Kajian Timur Tengah

Beranda » Embargo Iran

Category Archives: Embargo Iran

Daud Melawan Goliath

republika1Fariba, tetangga saya di Teheran (2003-2007) mudah sekali sedih dan stress. Pasalnya, suaminya selalu berada dalam bahaya. Suaminya anggota Garda Revolusi Iran, dan sewaktu-waktu “menghilang” untuk misi anti-terorisme. Fariba selalu ketakutan, suatu saat giliran suaminya yang syahid dibunuh teroris. Dan benar saja, tahun 2009, saat saya sudah di Indonesia, suaminya dan beberapa rekannya syahid dalam aksi bom bunuh diri yang dilakukan teroris di Zahedan (perbatasan Pakistan).

Sejak Republik Islam Iran dibentuk dan AS ditendang keluar Iran (padahal sebelumnya AS sedemikian berkuasa di Iran, baik ekonomi maupun politik), aksi-aksi teror tak habis-habisnya menyerang Iran. Sejak 1979-2014, korban terorisme di Iran (bom bunuh diri/ledakan bom) mencapai 17.180 orang, menjadikan Iran sebagai negara dengan korban terorisme terbesar di dunia. Sebagian yang menjadi korban tewas itu adalah para pejabat tinggi negara seperti Presiden Rajai, PM Bahonar, Ketua MA Beheshti, dan Panglima Militer Shirazi. Ayatollah Khamenei sendiri tangan kanannya kisut dan tak bisa digerakkan akibat terkena serpihan bom saat sedang berceramah di Masjid Abu Dzar, Teheran (1981). Beberapa tahun terakhir, yang menjadi korban teror adalah ilmuwan-ilmuwan nuklir Iran.

Jurnalis investigatif terkemuka, Seymour Hersh (2008) pernah menulis laporannya tentang kucuran dana AS untuk membiayai kelompok-kelompok teror (antara lain, Jundullah, the Mujahideen-e-Khalq/MEKdan kelompok separatis Kurdithe Party for a Free Life in Kurdistan/PJAK). Tim Shipman dari the Telegraph sebelumnya (2007) juga sudah merilis informasi bahwa Bush meluncurkan “operasi hitam” untuk menggulingkan rezim. Pada tahun itu pula, pemerintah Iran mengumumkan telah menangkap 10 anggota Jundullah membawa uang cash USD500.000 bersama “peta daerah sensitif” dan “peralatan mata-mata modern”.

(lebih…)

Merdeka

girl with raised hands and broken chains

Komentar teman saya orang Iran, saat chat via LINE, “Sebelum kasus Syekh Nimr, Arab Saudi, Bahrain, dan Sudan sudah menurunkan level diplomatik, mereka cuma punya konsulat di Iran. Jadi, kasus Syekh Nimr cuma alasan yang dibuat-buat untuk memutuskan hubungan diplomatik. Apalagi UAE. Yang kemarin menyerang konsulat Saudi itu orang-orang bayaran konsulat UAE, dan sudah ditangkap untuk kemudian diadili pemerintah. Mengapa harus takut dikucilkan pemerintah negara-negara “ngaco”? Santai saja…”

Nasionalisme rakyat Iran sudah teruji 36 tahun terakhir ini (sejak berdirinya Republik Islam). Diembargo obat-obatan? Bikin sendiri. Diembargo senjata? Bikin sendiri. Diembargo jaringan perbankan Rothschild? Pedagang selalu punya jalan keluar, life goes on. Dikucilkan? Nggak takut. Diperangi? Lawan.

Iran bukan negara kaya. Embargo (terutama boikot perbankan) tetap memberikan kesulitan ekonomi bagi Iran. Dalam sebuah diskusi, orang KADIN mengeluhkan perdagangan dengan Iran sulit dilakukan karena Bank Indonesia tidak mau memberi jaminan L/C (tanya kenapa?). Kesulitan sama tentu dirasakan Iran, misalnya, pingin beli kertas langsung dari Indonesia (biar lebih murah) gak bisa, musti lewat Malaysia karena Bank Malaysia kasih jalan. Produk Indonesia, tapi belinya lewat M’sia, enak amat tuh si makelar. Makanya Iran mau jual minyak murah ke Indonesia asal ga lewat makelar. Kenapa ga terwujud? Jawaban ada di bawah.

(lebih…)

Berkah Rouhani: Munculnya Optimisme Hubungan Indonesia-Iran

Dina Y. Sulaeman*
Photo by Ebrahim Noroozi/AP

Photo by Ebrahim Noroozi/AP

Angin segar yang dibawa Presiden Rouhani tampaknya tidak hanya berhembus di perundingan nuklir P5+1, namun juga memberi prospek baru hubungan Indonesia-Iran. Hal ini terungkap dalam Forum Kajian Kebijakan Luar Negeri (FKKLN) bertajuk “Optimalisasi Hubungan Indonesia Iran di Bawah Pemerintahan Presiden Hassan Rouhani Pasca Pelonggaran Sanksi Iran oleh Negara Barat.” Research associate Global Future Institute, Dina Y. Sulaeman, yang diundang hadir dalam FKKLN, menuliskan laporannya berikut ini.

Persepsi negatif. Inilah kata kunci yang patut diberi garis tebal dalam diskusi FKKLN sehari penuh di hotel Aston Tropicana, Bandung (8/2). Hampir semua pembicara, mulai dari Listyowati (Direktur Asia Selatan, Ditjen Aspasaf Kemlu), Andy Rachmianto (Direktur Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata Kemlu), Ibnu Hadi (Direktur Amerika Utara dan Tengah Kemlu), Dian Wirengjurit (Dubes Indonesia untuk Iran), Azyumardi Azra (Direktur Pascasarjana UIN Jakarta), Abdul Mu’ti (Sekretaris Dewan Pendidikan Muhammadiyah), dan Trias Kuncahyono (Wapemred Kompas) menyampaikan potensi besar hubungan Indonesia-Iran yang menguntungan kepentingan nasional Indonesia, dari berbagai aspek. Namun, ada sejumlah kendala yang muncul dan sebagian besarnya terkait dengan persepsi negatif tentang Iran.

Listyowati menyampaikan data-data hubungan bilateral Indonesia-Iran. Sejauh ini sudah 53 dokumen kerjasama bilateral yang ditandatangani, melalui berbagai mekanisme, mulai dari Joint Committee on Economic and Trade, hingga Joint Cultural Commission.  Sayangnya, belum semuanya terlaksana. Selain itu, volume perdagangan kedua negara pada tahun 2013 ini menurun karena berkurangnya impor  migas dari Iran.  Tahun 2012, volume dagang  Indonesia-Iran USD 1,26 M, namun 2013 hanya USD 495,45. Kedua negara saling membutuhkan: Indonesia butuh migas murah dari Iran, sebaliknya Iran sangat membutuhkan kertas, minyak nabati, teh, kopi, dari Indonesia. Iran bahkan sudah memberikan komitmen investasi di Indonesia: refinery, petrokimia, pembangkit listrik, nuklir, manufaktur, transportasi udara, kesehatan, dll.

Namun demikian, selama ini ada kendala besar yaitu sistem perbankan yang masih menghalangi transfer uang dari Indonesia-Iran (dan sebaliknya). Yang menarik, Listyowati juga menyebutkan bahwa meskipun di level G to G (antar pemerintah) hubungan Indonesia –Iran tidak ada masalah, di level grass-root ada kendala, yaitu isu Sunni-Syiah di Indonesia. Akhir-akhir ini kelompok radikal di Indonesia telah melakukan gerakan anti-Syiah sambil melakukan pelecehan terhadap lambang-lambang negara Iran.

(lebih…)

Ke-lebay-an Argo

Berikut ini beberapa poin yang saya sampaikan dalam diskusi film ‘Argo’ yang diadakan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Unpad.

1.      Kronologi peristiwa

  • Revolusi Islam menang/Syah Pahlevi terguling: 11 Feb 1979
  • Penyanderaan Kedubes AS di Teheran: 4 Nov 1979-20 Jan 1981 (444 hari), dilakukan oleh mahasiswa.
  • 18 Nov 1979: Imam Khomeini perintahkan mahasiswa utk bebaskan sandera wanita dan sandera berkulit hitam.
  • 28 Jan 1980: Canadian Caper operation (operasi penyelamatan 6 pegawai kedubes AS, dilakukan oleh pemerintah Kanada bersama CIA; inilah yang diceritakan dalam film Argo)
  • 24 April 1980: Operasi Eagle Claw untuk menyelamatkan para sandera (gagal; pesawat-pesawat tempur AS yang sudah sampai di gurun Tabas tiba-tiba diserang angin gurun dan bertabrakan satu sama lain; Imam Khomeini mengomentari kejadian ini sebagai ‘pertolongan Tuhan’)
  • 27 Juli 1980: Shah meninggal di Kairo
  • Sept 1980: Irak serang Iran (didorong AS-US)
  • 19 Januari 1981: Perjanjian Algiers (AS berjanji tidak lagi mengintervensi politik dan militer Iran; berjanji mencairkan aset Iran yang dibekukannya, dan berjanji menghentikan sanksi ekonomi terhadap Iran; sebaliknya, Iran berjanji membayar hutang -yang dilakukan era Shah-kepada AS). Sandera pun dibebaskan. Namun sampai kini semua janji itu tidak ditepati AS.

Situasinya begini. AS punya sejarah perilaku yang membuat sakit hati banyak orang Iran. Pada tahun 1953 AS mendalangi penggulingan Perdana Menteri Iran, Mohammad Mossadegh.  Ini bukan teori konspirasi, bahkan sudah diakui Menlu Madeleine Albright (tahun 2000) dan Obama (2009). Padahal, Mossadegh terpilih melalui pemilu demokratis. Mossadegh tidak disukai AS karena ia menasionalisasi kilang-kilang minyak Iran. Upaya penggulingan dilakukan dengan merekayasa demo di Teheran (dihadiri 8000 demonstran bayaran). Setelah tumbangnya Mossadegh, Iran dikuasai Shah Pahlevi yang sangat patuh pada AS. Bahkan, pada tanggal  13 Oktober tahun 1964, Shah mau menandatangani perjanjian Kapitulasion, yang isinya seluruh warga negara AS yang tinggal di Iran memiliki kekebalan hukum atas setiap perbuatannya. Seandainya ada warga AS yang melakukan kejahatan di Iran, maka tidak ada lembaga hukum Iran yang bisa mengadilinya, dan yang bersangkutan hanya bisa diadili di negaranya sendiri, yaitu AS. Imam Khomeini melakukan penentangan atas perjanjian ini dan kemudian dibuang ke luar negeri. Namun justru dari luar negerilah Imam Khomeini semakin mengobarkan revolusi, sampai akhirnya Shah terguling tanggal 11 Februari 1979.

Upaya penggulingan Shah dilakukan melalui demo-demo masif di seantero Iran, dan salah satu unsur yang sangat berperan dalam berbagai aksi demo itu adalah mahasiswa. Ketika Shah terguling dan kabur ke AS, mahasiwa Iran yang tergabung dalam perkumpulan ‘Mahasiswa Pengikut Garis Imam’ mencurigai Kedubes AS sebagai pihak yang berperan dalam berbagai upaya destabilisasi politik (antara lain dengan membiayai dan mendukung kelompok-kelompok antirevolusi). Setelah Kedubes AS diduduki, mereka memang menemukan sangat banyak dokumen yang membuktikan bahwa CIA melakukan aksi mata-mata dan upaya subversif di Iran.

2.      Ke-lebay-an Argo

Dalam film ini, agen CIA bernama Tony Mendez digambarkan sebagai jagoan yang menyelamatkan enam karyawan Kedubes AS yang pada peristiwa penyanderaan Kedubes berhasil kabur dan bersembunyi di Dubes Kanada. Film ini buat saya sangat membosankan, kecuali di bagian akhir, detik-detik ketika ketujuh warga AS yang menyamar jadi warga Kanada itu berusaha naik pesawat Swiss Air. Mereka sempat dikejar-kejar petugas keamanan Iran, namun, akhirnya pesawat itu terbang dan meninggalkan Iran.

Masalahnya, kejadian itu ternyata fiksi. Menurut salah seorang karyawan kedubes AS, Lee Schatz, situasi saat mereka meninggalkan bandara baik-baik saja. Bisa lihat di video di bawah ini (termasuk juga kesaksian mantan mahasiswa Iran pelaku pendudukan Kedubes AS)

Bahkan, Ken Taylor (yang saat kejadian itu bertugas sebagai Dubes Kanada dan terlibat langsung dalam peristiwa ini) memberikan kritikan berikut ini:

(lebih…)

Iran Adalah Aktor Rasional, Bagaimana Dengan AS?

©Dina Y. Sulaeman

Pemberitaan yang dirilis PressTV dan IRIB Indonesia baru-baru terkait pernyataan komandan staff gabungan militer AS, Gen. Dempsey sangat menarik. Dalam wawancaranya dengan CNN, Dempsey menyebut Iran sebagai ‘aktor rasional’. Saya sulit menilai bahwa ini sebuah pujian, sehingga saya mencari transkrip asli wawancaranya. Ternyata, Dempsey menyebut kerasionalan Iran itu terkait dengan sanksi embargo bertubi-tubi yang tengah diarahkan kepada Iran. Dempsey yakin bahwa karena rasionalitas itu, lambat-laun Iran akan tunduk pada kemauan Barat.

Saya pun membuka-buka kembali text-book Foreign Policy Analysis yang sudah pasti memuat bahasan soal ‘aktor rasional’. Dalam kajian Hubungan Internasional, pelaku aktivitas politik internasional itu diistilahkan dengan ‘aktor’. Aktor ini bisa berupa negara, perusahaan, LSM, atau bahkan individu. Dalam analisis Kebijakan Luar Negeri (selanjutnya saya singkat KLN), sebuah negara (yang diistilahkan dengan ‘aktor’) diharapkan bertindak rasional sehingga menguntungkan kepentingan nasionalnya. Dalam kasus Iran, ketika sudah ‘habis-habisan’ diembargo—menurut perspektif AS—tindakan rasional yang dilakukan Iran seharusnya adalah tunduk kepada AS. Tentu saja, bagi Iran, tunduk kepada AS jelas bukan KLN yang rasional. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya sudah menjelaskan bahwa kekuatan soft power Iran justru sangat tangguh dan ketundukan pada AS sangat kontradiktif dengan soft power yang dimiliki Iran.

(lebih…)

Soft Power, Sumber Kekuatan Iran

Dina Y. Sulaeman*

Dalam studi Hubungan Internasional, power, atau kekuatan negara-negara biasanya didefinisikan dalam dua kategori, hard power dan soft power. Hard power secara singkat bisa dimaknai sebagai kekuatan material, semisal senjata, jumlah pasukan, dan uang yang dimiliki sebuah negara. Umumnya pemikir Barat (atau pemikir Timur yang westernized) lebih memfokuskan pembahasan pada  hitung-hitungan hard power ini. Contohnya saja, seberapa mungkin Indonesia bisa menang melawan Malaysia jika terjadi perang? Yang dikedepankan biasanya adalah kalkulasi seberapa banyak senjata, kapal perang, kapal selam, dan jumlah pasukan yang dimiliki kedua negara.

Begitu juga, di saat AS dan Israel berkali-kali melontarkan ancaman serangan kepada Iran, yang banyak dihitung oleh analis Barat adalah berapa banyak pasukan AS yang kini sudah dipindahkan ke pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan sekitar Teluk Persia; seberapa banyak rudal yang dimililiki Iran, seberapa jauh jarak jelajahnya, dst.

Bila memakai kalkulasi hard power, harus diakui bahwa sebenarnya kekuatan Iran masih jauh di bawah AS. Apalagi, doktrin militer Iran adalah defensive (bertahan, tidak bertujuan menginvasi Negara lain). Iran hanya menganggarkan 1,8% dari pendapatan kotor nasional (GDP)-nya untuk militer (atau sebesar 7 M dollar). Sebaliknya, AS adalah negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, yaitu 4,7% dari GDP atau sebesar  687 M dollar. Bahkan, AS telah membangun pangkalan-pangkalan militer di berbagai penjuru dunia yang mengepung Iran. Bisa diperhatikan di gambar ini. Daerah berwarna ungu adalah kawasan di mana ada pangkalan militer AS.

Tapi, dalam kasus Iran, memperhatikan kalkulasi hard power saja tidak cukup. Sebabnya adalah karena kunci kekuatan Iran justru di soft power-nya. Dan ini sepertinya diabaikan  oleh banyak analis Barat, mungkin sengaja, atau mungkin juga ketidaktahuan. Dalam papernya di The Iranian Journal of International Affairs, Manouchehr Mohammadi (Professor Hubungan Internasional dari Tehran University) menyebutkan bahwa kemampuan Republik Islam Iran untuk bertahan hingga hari ini adalah bergantung pada faktor-faktor yang sangat langka ditemukan dalam masyarakat Barat yang materialistis, yaitu faktor-faktor spiritual. Tentu saja, faktor hard power tetap diperhatikan oleh Republik Islam Iran, namun basisnya adalah soft power.

(lebih…)

Ke Iran setelah 30 Tahun Diembargo Amerika (by Dahlan Iskan)

Tulisan menarik karya Dahlan Iskan (Dirut PLN). Panjang, tetapi ditulis dengan gaya bahasa yang mengalir cepat sehingga tidak menjemukan.

Kuasai Teknologi Pembangkit Canggih saat Kepepet

BARU sekali ini saya ke Iran. Kalau saja PLN tidak mengalami kesulitan mendapatkan gas dari dalam negeri, barangkali tidak akan ada pikiran untuk melihat kemungkinan mengimpor gas dari Negara Para Mullah ini. Sudah setahun lebih PLN berjuang untuk mendapatkan gas dari negeri sendiri. Tapi, hasilnya malah sebaliknya. Jatah gas PLN justru diturunkan terus-menerus.

Kalau awal 2010 PLN masih mendapatkan jatah gas 1.100 MMSCFD (million metric standard cubic feet per day atau juta standar metrik kaki kubik per hari), saat tulisan ini dibuat justru tinggal 900 MMSCFD. Perjuangan untuk mendapatkan tambahan gas yang semula menunjukkan tanda-tanda berhasil belakangan redup kembali.

Gas memang sulit diraba sehingga tidak bisa terlihat ke mana larinya. Bisa jadi gas itu akan berbelok-belok dulu entah ke mana, baru dari sana dijual ke PLN dengan harga yang sudah berbeda. Padahal, PLN memerlukan 1,5 juta MMSCFD gas. Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas sebanyak itu, penghematannya bisa mencapai Rp 15 triliun setiap tahun. Angka penghematan yang mestinya menggiurkan siapa pun.

Maka, saya memutuskan ke Iran.

(lebih…)