Kajian Timur Tengah

Beranda » Buku Saya

Category Archives: Buku Saya

Reminder, besok ada acara diskusi tentang radikalisme di masa Covid, sekaligus membedah kedua buku ini.
Saya mau giveaway lagi: 2 set buku ini, diberikan untuk 2 orang peserta acara diskusi besok. Khusus alamat Indonesia, kalau tinggal di luar negeri, ya kasih aja alamat Indonesia-nya 🙂

Link info acara: https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/photos/a.234143183678611/961320237627565/

[UPDATE] Mengapa Hoaks Soal Suriah Masih Penting Dibahas?

—-
note no 2 di paling bawah, sudah diganti
—–

Di tulisan sebelumnya, Video yang “Menyesatkan”, saya membenturkan soal Suriah dan Covid. Saya mempertanyakan mengapa FB dan organisasi pemberantas hoaks (dan belakangan, Tempo ikut-ikutan) bersemangat sekali “fact check” video Dr Judy yang menurut mereka hoaks, tapi dulu soal Suriah adem ayem aje? Bahkan mereka mengirim surat “ancaman” (kalau share hoaks lagi, akun akan dihapus) pada semua yang share video itu, sekitar 4000-an orang yang share.

Perang Suriah berlangsung 9 tahun, hingga kinipun milisi-milisi teror (disebut “mujahidin” oleh orang Ikhwanul Muslimin dan HTI) masih bercokol di Idlib. Inilah perang paling dahsyat di era modern, dimana negara-negara besar dan negara “Islam” bersatu-padu menggulingkan sebuah pemerintahan yang sebenarnya sangat moderat, sekuler, sosialis, dan sangat pro-Palestina.

Milisi “jihad” berdatangan dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Donasi Suriah dengan sangat mudah dikumpulkan, dalam beberapa hari saja belasan milyar yang bisa dikumpulkan oleh para penggalang donasi hanya dengan kampanye satu isu. Misal, “Save Aleppo”, “Save Ghouta”, atau “Madaya Menjerit”.

Mengapa sedemikian banyak orang mau bergabung dengan milisi “jihad” Suriah? Mengapa sedemikian mudah warga terprovokasi untuk menyumbang (totalnya, diprediksi) sampai ratusan milyar?

(lebih…)

Selamat pagi:)

Pagi ini saya melewati pagi dengan berjemur (di loteng) dan membaca buku baru ini, berjudul MBS (karya Ben Hubbrard, terbit 2020). Baru sampai halaman 78. Nanti kalau sudah tamat, insyaAllah saya bagi ceritanya di sini.

Kutipan menarik halaman 38:

But there was talk inside the administration of finding an “MBS whisperer” who could mentor the young prince. John Kerry was suggested, but was too busy. Ash Carter, the secretary of defense, was MBS’s natural counterpart, but wasn’t interested. Vice President Joe Biden was discussed, but deemed too old.

In the end, the idea never took off, at least not until a young Jewsih real estate investor from New Jersey named Jared Kushner entered the White House with the next administration.

(lebih…)

Untuk yang berminat membaca artikel-artikel kajian Timur Tengah, silakan download gratis di web ini.

https://ic-mes.org/jurnal/index.php/jurnalICMES/issue/view/6

Judul:
1. Peranan Diplomat Indonesia dalam Memperjuangkan Palestina di PBB (Masa Presidency of the UNSC Mei 2019) oleh Teuku Rezasyah

2. Penggunaan Leksikon Allāh Sebagai Ekspresi Tuhan: Pengaruh Budaya Arab dalam Penerjemahan Bibel Ke Bahasa Arab oleh Yuangga Kurnia Yahya

3. Perbandingan Nitaqat dan Tawteen: Kebijakan Ketenagakerjaan di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab oleh Safira Novia Safitry dan Agus Haryanto

4. Perbedaan Pandangan Politik antara Al Azhar dan Ikhwan Al Muslimin dalam Merespon Kudeta Militer Tahun 2013 oleh Muhammad Anas dan Yon Machmudi

5. Security Dilemma dalam Ketegangan AS-Iran Pasca Serangan Kapal Tanker di Teluk Oman oleh Fenny Rizka Salsabila dan Dina Yulianti.

Untuk yang punya naskah, bisa kirim juga ke jurnal ini. Untuk edisi Juni 2020, naskah paling lambat disubmit tgl 20 April.

Siapa tahu ada yang butuh tulisan ilmiah, bukan sekedar analisis ringan di medsos. Ditulis thn 2016, tapi masih relevan untuk mengetahui aspek ideologi pemimpin dalam mengindentifikasi national interest dalam kebijakan luar negeri Turki.

Di tulisan ini, bab kajian teori dan daftar pustaka sengaja tidak ditampilkan karena tadinya, paper ini akan dikembangkan lagi untuk keperluan publikasi (jurnal). Tapi meski sudah 3 thn berlalu, paper yang rencanakan itu belum beres juga. Soalnya, perubahan sikap beliau ini sangat cepat. Jadi ribet. Nunggu konflik selesai ajalah, baru dianalisis.

*Kesimpulan*

(lebih…)

Pierre Le Corf ini salah satu narasumber saya dalam menulis buku Salju di Aleppo. Beberapa foto karyanya saya muat juga di buku (tentu sudah minta izin).

Pierre Le Corf adalah seorang blogger Perancis yang berada di Aleppo di masa konflik. Le Corf menggagas misi kemanusiaan “We Are Superheroes” yang mengumpulkan cerita orang-orang dari berbagai negara. Namun sepertinya, Aleppo-lah yang menguras emosinya. Di Aleppo, ia tinggal bersama sebuah keluarga Suriah di sebuah apartemen yang berlubang akibat tembakan teroris Al Qaida.

Sehari-hari, Le Corf berkeliling mengunjungi keluarga-keluarga di Aleppo. Ia berjalan sambil sesekali berlari menghindari sniper. Ia mendengar dan mencatat kisah warga Aleppo, sambil menyerahkan kotak P3K dan mengajari mereka teknik pertolongan pertama jika sewaktu-waktu mereka terkena tembakan atau ledakan bom.

Le Corf kerap mengunggah tulisan dan foto-foto bocah-bocah Aleppo di Facebook. Cerita-cerita yang ditampilkannya mengguncang narasi yang disebarluaskan berbagai media arus utama bahwa warga sipil menjadi korban pembantaian Assad dan untuk itu dunia harus segera menggulingkannya.

Cerita-cerita Le Corf justru memperlihatkan betapa orang-orang Aleppo menjadi sengsara setelah Al Qaida mengambil alih kota itu. Banyak anak-anak dan orang tua menjadi cacat, bahkan tewas, akibat bom yang diledakkan oleh Al Qaida, bukan oleh gempuran rezim.

Di foto terbaru karya Le Corf ini, terlihat senyum bahagia anak Aleppo yang kini sudah bebas dari teroris.

**
[sekedar info, kalau status ini dishare, karena ini juga share status orang, tulisan pengantar dari saya tidak akan terbawa]

Karma (?)

Lagi heboh UAS ditolak di berbagai tempat ya? Sejujurnya, perasaan saya agak ambigu. Di satu sisi, saya merasa positif karena kesadaran publik terhadap bahayanya narasi sektarian ala UAS (dan gerombolannya) semakin meningkat.

Tapi di sisi lain, saya pernah berada di posisi UAS itu: kehadiran saya ditolak, acara saya dibubarkan. Yang memprovokasi penolakan terhadap saya, ya para gerombolan yang sealiran sama UAS ini. Jadi, ada terselip ucapan dalam hati saya “rasain lo!” Tapi tak bisa saya pungkiri, terselip juga rasa kasian, karena teringat tidak enaknya diperlakukan demikian.

[Btw, jangan salah, sebuah koran besar yang mengaku “merayakan perbedaan” (berarti bukan “radikal” dong), juga tidak menyebut nama dan buku saya sama sekali dalam liputannya, padahal acara yang dia liput itu memasang back drop yang sangat besar, sepenuh dinding, yang jelas-jelas menyebut nama dan buku saya.]

(lebih…)

Jawaban Atas Beberapa Penyesatan Opini Soal Palestina

Status sebelumnya saya hapus karena saat dishare, pengantar dari saya tidak terbawa. Ini saya copas ulang plus tambahan.

Jadi gini, karena ada seleb facebook kampung Indonesia yang sedang pelesiran di Israel dan berkoar-koar soal kaum Muslim di Israel, dan menurut si seleb ini, kaum Muslim “baik-baik saja” (bahkan ada yang jadi tentara), ini saya posting ulang tulisan lama saya yang menjawab beberapa penyesatan opini yang dia lakukan.

Pertama, benarkah kaum Muslim di Palestina hidup baik-baik saja? Mungkin ada, segelintir. Tapi kita orang cerdas akan pakai data untuk memverifikasi. Ini tulisan lama saya:

“Diskriminasi Terhadap Warga Arab di Israel”

Si seleb (yang mengaku Muslim) itu ingin menggiring opini bahwa yang bela Palestina adalah orang-orang rasis, benci Yahudi, radikalis, bela “teroris” dll.

Tentu ini penyesatan opini yang jahat dan penghinaan intelektual bagi bangsa Indonesia. Kita bangsa Indonesia sejak zaman Bung Karno dulu membela Palestina bukan karena benci Yahudi tetapi karena Palestina sedang dijajah/diduduki Israel. Perampasan tanah dan rumah warga Palestina di Tepi Barat masih terus berlangsung sampai hari ini. Gaza diblokade sejak 2007 dan akibatnya, menurut berbagai laporan PBB, kondisi ekonomi dan kesehatan warga di sana sudah sangat memburuk. Kalian mau bilang PBB itu lembaga rasis antiYahudi?

(lebih…)

(PDF) Journey to Iran: Bukan Jalan-Jalan Biasa

journey_wpBaru saja saya mendapat info bahwa buku jadul saya, Pelangi di Persia (terbit 2007) ada yang meresensi. Resensi bisa dibaca di sini.
Nah, buku itu jadul banget, tapi ada saja yang kirim email, pingin beli. Saya jawab, sudah sold out sejak zaman dulu kala. Edisi cetak ulangnya, yang terbit dengan judul Journey to Iran: Bukan Jalan-Jalan Biasa, juga sama, sudah sold out sejak lama (tapi kalau digoogle, sepertinya masih ada yang jual di toko-toko online, mungkin second).
Karena sudah berlalu lama, hak terbitnya kembali ke saya, dan penerbit juga bersedia kirim PDF-nya, jadi saya bebas untuk menunggah soft-file-nya. Semoga berkah juga untuk penerbitnya. 🙂
Yang berminat membacanya, silahkan dowload di sini:

 

Prahara Suriah, Hoax, Media Sosial, Perpecahan Bangsa

Banyak orang resah melihat semakin meningkatnya radikalisme di Indonesia dan semakin kerasnya friksi antarumat akibat perbedaan posisi politik. Banyak yang luput memahami fenomena ini dari perspektif geopolitik global, khususnya yang terkait dengan Perang Suriah.

Inilah era Facebook, Twitter, dan WA, ketika perang tidak hanya terjadi di Damaskus, Homs, Idlib, atau Aleppo, melainkan merasuk hingga ke rumah dan mimbar-mimbar di Indonesia. Kemarahan terhadap orang-orang yang terlibat perang nun jauh di sana, ditumpahkan melalui narasi penuh kebencian di berbagai forum, disertai dengan berbagai foto dan video palsu, dengan tujuan merekrut petempur dan donasi.

(lebih…)