Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika

Category Archives: Amerika

Tim Jihad Washington

Artikel yang ditulis Andre Vltchek ini menarik untuk dibaca. Andre mewawancarai banyak orang selain saya, antara lain seorang alumni “jihad” Afghanistan. Penuturan si alumni ini memperlihatkan pola yang sama dengan ‘jihad’ Suriah: dulu dia pergi ke Afghanistan karena konon katanya warga Muslim diserang oleh kaum komunis; sekarang kelompok yang sama ‘jihad’ ke Suriah karena konon warga Sunni dibantai Syiah. Kloter yang terakhir ini yang bikin repot, ketika ISIS keok di Suriah, mereka harus dibiayai pulang ke Indonesia dan harus pula dibiayai untuk ikut program deradikalisasi (entah ada manfaatnya atau tidak).

Silahkan baca di sini: Washington’s Jihadi Express: Indonesia-Afghanistan-Syria-Philippines

Ini pernyataan saya yang dikutip Andre:

“Jihad in Indonesia – against the Western imperialism? Oh no, no way…” smiles Dina Y. Sulaeman, an Indonesian political analyst, an author of the book “Salju Di Aleppo” (Snow of Aleppo):

“Jihad in which Indonesians want to participate is based on hate… In my book, I explain that the Indonesian fighters in Syria are mainly affiliated with several groups: ‘Ikhwanul Muslimin’, ‘Hizbut Tahrir’ and Al Qaeda/ISIS. Unfortunately these groups have supporters in Indonesia. They keep spreading fake photos and videos about Syria, to ignite sympathy, even anger of Indonesian people, so they give donations or even join jihad. It’s a good deal for them. They are waging ‘holy war’, they’ll go to heaven, and plus they get paid. They accuse president Assad of being ‘infidel’. That’s their rallying cry.”

“Indonesian mass media ‘coverage’ is only directly translating what is said by the Western media: the CNN, the BBC and others…. If not those, then at least Al-Jazeera which is often even worse… As a result, Indonesians are ‘very concerned’ about Syria.’ Of course, in my books I’m trying to correct the misconceptions, but the propaganda apparatus is so powerful.”

MBS

salman trumpMuda, impulsif, ambisius. Itulah sosok Pangeran Muhammad bin Salman (MBS). Kemarin ia diangkat jadi Putra Mahkota Arab Saudi (waliyul ‘ahd).

Setelah ayahnya, Salman bin Abdulaziz diangkat menjadi raja, MBS diberi banyak jabatan penting, antara lain Menteri Pertahanan, Ketua Dewan Ekonomi dan Pembangunan, komisaris Aramco, dan bahkan diangkat sebagai ‘Wakil Putra Mahkota’ (yang menjadi Putra Mahkota saat itu adalah sepupunya, Muhammad bin Nayef).

Sebagai Ketua Dewan Ekonomi, MBS berambisi mengangkat kembali perekonomian Saudi yang terpuruk akibat anjloknya harga minyak (dan keanjlokan ini juga kesalahan Saudi sendiri yang meningkatkan produksi agar harga minyak turun sedikit, sehingga mengalahkan para pesaingnya; namun turunnya malah kebablasan, sampai saat ini). MBS melakukan upaya diversifikasi ekonomi agar tak lagi bergantung pada minyak. Inilah yang melatarbelakangi tur Asia King Salman (yang akhirnya memberikan investasi 65 Miliar USD ke China tapi cuma invest 8 Miliar USD ke Indonesia yang merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia).

Buat Imperium, Demokrasi Itu Cuma Jualan

Sejatinya, akar konflik di dunia ini memang muncul akibat kerakusan para pemilik kapital global. Mereka ini sering diistilahkan sebagai ‘imperium’, atau sering juga langsung disebut “Amerika” [sebagai negara representasi imperium, negara yang paling depan menjalankan proyek-proyek Imperium] atau “Barat”. Saya akan pakai istilah Imperium.

Imperium ingin terus mengeruk kekayaan dari berbagai penjuru dunia, tanpa pernah puas. Yang jadi korban bukan cuma negara-negara muslim. Jadi, kaum muslim ga usah baper-lah lalu membabi-buta mengaku jadi korban kaum kafir. Di belahan dunia lain, Amerika Selatan, misalnya, itu orang-orang ‘kafir’ juga jadi korban Imperium. Pemimpin-pemimpin pro-kesejahteraan rakyat di Argentina dan Brazil ditumbangkan, digantikan oleh orang-orang pro-Imperium. Venezuela saat ini sedang menghadapi agenda penggulingan rezim.

Kaum muslim Sunni juga usah baper, mengira sedang dizalimi kaum Syiah (di Suriah). Yang terjadi sebenarnya adalah Imperium sedang mengadu domba kaum muslim dengan memanfaatkan isu Sunni-Syiah (dari mana kita tahu? cek siapa yang mendanai dan menyuplai senjata kepada milisi “mujahidin” di Suriah; cek data bahwa penjualan senjata dari Eropa dan AS ke Timur Tengah meningkat tajam selama era Arab Spring).

Proses penghancuran rezim-rezim di berbagai negara demi kepentingan Imperium sudah dibahas oleh William Blum dalam bukunya “Demokrasi, Ekspor AS Paling Mematikan” (bisa beli di toko buku online).

Demokrasi hanyalah barang jualan buat Imperium. Kalau menguntungkan, mereka akan jual demokrasi itu, kalau perlu dengan mengorbankan darah jutaan warga sipil. Tapi kalau tidak menguntungkan, demokrasi disimpan di saku. Di satu sisi mereka berlagak menjadi ‘kampiun demokrasi’ (dan memaksa terjadinya perubahan rezim yang dituduhnya diktator), tapi di saat yang sama bersahabat erat dengan negara-negara penindas demokrasi, seperti Arab Saudi.

Di video ini, pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri AS, Stuart Jones (yang juga mantan Dubes AS untuk Irak dan Jordan), kelabakan saat ditanya wartawan:

“Saat Anda di Saudi, Menlu AS mengkritik pemilu di Iran dan rekam jejak Iran dalam demokrasi. Dia mengatakan itu dengan didampingi pejabat Saudi. Bagaimana Anda menilai komitmen Saudi pada demokrasi, dan apakah pemerintah (Trump) percaya bahwa demokrasi adalah cara untuk mencegah ekstrimisme?”

Dia terdiam cukup lama (dan disebut-sebut ‘diam paling lama’ dalam sejarah wawancara pejabat AS), matanya menerawang kosong, sampai akhirnya bisa menjawab gugup, eee..uh.. Dan jawabannya tentu saja tidak nyambung.

 

Para Pemakan Bangkai

Pada Juni 2013, Presiden Obama akhirnya menandatangani persetujuannya untuk mengirim senjata kepada ‘pemberontak’ Suriah (atau ’mujahidin’, atau teroris, silahkan pilih istilah yang mau dipakai).[1] Sebenarnya Obama sangat ragu-ragu dalam hal ini, namun tekanan dari para pengkritik, sejumlah penasehat, bahkan mantan Presiden AS, Bill Clinton, akhirnya membuat Obama sepakat. Pengumuman keputusan ini disampaikan oleh penasehat keamanan nasionalnya, Benjamin J. Rhodes, sementara di saat yang sama Obama hadir dalam acara ‘gay pride’ (kebanggaan kaum homo) di Gedung Putih.
 
Tapi, hei, mengirim senjata jelas butuh uang. Darimana? Sumbernya adalah negara yang sama yang selama ini menjadi penyumbang CIA dalam berbagai aksinya: Arab Saudi. CIA dan Saudi telah membentuk misi pelatihan ‘pemberontak’ dengan sandi ‘Timber Sycamore’. Dalam pelaksanaan misi ini, Saudi Arabia bertugas menyediakan senjata dan uang, sementara CIA melatih ‘pemberontak’ menggunakan AK-47 dan misil anti tank. Sebelumnya pun, Saudi dan Qatar telah menyalurkan senjata ke Suriah selama lebih dari setahun, lewat Turki. Di antaranya, FN-6 misil buatan China.
 
Di pihak Saudi, pimpinan proyeknya adalah Pangeran Bandar bin Sultan, yang saat itu menjadi ketua badan intel Saudi. Dialah yang memerintahkan agar badan intel Saudi membeli ribuan AK-47s jutaan amunisi dari Eropa Timur untuk diberikan kepada pemberontak Suriah. CIA membantu mengkoordinir pembelian ini, antara lain dalam kontrak pembelian senjata besar-besaran dari Kroasia tahun 2012. Hingga musim panas tahun 2012, suplai senjata dan uang mengalir ke milisi-milisi pemberontak, melalui Turki.

ISIS Dibentuk AS, Lalu Umat Islam Ngapain?

Serangan rudal AS ke Suriah tanggal 7 April lalu memberikan “angin segar” buat ISIS yang semula posisinya sudah terdesak. Pasalnya, yang diserbu AS adalah pangkalan militer yang selama ini dijadikan basis tentara Suriah dalam melawan ISIS. Lalu, serbuan-serbuan AS selanjutnya (dan sebelumnya) yang konon dalam rangka menggempur ISIS selalu saja salah sasaran, yang tewas malah rakyat sipil di Suriah dan Irak. Sudah banyak pengamat menuliskan analisis, dengan berbagai data, bahwa ada AS di balik ISIS. Di video di bawah ini juga ada pengakuan dari Hillary Clinton bahwa AS-lah yang mendanai Al Qaeda, “kakek” yang akhirnya melahirkan ISIS.

Sejarah memang sudah mencatat bahwa AS adalah penjahat perang nomer wahid. Namun, ada satu hal yang penting dicatat terkait ISIS: organisasi teror ini tidak lahir dari ruang hampa. ISIS tidak muncul tiba-tiba saja. Ada sejarah panjang ideologis yang harus diperhatikan dalam mencermati fenomena ISIS.

(lebih…)

Bagaimana Media Mendistorsi Informasi

distorsi-informasi Perhatikan foto kiri. Anda bisa lihat, yang sebenarnya korban, di layar televisi malah terlihat seperti pelaku kejahatan.

Inilah yang banyak dilakukan media mainstream (dan media nasional Indonesia, yang cuma menerjemahkan berita-berita dari Barat begitu saja). Ibarat hitungan 1-100, media memberitakan kejadian mulai dari hitungan 50, 60, atau 70, sehingga publik kehilangan konteks.

Contohnya, kisah Palestina. Yang ramai diberitakan media pro-Israel (dan memang faktanya, pemilik saham perusahaan-perusahaan media terbesar di dunia adalah orang-orang pro-Israel) adalah serangan Hamas (dan kelompok-kelompok pejuang Palestina lainnya) terhadap Israel. Atas dasar itu, Hamas dimasukkan ke daftar organisasi teroris internasional. Informasi ini dilepaskan dari konteks sejarah: bagaimana konflik bermula?

(lebih…)

Trump dan Era Post-Truth (Pasca Kebenaran)

trumpMenyambung tulisan saya sebelumnya soal Hoax CNN dan Trump, saya ingin membahas sesuatu yang agak filosofis. Kemenangan Trump bikin banyak orang baper, termasuk orang-orang Indonesia (di fesbuk, minimalnya). Ada yang kuatir bahwa Trump akan dengan mudah menekan tombol perang nuklir (padahal yg selama ini sesumbar akan menuklir Iran adalah Hillary), ada yang kuatir rasisme akan semakin merebak di AS, dll.

Tapi, memang kemenangan Trump di luar dugaan banyak orang karena media mainstream AS habis-habisan membully Trump. Ada TV yang menyiarkan acara kuis yang menjelek-jelekkan Trump atau menyamakan wajah Trump dengan monyet. Ada koran terkenal menurunkan tulisan dengan judul “Trump, kandidat sampah”. Ada USA Today yang menyerukan, “Plis pilih siapa aja asal jangan Trump”. Sebaliknya, Hillary mendapatkan dukungan penuh dari media mainstream. Jadi, secara teori memang seharusnya Hillary yang menang.

Dan ketika akhirnya Trump menang, media massa mainstream dan para analis papan atas AS, termasuk juga Presiden Obama, segera menuduh ini akibat merebaknya fake news atau hoax yang disebarkan oleh media-media non-mainstream, yang “memfitnah” Hillary. Sebagian orang menggunakan kata “post-truth” (pasca kebenaran). Kata ini sedemikian sering dipakai sehingga kamus bahasa Inggris Oxford menobatkan post-truth sebagai “kata tahun ini”.

(lebih…)

Hoax CNN

trump-cnn-1345-380x218Video ini membuat saya tertawa. Trump dengan gaya khasnya (yang tentu saja dibenci banget oleh para haters-nya) dengan tajam mengatai CNN sebagai “fake news” alias pembuat berita palsu alias produsen hoax. Ya ampun, kapan lagi ada dalam sejarah, seorang presiden-terpilih AS mengata-ngatai CNN dengan blak-blakan begini? Lol

Saya mengamati komen-komen yang beredar di berbagai fanpage di AS. Para haters Trump tentu saja marah-marah dan malu (kok bisa-bisanya AS punya presiden kayak gini). Tapi, pendukung Trump dan kelompok “anyone but Hillary” (jadi, sebenarnya tidak pro-Trump, tapi yang penting jangan Hillary) banyak yang tertawa. Facebookers pro-Suriah juga terbahak-bahak membahas video ini.

(lebih…)

London VS Tehran :)

tehran-londonDi tulisan saya sebelumnya, saya kutip tulisan jurnalis Inggris papan atas, Robert Fisk, yang menyatakan bahwa cara media Barat menyajikan berita tentang Aleppo menyalahi kaidah jurnalisme (ia pun mengakui bahwa media massa Barat telah membohongi publik selama bertahun-tahun).

Nah, ada seorang dosen jurnalistik yang pernah S3 di Inggris (tak tahu saya, lulus atau tdk) yang sepertinya tak paham kaidah jurnalisme yang benar sehingga tulisan-tulisannya tentang Suriah sangat berpihak pada Al Qaida* (alias “mujahidin”) dan kalau ada yang membantahnya, yang bisa dia katakan cuma syiah, syiah, syiah. Terakhir, dia “membantah” (secara terbuka, di FB) tulisan-tulisan saya bukan dengan meng-counter data yang saya berikan, tetapi etapi menyebut saya pembohong [hey, bukannya para simpatisan “mujahidin” yang kedapatan berkali-kali pakai foto hoax soal Suriah? Saya ada filenya pdf 123 hal, bisa diunduh [1] Kok jadi maling teriak maling nih 🙂 ] dan menyoroti background saya yang pernah S2 di Iran. It’s an argumentum ad hominem fallacy, you know? 🙂

Betapa lucunya. Karena saya pernah dapat beasiswa S2 dari pemerintah Iran di Fakultas Teologi di Tehran University, tulisan saya harus ditolak. Sementara, tulisan orang yang dapat beasiswa S2-S3 dari Inggris, belajar dari dosen-dosen “kafir”, harus diterima 😀

(kata “kafir” ini satire lho ya, kawan-kawan non-Muslim jangan tersinggung 🙂  )

[Sekedar info, saya cuma kuliah 1 semester belajar bahasa Persia dan 1 semester matrikulasi. Saya tidak lanjutkan karena, antara lain, saya tidak terlalu berminat di bidang ini. Tapi minimalnya saya jadi tahu kultur belajar di Tehran, antara lain mahasiswinya kritis2, tanya-jawab dengan dosen jadi seolah “berantem”. Gelar master dan doktor saya dapat dari HI Unpad.]

REFLEKSI 2016: Year of Lies?

Robert Fisk, jurnalis Inggris terkemuka, menulis artikel panjang pada 29 Des 2016 berjudul “We are not living in a ‘post-truth’ world, we are living the lies of others”.

Saya terjemahkan bagian yang terkait dengan Suriah & Palestina; kata dalam […] dari saya:

Penggunaan media sosial dalam memberitakan pertempuran di timur Aleppo menjadi luar biasa, aneh, berbahaya, dan bahkan mematikan, ketika tidak ada satu pun jurnalis Barat yang melaporkannya dari tangan pertama, dari lapangan. Kredibilitas jurnalisme -dan politisi- telah sangat rusak akibat penerimaan pada satu sisi cerita karena tidak ada satu pun reporter yang bisa mengkonfirmasi dengan matanya sendiri atas hal-hal yang mereka laporkan.

Kita [masyarakat Barat] menyerahkan jurnalisme kepada media sosial, dan kepada milisi bersenjata yang mengontrol wilayah itu; dan para “reporter” ini tahu mereka bisa melakukan trik yang sama di masa yang akan datang. Mereka akan melakukannya lagi, di Idlib. Tapi masalah ini di Idlib tidak sekedar masalah pada sebuah provinsi di Suriah. Ini adalah masalah tentang kelenturan fakta [fakta bisa dibentuk semaunya] di seluruh Timur Tengah.

Angka 250.000 Muslim yang “terjebak” di Aleppo timur – kini 31.000 memilih untuk pergi ke Idlib, lebih banyak lagi yang pergi ke Aleppo Barat – terlihat lebih sedikit dari 90.000. Saat ini mungkin angka minimal 160.000 pun [yang disebut-sebut media Barat] tidak ada sebenarnya, tetapi tidak ada yang menyatakannya. Statistik vital menyebut angka 250.000 yang sangat ditekankan dalam setiap laporan mengenai “blokade Aleppo timur” saat ini dilupakan atau diabaikan oleh mereka yang mengutipnya.

Apakah ada yang melaporkan kepada kita tentang bagaimana [nasib] warga Palmyra ketika kini ISIS kembali ke sana? Dan bagaimana dengan Mosul? Tidakkah kita ingin membebaskan satu juta warga sipil yang ditahan di sana oleh para jihadis; bukankah mereka juga layak diselamatkan, seperti 250.000, 100.000, atau 90.000, atau kurang dari itu, rakyat sipil yang terjebak di Aleppo timur?

Bagaimana mungkin kita mengeluhkan tentang kebohongan Trump dan Brexiteers ketika kita, para jurnalis, memotong-motong fakta di Timur Tengah? Saya juga menyadari bahwa koran dan televisi kita masih menyebut tembok pembatas Israel sebagai “pagar keamanan”; daerah penjajahannya disebut “permukiman”; “wilayah permukiman yang sedang disengketakan” bukannya “permukiman illegal”.

Apakah kita benar-benar bisa menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya pada [kasus] kebohongan pemilu ketika kita telah membohongi pembaca dan pemirsa kita selama bertahun-tahun?

Komentar saya: kalau jurnalis media mainstream saja sudah mengaku bahwa media mereka sering menyiarkan kebohongan, masak kamu masih percaya saja pada mereka tanpa cek n ricek? Berita-berita internasional yang dibuat oleh media-media terkemuka di Indonesia pun umumnya berupa penerjemahan berita dari media-media Barat itu. Media-media Islam radikal pun sebenarnya melakukan kesalahan yang sama seperti yang disebut Fisk: menyandarkan informasi dari satu pihak yang bertikai [Al Qaida/ISIS].

Semoga di tahun 2017 ini, kita semua bisa lebih bijak dan lebih cerdas dalam menyaring informasi. Amin.

——

-Ini ada video wawancara Carla Ortiz, artis AS yang tinggal di Suriah selama 8 bulan membuat film dokumenter Voice of Syria (kemungkinan rilis Maret 2017). Dalam wawancara ini, Carla bercerita: setelah dia menulis di facebook bantahan atas propaganda dahsyat melalui twitter mengenai “genosida di Aleppo” (karena saat itu dia juga sedang di Aleppo), ada upaya penculikan pada dirinya. Tapi dia diselamatkan oleh warga sipil dan tentara Suriah. Mereka berhasil membantu Carla dan timnya keluar dari Aleppo. Mereka berpesan pada Carla, “Please, saat kamu kembali ke AS, katakan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi.”