Kajian Timur Tengah

Beranda » epistemic community

Category Archives: epistemic community

Boikot Zionis, Emang Bisa?

Baru-baru ini beredar lagi tuh, tulisan ZSM yang mengejek kaum Muslim. Intinya, “Kalian Muslim ini sedemikian lemah dan bodoh; kalian itu berutang budi sama Yahudi, semua penermuan ilmu dan teknologi di dunia ini buatan Yahudi, jangan sok-sokan boikot Yahudi, ga mungkin!!”

Sebelum saya bahas, saya tegaskan dulu: tulisan ini saya tujukan untuk masyarakat Indonesia (baik Muslim dan nonMuslim) yang minderan (tapi non-ZSM) dan setuju dengan kalimat paragraf pertama itu. ZSM silahkan minggir, you are not welcome here.

Pertama, kalau dapat broadcast ejekan semacam itu yang seolah-olah pakai data (ada obat ini itu, yang bikin Yahudi, ada sekian penerima Nobel, Yahudi, dst), jangan langsung terperangah. Sangat banyak info/data yang disembunyikan di situ. Penemu dan ilmuwan di kalangan Muslim itu banyak kok, sangat banyak. Kalau ga terima Nobel, tidak berarti mereka tidak hebat.

(lebih…)

Info yang Sengaja Ditutupi

Rupanya kampanye pemberitaan antipemerintah Suriah sedang ‘naik daun’ lagi, seiring dengan serangan tentara nasional Suriah (Syrian Arab Army, SAA) untuk membebaskan Idlib (sebuah provinsi Suriah yang berbatasan dengan Turki).

Sebenarnya saya sudah menulis soal Idlib berkali-kali. Tapi sepertinya, karena sistem algoritma Facebook, orang cenderung hanya menerima info dari 1 versi saja. Status ACT yang saya SS ini di-like 79 ribu dan dishare 1,8 ribu.

Baik status ACT maupun berita Serambinews yang saya SS ini, intinya sama: ada serangan udara ke Idlib yang menimbulkan korban.

Masalahnya, keduanya sama sekali tidak memberikan info lengkap: SIAPA sebenarnya yang ada di Idlib dan MENGAPA harus diserbu SAA?

(lebih…)

Uighur di Kayseri

Sebuah “iklan” berbayar (sponsored) lembaga pengepul donasi untuk Uighur melintas di beranda. Berbeda dari sebelumnya, kini lembaga itu menyebutkan dengan jelas, bahwa bantuan selimut dan pangan akan diberikan kepada pengungsi Uighur di Kayseri, TURKI.

Nah, gitu dong, terus-terang saja, bahwa bantuan itu akan diantar ke Turki. Saya baru dengar nama Kayseri, dan dengan sedikit google ketemulah foto ini. [1] Foto ini adalah kompleks apartemen yang disediakan pemerintah Turki untuk menampung para pengungsi Uighur, lokasinya di Kayseri, sekitar 11 jam naik bis dari Istanbul.

Dari foto ini ada beberapa hal yang bisa kita cermati:

(lebih…)

Israel Berperan Penting dalam Pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani

Ini berita yang ditayangkan Jerusalem Post [media Israel] 7 jam yang lalu (9:23 WIB, saat saya menulis ini).

Saya terjemahkan apa adanya, lalu kalimat di dalam […] adalah kritikan dari saya.

**
Intelejen Israel berperan penting dalam pembunuhan AS terhadap kepala Pasukan Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Quds, Mayjen. Qasem Soleimani, NBC News melaporkan pada hari Minggu.

Soleimani menggunakan kekuatan dan pengaruh besar dan sangat penting sebagai arsitek yang menyebarkan dan mempertahankan pengaruh Iran di Libanon, Suriah, Irak, Yaman dan di tempat lain di kawasan ini melalui tindakan terorisme.

[Soleimani membantu Suriah&Irak melawan ISIS; membantu Hezbollah Lebanon melawan Israel; dan membantu Houthi melawan Saudi —> karena ISIS, Saudi, dan Israel berteman, tindakan Soleimani disebut “terorisme” oleh media Israel ini.]

Setelah terbang ke Irak dari Damaskus dengan Cham Wings Airbus A320, ia dan rombongan keamanannya tewas oleh empat serangan rudal AS yang menargetkan dua kendaraan mereka ketika mereka meninggalkan Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari. Abu Mahdi al-Muhandis, seorang pemimpin penting dari Pasukan Mobilisasi Populer [PMU/Hashd Al Shaabi] yang didukung Iran, juga tewas.

(lebih…)

Sebelumnya, Parlemen Irak sudah merilis resolusi, meminta pemerintah agar menghentikan kehadiran tentara AS di Irak. Pelaksanaan resolusi itu ada di tangan pemerintah. Nah, PM Irak Adel Abdul-Mahdi sudah menghubungi Menlu AS untuk mengirim wakilnya untuk berbicara soal penarikan pasukan itu.

Kemarin (Jumat 10/1) pemerintah AS sudah merespon, intinya MENOLAK KELUAR dari Irak. Alasannya:

“Amerika adalah kekuatan untuk kebaikan di Timur Tengah. Kehadiran militer kami di Irak adalah untuk melanjutkan perang melawan ISIS dan kami berkomitmen untuk melindungi Amerika, Irak, dan mitra koalisi kami.”

Kalau benar AS hadir di Irak untuk melawan ISIS, lalu mengapa Jenderal Qassem Soleimani yang sangat berjasa dalam perang mengalahkan ISIS di Irak dan Suriah malah dibunuh?

Kalau benar AS mau melindungi Irak, mengapa AS melakukan kejahatan kepada rakyat Irak?

AS menyerbu Irak pada Maret 2003. Data bulan Oktober 2003 menyebutkan ada 15.000 warga Irak yang tewas. [1]

AS bercokol di Irak sejak 2003 dan melakukan sangat banyak kejahatan kemanusiaan. Tahun 2011, menarik sebagian besar tentaranya, tapi 2014 balik lagi dengan alasan melawan ISIS.

Data tahun 2013 yang dirilis oleh tim peneliti internasional yang bekerja sama dengan pemerintah Irak, total warga Irak yang tewas dalam periode 2003-2011 mencapai setengah juta orang, dan ini adalah perkiraan minimal [artinya, sangat mungkin jumlah sebenarnya jauh lebih banyak].

(lebih…)

RIP

Orang-orang pro AS dan ZSM ramai-ramai melakukan propaganda dengan cara share link soal kecelakaan pesawat Ukraina. Persis seiring selangkah dengan politisi negara-negara AS dan sekutunya yang sudah mulai melakukan ‘perlawanan’ lewat propaganda media soal kejadian ini. Intinya, Iran dituduh menembak pesawat sipil itu (atau salah tembak).

Padahal black box-nya saja belum diteliti pihak yang berwenang. Tapi mereka sudah kasih kesimpulan dini. Video disebarkan, padahal tidak bisa dideteksi hanya lewat video gelap begitu, apalagi sumbernya juga tidak jelas. Dan ini bukan hal ‘aneh’, selama ini AS melancarkan perang selalu dengan berbasis kebohongan, perang Irak contoh nyatanya. [1]

Karena bolak-balik dikomenin dan ditanyai, walhasil, saya statusin sajalah. Karena belum ada hasil penyelidikan, hanya ada tuduhan (dan kontra tuduhan), jadi saya menulis hal yang pasti (berbasis logika) saja.

(lebih…)

Ratusan Tentara AS Dilarikan ke Rumah Sakit Israel?

Barusan saya baca obrolan teman-teman fb, konon ada “satpam pangkalan militer AS” kasih laporan live di tivi, bilang bahwa tentara AS baik-baik aja kok, masih jogging, bla..bla.. Pokoknya, why so serious laaah.. itu sih serangan main-main…

Eh, setelah itu, muncullah statusnya Pepe Escobar. Pepe adalah jurnalis geopolitik di Asia Times. Anda bisa ikuti facebooknya, sangat aktif update tentang berbagai isu geopolitik, termasuk konflik Iran-AS.

Ceritanya, kemarin itu Pepe menulis status, bahwa ada ratusan tentara AS yang terluka dan dilarikan ke RS di Israel. Sumbernya akun twitter jurnalis Haaretz (media Israel). Tapi akun twitter tersebut segera lenyap dan si jurnalis membuat pernyataan bahwa itu bukan akun asli.

Nah, di status terbarunya, Pepe menulis ini (saya terjemahkan):

UPDATE SANGAT PENTING: TENTARA AS DI IRAK DIDUGA TERLUKA

(lebih…)

Soft Power Iran

Kemarin ada beberapa komentator bertanya, apakah kekuatan (power) militer Iran mampu melawan AS?

Sebelum dijawab, saya jelaskan sedikit, dalam studi Hubungan Internasional, power dibagi dua: hard power dan soft power. Hard power dimaknai sebagai kekuatan material, misalnya senjata, jumlah pasukan, dan uang yang dimiliki sebuah negara.

Bila memakai kalkulasi hard power, faktanya, kekuatan Iran masih jauh di bawah AS. Apalagi, doktrin militer Iran adalah defensive (bertahan, tidak bertujuan menginvasi negara lain). Iran hanya menganggarkan 14 miliar USD (2,5% GDP) untuk belanja militer (dan ini hanya sepersepuluh dibanding total belanja militer gabungan semua negara Teluk). Sebaliknya, AS adalah negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, 3,1% GDP atau setara 610 miliar USD [1]. Bahkan, AS telah membangun pangkalan-pangkalan militer di berbagai negara di sekeliling Iran.

Di video ini, ada penjelasan dari Menlu Iran, Javad Zarif, bagaimana dan mengapa Iran membangun hard powernya (membuat senjata).

Tapi, ada bentuk power yang lain, yaitu soft power. Secara ringkas bisa dikatakan bahwa substansi soft power adalah sikap persuasif dan kemampuan meyakinkan pihak lain; sementara hard power menggunakan kekerasan dan pemaksaan dalam upayanya menundukkan pihak lawan.

Professor HI dari Tehran University, Manouchehr Mohammadi, mengidentifikasi ada 10 sumber kekuatan soft power Iran, saya bahas tiga saja, selebihnya silakan baca di artikel aslinya. [2]

(lebih…)

UPDATE BERITA IRAN-IRAK

1. Hari Sabtu (4/1), pejabat militer Iran (IRGC), Brigadir Ali Fadavi, menyatakan bahwa pemerintah AS telah mengirim pesan (via Kedubes Swiss di Tehran) yang isinya: permintaan agar konflik diselesaikan dengan diplomasi dan jika Iran mau membalas dendam, ‘lakukan balasan sesuai apa yang kami lakukan’ [maksudnya, AS bilang, “kalau ente mau balas dendam, ya jangan keras-keras lah”].

Jawaban dari Iran, “AS harus bersiap menunggu pembalasan dendam yang keras; yang tidak hanya dilakukan Iran. Jenderal Qassem bukan sekedar anggota Pengawal Revolusi Islam, tetapi juga anggota front besar perlawanan [resistensi/muqawamah] yang lintas-batas negara dan mereka semua siap melakukan balas dendam yang keras. Pembalasan itu pasti akan dilakukan pada saat terbaik dan dengan cara sebaik mungkin. ”

2. Hari Minggu (5/1) Parlemen Irak merilis resolusi, isinya antara lain meminta pemerintah Irak agar “mengakhiri keberadaan pasukan asing di tanah Irak dan melarang mereka menggunakan tanah, wilayah udara, atau air dengan alasan apa pun.”

(lebih…)

(ini sambungan dari status sebelumnya)

Para bigot (baik varian rasa Wahabi atau varian Zionis) menuduh bahwa yang berduka atas kematian Jend. Qassem Soleimani hanyalah orang Syiah. Mereka itu entah kurang piknik, entah memang selalu menaruh kepala dalam tempurung, tidak membaca betapa banyak netizen non-Muslim yang pro-Soleimani. Mengapa? Karena korban ISIS dan Al Qaida bukan cuma Muslim Syiah, tapi semua agama. Bukan cuma orang Timur Tengah, tapi di berbagai penjuru bumi.

Antara lain, simak status Dr Marcus Papadopoulos ini, pengamat politik asal Inggris. Dia menulis:

Kontribusi Qassem Soleimani bagi kemenangan Suriah, Rusia, Iran, dan Hizbullah dalam melawan ISIS tidak dapat dipungkiri. Amerika telah membunuh pria yang menyelamatkan nyawa jutaan orang dari ISIS. Kutukan abadi untuk Trump, Pemerintah AS dan militer AS

(lebih…)