Kajian Timur Tengah

Beranda » Ekonomi Politik Global

Category Archives: Ekonomi Politik Global

Podcast Master Deddy yang mengundang saya telah direspons oleh banyak dari mereka. Secara serempak, beramai-ramai membuat “bantahan atas pernyataan Dina Sulaeman”.

Umumnya isi bantahan itu (selain mencaci-maki, ada juga yang mendoakan kematian saya) menceritakan sangat banyak kebohongan.

Antara lain kebohongan mereka: Assad melarang umat Muslim belajar baca Quran, melarang puasa, membenci Sunni, dll.

Bantahan atas sebagian kebohongan “mereka” itu ada di video ini. (Sebagian, karena saking banyak kebohongan mereka, tentu tidak cukup dibahas di 1-2 video).

Saya harap banyak yang bersedia men-sharenya. Kita semua harus semakin berani bersuara melawan “mereka” itu.

Salut pada Lion Fikyanto yang berani bersuara, menceritakan pengalamannya selama 9 tahun tinggal di Suriah (sejak 2011 sampai sekarang). Lion adalah mahasiswa Sunni Indonesia di Suriah

.https://www.youtube.com/watch?v=Cg2rDEmTxsY

Sumber Ideologi Teror Bisa Muncul dari Banyak Hal

Saya miris membaca berbagai komen yang merendahkan Islam, ketika ada yang membahas terorisme di medsos. Bahkan postingan donasi untuk NTT saja ditunggangi untuk melancarkan hate speech pada umat Muslim.

Benar bahwa berbagai aksi teror di berbagai tempat, terutama sejak perang Suriah, dilakukan atas nama Islam. Di Suriah ada ratusan milisi teror yang mengaku Muslim, antara lain ISIS. Saya pun sudah menulis sangat banyak tulisan membongkar perilaku para teroris ini, juga 2 buku tentang Suriah.

Tapi yang sering (sengaja) dilupakan oleh mereka yang menghina-hina umat Islam, adalah: siapakah korban terbanyak terorisme itu dan siapa yang paling berdarah-darah dalam perang melawan teror di Irak dan Suriah? Jelas kaum Muslim sendiri. Rakyat Irak dan Suriah bahu-membahu bersama militer mereka dalam perang-perang melawan ISIS (dan kelompok teror lain).

(lebih…)

Akhirnya..bikin podcast juga. Sebenarnya niatnya sudah lama, tapi tertunda. Kebetulan karena banyak yang protes atas pernyataan saya di Podcast Deddy Corbuzier, saya mulai sajalah bikin podcast. Antara lain isinya menjawab protes “mereka”. Tapi, tentu saja tujuan besarnya adalah menjelaskan Timur Tengah dengan panduan/basis keilmuan Hubungan Internasional, bukan didasari afiliasi ini-itu. https://www.youtube.com/watch?v=do9tqGjFgZ8

Tentang terorisme dan radikalisme di Indonesia

https://youtu.be/6Zq-3kzDcjI

Bisakah Kita Beri “Hukuman” Berat untuk Inggris?

Selamat pagi. Senin pagi, insyaAllah kita tetap penuh semangat menjalani pekan ini. Tetap yakin pada kekuatan tubuh, positive thinking, cukup tidur, dan makan sehat-bergizi.

Meski sudah berusaha menjaga mood agar stay happy, tapi sampai pagi ini saya masih sakit hati dengan penghinaan luar biasa yang dilakukan Inggris terhadap tim bulutangkis Indonesia. Terlalu banyak kejanggalannya. Kalau mereka sedemikian yakinnya bahwa pemain tanpa gejala (padahal hasil tesnya pun negatif) adalah berbahaya, seharusnya itu turnamen dibubarkan sekalian kan? Bukankah pemain bulutangkis Indonesia sudah berinteraksi dengan banyak orang dalam turnamen itu, sebelum akhirnya dipaksa mundur?

Bagaimana ya, cara “menghukum” Inggris?

Tadi malam saya membaca berita dari BBC. Menurut dokumen WHO, Inggris adalah salah satu di antara negara maju yang memblokir proposal untuk membantu negara-negara berkembang dalam meningkatkan kemampuan membuat vaksin.

Di berita itu disebutkan bahwa Inggris mengklaim sebagai “salah satu donatur terbesar dalam upaya internasional untuk memastikan bahwa lebih dari satu miliar dosis vaksin virus corona dikirim ke negara-negara berkembang tahun ini.”[1]

Artinya: “Kalian ga usah bikin sendiri, sini kami kasih sumbangan aja sedikit.Tapi sisanya beli sendiri ya!”

Salah satu riset soal c*v*d yang sangat banyak jadi rujukan adalah dari Inggris, yaitu dari lembaga penelitian bernama London Imperial College.

LIC mendapatkan dana puluhan juta USD dari Bill & Melinda Gates Foundation, dan ditugasi mengirimkan “analisis cepat atas penyakit menular” kepada WHO. Sebelumnya Ferguson juga pernah memberikan prediksi mengerikan soal berapa banyak yang akan mati akibat sapi gila, flu burung, dan flu babi. LIC dipimpin epidemiologis bernama Prof Neil Ferguson. Ferguson membuat “model” yang memprediksi bahwa kalau tidak dilakukan isolasi, lockdown, social distancing, dan penutupan sekolah/universitas, kemungkinan 500.000 orang di Inggris akan mati. Business Insider menjuluki Ferguson sebagai “Profesor Lockdown”. [2]

Pemodelan/prediksi dan “solusi” ala Ferguson ini diikuti oleh banyak negara di dunia, dirujuk oleh banyak saintis yang cuma bisa “membeo”. Dan kita sudah tahu bagaimana “bukti”-nya setelah setahun berlalu kan. Kita rakyat sudah banyak paham. Tidak perlu saya jelaskan detil. Soalnya, FB (dan para kaki tangan lokalnya) sangat galak kalau kita bicara di luar narasi “mereka”. Seminggu yll saya diblokir (tidak bisa posting) hanya gara-gara share video dua orang dokter yang mengajarkan cara membersihkan h*dung.

[Kalau tulisan ini juga diblokir, atau mungkin saja fanpage saya dihapus “mereka”, saya sudah bikin backup FP ya].

Jadi, menurut saya, cara terbaik “menghukum” Inggris adalah menolak membeli vaksin dari mereka, lalu Indonesia membuat vaksin sendiri. Mereka jelas akan rugi besar karena pasar Indonesia ini besar sekali.

Apalagi, ada masalah efek samping juga kan? Tolong diteliti dulu secara benar, bukan sekedar diteliti halal-haramnya. Italia, Jerman, Prancis, Spanyol, Portugis, Slovenia, Latvia, sudah menstop penggunaan produksi pabrik satu itu (dan jelas pertimbangan mereka bukan “halal-haram”).[3]

Apa Indonesia bisa bikin vaksin? Bisa dong. Yang bilang ga bisa dan menghalang-halangi upaya itu, perlu dipertanyakan dan dilacak, link-nya kemana?

Saya mendukung Pak Jokowi untuk mencintai produk-produk dalam negeri. Dan kalau produknya belum ada, mari kita buat. Ada sekian banyak saintis di bidang medis/farmasi di Indonesia, masa ga bisa? Dana riset juga udah jor-joran digelontorkan negara. Wahai saintis yang punya jabatan, buktikan kalau kalian benar-benar pintar, bukan cuma pintar kasih saran impor ke produsen ini atau onoh.

——

[1] https://www.bbc.com/indonesia/dunia-56466853

[2]https://www.businessinsider.com/neil-ferguson-transformed…

[3] berita 16 Maret 2021: https://www.ndtv.com/…/coronavirus-italy-france-other…

Hasil belajar dari video Dr. dr. Siti Fadilah Supari ini:

(1) Virus kopid sewaktu-waktu bisa melekat di saluran mukosa (hidung/ nasofaring, orofaring). Kalau cuma melekat (terpapar), tidak sampai masuk ke saluran pernafasan yang dalam, kita tidak sakit. Tapi kalau virusnya menembus masuk ke reseptor, itu namanya “terinfeksi”, dan sangat mungkin menyebabkan sakit.

Logikanya, kita bisa mencegah si virus yang masih “menempel” ini supaya tidak masuk ke saluran pernafasan dalam, dengan mencuci hidung (kita juga disuruh cuci tangan pake sabun kan, supaya virus yang nempel di tangan mati).

Cairan pencucinya apa? Gak mungkin sabun dikucurin ke hidung kan? Ini ditemukan setelah drh Indro melakukan berbagai percobaan, yaitu: NaCl 0.9% atau kita bikin sendiri dari air mineral (tidak mengandung iodium) yang dicampur dengan garam non-yodium (1 liter air + 1 sendok garam krosok). [Cara cuci hidung, tonton di sini: https://www.youtube.com/watch?v=7ibDsqOfKpg]

Ketika kita dites, sangat mungkin hasilnya positif jika ada virus di tempat yang dilakukan swab (misal, hidung). Karena, alat tes hanya mendeteksi keberadaan virus, bukan sakit/tidak sakit. Makanya ada banyak kasus, tidak merasa sakit, tidak ada gejala, tapi kok hasil tesnya positif?

Kalau kita sudah melakukan cuci hidung, insyaAllah kalau dites tidak positif (karena virus yang nempel di hidung sudah dibersihkan; ibaratnya kita sudah cuci tangan). Tapi, kalau ditesnya dalam keadaan sudah terinfeksi, tentu saja akan tetap positif hasilnya.[

Pelajari juga cara membaca hasil tes PCR, pelajari makna angka-angkanya. Apalagi kalau dikasih hasil tes tanpa angka, pasien berhak minta penjelasan. Pelajari di youtube drh Indro: https://www.youtube.com/watch?v=t_CSA5vgzBY]

(2) Soal masker. Apa resiko pakai masker terus-menerus?

(3) dll.

Tonton sendiri videonya. https://www.youtube.com/watch?v=x5mXrkmh0eA

Mengapa Sebagian Orang Membencinya?(Mengenang KH Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc.)

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/693877661292024

Kabar duka kematian cendekiawan Muslim terkemuka Indonesia ini menyentak hati banyak orang. Ucapan duka bermunculan dari banyak orang, dari berbagai kalangan, menceritakan kenangan masing-masing. Sebagian besar yang saya baca, menceritakan perjalanan intelektual keagamaan mereka yang diwarnai oleh pemikiran intelektual Kang Jalal (demikian beliau biasa disapa). Buku-buku, pidato, dan ceramah Kang Jalal memang sarat muatan intelektual, mengutip referensi yang sangat luas; dari kitab kuning hingga kitab filsafat klasik Prancis.

Tulisan-tulisan kenangan itu datang dari berbagai kalangan, Sunni, Syiah, NU, Muhammadiyah, Kristen; orang Indonesia, orang asing. Ini menunjukkan kepada kita bahwa suara intelektualitas dan spiritualitas yang disampaikan Kang Jalal telah melintasi segala sekat. Dan logikanya, kalau kita bisa dengan gagah mengutip atau mengikuti Sartre, Habermas, atau Chomsky, tanpa dicaci; seharusnya sah-sah saja mengutip atau mengikuti pemikiran Kang Jalal, seorang intelektual Muslim Indonesia.

Anehnya, mengapa sampai ada yang membenci dan mencaci-maki beliau?

(lebih…)

Terbit: Jurnal ICMES Vo. 4 No. 2

Artikel yang dipublikasikan dalam edisi ini:

1. Perbedaan Persepsi Turki dan North Atlantic Treaty Organization terhadap Ancaman Terorisme: Permasalahan Kurdi (Alvin Christopher Simbolon)

(lebih…)

“Anda Tidak Perlu Jadi Yahudi untuk Menjadi Zionis”

Alhamdulillah, meskipun media Israel (dan digemakan oleh media lokal) berusaha menggiring opini publik Indonesia, “pemerintah Indonesia akan menormalisasi hubungan dengan Israel”, Kemenlu sudah menyatakan tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel dan akan tetap konsisten membela Palestina.

Indonesia adalah negara demokratis dan suara masyarakat sangat berperan dalam pengambilan keputusan. Indonesia berbeda dengan UAE, Bahrain, Maroko; mereka adalah negara monarki. Apa kata pemimpinnya, itulah yang dilakukan. Rakyat ga bisa protes. Sementara, sudah bukan rahasia bahwa sejak Arab Spring, raja-raja Arab ketakutan akan digulingkan oleh rakyatnya. Mereka butuh perlindungan agar tetap di singgasananya dan yang menawarkan perlindungan adalah AS.

Sebaliknya, pemerintah Indonesia didukung rakyatnya dan tidak butuh perlindungan kekuatan asing.

(lebih…)

Diskusi Dina Y. Sulaeman dengan Gus Najih, Habib Nuruzzaman, dan Eko Kuntadhi

https://www.youtube.com/watch?v=GJw3opEYdv0