Kajian Timur Tengah

Beranda » Ekonomi Politik Global

Category Archives: Ekonomi Politik Global

“Anda Tidak Perlu Jadi Yahudi untuk Menjadi Zionis”

Alhamdulillah, meskipun media Israel (dan digemakan oleh media lokal) berusaha menggiring opini publik Indonesia, “pemerintah Indonesia akan menormalisasi hubungan dengan Israel”, Kemenlu sudah menyatakan tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel dan akan tetap konsisten membela Palestina.

Indonesia adalah negara demokratis dan suara masyarakat sangat berperan dalam pengambilan keputusan. Indonesia berbeda dengan UAE, Bahrain, Maroko; mereka adalah negara monarki. Apa kata pemimpinnya, itulah yang dilakukan. Rakyat ga bisa protes. Sementara, sudah bukan rahasia bahwa sejak Arab Spring, raja-raja Arab ketakutan akan digulingkan oleh rakyatnya. Mereka butuh perlindungan agar tetap di singgasananya dan yang menawarkan perlindungan adalah AS.

Sebaliknya, pemerintah Indonesia didukung rakyatnya dan tidak butuh perlindungan kekuatan asing.

(lebih…)

Diskusi Dina Y. Sulaeman dengan Gus Najih, Habib Nuruzzaman, dan Eko Kuntadhi

https://www.youtube.com/watch?v=GJw3opEYdv0

Studi Hubungan Internasional itu mempelajari hampir semua hal: hubungan luar negeri, diplomasi, ekonomi, politik, keamanan, terorisme, radikalisme, budaya, lingkungan, identitas (termasuk agama), kesehatan, dan banyak lagi… bahkan bisa masuk ke isu pertanian.

Saat proses penelitian untuk disertasi, saya sampai nginap bareng-bareng ibu-ibu petani aktivis, nanya-nanya (wawancara ke mereka), pernah juga jauh-jauh naik ke pegunungan Kendeng ketemu dengan petani-petani di sana. Apa hubungan “pertanian” dengan “internasional”? Ya banyak. Terkadang bahkan nasib petani Indonesia itu ditentukan oleh pialang saham di New York atau sidang WTO di kota-kota elit dunia.

(lebih…)

Acara diskusi hari Selasa tanggal 10 November.Pilpres AS, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?Silakan bergabung, ga pakai daftar langsung join aja,Catet tanggalnya, pake reminder di HP, biar ga lupa 🙂

Dari Jabar ke Palestina, Suriah, Balik ke Indonesia

Barusan saya menonton film dokumenter, ada sebuah desa di Jawa Barat yang kaya sumber air bersih, kini kesulitan air. Ada ratusan perusahaan menyedot air di kabupaten dimana desa tsb berada. Perusahaan terbanyak yang menyedot air di sana adalah perusahaan air mineral terkenal. Produknya dijual ke berbagai penjuru Indonesia dan per tahun meraih keuntungan triliunan rupiah. Sementara, warga sekitar harus mandi dan mencuci di air yang keruh.[1]

Dan kalau dicek, siapa pemilik saham perusahaan air minum tersebut, ternyata sebuah perusahaan milik asing, yang masuk daftar boikot Zionis.[2] Jadi begini, di dunia ini ada gerakan boikot produk-produk perusahaan yang berinvestasi di Israel atau terbukti mengirimkan dana untuk Israel. Kok bisa tahu? Karena di Barat transparansi informasi cukup bagus, jadi bisa dilacak. Jadi, ini bukan gerakan asal boikot atau asal-benci-Yahudi. Yang diboikot adalah perusahaan yang memberi keuntungan kepada Israel.

Mengapa harus diboikot? Karena dengan cara ini, diharapkan ekonomi Israel goyah, lalu rezim Zionis bisa dipaksa menghentikan kejahatannya terhadap warga Palestina. Apakah efektif? Ya, lumayan, ada beberapa perusahaan Israel yang terjepit, akhirnya menekan pemerintahnya agar menghentikan kejahatannya. Tapi baru sebatas itu karena rezim Zionis tak peduli. Namun teknik boikot ini dulu pernah berhasil menggulingkan rezim apartheid di Afrika Selatan.

(lebih…)

Salah Kaprah Soal Boikot

Membaca berbagai aksi boikot yang berupa perusakan (dan tentu saja langsung jadi bahan ejekan rame-rame), saya jadi merasa perlu nulis, apa sih esensi boikot itu?

Saya jelaskan dulu posisi saya: saya tidak memboikot produk Prancis, tapi selama bertahun-tahun BERUSAHA (sebisa saya) menghindari membeli produk-produk yang terbukti memberikan sebagian profitnya kepada Israel; atau jelas-jelas bikin pabriknya di atas tanah pendudukan Palestina (Occupied Palestine). Kalau kebetulan ada produk Prancis yang juga dukung Zionis, nah produk ini juga saya hindari.

Ada 7 poin penting soal boikot ini.

(lebih…)

Beberapa Poin Penting Soal Kasus Prancis

1. Pemerintah RI sudah mengeluarkan pernyataan resmi: mengecam keras aksi kekerasan, tapi juga mengecam tindakan penghinaan terhadap agama Islam. Kata Presiden Jokowi, “Kebebasan berekspresi yang mencederai kehormatan, kesucian, serta kesakralan nilai-nilai dan simbol agama sama sekali tidak bisa dibenarkan dan harus dihentikan.”Saya mendukung pernyataan ini.

2. Muncul beberapa upaya membela Macron dengan menyebut pidatonya dipelintir. Tapi, poin penting dari pidato Macron yang memicu ketersinggungan sebagian umat Muslim adalah soal kartun menghina Nabi, yang dibuat tabloid Charlie Hebdo, tidak dibahas. Tonton video ini, biar jelas apa perkataan Macron sebenarnya yang memicu kemarahan, awalnya tersebar di Timur Tengah, lalu meluas kemana-mana. Lihat mulai menit 1:07; Macron memuji Paty (guru yang secara demonstratif menunjukkan karikatur Nabi di kelasnya) sebagai “pahlawan” dan Macron menyatakan “tidak akan menarik kartun itu.” FYI, tidak semua Presiden Prancis sekoplak Macron (dan orang-orang Indonesia pembela Macron). Tahun 2006 itu, ketika pertama kali Charlie Hebdo bikin onar (dengan menerbitkan kartun penghinaan terhadap Nabi Muhammad), Presiden Prancis Jacques Chirac menyebut ini “provokasi terang-terangan” yang dapat mengobarkan kemarahan. “Apa pun yang dapat melukai keyakinan orang lain, khususnya keyakinan agama, harus dihindari”, kata Chirac.

3. Presiden Macron bicara soal fundamentalisme Islam, terorisme, kekerasan (catet ya: INI PUN DILAWAN sebagian besar umat Muslim); tapi dia membiarkan orang-orang yang melakukan provokasi, atas nama “kebebasan”. Ibaratnya, udah tau ada segelintir orang yang ngamukan, eh malah dipancing-pancing supaya ngamuk. Jangan lupa, Prancis juga yang mensponsori “jihad” di Suriah (silakan baca buku saya Prahara Suriah).

4. Ada yang bilang: ngapain tersinggung, toh yang digambar itu bukan Nabi Muhammad? Emang lo tau wajah Nabi? Coba pelajari teori hermeneutik: sebuah karya itu selalu lahir dari konteks. Artinya, kita dalam menganalisis sebuah karya (teks, lukisan, lagu) seharusnya teliti pula konteksnya. Teliti petunjuk-petunjuk yang dibuat oleh si pembuat karya, sebenarnya apa yang dia sasar? Dan begitulah cara kita membaca karikatur selama ini, kan? Contoh, tanpa disebut nama, kita bisa paham bahwa sebuah karikatur sedang membahas seorang pejabat. Dari mana kita paham? Ya dari konteks dan segala petunjuk/simbol yang ada di karikatur itu.

5. Pada tahun 2006, cover tabloid Charlie Hebdo ada gambar orang Arab berserban hitam, dengan judul: “Mahomet débordé par les intégristes” (“Muhammad kewalahan oleh fundamentalis”), lalu ada balon berisi tulisan “C’est dur d’être aimé par des cons” (“sulitnya dicintai oleh kaum bodoh”). Waktu itu, organisasi Islam di Prancis melakukan tuntutan ke pengadilan, tapi kalah. (Inilah kasus yang dikritik Chirac, poin 2.)Tahun 2011, cover Charlie Hebdo berjudul “Sharia Hebdo”, bergambar seorang Arab berserban dengan balon berisi kalimat “hukum cambuk 100 kali kalau tidak mati ketawa”.Di dalam tabloid ini, ada kartun-kartun yang mengolok-olok perilaku yang mereka sebut “syariah” dan di cover belakang, ada gambar laki-laki yang buruk sekali, dengan hidung merah seperti badut, ditulis “Mahomet”, dengan kalimat “Islam itu cocok dengan humor”.Siapa Mahomet yang dimaksud? Di dalam tabloid itu, di bagian editorial, disebutkan “Editorial, oleh Muhammad”.. di akhir kalimat disebutkan “Muhammad Rasul Allah”. Jadi, CH mengolok-olok, menyebutkan bahwa edisi “Sharia Hebdo” ini dieditori oleh Nabi Muhammad. [1] Lalu, September 2020, CH malah mempublikasi ulang karikaturnya itu, padahal sudah jelas telah terjadi kekerasan akibat karikatur itu di tahun 2011 dan banyak nyawa yang melayang.Orang normal akan membaca karikatur karya CH ini dengan cara normal pula, yaitu melihat konteksnya: ini sedang bicara soal Nabi Muhammad dan umat Muslim; ini sedang memprovokasi, mengejek, menghina. Terlalu mengada-ada mencari tafsiran lainnya. Kalaupun ada tafsiran, biasanya menggeser fokus, misalnya, “Ya kan emang bener, ada kelompok-kelompok teroris atas nama Islam?” [dan ga usah komen ngajarin saya soal ini karena saya sejak 2011 sudah menulis soal Suriah yang jadi target penghancuran oleh Al Qaida, dan kemudian ISIS]. Jadi, fokus pada isu awal: Charlie Hebdo menggambar seseorang yang sangat jelas bisa ditafsirkan sebagai sosok Nabi Muhammad, dengan CARA BURUK.

6. Orang tersinggung BERBEDA dengan orang ngamuk dan main penggal ya. JANGAN KOPLAK dengan menuduh orang yang tersinggung ketika Nabinya dihina SAMA DENGAN teroris yang melakukan aksi kekerasan.Tersinggung, marah, adalah sebuah hak pribadi. Jadi, ketika (sebagian) umat Muslim TERSINGGUNG karena Nabi Muhammad, yang sedemikian dicintainya, dibuatkan karikatur yang amat-sangat buruk, itu adalah HAK. Siapa Anda melarang-larang kami tersinggung? Adakah UU yang melarang manusia tersinggung?Yang SALAH dan melanggar hukum adalah mengungkapkan ketersinggungan itu dengan pembunuhan/terorisme. Ini sangat jelas, JANGAN dipelintir dengan menyamaratakan bahwa semua umat Muslim yang tersinggung sama dengan teroris. Lalu, apa cara bijak mengungkapkan protes atas kekurangajaran Charlie Hebdo? Ya banyak, misalnya demo damai, menulis di medsos, bikin acara diskusi, atau boikot. Boikot ga perlu diejek, itu kan hak pribadi. Duit-duit mereka, terserah mereka mau beli suatu produk atau tidak.

7. Sekedar info tambahan: kalau betul di Prancis ada kebebasan sehingga tulisan/gambar apapun yang dibuat orang tidak boleh dihukum, lalu mengapa Zeon, kartunis Prancis, ditahan tahun 2015 karena membuat kartun soal Zionis (tapi dia dituduh membuat kartun “anti-Yahudi” padahal Zeon sendiri seorang Yahudi). Lalu pernah ada kasus komedian Prancis M’bala M’bala yang ditahan karena dituduh melakukan gestur anti-Yahudi [istilah di Barat: “antisemit”]. Mengapa Prancis melarang sikap antipati pada Yahudi, tapi melindungi orang yang menggambar –dengan cara amat buruk– Nabi yang sedemikian diagungkan umat Muslim?

Jadi, menurut saya, sikap pemerintah RI adalah yang terbaik: mengecam aksi-aksi kekerasan atas nama agama, tetapi juga mengecam penghinaan terhadap agama.

Allahumma shalli alaa Muhammad wa aali Muhammad.—–

[1] baca sebagian terjemahan kartun Charle Hebdo di sini: https://bogardiner.wordpress.com/…/a-closer-look-at…/

Mengenang Qaddafi

Tanggal 20 Oktober 2011 adalah hari terbunuhnya pemimpin Libya, Moammar Qaddafi. Ada banyak versi berita tentang Qaddafi. Sangat banyak media yang mengisahkan hal-hal buruk tentangnya.

Namun, untuk cross-check, kita bisa merujuk data dari PBB. Tahun 2010, Libya adalah negara dengan Human Development Index (HDI) tertinggi di Afrika, dan di peringkat 57 dunia. Ini adalah posisi yang jauh lebih baik daripada Indonesia yang pada tahun yang sama, cuma di peringkat 112.

Dalam situs UNDP dicantumkan bahwa pengukuran HDI dimaksudkan untuk mengetahui kondisi kehidupan manusia, dengan berbasis tiga hal berikut ini: kehidupan yang sehat, panjang umur, dan kreatif; memiliki pengetahuan, serta memiliki akses terhadap sumber daya yang diperlukan untuk memiliki kehidupan yang layak.

(lebih…)

Benarkah Membuka Hubungan Diplomatik dengan Israel Akan Membawa Keuntungan Ekonomi?

Para pendukung Israel, dari kelas netizen-pake-akun-palsu hingga politisi, sering memuji-muji setengah mati “kecanggihan dan kemajuan ekonomi” Israel, lalu menyatakan, “membuka hubungan diplomatik dengan Israel akan membawa keuntungan ekonomi.”

Benarkah demikian?

Sebelum saya masuk ke analisis, saya akan kutip tulisannya Hinnebusch (International Politics of Middle East), untuk menunjukkan bahwa persoalan ini sudah pernah dia bahas sejak 2003; jadi saya tidak “mengira-ngira” atau “tidak ilmiah” saat berpendapat. Di hlm 229-230, ia menulis bahwa salah satu cara yang ditawarkan untuk mendamaikan Arab-Israel adalah melalui integrasi ekonomi dan globalisasi. Berbagai konferensi digelar untuk mencapai “normalisasi ekonomi” Arab-Israel. Dalam pandangan liberalis: saling ketergantungan ekonomi akan mencegah konflik.

Tapi kenyataannya, karena GNP (penghasilan Israel) sangat tinggi dibanding negara-negara sekitarnya, hasilnya, “..integrasi ekonomi kemungkinan besar akan menjadikan Israel sebagai pusat ekonomi regional, memungkinkannya untuk mengeksploitasi tenaga kerja dan sumber energi –migas- Arab; dan menjadikan negara tetangganya seperti Yordania dan entitas Palestina menjadi “satelit ekonomi.”

Hinnebusch juga menulis, “…adalah Israel yang paling berhasil meraih globalisasi sebagai alternatif integrasi regional, memanfaatkan perjanjian Oslo untuk mengakhiri boikot Arab yang telah secara efektif membatasi hubungan ekonominya; dan memanfaatkan “proses perdamaian” untuk menarik perusahaan-perusahaan multinasional –agar investasi di Israel—yang kemudian mengekspor produk ke Asia Timur dan Eropa.”

Juga kata Hinnebusch, akibatnya, yang terjadi adalah “false peace” (perjanjian damai palsu) dan perlawanan tetap muncul.

Kalimat singkatnya: dalam kerjasama ekonomi Israel-Arab, yang untung itu Israel.

Nah, mari kita cek. Apakah ketika UAE menjalin “normalisasi” dengan Israel, yang untung Israel atau UAE? Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Kalau dilihat dari GDP perkapita: Israel 41.715 USD dan UEA 43.004 USD (2018). Keduanya sama-sama termasuk negara kaya. Tapi, di antara dua negara ini, Israel-lah yang butuh UAE. UAE sebelumnya de facto memboikot Israel (meskipun sebenarnya tetap menjalin perdagangan, antara lain di bidang instrumen intelijen). UU boikot ini secara resmi UAE dicabut tanggal 29 Agustus. Bloomberg menuliskan antusiasme bisnismen Israel atas normalisasi ini sbb. “Sementara UEA tidak menyatakan aspirasinya untuk bidang kerja sama tertentu, maskapai penerbangan dan bank Israel sudah bersemangat untuk bekerja di UEA, dan pejabat Israel juga mengungkapkan harapan untuk bekerja sama dalam teknologi dan kedirgantaraan. ..Pejabat Kementerian Keuangan juga melihat potensi untuk merundingkan perjanjian tentang investasi bilateral, perpajakan, bea cukai dan pembiayaan perdagangan..”[1]

Jadi, sudah jelas Israel yang akan meraih untung. Kontrak yang langsung ditandatangani pun jualan senjata dari Israel ke UAE. Haaretz (koran Israel) menulis, “Deal yang sebenarnya antara Israel-UAE adalah senjata.”

Pertanyaan ini juga layak diajukan ke Indonesia. Apa benar Indonesia akan untung kalau buka hubungan diplomatik dengan Israel? Untuk Indonesia, karena perbandingan GDP-nya sudah sangat jomplang [Indonesia 3.893 USD; Israel 41.715 USD (2018)], sebenarnya mudah sekali dideteksi, siapa yang akan untung.

Penduduk Indonesia 270 juta, sementara populasi Israel sekitar 8 juta. Dari perbandingan ini saja, sudah bisa dipastikan, Israel-lah yang akan mendapatkan keuntungan ekonomi sangat besar bila hubungan diplomatik dibuka.

Indonesia adalah pasar yang sangat besar dan menggiurkan bagi produk-produk Israel. Produksi unggulan Israel adalah produk-produk berbasis teknologi tinggi, terutama senjata dan teknologi komunikasi, serta layanan jasa. Kalaupun ada keuntungan yang didapat, pertanyaannya: siapa yang untung? Rakyat, atau segelintir pengusaha?

Saya ingin mengutip John Perkins, penulis buku Confessions of an Economic Hit Man. Menurut kesaksiannya, modus operandi lembaga-lembaga keuangan AS dalam mengeruk uang adalah dengan memberikan hutang raksasa kepada negara-negara berkembang. Kata Perkins:

**

“Salah satu kondisi pinjaman itu –katakanlah US $ 1milyar untuk negara seperti Indonesia atau Ekuador—negara ini kemudian harus memberikan 90% dari uang pinjaman itu kepada satu atau beberapa perusahaan AS untuk membangun infrastruktur—misalnya Halliburton atau Bechtel. Ini adalah perusahaan yang besar. Perusahaan-perusahaan ini kemudian akan membangun sistem listrik atau pelabuhan atau jalan tol, dan pada dasarnya proyek seperti ini hanya melayani sejumlah kecil keluarga-keluarga terkaya di negara-negara itu. Rakyat miskin di negara-negara itu akan terbentur pada hutang yang luar biasa besar, yang tidak mungkin mereka bayar.”

**

Lalu siapakah pemilik Halliburton atau Bechtel yang disebut Perkins? Silakan google saja, akan ketemu nama-nama pengusaha Yahudi. Haaretz (koran Israel) pernah menulis bahwa ada istilah Ibrani yang menjadi standar nilai moral di kalangan Yahudi, yaitu ‘tzedakah’. Haaretz mengutip seorang peneliti yang menyebutkan bahwa orang-orang kaya Yahudi memiliki keterikatan kekeluargaan yang sangat erat dan menjadikan ‘tzedakah’ sebagai sebuah kewajiban moral. Inilah yang membuat Israel ‘hidup’ hingga hari ini, mampu melanjutkan kejahatannya di Palestina, serta tak pernah bisa diajak bernegosiasi secara adil demi kehidupan damai di Palestina.

Gilad Atzmon, seorang penulis dan aktivis asal Israel (tapi pro-Palestina) menulis:

**

Israel mungkin kaya karena, “dari tujuh oligarki yang menguasai 50% ekonomi Rusia selama tahun 1990-an, enam adalah Yahudi.” Selama dua dekade terakhir, banyak oligarki Rusia telah memperoleh kewarganegaraan Israel. …Wikileaks baru-baru ini mengungkapkan bahwa “sumber di kepolisian (Israel) memperkirakan bahwa kejahatan terorganisir Rusia (Mafia Rusia) telah mencuci sebanyak US $ 10 miliar di Israel.”

Ekonomi Israel berkembang pesat karena penipu besar seperti Bernie Madoff telah menyalurkan uang mereka melalui Zionis dan institusi Israel selama beberapa dekade. Israel ‘baik-baik saja’ karena merupakan pedagang “berlian berdarah” (blood diamond) terkemuka. Israel juga merupakan penjual senjata terbesar keempat di planet ini. Jelas, “berlian berdarah” dan senjata terbukti sangat cocok.

Seolah-olah ini tidak cukup, Israel juga makmur karena, perdagangan organ. Singkatnya, kinerja Israel lebih baik daripada negara lain karena menjalankan salah satu ekonomi non-etis terkotor di dunia. [2]

***

Akhir kata: membela Palestina dan menolak membuka hubungan diplomatik dengan Israel pada hakikatnya adalah membela diri kita, melepaskan diri dari imperium ekonomi kotor yang hanya memperkaya segelintir orang.

[1] https://www.bloomberg.com/news/articles/2020-08-31/israel-sees-6-5-billion-in-trade-as-uae-peace-talks-kick-off

[2] https://www.middleeastwatch.net/Israeli-Economy-for-Beginners

Soal blood diamond Israel: https://www.middleeastmonitor.com/20191119-the-kimberley-process-israels-multi-billion-dollar-blood-diamond-laundry/ Foto: Gaza

Seminar Nasional

Tema: “Ada Apa Dengan Timur Tengah?: Normalisasi Negara Arab dengan Israel”.

Hari, Tanggal: Senin, 12 Oktober 2020

Waktu: Pukul 13.00 s/d 16.00 WIB

Tempat: Ruang Virtual Zoom

Opening Speech:Prof. Dr. Maftukhin, M.Ag.(Rektor IAIN Tulungagung)

Narasumber:

1. Dr. Hajriyanto Y. Tohari(Duta Besar Indonesia untuk Lebanon)

2. Dr. Dina Y. Sulaeman, M.Si(Pemerhati Dunia Timur Tengah)

3. Dr. Abad Badruzaman, M.Ag.(Wakil Rektor III IAIN Tulungagung)

Moderator:Arbi Mulya Sirait, M.A (Dosen FUAD IAIN Tulungagung)

Meeting ID dan passcode ada di flyer, live di Youtube Channel Webinar FUAD IAIN Tulungagung Official