Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia

Category Archives: Indonesia

Kemarin ada komentator yang request pembahasan soal diplomat Jerman yang datang ke kantor FPI. Di tulisan ini saya bahas. Btw, jangan ‘kuatir’ baca nama situsnya ya.. Ini bukan situs HTI (khilafah) tapi situs yang justru mengkonter narasi-narasi mereka. https://sangkhalifah.co/adakah-tangan-asing-di-balik…/

Kemarin ada komentator yang request pembahasan soal diplomat Jerman yang datang ke kantor FPI. Di tulisan ini saya bahas.

Btw, jangan ‘kuatir’ baca nama situsnya ya.. Ini bukan situs HTI (khilafah) tapi situs yang justru mengkonter narasi-narasi mereka.

https://sangkhalifah.co/adakah-tangan-asing-di-balik…/

“Anda Tidak Perlu Jadi Yahudi untuk Menjadi Zionis”

Alhamdulillah, meskipun media Israel (dan digemakan oleh media lokal) berusaha menggiring opini publik Indonesia, “pemerintah Indonesia akan menormalisasi hubungan dengan Israel”, Kemenlu sudah menyatakan tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel dan akan tetap konsisten membela Palestina.

Indonesia adalah negara demokratis dan suara masyarakat sangat berperan dalam pengambilan keputusan. Indonesia berbeda dengan UAE, Bahrain, Maroko; mereka adalah negara monarki. Apa kata pemimpinnya, itulah yang dilakukan. Rakyat ga bisa protes. Sementara, sudah bukan rahasia bahwa sejak Arab Spring, raja-raja Arab ketakutan akan digulingkan oleh rakyatnya. Mereka butuh perlindungan agar tetap di singgasananya dan yang menawarkan perlindungan adalah AS.

Sebaliknya, pemerintah Indonesia didukung rakyatnya dan tidak butuh perlindungan kekuatan asing.

(lebih…)

Berita yang terlewat…

Ada berita yang terlewat: “Indonesia membuka layanan calling visa untuk Israel”

Saya copas sebagian isinya;

Saat seluruh perbatasan Indonesia masih ditutup untuk kunjungan orang asing karena pandemik COVID-19, pemerintah mendadak membuka layanan “calling visa”. Layanan ini dibuka untuk delapan negara, termasuk Israel, Ketujuh negara lain adalah Afghanistan, Guinea, Korea Utara, Kamerun, Liberia, Nigeria dan Somalia.

Dalam keterangan tertulisnya, Kabag Humas dan Umum Dirjen Imigrasi, mengatakan: alasan dibukanya kembali pelayanan calling visa ialah karena banyaknya tenaga ahli dan investor yang berasal dari negara-negara calling visa.

Menilik situasi, waktu, serta alasan dibukanya layanan calling visa ini menarik. Sampai saat ini, praktis Indonesia masih menutup perbatasannya dari kunjungan warga negara asing, sesuai dengan Permenhukham No. 1/2020, yang kemudian diganti dengan Permenhukman No. 26/2020 tentang Visa dan Izin Tinggal Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru.

Jadi, kalau payung besar penutupan perbatasan negara untuk perlindungan dari COVID-19 masih diberlakukan, mengapa justru Ditjen Imigrasi secara khusus membuka layanan calling visa untuk delapan negara itu? Alasan tenaga ahli, investor, kawin campur menurut saya kurang cocok dikenakan ke delapan negara, mengingat kondisi ekonomi dan politik yang sama atau di bawah Indonesia. Kecuali Israel.

Mungkinkah, ketujuh negara itu hanyalah “pelengkap” bagi Israel?

Baca selengkapnya tulisan jurnalis senior, Uni Lubis, membahas masalah ini: https://www.idntimes.com/opinion/politic/amp/uni-lubis/mendadak-pemerintah-indonesia-buka-visa-calling-untuk-israel

——————–

Komentar saya: pihak-pihak yang menghendaki dibukanya hubungan diplomatik Indonesia-Israel memang kelihatannya semakin kuat. Kalau masih ada yang berani bersuara dukung Palestina biasanya langsung dicap “radikal” dan disamakan dengan kelompok onoh yang memang -sayangnya- terbukti radikal.

Padahal pembela Palestina itu sangat luas faksinya.. bahkan orang-orang non-Muslim pun sangat gigih menjadi pembela Palestina (misalnya, para aktivis BDS di negara-negara Barat atau aktivis di Amerika Latin).

Pembelaan pada Palestina dan penolakan atas penjajahan Israel, mengecam kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Israel adalah AMANAH UUD 1945 kita: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Semoga pemerintah Indonesia bisa tetap menjaga amanah ini, dan tidak tertipu oleh jargon-jargon kosong seperti “kalau mau mendamaikan dua pihak ya harus berteman dengan kedua pihak dong!” atau “Israel itu negara sangat kaya dan sangat canggih, kita bisa untung besar kalau buka hubungan diplomatik dengan Israel!”

Sekedar mengingatkan: tanggal 29 November adalah hari yang ditetapkan PBB sebagai “Hari Solidaritas Internasional Bersama Bangsa Palestina”

Diskusi Dina Y. Sulaeman dengan Gus Najih, Habib Nuruzzaman, dan Eko Kuntadhi

https://www.youtube.com/watch?v=GJw3opEYdv0

Diskusi Dina Y. Sulaeman dan Rudi S. Kamri

https://www.youtube.com/watch?v=34Dry5IYSwI

Perang di Suriah adalah perang antara pemerintah Suriah (yang dipilih melalui pemilu) melawan milisi-milisi bersenjata yang mengklaim diri “berjihad”. Milisi-milisi itu terdiri dari ratusan kelompok dan nama, dan sebagiannya sudah ditetapkan PBB sebagai teroris. Misalnya, ISIS dan Jabhah Al Nusra sudah ditetapkan sebagai teroris. Ada faksi lainnya, bernama Free Syrian Army (FSA), tidak dimasukkan dalam list teroris, tetapi aksi-aksi mereka di lapangan tidak ada bedanya dengan ISIS dan Al Nusra.

Bila kita melihat perjalanan konflik Suriah sejak awal, kita akan mendapati bahwa sebagian “ulama” berperan sangat besar dalam memobilisasi massa agar mau angkat senjata melawan pemerintah. Bila kita memperhatikan kalimat-kalimat ceramah mereka, sangat dipenuhi dengan ujaran kebencian (hate speech) terhadap pemerintah Suriah.

Apa pelajaran untuk Indonesia? Silakan simak selengkapnya di sangkhalifah.co

https://sangkhalifah.co/peran-ulama-dalam-perang-suriah…/

Studi Hubungan Internasional itu mempelajari hampir semua hal: hubungan luar negeri, diplomasi, ekonomi, politik, keamanan, terorisme, radikalisme, budaya, lingkungan, identitas (termasuk agama), kesehatan, dan banyak lagi… bahkan bisa masuk ke isu pertanian.

Saat proses penelitian untuk disertasi, saya sampai nginap bareng-bareng ibu-ibu petani aktivis, nanya-nanya (wawancara ke mereka), pernah juga jauh-jauh naik ke pegunungan Kendeng ketemu dengan petani-petani di sana. Apa hubungan “pertanian” dengan “internasional”? Ya banyak. Terkadang bahkan nasib petani Indonesia itu ditentukan oleh pialang saham di New York atau sidang WTO di kota-kota elit dunia.

(lebih…)

Cerdas Memahami Pandemi

Teman-teman mungkin ingat, di fanpage ini saya pernah nulis tentang Presiden Tanzania, John Magufuli, yang mempertanyakan, mengapa tes swab ketika dilakukan pada pepaya dan kambing hasilnya tetap bisa positif kopit. (Perlu dicatat, Magufuli itu S1, S2, S3-nya di bidang kimia ya, jadi bukan orang awam di bidang sains.)

Nah, dulu, saya tidak tahu jawabannya mengapa. Sekarang, saya sudah tahu dan saya pikir, perlu saya share di sini. Sumber pengetahuan saya adalah drh Moh. Indro Cahyono (saya subscribe Youtube-nya). Jadi kalau mau nanya-nanya langsung ke beliau saja (di YT atau FB). Yang saya tulis di sini adalah meringkas apa yang beliau sampaikan selama ini.

Saya merasa perlu menuliskannya karena sepertinya pandemi ini baru akan hilang kalau kita semua teredukasi dengan baik. Bukan cuma edukasi soal protokol kesehatan, tapi juga edukasi soal PCR (alat tes), sehingga kita tahu cara kerjanya dan bisa mengambil langkah yang tepat.

**

(lebih…)

Yang berminat, silakan gabung, daftar ke bit.ly/KajianTematikTimteng

Penyelenggaranya Hima HI Unpad

Jumat 13 Nov, mulai 13.45 WIB, di Zoom.