Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia

Category Archives: Indonesia

ISIS Dibentuk AS, Lalu Umat Islam Ngapain?

Serangan rudal AS ke Suriah tanggal 7 April lalu memberikan “angin segar” buat ISIS yang semula posisinya sudah terdesak. Pasalnya, yang diserbu AS adalah pangkalan militer yang selama ini dijadikan basis tentara Suriah dalam melawan ISIS. Lalu, serbuan-serbuan AS selanjutnya (dan sebelumnya) yang konon dalam rangka menggempur ISIS selalu saja salah sasaran, yang tewas malah rakyat sipil di Suriah dan Irak. Sudah banyak pengamat menuliskan analisis, dengan berbagai data, bahwa ada AS di balik ISIS. Di video di bawah ini juga ada pengakuan dari Hillary Clinton bahwa AS-lah yang mendanai Al Qaeda, “kakek” yang akhirnya melahirkan ISIS.

Sejarah memang sudah mencatat bahwa AS adalah penjahat perang nomer wahid. Namun, ada satu hal yang penting dicatat terkait ISIS: organisasi teror ini tidak lahir dari ruang hampa. ISIS tidak muncul tiba-tiba saja. Ada sejarah panjang ideologis yang harus diperhatikan dalam mencermati fenomena ISIS.

(lebih…)

Anak-Anak Itu Tewas, Tapi Oleh Siapa?

syria-child-refugees5

anak-anak Suriah di kamp pengungsi

Seperti dulu saat saya nulis tentang “bocah di kursi oranye“, para pendukung “mujahidin” (terutama ibuk-ibuk) ngamuk-ngamuk atas tulisan saya terkait kasus senjata kimia di Idlib. Antara lain mereka menyebut saya tidak punya perasaan, masa liat foto anak-anak setragis itu saya tak tersentuh? Lho, justru saya nulis terus ttg Suriah karena prihatin dengan kondisi anak-anak di sana. Tapi buat mereka, indikasi “prihatin” atas Suriah adalah mendukung “mujahidin”.

Padahal yang saya lakukan adalah memberikan informasi pembanding. Coba lihat tulisan-tulisan saya, bahkan memasang foto mereka pun saya tidak tega, selalu saya gunakan foto yang tidak memunculkan kengerian. Status ini pun tidak saya pasang foto jasad anak-anak itu.

Untuk bocah-bocah yang tewas di Idlib (yang foto dan videonya disebarkan oleh pihak “oposisi” alias “jihadis”, bukan oleh jurnalis langsung), faktanya memang mereka tewas.

PERTANYAANNYA: tewas karena apa, oleh siapa?

Gerak Cepat Para Pengumpul Dana

Segera setelah berita mengenai serangan senjata kimia di Idlib merebak (baca status saya sebelumnya yang mendeteksi berbagai kejanggalan atas berita ini), ormas-ormas pengumpul dana pun bergerak cepat. Salah satunya Aksi Cepat Tanggap (ACT) ini. Perhatikan skrinsyut kiri: mereka menyebut serangan senjata kimia di Idlib dg menggunakan klorin. Padahal dokter yang mengaku menangani pasien di Idlib menyebut gas sarin (dr. Shajul Islam, skrinsyut kanan).

ACT

Dalam situsnya, Direktur ACT, Ahyudin, memuji-muji Turki, Erdogan, dan IHH (Insan Hak ve Hurriyetleri ve Insani Yardim Vakfi/ Yayasan untuk Hak Azasi Manusia, Kebebasan dan Bantuan Kemanusiaan), sebuah LSM terbesar di Turki.

Menurut Ahyudin, “Semua yang diperlihatkan IHH, selaras dengan visi ACT. Tidak keliru kalau jika ACT merapat ke IHH dan menyerap inspirasi darinya.” ACT menyerahkan bantuan warga Indonesia untuk Suriah melalui IHH. [1]

Lembaga lain yang juga menyalurkan bantuan ke IHH adalah Indonesian Humanitarian Relief yang dipimpin Ustadz Bakhtiar Nasir. Sebuah video yang diunggah oleh channel Euronews pada Desember 2016 memperlihatkan ada kardus-kardus bertuliskan Indonesia Humanitarian Relief yang ditemukan di markas milisi bersenjata (Jaish al Islam) di distrik al-Kalasa, Aleppo timur. (simak videonya di sini)

(lebih…)

HTI: Gagal Paham Suriah (2)

al-zara1

pembantaian di Al Zara oleh Ahrar al Sham, foto dan video, klik link.

Baca bagian 1

Setelah Al Nusra resmi masuk daftar organisasi teroris internasional, situs HTI memberikan ‘endorsment’ pada kelompok Ahrar al Sham, yang sebenarnya juga masih ‘bersepupu’ dengan Al Qaida. Ahrar al Sham punya bendera sendiri, tapi terkadang juga mengibarkan bendera khas HT.

Aksi-aksi Ahrar al Sham sangat jauh dari pengetahuan kita tentang bagaimana dulu Rasulullah berperang. Salah satu bukti yang jelas, karena ada videonya dan mereka sendiri yang mengunggahnya, pada Mei 2016 Ahrar al Sham melakukan aksi brutal pembantaian massal di desa al-Zara. Dengan bangga mereka berpose di atas mayat perempuan dan anak-anak.  Rusia sudah lama menuntut Dewan Keamanan PBB agar kelompok ini dimasukkan juga ke daftar teroris internasional namun selalu diveto AS dengan alasan ‘akan menyulitkan upaya negosiasi’.

Saya sering menulis: jangan dipusingkan dengan nama ratusan kelompok ‘jihad’ di Suriah. Yang perlu dilihat adalah basis ideologi dan cara-cara tempur mereka, semuanya sama. Basis ideologi mereka semua sama yaitu takfirisme (gampang mengkafirkan pihak lain yang tak sepaham serta menghalalkan darahnya).  Itulah sebabnya mereka pun akhirnya saling membunuh satu sama lain, seperti yang terjadi di Idlib atau di Hama akhir-akhir ini. Bahkan sesama ‘mujahidin’ pun bisa berubah status jadi kafir.

(lebih…)

HTI: Gagal Paham Suriah (1)

Baru-baru ini beredar di medsos, foto baliho HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang berisi propaganda ‘bendera Rasulullah’. Karena saya sejak 2011 sudah mengikuti konflik Suriah, maaf saja, melihat bendera itu langsung teringat pada bendera salah satu kelompok “jihad” (tapi sudah masuk ke dalam list teroris internasional PBB), yaitu Jabhah Al Nusra. Pada saat yang hampir bersamaan, tokoh HTI (tapi sudah keluar dan kini jadi Sekjen Forum Umat Islam, ormas yang juga aktif menyerukan “jihad” ke Suriah) Muhammad Al-Khaththath, ditangkap polisi dengan tuduhan makar.

Saya pun teringat pada acara “Pengajian Umum dan Bedah buku HTI, Gagal Paham Khilafah”. yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa NU ITB dan Komunitas Anak Peduli Bangsa Bandung (27/1/2017). Dalam tulisan berikut ini saya akan memaparkan ulang apa yang saya sampaikan dalam acara tersebut, agar kita bisa mengambil benang merah dari dua fenomena yang saya sebut di atas.

alnusra-hti

(lebih…)

Petani Kendeng dan Ideologi Pertanian Kita

kamisan

Kamisan Bandung 23/3/17

(1) Sebelum Berdebat, Lihat Dulu Akar Masalahnya

Sore ini  untuk pertama kalinya saya bergabung dengan aksi Kamisan, dengan mengenakan baju dan kerudung hitam. Acara ini diawali dengan membaca doa untuk Yu Patmi, petani penolak pabrik semen, yang meninggal dunia hari Selasa lalu. Lalu, dibacakan syair dan berbagai orasi.

Mungkin ada yang heran, mengapa saya yang biasanya nulis Kajian Timteng, tiba-tiba akhir-akhir ini ‘ikut campur’ dalam isu petani dan kedaulatan pangan. Jawabnya sederhana saja: karena saya pernah menelitinya. Selama tiga tahun terakhir, saya membaca ratusan buku dan jurnal serta mewawancarai puluhan narasumber terkait kedaulatan pangan.  Saya tidak mengklaim diri orang yang paling paham, namun setidaknya saya pernah membaca lebih banyak daripada sekedar artikel buatan buzzer.

Sejak 1952, Bung Karno sudah memetakan prioritas bangsa ini: pangan adalah hidup mati bangsa. Kalau kita bisa menanam sendiri, mengapa harus impor? Kalau kita bergantung pada impor, lalu tiba-tiba ada perang atau masalah lain, sehingga beras dari luar tidak bisa masuk, bagaimana? Mau berinovasi apapun, mau punya senjata secanggih apapun; kalau tidak ada pangan, mati kita.

Tapi, ada sanggahan: penduduk Indonesia itu 250 juta coy! Bagaimana mungkin petani bisa memenuhi kebutuhan seluruh rakyat? Karena produksi mereka ga cukup, makanya kita impor!

Nah, di sinilah problem besar kita. Mengapa tidak dikondisikan agar para petani mampu memproduksi pangan sampai surplus?

Akar masalahnya adalah pada ideologi pertanian yang kita pilih. Di UU Pangan 2012, dua konsep yang punya ideologi  bertolak belakang malah disatukan: kedaulatan pangan dan ketahanan pangan. Bahkan pembuat UU pun masih galau, mau kedaulatan, atau mau ketahanan?

Kedaulatan pangan artinya kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri (diproduksi sendiri).  Sebaliknya konsep ‘ketahanan pangan’ memandang bahwa yang penting pangan ada, tersedia di pasar. Bahwa sumbernya impor, tak jadi soal.

Yang jelas, di Nawa Cita, yang dicantumkan adalah kedaulatan pangan. Jadi, yang seharusnya dilakukan adalah mengerahkan segala upaya untuk memproduksi pangan sebanyak-banyaknya, agar tidak perlu impor lagi (yang diimpor adalah yang memang tak bisa ditanam di Indonesia). Ada banyak hal yang harus dilakukan untuk mencapainya, kali ini saja jelaskan 1 saja: melindungi petani.

(lebih…)

Dari Aleppo ke Jakarta: Mari Menjadi Hoax Buster

hoax
Pernah dengar nama ‘drone emprit’? Sejak beberapa bulan terakhir, saya memfollow penemunya, seorang PhD lulusan Belanda, bernama Ismail Fahmi. Beliau aktif menuliskan analisisnya atas percakapan di medsos dengan menggunakan ‘drone emprit’ ini. Nah, dua hari yang lalu, saya berkesempatan hadir di seminarnya. Penjelasan gampangnya begini, ketika sebuah isu menjadi heboh di media sosial, drone emprit bisa memantau percakapan di twitter, siapa yang pertama ngetwit, siapa yang RT/re-tweet (manusia asli atau robot), dst.

Harap maklum kalau saya tak terlalu fasih menjelaskan. Tapi untuk isu Aleppo, saya bisa menjelaskan lebih banyak karena nyambung dengan apa yang saya kaji selama ini. Begini, di salah satu status pak Ismail (yang juga pernah dipresentasikan dalam seminar di Bdg), drone emprit mendeteksi bahwa tweet tentang Aleppo pada Desember 2016 berawal dari beberapa akun tertentu yang saya ‘kenal’ dengan baik. Mereka adalah para seleb medsos dari Aleppo seperti Bana Al Abed, Bilal Abdul Kareem, Lina Shamy dll. [1], lihat foto 1.

Kerjasama Indonesia-Saudi Melawan Terorisme, Serius?

bocah-isis2Hari ini pemerintah Indonesia dan Arab Saudi akan menandatangani 10 MoU, antara lain MoU kerjasama melawan terorisme. Kok bisa ujug-ujug Saudi jadi ‘pejuang anti terorisme’?

Seperti sudah beberapa kali saya bahas sebelumnya, Saudi sangat membutuhkan investasi dan sumber-sumber pendapatan baru. Saudi mengundang banyak pihak untuk berinvestasi di negaranya dan sebagai kompensasi menawarkan akan menanamkan duit di negara-negara yang diundangnya. Apa yang dibutuhkan oleh proses ini? Jelas, CITRA. Citra Saudi sebagai sponsor terorisme di dunia amat menyulitkan bagi iklim investasi.

Karena itulah, Saudi memang secara aktif berusaha membersihkan citranya. Selama ini pun, pemerintah Saudi selalu mengaku tidak tahu menahu dan tidak mendukung terorisme. Padahal, sudah amat banyak pihak, baik agamawan, peneliti, maupun politisi, yang menyebutkan Wahabisme sebagai akar ideologi kelompok-kelompok terorisme. Uni Eropa secara resmi juga sudah menyatakan bahwa Wahabisme (bukan Islam Ahlus-sunnah wal jamaah) sebagai biang terorisme. Selama ini pun Saudi sudah mengucurkan 100 miliar USD untuk propaganda paham Wahabisme di seluruh dunia. Sungguh kebohongan besar bila Saudi mengaku tidak tahu menahu soal terorisme.

(lebih…)

Echo-Chamber

Pada pilpres 2014, dan di masa pilkada DKI (yang seolah sequelnya pilpres) di timeline saya beredar status mulai dari die-hard-nya kedua kubu, status dari kubu kritis, agak kritis, dan golput.

Saya sering menemukan status yang ditulis pendukung Paslon 2, dibantah oleh pendukung paslon 1+3, atau sebaliknya. Atau kritikan dari kubu non partisan (golput) untuk kedua kubu.

Contohnya nih ya, pendukung Paslon 2 kan demen banget nyindir Paslon 3, “Gue pingin beli rumah di Jakarta tanpa DP, ah!” Tentu, ada juga yang menulis dengan analisis dan argumen yang baik. Nah, saya menemukan status temen (non-partisan) yang ngasih tau bahwa ternyata beli rumah tanpa DP itu mungkin saja, dan bahkan ada yang jual di Pluit City. Terlepas dari adanya beberapa bantahan balik, tapi ide ini tidak mustahil (kalau pemerintah mau dan ada duitnya, ya bisa saja). Saya juga menemukan status temen lainnya, ternyata ide rumah apung itu tidak mustahil dan bahkan sudah dibangun di Inggris. Atau sebaliknya, ada penulis dan ulama terkenal pendukung Paslon 1+3 yang dengan amat pede menebar hoax lalu dibongkar oleh kubu Paslon 2.

Untuk isu Timteng, saya juga menemukan friend-friend FB yang menye-menye soal Suriah (menangisi pembebasan Aleppo, dan teriak-teriak Save Aleppo, misalnya). Padahal saya sudah 5 tahun nulis di Facebook memberikan pengimbangan info soal Suriah. Padahal hoax yang mereka share sudah ada bantahannya di wall saya (yang sudah di-share ratusan hingga ribuan orang lainnya).

Pertanyaannya: apakah kedua kubu membaca bantahan dari lawannya masing-masing; atau bantahan dari kubu non-partisan (golput)?

(lebih…)

Apakah Indonesia Akan Di-Suriah-kan?

sampang[Copas dari status FB saya]

Pagi-pagi buka FB, menemukan ada friend yang menyatakan bahwa isu Indonesia akan di-Suriah-kan adalah sesuatu yang konyol. Buktinya, sampai sekarang Indonesia baik-baik saja. Sebagai salah satu di antara sedikit orang yang “berdarah-darah” gara-gara nulis soal Suriah sejak 2011, saya merasa perlu menjawab. Sudah saya jawab di status yang bersangkutan. Tapi sepertinya penting juga diketahui umum, jadi saya copas di sini (dengan sejumlah editan).

  1. Pihak yang “berjihad” menggulingkan rezim di Suriah adalah Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dan ormas-ormas yang didanai Saudi-berafiliasi dg Al Qaida, ISIS, dll. IM (dan HT) pada 1982 pernah berusaha menggulingkan rezim dengan dibantu oleh AS, Jordan, dan Israel, tapi gagal. Yang penting dilihat: ketiga faksi ini ada cabangnya di Indonesia, dan sangat aktif menguasai wacana. Mereka sangat aktif menyebarkan kebencian terhadap kaum Syiah di Indonesia (mengaitkannya dengan Suriah) sejak 2011. Pada 2012, peristiwa Sampang terjadi, pemerintah tak mampu melakukan rekonsiliasi sampai sekarang.

Dari info A1 yang saya dapatkan, Arab Saudi sejak 2012 juga menggelontorkan dana besar-besaran (bahkan di puncak “panas”-nya isu ini di Indonesia, langsung diantar oleh Bandar bin Sultan, ketua intel Saudi) kepada ormas-ormas itu dengan tujuan “memerangi” Syiah. Sebagai bukti, lihat betapa masifnya spanduk anti-Syiah dipasang di seluruh Indonesia, satu spanduk 200rb, di satu kota saja bisa habis 2M. Ini di seluruh Indonesia. Buku anti-Syiah dicetak jutaan copy, dibagikan gratis. Tentu naif sekali bila mengira Syiah adalah target akhir (krn Syiah di Indonesia sangat sedikit, tidak signifikan). Target besarnya tentu sesuatu yang lain.

(lebih…)