Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia

Category Archives: Indonesia

Echo-Chamber

Pada pilpres 2014, dan di masa pilkada DKI (yang seolah sequelnya pilpres) di timeline saya beredar status mulai dari die-hard-nya kedua kubu, status dari kubu kritis, agak kritis, dan golput.

Saya sering menemukan status yang ditulis pendukung Paslon 2, dibantah oleh pendukung paslon 1+3, atau sebaliknya. Atau kritikan dari kubu non partisan (golput) untuk kedua kubu.

Contohnya nih ya, pendukung Paslon 2 kan demen banget nyindir Paslon 3, “Gue pingin beli rumah di Jakarta tanpa DP, ah!” Tentu, ada juga yang menulis dengan analisis dan argumen yang baik. Nah, saya menemukan status temen (non-partisan) yang ngasih tau bahwa ternyata beli rumah tanpa DP itu mungkin saja, dan bahkan ada yang jual di Pluit City. Terlepas dari adanya beberapa bantahan balik, tapi ide ini tidak mustahil (kalau pemerintah mau dan ada duitnya, ya bisa saja). Saya juga menemukan status temen lainnya, ternyata ide rumah apung itu tidak mustahil dan bahkan sudah dibangun di Inggris. Atau sebaliknya, ada penulis dan ulama terkenal pendukung Paslon 1+3 yang dengan amat pede menebar hoax lalu dibongkar oleh kubu Paslon 2.

Untuk isu Timteng, saya juga menemukan friend-friend FB yang menye-menye soal Suriah (menangisi pembebasan Aleppo, dan teriak-teriak Save Aleppo, misalnya). Padahal saya sudah 5 tahun nulis di Facebook memberikan pengimbangan info soal Suriah. Padahal hoax yang mereka share sudah ada bantahannya di wall saya (yang sudah di-share ratusan hingga ribuan orang lainnya).

Pertanyaannya: apakah kedua kubu membaca bantahan dari lawannya masing-masing; atau bantahan dari kubu non-partisan (golput)?

(lebih…)

Apakah Indonesia Akan Di-Suriah-kan?

sampang[Copas dari status FB saya]

Pagi-pagi buka FB, menemukan ada friend yang menyatakan bahwa isu Indonesia akan di-Suriah-kan adalah sesuatu yang konyol. Buktinya, sampai sekarang Indonesia baik-baik saja. Sebagai salah satu di antara sedikit orang yang “berdarah-darah” gara-gara nulis soal Suriah sejak 2011, saya merasa perlu menjawab. Sudah saya jawab di status yang bersangkutan. Tapi sepertinya penting juga diketahui umum, jadi saya copas di sini (dengan sejumlah editan).

  1. Pihak yang “berjihad” menggulingkan rezim di Suriah adalah Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dan ormas-ormas yang didanai Saudi-berafiliasi dg Al Qaida, ISIS, dll. IM (dan HT) pada 1982 pernah berusaha menggulingkan rezim dengan dibantu oleh AS, Jordan, dan Israel, tapi gagal. Yang penting dilihat: ketiga faksi ini ada cabangnya di Indonesia, dan sangat aktif menguasai wacana. Mereka sangat aktif menyebarkan kebencian terhadap kaum Syiah di Indonesia (mengaitkannya dengan Suriah) sejak 2011. Pada 2012, peristiwa Sampang terjadi, pemerintah tak mampu melakukan rekonsiliasi sampai sekarang.

Dari info A1 yang saya dapatkan, Arab Saudi sejak 2012 juga menggelontorkan dana besar-besaran (bahkan di puncak “panas”-nya isu ini di Indonesia, langsung diantar oleh Bandar bin Sultan, ketua intel Saudi) kepada ormas-ormas itu dengan tujuan “memerangi” Syiah. Sebagai bukti, lihat betapa masifnya spanduk anti-Syiah dipasang di seluruh Indonesia, satu spanduk 200rb, di satu kota saja bisa habis 2M. Ini di seluruh Indonesia. Buku anti-Syiah dicetak jutaan copy, dibagikan gratis. Tentu naif sekali bila mengira Syiah adalah target akhir (krn Syiah di Indonesia sangat sedikit, tidak signifikan). Target besarnya tentu sesuatu yang lain.

(lebih…)

Dari Jabar ke Palestina, Suriah, Balik ke Indonesia

kekeringan-sukabumi-620x330

warga menderita kekeringan (beritadaerah.co.id)

Barusan saya menonton film dokumenter, ada sebuah desa di Jawa Barat yang kaya sumber air bersih, kini kesulitan air. Ada ratusan perusahaan menyedot air di kabupaten dimana desa tsb berada. Perusahaan terbanyak yang menyedot air di sana adalah perusahaan air mineral terkenal. Produknya dijual ke berbagai penjuru Indonesia dan per tahun meraih keuntungan triliunan rupiah. Sementara, warga sekitar harus mandi dan mencuci di air yang keruh.[1]

Dan kalau dicek, siapa pemilik saham perusahaan air minum tersebut, ternyata sebuah perusahaan milik asing, yang masuk daftar boikot Zionis.[2]

Jadi begini, di dunia ini ada gerakan boikot produk-produk perusahaan yang berinvestasi di Israel atau terbukti mengirimkan dana untuk Israel. Kok bisa tahu? Karena di Barat transparansi informasi cukup bagus, jadi bisa dilacak. Jadi, ini bukan gerakan asal boikot atau asal-benci-Yahudi. Yang diboikot adalah perusahaan yang memberi keuntungan kepada Israel.

(lebih…)

Israel, Simpatisan ‘Mujahidin’, dan Suriah

mccain5

Senator AS John McCain di markas “mujahidin” (lihat gambar bendera di atas)

Pagi ini saya membaca sebuah artikel menarik dari Yurgen Alifia, kandidat master di Oxford University [1]. Tulisan itu sebenarnya tentang Anies Baswedan, tapi yang ingin saya bahas di sini adalah bagian tulisan itu yang mengutip wawancara Yurgen dengan Prof Mearsheimer. Mearsheimer dan rekannya, Stephen Walt [keduanya adalah pakar Hubungan Internasional] pernah menulis paper jurnal berjudul “The Israel Lobby and US Foreign Policy”. Dalam paper itu (yang kemudian dijadikan buku), keduanya menyimpulkan bahwa kebijakan luar negeri AS telah menjauh dari kepentingan bangsa AS sendiri karena terlalu menuruti keinginan Israel.

Wawancara Yurgen dengan Mearsheimer benar-benar “wow” buat saya. Ini saya copas ya:

(lebih…)

Medsos Adalah Fana, Kebencian Abadi?

isis1Kalimat yang saya pakai jadi judul itu saya ambil dari status seseorang yang nge-tag saya. Saya baca dini hari ketika suasana sepi, sehingga membuat saya mikir lama. Saya teringat cerita yang disampaikan seorang dosen Sejarah Peradaban Islam. Dulu, orang menerima kabar dari mulut ke mulut. Dulu banyak orang-orang Syam (Suriah saat ini) yang membenci Sayyidina Ali bin Abi Thalib karena mengiranya sebagai sosok yang meninggalkan sholat. Sampai suatu hari, Ali ditikam/dibunuh orang (yang agamanya Islam juga) di saat beliau sedang sholat Subuh. Kabar itu akhirnya sampai ke Syam dan orang-orang pun kaget, lho ternyata Ali itu sholat, tho?

Dulu, sebelum Revolusi Islam Iran 1979, buku-buku yang ditulis tentang “kesesatan Syiah” sangat sedikit dan dulu tidak ada perseteruan politik antara Sunni-Syiah. Yang ada, oposisi versus penguasa. Makanya ada istilah “rafidhah” (penolak) yang disematkan kepada kelompok oposisi. Pokoknya, kalau melawan penguasa, pastilah kamu Rafidhah, apapun mazhabnya. Dan rupanya, karena sebagian kaum Syiah di zaman dulu menjadi oposisi penguasa, akhirnya Rafidhah diidentikkan dengan Syiah dan kebencian disebarluaskan kepada Syiah. So, akarnya politik, ketakutan pada oposisi, keinginan untuk mempertahankan kekuasaan. Penguasanya boleh mati, tapi kebencian terus menurun kepada generasi berikutnya.

(lebih…)

Aliran Dana Sumbangan Bangsa Indonesia Ke Suriah

ihr-1Pada Februari 2015, setelah saya menulis surat terbuka untuk Ust Arifin Ilham (menjelaskan tentang peta konflik Timteng dan efeknya bagi Indonesia), tim film dokumenter Metro Realitas mengontak saya, mau wawancara. Intinya saya diminta menjelaskan ulang apa yang saya sampaikan di surat itu. Dalam film dokumenter itu, banyak tokoh yang diwawancarai, termasuk pihak ust Arifin Ilham, Buya Syafii Maarif, Dr. Jalaluddin Rakhmat, pihak kepolisian, dll. Bisa dipastikan, saya paling bakal muncul sekilas [da aku mah apa atuh]. Eh, rencana penayangan film itu bocor di medsos, dan hebohlah itu ibuk-ibuk dan bapak-bapak “tetangga” mengirim broadcast kemana-mana. Isinya: ayo kirim SMS ke redaktur Metro, halangi penayangan acara tsb karena ada Dina Sulaeman! Eciee.. takut amat kelyan sama daku 😀

Singkat cerita, film itu gagal tayang pada menit-menit terakhir. [Kebayang dong, ibuk-bapak saya di kampung jadi kecewa padahal udah nunggu-nunggu. Sejak itu kalau saya diwawancara tipi saya diem-diem aja, detik-detik terakhir menjelang tayang baru saya info ke keluarga dan temen2 *curcol*]

Kembali ke topik. Nah… Metro Realitas kemudian bikin lagi film dokumenter lain, tentang ISIS. Kebetulan di film pertama yang gagal tayang itu, ada bagian yang pas untuk dikutip. Walhasil akhirnya saya muncul juga tuh meski sauplit. Silahkan disimak, karena topiknya adalah isu yang sedang heboh saat ini [soal aliran dana ke Suriah].

Nah, akhir-akhir ada lembaga anu sedang heboh disorot karena bantuannya jatuh ke tangan pemberontak.

(lebih…)

Surat Terbuka Tentang Suriah, Untuk Kang Emil

Assalamualaikum,

Kang Emil, kumaha damang?
Perkenalkan saya Dina, bukan orang Sunda. Tapi, karena saya menikah dengan urang Sunda, dan seluruh proses studi saya dari S1 hingga S3-Hubungan Internasional saya jalani di Bandung (Unpad), ikatan emosional saya dengan Sunda sangatlah kuat. Di banyak kota di Indonesia yang saya kunjungi, banyak yang mengira bahwa saya adalah orang Sunda karena saya sudah terhegemoni oleh logat Sunda.

Saya terdorong menulis surat ini setelah melihat 2 postingan di Fanpage Kang Emil tentang Suriah. Postingan pertama, share foto bertajuk Save Aleppo.

rk1g

Masih di hari yang sama, selang beberapa jam kemudian, kang Emil memposting status tanpa foto.

rk1f

Selengkapnya kalimat Kang Emil:

rk1c

Saya mencermati perbandingan jumlah share  dan komentar di kedua status itu. Buat saya, ini menjadi bukti bahwa isu Suriah adalah isu monolog. Gerakan “Save Aleppo” dianggap sebagai fakta yang tak perlu dipertanyakan lagi. Status “Save Aleppo” di-share 25ribu lebih tapi hanya ada 3100 komentar. Sementara status yang mengajak untuk fokus saja pada isu kemanusiaan, hanya di-share 5300  kali tapi dikomentari 3700 kali.[data 19/12, 20.00]

Saya menemukan banyak komentar menyalah-nyalahkan nada “netral” Kang Emil. Antara lain:

(lebih…)

Penindasan Rohingya, Hoax atau Bukan?

pengungsi-rohingya-di-aceh

pengungsi Rohingya di Aceh (viva.co.id)

Sejujurnya, saya tidak ahli soal Myanmar. Membaca sejarahnya yang panjang dan rumit, dengan nama-nama yang terasa asing buat saya, membuat saya pusing. Karena itu dua hari ini di facebook saya cuma sharing tulisan orang (yang menurut saya tulisannya bisa dipercaya) soal sejarah Myanmar. Kenapa harus tau sejarahnya? Karena menganalisis konflik tidak bisa ujug-ujug pada momen tertentu saja.

Lalu bagaimana dengan isu akhir-akhir ini yang heboh disebar di medsos (orang-orang Rohingya dibakar hidup2, dll)? Saya juga tidak tahu. Yang jelas, terbukti beberapa foto yang disebarkan adalah hoax. Tentu perlu dikirim peneliti ke sana (misalnya, dari Human Right Watch dan sejenisnya) dan kita tunggu hasilnya.

Lalu, kemarin Dubes Indonesia untuk Myanmar menyatakan bahwa isu soal Rohingya “tidak sepenuhnya benar”. Ini saya copas sebagian beritanya.

(lebih…)

Tax Amnesty, Penggusuran, dan Berpikir Filosofis

properti

foto:tribunnews

Tulisan ini akan panjang. Saya tidak berminat menyingkatnya “demi kenyamanan pembaca”. Terserah saja, orang mau baca atau tidak tulisan ini.

Begini, sejak kuliah S1 hingga S3, selalu ada mata kuliah filsafat ilmu, yang seringkali disampaikan dengan cara ‘wow’, sehingga saya tidak paham, terus-terang saja. Saya baru paham setelah diskusi sana-sini dengan orang lain, bukan dengan dosen. Itupun baru pahamnya setelah kuliah S3, dan itupun sepertinya masih untuk diri sendiri; saya belum mampu mengajarkannya lagi ke orang lain.

Tapi ada satu hal krusial yang saya dapatkan dari perjalanan panjang saya kuliah lagi hingga S3: berpikir filosofis itu penting. Problem bangsa ini, menurut saya, akibat dari ketidakmampuan berpikir filosofis itu. Berpikir filosofis, singkatnya, berpikir hingga ke akar: apa, mengapa, bagaimana. Seseorang yang terbiasa berpikir filosofis akan selalu mencoba menggali hingga ke akar, ini apa sebenarnya? Apa akibatnya di masa kini dan di masa depan?

Misalnya soal tax amnesty. Terus-terang saya bukan ahli perpajakan dan keuangan. Tidak semua orang ahli dalam semua hal kan? Ada memang seleb-seleb medsos yang kelihatan sangat pintar dan mampu bicara sangat banyak hal. Sekali lagi, SANGAT BANYAK hal. Wuih. Tapi ada bagian-bagian tulisan mereka yang membuat sebagian orang tertawa sendiri, karena tahu bahwa yang ditulis si seleb itu sama sekali tidak benar. (lebih…)

Antara Hillary, Ahok, dan Lawan-Lawannya

hillary-trumpPemilu AS sudah menjelang. Sebagai negara yang paling berpengaruh bagi Indonesia sejak tahun 1960-an, apa yang terjadi di AS sebenarnya “penting” bagi bangsa ini. Namun, di sisi mana “penting”-nya, masih banyak yang tak terlalu paham. Banyak yang memandang AS dengan penuh pesona, karena mata yang dipakainya adalah ‘mata ekonomi’, bukan mata ‘ekonomi-politik’.

Dengan ‘mata ekonomi’, banyak orang Indonesia menggantungkan impiannya ke AS: jalan-jalan, beasiswa, berkarir, dll. Tidak salah, wajar saja. Tapi dengan ‘mata ekonomi-politik’, seharusnya kita kesal karena AS sejak 1960-an telah mengeksploitasi negeri ini, antara lain lewat Bank Dunia dan IMF (saham terbesar dimiliki AS dan markasnya juga di AS). Bahkan UU Migas  No. 22 Tahun 2001 yang membuka peluang sebesar-besarnya kepada perusahaan asing untuk mengeksplorasi migas dan membuat negara kehilangan kontrolnya dalam tata kelola migas, ternyata penyusunannya didanai oleh USAID sebesar $21,1 juta*. Ada banyak lagi tangan-tangan AS yang berada di balik berbagai fenomena ekonomi-politik di negeri ini, tapi hanya dibicarakan dari mulut ke mulut. Datanya susah didapat. Misalnya saja, reformasi 1998, kalau baca tulisannya Chomsky, ada peran AS, yang sudah tidak menghendaki lagi Suharto. Tapi buktinya apa? Saya cuma dengar kisah lisan, bahwa pada malam-malam demo itu, uang berkarung-karung didistribusikan ke kampus-kampus, untuk logistik para mahasiswa, tanpa kwitansi.

Adalah lebih mudah untuk menganalisis ekonomi-politik di dalam AS sendiri. Transparansi data di sana membuat saya bisa menyusun sebuah buku Obama Revealed (unduh gratis di sini) yang isinya menceritakan keterkaitan hampir semua menteri Obama dengan korporasi pro-Zionis.

(lebih…)