Kajian Timur Tengah

Beranda » HTI

Category Archives: HTI

Saya diskusi dengan mas Bayu Oktara di Podcast Kafe Toleransi

ANNAS dan Abainya Para Pejabat Soal Geopolitik

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/756006485630621

Beberapa pejabat yang digaji negara, antara lain Walikota Bandung, H. Yana Mulyana, S.E., Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kota Bandung, perwakilan Dansesko TNI, Camat Lengkong, dan Kapolsek Lengkong diberitakan menghadiri peresmian “gedung dakwah ANNAS”. [1]

Kepanjangan ANNAS adalah “Aliansi Nasional Anti Syiah”. Sebagian tokoh ANNAS punya rekam jejak hitam soal Suriah. Menurut info yang saya dapat, ANNAS ini organisasi tanpa bentuk, tidak ada SK Kemenkumham-nya. Tanah dan gedung dakwahnya atas nama siapa? Entah.

Lalu, kok pejabat negara yang digaji dengan uang rakyat mau meresmikannya?

Kemungkinan jawabannya ada dua: (A) mereka dengan sadar sepenuhnya ingin mengadu domba umat Islam, atau (B) mereka abai geopolitik, tidak paham apa bahayanya narasi ala ANNAS.

Kalau jawaban (A) yang benar, silakan pihak berwenang (Densus/BNPT) yang mengurus. Saya mau menulis untuk kategori (B) saja, barangkali bermanfaat untuk para pejabat lainnya supaya tidak tersandung batu yang sama.

(lebih…)

ACT: “Pemerintah yang Syiah”??

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/437446604955340

Dalam konpersnya, ACT mengatakan:

“Bantuan ke Suriah itu kan ditanya, apakah ACT mengirimkan untuk pemerintah yang Syiah atau pemberontak yang ISIS? Kami sampaikan, untuk kemanusiaan itu tidak boleh bertanya kepada siapa yang kami bantu? Agamanya apa enggak penting. Kami berikan bantuan, mereka Syiah atau ISIS, karena mereka korban perang. Jadi kalau dibawa kemana-mana, kami jadi bingung. Dana yang disebut untuk teroris itu dana yang mana?” ujarnya (Tempo, 4 Juli 2022).

KOMENTAR SAYA:

(lebih…)

Melawan Lupa: “Kemana Donasi Mengalir?”

ACT pernah didatangi wartawan beberapa tahun yll. Inti masalah yang ditanyakan si wartawan “Kalau benar untuk Ghouta, masuknya lewat mana bro??”

Copas: jarak Ghouta Timur dari perbatasan Turki mencapai 450-an kilometer atau setara dengan jarak Jakarta-Semarang. Wilayah ini berbeda dengan Aleppo yang hanya 90-an kilometer dari perbatasan Turki, sehingga bantuan yang dikirim saat ramainya tagar SaveAleppo memiliki peluang lebih besar sampai ke tangan yang berhak ketimbang Ghouta Timur. Terlebih, jalur menuju Ghouta Timur dari Turki kini telah diambil alih oleh militer Suriah.

(lebih…)

Karena sepertinya dah banyak yang lupa soal konflik Suriah, dan mengapa konflik ini penting untuk terus diingat, dan para pendukung “jihad” Suriah penting untuk terus diingat, saya share ulang podcast saya yang bahas soal Suriah dg mahasiswa Indonesia di Suriah, Lion Fikyanto.

#menolaklupa bukan mengungkit-ungkit aib lama, tapi, yang perlu dicamkan: KESALAHAN PARA USTAD PRO-JIHAD SURIAH adalah mrk sudah memprovokasi banyak orang utk “jihad” ke Suriah (atau minimalnya, berdonasi yg kemudian terbukti disalurkannya ke wilayah yg dikuasai teroris, di Idlib).

Akibatnya, sebuah negeri yg tadinya aman dan damai, kini rakyatnya menderita akibat terorisme. Mereka yang terprovokasi dan teradikalisasi akibat narasi yg salah soal Suriah, tapi tidak bisa pergi ke Suriah, malah melakukan keonaran/teror di Indonesia.

Selama para ustad (dan lembaga-lembaga pengepul donasi yang menebar hoax soal Suriah) itu belum mengklarifikasi, belum meralat ucapannya soal Suriah, selama itu pula mereka tidak bisa dimaafkan dan dilupakan kesalahan fatal mereka. Karena, darah orang-orang (termasuk ulama) Suriah yang sudah tertumpah, penderitaan anak-anak Suriah yang hidup mengungsi, siapa yang menebus? Demikian juga, darah orang-orang Indonesia yang jadi korban, siapa yang menebus?

#menolaklupa

Tahun 2018. Ustadz Abdul Somad (UAS), selama konflik Suriah sering berkomentar provokatif, antara lain menyebut bahwa konflik di Suriah adalah antara umat Sunni versus Syiah, dan menuduh Presiden Bashar Assad telah melakukan pembantaian terhadap warganya sendiri yang Sunni.

Di antara yang ditulis UAS dalam akun Facebook-nya, “Bashar Al-Assad adalah penjahat kemanusiaan seperti Hitler, Stalin, Lenin, Polpot, dan lain sebagainya. PENDAPAT INI kami ambil dari guru kami seorang Ulama ahli hadits Suriah bernama SYAIKH MUWAFFAQ, mursyid thariqat syadziliyyah di Suriah yang kami telah mendapatkan SANAD darinya.”

Menanggapi pernyataan UAS yang menjadi viral di media sosial itu, ikatan alumni Suriah, Alsyami, telah mengirimkan undangan untuk bertabayun.

(lebih…)

Absurd

(1)

Kata teman saya, banyak fans Erdogan yang happy banget atas kemenangan Taliban. Saya juga lihat di twitter, akun yang berafiliasi dengan partai you know whatlah itu, yang di saat yang sama, kita juga tahu mereka ini pingin “pinjam” Erdogan buat jadi presiden di Indonesia, juga aktif men-debunk propaganda palsu soal Taliban.

Memang betul sih, banyak info hoax beredar, misalnya, video pembantaian ISIS atau Al Nusra, dibilang Taliban. Menurut laporan PBB, Taliban memang melakukan berbagai aksi kekerasan (di antaranya, pembantaian massal di Mazhar-i Sharif 1998), tapi pakai foto palsu ya tetap salah.

Nah, kepada fans Taliban-yang-juga-fans-Erdogan ini [karena, mungkin aja ada fans Taliban yang bukan fans Erdogan], saya mau kasih info sedikit, tentara Turki tuh hadir di Afghanistan lho, menjadi bagian dari pasukan NATO. Dan NATO ini posisinya adalah MEMBANTU Amerika melawan Taliban dan Al Qaida.

(lebih…)

AS Mengancam Negara-Negara Arab yang Mau Menormalisasi Hubungan dengan Suriah

Pasangan ini (Bashar dan Asma) selama bertahun-tahun dicitrakan sebagai penjahat keji, pembunuh massal rakyatnya sendiri, oleh media Barat (dan media pro-teroris). Mereka diperangi selama 10 tahun oleh milisi-milisi “jihad” (alias teroris) yang datang dari berbagai penjuru dunia (termasuk ekstremis dari Indonesia). Milisi-milisi teror ini dipasok dana dan senjata oleh AS, Inggris, Israel, Turki, dan negara-negara Teluk.

Tapi, mereka tetap bertahan, tidak melarikan diri ke luar negeri, tetap melindungi rakyat dari penjagalan para teroris. Mereka tidak mungkin bisa bertahan bila benar mayoritas rakyat menolak mereka. Waktu pun membuktikan bahwa mayoritas rakyat Suriah mendukung mereka (Assad kembali menang pilpres bulan lalu, dengan suara mayoritas).

Negara-negara Arab pensupport “jihadis” juga sudah mulai memperbaiki hubungan, misalnya UAE, Bahrain, Oman kembali membuka kedutaan mereka di Damaskus.

Namun, baru-baru ini, AS mengancam negara-negara Arab yang ingin menormalisasi hubungan dengan Suriah. Pejabat AS untuk Urusan Timur Dekat (Acting Assistant Secretary for Near Eastern Affairs), Joey Hood, mengingatkan, jika negara-negara Arab memilih jalur normalisasi, mereka berisiko terkena tekanan ekonomi dari Amerika Serikat. [1]

AS memberlakukan “Caesar Act”, yaitu undang-undang untuk menghalangi transaksi bisnis dengan pemerintahan Assad.

Untuk membangun kembali Suriah yang sudah diporakporandakan oleh “jihadis” selama 10 tahun, yang dibutuhkan Suriah adalah:

(lebih…)

Apa Benar Hamas Menggunakan “Tameng Manusia” Seperti Kata Israel (dan Para ZSM)?

Dalam sebuah webinar (21 Mei), Prof Makarim Wibisono, mantan Duta Besar Indonesia untuk PBB dan Pelapor Khusus PBB mengenai situasi HAM di wilayah Palestina, menyampaikan banyak informasi menarik.

Pemaparan beliau penting untuk disimak (terutama bagi mahasiswa HI, untuk tahu bagaimana cara kerja diplomat).

Antara lain, info yang membuat saya berkata “wow” (dalam hati) saat pertama kali menyimak:

Prof Makarim menceritakan bahwa sebagai Pelapor Khusus PBB mengenai situasi HAM di Palestina, beliau tidak diberi izin oleh Israel untuk masuk ke Palestina. Tapi suatu saat, ada Dubes Israel untuk PBB menemui beliau. Si Dubes Israel ini memberi iming-iming, “Anda ini kan Pelapor Khusus PBB pertama yang bukan Kaukasia [biasanya jabatan ini dipegang orang kulit putih]… kami akan memberi Anda izin masuk ke Palestina, dan Anda akan jadi orang pertama yang kami izinkan masuk… Tapi, ada syaratnya….”

Apa syaratnya?

(lebih…)

Pilpres Suriah dan Pelajaran untuk Faksi Ikhwanul Muslimin

https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/1642653179251553

Bashar Al Assad menang pemilu untuk ke-2 kalinya pasca perubahan UUD Suriah. Kalau dihitung sejak masa ia pertama kali jadi presiden, ini adalah periode ke-4 kalinya.

Dulu, menurut UUD Suriah, seseorangbisa jadi presiden seumur hidup (ikut pilpres terus) Tapi, menyusul aksi-aksi demonstrasi di tahun 2011 – awal 2012 awal, Assad melakukan berbagai upaya reformasi, memenuhi tuntutan para demonstran, antara lain, perubahan UUD mengenai masa jabatan. Kini, seseorang hanya boleh jadi presiden 2x berturut-turut (seperti di Indonesia). Masa jabatannya 7 tahun.

Perubahan UUD itu disahkan melalui referendum nasional. Seharusnya, segera dilakukan pemilu. Tapi, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, bekerja sama dengan milisi-milisi Al Qaida (yang kemudian menjelma jadi ISIS) malah angkat senjata. Tuntutan yang awalnya adalah reformasi dalam sistem demokrasi, tiba-tiba berubah jadi “mendirikan khilafah di Suriah.”

Karena perang, pemilu yang didasarkan oleh UUD yang baru itu, terlaksana tahun 2014. Saat itu Assad menang.

(lebih…)