwa Trump akan dengan mudah menekan tombol perang nuklir (padahal yg selama ini sesumbar akan menuklir Iran adalah Hillary), ada yang kuatir rasisme akan semakin merebak di AS, dll.

Tapi, memang kemenangan Trump di luar dugaan banyak orang karena media mainstream AS habis-habisan membully Trump. Ada TV yang menyiarkan acara kuis yang menjelek-jelekkan Trump atau menyamakan wajah Trump dengan monyet. Ada koran terkenal menurunkan tulisan dengan judul “Trump, kandidat sampah”. Ada USA Today yang menyerukan, “Plis pilih siapa aja asal jangan Trump”. Sebaliknya, Hillary mendapatkan dukungan penuh dari media mainstream. Jadi, secara teori memang seharusnya Hillary yang menang.

Dan ketika akhirnya Trump menang, media massa mainstream dan para analis papan atas AS, termasuk juga Presiden Obama, segera menuduh ini akibat merebaknya fake news atau hoax yang disebarkan oleh media-media non-mainstream, yang “memfitnah” Hillary. Sebagian orang menggunakan kata “post-truth” (pasca kebenaran). Kata ini sedemikian sering dipakai sehingga kamus bahasa Inggris Oxford menobatkan post-truth sebagai “kata tahun ini”.

(lebih…)

Hoax CNN

trump-cnn-1345-380x218Video ini membuat saya tertawa. Trump dengan gaya khasnya (yang tentu saja dibenci banget oleh para haters-nya) dengan tajam mengatai CNN sebagai “fake news” alias pembuat berita palsu alias produsen hoax. Ya ampun, kapan lagi ada dalam sejarah, seorang presiden-terpilih AS mengata-ngatai CNN dengan blak-blakan begini? Lol

Saya mengamati komen-komen yang beredar di berbagai fanpage di AS. Para haters Trump tentu saja marah-marah dan malu (kok bisa-bisanya AS punya presiden kayak gini). Tapi, pendukung Trump dan kelompok “anyone but Hillary” (jadi, sebenarnya tidak pro-Trump, tapi yang penting jangan Hillary) banyak yang tertawa. Facebookers pro-Suriah juga terbahak-bahak membahas video ini.

(lebih…)

London VS Tehran :)

tehran-londonDi tulisan saya sebelumnya, saya kutip tulisan jurnalis Inggris papan atas, Robert Fisk, yang menyatakan bahwa cara media Barat menyajikan berita tentang Aleppo menyalahi kaidah jurnalisme (ia pun mengakui bahwa media massa Barat telah membohongi publik selama bertahun-tahun).

Nah, ada seorang dosen jurnalistik yang pernah S3 di Inggris (tak tahu saya, lulus atau tdk) yang sepertinya tak paham kaidah jurnalisme yang benar sehingga tulisan-tulisannya tentang Suriah sangat berpihak pada Al Qaida* (alias “mujahidin”) dan kalau ada yang membantahnya, yang bisa dia katakan cuma syiah, syiah, syiah. Terakhir, dia “membantah” (secara terbuka, di FB) tulisan-tulisan saya bukan dengan meng-counter data yang saya berikan, tetapi etapi menyebut saya pembohong [hey, bukannya para simpatisan “mujahidin” yang kedapatan berkali-kali pakai foto hoax soal Suriah? Saya ada filenya pdf 123 hal, bisa diunduh [1] Kok jadi maling teriak maling nih 🙂 ] dan menyoroti background saya yang pernah S2 di Iran. It’s an argumentum ad hominem fallacy, you know? 🙂

Betapa lucunya. Karena saya pernah dapat beasiswa S2 dari pemerintah Iran di Fakultas Teologi di Tehran University, tulisan saya harus ditolak. Sementara, tulisan orang yang dapat beasiswa S2-S3 dari Inggris, belajar dari dosen-dosen “kafir”, harus diterima 😀

(kata “kafir” ini satire lho ya, kawan-kawan non-Muslim jangan tersinggung 🙂  )

[Sekedar info, saya cuma kuliah 1 semester belajar bahasa Persia dan 1 semester matrikulasi. Saya tidak lanjutkan karena, antara lain, saya tidak terlalu berminat di bidang ini. Tapi minimalnya saya jadi tahu kultur belajar di Tehran, antara lain mahasiswinya kritis2, tanya-jawab dengan dosen jadi seolah “berantem”. Gelar master dan doktor saya dapat dari HI Unpad.]

REFLEKSI 2016: Year of Lies?

Robert Fisk, jurnalis Inggris terkemuka, menulis artikel panjang pada 29 Des 2016 berjudul “We are not living in a ‘post-truth’ world, we are living the lies of others”.

Saya terjemahkan bagian yang terkait dengan Suriah & Palestina; kata dalam […] dari saya:

Penggunaan media sosial dalam memberitakan pertempuran di timur Aleppo menjadi luar biasa, aneh, berbahaya, dan bahkan mematikan, ketika tidak ada satu pun jurnalis Barat yang melaporkannya dari tangan pertama, dari lapangan. Kredibilitas jurnalisme -dan politisi- telah sangat rusak akibat penerimaan pada satu sisi cerita karena tidak ada satu pun reporter yang bisa mengkonfirmasi dengan matanya sendiri atas hal-hal yang mereka laporkan.

Kita [masyarakat Barat] menyerahkan jurnalisme kepada media sosial, dan kepada milisi bersenjata yang mengontrol wilayah itu; dan para “reporter” ini tahu mereka bisa melakukan trik yang sama di masa yang akan datang. Mereka akan melakukannya lagi, di Idlib. Tapi masalah ini di Idlib tidak sekedar masalah pada sebuah provinsi di Suriah. Ini adalah masalah tentang kelenturan fakta [fakta bisa dibentuk semaunya] di seluruh Timur Tengah.

Angka 250.000 Muslim yang “terjebak” di Aleppo timur – kini 31.000 memilih untuk pergi ke Idlib, lebih banyak lagi yang pergi ke Aleppo Barat – terlihat lebih sedikit dari 90.000. Saat ini mungkin angka minimal 160.000 pun [yang disebut-sebut media Barat] tidak ada sebenarnya, tetapi tidak ada yang menyatakannya. Statistik vital menyebut angka 250.000 yang sangat ditekankan dalam setiap laporan mengenai “blokade Aleppo timur” saat ini dilupakan atau diabaikan oleh mereka yang mengutipnya.

Apakah ada yang melaporkan kepada kita tentang bagaimana [nasib] warga Palmyra ketika kini ISIS kembali ke sana? Dan bagaimana dengan Mosul? Tidakkah kita ingin membebaskan satu juta warga sipil yang ditahan di sana oleh para jihadis; bukankah mereka juga layak diselamatkan, seperti 250.000, 100.000, atau 90.000, atau kurang dari itu, rakyat sipil yang terjebak di Aleppo timur?

Bagaimana mungkin kita mengeluhkan tentang kebohongan Trump dan Brexiteers ketika kita, para jurnalis, memotong-motong fakta di Timur Tengah? Saya juga menyadari bahwa koran dan televisi kita masih menyebut tembok pembatas Israel sebagai “pagar keamanan”; daerah penjajahannya disebut “permukiman”; “wilayah permukiman yang sedang disengketakan” bukannya “permukiman illegal”.

Apakah kita benar-benar bisa menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya pada [kasus] kebohongan pemilu ketika kita telah membohongi pembaca dan pemirsa kita selama bertahun-tahun?

Komentar saya: kalau jurnalis media mainstream saja sudah mengaku bahwa media mereka sering menyiarkan kebohongan, masak kamu masih percaya saja pada mereka tanpa cek n ricek? Berita-berita internasional yang dibuat oleh media-media terkemuka di Indonesia pun umumnya berupa penerjemahan berita dari media-media Barat itu. Media-media Islam radikal pun sebenarnya melakukan kesalahan yang sama seperti yang disebut Fisk: menyandarkan informasi dari satu pihak yang bertikai [Al Qaida/ISIS].

Semoga di tahun 2017 ini, kita semua bisa lebih bijak dan lebih cerdas dalam menyaring informasi. Amin.

——

-Ini ada video wawancara Carla Ortiz, artis AS yang tinggal di Suriah selama 8 bulan membuat film dokumenter Voice of Syria (kemungkinan rilis Maret 2017). Dalam wawancara ini, Carla bercerita: setelah dia menulis di facebook bantahan atas propaganda dahsyat melalui twitter mengenai “genosida di Aleppo” (karena saat itu dia juga sedang di Aleppo), ada upaya penculikan pada dirinya. Tapi dia diselamatkan oleh warga sipil dan tentara Suriah. Mereka berhasil membantu Carla dan timnya keluar dari Aleppo. Mereka berpesan pada Carla, “Please, saat kamu kembali ke AS, katakan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi.”

Surat untuk Tempo tentang Anne “Bana” Frank dari Aleppo

(Surat ini juga dikirim via email ke redaktur Tempo)

Kepada Yth.

Pemimpin Redaksi Majalah Tempo

di

Jakarta

Majalah Tempo edisi 19-25 Desember 2016  memuat artikel berjudul “Anne Frank dari Aleppo Timur” (AFAT). Artikel tersebut ditulis Sita Planasari dengan sumber The Star,The Telegraph, The New York Times. AFAT bercerita tentang seorang anak usia 7 tahun, Bana Alabed yang secara sangat aktif bercuit di Twitter, menceritakan bahwa dia dan keluarganya dalam kondisi gawat karena dibombardir terus oleh tentara Suriah dan Rusia.

Sebagai sebuah media yang dikenal hebat dalam investigasi, artikel AFAT seharusnya juga didasari dengan investigasi online yang lebih lincah. Sejak dari kalimat pertama, penulis seharusnya sudah memiliki kecerdasan untuk mengendus keanehan, mengapa Bana Al Abed yang baru berusia 7 tahun sudah memiliki 200.000 [sekarang bahkan lebih dari 300.000] follower di Twitternya? Dengan sedikit mengecek, akan ketahuan bahwa akun Twitter Bana baru dibuat pada September 2016.

Follower pertama Bana adalah jurnalis Aljazeera, Abdul Aziz Ahmed. Pengecekan di akun Facebook dan Twitter keluarga Bana memperlihatkan bahwa ayah dan ibunya adalah anggota kelompok militan. Kata “militan” adalah eufemisme, karena cara-cara beroperasi mereka bersifat terorisme.

(lebih…)

Tanggapan untuk Maimon Herawati

Tulisan dari Maimon Herawati ini saya dapatkan di WA. Konon penulisnya pernah S3 di Inggris. Saya ingin memberi tanggapan. Sebelumnya, ini isi tulisannya, saya copas utuh.

Latar Tragedi Kemanusiaan Suriah: Syiah Minoritas Berkuasa

Bapak Bashar Assad (Hafez Assad) pernah menunjukkan pada dunia kekejamannya dahulu. Dia membunuh 45 ribu Sunni di Hamma pada 1982.

Jenazah mereka tidak boleh dikubur. Siapa yang mendekat dibunuh. Wartawan sekaliber Robert Fisk saja sampai sulit mendefenisikan kekejaman ini.

Hamma adalah pusat gerakan Ikhwanul Muslimin.

Hafez Assad adalah pemimpin hasil mengkudeta yang berasal dari minoritas syiah alawi.

Bashar Assad melakukan genoside kedua di Hamma pada 2012.

Bashar juga membunuh warganya dengan brutal menggunakan zat kimia.

Pegang data ini sebelum anda bilang kalau saat ini yang terjadi adalah murni pemberontakan pada pemerintah yang sah! Ini kerangka utama konflik Suriah.

Minoritas syiah menguasai, tak memberikan kesempatan mayoritas sunni terlibat dalam kegiatan politik kenegaraan. Kehidupan politik dikekang.

Adapun pihak asing masuk, itu setelah yang di atas. Dan asing membawa misi masing². Iran karena ideologi syiahnya, Rusia Cina karena minyak dan persekutuan mereka. Amerika dan sekutu karena pengamanan tambang minyaknya.

Dan kita, karena kita manusia dan terikat akidah dengan korban di sana. Innamal mukminunal ikhwah… Muslim itu bersaudara. Dia tidak boleh meninggalkan mereka…..

Indonesia, belajarlah…

 

Tanggapan untuk Maimon Herawati

Dalam mengamati sebuah fenomena, intelektual biasanya akan menggunakan teori dan perspektif. Teori itu bagaikan kacamata. Dengan menggunakan kacamata berwarna biru, Anda akan melihat fenomena itu biru. Bila kacamata Anda merah, fenomena pun tampak merah. Salah kacamata dan salah data, analisismu jadi menggelikan.

(lebih…)

Kekalapan Imperium Pasca Bebasnya Aleppo

Tulisan terbaru saya, dimuat di LiputanIslam.com

Kekalapan Imperium Pasca Bebasnya Aleppo

Oleh: Dina Y. Sulaeman, Direktur ICMES

Seiring dengan kembalinya kontrol Aleppo ke tangan pemerintah Suriah, setelah lima tahun dikuasai oleh kelompok-kelompok teroris, mesin-mesin propaganda Imperium bereaksi dengan kalap. Secara serempak mereka memproduksi dan menyebarkan berita yang menggambarkan bahwa tentara Suriah melakukan pembantaian massal di kota itu. Para pejabat Barat dan PBB mengeluarkan pernyataan mendiskreditkan pemerintah Suriah. Beberapa aktivis media sosial yang selama ini memang sudah punya rekam jejak menjadi provokator konflik Suriah, menjadi pelaku utamanya, dan kemudian disiarkan ulang oleh media-media mainstream.

Misalnya Lina Shamy dan Mr. Alhamdo, tampil dalam rekaman yang disiarkan ulang oleh BBC. Dalam video itu, Lina dalam bahasa Inggris mengatakan, “To everyone who can hear me, we are here exposed to a genocide” (kepada siapapun yang mendengar kami, di sini kami terancam pembunuhan massal). Hanya dengan sedikit melakukan pelacakan di akun facebooknya, kita akan menemukan bahwa Lina adalah seseorang yang memiliki rekam jejak pertemanan akrab dengan “jihadis”. Mr. Alhamdo yang sering dikutip sebagai narasumber oleh media Barat dalam melaporkan “pembunuhan massal oleh Assad” saat dicek rekam jejaknya, juga sangat terkait dengan kelompok-kelompok “jihad”. Alhamdo juga orang di balik akun twitter “Bana of Aleppo” yang menulis “Lebih baik Perang Dunia III meletus, daripada membiarkan Assad dan Rusia melakukan Holocaust di Aleppo”.

Selengkapnya, silahkan mampir ke situsnya.

 

Fall of Aleppo?

aleppo5Tulisan ini saya ambil dari status facebook Helmi Aditya. Bagus sekali, meski yang diungkapkannya adalah kenyataan yang pahit sekali.

==

Fall of Aleppo?

Mau tahu betapa masifnya efek pembebasan Aleppo bagi AS, NATO dan Sekutunya?

Bersiaplah untuk gelombang propaganda fitnah, bejibun ‘last call’ yang berceloteh tanpa bukti, yang bahkan tidak bisa diverifikasi apakah pemerannya warga Aleppo atau bukan. Ambil contoh Bilal Abdul Kareem, yang lahir dan tumbuh besar di AS.

Beragam sumber anonim akan menghiasi berita-berita, membeberkan kesaksian tanpa bukti tentang bagaimana tentara Syria mengeksekusi warga sipil, dan bahkan memperkosa mereka. Beragam headline akan mengudara, menyelipkan kata ‘diduga’ dalam setiap tuduhan yang konsisten, mempermainkan persepsi publik. Beragam gambar pembantaian akan di daur ulang, dengan mengambil caption ‘Aleppo’.

Jumlah 250.000 warga sipil yang dinyatakan terjebak di Aleppo oleh Media Mainstream (MSM), dari dulu ditanggapi Syria dengan serius. Dan dengan modal itu pula lah, kehati-hatian dalam operasi militer menyebabkan proses pembebasan Aleppo berjalan begitu lama. (lebih…)

Trump Menang, Heran?

trump-menangPembuat film dokumenter papan atas Amerika, Michael Moore, sejak bulan Juli sudah menulis dalam website pribadinya bahwa kandidat presiden AS, Donald Trump, akan menang. Moore bukan pendukung Trump, bahkan di artikelnya itu dia berharap prediksinya salah dan ia terang-terangan menyatakan dukungan pada Hillary. Dia juga menulis artikel lain yang mengecam Trump. Jadi, saya pikir, ini prediksi yang didasarkan pada pengetahuannya yang mendalam tentang watak warga AS. Ada 5 alasan yang dikemukakan Moore untuk prediksinya itu, yaitu:

1.Negara bagian Michigan kemungkinan besar akan memilih Trump karena sebagian besar mereka pro-Partai Republik. Mungkin karena Trump mengangkat isu ekonomi nasional (dukungan pada produk lokal), sementara Clinton mendukung globalisasi ekonomi (NAFTA, TPP) yang telah menghancurkan industri di Upper Midwest. Trump bahkan sudah mengancam Ford Motor yang berencana menutup pabrik di AS dan memindahkan ke Mexico, ia akan menetapkan pajak 35% untuk mobil produk Mexico yang diekspor ke AS. Ia juga mengancam Apple agar menutup pabriknya di China dan memindahkannya ke AS. Dalam pemilu 2012, kandidat Partai Republik, Mitt Romney, kalah di 64 electoral. Kemungkinan kelas pekerja di Michigan, Ohio, Pennsylvania dan Wisconsin memilih Trump, jumlahnya 64 elektoral. Negara-negara bagian “merah” mulai dari Idaho hingga Georgia yang masih memegang nilai tradisi tidak akan memilih Hillary Clinton

2. Kaum pria merasa terancam oleh naiknya seorang perempuan. Pria telah mendominasi AS selama 240 tahun dan mereka sangat takut dominasi ini akan berakhir. “Seorang wanita akan berkuasa! Bagaimana hal ini terjadi?! Sudah ada tanda-tanda tepat di depan kita, tapi kita tak memedulikannya. Perempuan telah berdeklarasi bahwa dominasi kita telah berakhir!”, demikian yang ada di pikiran mereka.

(lebih…)

Antara Hillary, Ahok, dan Lawan-Lawannya

hillary-trumpPemilu AS sudah menjelang. Sebagai negara yang paling berpengaruh bagi Indonesia sejak tahun 1960-an, apa yang terjadi di AS sebenarnya “penting” bagi bangsa ini. Namun, di sisi mana “penting”-nya, masih banyak yang tak terlalu paham. Banyak yang memandang AS dengan penuh pesona, karena mata yang dipakainya adalah ‘mata ekonomi’, bukan mata ‘ekonomi-politik’.

Dengan ‘mata ekonomi’, banyak orang Indonesia menggantungkan impiannya ke AS: jalan-jalan, beasiswa, berkarir, dll. Tidak salah, wajar saja. Tapi dengan ‘mata ekonomi-politik’, seharusnya kita kesal karena AS sejak 1960-an telah mengeksploitasi negeri ini, antara lain lewat Bank Dunia dan IMF (saham terbesar dimiliki AS dan markasnya juga di AS). Bahkan UU Migas  No. 22 Tahun 2001 yang membuka peluang sebesar-besarnya kepada perusahaan asing untuk mengeksplorasi migas dan membuat negara kehilangan kontrolnya dalam tata kelola migas, ternyata penyusunannya didanai oleh USAID sebesar $21,1 juta*. Ada banyak lagi tangan-tangan AS yang berada di balik berbagai fenomena ekonomi-politik di negeri ini, tapi hanya dibicarakan dari mulut ke mulut. Datanya susah didapat. Misalnya saja, reformasi 1998, kalau baca tulisannya Chomsky, ada peran AS, yang sudah tidak menghendaki lagi Suharto. Tapi buktinya apa? Saya cuma dengar kisah lisan, bahwa pada malam-malam demo itu, uang berkarung-karung didistribusikan ke kampus-kampus, untuk logistik para mahasiswa, tanpa kwitansi.

Adalah lebih mudah untuk menganalisis ekonomi-politik di dalam AS sendiri. Transparansi data di sana membuat saya bisa menyusun sebuah buku Obama Revealed (unduh gratis di sini) yang isinya menceritakan keterkaitan hampir semua menteri Obama dengan korporasi pro-Zionis.

(lebih…)