Kajian Timur Tengah

Beranda » HTI

Category Archives: HTI

Gagal Fokus Covid

Mengapa sih Dr. Judy (video Plandemic) naik daun, videonya viral luar biasa? Jelas karena Covid. Kalau tidak ada Covid, ga bakal viral. Maka, fokus utama orang saat menonton Plandemic seharusnya adalah pernyataan dia soal Covid.

Tapi para “pemeriksa fakta”, bekerja sama dengan Big Tech, langsung melabeli video itu hoaks dengan cara menshare link media di Barat yang menjelek-jelekkan kredibilitas Dr. Judy. Kill the messenger. Padahal, untuk masalah Covid, bukankah di video ada dokter-dokter AS lain yang juga dikutip pendapatnya? Jawab: POKOKNYA hoaks.

Video Dr. Erickson, juga disebut hoaks oleh “pemeriksa fakta” yang rupanya lebih dokter daripada dokter. Padahal, klinik dokter ini sudah mengetes ribuan orang sehingga dia mendapatkan data dengan tangannya sendiri lalu mengambil kesimpulan berbasis data itu. Tapi, POKOKNYA hoaks!

(lebih…)

[UPDATE] Mengapa Hoaks Soal Suriah Masih Penting Dibahas?

—-
note no 2 di paling bawah, sudah diganti
—–

Di tulisan sebelumnya, Video yang “Menyesatkan”, saya membenturkan soal Suriah dan Covid. Saya mempertanyakan mengapa FB dan organisasi pemberantas hoaks (dan belakangan, Tempo ikut-ikutan) bersemangat sekali “fact check” video Dr Judy yang menurut mereka hoaks, tapi dulu soal Suriah adem ayem aje? Bahkan mereka mengirim surat “ancaman” (kalau share hoaks lagi, akun akan dihapus) pada semua yang share video itu, sekitar 4000-an orang yang share.

Perang Suriah berlangsung 9 tahun, hingga kinipun milisi-milisi teror (disebut “mujahidin” oleh orang Ikhwanul Muslimin dan HTI) masih bercokol di Idlib. Inilah perang paling dahsyat di era modern, dimana negara-negara besar dan negara “Islam” bersatu-padu menggulingkan sebuah pemerintahan yang sebenarnya sangat moderat, sekuler, sosialis, dan sangat pro-Palestina.

Milisi “jihad” berdatangan dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Donasi Suriah dengan sangat mudah dikumpulkan, dalam beberapa hari saja belasan milyar yang bisa dikumpulkan oleh para penggalang donasi hanya dengan kampanye satu isu. Misal, “Save Aleppo”, “Save Ghouta”, atau “Madaya Menjerit”.

Mengapa sedemikian banyak orang mau bergabung dengan milisi “jihad” Suriah? Mengapa sedemikian mudah warga terprovokasi untuk menyumbang (totalnya, diprediksi) sampai ratusan milyar?

(lebih…)

AS secara terang-terangan membantu para teroris di Idlib.

Foto ini adalah Duta Besar AS untuk PBB, Kelly Craft, bersalaman (ada video dan foto lain juga), berpose bersama anggota White Helmets. Saya sudah sering menulis, siapa WH ini, yang tak lain anggota milisi teroris yang berganti baju supaya tampil seolah ‘relawan kemanusiaan’.

Craft menjanjikan bantuan untuk para pengungsi Idlib. Craft datang bersama pejabat AS lainnya, Perwakilan Khusus AS untuk Suriah, James Jeffrey.

Jeffrey mengatakan, “Kami siap untuk menyediakan – seperti dikatakan Presiden – amunisi.. Turki adalah sekutu NATO. Kami punya program penjualan alat militer yang sangat-sangat besar; sebagian besar dari peralatan militer Turki menggunakan perlengkapan [produk] AS. Kami akan memastikan bahwa perlengkapan itu siap [disuplai]. Sebagai rekan NATO, kami berbagi informasi intelijen…dan kami akan memastikan bahwa Turki memiliki apa yang mereka butuhkan di sini [Suriah].” [1]

(lebih…)

Cecurut

persembunyian terorisMengapa di status sebelumnya saya pakai kata “cecurut”? Soalnya, akun pendukung “mujahidin” itu jelas-jelas mengaku mendukung Hay’at Tahrir al Syam (HTS). HTS ini sama dengan Jabhah al Nusra (JN). JN sudah resmi masuk list organisasi teroris oleh PBB, lalu ganti nama jadi HTS, padahal ya itu itu juga.

Tahun 2013, Jubir HTI Ismail Yusanto mengatakan “secara kelembagaan, Hzibut Tahrir juga pernah mengikuti sumpah setia dengan banyak kelompok mujahidin yang ada di Suriah termasuk mujahidin Jabhah Al-Nusrah, untuk memastikan bahwa jihad di Suriah dalam upaya untuk menegakkan syariat Islam di bawah naungan khilafah Islamiyah”. (baca: https://www.globalmuslim.web.id/…/ismail-yusanto-anggota-hi…)

Nah, dalam operasi militer di Idlib yang dilakukan tentara nasional Suriah (untuk membebaskan kawasan yang sudah lama diduduki para milisi teror dari berbagai faksi), salah satu kawasan yang dibebaskan bernama Ma’arrat al-Nu’man, terletak di jalur tol antara Aleppo dan Hama (atau sekitar 30 km dari Idlib).

Di video ini, jurnalis meliput langsung ke bekas sarang JN di Ma’arrat al-Nu’man ini. Rupanya mereka membuat ruangan-ruangan di bawah tanah, menyambung satu sama lain. OMG, mereka 8 tahun hidup di lubang-lubang di dalam tanah. Monmaap kalau refleks teringat pada kata ‘cecurut’.

Ini link ke video yg saya maksud: https://www.youtube.com/watch?v=hoO8kcGKaWI&feature=youtu.be

 

Buku Karya Alumni Suriah yang Membantah ISIS

Ada beberapa komentator yang masih berkeras bahwa yang terjadi di Suriah itu “kaum Sunni dibantai Syiah”.

Saya jawab: Dubes Indonesia untuk Indonesia (alm Djoko Harjanto), mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Suriah, ustadz/dosen di Indonesia yang alumni Suriah, bahkan juga ulama-ulama Suriah yang beberapa tahun terakhir datang ke Indonesia dalam acara pertemuan alumni Suriah, sudah menjelaskan bahwa itu semua HOAX. Lha kok kalian masih berkeras percaya sama ustad-ustad ga jelas itu?

Yang terjadi adalah: sekelompok manusia yang tertipu ideologi khilafah ala Al Qaida dan ISIS, lalu angkat senjata untuk menggulingkan pemerintahan yang sudah dipilih melalui pemilu. Supaya mereka banyak dukungan [dana sumbangan dan rekrutmen petempur], disebarlah hoax: pemerintah Suriah adalah Syiah yang hobinya membantai Sunni.

(lebih…)

Melawan Lupa

Video ini adalah “barang bukti” dari status yang saya tulis kemarin [1]

Selama penceramah seperti di video ini (jumlahnya banyak) tetap dibiarkan bebas berkeliaran, tidak dimintai pertanggungjawaban, tidak diminta mengoreksi apa yang sudah mereka sebarluaskan di masa lalu, bahkan terus dibiarkan mempertahankan narasi kebohongan + kebencian itu,

MAKA…

mengembalikan ISIS [bukan eks-ISIS ya, karena mereka itu masih ISIS] ke Indonesia sama seperti mencemplungkan kembali ikan yang megap-megap di luar sana ke dalam kolam. Mereka akan kembali ke habitatnya, yang memang masih dibiarkan subur di Indonesia.

—————–

[1]https://web.facebook.com/…/a.2341431836786…/868496896909900/

PM Mahathir dan Menhan Sabu

Pagi ini saya membaca sebuah berita menarik. PM Mahathir ternyata pernah bilang sama Trump, “Lo mundur aja deh, supaya negeri lo selamet.”

Pernyataan itu diberikan Mahathir sebagai respon atas “Deal of The Century” yang sebenarnya tak lain dari “pengesahan atas penjajahan yang lebih luas di Palestina oleh Israel”.

Dalam pertemuan Liga Arab yang khusus membahas kasus ini, PM Mahathir bilang, “Kesepakatan ini hanya akan mendatangkan lebih banyak konflik di kawasan dan akan memunculkan kebencian/konflik di tengah miliaran manusia di seluruh dunia.” [1]

Kalimat PM Mahathir ini ‘dalam’ banget. Apa hubungan penjajahan Israel dengan konflik di seluruh dunia? Saya sudah pernah bahas dalam tulisan berjudul “Palestina adalah Kita”. [2]

Tapi sebenarnya ada penjelasan lain soal ini, yang disampaikan Menteri Pertahanan Malaysia, Haji Mohamad bin Sabu. Saat itu beliau bicara dalam forum diskusi “Harapan Baru Dunia Islam: Meneguhkan Hubungan Indonesia – Malaysia” di Aula Gedung PBNU, Jakarta, Sabtu (25/1/2020).

(lebih…)

AMNESIA-NYA MEREKA YANG MENDADAK ANTI ISIS

Tulisan ini saya buat tahun 2014, saya teringat lagi pada tulisan ini setelah beberapa facebooker yang menyebarkan ulang. Jadi, saya repost lagi di sini, supaya lebih banyak yang baca.

**

Ada segelintir orang (termasuk saya) yang sejak 2012 mengingatkan bahayanya konflik di Suriah, yang apinya akan menyebar kemana-mana, termasuk Indonesia. Tapi, suara-suara kami lenyap ditelan dahsyatnya propaganda media mainstream, media nasional, media berlabel ‘Islam’, ustadz-ustadz yang aktif di media sosial, dan para netizen awam yang bak kerbau dicocok hidung men-share berita-berita pro-“mujahidin” dan narasi-narasi kebencian. Saat itu, para penjagal di Suriah itu dianggap layak disebut ‘mujahidin’ karena konon mereka Sunni yang sedang melawan rezim -konon- Syiah kafir terlaknat.

Ketika fakta kesadisan para penjagal itu sudah tak bisa ditutup-tutupi lagi dan tak bisa lagi diterima akal sehat manusia normal, dan memiliki nama “ISIS”, semua berteriak-teriak “Itu buatan Amerika dan Israel!” Dan seolah dengan teriakan itu, gugur sudah dosa-dosa mereka yang dulu menyebarkan berita palsu soal Suriah dan mengintimidasi segelintir orang yang berani bersuara berbeda. Kalian berusaha sebarkan narasi bahwa ISIS adalah organisasi ‘sesat’ (seperti kata salah satu pengamat yang sering masuk TVOne: jihadnya benar, tapi caranya salah; kelompok jihad yang lain itu benar, tapi ISIS ini salah).

(lebih…)

Gus Sholah in Memoriam

Indonesia kembali kehilangan ulama besar. Kiai Haji Sholahuddin Wahid atau dikenal sebagai Gus Sholah wafat tadi malam. Beliau adalah adik kandung Gus Dur dan cucu dari Mbah Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.

Saya beruntung pernah sekali berjumpa langsung dengan beliau dalam acara yang digelar aktivis NU ITB Bandung (27 Januari 2017), berjudul “Pengajian Umum dan Bedah buku HTI, Gagal Paham Khilafah”. Buku yang dibedah itu adalah karya Makmun Rasyid. [1]

Dalam acara tsb, saya membahas kiprah Hizbut Tahrir di Suriah dan menyimpulkan bahwa elit HT gagal dalam mengindentifikasi mana musuh, mana lawan di Suriah (cita-cita awal HT kan membebaskan Palestina, kini mereka malah hendak menghancurkan front terdepan perlawanan terhadap Israel). Dan karena HT adalah organisasi transnasional, “kebijakan” HT di Suriah juga diimpor ke Indonesia. Tak heran bila HTI sejak awal konflik Suriah sangat berisik menyerukan “jihad” mendirikan khilafah di Suriah, termasuk dengan cara menyebarkan banyak hoax soal Assad.

(lebih…)

Israel Mengebom Damaskus dan Gaza (Lagi)

Kemarin, Selasa dini hari (12/11/2019) Israel mengebom dua target sekaligus, dalam jeda waktu sekitar 1 jam: kediaman Baha’ Abu Atha di Gaza dan kediaman Akram Ajour di Damaskus. Abu Atha tewas, Akram Ajour selamat (tapi anaknya dan cucu perempuannya tewas).

Kedua orang itu adalah pimpinan Jihad Islam, sebuah milisi perlawanan di Gaza. Dari info ini, ada beberapa poin yang perlu dicatat:

1. Suriah sejak dulu adalah pendukung utama pejuang Palestina melawan Israel. Hamas dan Jihad Islam punya markas di Damaskus. Anehnya, banyak orang yang mengaku pro Palestina malah mendukung penggulingan Assad. Ini artinya mereka belum paham geopolitik, mungkin hanya dengar info dari ustad-ustad IM/HTI/Al Qaida.

(lebih…)