Kajian Timur Tengah

Beranda » Arab Saudi

Category Archives: Arab Saudi

China Daily tentang perkembangan terbaru Saudi-Iran(mengutip pendapat saya)

Pada KTT yang dipimpin Dewan Kerjasama Teluk baru-baru ini di Jeddah, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal Bin Farhan mengatakan kepada wartawan bahwa pembicaraan antara negaranya dan Iran telah positif, dan bahwa tangan Saudi diperluas ke Iran untuk mencapai hubungan normal.

Dan, “Irak memiliki peran penting dan mendasar dalam mendorong negosiasi ke depan dengan cara yang membuat kami dapat melanjutkan pembicaraan ini,” menteri luar negeri Saudi seperti dikutip oleh Rudaw, sebuah kelompok media di Wilayah Kurdistan Irak.

Dina Yulianti Sulaeman, direktur Indonesia Center for Middle East Studies, mengatakan kepada China Daily bahwa para pemimpin Saudi kali ini “bersikap lebih rasional” karena mereka menyadari bahwa kekuatan hegemonik Amerika Serikat tidak lagi berfungsi sebaik “sebelumnya”.

Selengkapnya:

https://www.chinadailyhk.com/article/282110?fbclid=IwAR3R3ZJmsBP3thj-qF2E0YbOwGUhIWKDvatKXQ6W-CBQyvNXg1iTCbPNjKw#Saudi-Iran-pragmatic-talks-seen-good-for-region

Para elit yang tidak kompeten.

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/3278202662402895

Biden dan Macron ngobrol pelan di KTT G7, tapi ada wartawan yang mendengarkan. Intinya, Macron mengatakan kepada Biden bahwa Arab Saudi dan UEA tidak memiliki kapasitas minyak yang cukup untuk menggantikan minyak Rusia:

Kata Macron, “Saya berbicara dengan MbZ (Mohammed bin Zayed). Dia memberitahuku dua hal. Bahwa dia sudah maksimal, pada kapasitas produksi maksimal. Inilah yang dia klaim. Dan kemudian dia mengatakan bahwa Saudi dapat meningkatkan produksi sebesar 150.000 barel per hari. Mungkin sedikit lebih, tetapi mereka tidak akan memiliki kapasitas tambahan sampai enam bulan dari sekarang.”

(lebih…)

Agak heran juga…hari gini kok masih ada yang ga paham konflik Suriah? Masih bilang: “Awalnya demo damai lalu direpresi oleh rezim.” Padahal sudah berlalu 11 tahun dari pertama kali munculnya aksi demo di Deraa/Daraa. Kalau yang bilang gini simpatisan Al Nusra/Al Qaida atau orang awam sih bisa “dimaklumi” ya.. tapi kalau bukan.. entahlah.. speechless deh…

Kalau rezim Assad jahat sama Sunni, mendiskriminasi, apa mungkin mahasiswa-mahasiswa Sunni dari Indonesia banyak yang dapat beasiswa ke sana?

**

Mufti Besar Suriah, Syeikh Ahmad Badruddin Hassoun (ulama Sunni) dalam wawancaranya dengan Del Spiegel :

“Di bulan Maret, terjadi sebuah demo yang legal dan damai di Daraa menentang gubernur wilayah itu yang telah memenjarakan beberapa pelajar. Daraa adalah kota di dekat perbatasan Jordan yang dikenal banyak penyelundupan. Saya pergi ke sana segera dan berhasil menenangkan situasi, dan saya menjanjikan dilakukannya penyelidikan independen. Atas saran saya, Presiden memecat gubernur itu. Tetapi, beberapa imam yang datang dari luar negeri, terutama dari ARAB SAUDI, mengacaukan segalanya dengan pidato-pidato kemarahan mereka. Kanal-kanal televisi yang bermarkas di negara-negara Teluk, Al-Jazeera dan Al-Arabiya, membantu mereka dengan menyebarkan kebohongan bahwa para ulama berpihak kepada demonstran anti-Assad.”

***

Tulisan lama ini bagus juga dibaca-baca, barangkali memang ada yang ketinggalan info.

Deraa, Awal Sandiwara yang Hancurkan Syria

http://resistensia.org/…/deraa-awal-sandiwara…/

“Rusia-Ukraina Sedang Panas, Indonesia Malah Dibujuk untuk Buka Hubungan Diplomatik dengan Israel”

Ini mungkin tulisan saya terakhir pekan ini ya, mau balik ke kerjaan. Ini ‘utang’ komentar atas kejadian beberapa hari yll.

Mungkin berita ini terabaikan karena perhatian publik tersedot oleh kasus Rusia-Ukraina. Tanggal 3 Maret, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed Bin Salman, diwawancarai oleh media. Saya mengutip dari Al Arabiya, bahwa dalam wawancara itu, MBS mengatakan, “For us, we hope that the conflict between the Israelis and Palestinians is solved. We don’t look at Israel as an enemy, we look to them as a potential ally, with many interests that we can pursue together. But we have to solve some issues before we get to that.” [1]

[Bagi kami, kami berharap konflik antara Israel dan Palestina dapat diselesaikan. Kami tidak melihat Israel sebagai musuh, kami melihat mereka sebagai sekutu potensial, dengan banyak kepentingan yang dapat kami kejar bersama. Tapi kita harus menyelesaikan beberapa masalah sebelum kita sampai ke sana.]

Perhatikan: MBS mengatakan bahwa “ada masalah yang harus diselesaikan dulu.” Artinya, MBS mengisyaratkan, Saudi baru akan membuka hubungan diplomatik kalau “masalah terselesaikan.”

Nah, dua hari kemudian, 5 Maret, entah kebetulan atau tidak (cuma buat saya, kok kayak “kebetulan,” ujug-ujug kok bahas normalisasi): di Kompas muncul tulisan orang Indonesia yang mendukung normalisasi hubungan diplomatik Indonesia-Israel.

Dia mengarahkan argumen ke masalah agama. Dia tulis: “…persepsi masyarakat Indonesia yang sebagian besar menganggap negara Israel sama dengan Yahudi dan Yahudi sama dengan Israel. Mereka juga mengasumsikan Palestina sama dengan Muslim/Arab.”

Lalu, bla-bla-bla menceritakan ini-itu soal Yahudi. Di Indonesia juga ada lho, orang Yahudi. Beberapa negara Arab juga sudah buka hubungan diplomatik, lho. Dll.

Lalu, paragraf akhirnya begini:

(lebih…)

Kumpulan cuitan (tweet) saya soal Yaman

(1) Hari Selasa, Lt Gen McKenzie, komandan US Central Command datang ke Abu Dhabi. Lalu hari ini, ada ledakan. Sejam yll Reuters menulis, ini bukan serangan misil tapi ledakan silinder gas. Apapun itu, reputasi UAE sebagai pusat bisnis yang aman di Timteng sudah..

(2) terganggu. Ekonomi UAE sangat bergantung pada rasa aman pelaku bisnis. Ada semacam pepatah yang tersebar terkait UAE: kalau rumahmu terbuat dari kaca, jangan melempari rumah orang lain. Maksudnya, tahu dirilah, balasan dari pihak yang dilempar akan menghancurkan rumahmu.

(3) Tidak penting apakah ledakan di UAE ini ledakan silinder gas, atau serangan drone. Efek ketakutan sama fatalnya untuk sebuah negara yang 80% penduduknya adalah warga asing yang datang untuk bekerja/berbisnis.

(lebih…)

“Normalisasi” Itu Seharusnya Kayak Gini

Istilah “normalisasi” dengan Israel, sebenarnya agak aneh. Indonesia didorong pihak-pihak tertentu untuk “menormalisasi” hubungan dengan Israel. Indonesia kan tidak pernah menjalin hubungan diplomatik sebelumnya dengan Israel dengan alasan “penjajahan Israel pada Palestina.” Jadi apanya yang dinormalkan? Menormalkan [=menganggap normal] penjajahan?

Ada fenomena yang lebih tepat disebut “normalisasi”, misalnya kembalinya hubungan baik antara Suriah dan Yordania. Selama perang Suriah, Yordania sudah berkhianat kepada tetangganya itu, dengan menyuplai senjata kepada para “demonstran” di Daraa dan membiarkan perbatasannya ditempati “pasukan-pasukan asing yang tidak berbahasa Arab” (demikian dilaporkan sejumlah media, di tahun 2011, di awal-awal konflik Suriah).

(lebih…)

Masjidil Haram Sudah “Bebas”

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/1278843179223629

Sejak tadi pagi saya mendapati video-video dan info-info bahwa mulai hari ini (17 Okt 2021), Arab Saudi meniadakan berbagai aturan “social distancing”, termasuk di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Di video itu terlihat, stiker pembatas antar-jamaah (supaya shaf tidak rapat) sudah disingkirkan, sehingga shaf sholat bisa rapat lagi sebagai seharusnya.

Video ini saya rekam sendiri dari televisi (siaran live langsung dari Mekah), tgl 17 Okt sekitar pukul 15.20 WIB. Bisa lihat di video ada penanda waktu, jam 11.23 waktu Mekah (jadi belum masuk waktu sholat, tengah hari, pastinya panas banget). Nanti saat waktu sholat zuhur di sana, akan saya rekam lagi, saya taruh di kolom komen ya (ga janji lho, kalau ingat aja).

Berikut ini saya copas-terjemah dari Al Arabiya (media Saudi):

(lebih…)

Daraa

Karena besok saya akan webinar, membahas hoaks (saya khusus bahas hoaks Suriah, narsum lain, bahas topik lain), saya jadi teringat pada kisah kota Daraa.

Dulu, di akhir tahun 2011, saya pernah menulis soal Daraa, kota tempat dimulainya aksi-aksi demo menentang Bashar Assad. Banyak yang menyamakan aksi demo ini dengan aksi demo di negara-negara Timteng lainnya di masa yang sama (Arab Spring). Padahal tidak, yang terjadi di Suriah berbeda (demikian pula Libya).

Di Daraa, sebelum aksi demo yang menurut media Barat “damai”, senjata-senjata sudah disiapkan, masuk dari Jordan. Tentara-tentara berbahasa non-Arab sudah berdatangan di perbatasan Jordan-Suriah. Lalu, ketika terjadi bentrokan antara polisi dan demonstran, media Barat (dan media-media nasional di Indonesia yang cuma modal copas-terjemah) dengan sangat masif menyebarluaskan narasi: Assad diktator, membantai rakyatnya sendiri.

(lebih…)

Tentang Qatar

Sebenarnya, yang mengikuti dengan intens konflik Suriah, pasti sudah tahu rekam jejak Qatar dalam konflik Suriah.

Tapi mungkin ada yang belum paham, jadi saya akan ceritakan sedikit.

Qatar memberi perlindungan pada Yusuf Qardhawi yang memfatwakan “jihad” di Suriah, bahkan membunuh siapa saja, baik sipil, militer, bahkan ulama, yang bekerja sama dengan Assad. Fatwa mengerikan ini disiarkan oleh televisi. Tak lama setelah fatwa keji ini keluar, di Damaskus terjadi aksi bom bunuh diri di dalam masjid. Saat itu, Syekh Buthi, ulama besar Suriah (Ahlussunnah) sedang berceramah, beliau pun gugur syahid.

Qardhawi adalah ulama Ikhwanul Muslimin dan sebagian “jihadis” yang angkat senjata di Suriah adalah jihadis IM. Di awal era Perang Suriah, Khaled Mash’al, tokoh Hamas (berideologi Ikhwanul Muslimin) yang bertahun-tahun dilindungi oleh pemerintah Suriah, membelot dan pindah ke Qatar. Sementara di lapangan, sebagian milisi Hamas malah ikut perang bersama “jihadis” melawan Assad.

(lebih…)

Pengamat Timur Tengah: Ini Penyebab Taliban Berkuasa Tanpa Perlawanan

FIXINDONESIA.COM – Pengamat Timur Tengah yang juga Dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Dina Yulianti menyebutkan, jika melihat pemberitaan baik di media nasional dan internasional, proses pengambilalihan kota demi kota di Afghanistan berjalan cepat dan nyaris tidak ada perlawanan. Bahkan ibu kota pun (Kabul) jatuh ke tangan Taliban nyaris tanpa perlawanan. 

“Presiden Afghanistan pergi begitu saja, padahal sudah berjanji akan terus berjuang melawan Taliban. Ada dua kemungkinan, pertama Taliban punya kekuatan yang besar. Namun, ini kontradiktif dengan informasi bahwa jumlah pasukan Taliban cuma enam puluh ribuan. Sementara pasukan Afghanistan yang dipersenjatai dan dilatih AS selama ini mencapai tiga ratus ribuan,” kata Dina kepada FIXINDONESIA.COM, Selasa 17 Agustus 2021. 

Menurutnya, kemungkinan kedua, Taliban mendapatkan dukungan dari sebagian warga Afghanistan sehingga mereka begitu saja menyerahkan kendali kota kepada Taliban.

(lebih…)