Kajian Timur Tengah

Beranda » epistemic community (Laman 2)

Category Archives: epistemic community

Cara Menjadi Pengamat Timteng Yang “Bener”

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/547067159959637

Menjadi pengamat Timteng yang “bener” (yang didasarkan pada riset, membaca, dan mendengar sebanyak-banyaknya, baik info yang ada di media, maupun saluran-saluran lain) tidak mudah. Lebih mudah memang baca sedikit, lalu asal komentar.

Berusaha menjadi pengamat yang “bener” pun sering disalahpahami.

Misalnya, kalau menulis soal kejahatan AS di Afghanistan dan setuju penarikan mundur tentara AS, komentator pro AS akan bilang “oh, jadi lo pro Taliban?”

Di saat yang sama, saat mengkritisi kejahatan pada “jihadis” di Suriah dan kelakuan para pengepul donasi Suriah, dengan cepat berbagai tuduhan keji dilemparka oleh fans mereka.

Karena kajian Timteng itu penting (karena ada dampaknya pada kehidupan di Indonesia), saya ingin kasih “nasehat” kepada semua pihak yang berminat pada isu-isu Timur Tengah: silakan cek di video ini lihat betapa kompleks situasinya.

(lebih…)

Apa yang akan Terjadi di Afghanistan Usai Dikuasai Taliban? Begini Analisa Pengamat Timur Tengah

FIXINDONESIA.COM –  Taliban telah menduduki istana kepresidenan Afghanistan. Begitu pun dengan presiden Afganistan Ashraf Ghani memilih meninggalkan negara itu untuk menghindari pertempuran. 

Juru bicara Taliban sudah berjanji tidak akan menyerang warga sipil dan ingin menjalin hubungan yang damai dengan dunia internasional. 

Taliban juga berjanji akan menegosiasikan bentuk pemerintahan mendatang. Dalam jumpa pers pertama mereka terbaru 17 Agustus 2021, juru bicara Taliban mengatakan bahwa pihaknya tidak akan melakukan balas dendam. Bahkan pihak Taliban juga mengatakan bahwa kaum perempuan akan diberi kesempatan untuk beraktivitas, bekerja di berbagai bidang,  dan mendapatkan pendidikan.

(lebih…)

Pengamat Timur Tengah: Ini Penyebab Taliban Berkuasa Tanpa Perlawanan

FIXINDONESIA.COM – Pengamat Timur Tengah yang juga Dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Dina Yulianti menyebutkan, jika melihat pemberitaan baik di media nasional dan internasional, proses pengambilalihan kota demi kota di Afghanistan berjalan cepat dan nyaris tidak ada perlawanan. Bahkan ibu kota pun (Kabul) jatuh ke tangan Taliban nyaris tanpa perlawanan. 

“Presiden Afghanistan pergi begitu saja, padahal sudah berjanji akan terus berjuang melawan Taliban. Ada dua kemungkinan, pertama Taliban punya kekuatan yang besar. Namun, ini kontradiktif dengan informasi bahwa jumlah pasukan Taliban cuma enam puluh ribuan. Sementara pasukan Afghanistan yang dipersenjatai dan dilatih AS selama ini mencapai tiga ratus ribuan,” kata Dina kepada FIXINDONESIA.COM, Selasa 17 Agustus 2021. 

Menurutnya, kemungkinan kedua, Taliban mendapatkan dukungan dari sebagian warga Afghanistan sehingga mereka begitu saja menyerahkan kendali kota kepada Taliban.

(lebih…)

Afghanistan: Mungkinkah Berdamai dengan Taliban?

Dina Yulianti (Dosen Prodi Hubungan Internasional Unpad)

FIXINDONESIA.COM – Kondisi di Afghanistan semakin genting pascapenarikan tentara Amerika Serikat. Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Afghanistan, Deborah Lyons, melaporkan bahwa situasi keamanan memburuk dan telah terjadi kondisi darurat kemanusiaan. Menurut Lyons, “Afghanistan sekarang berada pada titik balik yang berbahaya. Ada dua kemungkinan di depan, negosiasi perdamaian yang sejati atau justru krisis yang tragis” (UNAMA, 2021).

Konflik dan kekerasan terutama terjadi karena Taliban mulai bergerak dari kota ke kota untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan pemerintahan Afghanistan. Media massa memberitakan bahwa upaya pengambilalihan kekuasaan itu dilakukan dengan kekerasan sehingga selain menjatuhkan banyak korban jiwa, juga memicu pengungsian besar-besaran warga dari berbagai kota ke arah Kabul.

(lebih…)

Hajj and the struggle against the apartheid regime of Israel

TEHRAN- One of the messages of Hajj is to fight racism. Everyone who performs Hajj must perform tawaf and sa’i. During tawaf, a pilgrim must also circle the tomb of Sayidah Hajar, which is attached to one part of the Kaaba. Then, he or she must perform sa’i, to run back and forth, from Safa to Marwah. 

Sa’i is a Hajj ritual that imitates what Hajar did. Who is Hajar? She was a black slave who was married to Prophet Ibrahim. In the sight of Allah, even a black slave woman turned out to have a very noble degree. Allah says the noblest among humans is the most pious, not the richest, or a specific gender or race. Therefore, Muslims should fight racism in this world. One nation that is still a victim of racism is the Palestinian nation. Palestine is colonized by the Zionist-Israel group, who claimed to be nobler and had the right to carry out occupation and various crimes against humanity against the Palestinian people.

In April 2021, Human Rights Watch issued a report describing Israel as committing apartheid and persecution towards the Palestinian people. Israel formally implemented an apartheid system of government that separated social, economic, and political life based on race. The Israeli Jews get far more special rights and facilities than Palestinians.
The legal term “apartheid” has long been used by observers, writers, or diplomats who support the Palestinian cause. The 1973 International Convention on the Suppression and Punishment of the Crime of Apartheid and the 1998 Rome Statute for the International Criminal Court (ICC) define apartheid as a crime against humanity as consisting of three main elements: the intention to maintain the dominance of one racial group over another; systematic oppression by dominant groups over marginalized groups; and inhuman actions (HRW, 2021). 

(lebih…)

Israel dan Sistem Apartheid

Oleh :

Dina Yulianti (Dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran)

FIXINDONESIA.COM – Kata “apartheid” biasanya identik dengan Afrika Selatan. Kata ini memang berasal dari Afrika Selatan, yang bermakna pemisahan atau segregasi. Pada tahun 1948, Afrika Selatan secara resmi menerapkan sistem pemerintahan apartheid yang memisahkan kehidupan sosial, ekonomi, dan politik berdasarkan ras.

Kaum kulit putih memiliki status dan hak-hak yang jauh lebih besar dibandingkan kaum kulit hitam. Pada tahun 1994, rezim apartheid tumbang. Kini, di tahun 2021, tiba-tiba saja, Human Right Watch mengeluarkan laporan yang menyebut Israel sebagai pemerintahan apartheid.

Penyebutan Israel sebagai rezim apartheid sebenarnya sudah sering dilakukan oleh para pengamat, penulis, atau diplomat yang mendukung Palestina.

Konvensi Internasional 1973 tentang Penindasan dan Hukuman Kejahatan Apartheid dan Statuta Roma 1998 untuk Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mendefinisikan apartheid sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan yang terdiri dari tiga elemen utama: niat untuk mempertahankan dominasi satu kelompok ras atas yang lain;  penindasan sistematis oleh kelompok dominan atas kelompok yang terpinggirkan; dan tindakan tidak manusiawi.

(lebih…)

Posisi Indonesia dalam Perseteruan Nuklir AS-Iran

Dina Yulianti (Dosen Prodi Hubungan Internasional Unpad)Dina

Oleh:

Dina Yulianti (Dosen Prodi Hubungan Internasional Unpad)

Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, baru-baru ini berkunjung ke Indonesia dan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi serta Presiden Joko Widodo.

Press release dari Kementerian Luar Negeri Iran antara lain mengapresiasasi posisi Jakarta di Dewan Keamanan PBB yang mendukung dan mempertahankan JCPOA.

JCPOA (Joint Comprehensive Plan Action) adalah perjanjian nuklir yang ditandantangani oleh P5+1, atau negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB plus Uni Eropa (diwakili oleh Jerman) pada 14 Juli 2015.

Perjanjian yang merupakan hasil upaya diplomasi panjang sekitar dua belas tahun ini dikacaukan oleh aksi mantan Presiden Donald Trump yang secara sepihak menarik diri dari JCPOA pada Mei 2018.

(lebih…)

Kata Pengantar untuk Buku tentang Sang Penumpas ISIS

Beberapa bulan yang lalu, buku ini terbit. Ini buku terjemahan, dan saya diminta menuliskan kata pengantar. Saya terlewat untuk mengabarkannya di FP ini. Karena kemarin artikel saya yang mereview posisi hukum internasional terhadap pembunuhan yang dilakukan oleh AS terhadap Jend Qassem Soleimani dimuat di jurnal [1], saya jadi teringat lagi pada buku ini. Selain, itu, kemarin juga ada yang nanya soal IRGC yang dikatain “teroris” oleh AS (sehingga, salah satu atlet Iran yang menang Olimpiade, yang berprofesi sebagai perawat di RS yang dikelola IRGC, dikatain teroris).

Berikut ini ringkasan kata pengantar saya untuk buku tsb. (selengkapnya bisa baca di bukunya).

***

Seiring dengan maraknya aksi terorisme yang dilakukan oleh ISIS, Al Qaida (dan afiliasinya, seperti Al Nusra, Jaysh al Islam, dll di Suriah), kata-kata “jihad” dan “syahid” jadi memiliki konotasi negatif.

Sebagian pihak Muslim membela diri, menyebut “teroris tidak mengenal agama.” Bila kita mau jujur, ini adalah pernyataan yang tidak ditunjang oleh bukti. Bila teroris tidak mengenal agama, bukankah sangat banyak bukti video para teroris bawa-bawa ayat Quran atau hadis?

(lebih…)

Untuk teman-teman yang berminat membaca artikel ilmiah, berikut ini tulisan saya (artikel jurnal) yang membahas “Review Hukum Internasional terhadap Pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani.”

Terjemahan abstrak: Hukum internasional dibentuk oleh komunitas global untuk menetapkan aturan hukum, norma, dan standar perilaku antara negara-negara berdaulat untuk menciptakan tatanan dunia yang damai. Namun, karena tatanan dunia adalah anarki, tanpa otoritas eksekutif tertinggi, kepatuhan dan ketidaktaatan terhadap hukum internasional seringkali bergantung pada kekuatan negara. Misalnya, pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani, seorang jenderal terkemuka Iran, oleh militer AS di wilayah Irak memicu perdebatan tentang hukum internasional. Artikel ini menunjukkan bahwa tindakan AS melanggar International Humanitarian Law (IHL) & International Human Rights Law (IHRL). Selain itu, AS melanggar the UN Convention for the Suppression of Terrorist Bombings and Convention on the Prevention and Punishment of Crimes against Internationally Protected Persons, including Diplomatic Agents. Argumen-argumen ini didasarkan pada klaim pembelaan diri dan serangan yang akan segera terjadi (imminent attack) dan pelanggaran kebutuhan dan proporsionalitas (necessity and proportionality) yang tidak terbukti. Selanjutnya, AS melakukan terorisme negara (state terrorism) terbatas berdasarkan karakteristik perilakunya dalam kasus ini.

Artikel (berbahasa Inggris) bisa didownload di sini: https://scholarhub.ui.ac.id/ijil/vol18/iss4/6

Hari ini PPKM dimulai lagi

Di situasi seperti ini, kita, apapun latar belakang ilmunya, mau tak mau, perlu terus belajar soal virus. Karena, ketika musuh utamanya virus, tentu virusnya yang perlu dikenali supaya kita paham bagaimana menghadapinya. Lalu, belajarnya gimana? Alhamdulillah, ada virolog yang selama 2 tahun terakhir ini mau men-share ilmunya dengan bahasa yang sederhana, supaya kita yang orang biasa pun bisa paham; namanya Pakdhe Indro.

Ada juga dokter-dokter lain yang aktif di medsos memberikan penjelasan yang menenangkan, yang membuat kita tenang tapi waspada (dokter Samuel, dokter Agni, dokter Anton, dokterTjawe, dll). Tenang dan waspada BUKAN mengabaikan atau menganggap enteng. Bukankah selama ini, jauh sebelum ada cvd, kita sering dinasehati bahwa ketenangan adalah kunci utama dalam menghadapi semua masalah. Kalau tenang, kita bisa berpikir dengan baik untuk mencari solusi.

Salah satu dokter-herbalis yang aktif share ilmunya adalah dokter Sidi Aritjahja. Baru-baru ini ada formula herbal dari beliau yang viral, yaitu ramuan 131.

Anehnya, mengapa banyak yang ga suka ilmu dari pak dokter Sidi dan pak virolog drh. Indro disebarluaskan..?

(lebih…)