Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia (Laman 2)

Category Archives: Indonesia

Iklan

Indonesia, Pelajarilah Perilaku Ikhwanul Muslimin di Suriah

Beberapa waktu terakhir, orang-orang IM pendukung “jihad” Suriah sibuk ber”jihad” di Indonesia, menyebut pemerintah sebagai “rezim yang zalim dan curang” dan “antek China-Komunis”.

Nah, setelah beberapa pentolan gerakan mereka kabur ke luar negeri, atau diperiksa polisi, sepertinya instruksi dari “bos” sudah berganti: balik lagi ke isu Suriah & pengkafiran Syiah. Pokoknya, Indonesia harus dibuat gaduh terus.

Hoax lama pun didaur ulang lagi, antara lain: “kota Hama adalah pusat dakwah Sunni dan pada 1982 penduduknya dibantai oleh Hafez Assad (ayah presiden yang sekarang) yang berpaham Syiah.”

Mereka yang gemar sekali menyodorkan ‘cerita’ ini menghilangkan satu fakta penting: mengapa Hafez Assad menyerbu Hama tahun 1982? Apa dia membunuhi warganya semata-mata karena Sunni-Syiah?

(lebih…)

Iklan

Saatnya Memilih, Mau Berpihak Kemana?

Dari Bandung, ada berita miris sekaligus melegakan. Miris, karena seorang ustadz yang punya track record menebar kebencian (dan semakin ‘menggila’ sejak Perang Suriah dimulai), berkhutbah di hari Idul Fitri dengan menebar fitnah soal “kecurangan”. Melegakan, karena menurut kesaksian seorang netizen, sebagian jamaah sudah berani bersikap: meninggalkan masjid ketika ‘khutbah politik’ itu berlangsung [1]

Dari Lampung, ada berita yang menyejukkan (saya copas di bawah).

Ini memang sudah saatnya berpihak: kepada para penebar perpecahan yang memanfaatkan isu apa saja (tergantung orderan), kadang pakai isu liberal/komunis, kadang Syiah, kadang China, kadang “kecurangan rezim” ATAU kepada para pembawa damai dan persatuan.

***

SELAMAT IDUL FITRI kepada follower fanpage ini yang merayakan. Taqabalallah minna wa minkum, shiyamana wa shiyaamakum. Mohon maaf lahir dan batin

***

(lebih…)

Menyambut Hari Al-Quds Internasional 2019

“Zionisme dan Kebijakan Geopolitik AS-Israel”

Pembicara:
1. Yon Machmudi, Ph.D (Pengamat Timur Tengah)
2. Dr. Dina Y. Sulaeman, M.Si (Pengamat Timur Tengah)

Ahad, 19 Mei 2019
Jam 19.00 – 21.00

Djejak Coffee
Jl. Raya Pejaten No.18A, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12510

https://maps.app.goo.gl/LLmLs4DGGmeRQeyt7

CP: Mujib 0822-9895-0796

***

Ada live streamingnya.
Malam nanti status ini akan diupdate untuk menginfokan link-nya.

**
Live streaming https://www.facebook.com/maulatv/videos/296395537908822/

Paus dan Palestina

Dalam tulisan saya sebelumnya (‘Imam Palestina’), saya menulis kalimat ini: Jangan salahkan kaum muslim bila membantu atas dasar sentimen ke-Islam-an. Bukankah Israel (termasuk para fans-nya di Indonesia, yang oleh netizen dijuluki ‘Zionis Sawo Matang’) juga selalu membawa Alkitab saat menjustifikasi penjajahan Israel?

Ya, memang inilah yang saya dapati. Bahkan ada yang sedemikian ngaconya, setelah terdesak dibombardir argumen rasional dan data, ZSM berkata, “Salahkan saja Nabi Musa!”

Mereka sedemikian yakinnya, konon berdasarkan ayat Alkitab, Nabi Musa dulu mewariskan tanah Palestina kepada bangsa Yahudi, sehingga setelah ribuan tahun berlalu, Yahudi berhak datang lagi mengambil tanah itu dan mengusir populasi yang hidup di sana.

(lebih…)

Imam Palestina

Sejak sebelum Ramadhan, saya mendapat kiriman beberapa e-flyer tentang kedatangan “imam dari Palestina”. Mereka didatangkan oleh lembaga-lembaga amal yang memang sudah biasa menggalang dana untuk Palestina.

Solidaritas global kaum Muslim untuk membantu Palestina sudah dimulai sejak puluhan tahun yang lalu. Di Indonesia, tahun 1938 (saat itu bahkan kita belum merdeka), dalam Muktamar NU ke-13 (12-15 Juli) di Banten, KH Abdul Wahab Chasbullah sudah menyerukan penggalangan bantuan untuk Palestina. Saat itu, Palestina berada di bawah penjajahan Inggris.

Inggris angkat kaki dari Palestina pada 14 Mei 1948 dan di hari yang sama komunitas Zionis mendeklarasikan berdirinya Israel. Persiapan pendirian Israel sudah dimulai jauh hari. Tahun 1917, Menlu Inggris Lord Balfour, sudah menjanjikan kepada pemimpin komunitas Yahudi Inggris, Lord Rothschild bahwa Inggris akan mendirikan negara (“a national home for Jewish people”). (lebih…)

Pembantaian dan Industri Kebencian (2)

Kebencian yang sifatnya massal disebabkan oleh isu yang difabrikasi (dibuat secara sengaja dengan berbagai metode dan strategi). Memfabrikasi isu yang membangkitkan kebencian jelas butuh dana besar.

Pada tahun-tahun awal Perang Suriah, tiba-tiba saja kebencian kepada penganut Syiah di Indonesia meluas. Buku yang isinya memfitnah Syiah (dan diberi logo MUI, padahal MUI secara lembaga menyatakan tidak menerbitkan buku itu) dicetak jutaan eksemplar lalu dibagikan secara gratis di masjid-masjid. Pengajian dan road show digelar di berbagai penjuru Indonesia, membahas konflik Suriah plus hujatan terhadap Syiah. Ini butuh dana besar, dari mana?

Ada negara-negara tertentu yang dikenal sebagai funding kelompok radikal. Sumber lainnya adalah donasi masyarakat. Para pengunjung majelis taklim atau seminar yang sudah disentuh emosinya atau otak reptil (croc brain)-nya, dibikin ketakutan, akan mudah merogoh kocek.

Saya pernah amati sebuah gerakan donasi online yang ‘menjual’ isu Suriah. Luar biasa, kurang dari sepekan sudah meraup 3 M. Padahal ada banyak lembaga yang menggalang donasi untuk Suriah dengan isu yang berganti-ganti, selama 8 tahun terakhir. Berapa dan kemana uangnya mengalir?

(lebih…)

Pembantaian dan Industri Kebencian (1)

Saya sedang berada di pesawat, dari Abu Dhabi menuju Jakarta, saat menonton siaran live CNN dan BBC tentang pembantaian terhadap kaum Muslim di Christchurch, Selandia Baru (SB). Baik host maupun narasumber yang ditampilkan, beberapa kali mengulangi kalimat yang sama: mengapa ini bisa terjadi di SB, yang terkenal sangat damai dan toleran?

Yang menjadi perhatian dunia pada hari-hari selanjutnya adalah respon warga SB yang luar biasa. Tak terhitung bunga yang diantarkan ke lokasi pembantaian. Tangisan orang-orang yang sesungguhnya tak mengenal para korban. Kaum perempuan, apapun agamanya, pada suatu hari sepakat ramai-ramai pakai jilbab. Warga non-Muslim bersama-sama menjaga kaum Muslim saat mereka sholat di masjid.

Bahkan anak-anak sekolah pun turut serta dalam gerakan empati massal yang luar biasa ini dengan beramai-ramai menarikan Haka secara amat khusyuk. Haka adalah tarian tradisional suku Maori, menyimbolkan duka cita sekaligus kemarahan pada kebiadaban itu. Terbayangkah Anda, anak-anak SMA kita bisa secara spontan melakukan gerakan empati seperti itu saat beberapa gereja Surabaya dibom oleh simpatisan ISIS?

(lebih…)

Khilafah in Context

Salah satu tips penting agar kata-kata Anda berdampak pada audiens: katakan/tulislah sesuatu yang ada konteksnya. Dengan kata lain, hantarkan tulisan dengan konteks yang langsung nyambung dengan audiens.

Misalnya, ibu ingin menasehati anak agar rajin belajar. Nasehati ia saat ada konteksnya, misalnya si anak sedang tergila-gila pada Gundam dan ingin sekali bisa kuliah di Jepang. “Belajar yang rajin dari sekarang, biar dapat beasiswa!”

Sebaliknya, penulis/pembicara pun harus menyadari bahwa audiens akan menangkap perkataan mereka sesuai dengan konteks yang ada. Jangan salahkan kalau tulisan Anda ditangkap berbeda, karena Anda yang tidak sadar konteks.

Contohnya, ada seorang ustadz 212 yang baru-baru ini saja bicara soal jahatnya hoax. Dia juga menyeru kedua kubu baik 01 dan 02 jangan saling ejek atau saling hina. Dia kasih nasehat soal akhlak, dan bahwa perilaku para politisi sekarang ini merupakan pelanggaran atas ayat 11 dan 12 surah Al-Hujurat. Well, perkataannya bagus. Tapi konteksnya sudah telat.

Kemana saja dia, ketika ada kemarin-kemarin ada hoax-hoax jahat tersebar? Setahu saya, dia tidak memberi komentar soal hoax penganiayaan RS atau hoax 7 kontainer.

Akibatnya, kata-katanya yang baik dan benar itu “ke laut aja”, tidak berdampak pada audiens, bahkan diolok-olok.

(lebih…)

Khilafah, Khalifah, Hoax, dan Terorisme

Saat ada adu tagar pro 01 vs 02 pasca Debat IV Pilpres, di antara berbagai tagar yang trending, saya melihat ada tagar yang beda sendiri: “Islam Damaikan Dunia”. Saya buka cuitan-cuitan dengan tagar ini, ternyata secara bersamaan mereka membawa tagar: Rindu Pemimpin Cinta Islam, Khilafah Ajaran Islam, Haram Pemimpin Anti Islam.

Tak salah lagi, mereka rupanya orang-orang HTI.

Yang menarik di sini: HTI menolak sistem demokrasi (pemilu), tetapi menunggangi pilpres 2019 dengan mendorong para pemilih agar tidak memilih ‘pemimpin yang anti Islam’.

Yang ingin saya bahas kali ini adalah hal-hal fundamental (sangat melibatkan akal sehat/logika) soal jargon-jargon HTI ini.

(lebih…)

Diplomasi Zaman Now vs Diplomasi Era Zadoel

Debat Keempat Pilpres kemarin saya ikuti dengan seksama karena temanya cocok dengan bidang studi saya, Hubungan Internasional. Ada hal yang menarik untuk ditelaah, soal diplomasi dan ‘kepentingan nasional’.

Pertanyaan dari panelis adalah, “…Keberhasilan dalam diplomasi internasional tergantung pada kemampuan negara menawarkan keunggulannya kepada negara-negara lain. Keunggulan tersebut bisa dalam bentuk kebudayaan, ekonomi, pertahanan, dan gagasan solutif. …Menurut Bapak apa keunggulan bangsa Indonesia yang akan ditawarkan dalam diplomasi internasional dan bagaimana strategi utk mewujudkannya?

Jawaban Presiden Jokowi, keunggulan kita adalah “Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.”

Hal ini direspon Capres Prabowo bahwa diplomat asing itu “menghitung kekuatan kita”. Yang dimaksud Prabowo adalah kekuatan militer, karena selanjutnya yang disebutnya adalah ‘berapa kapal selam, pesawat, peluru kendali yang kita punya?’

Dalam tulisan singkat ini, saya hanya ingin menjelaskan bahwa secara paradigmatik, kedua tokoh ini berbeda bagai bumi dan langit.

(lebih…)