Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika

Category Archives: Amerika

Iklan

“Peran Liga Arab Pada Konflik di Timur Tengah Dalam Perspektif Ekonomi-Politik Internasional”

Pengeboman yang dilakukan Saudi terhadap bus sekolah yang menewaskan 51 anak-anak (Kamis, 9/8) tidak mendapatkan perhatian luas. Jauh berbeda dengan konflik Suriah, misalnya dalam klaim serangan senjata kimia di Ghouta. Hanya berbekal video yang disediakan White Helmets, belum dilakukan investigasi apapun, kecaman dan tuduhan sudah menyebar dengan sangat masif di seluruh dunia, disebarkan oleh media mainstream dan media Islam-takfiri. AS-Inggris-Perancis bahkan langsung mengirim rudal ke Suriah dan menghancurkan berbagai infrastruktur sipil.

Sebaliknya, atas kejahatan terang-terangan Saudi sejak 2015 di Yaman, trio AS-Inggris-Perancis hanya mengeluarkan pernyataan basa-basi. Dewan Keamanan PBB (dimana ke-3 negara itu jadi pemegang hak veto) hanya mengatakan “great concern” (sangat prihatin) dan “called for a credible and transparent investigation” (menyerukan investigasi yang kredibel dan transparan).

Bagaimana dengan Liga Arab? Tentu saja bungkam, jauh berkebalikan dengan kasus Suriah, Liga Arab bahkan memecat Suriah sebagai anggota.

(lebih…)

Iklan

Tentang Dollar

Pagi ini saya baca beberapa media online, ada yang menarik: Menko Ekonomi, Darmin Nasution, menjelaskan awal mula mata uang dolar AS (USD) dijadikan sebagai mata uang global. Intinya sih, karena USD kini sudah menjadi mata uang global, semua butuh, AS bisa semaunya cetak uang.

“Tapi AS bisa mencetak uang banyak-banyak tidak inflasi. Kenapa? Karena orang lain perlu dolar AS bukan cuma negaranya. Sehingga pada waktu dia menjalankan kebijakan menyelamatkan ekonomi dari krisis tahun 2007, 2008. Itu bank sentralnya membeli segala macam kredit macet yang enggak karu-karuan dan 2 hingga 3 tahun kemudian krisis sembuh,” kata Pak Darmin. [https://www.liputan6.com/bisnis/read/3599213/cerita-menko-darmin-soal-sejarah-dolar-as-jadi-mata-uang-global. Yang di sini agak lebih panjang beritanya: https://kuwera.id/data-berita/data-berita/kemenko-perekonomian/menteri-darmin-nasution-ungkap-sejarah-dolar-menguasai-dunia ]

———–

Nah, saya lengkapi ya, copas dari tulisan saya tahun 2010 (8 tahun yang lalu).

Begini: pertanyaan kritisnya: siapa sih yang cetak USD? Pemerintah AS? Nope. Yang cetak adalah The Fed (Federal Reserve).

Ironisnya, ternyata The Fed bukan bank milik pemerintah AS. Bank itu murni bank swasta, bahkan dimiliki bukan oleh orang AS, melainkan klan konglomerat Yahudi-Zionis, bernama Rothschild dan rekan-rekannya (antara lain: Rothschild Bank of London, Rothschild Bank of Berlin, Warburg Bank of Hamburg, Warburg Bank of Amsterdam, Israel Moses Seif Bank of Italy, Lazard Brothers of Paris, Citibank, Goldman & Sach of New York, Lehman & Brothers of New York, Chase Manhattan Bank of New York, dan Kuhn & Loeb Bank of New York.)

Awalnya pada 1837-1862 AS punya bank pemerintah yang mencetak uang (sertifikat emas/perak). Secara bertahap, uang kertas diperkenalkan kepada masyarakat dan menjadi alat tukar pengganti koin emas/perak. Lalu, pada tahun 1913, Rothschild dkk membentuk The Fed.

(lebih…)

Israel Membantu White Helmets Demi Apa?

Pagi ini saya baca twitter PM Israel Netanyahu (lihat foto), intinya…”Saya dikontak Presiden AS dan PM Kanada, dan beberapa negara lain, yang meminta bantuan Israel agar menyelamatkan anggota White Helmets. … Kami tidak akan berhenti melakukan aksi di Suriah MELAWAN UPAYA IRAN membangun pangkalan militer di sana.”

Perhatikan frasa ‘melawan Iran’.

Pada bulan Maret 2016, Wikileaks mempublikasikan email Hillary Clinton. Tertulis di dalam email itu, “Hubungan strategis antara Iran dan rezim Bashar Assad membahayakan keamanan Israel… Berakhirnya rezim Assad akan mengakhiri aliansi berbahaya ini… Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak mengatakan bahwa ‘penggulingan Assad akan menjadi serangan besar kepada Iran… ini akan amat melemahkan Hizbullah di Lebanon, Hamas dan Jihad Islam di Gaza.”

AS memiliki kebijakan khusus untuk membuka dokumen-dokumen rahasia kepada publik setelah melewati jangka waktu. Dalam dokumen rahasia CIA tahun 1983 yang sudah bisa diakses publik, terlihat bahwa AS berencana menyerang Suriah. Dalam dokumen ini disebutkan bahwa Suriah adalah penghalang bagi kepentingan AS di Lebanon dan Teluk karena rezim Assad menutup jalur pipa minyak Irak. CIA merekomendasikan agar Pemerintah AS meningkatkan tekanan kepada Assad dengan merancang diam-diam serangan militer di perbatasan Irak, Israel, dan Turki.

(lebih…)

Falasi ZSM (Lagi)

ZSM (istilah untuk orang Indonesia pembela Israel) punya satu hobi khusus: playing victim, memposisikan kaum Yahudi sebagai korban. Kecaman terhadap Israel dia samakan dengan ‘kebencian kepada Yahudi’. Seorang tokoh ZSM keliling ke seluruh Indonesia bikin acara nobar film bertema toleransi pada Yahudi. Toleransi antarumat beragama itu bagus, sangat bagus. Jangan lupa bahwa Rasulullah Muhammad bahkan sudah mengajarkannya ribuan tahun yang lalu: beliau menyuapi seorang Yahudi buta yang setiap hari mencaci-makinya.

Tapi, bila toleransi dipromosikan oleh seorang PEMBELA Israel, alarm kritis kita harus disetel. Karena, inilah falasi (kesalahan logika) yang sedang ditularkan oleh para ZSM: toleran pada Yahudi = toleran pada Israel.

Adakah manusia berhati nurani yang menolerir penjajahan dan penindasan?

Coba saja ditanyakan pada ZSM ini: mengapa Israel merampas tanah-rumah warga Palestina, bahkan sampai hari ini, perampasan terus berlanjut?

Jawabnya: *?*8&#$ [saking ruwet jawabannya, melantur ke sana-sini, bawa Alkitab, bahkan bawa Nabi Musa]

Ada ZSM yang mempertanyakan, mengapa Israel selalu disalahkan dalam berbagai konflik di Timteng?

Mungkin dia perlu membaca jurnal-jurnal ilmiah, yang ditulis oleh orang AS sendiri, atau dokumen CIA yang sudah declassified, bahwa segala perang yang dilakukan AS di Timteng adalah DEMI MENJAGA KEPENTINGAN ISRAEL.

(lebih…)

Dimana Ada Minyak, di Situ Ada AS

Intermezzo sejenak, berikut ini slide kumpulan meme “dimana ada minyak, di situ ada AS” 🙂

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Simak bagaimana sebenarnya kebijakan luar negeri AS di buku “Obama Revealed” (soft-file bisa diunduh di sini)

AS Mengakui Tak Punya Bukti Soal Serangan Gas Kimia di Suriah

US-DEFENSE-MATTISTanggal 2 Feb lalu (sudah lama ya, saya terlewat), Menhan AS, Jim Mattis menyatakan bahwa AS tidak punya bukti untuk mengkonfirmasi laporan dari kelompok-kelompok relawan (aid groups) yang menyatakan bahwa pemerintah Suriah menggunakan gas sarin terhadap warganya sendiri. [1]

Pernyataan Menhan AS itu ditulis oleh New York Times di paragraf pertama. Tentu saja, di kalimat-kalimat selanjutnya penuh tuduhan-tuduhan lain. Dan beginilah cara kita menganalisis berita, cari kata-kata yang bernilai data, lalu komparasikan dengan data-data lainnya. Jadi, saya tidak pernah menganjurkan “abaikan media mainstream”; melainkan: baca dengan kritis, ambil data yang valid dari sana. Pernyataan Menhan AS ini contohnya.

Ok, catet, AS tidak punya bukti atas serangan gas sarin di Suriah. Dan kita tahu, Trump meluncurkan 59 Tomahawk ke Suriah dengan alasan Assad membunuh warganya dengan sarin.

Dari April 2017 hingga Februari 2018 (sekarang) adalah waktu yang cukup lama. Dulu, AS  butuh sekitar 8 tahun untuk mengakui bahwa Irak tidak punya senjata pembunuh massal; padahal alasan itu yang dipakai AS untuk menginvasi Irak dan memporak-porandakan Negeri 1001 Malam itu.

(lebih…)

Yahudi Amerika-lah yang Mendorong AS untuk Berperang Lawan Iran

Obama-AIPAC

Presiden Barack Obama dan Presiden AIPAC Lee Rosenberg di Konvensi AIPAC di Washington (Mei 2011)

Ada yang bilang: AS itu terlibat di Timteng karena memandang Iran sebagai ancaman keselamatan mereka, karena Iran negara ‘evil’, punya nuklir, dst. Jadi, bukan karena menginginkan minyak. Saya pun teringat pada tulisan dari Philip Giraldi ini.

Philip adalah mantan pejabat CIA yang bertugas lebih dari 20 tahun di Eropa dan Timur Tengah di bidang terorisme. Selama 14 tahun, dia menjadi pakar terkemuka di “The American Conservative” (TAC). Tapi setelah menulis artikel yang satu ini (dimuat di unz.com), dia langsung dipecat pihak TAC via telpon.

Saya terjemahkan sebagian ya, soalnya panjang. Tapi segini saja sudah kelihatan kok, ini orang AS sendiri yang nulis, yang menjelaskan bahwa mitos “ancaman Iran” itu dihembus-hembuskan oleh Yahudi Amerika dan merekalah yang selalu mendorong AS untuk berperang melawan Iran.

(lebih…)

Rohingya dan Analisis Geopolitik & Ekonomi-Politik

Myanmar oil and gas pipeline

Beberapa kali saya tulis (baik di FB, FP, maupun buku), dalam menganalisis konflik itu ada 4 faktor yang harus diteliti, dua di antaranya yang terpenting adalah trigger (pemicu) dan pivot (akar). Dua faktor ini sering dicampuradukkan, yang trigger dianggap sebagai akar konflik dan orang berputar-putar berdebat di sana.

Konflik Rohingya kalau dipetakan, ada dua lapis: lapisan pertama atau permukaan-nya diframing sebagai konflik agama. Pasalnya, si pelaku beragama Buddha (yang ekstrimnya, tentu saja, tidak bisa digeneralisasi; tokoh-tokoh Buddha di Indonesia sudah berlepas diri dari para ekstrimis ini), dan si korban beragama Islam. Lapisan pertama ini yang sering digoreng sebagian pihak di dalam negeri untuk kepentingan politik dan uang. (Penjelasannya, baca lagi status saya sebelumnya [1])

Di sisi lain, rekam jejak biksu Wirathu yang secara provokatif membangkitkan kebencian kepada Muslim juga tidak bisa dipungkiri. Artinya, memang ada upaya pihak-pihak ekstrim di Myanmar yang memanfaatkan agama untuk mengeskalasi konflik. Tapi, ini BUKAN AKAR, ini adalah TRIGGER, pemicu.

Pemicu itu adalah sesuatu yang bikin publik marah lalu menjustifikasi kekerasan. Samalah seperti orang yang demen jihad di Indonesia, lihat foto-foto bocah berdarah di Suriah, langsung teriak jihad lawan Syiah, padahal ternyata foto hoax.

Lalu, akarnya di mana? Mereka yang terbiasa untuk menggunakan perspektif ekonomi-politik dan geopolitik dalam menganalisis konflik, sambil merem pun sudah menduga kuat bahwa pasti ada faktor kekayaan yang sangat besar di sana, yang sedang diperebutkan. Inilah analisis lapisan kedua-nya, yang lebih dalam.

Sepintas ini seolah tulisan konspirasi. Tapi tunggu, saya jelaskan dulu, dengan mengupas kasus Timteng karena saya memang lebih consern di Timteng.

(lebih…)

Tim Jihad Washington

Artikel yang ditulis Andre Vltchek ini menarik untuk dibaca. Andre mewawancarai banyak orang selain saya, antara lain seorang alumni “jihad” Afghanistan. Penuturan si alumni ini memperlihatkan pola yang sama dengan ‘jihad’ Suriah: dulu dia pergi ke Afghanistan karena konon katanya warga Muslim diserang oleh kaum komunis; sekarang kelompok yang sama ‘jihad’ ke Suriah karena konon warga Sunni dibantai Syiah. Kloter yang terakhir ini yang bikin repot, ketika ISIS keok di Suriah, mereka harus dibiayai pulang ke Indonesia dan harus pula dibiayai untuk ikut program deradikalisasi (entah ada manfaatnya atau tidak).

Silahkan baca di sini: Washington’s Jihadi Express: Indonesia-Afghanistan-Syria-Philippines

Ini pernyataan saya yang dikutip Andre:

“Jihad in Indonesia – against the Western imperialism? Oh no, no way…” smiles Dina Y. Sulaeman, an Indonesian political analyst, an author of the book “Salju Di Aleppo” (Snow of Aleppo):

“Jihad in which Indonesians want to participate is based on hate… In my book, I explain that the Indonesian fighters in Syria are mainly affiliated with several groups: ‘Ikhwanul Muslimin’, ‘Hizbut Tahrir’ and Al Qaeda/ISIS. Unfortunately these groups have supporters in Indonesia. They keep spreading fake photos and videos about Syria, to ignite sympathy, even anger of Indonesian people, so they give donations or even join jihad. It’s a good deal for them. They are waging ‘holy war’, they’ll go to heaven, and plus they get paid. They accuse president Assad of being ‘infidel’. That’s their rallying cry.”

“Indonesian mass media ‘coverage’ is only directly translating what is said by the Western media: the CNN, the BBC and others…. If not those, then at least Al-Jazeera which is often even worse… As a result, Indonesians are ‘very concerned’ about Syria.’ Of course, in my books I’m trying to correct the misconceptions, but the propaganda apparatus is so powerful.”

MBS

salman trumpMuda, impulsif, ambisius. Itulah sosok Pangeran Muhammad bin Salman (MBS). Kemarin ia diangkat jadi Putra Mahkota Arab Saudi (waliyul ‘ahd).

Setelah ayahnya, Salman bin Abdulaziz diangkat menjadi raja, MBS diberi banyak jabatan penting, antara lain Menteri Pertahanan, Ketua Dewan Ekonomi dan Pembangunan, komisaris Aramco, dan bahkan diangkat sebagai ‘Wakil Putra Mahkota’ (yang menjadi Putra Mahkota saat itu adalah sepupunya, Muhammad bin Nayef).

Sebagai Ketua Dewan Ekonomi, MBS berambisi mengangkat kembali perekonomian Saudi yang terpuruk akibat anjloknya harga minyak (dan keanjlokan ini juga kesalahan Saudi sendiri yang meningkatkan produksi agar harga minyak turun sedikit, sehingga mengalahkan para pesaingnya; namun turunnya malah kebablasan, sampai saat ini). MBS melakukan upaya diversifikasi ekonomi agar tak lagi bergantung pada minyak. Inilah yang melatarbelakangi tur Asia King Salman (yang akhirnya memberikan investasi 65 Miliar USD ke China tapi cuma invest 8 Miliar USD ke Indonesia yang merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia).