Kajian Timur Tengah

Beranda » Diplomasi

Category Archives: Diplomasi

(Berita 2015) Asma Al Assad: Dukungan Indonesia Sangat Berarti bagi Kami

Tetap beroperasinya Kedutaan Besar Republik Indonesia dengan kehadiran seorang Duta Besar di Damaskus merupakan dukungan yang amat besar bagi pemerintah dan rakyat Suriah. Sementara banyak negara-negara lain yang meninggalkan Suriah dengan menarik Duta Besar dan menutup kedutaannya di Damaskus.

Hal itu terungkap dalam pertemuan antara istri Duta Besar RI untuk Suriah, Rosa Triana Harjanto, dengan Ibu Negara Suriah, Asmaa al-Assad, di kantor Ibu Negara di daerah Qasiyoun Damaskus pada Sabtu, 4 Juli 2015.

Pada pertemuan penuh keakraban itu, Rosa Harjanto menyampaikan bahwa Indonesia akan terus mendukung penyelesaian konflik dengan damai di Suriah. Maka dari itu, Indonesia tetap mempertahankan KBRI dan duta besarnya di Damaskus meskipun di tengah kecamuk peperangan dan krisis yang melanda. “Sahabat yang baik tentu tidak akan meninggalkan temannya yang sedang kesulitan,” ujar Rosa mengutip perkataan Dubes Djoko Harjanto.

(lebih…)

Mantan Dubes RI untuk Suriah, Bp. Djoko Harjanto Meninggal Dunia :(

**

Innalillaahi wa innaa ilaihi roojiun. Menurut info dari fanpage PPI Suriah, mantan Dubes RI untuk Suriah (2013-2019), Bp. Djoko Harjanto, meninggal dunia. Saya sungguh menaruh respek yang sangat tinggi pada beliau. Di masa ketika tidak ada elit yang berani berbicara blak-blakan tentang apa yang terjadi di Suriah (mungkin karena takut distigma Syiah, takut kepentingan ekonomi/politik-nya terganggu), beliau dengan gamblang menceritakan apa yang terjadi di sana. Penjelasan beliau mengkonfirmasi apa yang kami -rakyat facebooker jelata antiperang- sampaikan selama bertahun-tahun sebelumnya (konflik dimulai 2011). Semoga husnul khatimah Bapak, alfaatihah ma’as shalawat…

Berikut ini saya copas sebagian wawancara beliau dengan Republika.

***

Republika (21 Maret 2016). Ada alasan kuat, mengapa Pemerintah Republik Indonesia, hingga saat ini, masih menempatkan duta besarnya di Suriah. Padahal, separuh dari 63 kedutaan besar di negara yang dirundung konflik itu, sudah tidak beroperasi.

Menurut Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (Dubes LBBP) Republik Indonesia untuk Suriah, Djoko Harjanto, Suriah, memiliki jasa tak sedikit untuk Indonesia. Ketika Suriah bergabung dengan Mesir dalam Republik Persatuan Arab (RPA), Suriah adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, saat muncul persoalan Timor-Timor, dukungan Suriah ke RI sangat kuat. “Disuruh apa saja untuk mendukung kita, mereka mau,” katanya kepada wartawan Republika, Nashih Nashrullah.

(lebih…)

Rojava, Kurdi, dan Anarkisme (2)

Rojava, sebuah “negara otonom” yang dideklarasikan sepihak oleh sebagian populasi Kurdi di utara Suriah pada tahun 2012 telah menjadi semacam laboratorium bagi implementasi konsep ‘negeri impian’ kaum anarki. Konsep politik yang digunakan Rojava disebut ‘libertarian municipalism’ (dikemukakan Murray Bookchin), yang ‘di atas kertas’ memperjuangkan demokrasi sekular, pemberdayaan perempuan, komunalisme (tatanan yang diatur bersama oleh masyarakat; yang merupakan antitesis dari birokrasi pemerintahan ala negara).

(1) Kritik Filosofis

Di dalam Piagam Kontrak Sosial Rojava, tertulis:
“Di bawah piagam ini, kami, orang-orang dari Daerah Otonomi [Rojava] …. membangun masyarakat yang bebas dari otoriterisme, militerisme, sentralisme, dan intervensi otoritas agama dalam urusan publik, Piagam ini mengakui integritas wilayah Suriah…”

Di Pasal 3 disebutkan bahwa Daerah Otonomi ini terdiri dari tiga “canton”, yaitu Afrin, Jazirah dan Kobane, dimana komunitas etnis dan agama, (Kurdi, Arab, Syria, Chechen, Armenia, Muslim, Kristen, dan Yazidi) secara damai hidup berdampingan dalam persaudaraan.

Dari kutipan di atas, perhatikan kata “wilayah” dan “komunitas”. Di tulisan bagian 1 saya sudah menjelaskan filosofi dasar anarki, yaitu menolak segala bentuk otoritas.
Apa itu wilayah? Siapa yang menetapkan wilayah X berada di bawah pemerintahan tertentu? Siapa yang berhak menjadi penduduk di wilayah X? Tidakkah konsep wilayah meniscayakan otoritas? Lalu, tidakkah komunitas dibatasi oleh aturan dan otoritas? Apa yang membedakan komunitas Kurdi dengan Arab, komunitas Muslim dengan Kristen? Tidakkah di dalamnya ada aturan, ada batasan, ada hirarki?

(lebih…)

Diskusi dengan Kaum Bigot Itu Pekerjaan Sia-Sia

[Bigot adalah kata dalam bahasa Inggris, artinya fanatik buta. Bigot bisa berasal dari agama apa saja, atau ‘isme’ apa saja.]

Suatu hari, saya pernah hadir di sebuah acara diskusi yang diselenggarakan sebuah ormas besar untuk bicara soal Suriah. Saya dipanelkan dengan seorang ustadz terkemuka di daerah itu (dari kalangan pro “jihadis”) dan seorang ustadz Syiah. Si ustadz Syiah mengklarifikasi (membantah) semua tuduhan-tuduhan yang diberikan ustadz anti-Syiah dengan argumen dan data.

Lalu, saya menjelaskan panjang lebar soal konflik Suriah. Saya tampilkan foto-foto dan video-video untuk memperlihatkan betapa banyak hoax yang tersebar. Saya jelaskan soal geopolitik Timteng. Saya bicara soal perebutan jalur pipa gas. Semua itu saya sampaikan untuk mendukung argumen saya bahwa konflik Suriah bukan konflik antarmazhab.

Anda tahu apa yang terjadi? Si ustadz anti-Syiah mengabaikan sama sekali semua paparan ustadz Syiah dan mengulangi tuduhannya. Jadi misalnya, “Qur’an-nya Syiah itu beda”. Padahal sudah diklarifikasi dengan argumen yang sangat logis, tapi si ustadz kembali mengulangi tuduhannya: “Qur’an-nya Syiah itu beda”.

(lebih…)

To the point saja…

Saya tidak ada toleransi sedikit pun pada facebooker fans Israel, baik yang terang-terangan atau yang pura-pura netral (saya punya ‘penciuman’ yang cukup tajam untuk mendeteksi orang-orang seperti ini). Kalau mereka friend di FB, saya langsung unfriend tanpa sungkan.

Setiap orang punya garis merah, dan sikap politik saya, memang begini ini.

Apa saya benci Yahudi? Tidak sama sekali. Di fanpage ini berkali-kali saya menulis tentang orang Yahudi pro Palestina dan penentang kejahatan Israel. Saya juga senang berteman dengan orang Yahudi yang pandangan politiknya pro Palestina.

Jadi, kalian fans Israel tidak usah caper lah, mengundang saya lewat status terbuka di medsos. Selain bahwa cara mengundang narasumber seperti itu sangat-sangat tidak sopan, sungguh kalian itu sedang mimpi di siang bolong, mengira saya bakal mau hadir di acara yang jelas-jelas dibiayai lembaga pendukung Israel, meski judulnya manipulatif “TOLERANSI”.

Bahkan kalian suap tiket gratis ke Masjidil Aqsa pun saya ogah.

So, my answer is: no thanks. Dan ga usahlah playing victim.

Nantikan saja tulisan-tulisan saya selanjutnya, membongkar kemunafikan kata “TOLERANSI” versi fans Israel.

Foto: para rabi Yahudi ASLI (jelas bukan ZSM) yang demo menolak Zionis Israel.

Demo di Irak dan Relasi Iran-Irak

Hari-hari ini Irak dilanda demonstrasi besar. Isu yang diangkat, tak jauh bedalah dengan isu-isu demo di berbagai negara berkembang, yaitu mengecam pemerintah yang dituduh korup, tidak menyediakan lapangan kerja, harga-harga mahal, dan bahkan: memprotes kerjasama Irak dengan China. Mirip ya dengan fenomena di sebuah negara di Asia Tenggara?

Pertanyaannya: mengapa harus bakar-bakaran? Mengapa melakukan perusakan fasilitas umum sehingga akhirnya bentrok dengan aparat? Kelihatan ya, “template” demo-nya? (Baca tulisan saya sebelumnya yang berjudul “template”).

Yang tidak banyak orang tahu: kedutaan besar AS di Baghdad adalah kedutaan yang terbesar yang dimiliki AS di seluruh dunia. Luasnya 42 hektar, dengan staf lebih dari 16.000 orang, termasuk 2000-an diplomat asli AS. Belum kalau dihitung “aktivis” dari berbagai negara asing (setahu saya, dulu juga ada tuh orang Indonesia), yang bebas keluar masuk Irak, blusukan kemana-mana. Yang tidak banyak orang tahu juga: massa diprovokasi melalui medsos, 79% cuitan seruan demo berasal dari Arab Saudi. Tentu media massa Barat tak ketinggalan memanaskan situasi.

(lebih…)

Template

Seorang mahasiswa bertanya, setelah kita mempelajari geopolitik Timur Tengah, apa pelajaran yang bisa kita ambil sebagai rakyat Indonesia?

Jawaban saya singkat: pelajari polanya, template-nya. Lihat siapa power yang berkepentingan untuk mendistribusi ruang (dengan segenap sumber daya alamnya) di Timteng, lalu selidiki, apakah aktor-aktor yang sama juga “bermain” di Indonesia?

Berikut ini saya copas tulisan lama saya soal Suriah. Mungkin nama-nama orang dan organisasi yang saya sebut ini tidak ‘terlihat’ di Indonesia. Apalagi keterbukaan informasi di negeri kita sangat minim, terlalu banyak info yang kita tidak tahu, jadi sulit mengidentifikasi siapa saja yang ‘bermain’ (kecuali bila kita orang lapangan, bisa masuk ke ‘dalam’). Tapi dengan sedikit kerajinan ‘melacak’, minimalnya bisa ketemu jejaringnya di Indonesia dan memperkirakan apakah template yang sama sedang dipakai di Indonesia.

***

The NGOs

Berbagai NGO (Non-Government Organization) atau LSM, bersama lembaga-lembaga “think tank” (pusat studi) memiliki rekam jejak dalam upaya penggulingan rezim di berbagai penjuru dunia. Di Mesir, misalnya, aksi-aksi demo penggulingan Mobarak dimotori oleh aktivis LSM yang dilatih oleh AS (melalui Freedom House dan National Endowment for Democracy/NED) agar mahir menggalang massa dan mengelola isu. FH dan NED juga bermain di Suriah. Bedanya, bila di Mesir aksi demo bisa tereskalasi (jumlah pendemo sangat masif) sehingga Mobarak terguling dengan mudah, di Suriah modus ini gagal total. Yang muncul malah demo tandingan yang jauh lebih masif, menunjukkan dukungan kepada Assad. Kejadian sama juga terlihat di Libya, aksi demo tidak pernah tereskalasi, bahkan yang terjadi demo luar biasa besar di Tripoli mendukung Qaddafi. [1]

Ada lagi LSM bernama CANVAS, yang memberikan pelatihan berbagai strategi revolusi kepada para aktivis yang ingin menggulingkan rezim di negara mereka. Para pendukung dana CANVAS adalah lembaga-lembaga terkemuka seperti United States Institute for Peace (USIP) yang didanai Kongres AS, New Tactics (didanai Ford Foundation dan Soros Foundation), dan lain-lain. Foreign Policy melaporkan, selama enam bulan pertama tahun 2012, 40 aktivis oposisi Syria mengadakan pertemuan di Jerman yang dikoordinir oleh USIP untuk merancang bentuk dan agenda pemerintahan pasca-Assad.

Nah karena aksi demo “damai” tidak berhasil di Libya dan Suriah, masuklah para “jihadis” untuk melakukan “tugas” mereka. Kali ini tentu saja mereka tidak membawa isu demokrasi, melainkan khilafah (dan khusus di Suriah, mereka membawa isu Sunni-Syiah, yang terbukti sangat efektif dalam menggalang pasukan dan dana dari kaum Muslim di berbagai penjuru dunia). Untuk Libya, terbukti, setelah Qaddafi tumbang, tidak ada khilafah, meski bendera Al Qaida sempat berkibar-kibar di gedung pemerintah. Kapitalis Barat berpesta pora menguasai sumber daya alam sementara sebagian rakyat sibuk bertempur satu sama lain; sebagian lagi mengungsi ke negeri-negeri jauh dan banyak yang mati di tengah jalan.

Jadi, dalam menganalisis soal Suriah, penting untuk menoleh tajam ke arah NGOs dan think-tank yang berkeliaran di sana (atau bersuara berisik dari luar negeri). Di awal konflik, Amnesty International dan Federation of Human Rights (FHR) menggalang aksi demo massa di jalanan Paris dengan membawa bendera Suriah era mandat Prancis (hijau-putih-hitam). FHR didanai oleh NED. Mantan Sekjen PBB, Kofi Annan, yang awalnya ditugasi menjadi mediator perdamaian di Syria, ternyata adalah trustee (penasehat) di International Crisis Group (ICG), bersama tokoh-tokoh Zionis, seperti George Soros, Zbigniew Brzezinski, dan Shimon Peres. Brooking Institution juga berperan, antara lain menerbitkan desain perubahan rezim di Libya, Suriah, dan Iran. Baik NED, ICG, Brooking, dll, didanai oleh Big Oil (Conoco-Philips, Chevron, ExxonMobil), Coca Cola, Bank of America, Microsoft, Standard Chartered, Citigroup, Hilton, McDonald, GoldmanSach, dll. (Goldman Sachs dan Rockefeller juga berada di belakang Médecins Sans Frontières, relawan di bidang medis, yang ‘bermain’ di Suriah).

Ada dua LSM yang sering sekali dikutip media Barat (dan media jihad), Syrian Observatory of Human Rights dan Syrian Network of Human Rights yang berkantor di Inggris. Keduanya seolah paling tahu atas setiap serangan, jumlah korban, nama-nama, dan berbagai hal soal Suriah (dan datanya jelas beda dengan data yang dimiliki media-media alternatif). Donaturnya, Uni Eropa dan Soros. Silahkan browsing, rekam jejak Soros dan upaya penggulingan rezim di berbagai negara, terutama Eropa Timur (juga penggulingan Soeharto). Soros juga ada di balik CANVAS. Aliran dana untuk the White Helmets (yang juga mengaku ‘relawan medis’), juga terlink dengan Soros.

See the template, follow the money.

***
[1] video bisa lihat di sini: https://dinasulaeman.wordpress.com/2016/05/04/prahara-aleppo-3-tamat/

Kisah Para Pemuda Yahudi yang Menolak Disuap Tiket Gratis

Sejak tahun 1999, kelompok Zionis AS mendirikan sebuah yayasan yang memberikan “hadiah” (gift, istilah mereka) kepada kaum muda Yahudi dari berbagai negara yang berusia 18-32 tahun untuk jalan-jalan gratis ke Israel selama 10 hari. Menurut situsnya, program yang diberi nama “Birthright Israel” ini bertujuan untuk “memperkuat identitas Yahudi, komunitas Yahudi, dan hubungan dengan Israel”. [1]

Namun akhir-akhir ini, seiring dengan era keterbukaan informasi, semakin banyak kaum muda Yahudi yang kritis. Kelompok aktivis Yahudi-Amerika anti pendudukan Israel atas Palestina bernama “IfNotNow” mengecam program Birthright Israel dan menulis di web mereka:

(lebih…)

Khilafah, Khalifah, Hoax, dan Terorisme

Saat ada adu tagar pro 01 vs 02 pasca Debat IV Pilpres, di antara berbagai tagar yang trending, saya melihat ada tagar yang beda sendiri: “Islam Damaikan Dunia”. Saya buka cuitan-cuitan dengan tagar ini, ternyata secara bersamaan mereka membawa tagar: Rindu Pemimpin Cinta Islam, Khilafah Ajaran Islam, Haram Pemimpin Anti Islam.

Tak salah lagi, mereka rupanya orang-orang HTI.

Yang menarik di sini: HTI menolak sistem demokrasi (pemilu), tetapi menunggangi pilpres 2019 dengan mendorong para pemilih agar tidak memilih ‘pemimpin yang anti Islam’.

Yang ingin saya bahas kali ini adalah hal-hal fundamental (sangat melibatkan akal sehat/logika) soal jargon-jargon HTI ini.

(lebih…)

Diplomasi Zaman Now vs Diplomasi Era Zadoel

Debat Keempat Pilpres kemarin saya ikuti dengan seksama karena temanya cocok dengan bidang studi saya, Hubungan Internasional. Ada hal yang menarik untuk ditelaah, soal diplomasi dan ‘kepentingan nasional’.

Pertanyaan dari panelis adalah, “…Keberhasilan dalam diplomasi internasional tergantung pada kemampuan negara menawarkan keunggulannya kepada negara-negara lain. Keunggulan tersebut bisa dalam bentuk kebudayaan, ekonomi, pertahanan, dan gagasan solutif. …Menurut Bapak apa keunggulan bangsa Indonesia yang akan ditawarkan dalam diplomasi internasional dan bagaimana strategi utk mewujudkannya?

Jawaban Presiden Jokowi, keunggulan kita adalah “Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.”

Hal ini direspon Capres Prabowo bahwa diplomat asing itu “menghitung kekuatan kita”. Yang dimaksud Prabowo adalah kekuatan militer, karena selanjutnya yang disebutnya adalah ‘berapa kapal selam, pesawat, peluru kendali yang kita punya?’

Dalam tulisan singkat ini, saya hanya ingin menjelaskan bahwa secara paradigmatik, kedua tokoh ini berbeda bagai bumi dan langit.

(lebih…)