Kajian Timur Tengah

Beranda » epistemic community

Category Archives: epistemic community

Iklan

Analisis Berita: Bagaimana Detik.com Memberitakan Idlib

Isi berita saya copas utuh, catatan dari saya ada di dalam [….]
—-
***Serangan udara yang disebut dilakukan pihak rezim bersama sekutunya, Rusia, menewaskan 12 orang di barat laut Suriah. Korban tewas ini terdiri dari warga sipil dan tiga orang anak.

Dilansir AFP, Jumat (26/7/2019), rezim Suriah dan Rusia telah meningkatkan serangan sejak akhir April. Serangan ini dilakukan di wilayah Idlib, di mana wilayah ini memiliki penduduk sebanyak 3 juta orang.

Pengeboman yang dilakukan, disebut telah meruntuhkan pusat kesehatan dan sekolah. Hal ini juga mengakibatkan lebih dari 330.000 orang meningalkan rumah masing-masing.Kelompok-kelompok yang memberikan bantuan mengecam kejadian yang telah membunuh dengan sebagian korbannya merupakan anak-anak. Save the Children mengatakan jumlah anak-anak yang terbunuh selama empat minggu terakhir, telah melebihi jumlah korban anak-anak yang tewas sepanjang tahun lalu.

“Situasi saat ini di Idlib adalah mimpi buruk,” kata badan amal Sonia Khush.

“Sudah jelas bahwa sekali lagi anak-anak telah terbunuh dan terluka dalam serangan tanpa pandang bulu,” tuturnya.***
—–

(lebih…)

Iklan

Ada cerita menggelikan…

Alkisah ada Paijo, doktor jurusan saluran air lulusan Kutub Selatan, selama ini kadang nulis status soal Palestina-Israel. Dia tipe sok netral dan sok toleran, dan suka menuduh orang yang pro Palestina adalah radikalis yang mendasarkan diri pada klaim-klaim Al Quran (sialnya, emang banyak radikalis yang suka bawa-bawa bendera Palestina kalo demo).

Si Paijo ini temenan baik dengan seorang perempuan cantik pro Israel, sebut saja namanya Mawar. Paijo suka membela Mawar dengan alasan “toleransi”.

Fakta yang diabaikan oleh Paijo (maklum kan dia sibuk bikin saluran air, jadi tentu tidak maksimal membaca-baca soal Timteng), kubu pro-Palestina itu banyak, bukan cuma yang pro-Hamas. Ada Muslim moderat, ada Muslim sekuler, ada komunis, ada Katolik (orang-orang Venezuela, dan Paus Francis, misalnya), dan bahkan ada orang Yahudi-Israel sendiri (saya pernah cerita soal Gilad Atzmon dan Miko Peled, 2 penulis Israel yang sangat aktif membela Palestina dan mengecam rezim Zionis).

(lebih…)

Tentang Bukalapak dan ACT

Sejak kemarin dumay dihebohkan oleh tulisan facebooker bernama Dahono Prasetyo yang berjudul “Bukalapak Bukalah Topengmu”; dicopas di mana-mana, antara lain di [1].

Sebagai ‘martir’ untuk isu Suriah (menulis soal Suriah sejak 2011, habis-habisan dibully, bahkan diancam bunuh, tapi terbukti bahwa kemuliaan tidak akan tertukar; karma itu ada, lihat siapa yang sekarang ketakutan dan tiarap), saya merasa perlu menulis tanggapan.

1. Poin utama kasus ini adalah: BL (dan sangat banyak lembaga lainnya) bekerjasama dengan ACT. Nah, masalahnya, untuk isu Suriah, ACT selama ini secara jelas menunjukkan keberpihakan kepada pemberontak Suriah (oleh fans disebut “mujahidin”). Lihat di foto, bendera pemberontak Suriah-lah yang dipakai saat penggalangan dana ACT (hijau-putih-hitam, bintang 3), bukan bendera resmi Suriah (merah-putih-hitam, bintang 2).

2. Perlu diketahui, ada ratusan kelompok teror di Suriah, mulai dari FSA, Jaish al Islam, Faylaq ar Rahman, Harakat Nour al-Din al-Zenki, dan Harakat Ahrar al-Sham al-Islamiyya, hingga ISIS. ISIS ini adalah “keturunan” dari kelompok teroris yang berafiliasi dengan Al Qaida, namanya Al Nusra. Jadi, di antara mereka ini berkoalisi, lalu pecah, lalu ganti nama, dll. Kalau khilafah berdiri di Suriah, dipastikan mereka akan saling bunuh satu sama lain, rebutan jabatan.

(lebih…)

Menolak Buta Sejarah: Palestina 1896

Sebenarnya, konflik Palestina-Israel ini mudah dipahami, siapa yang salah, siapa yang benar. Pakai logika pun cukup. [1]
 
Yang bikin orang gagal paham adalah karena terlalu banyak noise (kebisingan gak jelas, mengaburkan akar masalah). Ada ahli kimia, ahli geologi, atau ahli saluran air mendadak berlagak jadi “pengamat Palestina-Israel”. [2]
 
Kalau untuk jadi dokter, orang musti kuliah bersusah-payah bertahun-tahun, tapi untuk jadi “pengamat Palestina-Israel”, banyak yang merasa, sekedar modal googling pun sudah jadi “ahlinya ahli”, lalu berlagak menjadi “pejuang toleransi” demi membela Israel.

Di Universitas Pertahanan (Sentul)

Presentasi paper “Towards a New Concept of Counterterrorism in Indonesia: a Gender-Sensitive Approach”.

Perempuan yang tergabung dalam organisasi teroris itu sebenarnya pelaku saja, atau sekaligus juga korban? Korban doktrin radikal, korban sistem patriarki puritan versi Wahabi.
Tapi kalau dianggap korban, kok seolah perempuan itu tak berdaya banget, tak bisa membebaskan diri dari penjajahan pemikiran?

*silahkan saja kalau mau komen dan diskusi tapi mohon maaf sedang tidak bisa diskusi, masih banyak PR 🙂

** nanti kalau paper saya sudah dipublish, akan dishare di sini.

Wawancara dengan Geotimes [Geolive]

 

Menyambung Status Kemarin…

Menanggapi berbagai komen (sebagian sih sudah saya jawab langsung), ada yang perlu saya jelaskan. Ingat, ini bukan dalam rangka membela teroris atau tidak bersimpati sama korban ISIS ya (saya akan blokir orang-orang yang berani komen kayak gini lagi, sialan bener).

1. Kasus yang kita bahas adalah: petempur ISIS dan keluarganya asal Indonesia yang SEDANG DITAWAN oleh otoritas Kurdi Suriah (=pemerintah daerah). FYI, Kurdi itu suku, agamanya mayoritas Muslim Sunni.

2. Mereka ini ditahan karena MENYERAH. Jadi, secara hukum internasional, mereka harus “dilindungi”, ga bisa ditembakin semena-mena oleh SAA (tentara Suriah). Coba saja Assad berani melakukan pembantaian massal kepada mereka, besoknya pesawat tempur NATO akan langsung menyerbu dengan tuduhan “Assad melakukan kejahatan kemanusiaan”.

(lebih…)

Eks-ISIS, Dipulangkan atau Tidak?

Konvensi internasional mengatur bahwa tidak boleh ada satu manusia pun yang stateless (tak berwarga negara). Makanya kita membantu Rohingya, yang tidak diakui sebagai warga negara oleh pemerintah Myanmar.

Nah, orang-orang Indonesia yang bergabung dengan ISIS, jika tidak diakui oleh Indonesia (sebagai negeri kelahiran mereka), lalu, siapa yang harus mengurus? Anda bayangkan posisi Suriah saat ini: sudahlah diperangi 8 tahun, warganya dibantai secara brutal, diusir, diperkosa, diperbudak oleh orang-orang ISIS ini (yang datang dari berbagai penjuru dunia), apakah kini juga harus terus menampung dan mengurus mereka?

Dan memang, hukum internasionalnya: negara asal yang seharusnya mengurus.

Tapi kan tidak adil, mengerikan? Masa kita harus menerima para radikal itu? Kalau mereka mengebom di sini gimana? Kalau mereka menyebarkan virus radikalisme di sini gimana?

(lebih…)

Saatnya Memilih, Mau Berpihak Kemana?

Dari Bandung, ada berita miris sekaligus melegakan. Miris, karena seorang ustadz yang punya track record menebar kebencian (dan semakin ‘menggila’ sejak Perang Suriah dimulai), berkhutbah di hari Idul Fitri dengan menebar fitnah soal “kecurangan”. Melegakan, karena menurut kesaksian seorang netizen, sebagian jamaah sudah berani bersikap: meninggalkan masjid ketika ‘khutbah politik’ itu berlangsung [1]

Dari Lampung, ada berita yang menyejukkan (saya copas di bawah).

Ini memang sudah saatnya berpihak: kepada para penebar perpecahan yang memanfaatkan isu apa saja (tergantung orderan), kadang pakai isu liberal/komunis, kadang Syiah, kadang China, kadang “kecurangan rezim” ATAU kepada para pembawa damai dan persatuan.

***

SELAMAT IDUL FITRI kepada follower fanpage ini yang merayakan. Taqabalallah minna wa minkum, shiyamana wa shiyaamakum. Mohon maaf lahir dan batin

***

(lebih…)

Waspadai Bisnis Penggulingan “Rezim”

Mengamati perkembangan politik dalam negeri akhir-akhir ini, sebagai pengamat Timteng, saya langsung melihat persamaan polanya dengan apa yang terjadi di Timteng. Mengapa bisa sama? Ya karena memang para inisiator Arab Spring ‘berguru’ pada konsultan yang sama. Google saja nama NED atau Srdja Popovic. Keduanya adalah proxy dari kekuatan adidaya ekonomi dunia. Saya juga pernah cerita tentang hal ini di buku saya Prahara Suriah, bisa didonlot gratis. [1]

Revolusi Tunisia dipicu oleh tewasnya Bouazizi (membakar diri). Sebelum Bouazizi, sudah ada beberapa pemuda frustasi yang bunuh diri, tapi 17 Desember 2010 (hari kematian Bouazizi) adalah momen di mana para inisiator demo dengan kekuatan penuh memanfaatkan kematiannya dengan memainkan isu yang memang ‘relate’ (terhubung) dengan keresahan masyarakat umum (misal, kesulitan ekonomi, korupsi elit, dll) sehingga massa bisa didorong untuk turun ke jalan secara besar-besaran. Akhirnya, Presiden Ben Ali tumbang.

Di Mesir, ketika aksi-aksi protes mulai terjadi di awal Februari 2011 (dengan isu kesulitan ekonomi), tiba-tiba saja beberapa orang berkuda dan ber-unta menerobos kerumunan, terjadi kerusuhan, dan yang dituduh pelakunya tentu saja rezim Mubarak. Aksi-aksi demo semakin tereskalasi, semakin banyak korban berjatuhan, massa semakin marah, demo semakin besar, dan akhirnya, Mubarak tumbang.

(lebih…)