Kajian Timur Tengah

Beranda » Buku Saya

Category Archives: Buku Saya

Pierre Le Corf ini salah satu narasumber saya dalam menulis buku Salju di Aleppo. Beberapa foto karyanya saya muat juga di buku (tentu sudah minta izin).

Pierre Le Corf adalah seorang blogger Perancis yang berada di Aleppo di masa konflik. Le Corf menggagas misi kemanusiaan โ€œWe Are Superheroesโ€ yang mengumpulkan cerita orang-orang dari berbagai negara. Namun sepertinya, Aleppo-lah yang menguras emosinya. Di Aleppo, ia tinggal bersama sebuah keluarga Suriah di sebuah apartemen yang berlubang akibat tembakan teroris Al Qaida.

Sehari-hari, Le Corf berkeliling mengunjungi keluarga-keluarga di Aleppo. Ia berjalan sambil sesekali berlari menghindari sniper. Ia mendengar dan mencatat kisah warga Aleppo, sambil menyerahkan kotak P3K dan mengajari mereka teknik pertolongan pertama jika sewaktu-waktu mereka terkena tembakan atau ledakan bom.

Le Corf kerap mengunggah tulisan dan foto-foto bocah-bocah Aleppo di Facebook. Cerita-cerita yang ditampilkannya mengguncang narasi yang disebarluaskan berbagai media arus utama bahwa warga sipil menjadi korban pembantaian Assad dan untuk itu dunia harus segera menggulingkannya.

Cerita-cerita Le Corf justru memperlihatkan betapa orang-orang Aleppo menjadi sengsara setelah Al Qaida mengambil alih kota itu. Banyak anak-anak dan orang tua menjadi cacat, bahkan tewas, akibat bom yang diledakkan oleh Al Qaida, bukan oleh gempuran rezim.

Di foto terbaru karya Le Corf ini, terlihat senyum bahagia anak Aleppo yang kini sudah bebas dari teroris.

**
[sekedar info, kalau status ini dishare, karena ini juga share status orang, tulisan pengantar dari saya tidak akan terbawa]

Karma (?)

Lagi heboh UAS ditolak di berbagai tempat ya? Sejujurnya, perasaan saya agak ambigu. Di satu sisi, saya merasa positif karena kesadaran publik terhadap bahayanya narasi sektarian ala UAS (dan gerombolannya) semakin meningkat.

Tapi di sisi lain, saya pernah berada di posisi UAS itu: kehadiran saya ditolak, acara saya dibubarkan. Yang memprovokasi penolakan terhadap saya, ya para gerombolan yang sealiran sama UAS ini. Jadi, ada terselip ucapan dalam hati saya “rasain lo!” Tapi tak bisa saya pungkiri, terselip juga rasa kasian, karena teringat tidak enaknya diperlakukan demikian.

[Btw, jangan salah, sebuah koran besar yang mengaku “merayakan perbedaan” (berarti bukan “radikal” dong), juga tidak menyebut nama dan buku saya sama sekali dalam liputannya, padahal acara yang dia liput itu memasang back drop yang sangat besar, sepenuh dinding, yang jelas-jelas menyebut nama dan buku saya.]

(lebih…)

Jawaban Atas Beberapa Penyesatan Opini Soal Palestina

Status sebelumnya saya hapus karena saat dishare, pengantar dari saya tidak terbawa. Ini saya copas ulang plus tambahan.

Jadi gini, karena ada seleb facebook kampung Indonesia yang sedang pelesiran di Israel dan berkoar-koar soal kaum Muslim di Israel, dan menurut si seleb ini, kaum Muslim “baik-baik saja” (bahkan ada yang jadi tentara), ini saya posting ulang tulisan lama saya yang menjawab beberapa penyesatan opini yang dia lakukan.

Pertama, benarkah kaum Muslim di Palestina hidup baik-baik saja? Mungkin ada, segelintir. Tapi kita orang cerdas akan pakai data untuk memverifikasi. Ini tulisan lama saya:

“Diskriminasi Terhadap Warga Arab di Israel”

Si seleb (yang mengaku Muslim) itu ingin menggiring opini bahwa yang bela Palestina adalah orang-orang rasis, benci Yahudi, radikalis, bela “teroris” dll.

Tentu ini penyesatan opini yang jahat dan penghinaan intelektual bagi bangsa Indonesia. Kita bangsa Indonesia sejak zaman Bung Karno dulu membela Palestina bukan karena benci Yahudi tetapi karena Palestina sedang dijajah/diduduki Israel. Perampasan tanah dan rumah warga Palestina di Tepi Barat masih terus berlangsung sampai hari ini. Gaza diblokade sejak 2007 dan akibatnya, menurut berbagai laporan PBB, kondisi ekonomi dan kesehatan warga di sana sudah sangat memburuk. Kalian mau bilang PBB itu lembaga rasis antiYahudi?

(lebih…)

(PDF) Journey to Iran: Bukan Jalan-Jalan Biasa

journey_wpBaru saja saya mendapat info bahwa buku jadul saya, Pelangi di Persia (terbit 2007) ada yang meresensi. Resensi bisa dibaca di sini.
Nah, buku itu jadul banget, tapi ada saja yang kirim email, pingin beli. Saya jawab, sudah sold out sejak zaman dulu kala. Edisi cetak ulangnya, yang terbit dengan judul Journey to Iran: Bukan Jalan-Jalan Biasa, juga sama, sudah sold out sejak lama (tapi kalau digoogle, sepertinya masih ada yang jual di toko-toko online, mungkin second).
Karena sudah berlalu lama, hak terbitnya kembali ke saya, dan penerbit juga bersedia kirim PDF-nya, jadi saya bebas untuk menunggah soft-file-nya. Semoga berkah juga untuk penerbitnya. ๐Ÿ™‚
Yang berminat membacanya, silahkan dowload di sini:

 

Prahara Suriah, Hoax, Media Sosial, Perpecahan Bangsa

Banyak orang resah melihat semakin meningkatnya radikalisme di Indonesia dan semakin kerasnya friksi antarumat akibat perbedaan posisi politik. Banyak yang luput memahami fenomena ini dari perspektif geopolitik global, khususnya yang terkait dengan Perang Suriah.

Inilah era Facebook, Twitter, dan WA, ketika perang tidak hanya terjadi di Damaskus, Homs, Idlib, atau Aleppo, melainkan merasuk hingga ke rumah dan mimbar-mimbar di Indonesia. Kemarahan terhadap orang-orang yang terlibat perang nun jauh di sana, ditumpahkan melalui narasi penuh kebencian di berbagai forum, disertai dengan berbagai foto dan video palsu, dengan tujuan merekrut petempur dan donasi.

(lebih…)

BEDAH BUKU “PRAHARA SURIAH” & “SALJU DI ALEPPO”

BEDAH BUKU “PRAHARA SURIAH” & “SALJU DI ALEPPO”ย (karya Dina Y. Sulaeman) dan “MUSIM SEMI SURIAH” (karya Trias Kuncahyono)

HOAX…MEDIA SOSIAL…PERPECAHAN BANGSA

Narasumber :
1. Kombes Pol.R.Ahmad Nurwahid,S.E.,M.M., Kabagbanops Densus 88 AT POLRI
2. Prof Dr Henry Subiakto, Staf Ahli Menkominfo
3. M.Najih Arromadhoni, Sekjen Alumni Suriah
4. Trias Kuncahyono, Penulis Buku
5. Dr. Dina Y. Sulaeman, Penulis Buku
Moderator: Dr. Ahmad Najib Burhani

Lokasi : Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat
Tanggal : Jum’at, 18 Januari 2019
Waktu : 13.00 – 16.00 WIB

Jurnal

Dua hari yang lalu, saya punya kesempatan kongkow-kongkow di restoran dengan beberapa orang yang sangat intens berurusan dengan kebijakan luar negeri Indonesia. Topik obrolan ke sana-kemari, termasuk cerita-cerita menarik di balik layar soal diplomasi RI-1 di luar negeri.

Ada satu yang penting dicatat dan dishare di sini, terutama buat para mahasiswa follower Fanpage ini. Salah satu yang hadir adalah nama besar di penulisan isu kebijakan luar negeri Indonesia dan jadi narasumber untuk diskusi-diskusi rumit soal kebijakan luar negeri kita.

Dia bilang [mengomentari percakapan sebelumnya], “Yah..gampanglah, bikin aja paper 5000 kata. Dua hari juga selesai! Ya kan?”

Saya senyum ga ikhlas. Apa? Dua hari bikin paper?

Dia sepertinya paham. Lalu berkata, “Mau tahu, tipsnya supaya bisa nulis dengan cepat?”

“Apa pak?”

“Tiap pagi, baca semua media terkemuka, lalu dalam sehari, baca minimalnya 6 artikel jurnal, dan dalam sepekan baca 3 buku.”

Emmm.. baiklah. ๐Ÿ˜€

Nah, sebagai langkah awal untuk membiasakan diri membaca artikel jurnal, silahkan mampir ke Jurnal ICMES, yang sekarang ditayangkan online.

Jurnal terbaru Vol. 2 No 1 (Juni 2018) sudah tayang, membahas berbagai isu aktual Timur Tengah. Silahkan unduh gratis di http://ic-mes.org/jurnal/index.php/jurnalICMES/issue/view/3

Aleppo Sebagai Pemicu Ekstrimisme

salju di aleppo cet-3

Buku “Salju di Aleppo” cetakan 3 segera terbit.

Semoga buku ini bisa semakin banyak tersebar dan semakin banyak yang membaca. Proses penyebaran radikalisme (tepatnya: ekstrimisme dalam beragama) sudah dimulai sejak lama. Namun, untuk ‘meledak’, butuh trigger, butuh pemicu, butuh isu yang membangkitkan amarah.

Sejak 2012, konflik Suriah-lah yang dijadikan trigger itu untuk membangkitkan sektarianisme dan ekstrimisme di Indonesia. Sejak itulah ujaran kebencian melanda publik dengan dahsyat, awalnya memang terkait isu Suriah, namun terjadi proses imitasi (karena sudah terbiasa), merembet ke berbagai isu. Bom, bunuh, bakar, gantung, penggal, metode yang biasa dipakai para ‘jihadis’ di Suriah, diimitasi di negeri ini, baik secara verbal maupun secara fisik (benar-benar terjadi).

Jadi, karena triggernya di Suriah, publik perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan tidak tertipu oleh propaganda sebagian pihak yang terus menghembus-hembuskan kebencian di tengah publik, sekaligus menggalang dana yang menguntungkan segelintir pihak.

(Foto kanan: buku Salju di Aleppo bahkan sampai ke Alaska, AS, dengan proses titip-menitip. Saya benar-benar terharu lihat foto ini. Di dalam foto ini tersirat tekad untuk menggali pengetahuan dan ketulusan pertemanan -meski hanya berjumpa di dunia maya.)

Pemesanan: WA/SMS ke mas Hatim 0878 8299 8696

Beli Buku ‘Salju di Aleppo’

cover-salju-aleppo

Pemesanan: Hatim (SMS/WA: 0878-8299-8696)/email: icmes.indonesia@gmail.com

“Ingatlah bahwa kalian lebih kuat daripada perang ini, dengan cara memiliki harapan dan imajinasi”

Kalimat ini saya cantumkan di cover depan buku “Salju di Aleppo”. Ini kalimat yang dituliskan Pierre Le Corf di kartu-kartu yang menyertai bingkisan Natal yang dibagikannya untuk anak-anak Aleppo, baik di pengungsian, rumah sakit, maupun sekolah. Anak-anak, apapun agamanya, mendapatkan hadiah ini. Bahkan yang membungkus dan menyiapkan hiasan pun ibu-ibu berjilbab. Inilah kehidupan warga Suriah yang asli, penuh toleransi pada sesama, apapun agama dan mazhabnya.

Ketika Natal 2016 tiba, pohon Natal besar penuh lampu dipasang dan yang merayakannya tak hanya umat Kristiani, tetapi semuanya. Mereka tak hanya merayakan Natal, tapi juga bebasnya Aleppo timur setelah hampir 5 tahun dikuasai milisi bersenjata. Terusirnya milisi bersenjata juga membawa arti penting bagi warga Aleppo barat karena selama ini milisi bersenjata yang bercokol di Aleppo timur hampir setiap hari mengirim mortar, bom bunuh diri, dan sniper. Rumah sakit tak pernah sepi dari korban yang berdatangan akibat serangan mereka yang mengaku “mujahidin” ini. Namun yang diberitakan media selalu saja “korban” di Aleppo timur (dalam video-video rekayasa produksi White Helmets). Fenomena itu diceritakan oleh Le Corf, pria Perancis yang selama setahun tinggal di Aleppo barat, sebagiannya saya kutip di buku, juga beberapa fotonya (atas seizin Le Corf tentu saja).

Manipulasi informasi soal Aleppo (dan Suriah secara umum) sedemikian masif sehingga ketika rakyat Aleppo bersuka cita atas bebasnya Aleppo timur, yang diterima orang Indonesia adalah “ada genosida di Aleppo” dan para pengepul dana dengan sigap menggalang uang warga yang histeris. Di buku saya ungkap berbagai data mengenai manipulasi informasi itu.

Di video ini, anak-anak Suriah menyanyikan kesedihan, sekaligus harapan mereka. Membuat air mata menetes saat menontonnya. Saya sudah kasih terjemahan Indonesia. Bila ingin ikut menyanyi, teksnya ada di bawah. Namun jangan heran antara teks dan yang terdengar ada perbedaan (karena si penyanyi menggunakan logat khas Suriah). Penyanyinya bernama Ansam, yang buta sejak lahir. Video ini diproduksi Unicef, lembaga yang menurut pengamatan saya, selama ini baik dan netral dalam penyaluran bantuan untuk anak-anak Suriah.

“ู…ู† ู‚ู„ู€ุจ ุงู„ุฏู…ู€ุงุฑ ูˆุงู„ู†ู€ุงุฑ ุฌู€ุฑุญ ูƒุจูŠู€ุฑ
ุจุงู„ุตูˆุช ุงู„ุนุงู„ูŠ ุจุฏูŠ ู‚ูˆู„ ุจุณ ุงู„ุตูˆุช ุตุบูŠุฑ
ูŠู…ูƒู† ู†ุญู†ุง ูˆู„ุงุฏ ุฒุบุงุฑ ุจุณ ุตุฑุฎุชู†ุง ู…ู† ุงู„ู‚ู„ุจ
ุจู€ุฏู†ู€ู€ุง ู†ู€ู…ุญูŠ ูƒู€ู„ ุงู„ู€ุฎู€ูˆู ูˆู†ู€ูƒู€ูˆู† ุงู„ู€ุชู€ุบู€ูŠู€ูŠุฑ
ุจุฃุนู€ู„ู‰ ุตูˆุช ุจุฏูŠ ู‚ู€ู€ูˆู„
ุจุงู„ุงุบู€ู†ูŠุฉ ูƒู„ ุดูŠ ู…ุนู‚ูˆู„
ุญู€ู€ุฏุง ูŠู€ุณู€ู…ู€ุน ุญู€ุฏุง ูŠู€ุดูˆู
ุทู€ูู€ูˆู„ู€ุชู€ู†ู€ุง ุจู€ุฏู†ู€ู€ุง ูŠู€ุงู‡ู€ู€ู€ู€ุง…
ุจุงู„ู€ุตู€ูˆุช ุงู„ู€ูˆุงุญู€ุฏ ุฃู…ู€ู„ู†ู€ู€ุง ุฃูƒู€ุชู€ุฑ
ุฑุญ ู…ู†ุตูŠุฑ ุฃู‚ูˆู‰ ูˆุทููˆู„ุชู†ุง ุชูƒุจุฑ
ุจุงู„ู‡ุงุบู€ู†ู€ูŠู€ุฉ ู„ู€ุนู€ู€ู… ู†ู€ูƒู€ุชู€ุจู€ู‡ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ุง
ุจู€ูˆุฌู€ุน ูˆุฎูˆู ูˆุฏู…ูˆุน ุงู„ู€ุนู€ูŠู†
ุฑุฌู€ุนู€ู€ู€ุช ุฏู‚ู€ู€ู€ู€ู€ู€ุงุช ุงู„ู€ู‚ู€ู€ู€ู„ู€ู€ู€ู€ู€ุจ
ุนุงู„ุญูŠู€ุงุฉ… ุนุงู„ุญูŠู€ุงุฉ … ุนุงู„ุญูŠุงุฉ
ุฑุญ ุชุฑุฌุน ุงู„ูˆุฌูˆู‡ ุชุถูˆูŠ ู‡ุงู„ุนุชู… ุงู„ุทูˆูŠู„
ูˆุงู„ุงุญู„ุงู… ุงู„ู„ูŠ ุจู€ู†ู€ูŠู†ู€ุงู‡ุง ูƒู€ู„ุง ุฑุญ ุจู€ุชุตู€ู€ูŠุฑ
ุจุฃุนู€ู„ู‰ ุตูˆุช ุจุฏูŠ ู‚ู€ู€ูˆู„
ุจุงู„ุงุบู€ู†ูŠุฉ ูƒู„ ุดูŠ ู…ุนู‚ูˆู„
ุญู€ู€ุฏุง ูŠู€ุณู€ู…ู€ุน ุญู€ุฏุง ูŠู€ุดูˆู
ุทู€ูู€ูˆู„ู€ุชู€ู†ู€ุง ุจู€ุฏู†ู€ู€ุง ูŠู€ุงู‡ู€ู€ู€ู€ุง
ุจุงู„ู€ุตู€ูˆุช ุงู„ู€ูˆุงุญู€ุฏ ุฃู…ู€ู„ู†ู€ู€ุง ุฃูƒู€ุชู€ุฑ
ุฑุญ ู…ู†ุตูŠุฑ ุฃู‚ูˆู‰ ูˆุทููˆู„ุชู†ุง ุชูƒุจุฑ
ุจุงู„ู‡ุงุบู€ู†ู€ูŠู€ุฉ ู„ู€ุนู€ู€ู… ู†ู€ูƒู€ุชู€ุจู€ู‡ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ุง
ุจู€ูˆุฌู€ุน ูˆุฎูˆู ูˆุฏู…ูˆุน ุงู„ู€ุนู€ูŠู†
ุฑุฌู€ุนู€ู€ู€ุช ุฏู‚ู€ู€ู€ู€ู€ู€ุงุช ุงู„ู€ู‚ู€ู€ู€ู„ู€ู€ู€ู€ู€ุจ
ูˆุงู„ู€ุถุญูƒู€ุงุช ุนู€ู… ุชู€ู†ู€ุจุน ู…ู€ู† ูƒู€ู„ ู…ูƒุงู†
ูˆุงู„ู€ุฏู‚ู€ุงุช ุจุงู„ู€ู‚ู€ู„ุจ ุนู€ู… ุชุฑุฌุน ู…ู† ุฌุฏูŠุฏ…”

 

 

 

Buku Salju di Aleppo bisa didapat dengan memesan langsung, via Hatim (SMS/WA: 0878-8299-8696)

Review Buku “Salju di Aleppo”

Media

Oleh: Nurani Soyomukti*

Saya sudah baca buku ini (“Membongkar Kuasa Media”, Ziauddin Sardar) kira-kira hampir sepuluh tahun lalu. Lalu buku ini, bersama ratusan buku lainnya, berdiri di rak buku saya. Saya baru menjamahnya kembali beberapa malam lalu, lalu saya kumpulkan dalam satu ruang rak bersama buku-buku sejenis, buku-buku tentang kajian komunikasi dan media.

Buku ini ditulis lebih lama sebelum diterbitkan oleh Resist Book, Yogya, dengan edisi terjemahan (bahasa Indonesia). Tentu waktu itu belum ada Media Sosial, jadi dalam buku ini tidak dibahas soal saluran komunikasi atau media komunikasi yang belakangan ini berkembang seperti facebook, dll. Waktu itu media memang hanya bisa dimiliki oleh pemodal besar baik swasta ataupun negara. Jadi memang membongkar kuasa media dengan serta merta akan bicara pada kekuasaan besar, terutama monopoli media dan konglomerasi media.

buku salju di aleppo

sumber foto kiri: FB Nurani Soyomukti; foto kanan: FB Banin Muhsin

Sekarang peran medsos amat luar biasa. ‘Opinion maker’ tidak perlu media cetak atau elektronik. Seorang pesohor bukan lagi harus pengamat politik, tokoh pemerintahan, tokoh masyarakat, atau artis yang sering ditampilkan di media.

Selebritis tak lagi dibesarkan di media cetak atau elektronik. Sekarang ada istilah “Seleb Medsos”–istilah ini sering terngiang dan saya ucapkan setelah hadir di acara diskusi yang dihadiri mbak Dina Sulaeman di IAIN Tulungagung beberapa minggu yang lalu.

(lebih…)