Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia

Category Archives: Indonesia

“Deconstructing Saudi Arabia’s Foreign Aid Motives to Yemen”

Pagi-pagi dapat kabar gembira, salah satu mantan mahasiswa saya (sudah lulus), menulis artikel jurnal (dari skripsinya) dan sudah dimuat. Tulisan ini mencantumkan juga nama saya (dan mantan dosen senior kami, Bapak Taufik), karena memang kami juga memberikan kontribusi dalam proses penelitian dan penulisannya.

Jurnal Global ini proses reviewnya “sadis”, reviewernya kritis dan detil, sehingga bolak-balik perlu direvisi. Untungnya mahasiswa saya ini pinter banget, masukan dari reviewer dan arahan dari saya dengan cepat dipahami lalu bisa ia tuliskan dengan sangat baik.

Artikel ini istimewa karena, sejauh ini, jarang saya temukan artikel akademik tentang Yaman, yang kritis dan berimbang. Biasanya tulisan-tulisan tentang Yaman hanya menulis ulang narasi mainstream tanpa kekritisan. Must read, deh.

(lebih…)
Iklan

Cerita dari Beirut (3)

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/1768699256824776

Dengan diantar Hendri, mahasiswa S2 Indonesia di Beirut, saya sempat datang ke kamp Pengungsi Palestina Sabra-Shatila. Kamp ini saat ini tidak hanya dihuni oleh pengungsi Palestina, tetapi juga Suriah. Rekamannya silakan lihat di video. Di dalam kamp rupanya ada sekolah (madrasah) informal untuk anak-anak pengungsi ini, yang didirikan oleh Muhammadiyah.

Mengenai kisah Sabra Shatila, saya copas terjemahan saya atas tulisan Dr. Ang Swee Chai.

****

Tiga puluh lima tahun yang lalu, ketika Israel menyerbu Beirut Barat, milisi Kristen Lebanon memasuki kamp pengungsi Palestina Sabra dan Shatila di Beirut Barat. Selama tiga hari, pasukan Israel menyegel kamp dan mengizinkan mereka membantai beberapa ribu pengungsi. Saya saat itu adalah seorang ortopedik muda yang mengundurkan diri dari Rumah Sakit St. Thomas di London untuk bergabung dengan tim medis Christian Aid, membantu mereka yang terluka selama invasi Israel ke Lebanon beberapa bulan sebelumnya.

Beirut dikepung. Air, makanan, listrik dan obat-obatan diblokir. Invasi tersebut menyebabkan ribuan orang tewas dan terluka, dan membuat sekitar 100.000 orang kehilangan tempat tinggal. Saya diperbantukan ke Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina untuk memimpin departemen ortopedi di Rumah Sakit Gaza di kamp Sabra dan Shatila di Beirut Barat.

Saya bertemu para pengungsi Palestina di rumah mereka yang dibom dan mempelajari bagaimana mereka bisa menjadi pengungsi di salah satu dari 12 kamp Palestina di Lebanon itu. Sebelumnya, saya tidak tahu bahwa orang Palestina itu ada. Mereka mengingat bagaimana mereka diusir dari rumah mereka di Palestina pada tahun 1948, seringkali dengan todongan senjata. Mereka melarikan diri dengan harta apa pun yang bisa mereka bawa dan akhirnya menjadi pengungsi di negara-negara tetangga, seperti Lebanon, Yordania, dan Suriah.

(lebih…)

Cerita dari Beirut (2)

Acara penyerahan Palestine Prize dilaksanakan di Beirut tanggal 2 November. Selain para sastrawan yang menang dan meraih penghargaan (berupa piala dan uang), dalam acara ini diundang juga tokoh, akademisi, dan aktivis pro-Palestina. Antara lain, ada Dr. Tim Anderson mantan dosen University of Sidney. Beberapa bulan yll, gara-gara menulis tentang Palestina, Dr. Tim dipecat sebagai dosen. Dia kemudian mengajukan tuntutan ke pengadilan, dan menang (hakim memutuskan bahwa universitas tidak boleh memecatnya, karena ada ‘kebebasan akademik’). Ada juga Leila Khaled, veteran pejuang Palestina dari FPLP; serta beberapa aktivis pro Palestina dari Afrika, dan AS. Hadir juga dalam acara ini, Menteri Kebudayaan Lebanon, Mohammad Mortada.

Para sastrawan yang meraih penghargaan Palestine Prize:

Kategori memoar: Munir Shafiq (Palestina), Abu Ala Mansur (Palestina), Rafat al-Burini (Palestina)

Kategori cerita pendek: Sina Kamil Sha’lan (Palestina, mengungsi ke Yordania), Turiyat al-Huriya, Raeda Ali Ahmad (Lebanon)

(lebih…)

Cerita dari Beirut (1)

Tanggal 31 Oktober yll saya berangkat ke Beirut, Lebanon, sendirian. Saya ke sana untuk menghadiri acara puncak pemberian Penghargaan International Palestina untuk Sastra (Palestine International Prize for Literature) atau disingkat “Palestine Prize” yang berlangsung tanggal 2 November di Beirut.

Karena karya-karya sastra (yang berisi kisah tentang Palestina) berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia, saya sejak awal digagasnya Palestine Prize ini sudah berstatus sebagai anggota dewan juri yang mewakili Asia Tenggara. Lebih lanjut, akan saya ceritakan di postingan no (2).

Yang jelas, rencananya 2 tahun lagi, akan ada lagi pemberian penghargaan ini. Para novelis, penulis puisi, dan buku anak-anak dari Indonesia yang ingin karyanya diikutkan dalam penilaian (dan berkesempatan untuk meraih penghargaan Palestine Prize) bisa kontak saya mulai dari sekarang. Semoga dua tahun lagi, ada karya dari Indonesia yang menang.

Demikian dulu sebagai permulaan. Banyak sekali yang ingin saya ceritakan, tapi dicicil dikit-dikit, masih jetlag 🙂

#CeritaBeirut

Mencermati Narasi Agen AS (Liberalis) di Indonesia

BELAJAR YUK

Karena kasus gagal ginjal akut ini masalah internasional dan saya berharap para follower fp ini (dan keluarganya) selalu sehat wal afiat, saya share info berikut ini.

Di video-video ini ada penjelasan sangat mendalam yang akan membantu kita memahami apa yang sebenarnya terjadi, videonya panjang, tapi sangat penting untuk keselamatan kita, jadi mari luangkan waktu menyimak dengan seksama.

Gagal Ginjal Akut?

Obat Bentuk Cair Ada Cemaran Ethylene glycol /Diethylene glycol? https://www.youtube.com/watch?v=iQpfPt64IEU

Ada tuduhan bahwa mengkritisi isu ini adalah “kadrun” atau “antipemerintah”. Nah, salah besar ya. Justru ini adalah bentuk dukungan dan bantuan pada pemerintah. Pemerintah ambil kebijakan kan berdasarkan hasil penelitian, karena itu yang dipertanyakan justru: mengapa pihak-pihak yang seharusnya meneliti tidak melaksanakan tugas dengan semestinya? Pembahasannya ada di sini: https://www.youtube.com/watch?v=A4KBndBKiIA

Kondisi saat ini sering dipakai oleh pihak-pihak yang “apapun masalahnya, tumbangkan rezim solusinya.” Mereka tidak mau belajar seksama, dan mencari solusinya; yang penting salahkan saja pemerintah (karena tujuan mereka memang bukan solusi, tapi menumbangkan rezim).

Intinya, info-info yang saya share linknya ini khusus untuk yang mau belajar dan mencermati dengan seksama. Yang ga mau belajar, harap ga usah komen-komen sok tau apalagi “tumbangkan rezim”, salah kaprah itu.

Beberapa catatan singkat isi video:

-Gagal Ginjal Akut: Penyebab dan Solusinya

https://pekokers.wordpress.com/…/gagal-ginjal-akut…/

-Beberapa Catatan Soal Penyakit Gagal Ginjal Akut

https://pekokers.wordpress.com/…/beberapa-catatan-soal…/

-Cara Mengatasi Virus Adenovirus

https://pekokers.wordpress.com/…/cara-mengatasi-virus…/

[monggo segera dicopas saja link-linknya, biasanya kalau nekad posting soal ini, saya langsung “dihukum” oleh FB]

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/1385638405301363

Ini bukti-bukti (jejak digital) atas apa yang saya tulis di postingan sebelumnya [HAMAS Kembali Ke Damaskus, Apa Kabar Akhi-Ukhti IM?].

Antara lain:

Menit 5:56: fatwa Syekh Yusuf Al Qaradhawi (alm) tentang wajibnya membunuh semua orang yang bekerja sama dengan dengan pemerintah Suriah, baik itu, sipil, maupun ulama.

[Beberapa hari kemudian, Syekh Buthy, ulama besar Suriah, gugur syahid saat sedang berceramah di masjid, akibat bom bunuh diri]

Menit 6:13 : jawaban Mufti Suriah Syekh Hassoun atas fatwa Al Qaradhawi, dan seruan beliau kepada Khaled Mash’al yang sudah berkhianat pada Suriah.

HAMAS Kembali Ke Damaskus, Apa Kabar Akhi-Ukhti IM?

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/804387584219919

Obrolan saya dengan seorang teman mahasiswa Indonesia di Suriah.

Dia: “Hamas udah balik ke Damaskus.”

Saya: “Hah, apa?! Jangan sampai si Khaled balik lagi! Pengkhianat!”

Dia: “Gak lah.. dia sih pasti udah diblack list.”

***

Ya, ada perkembangan besar terjadi hari Rabu lalu (19/10). Tokoh HAMAS (dan beberapa organisasi perjuangan Palestina lainnya) datang ke Damaskus, disambut langsung oleh Presiden Assad.

“Kami memulihkan hubungan kami dengan Suriah dengan konsensus kepemimpinan kami… Kami telah mengatasi masa lalu,” kata pemimpin senior Hamas, Khalil al-Hayya (di video: pria yang berjalan di samping kiri Assad).

Sementara itu, Presiden Assad menegaskan bahwa persatuan di antara faksi-faksi Palestina adalah dasar kekuatan mereka dalam menghadapi penjajahan Israel dan memulihkan hak-hak mereka. Assad menegaskan, sikap Suriah tidak akan berubah baik sebelum perang, maupun kini pasca perang: Suriah tetap mendukung perjuangan bangsa Palestina.

(lebih…)

Operasi Penggulingan Rezim di Iran (2)

Upaya AS menggulingkan rezim di Iran tidak dilakukan baru-baru ini saja, melainkan sejak awal berdirinya Republik Islam Iran tahun 1979 (melalui referendum, bukan keinginan sepihak dari elit).

Selain NED (sudah dibahas di 2 postingan sebelumnya), ada lembaga-lembaga lain yang berperan penting dalam operasi penggulingan rezim-rezim yang tidak dikehendaki AS. Antara lain, International Crisis Group (ICG) dan Brookings Institution. NED, ICG, dan BI berperan dalam mendorong perubahan rezim di berbagai negara, termasuk Libya, Suriah, dan Iran.

Sekedar info, mantan Sekjen PBB, Kofi Annan, yang pernah ditugasi menjadi mediator perdamaian di Suriah, adalah trustee (penasehat) di ICG, bersama tokoh-tokoh Zionis, seperti George Soros, Zbigniew Brzezinski, dan Shimon Peres. Baik NED, ICG, Brookings, dan lain-lain, didanai oleh Big Oil (Conoco-Philips, Chevron, ExxonMobil), Coca Cola, Bank of America, Microsoft, Standard Chartered, Citigroup, Hilton, McDonald, GoldmanSach, dll.)

(lebih…)

Operasi Penggulingan Rezim di Iran (1)

Silakan simak dulu postingan saya sebelumnya, soal NED, CIA, dan operasi penggulingan rezim di berbagai negara. Di situ disebutkan, agar massa bisa bergerak dalam satu kesatuan, perlu persatuan di level alam bawah sadar. Di antara yang digunakan adalah simbol, nyanyian, pengalaman di masa lalu.

Di tiap negara target, tentu isu yang dipakai berbeda. Untuk Ukraina, dalam aksi penggulingan rezim tahun 2014, isunya adalah kebebasan (bersatu dengan Eropa Barat) dan Russophobia (yel-yel yang dipakai para demonstran adalah anti-Rusia, padahal 30% warga Ukraina sendiri beretnis Rusia).

Untuk Iran, dari dulu sampai sekarang, isu yang sering dipakai adalah hijab. Mereka ciptakan narasi, selembar kerudung yang dipakai perempuan Iran (dan juga di negara manapun, termasuk oleh saya) adalah representasi penindasan agama.

(lebih…)