Kajian Timur Tengah

Beranda » Ekonomi Politik Global

Category Archives: Ekonomi Politik Global

Rohingya, Yaman, dan Para ‘Jihadis’ (2)

oilcurse

Di antara para pembaca tulisan bagian (1), ada yang masih salah paham maksud tulisan saya. Ada yang salah paham karena sentimen agama (seolah-olah, dengan membahas keterlibatan korporasi dalam konflik Myanmar, artinya anti Islam karena tidak peduli pada Rohingya), ada yang karena bekerja di perusahaan yang bergelimang uang berkat perang sehingga punya kepentingan untuk menyalahpahamkan (menggeser diskusi ke arah lain), ada juga karena memang benar-benar belum paham karena tulisan saya yang terlalu singkat.

Jadi khusus untuk golongan ke-3, yang saya asumsikan memang ingin terus belajar, saya putuskan untuk melanjutkan tulisan tersebut.

Dalam menganalisis konflik dengan perspektif ekonomi-politik, rumusnya begini: follow the money. Lihat kemana aliran uang terbesar mengalir, di sanalah aktor utama konflik ini berada, di sanalah akar konflik. Dalam konflik, ada yang disebut “akar”, ada yang disebut “pemicu”. Pemicu konflik, bisa apa saja, bergantung daerahnya.

(lebih…)

Iklan

Rohingya, Yaman, dan Para ‘Jihadis’ (1)

arsaRupanya, meskipun sudah membuat 5 tulisan, masih ada hal penting yang belum saya bahas, yaitu keberadaan “jihadis” Rohingya di Myanmar.

Saya masih belum sempat meneliti mendalam tentang ARSA (soalnya, saya pengamat Timteng, bukan Asia Tenggara). Tapi dari pernyataan resmi pemerintah Myanmar dan pemberitaan media-media internasional disebutkan bahwa ada kelompok bersenjata bernama Pasukan Keselamatan Rohingya Arakan (Arakan Rohingya Salvation Army, ARSA).

Keberadaan ARSA menjadi dalih bagi kekerasan yang dilakukan oleh tentara Myanmar terhadap kaum Rohingya. Narasinya: tentara menggrebek kamp-kamp pengungsi Rohingya untuk menangkapi milisi ARSA, karena sebelumnya mereka telah menembaki tentara.

Suu Kyi juga membela perilaku tentara dengan mengkambinghitamkan teroris. Seperti diberitakan BBC, Suu Kyi mengatakan bahwa banyak informasi salah yang beredar; dan informasi itu disebar untuk mendukung “kepentingan teroris.”

Menurut BBC, Suu Kyi tak menjelaskan lebih lanjut pihak yang ia sebut sebagai “teroris.” Namun selama ini, pemerintah Myanmar selalu menyebut ARSA sebagai teroris.

Okelah, teroris memang harus ditangkapi. Densus kita juga berjuang keras menangkapi teroris. Problemnya, seperti dilaporkan Burma Human Rights Network, militer tak hanya menghincar ARSA, tapi juga membantai orang Rohingya yang tak terkait dengan serangan itu.

Akibat serbuan militer sejak 2 pekan lalu, selain 400-an orang Rohingya tewas, 120 ribuan lainnya mengungsi keluar dari Rakhine, menuju perbatasan Bangladesh. Padahal di sana sudah ada 400.000 pengungsi yang hidup dalam kamp-kamp yang amat buruk dan menyedihkan. Bangladesh yang juga negara miskin, tak sanggup lagi menampung, sehingga melarang masuk pengungsi yang baru.

(lebih…)

Rohingya dan Analisis Geopolitik & Ekonomi-Politik

Myanmar oil and gas pipeline

Beberapa kali saya tulis (baik di FB, FP, maupun buku), dalam menganalisis konflik itu ada 4 faktor yang harus diteliti, dua di antaranya yang terpenting adalah trigger (pemicu) dan pivot (akar). Dua faktor ini sering dicampuradukkan, yang trigger dianggap sebagai akar konflik dan orang berputar-putar berdebat di sana.

Konflik Rohingya kalau dipetakan, ada dua lapis: lapisan pertama atau permukaan-nya diframing sebagai konflik agama. Pasalnya, si pelaku beragama Buddha (yang ekstrimnya, tentu saja, tidak bisa digeneralisasi; tokoh-tokoh Buddha di Indonesia sudah berlepas diri dari para ekstrimis ini), dan si korban beragama Islam. Lapisan pertama ini yang sering digoreng sebagian pihak di dalam negeri untuk kepentingan politik dan uang. (Penjelasannya, baca lagi status saya sebelumnya [1])

Di sisi lain, rekam jejak biksu Wirathu yang secara provokatif membangkitkan kebencian kepada Muslim juga tidak bisa dipungkiri. Artinya, memang ada upaya pihak-pihak ekstrim di Myanmar yang memanfaatkan agama untuk mengeskalasi konflik. Tapi, ini BUKAN AKAR, ini adalah TRIGGER, pemicu.

Pemicu itu adalah sesuatu yang bikin publik marah lalu menjustifikasi kekerasan. Samalah seperti orang yang demen jihad di Indonesia, lihat foto-foto bocah berdarah di Suriah, langsung teriak jihad lawan Syiah, padahal ternyata foto hoax.

Lalu, akarnya di mana? Mereka yang terbiasa untuk menggunakan perspektif ekonomi-politik dan geopolitik dalam menganalisis konflik, sambil merem pun sudah menduga kuat bahwa pasti ada faktor kekayaan yang sangat besar di sana, yang sedang diperebutkan. Inilah analisis lapisan kedua-nya, yang lebih dalam.

Sepintas ini seolah tulisan konspirasi. Tapi tunggu, saya jelaskan dulu, dengan mengupas kasus Timteng karena saya memang lebih consern di Timteng.

(lebih…)

Tentang Palestina (3): Mengapa Orang Indonesia Harus Membela Palestina?

demo pro palestina
Alasan 1: Nasionalisme Indonesia
Para pembela Israel berkulit sawo matang terus mengulang-ulang narasi bahwa “Yang teroris adalah orang Arab Palestina, yang jadi korban adalah Israel.” Persis seperti yang dikatakan Obama berulang-ulang selama ia menjadi Presiden AS, “Amerika berkomitmen pada keamanan Israel. Dan kita akan selalu mendukung hak Israel untuk membela dirinya di hadapan ancaman yang nyata. Selama bertahun-tahun Hamas telah meluncurkan ribuan roket kepada warga Israel yang tak berdosa.”
Saya sudah jelaskan tentang falasi non-causa pro-causa, nah kalimat Obama ini salah satu contohnya (baca lagi tulisan saya seri falasi para pembela Israel).
Sekarang saya ingin bertanya: para pembela Israel ini patuh pada Presiden AS atau Presiden Indonesia?
Pak Jokowi dalam pembukaan KTT LB OKI di Jakarta Maret 2016, mengatakan, ”Pada tahun 1962, Bapak Bangsa Indonesia, Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, Bung Karno, menegaskan: “… selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel’… Kami bangsa Indonesia konsisten dengan janji tersebut. Hari ini, Indonesia berdiri bersama dengan negara-negara OKI untuk meneruskan perjuangan yang belum selesai itu.”
Jadi, pemerintah kita sejak zaman Pak Sukarno sampai hari ini selalu berada di pihak Palestina. Sama sekali tidak ada ‘pertanyaan’, mana yang jadi ‘korban’ (upaya blaming the victim). Ini sesuatu yang sudah jadi fakta: Palestina itu dijajah oleh Israel, titik. Pembukaan UUD 45 memberi mandat kepada bangsa Indonesia untuk membela bangsa-bangsa terjajah.
Jadi para pembela Israel berkulit sawo matang itu memang patut dipertanyakan nasionalismenya: mengapa mereka patuh sama Presiden Presiden AS dan Israel? Mengapa narasi yang mereka sampaikan malah membeo perkataan Presiden AS dan Israel? Apa bedanya mereka dengan warga Turki kaburan di Indonesia yang lebih memuja Erdogan, atau warga Indonesia yang berbaiat pada ‘negara’ illegal nun jauh di sana (ISIS)?

Buat Imperium, Demokrasi Itu Cuma Jualan

Sejatinya, akar konflik di dunia ini memang muncul akibat kerakusan para pemilik kapital global. Mereka ini sering diistilahkan sebagai ‘imperium’, atau sering juga langsung disebut “Amerika” [sebagai negara representasi imperium, negara yang paling depan menjalankan proyek-proyek Imperium] atau “Barat”. Saya akan pakai istilah Imperium.

Imperium ingin terus mengeruk kekayaan dari berbagai penjuru dunia, tanpa pernah puas. Yang jadi korban bukan cuma negara-negara muslim. Jadi, kaum muslim ga usah baper-lah lalu membabi-buta mengaku jadi korban kaum kafir. Di belahan dunia lain, Amerika Selatan, misalnya, itu orang-orang ‘kafir’ juga jadi korban Imperium. Pemimpin-pemimpin pro-kesejahteraan rakyat di Argentina dan Brazil ditumbangkan, digantikan oleh orang-orang pro-Imperium. Venezuela saat ini sedang menghadapi agenda penggulingan rezim.

Kaum muslim Sunni juga usah baper, mengira sedang dizalimi kaum Syiah (di Suriah). Yang terjadi sebenarnya adalah Imperium sedang mengadu domba kaum muslim dengan memanfaatkan isu Sunni-Syiah (dari mana kita tahu? cek siapa yang mendanai dan menyuplai senjata kepada milisi “mujahidin” di Suriah; cek data bahwa penjualan senjata dari Eropa dan AS ke Timur Tengah meningkat tajam selama era Arab Spring).

Proses penghancuran rezim-rezim di berbagai negara demi kepentingan Imperium sudah dibahas oleh William Blum dalam bukunya “Demokrasi, Ekspor AS Paling Mematikan” (bisa beli di toko buku online).

Demokrasi hanyalah barang jualan buat Imperium. Kalau menguntungkan, mereka akan jual demokrasi itu, kalau perlu dengan mengorbankan darah jutaan warga sipil. Tapi kalau tidak menguntungkan, demokrasi disimpan di saku. Di satu sisi mereka berlagak menjadi ‘kampiun demokrasi’ (dan memaksa terjadinya perubahan rezim yang dituduhnya diktator), tapi di saat yang sama bersahabat erat dengan negara-negara penindas demokrasi, seperti Arab Saudi.

Di video ini, pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri AS, Stuart Jones (yang juga mantan Dubes AS untuk Irak dan Jordan), kelabakan saat ditanya wartawan:

“Saat Anda di Saudi, Menlu AS mengkritik pemilu di Iran dan rekam jejak Iran dalam demokrasi. Dia mengatakan itu dengan didampingi pejabat Saudi. Bagaimana Anda menilai komitmen Saudi pada demokrasi, dan apakah pemerintah (Trump) percaya bahwa demokrasi adalah cara untuk mencegah ekstrimisme?”

Dia terdiam cukup lama (dan disebut-sebut ‘diam paling lama’ dalam sejarah wawancara pejabat AS), matanya menerawang kosong, sampai akhirnya bisa menjawab gugup, eee..uh.. Dan jawabannya tentu saja tidak nyambung.

 

Para Pemakan Bangkai

Pada Juni 2013, Presiden Obama akhirnya menandatangani persetujuannya untuk mengirim senjata kepada ‘pemberontak’ Suriah (atau ’mujahidin’, atau teroris, silahkan pilih istilah yang mau dipakai).[1] Sebenarnya Obama sangat ragu-ragu dalam hal ini, namun tekanan dari para pengkritik, sejumlah penasehat, bahkan mantan Presiden AS, Bill Clinton, akhirnya membuat Obama sepakat. Pengumuman keputusan ini disampaikan oleh penasehat keamanan nasionalnya, Benjamin J. Rhodes, sementara di saat yang sama Obama hadir dalam acara ‘gay pride’ (kebanggaan kaum homo) di Gedung Putih.
 
Tapi, hei, mengirim senjata jelas butuh uang. Darimana? Sumbernya adalah negara yang sama yang selama ini menjadi penyumbang CIA dalam berbagai aksinya: Arab Saudi. CIA dan Saudi telah membentuk misi pelatihan ‘pemberontak’ dengan sandi ‘Timber Sycamore’. Dalam pelaksanaan misi ini, Saudi Arabia bertugas menyediakan senjata dan uang, sementara CIA melatih ‘pemberontak’ menggunakan AK-47 dan misil anti tank. Sebelumnya pun, Saudi dan Qatar telah menyalurkan senjata ke Suriah selama lebih dari setahun, lewat Turki. Di antaranya, FN-6 misil buatan China.
 
Di pihak Saudi, pimpinan proyeknya adalah Pangeran Bandar bin Sultan, yang saat itu menjadi ketua badan intel Saudi. Dialah yang memerintahkan agar badan intel Saudi membeli ribuan AK-47s jutaan amunisi dari Eropa Timur untuk diberikan kepada pemberontak Suriah. CIA membantu mengkoordinir pembelian ini, antara lain dalam kontrak pembelian senjata besar-besaran dari Kroasia tahun 2012. Hingga musim panas tahun 2012, suplai senjata dan uang mengalir ke milisi-milisi pemberontak, melalui Turki.

Petani Kendeng dan Ideologi Pertanian Kita

kamisan

Kamisan Bandung 23/3/17

(1) Sebelum Berdebat, Lihat Dulu Akar Masalahnya

Sore ini  untuk pertama kalinya saya bergabung dengan aksi Kamisan, dengan mengenakan baju dan kerudung hitam. Acara ini diawali dengan membaca doa untuk Yu Patmi, petani penolak pabrik semen, yang meninggal dunia hari Selasa lalu. Lalu, dibacakan syair dan berbagai orasi.

Mungkin ada yang heran, mengapa saya yang biasanya nulis Kajian Timteng, tiba-tiba akhir-akhir ini ‘ikut campur’ dalam isu petani dan kedaulatan pangan. Jawabnya sederhana saja: karena saya pernah menelitinya. Selama tiga tahun terakhir, saya membaca ratusan buku dan jurnal serta mewawancarai puluhan narasumber terkait kedaulatan pangan.  Saya tidak mengklaim diri orang yang paling paham, namun setidaknya saya pernah membaca lebih banyak daripada sekedar artikel buatan buzzer.

Sejak 1952, Bung Karno sudah memetakan prioritas bangsa ini: pangan adalah hidup mati bangsa. Kalau kita bisa menanam sendiri, mengapa harus impor? Kalau kita bergantung pada impor, lalu tiba-tiba ada perang atau masalah lain, sehingga beras dari luar tidak bisa masuk, bagaimana? Mau berinovasi apapun, mau punya senjata secanggih apapun; kalau tidak ada pangan, mati kita.

Tapi, ada sanggahan: penduduk Indonesia itu 250 juta coy! Bagaimana mungkin petani bisa memenuhi kebutuhan seluruh rakyat? Karena produksi mereka ga cukup, makanya kita impor!

Nah, di sinilah problem besar kita. Mengapa tidak dikondisikan agar para petani mampu memproduksi pangan sampai surplus?

Akar masalahnya adalah pada ideologi pertanian yang kita pilih. Di UU Pangan 2012, dua konsep yang punya ideologi  bertolak belakang malah disatukan: kedaulatan pangan dan ketahanan pangan. Bahkan pembuat UU pun masih galau, mau kedaulatan, atau mau ketahanan?

Kedaulatan pangan artinya kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri (diproduksi sendiri).  Sebaliknya konsep ‘ketahanan pangan’ memandang bahwa yang penting pangan ada, tersedia di pasar. Bahwa sumbernya impor, tak jadi soal.

Yang jelas, di Nawa Cita, yang dicantumkan adalah kedaulatan pangan. Jadi, yang seharusnya dilakukan adalah mengerahkan segala upaya untuk memproduksi pangan sebanyak-banyaknya, agar tidak perlu impor lagi (yang diimpor adalah yang memang tak bisa ditanam di Indonesia). Ada banyak hal yang harus dilakukan untuk mencapainya, kali ini saja jelaskan 1 saja: melindungi petani.

(lebih…)

Neoliberalisme dan Timteng

zombieDari tulisan sebelumnya (Dari Jabar ke Palestina, Suriah, Lalu Balik ke Indonesia), muncul komentar-komentar yang khas banget, yang sebelumnya sudah sering saya baca. Ini saya tulis dengan kalimat saya sendiri:

“Ya memang demikianlah cara kerja kapitalisme! Wajar dong kalau mereka ingin laba sebesar-besarnya? Mereka udah ngeluarin modal, bikin pabrik, emang gampang bikin pabrik? Kalau ada orang sengsara, miskin, ya itu salah mereka sendiri! Kalau ada yang protes, pasti itu LSM yang ga kebagian duit! Rakyat yang di daerahnya kekeringan, itu salah mereka sendiri, atau salah pemerintah, atau salah pembalakan liar, dll.”

“Timur Tengah berperang, itu salah orang-orang Arab sendiri ga mau bersatu, jangan salahkan Israel! Wajar dong perusahaan-perusahaan Zionis itu berusaha mencari laba sebanyak-banyaknya! Salah sendiri orang Arab bodoh-bodoh, ga bisa bikin ekplorasi minyak sendiri, ga bisa menjadi penemu-penemu hebat kayak orang Israel!”

Saya ingin mengajak sedikit berpikir filosofis. Kita sejak kecil memang dididik dengan cara ini: hidup ini persaingan, dan kalau ada yang kalah, miskin, terpinggirkan, itu salahmu sendiri.

(lebih…)

Tax Amnesty, Penggusuran, dan Berpikir Filosofis

properti

foto:tribunnews

Tulisan ini akan panjang. Saya tidak berminat menyingkatnya “demi kenyamanan pembaca”. Terserah saja, orang mau baca atau tidak tulisan ini.

Begini, sejak kuliah S1 hingga S3, selalu ada mata kuliah filsafat ilmu, yang seringkali disampaikan dengan cara ‘wow’, sehingga saya tidak paham, terus-terang saja. Saya baru paham setelah diskusi sana-sini dengan orang lain, bukan dengan dosen. Itupun baru pahamnya setelah kuliah S3, dan itupun sepertinya masih untuk diri sendiri; saya belum mampu mengajarkannya lagi ke orang lain.

Tapi ada satu hal krusial yang saya dapatkan dari perjalanan panjang saya kuliah lagi hingga S3: berpikir filosofis itu penting. Problem bangsa ini, menurut saya, akibat dari ketidakmampuan berpikir filosofis itu. Berpikir filosofis, singkatnya, berpikir hingga ke akar: apa, mengapa, bagaimana. Seseorang yang terbiasa berpikir filosofis akan selalu mencoba menggali hingga ke akar, ini apa sebenarnya? Apa akibatnya di masa kini dan di masa depan?

Misalnya soal tax amnesty. Terus-terang saya bukan ahli perpajakan dan keuangan. Tidak semua orang ahli dalam semua hal kan? Ada memang seleb-seleb medsos yang kelihatan sangat pintar dan mampu bicara sangat banyak hal. Sekali lagi, SANGAT BANYAK hal. Wuih. Tapi ada bagian-bagian tulisan mereka yang membuat sebagian orang tertawa sendiri, karena tahu bahwa yang ditulis si seleb itu sama sekali tidak benar. (lebih…)

Antara Hillary, Ahok, dan Lawan-Lawannya

hillary-trumpPemilu AS sudah menjelang. Sebagai negara yang paling berpengaruh bagi Indonesia sejak tahun 1960-an, apa yang terjadi di AS sebenarnya “penting” bagi bangsa ini. Namun, di sisi mana “penting”-nya, masih banyak yang tak terlalu paham. Banyak yang memandang AS dengan penuh pesona, karena mata yang dipakainya adalah ‘mata ekonomi’, bukan mata ‘ekonomi-politik’.

Dengan ‘mata ekonomi’, banyak orang Indonesia menggantungkan impiannya ke AS: jalan-jalan, beasiswa, berkarir, dll. Tidak salah, wajar saja. Tapi dengan ‘mata ekonomi-politik’, seharusnya kita kesal karena AS sejak 1960-an telah mengeksploitasi negeri ini, antara lain lewat Bank Dunia dan IMF (saham terbesar dimiliki AS dan markasnya juga di AS). Bahkan UU Migas  No. 22 Tahun 2001 yang membuka peluang sebesar-besarnya kepada perusahaan asing untuk mengeksplorasi migas dan membuat negara kehilangan kontrolnya dalam tata kelola migas, ternyata penyusunannya didanai oleh USAID sebesar $21,1 juta*. Ada banyak lagi tangan-tangan AS yang berada di balik berbagai fenomena ekonomi-politik di negeri ini, tapi hanya dibicarakan dari mulut ke mulut. Datanya susah didapat. Misalnya saja, reformasi 1998, kalau baca tulisannya Chomsky, ada peran AS, yang sudah tidak menghendaki lagi Suharto. Tapi buktinya apa? Saya cuma dengar kisah lisan, bahwa pada malam-malam demo itu, uang berkarung-karung didistribusikan ke kampus-kampus, untuk logistik para mahasiswa, tanpa kwitansi.

Adalah lebih mudah untuk menganalisis ekonomi-politik di dalam AS sendiri. Transparansi data di sana membuat saya bisa menyusun sebuah buku Obama Revealed (unduh gratis di sini) yang isinya menceritakan keterkaitan hampir semua menteri Obama dengan korporasi pro-Zionis.

(lebih…)