Kajian Timur Tengah

Beranda » Buku Saya

Category Archives: Buku Saya

Iklan

(PDF) Journey to Iran: Bukan Jalan-Jalan Biasa

journey_wpBaru saja saya mendapat info bahwa buku jadul saya, Pelangi di Persia (terbit 2007) ada yang meresensi. Resensi bisa dibaca di sini.
Nah, buku itu jadul banget, tapi ada saja yang kirim email, pingin beli. Saya jawab, sudah sold out sejak zaman dulu kala. Edisi cetak ulangnya, yang terbit dengan judul Journey to Iran: Bukan Jalan-Jalan Biasa, juga sama, sudah sold out sejak lama (tapi kalau digoogle, sepertinya masih ada yang jual di toko-toko online, mungkin second).
Karena sudah berlalu lama, hak terbitnya kembali ke saya, dan penerbit juga bersedia kirim PDF-nya, jadi saya bebas untuk menunggah soft-file-nya. Semoga berkah juga untuk penerbitnya. ๐Ÿ™‚
Yang berminat membacanya, silahkan dowload di sini:

 

Iklan

Prahara Suriah, Hoax, Media Sosial, Perpecahan Bangsa

Banyak orang resah melihat semakin meningkatnya radikalisme di Indonesia dan semakin kerasnya friksi antarumat akibat perbedaan posisi politik. Banyak yang luput memahami fenomena ini dari perspektif geopolitik global, khususnya yang terkait dengan Perang Suriah.

Inilah era Facebook, Twitter, dan WA, ketika perang tidak hanya terjadi di Damaskus, Homs, Idlib, atau Aleppo, melainkan merasuk hingga ke rumah dan mimbar-mimbar di Indonesia. Kemarahan terhadap orang-orang yang terlibat perang nun jauh di sana, ditumpahkan melalui narasi penuh kebencian di berbagai forum, disertai dengan berbagai foto dan video palsu, dengan tujuan merekrut petempur dan donasi.

(lebih…)

BEDAH BUKU “PRAHARA SURIAH” & “SALJU DI ALEPPO”

BEDAH BUKU “PRAHARA SURIAH” & “SALJU DI ALEPPO”ย (karya Dina Y. Sulaeman) dan “MUSIM SEMI SURIAH” (karya Trias Kuncahyono)

HOAX…MEDIA SOSIAL…PERPECAHAN BANGSA

Narasumber :
1. Kombes Pol.R.Ahmad Nurwahid,S.E.,M.M., Kabagbanops Densus 88 AT POLRI
2. Prof Dr Henry Subiakto, Staf Ahli Menkominfo
3. M.Najih Arromadhoni, Sekjen Alumni Suriah
4. Trias Kuncahyono, Penulis Buku
5. Dr. Dina Y. Sulaeman, Penulis Buku
Moderator: Dr. Ahmad Najib Burhani

Lokasi : Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat
Tanggal : Jum’at, 18 Januari 2019
Waktu : 13.00 – 16.00 WIB

Jurnal

Dua hari yang lalu, saya punya kesempatan kongkow-kongkow di restoran dengan beberapa orang yang sangat intens berurusan dengan kebijakan luar negeri Indonesia. Topik obrolan ke sana-kemari, termasuk cerita-cerita menarik di balik layar soal diplomasi RI-1 di luar negeri.

Ada satu yang penting dicatat dan dishare di sini, terutama buat para mahasiswa follower Fanpage ini. Salah satu yang hadir adalah nama besar di penulisan isu kebijakan luar negeri Indonesia dan jadi narasumber untuk diskusi-diskusi rumit soal kebijakan luar negeri kita.

Dia bilang [mengomentari percakapan sebelumnya], “Yah..gampanglah, bikin aja paper 5000 kata. Dua hari juga selesai! Ya kan?”

Saya senyum ga ikhlas. Apa? Dua hari bikin paper?

Dia sepertinya paham. Lalu berkata, “Mau tahu, tipsnya supaya bisa nulis dengan cepat?”

“Apa pak?”

“Tiap pagi, baca semua media terkemuka, lalu dalam sehari, baca minimalnya 6 artikel jurnal, dan dalam sepekan baca 3 buku.”

Emmm.. baiklah. ๐Ÿ˜€

Nah, sebagai langkah awal untuk membiasakan diri membaca artikel jurnal, silahkan mampir ke Jurnal ICMES, yang sekarang ditayangkan online.

Jurnal terbaru Vol. 2 No 1 (Juni 2018) sudah tayang, membahas berbagai isu aktual Timur Tengah. Silahkan unduh gratis di http://ic-mes.org/jurnal/index.php/jurnalICMES/issue/view/3

Aleppo Sebagai Pemicu Ekstrimisme

salju di aleppo cet-3

Buku “Salju di Aleppo” cetakan 3 segera terbit.

Semoga buku ini bisa semakin banyak tersebar dan semakin banyak yang membaca. Proses penyebaran radikalisme (tepatnya: ekstrimisme dalam beragama) sudah dimulai sejak lama. Namun, untuk ‘meledak’, butuh trigger, butuh pemicu, butuh isu yang membangkitkan amarah.

Sejak 2012, konflik Suriah-lah yang dijadikan trigger itu untuk membangkitkan sektarianisme dan ekstrimisme di Indonesia. Sejak itulah ujaran kebencian melanda publik dengan dahsyat, awalnya memang terkait isu Suriah, namun terjadi proses imitasi (karena sudah terbiasa), merembet ke berbagai isu. Bom, bunuh, bakar, gantung, penggal, metode yang biasa dipakai para ‘jihadis’ di Suriah, diimitasi di negeri ini, baik secara verbal maupun secara fisik (benar-benar terjadi).

Jadi, karena triggernya di Suriah, publik perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan tidak tertipu oleh propaganda sebagian pihak yang terus menghembus-hembuskan kebencian di tengah publik, sekaligus menggalang dana yang menguntungkan segelintir pihak.

(Foto kanan: buku Salju di Aleppo bahkan sampai ke Alaska, AS, dengan proses titip-menitip. Saya benar-benar terharu lihat foto ini. Di dalam foto ini tersirat tekad untuk menggali pengetahuan dan ketulusan pertemanan -meski hanya berjumpa di dunia maya.)

Pemesanan: WA/SMS ke mas Hatim 0878 8299 8696

Beli Buku ‘Salju di Aleppo’

cover-salju-aleppo

Pemesanan: Hatim (SMS/WA: 0878-8299-8696)/email: icmes.indonesia@gmail.com

“Ingatlah bahwa kalian lebih kuat daripada perang ini, dengan cara memiliki harapan dan imajinasi”

Kalimat ini saya cantumkan di cover depan buku “Salju di Aleppo”. Ini kalimat yang dituliskan Pierre Le Corf di kartu-kartu yang menyertai bingkisan Natal yang dibagikannya untuk anak-anak Aleppo, baik di pengungsian, rumah sakit, maupun sekolah. Anak-anak, apapun agamanya, mendapatkan hadiah ini. Bahkan yang membungkus dan menyiapkan hiasan pun ibu-ibu berjilbab. Inilah kehidupan warga Suriah yang asli, penuh toleransi pada sesama, apapun agama dan mazhabnya.

Ketika Natal 2016 tiba, pohon Natal besar penuh lampu dipasang dan yang merayakannya tak hanya umat Kristiani, tetapi semuanya. Mereka tak hanya merayakan Natal, tapi juga bebasnya Aleppo timur setelah hampir 5 tahun dikuasai milisi bersenjata. Terusirnya milisi bersenjata juga membawa arti penting bagi warga Aleppo barat karena selama ini milisi bersenjata yang bercokol di Aleppo timur hampir setiap hari mengirim mortar, bom bunuh diri, dan sniper. Rumah sakit tak pernah sepi dari korban yang berdatangan akibat serangan mereka yang mengaku “mujahidin” ini. Namun yang diberitakan media selalu saja “korban” di Aleppo timur (dalam video-video rekayasa produksi White Helmets). Fenomena itu diceritakan oleh Le Corf, pria Perancis yang selama setahun tinggal di Aleppo barat, sebagiannya saya kutip di buku, juga beberapa fotonya (atas seizin Le Corf tentu saja).

Manipulasi informasi soal Aleppo (dan Suriah secara umum) sedemikian masif sehingga ketika rakyat Aleppo bersuka cita atas bebasnya Aleppo timur, yang diterima orang Indonesia adalah “ada genosida di Aleppo” dan para pengepul dana dengan sigap menggalang uang warga yang histeris. Di buku saya ungkap berbagai data mengenai manipulasi informasi itu.

Di video ini, anak-anak Suriah menyanyikan kesedihan, sekaligus harapan mereka. Membuat air mata menetes saat menontonnya. Saya sudah kasih terjemahan Indonesia. Bila ingin ikut menyanyi, teksnya ada di bawah. Namun jangan heran antara teks dan yang terdengar ada perbedaan (karena si penyanyi menggunakan logat khas Suriah). Penyanyinya bernama Ansam, yang buta sejak lahir. Video ini diproduksi Unicef, lembaga yang menurut pengamatan saya, selama ini baik dan netral dalam penyaluran bantuan untuk anak-anak Suriah.

“ู…ู† ู‚ู„ู€ุจ ุงู„ุฏู…ู€ุงุฑ ูˆุงู„ู†ู€ุงุฑ ุฌู€ุฑุญ ูƒุจูŠู€ุฑ
ุจุงู„ุตูˆุช ุงู„ุนุงู„ูŠ ุจุฏูŠ ู‚ูˆู„ ุจุณ ุงู„ุตูˆุช ุตุบูŠุฑ
ูŠู…ูƒู† ู†ุญู†ุง ูˆู„ุงุฏ ุฒุบุงุฑ ุจุณ ุตุฑุฎุชู†ุง ู…ู† ุงู„ู‚ู„ุจ
ุจู€ุฏู†ู€ู€ุง ู†ู€ู…ุญูŠ ูƒู€ู„ ุงู„ู€ุฎู€ูˆู ูˆู†ู€ูƒู€ูˆู† ุงู„ู€ุชู€ุบู€ูŠู€ูŠุฑ
ุจุฃุนู€ู„ู‰ ุตูˆุช ุจุฏูŠ ู‚ู€ู€ูˆู„
ุจุงู„ุงุบู€ู†ูŠุฉ ูƒู„ ุดูŠ ู…ุนู‚ูˆู„
ุญู€ู€ุฏุง ูŠู€ุณู€ู…ู€ุน ุญู€ุฏุง ูŠู€ุดูˆู
ุทู€ูู€ูˆู„ู€ุชู€ู†ู€ุง ุจู€ุฏู†ู€ู€ุง ูŠู€ุงู‡ู€ู€ู€ู€ุง…
ุจุงู„ู€ุตู€ูˆุช ุงู„ู€ูˆุงุญู€ุฏ ุฃู…ู€ู„ู†ู€ู€ุง ุฃูƒู€ุชู€ุฑ
ุฑุญ ู…ู†ุตูŠุฑ ุฃู‚ูˆู‰ ูˆุทููˆู„ุชู†ุง ุชูƒุจุฑ
ุจุงู„ู‡ุงุบู€ู†ู€ูŠู€ุฉ ู„ู€ุนู€ู€ู… ู†ู€ูƒู€ุชู€ุจู€ู‡ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ุง
ุจู€ูˆุฌู€ุน ูˆุฎูˆู ูˆุฏู…ูˆุน ุงู„ู€ุนู€ูŠู†
ุฑุฌู€ุนู€ู€ู€ุช ุฏู‚ู€ู€ู€ู€ู€ู€ุงุช ุงู„ู€ู‚ู€ู€ู€ู„ู€ู€ู€ู€ู€ุจ
ุนุงู„ุญูŠู€ุงุฉ… ุนุงู„ุญูŠู€ุงุฉ … ุนุงู„ุญูŠุงุฉ
ุฑุญ ุชุฑุฌุน ุงู„ูˆุฌูˆู‡ ุชุถูˆูŠ ู‡ุงู„ุนุชู… ุงู„ุทูˆูŠู„
ูˆุงู„ุงุญู„ุงู… ุงู„ู„ูŠ ุจู€ู†ู€ูŠู†ู€ุงู‡ุง ูƒู€ู„ุง ุฑุญ ุจู€ุชุตู€ู€ูŠุฑ
ุจุฃุนู€ู„ู‰ ุตูˆุช ุจุฏูŠ ู‚ู€ู€ูˆู„
ุจุงู„ุงุบู€ู†ูŠุฉ ูƒู„ ุดูŠ ู…ุนู‚ูˆู„
ุญู€ู€ุฏุง ูŠู€ุณู€ู…ู€ุน ุญู€ุฏุง ูŠู€ุดูˆู
ุทู€ูู€ูˆู„ู€ุชู€ู†ู€ุง ุจู€ุฏู†ู€ู€ุง ูŠู€ุงู‡ู€ู€ู€ู€ุง
ุจุงู„ู€ุตู€ูˆุช ุงู„ู€ูˆุงุญู€ุฏ ุฃู…ู€ู„ู†ู€ู€ุง ุฃูƒู€ุชู€ุฑ
ุฑุญ ู…ู†ุตูŠุฑ ุฃู‚ูˆู‰ ูˆุทููˆู„ุชู†ุง ุชูƒุจุฑ
ุจุงู„ู‡ุงุบู€ู†ู€ูŠู€ุฉ ู„ู€ุนู€ู€ู… ู†ู€ูƒู€ุชู€ุจู€ู‡ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ุง
ุจู€ูˆุฌู€ุน ูˆุฎูˆู ูˆุฏู…ูˆุน ุงู„ู€ุนู€ูŠู†
ุฑุฌู€ุนู€ู€ู€ุช ุฏู‚ู€ู€ู€ู€ู€ู€ุงุช ุงู„ู€ู‚ู€ู€ู€ู„ู€ู€ู€ู€ู€ุจ
ูˆุงู„ู€ุถุญูƒู€ุงุช ุนู€ู… ุชู€ู†ู€ุจุน ู…ู€ู† ูƒู€ู„ ู…ูƒุงู†
ูˆุงู„ู€ุฏู‚ู€ุงุช ุจุงู„ู€ู‚ู€ู„ุจ ุนู€ู… ุชุฑุฌุน ู…ู† ุฌุฏูŠุฏ…”

 

 

 

Buku Salju di Aleppo bisa didapat dengan memesan langsung, via Hatim (SMS/WA: 0878-8299-8696)

Review Buku “Salju di Aleppo”

Media

Oleh: Nurani Soyomukti*

Saya sudah baca buku ini (“Membongkar Kuasa Media”, Ziauddin Sardar) kira-kira hampir sepuluh tahun lalu. Lalu buku ini, bersama ratusan buku lainnya, berdiri di rak buku saya. Saya baru menjamahnya kembali beberapa malam lalu, lalu saya kumpulkan dalam satu ruang rak bersama buku-buku sejenis, buku-buku tentang kajian komunikasi dan media.

Buku ini ditulis lebih lama sebelum diterbitkan oleh Resist Book, Yogya, dengan edisi terjemahan (bahasa Indonesia). Tentu waktu itu belum ada Media Sosial, jadi dalam buku ini tidak dibahas soal saluran komunikasi atau media komunikasi yang belakangan ini berkembang seperti facebook, dll. Waktu itu media memang hanya bisa dimiliki oleh pemodal besar baik swasta ataupun negara. Jadi memang membongkar kuasa media dengan serta merta akan bicara pada kekuasaan besar, terutama monopoli media dan konglomerasi media.

buku salju di aleppo

sumber foto kiri: FB Nurani Soyomukti; foto kanan: FB Banin Muhsin

Sekarang peran medsos amat luar biasa. ‘Opinion maker’ tidak perlu media cetak atau elektronik. Seorang pesohor bukan lagi harus pengamat politik, tokoh pemerintahan, tokoh masyarakat, atau artis yang sering ditampilkan di media.

Selebritis tak lagi dibesarkan di media cetak atau elektronik. Sekarang ada istilah “Seleb Medsos”–istilah ini sering terngiang dan saya ucapkan setelah hadir di acara diskusi yang dihadiri mbak Dina Sulaeman di IAIN Tulungagung beberapa minggu yang lalu.

(lebih…)

Segera Terbit: Salju di Aleppo

cover-salju-aleppo

 

Buku ini menggunakan perspektif geopolitik dan ekonomi politik dalam memaparkan apa yang sesungguhnya terjadi di Suriah, khususnya Aleppo. Dengan tetap mempertahankan aspek validitas data dan kesahihan metodologi, tulisan-tulisan di dalam buku ini dikemas ringkas dan ringan ala blogger sehingga mudah dicerna.

Buku ini diterbitkan indie (cetak sendiri, jual sendiri, tidak ada di toko buku) oleh ICMES Publisher. Diperkirakan 10 hari lagi siap cetak. Pre-order bisa dilakukan sekarang, hanya lewat 1 orang (no reseller), Hatim (WA-SMS: 0878-8299-8696)
Harga Rp.46.000

[Resensi] Konflik Suriah di Tengah Persekongkolan

Copas dari situs Islam Indonesia

Konflik Suriah di Tengah Persekongkolan

Kisruh di Suriahย  yang terjadi sejak awal tahun 2011 hingga saat ini telah menyebabkan ribuan orang tewas dan ribuan lainnya harus tinggal dipengungsian. Konflik ini diperuncing lagi dengan adanya keterlibatan pihak asing di negeri yang disebut sebaga negeri asal mulanya peradaban, โ€œthe cradle of civilizationโ€.

Banyak kalangan yang menilai,ย  pemberitaan seputar konflik internal Suriah dinilai tidak seimbang. Parahnya, hal ini dilakukan oleh media besar sekelas CNN, Reuters, dan BBC. Di Indonesia pun demikian, media massa umum rata-rata men-quote berita dari kantor berita besar dunia juga melakukan pemberitaan serupa. Pun termasuk media massa yang menjadi โ€œcorongโ€ masyarakat muslim Indonesia, โ€œRepublikaโ€,ย  yang melakukan justifikasi terhadap salah satu pihak yang berseteru. Pemberitaan yang tidak seimbang itu mengakibatkan efek lain yang makin merugikan. Misalkan, memicuย  kelompok yang merasa dirugikan (akibat membaca berita) untuk melakukan pembunuhan, pengrusakan, dan tindakan anarki lainnya.

Dalam kacamata pengamat politik timur tengah dan Islam, Dina Y Sulaeman, situasi sangat membahayakan banyak pihak. Bukan hanya dari kalangan Islam sendiri, namun juga umat lain dari bangsa-bangsa disekitar negara Suriah. Apalagi, akibat pemberitaan itu, Perserikaan Bangsa-Bangsa (PBB) juga turut berpihak, dus AS yang selalu ingin tampil โ€œmembelaโ€ demokrasi dan berniat mengambil inisiatif menyerang pemerintahan Suriah dibawah pimpinan Muhammad Al-Assad.

prahara suriah

Menyikapi situasi yang tidak โ€œseimbangโ€ ini, Dina Y Sulaeman melansir buang pemikirannya lewat buku berjudul โ€œPrahara Suriah, membongkar persekongkolan Multinasionalโ€.ย  Dina mengajak masyarakat untuk melihat permasalahan yang sedang terjadi di Suriah dengan pikiran terbuka, sekaligus melihat latar belakang lain dari sejarah Suriah, peran dan posisi strategis negara, sikap politik, termasuk sikap Suriah terhadap Israel.

Dengan cukup jeli, Dina menyodorkan empat faktor yang terlibat dalam sebuah konflik, yaitu triggers (pemicu), pivotal (akar), mobilizing (peran pemimpin), dan aggravating (faktor yang memperburuk atau memperuncing situasi konflik).

(lebih…)

Laporan Launching ‘Prahara Suriah’ (2)

Berikut ini liputan dari Mi’raj News Agency

PROPAGANDA SURIAH RENTAN TIMBULKAN KEBENCIAN

 

Jakarta, 24 Syaโ€™ban 1434/3 Juli 2013 (MINA) โ€“ Konflik internal berdarah di Suriah membawa konsekwensi global karena arus deras informasi, termasuk ke Indonesia. Namun sayangnya, banyak media mainstream menebar propaganda konflik tersebut yang rentan menimbulkan kebencian sesama muslim.

Dina Y. Sulaeman mengemukakan hal itu dalam Launching dan Bedah Buku โ€œPrahara Suriah, Membongkar Persekongkolan Multinasionalโ€ di Jakarta, Rabu (3/7).

โ€œPropaganda apalagi dengan rekayasan informasi rentan menumbuhkan kebencian sesama muslim, bukan lagi kepedulian sesama muslim,โ€ ujar alumni Magister Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran itu.

Dina yang juga sedang menempuh program doktoral Hubungan Internasional, memaparkan temuannya, antara lain foto palsu BBC, yang diklaim sebagai korban kekejaman tentara Assad ternyata korban pembantaian di Irak.

Ada pula foto yang disebut pembantaian Houla, Suriah, korban penduduk sipil termasuk anak-anak dan wanita. Foto berupa seorang anak melompati tumpukan korban pembantaian yang sudah dibungkus kain kafan. Ternyata menurut pengambil fotonya sendiri, Marco Di Lauro langsung memprotes, bahwa foto itu adalah korban pembantaian di Irak tahun 2003.

Ia menambahkan, ada foto di jejaring sosial, disebutkan seorang anak tewas korban kekejaman rezim Assad, padahal foto aslinya adalah seorang anak tewas karena kecelakaan di Turki.

Foto anak-anak di Irak diklaim korban pembantaian Assad, sedangkan foto aslinya adalah korban pembantaian tentara AS di desa Abu Sif, Irak, 2006.

โ€œEfeknya, beberapa kalangan umat muslim di Indonesia saling berseteru dan terpecah-belah. Islam agama yang penuh kasih sayang antarsesama, menjelma menjadi siap membunuh dengan alasan beda mazhab dan beda politik,โ€ ujar penulis buku Obama Revealed, Realitas di Balik Pencitraan.

โ€œApi kebencian agaknya telah membutakan sebagian dari mereka sehingga tak bisa menangkap realitas bahwa mereka diadu domba Barat dengan propagandanya. Upaya propaganda ini sangat ampuh. Terbukti, efek kebencian itu menyebar luas bahkan hingga ke kampung-kampung di Indonesia yang jauhnya lebih dari 8.500 km dari Damaskus,โ€ katanya.

Isu Sektarian

Dina Y. Sulaeman dalam penelitiannya mengungkapkan, konflik berdarah di Suriah tidak lepas dari upaya Israel memecah belah kekuatan Islam antara lain melalui isu sektarian syiah-sunni.

Ia memaparkan bukti berupa dokumen Oded Yinon yang diterbitkan Departemen Publisitas Organisasi Zionis Dunia pada Februari 1982, berisi rencana Israel memecah belah Timur Tengah berdasarkan etnis dan mazhab atau sekte.

Oded Yinon menyebutkan, politik adu domba dan pecah-belah dimulai dari Lebanon, Irak, Mesir hingga Suriah. Suriah dirancang terpecah menjadi beberapa bagian sesuai dengan struktur etnis syiah dan sunni, untuk terus saling bermusuhan.

โ€œSkema tersebut berhasil diterapkan di Irak melalui penggulingan Saddam Husein dengan alasan senjata pemusnah biologi. Kini pasukan Amerika Serikat dan sekutunya bercokol di sana,โ€ ujarnya.

Menurutnya, dengan memecah-belah negara-negara yang dianggap keras terhadap Israel, maka akan mudah dikuasai, ditekan, dan diadu domba satu sama lain.

โ€œYang memprihatinkan justru ketika rencana pecah-belah Israel itu dijalankan, sebagian umat muslim di tempat lain justru sibuk saling berseteru,โ€ katanya.

Menanggapi isu sektarian syiah-sunni, Agus Nizami, pengelola media-islam.or.id mengatakan, sebenarnya sudah disepakati adanya kerukunan umat beragama dalam deklarasi Risalah Amman (The Amman Massage) tahun 2006 di Jordania.

(lebih…)