Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia

Category Archives: Indonesia

Iklan

NU dan Palestina

Pagi ini saya membaca dua artikel menarik di NU Online, terkait Palestina. Ada pengetahuan baru yang saya dapatkan, mengenai bagaimana ulama-ulama kita zaman dahulu, sebelum masa kemerdekaan, sudah sangat paham geopolitik.

Pada tahun 1938, tepatnya dalam Muktamar NU ke-13 (12-15 Juli 1938) di Menes, Pandeglang, Banten, KH Abdul Wahab Chasbullah berpidato, “Pertolongan-pertolongan yang telah diberikan oleh beberapa komite di tanah Indonesia ini berhubung dengan masalah Palestina, tidaklah begitu memuaskan adanya. Kemudian guna dapat mencukupi akan adanya beberapa keperluan yang tak mungkin tentu menjadi syarat yang akan dipakai untuk turut menyatakan merasakan duka cita, sebagai perhatian dari pihak umat Islam di tanah ini. Atas nasib orang malang yang diderita oleh umat Islam di Palestina itu, maka sebaiknyalah NU dijadikan Badan Perantara dan Penolong Kesengsaraan umat Islam di Palestina. Maka pengurus atau anggota NU seharusnyalah atas namanya sendiri-sendiri mengikhtiarkan pengumpulan uang yang pendapatannya itu terus diserahkan kepada NU untuk diurus dan dibereskan sebagaimana mestinya.” [1]

Artinya apa? Bayangkan, tahun 1938, sama sekali tidak ada internet. Informasi berputar sangat lambat. Tetapi hal itu tidak menghalangi munculnya pemahaman geopolitik global yang sangat cerdas serta munculnya solidaritas global yang melintasi jarak ribuan kilometer.

(lebih…)

Iklan

Kesamaan Antara ZSM dengan ISIS/Al Qaida

Sebuah video disebar luas oleh ZSM (dan fans Israel di berbagai negara) untuk menutupi kejahatan Israel di Gaza (tentara Israel membunuhi para demonstran yang menuntut hak kembali ke rumah-rumah mereka yang dirampas Israel).

Dalam video itu terlihat mayat-mayat bergerak. Kata ZSM: “Inilah akting orang-orang Palestina, ngaku-ngaku korban tentara Israel, padahal cuma pura-pura mati.”

Dan.. tak butuh waktu lama, ketahuan itu HOAX.

Video ini aslinya tahun 2013, aksi demo mahasiswa Al Azhar yang protes di dalam kampus. (https://www.youtube.com/watch?v=bJhYaF-xxOo)

Dan video yang sama sudah pernah diviralkan oleh fans Israel tahun 2014 (ketika itu Israel membantai 2200 orang Palestina dan melukai ribuan lainnya), dengan narasi sama: orang Palestina pura-pura mati.

Saya sudah tulis berkali-kali, kesamaan antara fans Israel dan fans ISIS/Al Qaida adalah: sama-sama suka menjustifikasi kejahatan kemanusiaan dengan (1) hoax (2) ayat Kitab Suci dengan tafsiran semau mereka.

Para “jihadis” berangkat ke Suriah berbekal info-info hoax mengenai “saudara-saudara Sunni dibantai Syiah”.

Para ZSM menjustifikasi kejahatan Israel dengan menyebar hoax: yang dibunuh tentara Israel itu TERORIS! Bahkan Ibu Menlu RI yang mengecam kekerasan tentara Israel pun dikatain mendukung teroris oleh seleb ZSM.

Bila pejuang yang berusaha memerdekakan tanah air mereka sebut teroris, bagaimana dengan para pahlawan kita dulu yang berjuang melawan Belanda? Oh, mereka dulu juga dihina sebagai teroris/ekstrimis, termasuk oleh orang-orang Indonesia yang jadi anteknya Belanda.

(lebih…)

Kisah Para Pengungsi: Antara Palestina dan Sampang

Sepekan setelah perayaan Idul Fitri tahun 2012, warga dusun Nangkernang, desa Karang Gayam, Sampang (Madura) yang bermazhab Syiah diserang oleh segerombolan massa fanatik. Rumah-rumah dan hewan ternak mereka dibakar habis. Awalnya mereka mengungsi ke GOR Sampang, lalu pemerintah daerah merelokasi paksa mereka ke rusun di Sidoarjo. Hingga hari ini, mereka masih tinggal di rusun itu.

Menjelang Idul Fitri 2018, tepatnya tanggal 13 Juni lalu, salah seorang pengungsi yang bernama Kurriyah (ada juga yang menulis ‘Qurriyah’) meninggal dunia pada usia 24 tahun. Sanak keluarga membawa jasadnya ke kampung halaman untuk dimakamkan, namun ditolak oleh oknum warga. Tak ada perlindungan dan pembelaan dari pemerintah. Jasad Kurriyah pun dimakamkan di tanah pengungsian.

Kata ‘pengungsi’ akan selalu mengingatkan kita pada Palestina.

Entitas Zionis dengan berbekal ‘surat izin pendirian negara’ yang dirilis DK PBB tahun 1947 melakukan pembersihan etnis Arab dari kawasan yang akan mereka jadikan negara. Taktik mereka (sebagaimana ditulis oleh sejarawan Yahudi, Ilan Pappe) adalah seperti ini: desa-desa dikepung dari tiga arah dan arah keempat dibuka untuk pelarian dan evakuasi.

(lebih…)

Palestina adalah Kita (New Version)

Ini tulisan yang saya janjikan kemarin. Selama ini, saya sudah berkali-kali menulis artikel dengan judul yang sama atau mirip dan isinya pengulangan. Kali ini, ada hal baru yang akan saya ceritakan.

Begini, frasa ‘Palestina adalah Kita” saya ambil dari seorang penulis Yahudi yang lahir dan besar di Israel, Gilad Atzmon. Di masa dewasanya, ia menyadari kejahatan Israel terhadap bangsa Palestina dan memilih pergi keluar, tinggal di Inggris, lalu aktif menulis mengkritik Israel dan membela Palestina. Dia bahkan menyebut diri sebagai orang Palestina. “Saya seorang Palestina yang berbahasa Ibrani,” kata Gilad kepada saya, saat kami berjumpa di Bandung tahun 2017.

Bertemu Gilad, yang sudah saya kenal via medsos beberapa tahun sebelumnya, cukup mendebarkan. Saya membaca bukunya, The Wandering Who, dan bisa merasakan pergulatan batin dan pikirannya terkait ras/leluhur/agama-nya sendiri. Ini perjumpaan kedua saya dengan orang Yahudi; yang pertama kali, bertahun yang lalu, di Tokyo.

Saya mengajak teman baik saya, Syarif, seorang penstudi HI. Kami berbincang akrab di lobby Hotel Papandayan, karena Gilad akan manggung di hotel itu malam harinya. Sikapnya hangat dan menyenangkan.

(lebih…)

Falasi ZSM (Lagi)

ZSM (istilah untuk orang Indonesia pembela Israel) punya satu hobi khusus: playing victim, memposisikan kaum Yahudi sebagai korban. Kecaman terhadap Israel dia samakan dengan ‘kebencian kepada Yahudi’. Seorang tokoh ZSM keliling ke seluruh Indonesia bikin acara nobar film bertema toleransi pada Yahudi. Toleransi antarumat beragama itu bagus, sangat bagus. Jangan lupa bahwa Rasulullah Muhammad bahkan sudah mengajarkannya ribuan tahun yang lalu: beliau menyuapi seorang Yahudi buta yang setiap hari mencaci-makinya.

Tapi, bila toleransi dipromosikan oleh seorang PEMBELA Israel, alarm kritis kita harus disetel. Karena, inilah falasi (kesalahan logika) yang sedang ditularkan oleh para ZSM: toleran pada Yahudi = toleran pada Israel.

Adakah manusia berhati nurani yang menolerir penjajahan dan penindasan?

Coba saja ditanyakan pada ZSM ini: mengapa Israel merampas tanah-rumah warga Palestina, bahkan sampai hari ini, perampasan terus berlanjut?

Jawabnya: *?*8&#$ [saking ruwet jawabannya, melantur ke sana-sini, bawa Alkitab, bahkan bawa Nabi Musa]

Ada ZSM yang mempertanyakan, mengapa Israel selalu disalahkan dalam berbagai konflik di Timteng?

Mungkin dia perlu membaca jurnal-jurnal ilmiah, yang ditulis oleh orang AS sendiri, atau dokumen CIA yang sudah declassified, bahwa segala perang yang dilakukan AS di Timteng adalah DEMI MENJAGA KEPENTINGAN ISRAEL.

(lebih…)

Selalu Ada Israel di Balik Bebagai Kekacauan

Akhir-akhir ini beruntun muncul peristiwa yang (menurut saya) berjalin-berkelindan:

1. Aksi demo bela Palestina, tapi anehnya, digagas oleh kelompok-kelompok yang selama 7 tahun terakhir justru berperan aktif dalam membawa narasi perang Suriah ke Indonesia. (Suriah adalah penyuplai logistik untuk pejuang Palestina dan pelayan bagi jutaan pengungsi Palestina).

Kelompok-kelompok ini bicara atas nama Islam, tapi aktivitasnya terkait Suriah malah sejalan dengan kepentingan Israel. Imbasnya pun dirasakan oleh bangsa Indonesia: radikalisme/esktrimisme semakin marak sejak konflik Suriah dibawa-bawa ke Indonesia oleh mereka demi menggalang dana dan merekrut petempur. [1]

2. Aksi terorisme beruntun di berbagai kota di Indonesia. Siapa pelakunya? Tak lain teroris yang berjejaring dengan kelompok-kelompok teror di Suriah.

(lebih…)

Perdebatan dalam RUU Terorisme

Saya mencoba menelaah, apa sih yang diperdebatkan dalam pembahasan RUU Antiterorisme yang berlarut-larut ini. Berikut ini beberapa ‘penemuan’ saya, plus sedikit komentar dari saya.

1. Definisi

Yang ada dalam draft: “Terorisme adalah segala perbuatan yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan atau dengan maksud menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas menimbulkan korban yang bersifat massal dan atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik atau fasilitas internasional.”

Menurut beberapa fraksi kontra: definisi yang diajukan oleh pemerintah itu tidak memuat rumusan tentang motif atau tujuan terorisme, sehingga sulit untuk membedakan antara terorisme sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime) dari kejahatan biasa.

Oleh karena itu, mereka mengusulkan rumusan tambahan “… dengan tujuan politik dan ideologi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap keamanan negara.”

Menurut mereka: rumusan tambahan tersebut diperlukan dalam rangka meminimalisasi potensi kesewenangan penegak hukum.

Di lain pihak, pemerintah dan beberapa fraksi memandang tak perlu ada unsur motif politik dan ideologi dalam definisi terorisme, karena akan mempersempit ruang gerak Polri dalam mencegah dan menangani terorisme. Selain itu, akan menyulitkan pembuktian di muka hukum. Kalau si pelaku teroris mengaku tidak memiliki motif ideologi dan politik, ia bisa saja lepas dari hukuman. Apalagi, dalam Pasal 6 dan 7 RUU Terorisme, telah disebutkan dengan jelas unsur-unsur yang melingkupi tindakan pidana terorisme.

(lebih…)

AKSI BELA PALESTINA, ATAU BELA TERORIS?

Saya sudah menulis ratusan, mungkin ribuan, artikel soal Suriah (saya menulis pertama kali tentang konflik Suriah Desember 2011, sekarang Mei 2018). Dan sering saya sampaikan: ada Israel di balik agenda penggulingan Assad.

Ini bukan teori konspirasi karena saya mengajukan bukti. Teori konspirasi itu kalau didasarkan khayalan, mencocok-cocokkan.

Antara lain buktinya adalah dokumen-dokumen CIA yang declassified (sudah boleh diakses publik) yang isinya rencana AS sejak tahun 1980-an untuk menggulingkan pemerintah Suriah demi Israel. Ada pula email Hillary Clinton yang dirilis Wikileaks (Maret 2016). Tertulis di dalam email itu, “Hubungan strategis antara Iran dan rezim Bashar Assad membahayakan keamanan Israel… “ [1]

Bukti lainnya adalah perilaku Israel selama konflik Suriah. Bila benar Israel adalah negara demokratis dan antiteroris (demikian kata fans Israel, terutama ZSM Indonesia), mengapa mereka tidak membombardir Golan saja, dimana banyak teroris ISIS dan Al Nusra, bercokol? Mengapa yang dilakukan Israel justru membombardir tentara Suriah yang hampir mengalahkan teroris, lalu merawat para teroris yang terluka di rumah sakit Israel, bahkan dibesuk oleh Netanyahu? [2]

(lebih…)

Terorisme dan Sakitnya Masyarakat

Terus-terang, saya prihatin sekali membaca komen-komen netizen atas kejadian teror di Mako Brimob. Sebagian orang mengatakan semua ini drama dan mengolok-olok tak berperasaan. Yang seperti ini bukan netizen awam saja, tapi juga tokoh terkenal. Mereka menyusun teori-teori konspirasi hanya berdasarkan khayalan (tanpa data).

Tanpa simpati, bahwa korbannya ada, sesama warga Indonesia. Ada polisi yang sudah gugur, akibat digorok, dibacok, dan ditembak. Jasadnya bisa dilacak ke keluarga mereka, ke acara pemakaman mereka, televisi melaporkan secara live. Ada polisi yang masih hidup dalam keadaan babak belur.

Mereka yang intens mengamati konflik Suriah, tidak merasa “aneh” melihat perilaku biadab itu, memang begitulah perilaku para teroris (tapi mengaku “mujahidin”) di sana.

Sebagian yang lain, justru menyatakan dukungan kepada aksi teror itu. Beberapa akun menyebut para teroris sebagai “ikhwan” dan polisi sebagai “setan”. Tanpa ada rasa kasihan pada polisi yang mereka siksa dan bantai; padahal para polisi itu, sesama warga Indonesia (dan mayoritasnya pun Muslim).

(lebih…)

Indonesia Tidak Diajak dalam Koalisi Militer Saudi?

Dalam postingan saya soal Yaman (mengecam Saudi, tentu saja), ada yang komen membela Saudi dan menyebut “koalisi militer Saudi, Indonesia tidak diajak”.

Kebetulan, beberapa hari sebelumnya, saya dikirimi broadcast di grup-grup WA isinya tentang “aliansi militer Islam Sunni” yang dibentuk Arab Saudi. Kalimatnya pembukanya begini: Innalillahi… kita ditinggalkan oleh saudara-saudara Negara Muslim Dunia.” Menurut broadcast itu: Indonesia (dan Iran) tidak diajak oleh Saudi dalam aliansi militer tersebut karena Indonesia lebih dekat dengan komunis (China) dan Syiah (Iran).

Duh, padahal ini cerita lama dan sudah ada klarifikasinya. Entah mengapa digoreng ulang via grup-grup WA. Sebagai tanggapan, saya copas beberapa berita di koran.

Di Republika tanggal 15/12/2015 ditulis:
[Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir mengatakan, bergabung dengan koalisi militer internasional tidak sejalan dengan Undang-Undang. “Ini sejak awal tidak sejalan dengan Undang-Undang,” kata Juru bicara yang akrab disapa Tata ini.

(lebih…)