Kajian Timur Tengah

Beranda » Diplomasi

Category Archives: Diplomasi

Menanti Rouhani

Menanti Rouhani

Dina Y. Sulaeman*

(Dimuat di Sindo Weekly Magazine edisi 10-16 Oktober)

Ada yang berbeda di ruang Sidang Umum PBB tahun ini: tidak ada lagi delegasi yang melakukan aksi walkout saat Presiden Iran yang baru, Hasan Rouhani,membacakan pidatonya. Kecuali delegasi Israel, tentu saja. Selama delapan tahun sebelumnya, Ahmadinejad selalu memanaskan ruang sidang dengan pidato blak-blakan-nya yang mencerca AS dan Israel yang berkongsi dalam menjajah bangsa Palestina. Bahkan ia mendobrak tabu diplomatik selama ini: mempertanyakan kebenaran Holocaust.

Rouhani, mullah kelahiran Semnan, Iran utara enam puluh lima tahun yang lalu itu bahkan tak satu kali pun menyebut nama Israel, apalagi menyinggung Holocaust. Doktor hukum lulusan Skotlandia ini hanya menyatakan “Hak asasi bangsa Palestina telah dilanggar secara tragis.”

Namun sepekan kemudian pidato yang lunak ini dibalas dengan nada yang sangat kasar oleh Perdana Menteri Israel, Netanyahu alias Bibi. Bak bocah yang ngambek karena musuhnya meraih antusiasme dari orang-orang sekitar, Bibi mendedikasikan 90%  isi pidatonya untuk membahas Iran. Bahkan dalam pidato selama 33 menit itu, nama Rouhani diulangnya hingga 25 kali. “Rouhani mengira dia bisa mendapatkan kue kuningnya dan memakannya juga,” sindir Bibi. Yang dimaksud Bibi tentu saja yellowcake uranium, zat radioaktif yang diperlukan untuk bahan bakar reaktor nuklir. Bibi juga mencerca style Rouhani, yang disebutnya, ‘penuh senyum’ tapi ‘hanya manis di bibir’, bagaikan ‘serigala berbulu domba’.  Bibi berupaya keras meyakinkan komunitas internasional bahwa Rouhani sama saja dengan presiden Iran sebelumnya, dan karenanya dunia harus segera melucuti nuklir Iran.

(lebih…)

Komunitas ASEAN, Mungkinkah?

Oleh: Dina Y. Sulaeman

 

Kasus Ambalat Versus Komunitas ASEAN

Agaknya, banyak orang yang masih ingat betapa hebohnya perang kata-kata yang dilontarkan para netter, blogger, dan facebooker kepada Malaysia pada tahun 2009. Saat itu, tersiar kabar, kapal perang Malaysia dari jenis fast attack craft Malaysia KD Baung-3509 nekad memasuki perairan NKRI sejauh 7,3 mil laut. Padahal, wilayah itu sudah dijaga ketat oleh tujuh kapal perang TNI AL dari jajaran Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim).[1] Meskipun akhirnya KRI Untung Suropati berhasil menghalau kapal perang Malaysia itu keluar dari wilayah NKRI, kejadian ini dinilai publik sebagai provokasi terang-terangan.  Tak heran bila kata-kata ‘perang’, ‘hajar’, dan berbagai makian lainnya ditulis oleh para blogger (dan para komentator) Indonesia. Demo-demo pun merebak di berbagai kota.

sumber foto: www.okefood.com

Aksi Demo Anti-Malaysia, sumber foto: http://www.okefood.com

Kasus tahun 2009 itu sebenarnya lanjutan dari kehebohan sebelumnya di Ambalat. Pada bulan April tahun 2005, Kapal Diraja Malaysia “Rencong” bertabrakan dengan Kapal “Tedong Naga” milik Republik Indonesia di perairan Ambalat. Antara tahun 2007-2009, tercatat sudah lebih 100 kali kapal Malaysia masuk ke wilayah kedaulatan RI. Konflik semakin memanas ketika pada Februari 2009, Petronas  (perusahaan minyak milik Malaysia) memberikan konsesi pengeboran minyak di blok tersebut kepada Shell (perusahaan milik Inggris dan Belanda). Padahal, berdasarkan UU RI no 4/1960 yang dikuatkan oleh Konvensi Hukum Laut PBB tahun 1982, Ambalat merupakan bagian dari wilayah Republik Indonesia.

Ambalat, wilayah laut di sebelah timur wilayah Kalimantan Timur ini memang seksi. Cadangan minyak bumi dan gas alam yang dikandungnya ditaksir bernilai 40 miliar dolar Amerika Serikat.[2] Tak heran bila Malaysia sedemikian ingin menguasainya. Malaysia mengklaim Ambalat sebagai bagian dari kedaulatannya sesuai peta wilayah yang dibuatnya secara sepihak pada 1979. Peta ini menurut Marty Natalegawa (saat menjabat Jubir Kemenlu tahun 2005), tidak hanya diprotes Indonesia, namun juga oleh negara-negara ASEAN lainnya karena mengubah perairan ASEAN.[3]

Nah, apa hubungan kasus ini dengan Komunitas ASEAN? Jelas banget, ini menunjukkan bahwa Komunitas ASEAN merupakan sebuah cita-cita sepertinya terasa sulit untuk diwujudkan. Betapa tidak, di antara Indonesia dan Malaysia yang serumpun saja, dengan bahasa dan etnis yang sama, sulit dihindarkan adanya konflik dan konfrontasi, bagaimana dengan negara-negara lain?

(lebih…)

Ke-lebay-an Argo

Berikut ini beberapa poin yang saya sampaikan dalam diskusi film ‘Argo’ yang diadakan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Unpad.

1.      Kronologi peristiwa

  • Revolusi Islam menang/Syah Pahlevi terguling: 11 Feb 1979
  • Penyanderaan Kedubes AS di Teheran: 4 Nov 1979-20 Jan 1981 (444 hari), dilakukan oleh mahasiswa.
  • 18 Nov 1979: Imam Khomeini perintahkan mahasiswa utk bebaskan sandera wanita dan sandera berkulit hitam.
  • 28 Jan 1980: Canadian Caper operation (operasi penyelamatan 6 pegawai kedubes AS, dilakukan oleh pemerintah Kanada bersama CIA; inilah yang diceritakan dalam film Argo)
  • 24 April 1980: Operasi Eagle Claw untuk menyelamatkan para sandera (gagal; pesawat-pesawat tempur AS yang sudah sampai di gurun Tabas tiba-tiba diserang angin gurun dan bertabrakan satu sama lain; Imam Khomeini mengomentari kejadian ini sebagai ‘pertolongan Tuhan’)
  • 27 Juli 1980: Shah meninggal di Kairo
  • Sept 1980: Irak serang Iran (didorong AS-US)
  • 19 Januari 1981: Perjanjian Algiers (AS berjanji tidak lagi mengintervensi politik dan militer Iran; berjanji mencairkan aset Iran yang dibekukannya, dan berjanji menghentikan sanksi ekonomi terhadap Iran; sebaliknya, Iran berjanji membayar hutang -yang dilakukan era Shah-kepada AS). Sandera pun dibebaskan. Namun sampai kini semua janji itu tidak ditepati AS.

Situasinya begini. AS punya sejarah perilaku yang membuat sakit hati banyak orang Iran. Pada tahun 1953 AS mendalangi penggulingan Perdana Menteri Iran, Mohammad Mossadegh.  Ini bukan teori konspirasi, bahkan sudah diakui Menlu Madeleine Albright (tahun 2000) dan Obama (2009). Padahal, Mossadegh terpilih melalui pemilu demokratis. Mossadegh tidak disukai AS karena ia menasionalisasi kilang-kilang minyak Iran. Upaya penggulingan dilakukan dengan merekayasa demo di Teheran (dihadiri 8000 demonstran bayaran). Setelah tumbangnya Mossadegh, Iran dikuasai Shah Pahlevi yang sangat patuh pada AS. Bahkan, pada tanggal  13 Oktober tahun 1964, Shah mau menandatangani perjanjian Kapitulasion, yang isinya seluruh warga negara AS yang tinggal di Iran memiliki kekebalan hukum atas setiap perbuatannya. Seandainya ada warga AS yang melakukan kejahatan di Iran, maka tidak ada lembaga hukum Iran yang bisa mengadilinya, dan yang bersangkutan hanya bisa diadili di negaranya sendiri, yaitu AS. Imam Khomeini melakukan penentangan atas perjanjian ini dan kemudian dibuang ke luar negeri. Namun justru dari luar negerilah Imam Khomeini semakin mengobarkan revolusi, sampai akhirnya Shah terguling tanggal 11 Februari 1979.

Upaya penggulingan Shah dilakukan melalui demo-demo masif di seantero Iran, dan salah satu unsur yang sangat berperan dalam berbagai aksi demo itu adalah mahasiswa. Ketika Shah terguling dan kabur ke AS, mahasiwa Iran yang tergabung dalam perkumpulan ‘Mahasiswa Pengikut Garis Imam’ mencurigai Kedubes AS sebagai pihak yang berperan dalam berbagai upaya destabilisasi politik (antara lain dengan membiayai dan mendukung kelompok-kelompok antirevolusi). Setelah Kedubes AS diduduki, mereka memang menemukan sangat banyak dokumen yang membuktikan bahwa CIA melakukan aksi mata-mata dan upaya subversif di Iran.

2.      Ke-lebay-an Argo

Dalam film ini, agen CIA bernama Tony Mendez digambarkan sebagai jagoan yang menyelamatkan enam karyawan Kedubes AS yang pada peristiwa penyanderaan Kedubes berhasil kabur dan bersembunyi di Dubes Kanada. Film ini buat saya sangat membosankan, kecuali di bagian akhir, detik-detik ketika ketujuh warga AS yang menyamar jadi warga Kanada itu berusaha naik pesawat Swiss Air. Mereka sempat dikejar-kejar petugas keamanan Iran, namun, akhirnya pesawat itu terbang dan meninggalkan Iran.

Masalahnya, kejadian itu ternyata fiksi. Menurut salah seorang karyawan kedubes AS, Lee Schatz, situasi saat mereka meninggalkan bandara baik-baik saja. Bisa lihat di video di bawah ini (termasuk juga kesaksian mantan mahasiswa Iran pelaku pendudukan Kedubes AS)

Bahkan, Ken Taylor (yang saat kejadian itu bertugas sebagai Dubes Kanada dan terlibat langsung dalam peristiwa ini) memberikan kritikan berikut ini:

(lebih…)

Syria: Pencitraan Baru SBY?

Dina Y. Sulaeman*

Presiden SBY baru saja membuat sebuah pernyataan yang kontroversial. Seperti diberitakan Republika (7/1), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyarankan agar Presiden Suriah Bashar al-Assad mengundurkan diri dari jabatannya. Permintaan SBY ini disampaikan dalam pertemuan dengan ahli tafsir asal Suriah, Syekh Muhammad Ali Ash-Shobuni, di Istana Presiden Bogor.

Dari sisi etika diplomasi, pernyataan seperti ini keluar dari mulut seorang presiden, sungguh sebuah pernyataan yang sangat serius. Buat negara-negara Barat, yang sangat terbiasa mengabaikan etika diplomasi, hal ini memang biasa. Tapi, buat SBY yang selama ini selalu ‘hati-hati’ dalam memberikan pernyataan, ini jelas luar biasa. Bahkan terhadap Israel yang sudah terbukti brutal pun, SBY tidak pernah menuntut agar Rezim Zionis dibubarkan dan digantikan oleh rezim yang demokratis. Lalu mengapa terhadap Assad, SBY bertindak demikian?

Sebelumnya Menlu Marty Natalegawa, yang pastinya lebih paham diplomasi, sudah mengeluarkan pernyataan standar diplomatik, “Terkait dengan perlu tidaknya Assad mundur, Indonesia berpendapat, oposisi dan rezim perlu bertemu agar proses politik bisa berjalan terlebih dahulu.” (Kompas 5 /1/2013).

(lebih…)