Kajian Timur Tengah

Beranda » Ekonomi Politik Global

Category Archives: Ekonomi Politik Global

Tax Amnesty, Penggusuran, dan Berpikir Filosofis

properti

foto:tribunnews

Tulisan ini akan panjang. Saya tidak berminat menyingkatnya “demi kenyamanan pembaca”. Terserah saja, orang mau baca atau tidak tulisan ini.

Begini, sejak kuliah S1 hingga S3, selalu ada mata kuliah filsafat ilmu, yang seringkali disampaikan dengan cara ‘wow’, sehingga saya tidak paham, terus-terang saja. Saya baru paham setelah diskusi sana-sini dengan orang lain, bukan dengan dosen. Itupun baru pahamnya setelah kuliah S3, dan itupun sepertinya masih untuk diri sendiri; saya belum mampu mengajarkannya lagi ke orang lain.

Tapi ada satu hal krusial yang saya dapatkan dari perjalanan panjang saya kuliah lagi hingga S3: berpikir filosofis itu penting. Problem bangsa ini, menurut saya, akibat dari ketidakmampuan berpikir filosofis itu. Berpikir filosofis, singkatnya, berpikir hingga ke akar: apa, mengapa, bagaimana. Seseorang yang terbiasa berpikir filosofis akan selalu mencoba menggali hingga ke akar, ini apa sebenarnya? Apa akibatnya di masa kini dan di masa depan?

Misalnya soal tax amnesty. Terus-terang saya bukan ahli perpajakan dan keuangan. Tidak semua orang ahli dalam semua hal kan? Ada memang seleb-seleb medsos yang kelihatan sangat pintar dan mampu bicara sangat banyak hal. Sekali lagi, SANGAT BANYAK hal. Wuih. Tapi ada bagian-bagian tulisan mereka yang membuat sebagian orang tertawa sendiri, karena tahu bahwa yang ditulis si seleb itu sama sekali tidak benar. (lebih…)

Antara Hillary, Ahok, dan Lawan-Lawannya

hillary-trumpPemilu AS sudah menjelang. Sebagai negara yang paling berpengaruh bagi Indonesia sejak tahun 1960-an, apa yang terjadi di AS sebenarnya “penting” bagi bangsa ini. Namun, di sisi mana “penting”-nya, masih banyak yang tak terlalu paham. Banyak yang memandang AS dengan penuh pesona, karena mata yang dipakainya adalah ‘mata ekonomi’, bukan mata ‘ekonomi-politik’.

Dengan ‘mata ekonomi’, banyak orang Indonesia menggantungkan impiannya ke AS: jalan-jalan, beasiswa, berkarir, dll. Tidak salah, wajar saja. Tapi dengan ‘mata ekonomi-politik’, seharusnya kita kesal karena AS sejak 1960-an telah mengeksploitasi negeri ini, antara lain lewat Bank Dunia dan IMF (saham terbesar dimiliki AS dan markasnya juga di AS). Bahkan UU Migas  No. 22 Tahun 2001 yang membuka peluang sebesar-besarnya kepada perusahaan asing untuk mengeksplorasi migas dan membuat negara kehilangan kontrolnya dalam tata kelola migas, ternyata penyusunannya didanai oleh USAID sebesar $21,1 juta*. Ada banyak lagi tangan-tangan AS yang berada di balik berbagai fenomena ekonomi-politik di negeri ini, tapi hanya dibicarakan dari mulut ke mulut. Datanya susah didapat. Misalnya saja, reformasi 1998, kalau baca tulisannya Chomsky, ada peran AS, yang sudah tidak menghendaki lagi Suharto. Tapi buktinya apa? Saya cuma dengar kisah lisan, bahwa pada malam-malam demo itu, uang berkarung-karung didistribusikan ke kampus-kampus, untuk logistik para mahasiswa, tanpa kwitansi.

Adalah lebih mudah untuk menganalisis ekonomi-politik di dalam AS sendiri. Transparansi data di sana membuat saya bisa menyusun sebuah buku Obama Revealed (unduh gratis di sini) yang isinya menceritakan keterkaitan hampir semua menteri Obama dengan korporasi pro-Zionis.

(lebih…)

Sejarah yang Berulang, Dari VOC ke IMF

VOC

medali VOC (sumber foto: huiberts.info)

Di bawah ini saya copas tulisan Sofia Abdullah di facebooknya. Sofia tekun sekali menelaah buku-buku sejarah dan naskah-naskah kuno, beberapa tulisannya pernah saya baca di media online. Tulisannya berikut ini memberi perspektif baru tentang sejarah Indonesia, menarik sekali. Antara lain, bahwa sebenarnya VOC adalah perusahaan multinasional yang menghalalkan segala cara demi meraup keuntungan sebesar-besarnya. Jadi, yang menjajah Nusantara pada awalnya bukan Belanda, melainkan korporasi global.

 

Sejarah berulang hingga kini, ketika kita secara lahiriah merdeka, tapi sejatinya sedang terjajah oleh korporasi global (bukan cuma Indonesia, tetapi juga kebanyakan negara-negara berkembang lainnya). Tengok saja bagaimana perilaku korporasi global hari ini yang memonopoli perdagangan dunia dengan cara-cara kasar, antara lain:
-melobi para politisi untuk meloloskan UU yang menguntungkan mereka; dana pembuatan UU itu pun digelontorkan oleh “lembaga sosial” yang sebenarnya perpanjangan tangan korporasi (baca buku Kudeta Putih, Hadi, et al)
-menggunakan kekuatan IMF dan Bank Dunia untuk memaksakan proyek-proyek yang sebenarnya tidak urgen, dan hanya membuat bangsa-bangsa terjerat utang semakin besar (baca buku John Perkins)
-memaksakan aturan-aturan di WTO agar sesuai dengan kepentingan mereka (baca buku Power in Global Governance, Barnet et al,)

Sedikit info ttg IMF: pemilik saham terbesar dalam IMF adalah AS, Jepang, Jerman, Inggris, dan Prancis (disebut G-5). Kekuatan dominasi G-5 terlihat jelas ketika sebuah negara meminjam uang kepada IMF. IMF baru mengucurkan dana pinjaman bila negara itu telah melaksanakan syarat-syarat yang ditetapkan IMF: mencabut subsidi, meningkatkan pajak, liberalisasi pasar, dan meningkatkan suku bunga. Semua persyaratan itu ujung-ujungnya hanya menguntungkan negara-negara pemegang saham terbesar di IMF dan Bank Dunia (keduanya saling bersekutu; oleh Stiglitz disebut sebagai “pilar globalisasi/pasar bebas”; untuk bisa ngutang di Bank Dunia harus jadi anggota IMF). (Baca: Brics, G20, IMF)

Jadi, terlihat ya, bahwa sejarah itu berulang?

==

Hebatnya Indonesiaku!!

Oleh Sofia Abdullah

Selama bertahun-tahun disekolah, kita di beri pemahaman bahwa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun!! Entah darimana awalnya pernyataan salah kaprah ini, karena negeri Belanda-nya saja baru resmi terbentuk tahun 1815!! (lih. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Netherlands)

350 tahun adalah masa kedatangan bangsa Eropa ke negeri ini, karena sifat mereka yg kasar, Rasis dan ingin menguasai pasaran, penduduk nusantara spontan tidak menyukai mereka dan pada umumnya mengambil sikap bermusuhan. Namun ada juga beberapa bangsa Eropa yg awalnya diterima oleh beberapa penguasa di tanah air karena sikap mereka yg sopan dan menunjukkan sikap mau bekerja sama.

(lebih…)

Pasar Bebas VS Keimanan

Copas Status FB

globalization-pictureDi grup WA/FB berseliweran tulisan yang tesis intinya “melawan pasar bebas dengan keimanan dan menjauhi kemalasan”. Tadinya mau diam saja, tapi lama-lama yang ga tahan juga. Maaf kalau ada teman-teman yang tersinggung dengan tulisan ini. Tapi saya merasa perlu menyampaikan pendapat saya, kebetulan disertasi saya ya seputar masalah ini juga.

Begini, kalau mau bicara globalisasi, itu bahasan ekonomi-politik, kok malah kita diceramahi soal keimanan, menjauhi rasa malas, dll? Di pasar di daerah saya, jam 2 dini hari para pedagangnya sudah jualan (baca: 2 dini hari!), baik yang jual maupun yang beli, apa pantas disebut pemalas? Mereka bekerja keras mencari nafkah, tapi karena modal yang kecil, barang yg dijualbelikan impor (misal, bwbg putih, cabe, bahkan garam, impor), keuntungan terbesar diraih importir, bukan penjual di pasar, bukan pula konsumen. Tetangga saya ketika cabe melonjak tinggi, ya ga beli cabe. Apa dia malas, sampai ga mampu beli cabe? No, dia kerja jadi guru honorer di SMA dg honor 250rb sebulan (saya ga salah ketik), suaminya satpam di bank, tapi sistem outsourcing, sewaktu-waktu bisa dipecat, bergadang melulu jagain bank, dg gaji 1 jutaan. Malas? Tidak beriman?

Kalau kita liat kondisi globalisasi dg kacamata ekonomi-politik, kita akan lihat bahwa membanjirnya barang impor adalah masalah politik. Mengapa ketika petani surplus bawang, garam, atau beras, keran impor dibuka? Mentan bilang, beras cukup, tapi Mendag buka impor (ini terjadi bukan cuma jaman Jokowi, zaman SBY juga ya begini ini yang terjadi). Ini politik atau masalah keimanan?

(lebih…)

Dunia Kita (2)

dunia kitaDi tulisan  “Dunia Kita (1), saya memberi link ke artikelnya Andre Vltchek (ia minta Rusia dan China untuk menyelamatkan Venezuela yang hampir tumbang dikuasai oleh Imperium). Jadi, secara global, ada negara-negara yang posisinya berlawanan dengan Imperium, yang terbesar dan terkuat adalah Rusia dan China. Di Timteng, Iran, Irak, Suriah, dan Hizbullah pun bersekutu dengan kedua kekuatan ini.

Pertanyaannya: Apa artinya kalau mau melawan Imperium, Indonesia juga harus bersekutu dengan China? Siapa yang jamin Indonesia akan jaya kalau kerjasama dengan China? Konon produk/proyek China di Indonesia banyak yang ga mutu [ini KONON ya, saya tidak mendalaminya]. Lalu, China juga mendatangkan pekerja dari China, padahal Indonesia surplus tenaga kerja (misal: kasus PLTU di Bali).

Cara melihatnya begini:

(1) Di tataran global, perlu diakui, memang Rusia dan China adalah dua negara yang punya kekuatan untuk melawan Imperium. Tak ada pilihan lain bagi negara-negara yang lebih kecil yang dalam keadaan terjepit, selain bekerja sama dengan keduanya. Misalnya, Iran dan Suriah; mereka melawan Imperium sendirian jelas sangat sulit. Sejauh ini Iran dan Suriah berkali-kali sudah ditolong oleh Rusia dan China lewat kekuasaan veto di PBB. Kalau dua negara besar itu tidak melakukan veto, NATO sudah dari kemarin-kemarin menyerbu Suriah (sebagaimana yang terjadi di Libya, hanya dalam hitungan hari, Qaddafi sudah tumbang diserbu NATO). Kalau Rusia tidak terjun langsung ke medan perang ‘menjaga’ Suriah, mungkin NATO (yang sebenarnya juga sudah menyerang Suriah, namun alasannya untuk membasmi ISIS) juga sudah merebut Damaskus.

(lebih…)

Dunia Kita

konflik timtengRepost Status FB

Umat Islam Indonesia yang baperan selalu merasa mereka adalah korban dari ‘kekuatan besar di luar sana’ yang anti-Islam. Padahal, di saat yang sama, kalau mau objektif melihat, justru orang-orang berjubah dan berpenampilan saleh-lah yang membawa agenda ‘kekuatan besar di luar sana’ untuk mengacaukan negeri ini. Lihat saja medsos kita penuh oleh perdebatan soal halal-haram, kafir-muslim, sementara hal-hal fundamental jadi terabaikan. Misalnya saja, perdebatan orang soal Ahok, karena diseret ke isu kafir-muslim, sentimen yang muncul menjadi tidak akurat lagi. Kasus-kasus reklamasi (kaitannya dengan lingkungan dan nasib nelayan, tidak hanya di Jakarta, tapi di seluruh Indonesia) yang sebenarnya berakar dari kerakusan para pemilik kapital, sulit terbahas dengan objektif, karena selalu ada unsur sentimen/kepentingan.

Dan sejatinya, seluruh konflik di dunia ini memang muncul akibat kerakusan para pemilik kapital global. Mereka ini sering diistilahkan sebagai ‘imperium’, atau sering juga langsung disebut “Amerika” [sebagai negara representasi imperium, negara yang paling depan menjalankan proyek-proyek Imperium] atau “Barat”. Saya akan pakai istilah Imperium.

(lebih…)

Para Frater [plus paper]

sotoro

Milisi Kristen Suriah, lihat benderanya merah-putih-hitam dengan 2 bintang; itu tandanya mereka pro-pemerintah. Bendera pemberontak=bendera Suriah era mandat Perancis: hijau-putih-hitam dengan 3 bintang.

Copas status FB
Para Frater

Pekan yll saya berkesempatan bicara tentang Timteng/Suriah di depan para frater (calon pastur). Di ruangan itu ada patung Yesus besar banget, di tiang salib. Terus-terang saya grogi. Dan kata si Akang, saya memang terlihat grogi. Tapi kata Kirana, “Mama keren.” Ya sudahlah terserah saja, toh sudah berlalu 😀

Yang saya jelaskan sebenarnya kurang-lebih sama dengan apa yang selama ini saya tulis maupun saya sampaikan di berbagai forum (hanya beda-beda titik tekan saja). Kali ini, presentasi saya awali dengan menampilkan foto-foto gereja yang hancur dibom, biarawati yang disandera oleh Al Nusra (tapi kemudian dibebaskan dalam skema pertukaran sandera dengan pemerintah), dan milisi Kristiani Suriah.

Saya katakan, perang Suriah mencapai titik balik dimana rakyat sipil akhirnya ikut angkat senjata untuk membela tanah air mereka dari gempuran pasukan asing (yang menyebut diri ‘mujahidin’ itu). Orang-orang Kurdi, Sunni, Syiah, Kristen, Druze, bangkit membentuk milisi bersenjata yang membela hal-hal penting bagi mereka. Orang Kurdi (Sunni) dan Kristen/Katolik mempertahankan tanah dan warga mereka dari kejahatan para perompak asing; orang Syiah kebanyakan turun tangan membela makam-makam Ahlul Bait Nabi (misalnya, makam Sayidah Zainab, cucu Rasulullah) agar tidak dihancurkan oleh bom kaum ‘mujahidin’, dll.

Salah satu milisi Kristiani adalah MSF (Mawtbo Fulhoyo Suryoyo, bahasa Assyria; dalam bahasa Inggris disebut ‘Syriac Military Council’). Di web al-monitor disebutkan bahwa milisi Kristiani berhasil mempertahankan wilayah Hasakah sehingga tidak jadi diduduki oleh ISIS. (http://www.al-monitor.com/pulse/originals/2015/10/syria-christians-militias-liberation-battle.html)
(lebih…)

Catatan Untuk Buya Syafi’i Ma’arif (1)

Dina Y. Sulaeman*

Dengan tidak mengurangi sedikitpun respek saya pada Buya Syafi’i Ma’arif, salah satu di antara beberapa ulama Indonesia yang paling saya hormati, berikut ini catatan saya atas tulisan beliau di Republika (8/9/2015) yang berjudul “Kepingan Neraka di Surga”. Semoga diskusi ini bisa menjadi wahana belajar bagi kita semua terkait pemetaan dan resolusi konflik. Karena cukup panjang (+3000 kata), tulisan ini akan saya bagi dua.

Tulisan Buya didasarkan setidaknya pada 4 asumsi besar, yaitu (1) kasus pengungsi di Eropa adalah klimaks dari fenomena konflik Suriah, (2) Presiden Suriah Bashar Assad adalah akar konflik (biang kerok), (3) Iran dan Rusia adalah negara agresor yang ingin memperluas kekuasaannya di Suriah, (4) Arab Saudi yang berkolaborasi dengan Israel juga ingin memperluas kekuasaannya hingga ke Suriah. Perspektif yang dipakai Buya dalam menganalisis konflik ini masih di seputar mazhab, yaitu menempatkan Iran dan Saudi sebagai negara yang “memanfaatkan” isu Syiah-Sunni untuk kepentingan kekuasaan.

Dari keempat asumsi ini, terlihat Buya memiliki pandangan yang khas, yaitu, meskipun “anti-Assad” dan “anti-Iran”, beliau dengan jernih juga melihat adanya tangan kotor Arab Saudi dan Israel di Suriah. Asumsi ke-4 ini biasanya tidak dihiraukan oleh kelompok-kelompok pendukung “jihad” Suriah; mereka umumnya sangat pro-Arab Saudi yang sejak awal konflik sudah menggelontorkan dana untuk para jihadis.

Saya akan mengkritisi keempat asumsi ini satu persatu.

(1) Problem Pengungsi

Ada yang terlewat dalam tulisan Buya yang hanya memfokuskan pada masalah pengungsian Suriah ini. Masifnya gelombang pengungsian ke Eropa dimulai sejak 2011, pasca tergulingnya Qaddafi. Sejak itu pula, sudah ribuan pengungsi dari berbagai negara mati tenggelam. Data UNHCR menyebut bahwa selama 2014 saja, total 3500 migran (dari berbagai negara) tewas dalam upaya mereka mencapai Eropa. Pada 27 Agustus 2015, dua kapal yang mengangkut 500 migran tenggelam di perairan Zuwara, Libya. Sebelumnya, pada Februari 2015, 300 migran dari Afrika Utara tenggelam di laut Mediterania, berasal dari Pantai Gading, Senegal, Gambia, Niger, Mali, dan Mauritania (data dari International Organisation for Migration-IOM). Sedemikian masifnya gelombang pengungsi dari Afrika ini, sampai-sampai Italia sejak Oktober 2013 meluncurkan operasi khusus bertajuk Mare Nostrum, segera setelah terjadinya tragedi Lampedusa di mana 366 migran tewas tenggelam.

Data dari BBC menyebutkan, sepanjang 2014-2015, pengungsi Suriah ke Eropa berjumlah 106.039 orang, Afghanistan 61.826, Pakistan 6.641, Kosovo 23.260, Eritrea 23.878, Nigeria 10.747, dan negara-negara Sub Sahara Afrika lainnya 9.766. Selain itu, lebih dari 300.000 orang meninggalkan Libya pada Januari-Agustus 2015, dan angka ini meningkat 40% dari tahun 2014.

Atas dasar ini, saya tidak melihat kasus pengungsi di Eropa ini sebagai klimaks konflik Suriah. Arus migran di Eropa adalah gambaran dari betapa banyak manusia di berbagai negara di dunia (tidak hanya Suriah) yang hidup dalam nestapa. Sehingga, yang seharusnya dilakukan adalah melihat lebih dalam, ada apa di balik di semua ini? Siapa yang berlumuran darah memicu konflik di berbagai negara di dunia? (Untuk mendapatkan jawaban lengkapnya, bisa baca buku William Blum, “Demokrasi, Ekspor AS yang Paling Mematikan”).

Khusus untuk Suriah, antara lain yang menjadi pertanyaan, mengapa media massa internasional sedemikian mem-blow-up kasus migran Suriah setelah adanya foto jasad bocah Kurdi-Suriah, Aylan, yang terdampar di pantai Turki? Ke mana saja mereka selama ini? Dan mengapa perhatian dunia seolah digiring untuk mengira bahwa pengungsi di Eropa hanya orang Suriah? Foto Aylan yang disebarluaskan secara masif di media massa mainstream, membuat sebagian rakyat Eropa ‘histeris’ dan beramai-ramai menyambut pengungsi dengan rasa haru; mereka juga menekan pemerintah mereka yang semula ‘anti-pengungsi’ (dilihat dari pidato-pidato para pemimpin Eropa, terjadi pergeseran posisi; awalnya mereka menolak tegas menampung pengungsi dengan alasan ‘kedaulatan’ atau ‘kepentingan nasional’).

(lebih…)

Catatan untuk Buya Syafi’i Ma’arif (2)

Dina Y. Sulaeman*

(3) Iran-Rusia, atau Israel yang Agresor?

Buya menulis (dengan berlandaskan pada tulisan pengamat politik dari kubu oposisi Suriah): ”Presiden Bashar al-Assad dengan dukungan Tehran dan Moskwa tampaknya rela melihat Suriah jadi puing perang daripada berdamai dengan lawan-lawan politik domestiknya.”

Di sini, “kesalahan” Buya (saya benar-benar mohon maaf atas penggunaan kata ini) adalah hanya mengindahkan kata-kata dari kubu oposisi saja. Bukankah Tehran dan Moskow terjun ke dalam konflik ini, setelah jihadis yang menggunakan cara-cara barbar (mengebom bunuh diri, menghancurkan infrastruktur, membunuh rakyat sipil dari berbagai agama dan mazhab, termasuk Muslim Sunni, menghancurkan masjid-masjid dan situs-situs bersejarah, serta memenggal kepala musuh-musuh mereka)? Jauh berbeda dengan AS, Inggris, Perancis, Arab Saudi, Qatar, Turki, yang sudah masuk masuk ke gelanggang sejak awal konflik.

Moaz Al Khatib bersama para pemimpin negara-negara pendukung perang Suriah (mereka menyebut diri 'Friends of Syria')

Moaz Al Khatib bersama para pemimpin negara-negara pendukung perang Suriah (mereka menyebut diri ‘Friends of Syria’: Inggris, Mesir, Mesir, Perancis, Jerman, Italia, Jordania, Qatar, Saudi Arabia, Turki, UAE, dan AS), di Roma

Pertemuan Friends of Syria di Amman

Pertemuan Friends of Syria di Amman

Hillary Clinton dalam pertemuan Friends of Syria di Tunis, 2012

Hillary Clinton dalam pertemuan Friends of Syria di Tunis, 2012

Dari sisi geopolitik, tindakan Rusia dan Iran untuk membantu Suriah adalah rasional. Bagi Rusia, Damaskus adalah sumber energi (penjelasan ada di bawah). Bagi Tehran, Damaskus adalah benteng terakhirnya di Arab dalam menghadapi Israel (tidak ada yang menyangkal permusuhan panjang Israel-Iran sejak awal kemenangan Revolusi Islam Iran 1979, kecuali para penyuka teori konspirasi abal-abal yang menyebut Iran-Israel sesungguhnya adalah sekutu dekat). Suriah berbatasan darat dengan Israel, Palestina, dan Lebanon. Posisinya sangat penting dalam perjuangan Iran menumbangkan Israel, yang sudah dikobarkannya sejak 1979. Perjuangan anti-Israel itu didasarkan pada identifikasi yang sangat tepat dari pemimpin Iran terhadap struktur dunia. (Perlu dicatat, yang dilawan Iran adalah rezim Zionis Israel, bukan Yahudi dalam makna Judaisme, karena terbukti Iran tetap melindung HAM warga negaranya yang beragama Yahudi).

(lebih…)

Globalisasi Konflik

Copas status di facebook:

Sering saya temukan, ketika saya (atau orang lain) menulis “Barat ada di balik konflik negara X”, muncul bantahan seperti ini “Jangan nyalah-nyalahin Barat! Itu kan salah warga negara X sendiri karena..bla..bla..” atau “Anda ini pakai teori konspirasi!” atau kecaman senada dengan berbagai model. Saya sungguh heran, di zaman internet begini, masih juga banyak yang belum paham bahwa dunia sudah jauh berubah. Tidak ada konflik yang berdiri sendiri di era globalisasi ini.

Tentu saja, yang dimaksud ‘Barat’ adalah politisi, korporasi, media mainstream yang memang sangat krusial perannya dalam konflik. Jadi, sangat tidak setara (not apple-to-apple; qiyas ma’al faariq) bila kita bilang Barat itu ‘baik’ hanya dengan bukti betapa baiknya rakyatnya (civil society) mengurusi para pengungsi. Ya, secara kemanusiaan, sangat mungkin civil society di Barat sangat humanis dan baik hati. Tapi kita sedang bicara soal politik internasional, soal siapa yang mendalangi perang.

(lebih…)