Kajian Timur Tengah

Beranda » Bahrain

Category Archives: Bahrain

Angelina Jolie, Syria, dan Humanitarian Intervention

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

(Tulisan ini sudah dimuat di website IRIB Indonesia)

Meski secara de facto upaya para pemberontak telah gagal menggulingkan Bashar Assad, namun konflik di Syria masih belum reda.  Negara-negara Barat, Turki, dan Arab (Saudi, Qatar, Emirat, Libya)  yang selama ini mendukung kelompok pemberontak  (mulai dari dana, senjata, dan bahkan mengirim pasukan untuk membantu kelompok pemberontak), masih terus melancarkan upaya-upaya untuk menghalangi proses stabilisasi di Syria.

Kebenaran di Syria satu persatu mulai terungkap (antara lain, pelanggaran hukum internasional yang dilakukan oleh AS dan sekutunya dengan mengirim pasukan dan senjata secara illegal ke Syria; laporan-laporan dari media Barat sendiri tentang aksi brutal para pemberontak dalam membunuhi orang-orang pro Assad), namun AS dan sekutunya tetap tak mau berhenti mengganggu Syria.

Kabar terakhir menyebutkan bahwa empat senator AS, salah satunya John McCain, menyerukan agar AS memberikan bantuan senjata kepada pemberontak Syria. Obama dan PM Turki, Erdogan, juga diberitakan telah bertemu untuk membahas pemberian bantuan peralatan kepada para pemberontak.

Saya tidak ingin membahas lebih lanjut tentang hipokritas Barat dan betapa media Barat telah berhasil menipu banyak orang, melakukan pembunuhan karakter terhadap Assad, bahkan sampai-sampai ada orang Indonesia yang menggalang dana untuk ‘korban’ Assad. Saya ingin menyoroti masalah ‘bantuan internasional’ dari sisi kajian Hubungan Internasional.

(lebih…)

Iklan

Bahrain dan Undangan Pesta Kerajaan Inggris

Kekerasan rezim Al Khalifa di Bahrain masih terus berlanjut. Raja Hamad al Khalifa dan pamannnya, Pangeran Khalifa al Khalifa yang menjabat sebagai perdana menteri selama 40 tahun sejak Bahrain meraih ‘kemerdekaan’ dari Inggris tahun 1971, terus merepresi kelompok oposan secara brutal. Rezim Al Khalifa telah melakukan apa yang disebut ‘hukuman kolektif’, yaitu menghukum banyak orang atas ‘kesalahan’ yang dilakukan sekelompok orang. Sebagaimana diketahui, kaum oposan Bahrain sejak pertengahan Februari melakukan aksi damai menuntut dibubarkannya sistem monarkhi dan dibentuknya pemerintahan yang demokratis. Protes ini dihadapi dengan senjata. Ketika rezim Bahrain tidak mampu lagi membubarkan aksi-aksi demonstrasi, mereka meminta bantuan dari Arab Saudi dan UAE. Sejak 14 Maret, tentara kedua negara Arab itu telah mengirimkan pasukan polisi dan militernya ke Bahrain.

Selain membubarkan aksi-aksi demonstrasi dengan cara brutal, mereka juga menghancurkan sekitar 20 masjid, menggrebek dan bahkan menghancurkan rumah-rumah, serta menangkap orang-orang secara massal untuk dipenjara dan disiksa (Press TV, 9/5). Bahkan, selain rumah sakit juga dibombardir, dokter-dokter dan tenaga medis juga menghilang sehingga para demonstran yang terluka tidak bisa mendapatkan perawatan yang semestinya.

Kondisi di Bahrain saat ini sudah sangat serius, namun Dewan Keamanan PBB tetap diam. Media mainstream pun tak banyak yang membahasnya. Bahkan, mereka pun tidak memberitakan bahwa menjelang pernikahan William dan Kate, muncul protes dan tekanan dari publik Inggris kepada keluarga kerajaan. Apa pasal? Karena, kerajaan Inggris mengundang Raja Al Khalifa. Publik Inggris cukup sadar siapa Al Khalifa, sehingga mereka tidak sudi bila Al Khalifa diundang (Global Research 26/4).

(lebih…)

Krisis Timur Tengah, Minyak, dan Operasi Siluman

by: Hendrajit

Apa yang sedang terjadi di Libya dan Bahrain, merupakan operasi siluman yang disponsori oleh dua konglomerat besar Rockefeller dan Rothschild melalui Dewan Kerjasama Teluk (GCC), dan melibatkan setidaknya enam negara yaitu Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, Oman dan Qatar.

Langkah awal yang mereka tempuh adalah menyerukan kepada dunia internasional agar tidak memasuki wilayah udara Libya. Barang tentu, hal itu dimaksudkan untuk menciptakan situasi destabilisasi terhadap rejim Moamar Qadafi, yang pada akhirnya akan memicu gelombang perlawanan untuk menggusur sang tiran yang notabene merupakan binaan Amerika-Inggris sejak 2003.

Skema kerjasama strategis yang dirancang dua konglomerat Amerika-Inggris Rockefeller dan Rothschild itu bermula sejak 1979, menyusul runtuhnya kerajaan Iran di bawah kepemimpinan Shah Reza Pahlevi. Sebagai buntut dari diberlakukannya nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak asing di Iran, beberapa pengusaha minyak Amerika dan Eropa dipaksa untuk mencari basis kekuatan dan pengaruh baru di Timur Tengah.

(lebih…)