Kajian Timur Tengah

Beranda » epistemic community

Category Archives: epistemic community

Apakah Kewajiban Berhijab Memundurkan Perempuan?

Kemarin saya lihat ada video yang isinya memperingatkan publik akan bahaya radikalisme. Tapi contoh yang dipakai adalah Afghanistan dan Iran, diperlihatkan bahwa dulu perempuan di 2 negara itu bebas tidak pakai jilbab, sekarang tertindas karena pemaksaan syariat (pakai jilbab). Saya pun menulis ini. Ada grafik/tabel, untuk melihatnya, cek ke web ya.

***

Apakah Kewajiban Berhijab Memundurkan Perempuan?

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah: bergantung sistem dan kinerja pemerintahan yang mewajibkan hijab tersebut. Kita tidak bisa menggeneralisasi, masing-masing negara atau provinsi (di Indonesia ada provinsi dengan Perda Syariah) yang mewajibkan hijab memiliki kondisi yang berbeda.

Misalnya, kewajiban hijab di Afghanistan dan Iran, sangat berbeda output-nya karena di Afghanistan, kelompok yang berkeras mewajibkan hijab adalah Taliban yang berhaluan Wahabi; sementara di Iran pemerintahan dibangun atas syariah versi Syiah Ja’fariah. Jadi, saat bicara soal Syiah, perlu juga ditanyakan ‘Syiah versi mana?’ Shah Pahlevi pun bermazhab Syiah; akhir-akhir ini juga muncul “Syiah London” yang kontroversial.

(lebih…)

IRAN 2019


 

GAZA

Berikut ini ada 2 tulisan terbaru di web ic-mes.org

Pertama, tulisan seorang jurnalis Palestina bernama Majed Abusalama, tentang kehidupan warga di Gaza.

Antara lain ia menulis, seolah menjawab narasi para ZSM dan para hasbara selama ini, “Namun, komunitas internasional terus bertindak seolah-olah rakyat Gaza yang harus disalahkan atas penderitaan mereka sendiri. Seolah-olah 365 kilometer persegi tanah yang berusaha dipertahankan oleh warga Gaza adalah negara yang sebenarnya, dengan tentara, angkatan laut, kubah besi, pesawat tempur, tempat berlindung, teknologi militer terbaru yang didanai oleh AS dan negara-negara Eropa. Seolah-olah dua juta orang yang diperas di jalur Gaza ini sedang berperang dengan perlengkapan yang setara dengan Israel, dan mereka bukanlah pengungsi miskin yang sedang dijajah, dilanggar, dan dirampas haknya selama puluhan tahun.”

(lebih…)

NED dan Demo di Iran

Note: sebelum membaca ini, silahkan baca dulu tulisan saya sebelumnya, “Siapa Jejaring NED di Indonesia?” [1] dan “Template” [2] biar tidak perlu mengulang-ulang, apa itu NED dan CANVAS

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/429831111295449/?t=0

**

Kalau ada yang bilang NED dan CANVAS tidak menargetkan Iran, itu namanya HHB [Halu-Halu Berjamaah]. Lha di negeri-negeri yang berbaik-baik sama AS saja mereka bekerja, masa untuk Iran mereka adem ayem?

Nah kalau kita googling, dengan mudah ketemu info antara lain: CANVAS saat ini memberi pelatihan kepada aktivis pro-demokrasi di lebih 50 negara, termasuk Iran. Handbook pelatihan CANVAS telah didownload 17.000 kali di Iran -thn 2015. [3]

Sementara itu, kalau cek ke web resmi NED, disebutkan bahwa untuk Iran (tahun 2018) NED sudah mengeluarkan dana untuk program akuntabilitas & pemerintahan, HAM, kebebasan informasi dan jurnalisme. Kalau dihitung (dana disebar ke beberapa organisasi), totalnya mencapai 600 ribu-an USD. [4]

Upaya untuk mengganggu Iran kebanyakan dengan penyebaran opini khas NED dkk: sistem Iran tidak demokratis, buktinya: adanya kekuasaan besar di tangan ulama, pemaksaan pakai jilbab, LGBT dihukum mati, penerapan syariat Islam [yang dianggap menindas perempuan], dll. Intinya, massa diprovokasi untuk membenci sistem pemerintahan.

(lebih…)

Siapa Jejaring NED di Indonesia?

Note: sebelum baca ini, sebaiknya tonton dulu video ini [1] dan tulisan saya berjudul “Template” [2]. Di dua postingan itu, Anda akan ketemu nama National Endowment for Democracy Forum (NED). Sebuah organisasi yang kata pendirinya, Allan Weinstein, “melakukan hal-hal yang dulu dilakukan CIA secara rahasia”.

**

Bila NED terang-terangan memberi dana: “nih uang, hancurkan negaramu!”, hampir pasti tidak ada yang mau. Mungkin karena takut (kalau terang-terangan makar tentu bahaya), atau sangat mungkin memang ada banyak orang yang tulus memperjuangkan sesuatu untuk negerinya. Orang-orang tulus ini mungkin perlu uang untuk berjuang, eh, ada organisasi kaya raya bagi-bagi duit, ya sudah, terima aja.

Karena itulah jejaring NED mengangkat isu yang sangat beragam. Toleransi, agama, pertanian, demokrasi, pendidikan, pembelaan terhadap masyarakat adat, hingga ke pembelaan terhadap LGBT.

(lebih…)

Indonesia on Fire (?)

[repost dari akun personal]

Sejak kemarin, viral tulisan berjudul “Teriak Kafir”, yang mengisahkan pengalaman seorang saudara sebangsa kita yang ‘kebetulan’ keturunan (mungkin) Tionghoa. Ia diteriakin kafir oleh seorang ibu Muslim. Postingan itu segera di-take down [dihapus oleh FB karena banyak yang report]. Tapi banyak yang mengcopas dan memposting ulang di wall masing-masing, dan tersebar di WA.

Peristiwa ini memang sangat memprihatinkan. Empati saya sebagian juga dipicu karena pengalaman sendiri, pernah dikata-katai kafir (padahal saya Muslim). Mau jadi apa bangsa ini jika kebencian sedemikian menyebar? Baru-baru ini, lembaga riset Analityca merilis hasil riset mereka tentang “penyebaran narasi anti-Tionghoa”. Temuannya antara lain (saya copas utuh):

**
Kata “kafir” menegaskan stereotipe etnis Tionghoa sebagai identitas liyan Islam: cebong kafir, penjaga gereja, dan kelompok pembubar pengajian. Kata “kafir” juga merujuk pada pemerintah kafir, polisi kafir, Cina kafir, pun sesama kaumnya Ahok. Dua kata “jual” dan “hutang” muncul bersamaan sebagai ekspresi ketidakpuasan warganet terhadap kebijakan pemerintah yang dituduh menjual Indonesia kepada Tiongkok dengan skema hutang sejumlah proyek infrastruktur. Kata “jual” merujuk pada aset negara, gadai infrastruktur kepada Cina dan dikelola asing.

[baca laporan selengkapnya di https://www.indonesiana.id/read/136020/narasi-anti-tionghoa-di-pusaran-jagat-maya#whmljXLSe67zgw5g.99%5D

**

(lebih…)

Revolusi Berkedok Agama

Di status sebelumnya (Lithium di Bolivia), saya tuliskan kesamaan pola agenda “penggulingan rezim” antara Bolivia dan Suriah, yaitu perebutan sumber daya alam. Nah, di video ini terlihat kesamaan kedua: Elang Gundul [AS] menggunakan kelompok agama radikal/fundamentalis sebagai proxy. Apa itu proxy? Istilah lainnya “kaki tangan”. Mereka dibiayai, dilatih, didukung melalui propaganda media, dll, oleh AS, untuk menggulingkan rezim-rezim yang tidak sejalan dengan kepentingan AS. Tapi pelakunya tetap saja orang lokal.

Biasanya kalau saya bilang: “di belakang ISIS/Al Qaida ada AS” yang ngamuk ada 2: pembela AS dan pendukung ISIS.

Pembela AS biasanya akan mengolok-olok “kamu pakai teori konspirasi!”. Di kolom komen saya taruh video anggota parlemen AS yang berpidato di depan parlemen AS, mengecam pemerintahnya yang selama bertahun-tahun mendanai ISIS dan Al Qaida. Kalian mau lebih Amerika dari anggota parlemen Amerika?

(lebih…)

Pendiri White Helmets Tewas Bunuh Diri?

Baru saja berbagai media memberitakan matinya pendiri White Helmets, James Le Mesurier. Ia tewas terjatuh dari balkon apartemennya di Istanbul. Entah bunuh diri, entah dibunuh. [1]

Saya nyaris speechless. Saya teringat kejadian Agustus 2016, ketika menulis klarifikasi tentang kisah “si bocah di kursi oranye” yang diproduksi White Helmets. Tulisan saya dibalas sangat sadis oleh para “ikhwan” dan “akhwat”, yaitu dengan mencuri foto saya yang sedang memangku anak, lalu membuat meme sadis dan disebar masif. Karena bawa-bawa anak saya, rasa sakit hati saya saat itu tentu lebih besar.

Lalu saya menulis ini (status FB tahun 2016, sedikit diedit supaya lebih ringkas):

***

Alih-alih memberikan jawaban yang logis untuk menjawab argumen-argumen yang saya berikan, mereka malah sibuk menghujat, membully, dan bahkan membuat meme yang menggunakan foto saya dan anak saya.

(lebih…)

Contoh Kasus

***
Status sebelumnya saya hapus karena ga tega sama oknum ibu ini. Ini saya posting ulang dengan disamarkan namanya 🙂

***

Ini komentator di status saya sebelumnya yang menjawab Fahri Hamzah. Ini adalah contoh kasus, seperti apa sih hasil dari industri radikalisme itu [yang kata Fahri “cuma satu dua ceramah”].

Hasil dari ceramah kaum radikalis yang sangat masif adalah semakin banyaknya orang-orang yang merasa lebih suci dan merasa berhak menghina orang lain (istilah lainnya: kaum takfiri, suka mengkafir-kafirkan orang lain). Salah satu bentuk hinaannya adalah “kamu ga paham Quran”, “kamu Muslim?”, atau “kamu Syiah!”

Khusus untuk tuduhan Syiah, ini sangat terkait dengan Perang Suriah. Para “industrialis perang Suriah” berkepentingan untuk membuat orang Muslim Sunni membenci Syiah sehingga mau direkrut jadi “jihadis” atau setidaknya mau merogoh kocek untuk menyumbang gerakan “jihad”.

Mereka tidak (mau) tahu bahwa ulama-ulama besar sepakat bahwa Syiah adalah salah satu mazhab yang diakui dalam Islam (baca Deklarasi Amman). Tidak mau tahu bahwa mayoritas ulama-ulama Sunni di Suriah justru mendukung Bashar Assad dan pemerintahan Assad sama sekali bukan rezim Syiah.

Ibu ini radikalnya masih di level verbal dan mungkin masih level awam.

Semakin diprovokasi (oleh pemilik “industri”), mereka ini akan semakin teradikalisasi. Saya sudah kenyang dimaki-maki jauuuh… lebih kasar oleh kelompok ini, selama 8 tahun terakhir (selama Perang Suriah berlangsung). Sungguh ngeri, mereka mengaku membela Islam tapi kasarnya benar-benar level binatang. Something wrong with their brain. Zombie.

Dan level selanjutnya, beralih ke level “menyetujui kekerasan” dan bahkan menjadi pelaku kekerasan itu sendiri. Contohnya, perempuan yang bawa anaknya sendiri sambil bawa bom bunuh diri di gereja.

Ibu ini sepertinya tidak pro ISIS (karena mengatai perempuan ISIS tidak paham Quran), tapi kelompok “jihad” itu bukan cuma ISIS. Di antara kelompok-kelompok “jihad” yang berbeda (dan simpatisannya) biasanya memang suka saling mengkafirkan.

***
Yang belum baca tulisan saya soal “industri radikalisme” ini linknya: https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/1185451128313011/)

Siapa yang Radikal? (2)

Baru saya sadari, selain kaum Muslim tekstualis (kaum takfiri, jihadis), ternyata ada satu pihak lagi yang yang tersinggung dengan istilah “radikal”. Siapa mereka? Itulah orang-orang “pejuang kebebasan” atau “antifasis” atau “antioligarki” atau “libertarian” atau SJW (social justice warrior). Ya pokoknya yang itu-itulah, yang anti kemapanan, maunya protes melulu. Pasalnya mereka itu menganggap diri radikal sejak dulu dan merasa radikal adalah istilah keren penuh heroisme. Kok enak aja, tiba-tiba dikatain identik dengan ISIS, Al Qaida, dll? 😀

Nah kalau kelompok Muslim tekstualis itu menolak disebut radikal dengan alasan “ini sebutan yang memojokkan Islam!”, para “pejuang antifasis” (atau apalah apalah itu, whatever mereka mau menamakan diri) marah karena menurut mereka “radikal” istilah yang maknanya positif.

(lebih…)