Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia

Category Archives: Indonesia

Israel, Simpatisan ‘Mujahidin’, dan Suriah

mccain5

Senator AS John McCain di markas “mujahidin” (lihat gambar bendera di atas)

Pagi ini saya membaca sebuah artikel menarik dari Yurgen Alifia, kandidat master di Oxford University [1]. Tulisan itu sebenarnya tentang Anies Baswedan, tapi yang ingin saya bahas di sini adalah bagian tulisan itu yang mengutip wawancara Yurgen dengan Prof Mearsheimer. Mearsheimer dan rekannya, Stephen Walt [keduanya adalah pakar Hubungan Internasional] pernah menulis paper jurnal berjudul “The Israel Lobby and US Foreign Policy”. Dalam paper itu (yang kemudian dijadikan buku), keduanya menyimpulkan bahwa kebijakan luar negeri AS telah menjauh dari kepentingan bangsa AS sendiri karena terlalu menuruti keinginan Israel.

Wawancara Yurgen dengan Mearsheimer benar-benar “wow” buat saya. Ini saya copas ya:

(lebih…)

Medsos Adalah Fana, Kebencian Abadi?

isis1Kalimat yang saya pakai jadi judul itu saya ambil dari status seseorang yang nge-tag saya. Saya baca dini hari ketika suasana sepi, sehingga membuat saya mikir lama. Saya teringat cerita yang disampaikan seorang dosen Sejarah Peradaban Islam. Dulu, orang menerima kabar dari mulut ke mulut. Dulu banyak orang-orang Syam (Suriah saat ini) yang membenci Sayyidina Ali bin Abi Thalib karena mengiranya sebagai sosok yang meninggalkan sholat. Sampai suatu hari, Ali ditikam/dibunuh orang (yang agamanya Islam juga) di saat beliau sedang sholat Subuh. Kabar itu akhirnya sampai ke Syam dan orang-orang pun kaget, lho ternyata Ali itu sholat, tho?

Dulu, sebelum Revolusi Islam Iran 1979, buku-buku yang ditulis tentang “kesesatan Syiah” sangat sedikit dan dulu tidak ada perseteruan politik antara Sunni-Syiah. Yang ada, oposisi versus penguasa. Makanya ada istilah “rafidhah” (penolak) yang disematkan kepada kelompok oposisi. Pokoknya, kalau melawan penguasa, pastilah kamu Rafidhah, apapun mazhabnya. Dan rupanya, karena sebagian kaum Syiah di zaman dulu menjadi oposisi penguasa, akhirnya Rafidhah diidentikkan dengan Syiah dan kebencian disebarluaskan kepada Syiah. So, akarnya politik, ketakutan pada oposisi, keinginan untuk mempertahankan kekuasaan. Penguasanya boleh mati, tapi kebencian terus menurun kepada generasi berikutnya.

(lebih…)

Aliran Dana Sumbangan Bangsa Indonesia Ke Suriah

ihr-1Pada Februari 2015, setelah saya menulis surat terbuka untuk Ust Arifin Ilham (menjelaskan tentang peta konflik Timteng dan efeknya bagi Indonesia), tim film dokumenter Metro Realitas mengontak saya, mau wawancara. Intinya saya diminta menjelaskan ulang apa yang saya sampaikan di surat itu. Dalam film dokumenter itu, banyak tokoh yang diwawancarai, termasuk pihak ust Arifin Ilham, Buya Syafii Maarif, Dr. Jalaluddin Rakhmat, pihak kepolisian, dll. Bisa dipastikan, saya paling bakal muncul sekilas [da aku mah apa atuh]. Eh, rencana penayangan film itu bocor di medsos, dan hebohlah itu ibuk-ibuk dan bapak-bapak “tetangga” mengirim broadcast kemana-mana. Isinya: ayo kirim SMS ke redaktur Metro, halangi penayangan acara tsb karena ada Dina Sulaeman! Eciee.. takut amat kelyan sama daku 😀

Singkat cerita, film itu gagal tayang pada menit-menit terakhir. [Kebayang dong, ibuk-bapak saya di kampung jadi kecewa padahal udah nunggu-nunggu. Sejak itu kalau saya diwawancara tipi saya diem-diem aja, detik-detik terakhir menjelang tayang baru saya info ke keluarga dan temen2 *curcol*]

Kembali ke topik. Nah… Metro Realitas kemudian bikin lagi film dokumenter lain, tentang ISIS. Kebetulan di film pertama yang gagal tayang itu, ada bagian yang pas untuk dikutip. Walhasil akhirnya saya muncul juga tuh meski sauplit. Silahkan disimak, karena topiknya adalah isu yang sedang heboh saat ini [soal aliran dana ke Suriah].

Nah, akhir-akhir ada lembaga anu sedang heboh disorot karena bantuannya jatuh ke tangan pemberontak.

(lebih…)

Surat Terbuka Tentang Suriah, Untuk Kang Emil

Assalamualaikum,

Kang Emil, kumaha damang?
Perkenalkan saya Dina, bukan orang Sunda. Tapi, karena saya menikah dengan urang Sunda, dan seluruh proses studi saya dari S1 hingga S3-Hubungan Internasional saya jalani di Bandung (Unpad), ikatan emosional saya dengan Sunda sangatlah kuat. Di banyak kota di Indonesia yang saya kunjungi, banyak yang mengira bahwa saya adalah orang Sunda karena saya sudah terhegemoni oleh logat Sunda.

Saya terdorong menulis surat ini setelah melihat 2 postingan di Fanpage Kang Emil tentang Suriah. Postingan pertama, share foto bertajuk Save Aleppo.

rk1g

Masih di hari yang sama, selang beberapa jam kemudian, kang Emil memposting status tanpa foto.

rk1f

Selengkapnya kalimat Kang Emil:

rk1c

Saya mencermati perbandingan jumlah share  dan komentar di kedua status itu. Buat saya, ini menjadi bukti bahwa isu Suriah adalah isu monolog. Gerakan “Save Aleppo” dianggap sebagai fakta yang tak perlu dipertanyakan lagi. Status “Save Aleppo” di-share 25ribu lebih tapi hanya ada 3100 komentar. Sementara status yang mengajak untuk fokus saja pada isu kemanusiaan, hanya di-share 5300  kali tapi dikomentari 3700 kali.[data 19/12, 20.00]

Saya menemukan banyak komentar menyalah-nyalahkan nada “netral” Kang Emil. Antara lain:

(lebih…)

Penindasan Rohingya, Hoax atau Bukan?

pengungsi-rohingya-di-aceh

pengungsi Rohingya di Aceh (viva.co.id)

Sejujurnya, saya tidak ahli soal Myanmar. Membaca sejarahnya yang panjang dan rumit, dengan nama-nama yang terasa asing buat saya, membuat saya pusing. Karena itu dua hari ini di facebook saya cuma sharing tulisan orang (yang menurut saya tulisannya bisa dipercaya) soal sejarah Myanmar. Kenapa harus tau sejarahnya? Karena menganalisis konflik tidak bisa ujug-ujug pada momen tertentu saja.

Lalu bagaimana dengan isu akhir-akhir ini yang heboh disebar di medsos (orang-orang Rohingya dibakar hidup2, dll)? Saya juga tidak tahu. Yang jelas, terbukti beberapa foto yang disebarkan adalah hoax. Tentu perlu dikirim peneliti ke sana (misalnya, dari Human Right Watch dan sejenisnya) dan kita tunggu hasilnya.

Lalu, kemarin Dubes Indonesia untuk Myanmar menyatakan bahwa isu soal Rohingya “tidak sepenuhnya benar”. Ini saya copas sebagian beritanya.

(lebih…)

Tax Amnesty, Penggusuran, dan Berpikir Filosofis

properti

foto:tribunnews

Tulisan ini akan panjang. Saya tidak berminat menyingkatnya “demi kenyamanan pembaca”. Terserah saja, orang mau baca atau tidak tulisan ini.

Begini, sejak kuliah S1 hingga S3, selalu ada mata kuliah filsafat ilmu, yang seringkali disampaikan dengan cara ‘wow’, sehingga saya tidak paham, terus-terang saja. Saya baru paham setelah diskusi sana-sini dengan orang lain, bukan dengan dosen. Itupun baru pahamnya setelah kuliah S3, dan itupun sepertinya masih untuk diri sendiri; saya belum mampu mengajarkannya lagi ke orang lain.

Tapi ada satu hal krusial yang saya dapatkan dari perjalanan panjang saya kuliah lagi hingga S3: berpikir filosofis itu penting. Problem bangsa ini, menurut saya, akibat dari ketidakmampuan berpikir filosofis itu. Berpikir filosofis, singkatnya, berpikir hingga ke akar: apa, mengapa, bagaimana. Seseorang yang terbiasa berpikir filosofis akan selalu mencoba menggali hingga ke akar, ini apa sebenarnya? Apa akibatnya di masa kini dan di masa depan?

Misalnya soal tax amnesty. Terus-terang saya bukan ahli perpajakan dan keuangan. Tidak semua orang ahli dalam semua hal kan? Ada memang seleb-seleb medsos yang kelihatan sangat pintar dan mampu bicara sangat banyak hal. Sekali lagi, SANGAT BANYAK hal. Wuih. Tapi ada bagian-bagian tulisan mereka yang membuat sebagian orang tertawa sendiri, karena tahu bahwa yang ditulis si seleb itu sama sekali tidak benar. (lebih…)

Antara Hillary, Ahok, dan Lawan-Lawannya

hillary-trumpPemilu AS sudah menjelang. Sebagai negara yang paling berpengaruh bagi Indonesia sejak tahun 1960-an, apa yang terjadi di AS sebenarnya “penting” bagi bangsa ini. Namun, di sisi mana “penting”-nya, masih banyak yang tak terlalu paham. Banyak yang memandang AS dengan penuh pesona, karena mata yang dipakainya adalah ‘mata ekonomi’, bukan mata ‘ekonomi-politik’.

Dengan ‘mata ekonomi’, banyak orang Indonesia menggantungkan impiannya ke AS: jalan-jalan, beasiswa, berkarir, dll. Tidak salah, wajar saja. Tapi dengan ‘mata ekonomi-politik’, seharusnya kita kesal karena AS sejak 1960-an telah mengeksploitasi negeri ini, antara lain lewat Bank Dunia dan IMF (saham terbesar dimiliki AS dan markasnya juga di AS). Bahkan UU Migas  No. 22 Tahun 2001 yang membuka peluang sebesar-besarnya kepada perusahaan asing untuk mengeksplorasi migas dan membuat negara kehilangan kontrolnya dalam tata kelola migas, ternyata penyusunannya didanai oleh USAID sebesar $21,1 juta*. Ada banyak lagi tangan-tangan AS yang berada di balik berbagai fenomena ekonomi-politik di negeri ini, tapi hanya dibicarakan dari mulut ke mulut. Datanya susah didapat. Misalnya saja, reformasi 1998, kalau baca tulisannya Chomsky, ada peran AS, yang sudah tidak menghendaki lagi Suharto. Tapi buktinya apa? Saya cuma dengar kisah lisan, bahwa pada malam-malam demo itu, uang berkarung-karung didistribusikan ke kampus-kampus, untuk logistik para mahasiswa, tanpa kwitansi.

Adalah lebih mudah untuk menganalisis ekonomi-politik di dalam AS sendiri. Transparansi data di sana membuat saya bisa menyusun sebuah buku Obama Revealed (unduh gratis di sini) yang isinya menceritakan keterkaitan hampir semua menteri Obama dengan korporasi pro-Zionis.

(lebih…)

Sejarah yang Berulang, Dari VOC ke IMF

VOC

medali VOC (sumber foto: huiberts.info)

Di bawah ini saya copas tulisan Sofia Abdullah di facebooknya. Sofia tekun sekali menelaah buku-buku sejarah dan naskah-naskah kuno, beberapa tulisannya pernah saya baca di media online. Tulisannya berikut ini memberi perspektif baru tentang sejarah Indonesia, menarik sekali. Antara lain, bahwa sebenarnya VOC adalah perusahaan multinasional yang menghalalkan segala cara demi meraup keuntungan sebesar-besarnya. Jadi, yang menjajah Nusantara pada awalnya bukan Belanda, melainkan korporasi global.

 

Sejarah berulang hingga kini, ketika kita secara lahiriah merdeka, tapi sejatinya sedang terjajah oleh korporasi global (bukan cuma Indonesia, tetapi juga kebanyakan negara-negara berkembang lainnya). Tengok saja bagaimana perilaku korporasi global hari ini yang memonopoli perdagangan dunia dengan cara-cara kasar, antara lain:
-melobi para politisi untuk meloloskan UU yang menguntungkan mereka; dana pembuatan UU itu pun digelontorkan oleh “lembaga sosial” yang sebenarnya perpanjangan tangan korporasi (baca buku Kudeta Putih, Hadi, et al)
-menggunakan kekuatan IMF dan Bank Dunia untuk memaksakan proyek-proyek yang sebenarnya tidak urgen, dan hanya membuat bangsa-bangsa terjerat utang semakin besar (baca buku John Perkins)
-memaksakan aturan-aturan di WTO agar sesuai dengan kepentingan mereka (baca buku Power in Global Governance, Barnet et al,)

Sedikit info ttg IMF: pemilik saham terbesar dalam IMF adalah AS, Jepang, Jerman, Inggris, dan Prancis (disebut G-5). Kekuatan dominasi G-5 terlihat jelas ketika sebuah negara meminjam uang kepada IMF. IMF baru mengucurkan dana pinjaman bila negara itu telah melaksanakan syarat-syarat yang ditetapkan IMF: mencabut subsidi, meningkatkan pajak, liberalisasi pasar, dan meningkatkan suku bunga. Semua persyaratan itu ujung-ujungnya hanya menguntungkan negara-negara pemegang saham terbesar di IMF dan Bank Dunia (keduanya saling bersekutu; oleh Stiglitz disebut sebagai “pilar globalisasi/pasar bebas”; untuk bisa ngutang di Bank Dunia harus jadi anggota IMF). (Baca: Brics, G20, IMF)

Jadi, terlihat ya, bahwa sejarah itu berulang?

==

Hebatnya Indonesiaku!!

Oleh Sofia Abdullah

Selama bertahun-tahun disekolah, kita di beri pemahaman bahwa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun!! Entah darimana awalnya pernyataan salah kaprah ini, karena negeri Belanda-nya saja baru resmi terbentuk tahun 1815!! (lih. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Netherlands)

350 tahun adalah masa kedatangan bangsa Eropa ke negeri ini, karena sifat mereka yg kasar, Rasis dan ingin menguasai pasaran, penduduk nusantara spontan tidak menyukai mereka dan pada umumnya mengambil sikap bermusuhan. Namun ada juga beberapa bangsa Eropa yg awalnya diterima oleh beberapa penguasa di tanah air karena sikap mereka yg sopan dan menunjukkan sikap mau bekerja sama.

(lebih…)

Dunia Kita (2)

dunia kitaDi tulisan  “Dunia Kita (1), saya memberi link ke artikelnya Andre Vltchek (ia minta Rusia dan China untuk menyelamatkan Venezuela yang hampir tumbang dikuasai oleh Imperium). Jadi, secara global, ada negara-negara yang posisinya berlawanan dengan Imperium, yang terbesar dan terkuat adalah Rusia dan China. Di Timteng, Iran, Irak, Suriah, dan Hizbullah pun bersekutu dengan kedua kekuatan ini.

Pertanyaannya: Apa artinya kalau mau melawan Imperium, Indonesia juga harus bersekutu dengan China? Siapa yang jamin Indonesia akan jaya kalau kerjasama dengan China? Konon produk/proyek China di Indonesia banyak yang ga mutu [ini KONON ya, saya tidak mendalaminya]. Lalu, China juga mendatangkan pekerja dari China, padahal Indonesia surplus tenaga kerja (misal: kasus PLTU di Bali).

Cara melihatnya begini:

(1) Di tataran global, perlu diakui, memang Rusia dan China adalah dua negara yang punya kekuatan untuk melawan Imperium. Tak ada pilihan lain bagi negara-negara yang lebih kecil yang dalam keadaan terjepit, selain bekerja sama dengan keduanya. Misalnya, Iran dan Suriah; mereka melawan Imperium sendirian jelas sangat sulit. Sejauh ini Iran dan Suriah berkali-kali sudah ditolong oleh Rusia dan China lewat kekuasaan veto di PBB. Kalau dua negara besar itu tidak melakukan veto, NATO sudah dari kemarin-kemarin menyerbu Suriah (sebagaimana yang terjadi di Libya, hanya dalam hitungan hari, Qaddafi sudah tumbang diserbu NATO). Kalau Rusia tidak terjun langsung ke medan perang ‘menjaga’ Suriah, mungkin NATO (yang sebenarnya juga sudah menyerang Suriah, namun alasannya untuk membasmi ISIS) juga sudah merebut Damaskus.

(lebih…)

Para Frater [plus paper]

sotoro

Milisi Kristen Suriah, lihat benderanya merah-putih-hitam dengan 2 bintang; itu tandanya mereka pro-pemerintah. Bendera pemberontak=bendera Suriah era mandat Perancis: hijau-putih-hitam dengan 3 bintang.

Copas status FB
Para Frater

Pekan yll saya berkesempatan bicara tentang Timteng/Suriah di depan para frater (calon pastur). Di ruangan itu ada patung Yesus besar banget, di tiang salib. Terus-terang saya grogi. Dan kata si Akang, saya memang terlihat grogi. Tapi kata Kirana, “Mama keren.” Ya sudahlah terserah saja, toh sudah berlalu 😀

Yang saya jelaskan sebenarnya kurang-lebih sama dengan apa yang selama ini saya tulis maupun saya sampaikan di berbagai forum (hanya beda-beda titik tekan saja). Kali ini, presentasi saya awali dengan menampilkan foto-foto gereja yang hancur dibom, biarawati yang disandera oleh Al Nusra (tapi kemudian dibebaskan dalam skema pertukaran sandera dengan pemerintah), dan milisi Kristiani Suriah.

Saya katakan, perang Suriah mencapai titik balik dimana rakyat sipil akhirnya ikut angkat senjata untuk membela tanah air mereka dari gempuran pasukan asing (yang menyebut diri ‘mujahidin’ itu). Orang-orang Kurdi, Sunni, Syiah, Kristen, Druze, bangkit membentuk milisi bersenjata yang membela hal-hal penting bagi mereka. Orang Kurdi (Sunni) dan Kristen/Katolik mempertahankan tanah dan warga mereka dari kejahatan para perompak asing; orang Syiah kebanyakan turun tangan membela makam-makam Ahlul Bait Nabi (misalnya, makam Sayidah Zainab, cucu Rasulullah) agar tidak dihancurkan oleh bom kaum ‘mujahidin’, dll.

Salah satu milisi Kristiani adalah MSF (Mawtbo Fulhoyo Suryoyo, bahasa Assyria; dalam bahasa Inggris disebut ‘Syriac Military Council’). Di web al-monitor disebutkan bahwa milisi Kristiani berhasil mempertahankan wilayah Hasakah sehingga tidak jadi diduduki oleh ISIS. (http://www.al-monitor.com/pulse/originals/2015/10/syria-christians-militias-liberation-battle.html)
(lebih…)