Kajian Timur Tengah

Beranda » epistemic community

Category Archives: epistemic community

Kemarin ada komentator yang request pembahasan soal diplomat Jerman yang datang ke kantor FPI. Di tulisan ini saya bahas. Btw, jangan ‘kuatir’ baca nama situsnya ya.. Ini bukan situs HTI (khilafah) tapi situs yang justru mengkonter narasi-narasi mereka. https://sangkhalifah.co/adakah-tangan-asing-di-balik…/

Kemarin ada komentator yang request pembahasan soal diplomat Jerman yang datang ke kantor FPI. Di tulisan ini saya bahas.

Btw, jangan ‘kuatir’ baca nama situsnya ya.. Ini bukan situs HTI (khilafah) tapi situs yang justru mengkonter narasi-narasi mereka.

https://sangkhalifah.co/adakah-tangan-asing-di-balik…/

“Anda Tidak Perlu Jadi Yahudi untuk Menjadi Zionis”

Alhamdulillah, meskipun media Israel (dan digemakan oleh media lokal) berusaha menggiring opini publik Indonesia, “pemerintah Indonesia akan menormalisasi hubungan dengan Israel”, Kemenlu sudah menyatakan tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel dan akan tetap konsisten membela Palestina.

Indonesia adalah negara demokratis dan suara masyarakat sangat berperan dalam pengambilan keputusan. Indonesia berbeda dengan UAE, Bahrain, Maroko; mereka adalah negara monarki. Apa kata pemimpinnya, itulah yang dilakukan. Rakyat ga bisa protes. Sementara, sudah bukan rahasia bahwa sejak Arab Spring, raja-raja Arab ketakutan akan digulingkan oleh rakyatnya. Mereka butuh perlindungan agar tetap di singgasananya dan yang menawarkan perlindungan adalah AS.

Sebaliknya, pemerintah Indonesia didukung rakyatnya dan tidak butuh perlindungan kekuatan asing.

(lebih…)

Diskusi Dina Y. Sulaeman dengan Gus Najih, Habib Nuruzzaman, dan Eko Kuntadhi

https://www.youtube.com/watch?v=GJw3opEYdv0

Diskusi Dina Y. Sulaeman dan Rudi S. Kamri

https://www.youtube.com/watch?v=34Dry5IYSwI

Benarkah Membuka Hubungan Diplomatik dengan Israel Akan Membawa Keuntungan Ekonomi?

Para pendukung Israel, dari kelas netizen-pake-akun-palsu hingga politisi, sering memuji-muji setengah mati “kecanggihan dan kemajuan ekonomi” Israel, lalu menyatakan, “membuka hubungan diplomatik dengan Israel akan membawa keuntungan ekonomi.”

Benarkah demikian?

Sebelum saya masuk ke analisis, saya akan kutip tulisannya Hinnebusch (International Politics of Middle East), untuk menunjukkan bahwa persoalan ini sudah pernah dia bahas sejak 2003; jadi saya tidak “mengira-ngira” atau “tidak ilmiah” saat berpendapat. Di hlm 229-230, ia menulis bahwa salah satu cara yang ditawarkan untuk mendamaikan Arab-Israel adalah melalui integrasi ekonomi dan globalisasi. Berbagai konferensi digelar untuk mencapai “normalisasi ekonomi” Arab-Israel. Dalam pandangan liberalis: saling ketergantungan ekonomi akan mencegah konflik.

Tapi kenyataannya, karena GNP (penghasilan Israel) sangat tinggi dibanding negara-negara sekitarnya, hasilnya, “..integrasi ekonomi kemungkinan besar akan menjadikan Israel sebagai pusat ekonomi regional, memungkinkannya untuk mengeksploitasi tenaga kerja dan sumber energi –migas- Arab; dan menjadikan negara tetangganya seperti Yordania dan entitas Palestina menjadi “satelit ekonomi.”

Hinnebusch juga menulis, “…adalah Israel yang paling berhasil meraih globalisasi sebagai alternatif integrasi regional, memanfaatkan perjanjian Oslo untuk mengakhiri boikot Arab yang telah secara efektif membatasi hubungan ekonominya; dan memanfaatkan “proses perdamaian” untuk menarik perusahaan-perusahaan multinasional –agar investasi di Israel—yang kemudian mengekspor produk ke Asia Timur dan Eropa.”

Juga kata Hinnebusch, akibatnya, yang terjadi adalah “false peace” (perjanjian damai palsu) dan perlawanan tetap muncul.

Kalimat singkatnya: dalam kerjasama ekonomi Israel-Arab, yang untung itu Israel.

Nah, mari kita cek. Apakah ketika UAE menjalin “normalisasi” dengan Israel, yang untung Israel atau UAE? Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Kalau dilihat dari GDP perkapita: Israel 41.715 USD dan UEA 43.004 USD (2018). Keduanya sama-sama termasuk negara kaya. Tapi, di antara dua negara ini, Israel-lah yang butuh UAE. UAE sebelumnya de facto memboikot Israel (meskipun sebenarnya tetap menjalin perdagangan, antara lain di bidang instrumen intelijen). UU boikot ini secara resmi UAE dicabut tanggal 29 Agustus. Bloomberg menuliskan antusiasme bisnismen Israel atas normalisasi ini sbb. “Sementara UEA tidak menyatakan aspirasinya untuk bidang kerja sama tertentu, maskapai penerbangan dan bank Israel sudah bersemangat untuk bekerja di UEA, dan pejabat Israel juga mengungkapkan harapan untuk bekerja sama dalam teknologi dan kedirgantaraan. ..Pejabat Kementerian Keuangan juga melihat potensi untuk merundingkan perjanjian tentang investasi bilateral, perpajakan, bea cukai dan pembiayaan perdagangan..”[1]

Jadi, sudah jelas Israel yang akan meraih untung. Kontrak yang langsung ditandatangani pun jualan senjata dari Israel ke UAE. Haaretz (koran Israel) menulis, “Deal yang sebenarnya antara Israel-UAE adalah senjata.”

Pertanyaan ini juga layak diajukan ke Indonesia. Apa benar Indonesia akan untung kalau buka hubungan diplomatik dengan Israel? Untuk Indonesia, karena perbandingan GDP-nya sudah sangat jomplang [Indonesia 3.893 USD; Israel 41.715 USD (2018)], sebenarnya mudah sekali dideteksi, siapa yang akan untung.

Penduduk Indonesia 270 juta, sementara populasi Israel sekitar 8 juta. Dari perbandingan ini saja, sudah bisa dipastikan, Israel-lah yang akan mendapatkan keuntungan ekonomi sangat besar bila hubungan diplomatik dibuka.

Indonesia adalah pasar yang sangat besar dan menggiurkan bagi produk-produk Israel. Produksi unggulan Israel adalah produk-produk berbasis teknologi tinggi, terutama senjata dan teknologi komunikasi, serta layanan jasa. Kalaupun ada keuntungan yang didapat, pertanyaannya: siapa yang untung? Rakyat, atau segelintir pengusaha?

Saya ingin mengutip John Perkins, penulis buku Confessions of an Economic Hit Man. Menurut kesaksiannya, modus operandi lembaga-lembaga keuangan AS dalam mengeruk uang adalah dengan memberikan hutang raksasa kepada negara-negara berkembang. Kata Perkins:

**

“Salah satu kondisi pinjaman itu –katakanlah US $ 1milyar untuk negara seperti Indonesia atau Ekuador—negara ini kemudian harus memberikan 90% dari uang pinjaman itu kepada satu atau beberapa perusahaan AS untuk membangun infrastruktur—misalnya Halliburton atau Bechtel. Ini adalah perusahaan yang besar. Perusahaan-perusahaan ini kemudian akan membangun sistem listrik atau pelabuhan atau jalan tol, dan pada dasarnya proyek seperti ini hanya melayani sejumlah kecil keluarga-keluarga terkaya di negara-negara itu. Rakyat miskin di negara-negara itu akan terbentur pada hutang yang luar biasa besar, yang tidak mungkin mereka bayar.”

**

Lalu siapakah pemilik Halliburton atau Bechtel yang disebut Perkins? Silakan google saja, akan ketemu nama-nama pengusaha Yahudi. Haaretz (koran Israel) pernah menulis bahwa ada istilah Ibrani yang menjadi standar nilai moral di kalangan Yahudi, yaitu ‘tzedakah’. Haaretz mengutip seorang peneliti yang menyebutkan bahwa orang-orang kaya Yahudi memiliki keterikatan kekeluargaan yang sangat erat dan menjadikan ‘tzedakah’ sebagai sebuah kewajiban moral. Inilah yang membuat Israel ‘hidup’ hingga hari ini, mampu melanjutkan kejahatannya di Palestina, serta tak pernah bisa diajak bernegosiasi secara adil demi kehidupan damai di Palestina.

Gilad Atzmon, seorang penulis dan aktivis asal Israel (tapi pro-Palestina) menulis:

**

Israel mungkin kaya karena, “dari tujuh oligarki yang menguasai 50% ekonomi Rusia selama tahun 1990-an, enam adalah Yahudi.” Selama dua dekade terakhir, banyak oligarki Rusia telah memperoleh kewarganegaraan Israel. …Wikileaks baru-baru ini mengungkapkan bahwa “sumber di kepolisian (Israel) memperkirakan bahwa kejahatan terorganisir Rusia (Mafia Rusia) telah mencuci sebanyak US $ 10 miliar di Israel.”

Ekonomi Israel berkembang pesat karena penipu besar seperti Bernie Madoff telah menyalurkan uang mereka melalui Zionis dan institusi Israel selama beberapa dekade. Israel ‘baik-baik saja’ karena merupakan pedagang “berlian berdarah” (blood diamond) terkemuka. Israel juga merupakan penjual senjata terbesar keempat di planet ini. Jelas, “berlian berdarah” dan senjata terbukti sangat cocok.

Seolah-olah ini tidak cukup, Israel juga makmur karena, perdagangan organ. Singkatnya, kinerja Israel lebih baik daripada negara lain karena menjalankan salah satu ekonomi non-etis terkotor di dunia. [2]

***

Akhir kata: membela Palestina dan menolak membuka hubungan diplomatik dengan Israel pada hakikatnya adalah membela diri kita, melepaskan diri dari imperium ekonomi kotor yang hanya memperkaya segelintir orang.

[1] https://www.bloomberg.com/news/articles/2020-08-31/israel-sees-6-5-billion-in-trade-as-uae-peace-talks-kick-off

[2] https://www.middleeastwatch.net/Israeli-Economy-for-Beginners

Soal blood diamond Israel: https://www.middleeastmonitor.com/20191119-the-kimberley-process-israels-multi-billion-dollar-blood-diamond-laundry/ Foto: Gaza

Seminar Nasional

Tema: “Ada Apa Dengan Timur Tengah?: Normalisasi Negara Arab dengan Israel”.

Hari, Tanggal: Senin, 12 Oktober 2020

Waktu: Pukul 13.00 s/d 16.00 WIB

Tempat: Ruang Virtual Zoom

Opening Speech:Prof. Dr. Maftukhin, M.Ag.(Rektor IAIN Tulungagung)

Narasumber:

1. Dr. Hajriyanto Y. Tohari(Duta Besar Indonesia untuk Lebanon)

2. Dr. Dina Y. Sulaeman, M.Si(Pemerhati Dunia Timur Tengah)

3. Dr. Abad Badruzaman, M.Ag.(Wakil Rektor III IAIN Tulungagung)

Moderator:Arbi Mulya Sirait, M.A (Dosen FUAD IAIN Tulungagung)

Meeting ID dan passcode ada di flyer, live di Youtube Channel Webinar FUAD IAIN Tulungagung Official

Cara Cerdas dalam Menganalisis Konflik

ZSM (netizen pro Israel) kan umumnya juga pro Papua merdeka. Bendera Bintang David juga banyak berkibar di Papua. Untuk menarik hati publik, ada yang nekad bawa-bawa Palestina.

ZSM: “Papua itu nasibnya sama kayak Palestina. Sama-sama dalam kondisi terjajah.”

Jawab: “Oh, berarti di matamu, Indonesia sama kejamnya dengan Israel ya? Berarti kamu ngaku juga ya, kalau Israel itu penjajah??”

(lebih…)

Mumet


Para pembela Erdogan pada marah-marah saat dikasih tahu bahwa Azerbaijan itu mayoritas Muslim Syiah. Kasian juga. Di FP Sahabat Erdogan mereka terlanjur gegap gempita mendukung presiden pujaan hati yang berperang melawan “kafir Armenia”. Jadi patah hati deh. Tapi, harus maju terus pantang mundur dong!

Lalu, mereka berusaha menyeret diskusi ke arah status Nagorno Karabakh.

Mereka: “Itu kan memang wilayahnya Azerbaijan! Wajar dong kalau Azerbaijan mengusir tentara Armenia dari wilayahnya!!

Dina: Lho, kan saya sedang menyoroti perilaku Erdogan-nya? Saya menganalisis, mengapa Erdogan bantuin Azerbaijan, saya pakai perspektif ekonomi-politik. Saya ingin tunjukkan: akar perang itu BUKAN agama/mazhab, tapi ekonomi-politik. Buktinya, Erdogan 9 tahun memerangi Assad (yang dituduh rezim Syiah), sekarang Erdogan bantuin rezim Aliyev yang Syiah.

Mereka: KATA SIAPA Erdogan bantu Azerbaijan karena bantuin Syiah??!!

Dina: Trus menurutmu, bantuin siapa? Presiden Azeri itu Syiah. Muslim di Azerbaijan itu 85%-nya Syiah. Bahkan sebagian warga Nagorno Karabakh itu dulunya (di era Imperium Persia) juga Syiah, tapi seiring waktu, saat ini dihuni mayoritas Armenia-Kristen, dan ada warga Syiah yang terusir akibat perang Armenia-Azerbaijan. Jadi, sebenarnya ada warga Syiah Azerbaijan yang juga menginginkan tanahnya kembali.

Mereka: POKOKNYA ERDOGAN BUKAN BANTUIN SYIAH!NAGORNO KARABAKH ITU WILAYAHNYA AZERBAIJAN YANG SAH DAN DIAKUI PBB!

Dina: Lha, emangnya saya ngomongin status Nagorno Karabakh? Yang saya ingin tunjukkan: akar perang itu bukan agama. Dan, TERBUKTI kan? Sekarang kalian bilang sendiri kalau Erdogan membantu Azerbaijan itu bukan dalam rangka membantu Syiah? Berarti ada motif lain kan? BERARTI BENER DONG YANG SAYA BILANG: agama bukan akar konflik! Jadi, tolong ralat jargon-jargon “jihad” kalian di Suriah ya! Jangan lagi mendukung “jihad” salah kaprah di Suriah! Stop mengkafir-kafirkan pihak lain yang tidak sekelompok denganmu. Stop menggalang dana untuk “jihadis”!

Mereka: Tapi POKOKNYA… POKOKNYA…. POKOKNYA… ELO SYIAH LAKNATULLOH!!
Mumet.

Argumen Para Pendukung “Jihad”

Dalam perang Suriah, saat dikasih info bahwa ADA KEPENTINGAN EKONOMI para imperialis global di balik proyek penggulingan Assad —>Jawab mereka:
PARA MUJAHIDIN BERJIHAD UNTUK MELAWAN REZIM SYIAH NUSAIRIYAH! UNTUK MENOLONG SAUDARA SUNNI YANG DIBANTAI SYIAH! KHILAFAH SUDAH DEKAT!!
Saat jelas-jelas Erdogan membantu “saudara”-nya di Azerbaijan, lalu dikasih tahu bahwa Muslim di Azerbaijan itu 85%-nya bermazhab SYIAH dan yang diperebutkan adalah kawasan Nagorno Karabakh yang dihuni warga Armenia-Kristen —> Jawab mereka :