Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia

Category Archives: Indonesia

Libya, Suriah, dan Klaim Dakwah/Antikekerasan HTI

HTI

Republika (24/10) menurunkan berita dengan judul bombastis:  “Aksi Tolak Perppu Ormas Jadi Lautan Bendera Tauhid”. Ngawurnya ada dua, pertama apakah sih definisi bendera tauhid sebenarnya (apa kalau tidak pakai bendera itu artinya tidak bertauhid?) Apakah bendera HTI itu bendera tauhid? Ini silahkan didiskusikan dengan ahli agama, setahu saya sih tidak demikian. Kedua, judul itu jelas ingin membangun opini: Perppu Ormas (sekarang sudah jadi UU) adalah anti Islam. Menariknya, wartawan Republika itu juga menyebutkan bahwa tidak ada satupun bendera merah putih yang terlihat.

HTI selalu mengklaim diri sebagai semata-mata organisasi dakwah Islam dan atas alasan itu, Perppu Ormas (kini UU) secara salah kaprah disebut anti Islam. Padahal yang disasar ormas-ormas yang ideologinya membahayakan NKRI (anti Pancasila, pro kekerasan, dll).

Jawaban untuk Klaim HTI

(1) HTI Organisasi Dakwah?

Klaim bahwa HTI adalah organisasi dakwah bertentangan dengan pernyataan yang dimuat di situs-situs HT di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang secara jelas menyatakan bahwa Hizbut Tahrir adalah partai politik yang memiliki tujuan untuk mendirikan kekhalifahan Islam.

Saat diwawancarai oleh Aiman dari Kompas TV (12/6), Ismail Yusanto mengelak menjawab, bagaimana proses terbentuknya kekhilafahan serta siapa dan dari negara mana asal sang khalifah.

(lebih…)

Iklan

Pesan-Pesan untuk Kalian (Tentang Rohingya)

THAILAND-SEASIA-MIGRANTSBerikut ini pesan saya untuk 3 pihak:

-yang pingin jihad ke Myanmar
-yang pingin nyumbang dana
-yang bilang “kalian tu nyebelin sih, ga beradab, pantesan aja diusir melulu”

A. Buat yang ngotot ingin berjihad ke Myanmar

Marah? Harus dan wajar. Namun nalar dan akal sehat jangan sampai menguap dari didihan darahmu.

Tak pernahkah kau berpikir, sekali menjejakkan kaki di sana dengan tujuan ‘mulia’ itu, engkau praktis di bawah komando sesuatu yang bukan dalam kuasamu?

Mampukah engkau menolak perintah untuk berbuat kerusakan di luar tujuan kedatanganmu? Bisakah engkau sekonyong-konyong pulang kapanpun kau mau?

Konflik Syria adalah blueprint dari pola ini. Puluhan ribu ‘jihadis’ asing berbondong-bondong tiba ke Syria, dengan niat ‘menolong’ – namun mereka malah menyebabkan kondisi menjadi semakin parah.

(lebih…)

Rohingya dan Komoditas Politik Domestik

biksu-ashin-wirasthuTulisan terbaru saya di Geotimes

“Mereka [orang Burma] mengatakan, jika kamu menyebut diri Rohingya, kamu akan dilempar ke laut!” kata seorang pria Rohingya, seperti diceritakan jurnalis Emanuel Stoakes yang mengunjungi kamp pengungsi di Sittwe, Provinsi Rakhine, 2013.

Dalam pernyataan itu terkandung akar konflik Rohingya di Myanmar. Pemerintah Myanmar sejak deklarasi kemerdekaan 1948 menolak memberikan status warga negara kepada etnis Rohingya. Mereka selalu menyebut orang-orang Rohingya sebagai orang ‘Bengali’ yang seharusnya menjadi warga Bangladesh, bukan Myanmar. Hal ini bertentangan dengan fakta bahwa selama berabad-abad etnis Rohingya telah hidup di tanah yang kini bernama Myanmar itu.

Status stateless (tak punya negara) yang dialami 140.000 orang Rohingya membuat segala hak-hak kemanusiaan mereka terabaikan. Etnis Rohingya adalah salah satu dari beberapa suku minoritas di Myanmar yang menderita penindasan dan diskriminasi dari junta militer Myanmar yang didominasi suku Burma. Del Spiegel pada tahun 2007 melaporkan bagaimana kondisi salah satu suku minoritas yang mengalami penindasan itu, yaitu suku Karen yang mayoritas beragama Kristiani.

Selanjutnya:   https://geotimes.co.id/kolom/internasional/rohingya-dan-komoditas-politik-domestik/

Rohingya dan Kita (1-2)

Berikut ini copas dari 2 status facebook saya, mengenai Rohingya.

Bagian 1

Sejumlah orang menanyakan pendapat saya mengenai kasus Rohingya. Berikut ini beberapa poin pemikiran saya, sebagian pernah saya tulis di paper saya yang diikutsertakan dalam konferensi internasional, “Debating ‘National Interest’ Vis A Vis Refugees: Indonesia’s Rohingya Case”, sebagian pernah saya tulis di blog.

Sejak awal deklarasi kemerdekaan Myanmar tahun 1948 (semula dijajah oleh Inggris), negeri tersebut sudah memiliki konflik antaretnis, karena etnis Burma yang merupakan 2/3 dari populasi mendominasi 100-an etnis lainnya, seperti etnis Shan, Karen, Rakhine, Rohingya, Kachine, dan Mon.

Menurut keterangan narasumber penelitian saya saat menulis paper tentang Rohingya, secara umum, umat Islam baik-baik saja di Myanmar, ada masjid-masjid yang berdiri di sana, dan umat Muslim bisa beribadah dengan aman. Yang jadi masalah adalah: etnis Rohingya yang ‘kebetulan’ Muslim adalah etnis minoritas yang tidak diakui sebagai warga negara Myanmar. Akibat status ‘stateless’ ini, mereka mengalami diskriminasi dan penindasan. Suku Kachin dan Karen juga mengalami penindasan dari rezim Myanmar, agama mereka umumnya Kristiani.

(lebih…)

Tim Jihad Washington

Artikel yang ditulis Andre Vltchek ini menarik untuk dibaca. Andre mewawancarai banyak orang selain saya, antara lain seorang alumni “jihad” Afghanistan. Penuturan si alumni ini memperlihatkan pola yang sama dengan ‘jihad’ Suriah: dulu dia pergi ke Afghanistan karena konon katanya warga Muslim diserang oleh kaum komunis; sekarang kelompok yang sama ‘jihad’ ke Suriah karena konon warga Sunni dibantai Syiah. Kloter yang terakhir ini yang bikin repot, ketika ISIS keok di Suriah, mereka harus dibiayai pulang ke Indonesia dan harus pula dibiayai untuk ikut program deradikalisasi (entah ada manfaatnya atau tidak).

Silahkan baca di sini: Washington’s Jihadi Express: Indonesia-Afghanistan-Syria-Philippines

Ini pernyataan saya yang dikutip Andre:

“Jihad in Indonesia – against the Western imperialism? Oh no, no way…” smiles Dina Y. Sulaeman, an Indonesian political analyst, an author of the book “Salju Di Aleppo” (Snow of Aleppo):

“Jihad in which Indonesians want to participate is based on hate… In my book, I explain that the Indonesian fighters in Syria are mainly affiliated with several groups: ‘Ikhwanul Muslimin’, ‘Hizbut Tahrir’ and Al Qaeda/ISIS. Unfortunately these groups have supporters in Indonesia. They keep spreading fake photos and videos about Syria, to ignite sympathy, even anger of Indonesian people, so they give donations or even join jihad. It’s a good deal for them. They are waging ‘holy war’, they’ll go to heaven, and plus they get paid. They accuse president Assad of being ‘infidel’. That’s their rallying cry.”

“Indonesian mass media ‘coverage’ is only directly translating what is said by the Western media: the CNN, the BBC and others…. If not those, then at least Al-Jazeera which is often even worse… As a result, Indonesians are ‘very concerned’ about Syria.’ Of course, in my books I’m trying to correct the misconceptions, but the propaganda apparatus is so powerful.”

Palestina: Selalu Ada Buah Busuk dalam Keranjang

Joko Widodo, Mahmoud AbbasKalau kita membahas perjuangan kemerdekaan Indonesia, apa yang Anda bayangkan? Heroisme para pejuang, kan? Terbayang gak, kalau di antara para pejuang kemerdekaan itu ada orang-orang yang brengsek? Ah, rasanya gak mungkin!

Tapi coba baca catatan peneliti sejarah, kang Hendi Jo dalam bukunya “Zaman Perang”. Di situ Anda akan temukan bahwa jalannya perang tidaklah hitam putih. Selalu ada tokoh antagonis di pihak terjajah, selalu ada tokoh protagonis di pihak penjajah. Anda bisa baca juga catatan-catatannya di Facebook. Misalnya, ini saya kutip:

(lebih…)

Mengapa Mereka Membenci Patung?

patung

Patung dewa di kompleks kelenteng Tuban ditutupi kain setelah diprotes sebagian pihak

 

Kasus ‘penolakan’ terhadap patung-patung yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia, menurut saya, adalah sebuah alarm tentang menguatnya sebuah ideologi yang mengerikan, di tengah masyarakat kita. Mungkin baru alarm, baru gejala.

Orang bisa saja mengabaikan dan berkata, “Ah itu sih segelintir orang ekstrim saja!” Tapi kalau dibiarkan, dan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas masalah ini (misalnya Dirjen Kebudayaan) tidak mengambil tindakan yang signifikan, dampaknya bisa mengerikan. Hal ini dapat kita pelajari dari fenomena di Timur Tengah.

Pada Desember 2013, Robert Fisk, jurnalis dari The Guardian melaporkan bahwa Al Qaida Suriah (Jabhah Al Nusra) telah menghancurkan situs-situs bersejarah. Patung penyair Abu Tammam Habib ibn Aws di Daraa diledakkan, patung penyair al-Ma’arri, dipenggal kepalanya. Patung Harun Al Rasyid di Raqqa pun tak luput dari ‘pembantaian’ mereka. Makam Hujr ibn Adi (salah satu sahabat Rasulullah SAW) di pinggiran Damaskus dibongkar. Sebatang pohon tua berusia 150 tahun di kota Atmeh pun menjadi korban: ditebang habis. Seorang “jihadis” mengatakan kepada wartawan Perancis bahwa pohon itu ditebang karena sudah jadi sesembahan warga. Jadi, inilah “jihad” mereka: menggorok leher orang-orang ‘kafir’ Suriah, membasmi patung, makam, dan pohon.

Lalu Fisk menulis, “Tetapi, bukankah ini cerita lama? Bukankah dulu Taliban juga menghancurkan patung Buddha di Bamiyan, sebagaimana rezim Saud membongkar bangunan-bangunan kuno di Mekah; seperti juga para ‘Islamis’ yang menghancurkan makam-makam di Pakistan? Belum lagi bila kita sebut penghancuran di Timbuktu.”

(lebih…)

Tentang Palestina (3): Mengapa Orang Indonesia Harus Membela Palestina?

demo pro palestina
Alasan 1: Nasionalisme Indonesia
Para pembela Israel berkulit sawo matang terus mengulang-ulang narasi bahwa “Yang teroris adalah orang Arab Palestina, yang jadi korban adalah Israel.” Persis seperti yang dikatakan Obama berulang-ulang selama ia menjadi Presiden AS, “Amerika berkomitmen pada keamanan Israel. Dan kita akan selalu mendukung hak Israel untuk membela dirinya di hadapan ancaman yang nyata. Selama bertahun-tahun Hamas telah meluncurkan ribuan roket kepada warga Israel yang tak berdosa.”
Saya sudah jelaskan tentang falasi non-causa pro-causa, nah kalimat Obama ini salah satu contohnya (baca lagi tulisan saya seri falasi para pembela Israel).
Sekarang saya ingin bertanya: para pembela Israel ini patuh pada Presiden AS atau Presiden Indonesia?
Pak Jokowi dalam pembukaan KTT LB OKI di Jakarta Maret 2016, mengatakan, ”Pada tahun 1962, Bapak Bangsa Indonesia, Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, Bung Karno, menegaskan: “… selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel’… Kami bangsa Indonesia konsisten dengan janji tersebut. Hari ini, Indonesia berdiri bersama dengan negara-negara OKI untuk meneruskan perjuangan yang belum selesai itu.”
Jadi, pemerintah kita sejak zaman Pak Sukarno sampai hari ini selalu berada di pihak Palestina. Sama sekali tidak ada ‘pertanyaan’, mana yang jadi ‘korban’ (upaya blaming the victim). Ini sesuatu yang sudah jadi fakta: Palestina itu dijajah oleh Israel, titik. Pembukaan UUD 45 memberi mandat kepada bangsa Indonesia untuk membela bangsa-bangsa terjajah.
Jadi para pembela Israel berkulit sawo matang itu memang patut dipertanyakan nasionalismenya: mengapa mereka patuh sama Presiden Presiden AS dan Israel? Mengapa narasi yang mereka sampaikan malah membeo perkataan Presiden AS dan Israel? Apa bedanya mereka dengan warga Turki kaburan di Indonesia yang lebih memuja Erdogan, atau warga Indonesia yang berbaiat pada ‘negara’ illegal nun jauh di sana (ISIS)?

Kisah Nur dan ISIS

Sejak 2011 sampai kini, saya sudah nulis soal Suriah, mungkin jumlahnya sudah mencapai ribuan (karena banyak juga yang saya tulis anonim, soalnya banyak yang alergi duluan baca nama saya 🙂 ).

Sejak beberapa tahun belakangan ini, sudah banyak aktivis medsos yang ikut aktif meluruskan info ttg Suriah di medsos, alhamdulillah…, luar biasa… Wartawan-wartawan media mainstream juga sudah ada (sedikit) yang turun tangan, meski dengan halus, mencoba melakukan perlawanan atas hegemoni informasi. Tapi semua itu tak cukup, masih sangat banyak yang tertipu. Semua yang ‘tercerahkan’ seharusnya ikut turun tangan, minimalnya sekedar share berita yang mengungkap siapa itu ISIS, Al Nusra, dan sejenisnya; atau bahwa ada AS dan Israel di balik semua ini. (contoh: “Israel Danai Pemberontak Suriah” http://internasional.republika.co.id/…/ortqnu335-israel-dan…).

Ini kisah tentang ex-Direktur PTSP BP Batam Ir Dwi Djoko Wiwoho. Ia tertipu dan berangkat ke Suriah bersama keluarganya. Kebetulan, AFP mewawancarai seorang perempuan, yang diduga anak pak Dwi, namanya Nur.

Menurut Nur, saat ini ayahnya dan saudara laki-lakinya dipenjara ISIS.

“Ada banyak (tentara ISIS) yang bercerai, kemudian menikah lagi untuk dua minggu atau dua bulan,” katanya.

“Banyak pria datang ke tempat saya dan berkata kepada ayah saya, ‘Saya menginginkan anak perempuan Anda’,” katanya.

“Ke mana saja mereka selalu membicarakan wanita,” katanya getir

Nur mengaku tertarik pindah ke Suriah setelah melihat foto dan video tentang Negara Islam atau Daulah Islamiyah yang diunggah ISIS ke internet.

“Semua bohong … ketika kami memasuki wilayah ISIS, masuk ke negara mereka, yang kami lihat sangat berbeda dengan apa yang mereka katakan di internet,” kata Nur.

Nur saat ini berada di kamp pengungsi Ain Issa, sekitar 50 kilometer di utara Raqqa.Bersama ribuan orang lainnya, Nur meninggalkan kota Raqqa yang kini tengah digempur Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung militer Amerika Serikat.

Ini video cuplikan rekaman Nur, terlihat sesekali ia bicara bahasa Indonesia.

Dengan sepenuh hati saya mendoakan di pagi bulan Ramadhan ini, agar Nur dan perempuan-perempuan Indonesia lainnya, bisa segera pulang dengan selamat lalu mereka menyebarkan kebenaran kepada publik. Wabil khusus saya doakan seorang gadis cantik yang awal-awal konflik Suriah sering ‘menyerang’ saya di FB, bahkan menginbox, dan dia bilang dia akan ke Suriah dalam waktu dekat. Saya waktu itu bilang ke dia, “Hati-hati Dik… jangan mau tertipu kayak gini.”

Entah dimana dia sekarang. Semoga dia baik-baik saja.

sumber video: https://www.youtube.com/watch?v=n3aFQEiegRA
sumber berita: http://batam.tribunnews.com/…/mengerikan-putri-djoko-cerita…

ISIS Dibentuk AS, Lalu Umat Islam Ngapain?

Serangan rudal AS ke Suriah tanggal 7 April lalu memberikan “angin segar” buat ISIS yang semula posisinya sudah terdesak. Pasalnya, yang diserbu AS adalah pangkalan militer yang selama ini dijadikan basis tentara Suriah dalam melawan ISIS. Lalu, serbuan-serbuan AS selanjutnya (dan sebelumnya) yang konon dalam rangka menggempur ISIS selalu saja salah sasaran, yang tewas malah rakyat sipil di Suriah dan Irak. Sudah banyak pengamat menuliskan analisis, dengan berbagai data, bahwa ada AS di balik ISIS. Di video di bawah ini juga ada pengakuan dari Hillary Clinton bahwa AS-lah yang mendanai Al Qaeda, “kakek” yang akhirnya melahirkan ISIS.

Sejarah memang sudah mencatat bahwa AS adalah penjahat perang nomer wahid. Namun, ada satu hal yang penting dicatat terkait ISIS: organisasi teror ini tidak lahir dari ruang hampa. ISIS tidak muncul tiba-tiba saja. Ada sejarah panjang ideologis yang harus diperhatikan dalam mencermati fenomena ISIS.

(lebih…)