Kajian Timur Tengah

Beranda » Diplomasi

Category Archives: Diplomasi

Covid-19 dan Teori Konspirasi (2)

Buat apa sih pentingnya membongkar, siapa yang “bikin” virus? [1] Bukankah yang penting sekarang mencari solusinya?

Menurut saya, yang punya kapasitas cari solusi sudah ada, yaitu pemerintah dan para ahli kesehatan. Kita rakyat biasa pun sudah diberi instruksi, apa yang harus dilakukan (jaga jarak, jaga kebersihan, makan sehat untuk memperkuat antibodi, dll). Kita juga bisa berpartisipasi dalam mencari solusi ekonomi (misalnya berdonasi untuk masyarakat terdampak atau menyumbang APD untuk tenaga medis).

Tapi, ada aspek-aspek lain yang juga penting dibahas. Misalnya, siapa yang terindikasi kuat memodifikasi virus ini? Apa dampak geopolitiknya? Apa dampak geoekonominya?

Ini tidak perlu dinyinyirin, setiap orang punya minat dan bidang kajian masing-masing. Dan bila kita membahas pertanyaan-pertanyaan itu dengan berbasis data dan argumen yang logis, itu bukanlah “teori konspirasi” yang sering diolok-olok itu.

(lebih…)

Covid-19 dan Teori Konspirasi

Kalau ada yang nulis, “Virus Covid-19 itu dibuat oleh AS demi menguasai dunia”, apa komentar Anda? Mereka yang sudah paham bahwa AS (pemerintah & elit-nya ya, bukan rakyatnya) memang sepanjang sejarah melakukan banyak kejahatan kemanusiaan, biasanya cukup terbuka (tidak harus setuju, tapi setidaknya mau menelaah argumen yang diberikan).

Tapi ada juga sebagian orang yang langsung mengejek, “Elo tuh pake teori konspirasi!”

Label “teori konspirasi” memang banyak dipakai orang untuk menghina upaya-upaya membongkar sebuah kejahatan global. Padahal sebenarnya konspirasi itu kan memang ‘biasa’ terjadi, misalnya, fenomena main sabun dalam pertandingan sepakbola (dua tim bersekongkol untuk mengatur pertandingan). Publik tahu darimana? Ya dari indikasi-indikasi, misal ada ‘keanehan’ yang dirasakan.

(lebih…)

Iran dan Covid-19

Permintaan Iran kepada IMF untuk memberi pinjaman uang dalam rangka penanganan Covid-19 memunculkan banyak pertanyaan, intinya: apakah Iran akhirnya tunduk kepada Barat?

Selama ini, IMF dikenal sebagai perpanjangan tangan negara-negara kaya Barat untuk mengacak-acak perekonomian negara berkembang. Pasalnya , IMF (dan Bank Dunia) saat memberi pinjaman selalu memberi syarat: negara penerima pinjaman harus meliberalisasi ekonominya. Antara lain: harus menghemat fiskal, harus memprivatisasi BUMN, dan menderegulasi keuangan dan pasar tenaga kerja.

Menurut Thomas Gangale, dampak dari kebijakan liberalisasi ekonomi ini justru negatif, antara lain dikuranginya pelayanan pemerintah dan subsidi makanan telah memberi pukulan kepada masyarakat kelas menengah ke bawah. BUMN yang dijual untuk membayar utang kepada IMF justru dibeli oleh perusahaan swasta yang kemudian menghentikan pelayanan bersubsidi dan menaikkan harga-harga untuk mencari keuntungan sebanyak mungkin. Kebijakan moneter seperti penaikan suku bunga dengan tujuan untuk menarik investor asing justru menghancurkan perusahaan domestik sehingga pengangguran meningkat. [1]

(lebih…)

Video: Turki Menggunakan Pengungsi Sebagai Senjata

Penggunaan pengungsi/migran sebagai senjata untuk menekan negara lain bukan hal baru. Anda bisa baca di artikel Kelly Greenhil, Weapons of Mass Migration: Forced Displacement as an Instrument of Coercion; Strategic Insights, v. 9, issue 1 (2010).

Di video ini terihat jelas bagaimana Turki menggunakan pengungsi untuk menekan Uni Eropa agar mau membantunya mempertahankan Idlib (supaya tidak diambil alih oleh Suriah; padahal Idlib adalah wilayah Suriah). Akibatnya, hari ini Yunani menghadapi krisis pelanggaran perbatasan yang terorganisasi, masif, dan ilegal yang dibacking oleh Turki.

Hal yang jadi catatan dari arus pengungsi dari Turki ke Yunani:
-Yunani sepertinya dipilih jadi “korban” karena negara inilah yang menolak NATO membantu Turki di Idlib.
-Kebanyakan pengungsi yang dilepas adalah laki-laki muda, kuat, dan sebagian terlihat eks milisi teror (lihat video)
-Kebanyakan pengungsi yang dilepas adalah non Suriah, melainkan: Afghanistan, 64%, Pakistan, 19%, Iraq, Iran, Morocco, Ethiopia, Bangladesh, Egypt: 5.4%, Τurki, 5%, Suriah, 4% dan Somalia, 2.6% (sumber data: https://bit.ly/2VYzawW)

Sumber video: akun jubir pemerintah Yunani, Stelios Petsas https://bit.ly/3aF3Y9Y

Bahasa Diplomatik Putin dan Erdogan

Kemarin, Putin dan Erdogan bertemu di Moskow. Kesepakatan mereka: semua pihak, termasuk para “jihadis” melakukan gencatan senjata di Idlib. Kita tunggu saja, siapa yang pertama kali mengkhianati. Kemungkinan besar sih milisi teror yang akan ngebom duluan, setelah “amunisi” yang dijanjikan AS datang. [1]

Menarik juga menafsirkan bahasa diplomatik yang dipakai kedua tokoh ini.[2]

Di awal percakapannya, Putin menyatakan selamat datang, dan turut belasungkawa atas kematian tentara Turki. Lalu, Putin mengatakan, “Seperti saya sudah sampaikan kepada Anda lewat telepon, tidak ada, termasuk tentara Suriah, yang mengetahui/menyadari lokasi tentara Anda.”

Secara tersirat, yang dimaksud Putin, “Makanya tentara lo jangan gabung dengan “jihadis” dong.. kan kami sedang mengebomi para “jihadis”, siapa sangka tentara lo bareng sama mereka?”

(lebih…)

Kesaksian

Di obrolan-obrolan di kolom komen, ada kesaksian menarik dari orang yang tinggal Turki; ada juga cerita dari orang yang tinggal di Suriah. Saya juga nimbrung, cerita sedikit pengalaman waktu ke Suriah dulu.

Lalu, saya jadi teringat pada kisah lama ini.

Tahun 2013, saya dipertemukan dengan jurnalis Suriah yang datang ke Bandung. Kami mengobrol di sebuah tempat yang sangat terhormat, Museum Konperensi Asia Afrika. Beliau datang sebagai tamu dalam acara di sana. Suriah memang sahabat lama Indonesia, negara kedua yang mengakui kemerdekaan Indonesia [negara pertama: Mesir pada 1946; Suriah pada 1947]. Suriah hadir memenuhi undangan Bung Karno dalam KAA 1955. Asal tahun saja, waktu itu Barat mengintimidasi negara-negara berkembang agar jangan hadir ke KAA. Tapi Suriah tetap datang.

(lebih…)

Ikhwanul Muslimin dan Amnesia Soal Syiah

Histeria para pendukung Erdogan di video yang kemarin saya share link-nya sungguh membuat saya ‘takjub’. Luar biasa fanatisme dan pengkultusan mereka pada sosok Erdogan. Mereka ngamuk dan marah luar biasa karena di video itu ditunjukkan bukti-bukti digital hubungan ‘mesra’ Erdogan dan Israel. Padahal sumber video itu adalah Al Arabiya (milik Arab Saudi) dan Al Ain (milik Uni Emirat Arab). Sebagian besar, marahnya dengan memaki-maki “Syiah”. Lho, emangnya Al Arabiya dan Al Ain itu televisinya Iran? [1]. Televisi Mesir juga ikut mengungkap kerjasama Erdogan-Israel [2]. Tapi mereka juga ngamuk dengan memaki Syiah. Sejak kapan Mesir jadi Syiah?

Saya akan cerita secara singkat latar belakang dari fenomena ini.

Begini, para pemuja fanatik Erdogan ini umumnya orang-orang Ikhwanul Muslimin (IM). IM berjejaring secara transnasional, mereka ada di berbagai negara. Di sebagian negara, mereka sukses menyebarkan pengaruh dan membuat partai. Di Indonesia mereka berhasil membuat PKS. Tapi kini sesama PKS juga berantem, kabarnya bakal ada partai “PKS Perjuangan”.

Di Turki, ada “Partai Keadilan dan Pembangunan” (AKP) yang dipimpin Erdogan. Awalnya, AKP sering mengaku pro Barat dan pro ekonomi liberal (bertahun-tahun berusaha masuk ke dalam Uni Eropa); tapi di saat yang sama memberikan banyak dukungan kepada aktivitas IM. Sejak Erdogan mengadu peruntungannya dengan mendukung penggulingan Bashar Al Assad, warna IM di AKP semakin terkuak.

(lebih…)

Komentar Para Pemuja Erdogan

Miris banget baca komentar-komentar para pemuja Erdogan di postingan ini. Mereka luar biasa marah rupanya, video bukti kerjasama Erdogan dan Israel disebarluaskan. Padahal yang menyebarluaskan channel Al Arabiya (milik Saudi) dan Al Ain (Uni Emirat Arab). Padahal mereka percaya 100% ketika Al Arabiya selama 8 thn terakhir menyebar hoax soal “kekejaman Assad”. Tapi ketika Al Arabiya mengecam Erdogan, mereka sangkal habis-habisan. Inilah fenomena post truth, orang hanya mau percaya pada apa yang sudah tertanam di benak mereka. Kalau beda, mereka langsung marah dan menuduh orang lain yang salah.

https://web.facebook.com/179010099395168/videos/2776080812467653/?t=0

Kekacauan Narasi Soal ISIS

Barusan baca status orang-orang yang secara tersirat membela ISIS; konon mereka korban kezaliman, mari kita bicara HAM, bicara soal kemanusiaan, dan bla bla bla lainnya.

Duh jadi ingat kalimat yang viral terkait film Joker: “orang jahat adalah orang baik yang tersakiti”.

Diadaptasi jadi begini dong: “ISIS adalah muslim yang tersakiti.”

Benar-benar wow lah.

Permakluman-permakluman atas kejahatan ISIS (dan milisi teror lain, dalam berbagai nama tapi ideologi sama) sungguh omong kosong. Berapa banyak orang miskin dan termarjinalisasi di negeri ini? Apa mereka semua memilih jadi teroris? Berapa banyak orang yang tersakiti, apa mereka memilih jadi teroris?

(lebih…)

Gelembung Sabun dari Utara

Pidato Assad beberapa hari yll, menyusul kemenangan atas front terakhir para teroris di kawasan seputar Aleppo (sebagian petempurnya berasal dari Uighur, menurut anggota parlemen Suriah asal Aleppo, Fares Shehabi), menggunakan kata “gelembung suara kosong dari utara”.

Yang paham bahasa Arab atau Inggris akan bisa menangkap bahwa Assad selama ini, setiap diwawancara televisi atau berpidato, selalu menggunakan bahasa yang halus dan tertata rapi, dengan suara yang rendah (tidak meledak-ledak).

Di awal konflik, Hamas yang yang bertahun-tahun diberi perlindungan (diberi kantor di Damaskus, disuplai logistik) justru berkhianat. Sebelum perang, ada lebih dari setengah juta pengungsi Palestina di Suriah (data UNRWA), mereka dilayani sama seperti warga asli. Hamas mendukung penggulingan Assad dan bergabung dengan milisi teror. Alasannya, karena Hamas lebih memilih bergabung dengan sesama Ikhwanul Muslimin, daripada bergabung dengan poros resistensi anti-Israel. Ironis, padahal Palestina sedang dijajah Israel. [Tapi sekarang Hamas sudah ‘tobat’ dan kembali gabung ke poros resistensi.]

(lebih…)