Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika (Laman 2)

Category Archives: Amerika

[UPDATE] Mengapa Hoaks Soal Suriah Masih Penting Dibahas?

—-
note no 2 di paling bawah, sudah diganti
—–

Di tulisan sebelumnya, Video yang “Menyesatkan”, saya membenturkan soal Suriah dan Covid. Saya mempertanyakan mengapa FB dan organisasi pemberantas hoaks (dan belakangan, Tempo ikut-ikutan) bersemangat sekali “fact check” video Dr Judy yang menurut mereka hoaks, tapi dulu soal Suriah adem ayem aje? Bahkan mereka mengirim surat “ancaman” (kalau share hoaks lagi, akun akan dihapus) pada semua yang share video itu, sekitar 4000-an orang yang share.

Perang Suriah berlangsung 9 tahun, hingga kinipun milisi-milisi teror (disebut “mujahidin” oleh orang Ikhwanul Muslimin dan HTI) masih bercokol di Idlib. Inilah perang paling dahsyat di era modern, dimana negara-negara besar dan negara “Islam” bersatu-padu menggulingkan sebuah pemerintahan yang sebenarnya sangat moderat, sekuler, sosialis, dan sangat pro-Palestina.

Milisi “jihad” berdatangan dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Donasi Suriah dengan sangat mudah dikumpulkan, dalam beberapa hari saja belasan milyar yang bisa dikumpulkan oleh para penggalang donasi hanya dengan kampanye satu isu. Misal, “Save Aleppo”, “Save Ghouta”, atau “Madaya Menjerit”.

Mengapa sedemikian banyak orang mau bergabung dengan milisi “jihad” Suriah? Mengapa sedemikian mudah warga terprovokasi untuk menyumbang (totalnya, diprediksi) sampai ratusan milyar?

(lebih…)

Video yang “Menyesatkan”

Seperti diduga, akhirnya video Plan***** dihapus FB. Semua yang menshare video itu dapat “surat cinta”. Di surat itu, disebutkan bahwa FB telah bekerja sama dengan Mafindo untuk melakukan “fact check” dan menyatakan isinya menyesatkan.

[Update: ternyata video masih bisa diputar, hanya ditutup, dan ada tulisan kecil di paling bawah “lihat video”]

Di surat itu ada ancaman, kalo sekali-kali lagi ngeshare info “menyesatkan” akun akan dihapus. Apa sih yang disebut “menyesatkan”? Kalau kata CEO Youtube, “Apapun yang tidak sejalan dengan kata WHO, akan dihapus.” (video Plan***** awalnya ada di Youtube dan dihapus).

Baiklah FB. As you wish. Saya toh cuma numpang nulis gratis di FB, suka-suka yang punyalah. Meski, saya bertanya-tanya juga nih… info-info hoaks soal Suriah kok tidak didebunk sama FB dan Mafindo ya? Padahal dampak hoaks Suriah dahsyat juga lho: intoleransi semakin merajalela di Indonesia, ada banyak orang yang gabung sama ISIS, ada “main bom” di Suriah, ada yang “main bom” di Indonesia.

(lebih…)

Menganalisis “Teori Konspirasi”

Asumsi yang dibangun oleh pengikut teori konspirasi adalah “ada sekelompok manusia (“elit global”) yang mendesain dunia ini. Mereka sedemikian berkuasanya sehingga apapun yang terjadi hari ini adalah hasil desain mereka.”

Sementara, asumsi yang dimiliki para penstudi Ekonomi Politik Global: tak ada aktivitas ekonomi yang terjadi di ruang kosong (pure economic), melainkan pasti ada frame politiknya. Politik dan ekonomi, keduanya saling berjalin-berkelindan.

Nah, saya coba kasih panduan cara membedakan mana “teori konspirasi”, mana “kajian Ekonomi-Politik Global”.

1. Apakah ada sekelompok orang yang ingin menguasai ekonomi dunia?

(lebih…)

Ini video yang sedang viral, https://web.facebook.com/cerdasgeopolitik/videos/170592417620001/?t=0

Kalau tidak setuju, tidak perlu nyolot. Mari biasakan menerima informasi dengan kepala dingin.

Buat saya pribadi, ini seperti perjalanan menyusun kepingan puzzle. Bahkan pemerintah negara-negara (baik negara maju atau berkembang), termasuk Indonesia, juga dalam proses mencari solusi terbaik. Karena ini fenomena baru. Wajar saja bila ada satu kebijakan dipakai, lalu data baru masuk, diubah lagi.

Yang penting adalah persatuan bangsa, kita bersama-sama mencari solusi terbaik, dengan pikiran terbuka, mau mendengar suara-suara antimainstream yang didukung sains, bukan hanya suara bising orang-orang yang jelas-jelas punya kepentingan.

 

Masalahnya di Mana Sih?

Pagi-pagi, pening kepala saya baca beberapa komen soal video dari FP sebelah yang saya share kemarin (tentang jejaring bisnis BG).[1]

Tapi, saya berusaha menyadari bahwa semua orang punya “frame” atau “paradigma” masing-masing. Juga, yang baca postingan itu, sangat mungkin belum baca postingan saya sebelumnya. Walhasil, ibaratnya, obrolan saya sudah sampai halaman 100, dia baru mulai di halaman 1 lalu mengejek, padahal dia yang belum “nyampe”.

*Hembuskan napas.. sabar..

Jadi, ada beberapa komentator yang bertanya (dengan nada sinis; kalau nanya baik-baik tentu no problem): MASALAH-nya di mana sih kalau BG menguasai industri kesehatan global? Biarin aja lah, toh kita juga butuh produknya?

Jawaban saya:

(lebih…)

Health Security (Keamanan Kesehatan)

Mungkin ada yang heran, mengapa bu Dina Sulaeman ikut-ikutan bahas Covid? Bukannya dia selama ini fokus di kajian Timur Tengah?

Jadi sebenarnya… saya itu penstudi/akademisi Hubungan Internasional dan di HI itu, kajiannya luaaaas… banget. Apa saja bisa dikaji oleh orang HI. Tapi tiap orang tentu punya passion-nya sendiri, ada yang fokus di kajian Asia Tenggara, Eropa; ada yang fokus di lingkungan (environmentalism); ada yang fokus di kajian keamanan (security), dll.

Nah, kajian security (keamanan) ini, terbagi dua, keamanan tradisional (perang, militer), dan keamanan nontradisional, yaitu membahas tentang keamanan manusia. Kebetulan, saya juga mengajar di mata kuliah ini.

(lebih…)

Covid-19 di Suriah

Jurnalis independen asal Kanada, Eva Bartlett, yang saat ini berada di Suriah, menceritakan bahwa Damaskus sudah mulai ‘dibuka’.

Menurut Eva, Suriah telah mengambil pendekatan moderat untuk berurusan dengan Covid. Bila pemerintah sama sekali tidak mengambil tindakan (lockdown), rezim Barat pasti akan menghujani Assad dengan berbagai tuduhan. Pemerintah kemudian menerapkan pembatasan (bukan lockdown total).

Tapi kini penduduk bisa beraktivitas mulai jam 6 pagi sampai 7:30 malam. [selengkapnya tulisan Eva: https://www.facebook.com/EvaBoBeeva/posts/3190459437630695 ]

Kondisi Damaskus (29 April) bisa dilihat di video ini.

https://web.facebook.com/EvaBoBeeva/videos/3187253887951250/?t=0

Covid-19 di AS

tucker carlsonJadi ceritanya begini, publik di AS (dan negara-negara Barat umumnya) sebagiannya sangat consern atas efek dari Covid-19 terhadap HAM dan demokrasi. Level diskusinya memang sudah ‘beda’ dengan negara berkembang. Apalagi Indonesia, yang sebagian netizennya masih saja mengaitkan segala-galanya dengan pilpres 2014/2019 dan sebagian lagi sangat terpesona pada segala yang berbau “Barat”. Kalau ada yang menyampaikan pendapat berbeda dari “Barat”, mereka langsung sok-sok’an berkata “konspirasi!”

Nah, salah satu kasus yang sedang heboh dibahas oleh netizen Barat adalah penyensoran oleh Youtube. Kasus terbaru adalah penghapusan video briefing dua dokter dari California oleh Youtube. Jangankan video aslinya, video yang membahas video itu pun, ikut diblokir Youtube. Video asli (yang dihapus itu) sudah ditonton oleh 5 juta orang.

(lebih…)

Apapun yang Bukan Kata WHO, Akan Dihapus Youtube

susan ceo youtubeDi video ini,

https://web.facebook.com/233756860383910/videos/1495218197304894/

CEO YouTube, Susan Wojcicki, hari Minggu yll dalam wawancaranya dengan CNN, mengatakan:

“Jadi kami membicarakannya sebagai [upaya] meningkatkan informasi yang otoritatif. Kami juga berbicara tentang menghapus informasi yang bermasalah, misalnya. tentu saja, apa pun yang tidak ada landasan medisnya.

Jadi orang-orang berkata, seperti, pakai vitamin C, kunyit, atau sejenis itu – akan menyembuhkan Anda. Itu adalah contoh dari hal-hal yang akan dianggap sebagai “pelanggaran aturan” kami (Youtube). Apa pun yang bertentangan dengan rekomendasi WHO akan merupakan pelanggaran aturan Youtube. Jadi penghapusan (video) merupakan kebijakan sangat penting yang kami ambil.”

Padahal, WHO saja berkali-kali ganti ‘kebijakan’. Misalnya, awalnya WHO bilang, orang sehat ga usah pakai masker. Untungnya banyak pengambil kebijakan yang lebih bijak daripada WHO, misalnya Republik Ceko (saya pernah share videonya di sini), yang mewajibkan masker, masker apa saja (bahkan di sana orang-orang ramai-ramai jahit masker kain untuk dibagikan).[1] Lalu, WHO berubah pikiran, dan menganjurkan publik pakai masker kain.

Lalu, ingat apa yang dilakukan WHO soal virus Flu Burung, berdasarkan kesaksian mantan Menkes Dr. Siti Fadilah Supari di bukunya (terbit tahun 2009, sebelum ada cebong-kampret, jadi tak usah nyinyir mengaitkan dengan politik hari ini). [2]

Kaitkan pernyataan CEO Youtube ini yang akan memblokir video-video yang bertentangan dengan WHO, dengan fakta bahwa donatur terbesar ke dua di WHO adalah Bill Gates, yang sudah mengultimatum bahwa lockdown harus diteruskan sampai 18 bulan lagi ketika vaksin yang dia sedang usahakan (bekerja sama dengan Big Pharma) selesai. [3]

Lagi pula, vit C, kunyit, jahe, dll itu memang bukan untuk MENYEMBUHKAN, tapi membangun antibodi. Karena yang melawan virus di dalam tubuh kita adalah antibodi tubuh kita sendiri. Ini pengetahuan umum dasar dalam menjaga kesehatan keluarga, sejak lama, jauh sebelum muncul Covid.

Mari bedakan “waspada” dengan “ketakutan”. Kita waspada selalu (minum vit C, jahe, dll itu juga bentuk WASPADA), tapi mari tolak penyebaran ketakutan yang sudah overdosis yang disebarkan oleh individu/lembaga yang sangat jelas akan dapat keuntungan besar dari industri kesehatan.

Kepada follower FP ini yang Muslim, selamat menjalankan ibadah Ramadhan, mari berdoa sama-sama, supaya wabah ini segera hilang di muka bumi. Sudah terlalu banyak korbannya, baik korban virusnya, maupun korban kesulitan ekonomi yang diakibatkan virus ini. 

Saya juga mohon maaf setulus hati untuk follower FP ini, terutama mereka yang pernah saya omelin dan judesin di kolom komen.

[1] https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/205446787540581/
[2]https://web.facebook.com/…/a.2341431836786…/904523149973941/
[3]https://www.facebook.com/233756860383910/videos/846342665866995/

Covid-19, Flu Spanyol, dan Sejarah Kejahatan Militer AS

Timur Tengah, termasuk Semenanjung Arab, pada tahun 1918 pernah terjangkit pandemik yang di dunia Barat disebut “Flu Spanyol”. Di Arab, tahun 1918 disebut sebagai “Tahun Pengampunan” atau “Tahun Demam”. Demikian ditulis oleh Guido Steinberg, orang Jerman spesialis (peneliti) Arab, yang telah menulis dua artikel tentang dampak flu ini di Semenanjung Arab dan Suriah.

Steinberg menulis, dalam beberapa bulan, flu menyebar di berbagai kota dan desa, dan secara dramatis mengurangi populasi di kawasan itu karena banyaknya orang yang meninggal. Warga kemudian menggunakan selimut untuk memindahkan mayat ke masjid untuk disholatkan dan dimakamkan. Penggali kubur bekerja tak henti sepanjang hari, kecuali di waktu sholat. [1]

Secara total, di seluruh dunia ada 50 juta orang yang tewas akibat flu tahun 1918 ini.

Bagaimana asal muasal munculnya Pandemi Flu 1918 ini?

(lebih…)