Kajian Timur Tengah

Beranda » Blog&Web About Global Politics

Category Archives: Blog&Web About Global Politics

Iklan

PENGUMUMAN

Kemungkinan besar, terkait dua postingan terakhir saya, ada pihak-pihak yang lapor ke FB sehingga akun personal saya dinonaktifkan oleh FB.

Bersama ini diumumkan:
1. Saya tidak membuat akun baru dengan nama Dina Sulaeman.

2. Apabila fanpage ini tumbang juga, tulisan saya selanjutnya bisa dibaca di blog: www. dinasulaeman.wordpress.com

Tetap berpikir merdeka 🙂

Iklan

Global Research

Tulisan saya tentang Irak dimuat di Global Research.

Untuk versi bahasa Indonesia, tunggu beberapa hari ini ya, insya Allah akan saya upload di web ICMES.

https://www.globalresearch.ca/washingtons-divide-an…/5653854

Nafas Terakhir Pemberontak Syria

 

syria

Nafas Terakhir Pemberontak Syria

Oleh:  Cahyono Adi

Apa yang diinginkan para pemberontak dengan aksi-aksi terornya di Syria yang semakin “menggila”? Menurut Iran, itu adalah tanda-tanda para pemberontak telah mendekati ajalnya.

“Apa yang mereka inginkan dari Syria?” tanya seorang penduduk Jaramana, daerah pinggiran kota Damaskus, Syria, yang dikenal sebagai daerah “pluralis”, setelah terjadinya aksi-aksi pemboman yang menewaskan puluhan warga sipil minggu lalu.

“Kota ini menampung semua orang dari seluruh penjuru Syria dan menyambut hangat semua orang yang datang ke sini,” tambahnya.

Korban tewas akibat aksi pemboman di Jaramana minggu lalu adalah lebih dari 50 orang dan 120 orang lainnya mengalami luka-luka, sebagian di antaranya kritis. Semuanya warga sipil tak bersenjata.
(lebih…)

Perang Melawan Terorisme dan Politics of Fear

Dina Y. Sulaeman

(Makalah ini cukup panjang, 14 hlmn word, ditulis untuk perkuliahan “Keamanan Global’ yang diampu Prof. Yanyan M. Yani, PhD. Salah satu poin menarik yg saya temukan saat menulis makalah ini: meskipun Perang Melawan Terorisme konon diluncurkan AS demi melindungi rakyat AS (=Barat) dari terorisme Al Qaida, ternyata korban serangan Al Qaida mayoritasnya justru bukan orang AS (Barat), melainkan muslim sendiri. Sementara, korban terbesar dari Perang Melawan Terorisme juga muslim. Artinya, secara keseluruhan, muslim-lah korban terbesar dan pada saat yang sama, muslim pula yang disalahkan dan dianggap sebagai biang terorisme. Sayangnya, ada tabel dan gambar yang tidak  bisa dicopas ke blog ini. Yang minat bisa donwload versi PDF makalah ini di sini: Makalah Dina_global security_OK

Tragedi 9/11 dan Launching WoT

Hanya beberapa jam menyusul serangan terhadap Menara Kembar WTC pada 11 September 2001 (atau peristiwa 9/11) tersebut, pemerintahan Bush mengumumkan bahwa serangan itu dilakukan oleh jaringan teroris bernama Al Qaida. Menlu Colin Powell menyebut serangan 9/11 sebagai “aksi perang”. Pada malam harinya,  President George W. Bush berpidato provokatif, bahwa dia “tidak akan membedakan antara teroris yang melakukan aksi  terror 9/11 dan pemerintahan asing yang menjadi pangkalan dari jaringan teroris itu.”[1]  Sekitar sebulan kemudian, Oktober 2001, Perang Melawan Terorisme pun dimulai oleh Bush dan pasukannya (untuk selanjutnya, dipakai singkatan WoT, War on Terrorisme).

Reaksi keras Bush dan Menlu-nya diikuti oleh statemen-statemen pejabat dan politisi AS lainnya, dan tentu saja, oleh media-media mainstream AS yang kemudian ditayang ulang oleh media-media di seluruh dunia. New York Times, misalnya, secara provokatif menulis, “Ketika kita telah memastikan bases and camps para penyerang kita, kita harus menghancurleburkan mereka—meminimalisasi namun menerima kerusakan yang niscaya terjadi—dan bertindak terang-terangan maupun tersembunyi untuk mendestabilisasi negara-negara tempat berlindungnya para teroris.”[2]

WoT telah dilancarkan ketika penyelidikan 9/11 belum tuntas. Bahkan, Komisi Penyelidikan 9/11 baru dibentuk oleh Bush pada akhir tahun 2002 dan baru menyerahkan hasil penyelidikan mereka pada tahun 2004. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab oleh laporan Komisi  Penyelidikan 9/11 itu. Misalnya, bila Al Qaida benar-benar bersalah dalam teror 9/11, mengapa hingga kini tak ada sidang terbuka mengadili para tertuduh pelaku teror itu? AS menyatakan telah menahan dalang pengeboman menara WTC, Khalid Sheikh Mohammed. Lalu mengapa dia tidak segera diadili supaya dunia benar-benar mendapatkan bukti bahwa memang Al Qaida yang bersalah? Niels H. Harrit dan beberapa pakar sains dari AS dalam paper ilmiah yang dimuat di Jurnal Kimia Fisika melaporkan, ditemukan lapisan tipis debu bom super thermite di lokasi reruntuhan WTC.[3] Menurut para pakar konstruksi, menara setinggi WTC tidak akan hancur lebur hanya karena ditubruk sebuah pesawat, kecuali bila memang di dalam menara itu sudah dipasang bahan peledak dalam jumlah puluhan ton.[4] Perlu satu tim besar untuk menaruh puluhan ton bom di sana. Mengapa pemerintah AS, alih-alih mengirim 17.000 pasukan ke Afghanistan, tidak memfokuskan diri untuk menangkap tim itu?

(lebih…)

Benarkah Iran dan Israel Main Mata?

Benarkah Iran dan Israel Main Mata?

Oleh: Husein Sarallah

Belakangan ini kita sering mendengar beberapa pengamat Timur Tengah yang tampil di layar kaca TVOne mengutarakan bahwa Iran dan Israel itu sebenarnya main mata. Tujuan pernyataan ini sebenarnya ingin menunjukkan adanya konspirasi di balik retorika Iran dalam memusuhi Israel dan membantu rakyat Palestina. Mereka ingin membangun argumen bahwa Iran itu cuma berpura-pura dalam dukungannya pada Palestina dan perlawanannya terhadap Israel.

Mereka biasanya membawa dalil bahwa Iran tidak pernah menghantam Israel dengan roket atau rudal balistiknya. Demikian pula sekutu Iran dari kalangan Arab seperti Suriah juga tidak menghajar Israel. Bukti lain yang biasanya diajukan ialah pertemuan sejumlah pemimpin Iran dengan rabbi-rabbi Yahudi dari kelompok Naturei Karta (yang sebenarnya justru merupakan kelompok Yahudi anti Zionis Israel).

(lebih…)

Innocence of Muslims vs ‘Innocence’ of Zionist

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

Ada banyak analisis yang bisa ditulis terkait aksi terbaru kelompok Islamophobi yang membuat film nista berjudul Innocence Muslim. Saya ingin membahasnya dari sisi ini: “siapa yang memulainya pertama?”

Banyak yang mengecam aksi kekerasan di Libya. Sebagian orang Islam sendiri langsung ‘setuju’ dengan citra yang disebarluaskan oleh media Barat: bahwa aksi pembunuhan terhadap para diplomat AS di Libya adalah ‘balas dendam’ atas pembuatan film Innocence of Muslims. Lalu lagi-lagi, muslim disalahkan dan dicitrakan sebagai penganut agama kekerasan. Sebagian muslim pun malah saling menasehati, “Marah boleh, tapi jangan membunuh dong!” atau, “Rasulullah saja kalau masih hidup pasti akan memaafkan; beliau tidak akan setuju kalau kita berbuat biadab.” Pertanyaannya, siapa ‘kita’ yang dimaksud? Siapa yang membunuh Dubes AS?

(lebih…)

Mengapa Harus Suriah (Joserizal Jurnalis, MER-C)

Oleh: Dr Joserizal Jurnalis SpOT*

Suriah adalah negara dengan jumlah penduduk 22.517.750 orang (estimasi 2010). Komposisi penduduk berdasarkan agama: Muslim Sunni 74%, Muslim Alawi-Syiah-Druze 16%, Kristen dan lainnya 10%.

Presiden Suriah sekarang adalah Bashar Al-Assad menggantikan bapaknya, Hafesz Al-Assad, seorang Marsekal. Hafesz Assad adalah pemimpin Suriah yang keras dan diktator. Bersama saudaranya, Rifyad Assad, mereka membawa Suriah melalui masa-masa sulit terutama dalam perang enam hari tahun 1967.

Hafesz berhasil menangkap Ellie Cohen, seorang mata-mata Israel, yang menyusup ke pemerintah Suriah sampai menjadi teman dekat Hafesz. Hafesz menggantung Ellie Cohen walaupun dia diprotes banyak negara. Hafesz memberangus Ikhwanul Muslimin, banyak korban berjatuhan.

Tapi di sisi lain, dia juga mau menerima Hamas berkantor di Damaskus ketika negara-negara Arab tidak mau menerima mereka membuka perwakilan. Hafesz banyak menampung pengungsi Palestina, salah satu kamp yang pernah penulis bersama relawan MER-C kunjungi adalah kamp Yarmuk.

(lebih…)

Mencari Motif di Hawla

Dina Y. Sulaeman*

“It is time to act. It is time to give the Syrian opposition the weapons in order to defend themselves. The situation in Syria will not get better until the rest of the world at least gives the arms to the Syrian rebels.”

 (Senator AS, McCain dan Liberman, di Kuala Lumpur, 30 Mei 2012)

Tragedi Hawla (Houla Massacre) seolah menggiring rezim Bashar Assad ke ujung tanduk. Melalui mesin-mesin propagandanya, Barat menggiring opini publik untuk menghujat rezim Assad. Assad digambarkan sebagai pemimpin brutal yang tega membunuhi rakyatnya sendiri, bahkan termasuk wanita dan anak-anak. Menyusul kejadian di Hawla, Barat pun segera menarik dubes-dubes mereka dari Turki. Tapi ini tidak aneh. Toh kejadian serupa sudah terjadi berkali-kali. Masih belum hilang dari ingatan betapa negara-negara Barat melemparkan berbagai tuduhan secara masif terhadap Irak, Afghan, Iran, atau Libya. Kecuali di Iran, tujuan Barat tercapai dengan tumbangnya Saddam,  rezim Taliban, dan Qaddafi.

Namun, situasi terasa ‘aneh’ khusus untuk Syria karena dua front yang semula seolah bertentangan, kini justru bergandengan tangan: Israel dan Barat yang anti-Islam fundamentalis dengan kelompok-kelompok Islam puritan, yaitu rezim monarkhi Arab Saudi, Qatar, kelompok-kelompok Al Qaida yang semula beroperasi di Libya, dan bahkan Ikhwanul Muslimin Mesir. Mereka kini berada di front yang sama melawan satu front lain yang selama ini dipuji-puji Barat, yaitu front Islam sekuler. Tujuan mereka serupa: menggulingkan Assad.

Indikasi nyata dari keberpihakan IM Mesir kepada front AS-Israel adalah ketika jubir IM, Mahmoud Ghozlan, menyuarakan seruan yang persis sama dengan Israel, AS, dan Inggris: kirim pasukan internasional ke Syria! Orkestra seruan pengiriman humanitarian intervention ke Syria kini telah menggema ke seluruh dunia, merasuk hingga ke facebook dan blog, menggalang petisi masyarakat internasional.

(lebih…)

Kebohongan BBC (Lagi)

Media mainstream berkali-kali melakukan kebohongan dalam pemberitaan konflik di beberapa negara, misalnya Irak, Iran, Libya, dan yang terbaru, di Syria. Dulu, di Iran, misalnya, BBC memasang foto tipuan untuk memberitakan banyaknya massa anti-Ahmadinejad. Lengkapnya silahkan baca di sini.

Kali ini di Syria, BBC tertangkap basah melakukan hal serupa Di situsnya tgl 27 Mei, BBC memuat foto mayat2 dan diklaimnya sebagai korban pembantaian massal di di Houla (dan tentu saja, yang dituduh sebagai pembantai adalah tentara Suriah, padahal, fakta2 lain menunjukkan bhw yang terbantai itu adalah orang-orang pro pemerintah; juga secara logika saja, tidak ada keuntungan yang bisa didapat Assad dengan membantai massal warganya sendiri; sungguh aneh bila Assad yang melakukannya. Keuntungan dari peristiwa ini justru didapat oleh pihak oposan.).

Lalu, fotografer asli foto tersebut protes dan memberitahu bahwa itu adalah foto korban pembunuhan massal di Irak tahun 2003. BBC mencabut begitu saja foto itu, tanpa  minta maaf. Sementara foto itu sudah terlanjur disebarluaskan ke seluruh dunia, dan sudah diposting ulang pula oleh banyak orang. Korban fitnah tentu saja tentara Suriah, dan yang diuntungkan adalah kaum oposan yang jelas-jelas dibiayai  oleh AS (silahkan browsing, dari berbagai sumber2 pemberitaan yang valid fakta ini bisa didapatkan). Tujuan utama dari aksi pembantaian massal yang sangat kejam ini adalah agar PBB menyetujui  ‘humanitarian intervention’ yang hakikatnya adalah pengiriman pasukan perang internasional ke Syria untuk menggulingkan Assad, sebagaimana yang sudah terjadi di Libya. (Tentang apa itu humanitarian intervention, silahkan baca di sini).

Untuk melihat lebih jelas foto ini, klik foto-nya.

foto saya ambil dari blog Cahyono Adi.

Rekayasa Video Tragedi Hawla

Berikut kutipan tulisan Cahyono Adi di blognya:

Saya (blogger) pernah melihat rekaman video kerusuhan Houla, Syria, yang ditayangkan sebuah televisi nasional. Video itu menunjukkan aktivitas sekelompok pemberontak Syria. Seorang di antara pemberontak berdiri dengan tenang, kemudian menembakkan senjata RPG-nya ke sebuah gedung tinggi. Ledakan kemudian tampak di bagian atas gedung yang terkena tembakan. Beberapa hari kemudian televisi yang sama kembali menayangkan gambar tersebut, namun bagian pemberontak menembakkan RPG-nya sudah dipotong dan menyisakan gambar ledakan di gedung tinggi. Di bagian bawah gambar tertayang “caption” tentang pemboman yang dilakukan pasukan pemerintah atas Houla.

Kedua rekaman video tersebut juga beredar di seluruh dunia hingga menimbulkan banyak pertanyaan tentang kebenaran “klaim” media massa tentang kesalahan pemerintah Syria dalam tragedi Houla. Jika pasukan pemerintah memang melakukan bombardir, bukankah semua gedung tinggi di Houla sudah hancur? Video itu juga menunjukkan justru para pemberontak-lah yang melakukan penghancuran atas Houla. Gedung tinggi yang ditembak pemberontak dengan RPG sama sekali bukan sasaran militer. Dan sudah menjadi pemberitaan luas bahwa pemberontak juga memiliki senjata mortar, roket hingga rudal jinjing.

Sebagian besar korban pembantaian Houla mengalami luka tembakan jarak dekat. Ini mengindikasikan pelaku pembantaian adalah para pemberontak sendiri yang menguasai Houla. Dan jika sebagian korban lainnya meninggal karena pemboman, para pemberontak juga mempunyai kemampuan untuk melakukannya, jauh dari tuduhan bahwa pemboman itu hanya bisa dilakukan pasukan pemerintah.

Namun meski laporan-laporan saksi mata maupun tim penyidik pemerintah menunjukkan pemberontak sebagai pelaku pembantaian, media massa “mapan”, termasuk di Indonesia terus-menerus menjejali masyarakat dengan informasi palsu tentang kejahatan pemerintah Syria hingga menimbulkan kemuakan bagi orang-orang yang bersikap kritis.

“Setiap kali terjadi serangan teroris di Syria, media-media massa barat dan pemerintahnya segera menuduh pemerintah Syria sebagai dalang pelakunya, sehingga semakin meyakinkan para teroris dukungan barat dan Saudi untuk terus meningkatkan serangan terorisnya. Dengan kata lain, dengan dukungan mereka terhadap para teroris, tangan-tangan pemerintahan barat dan Saudi berlumuran darah para korban serangan teroris yang mereka coba mencucinya dengan cara mengalihkan tuduhan kepada pemerintahan Bashar al Assad,” kata  analis politik Timur Tengah dari Tehran University, Professor Mohammad Marandi Marandi, kepada kantor berita FNA, Selasa (29/5).

 

Israel Inside

©Dina Y. Sulaeman

Membaca analisis orang ‘luar’ terhadap Israel, mungkin sudah biasa. Mendengar Ahmadinejad berkali-kali menyatakan prediksinya bahwa Israel sebentar lagi akan tumbang, juga sudah biasa. Namun, cukup menarik bila kita membaca analisis orang Israel terhadap negaranya sendiri.  Di dalam Israel, sesungguhnya ada juga segelintir orang yang ‘tercerahkan’ dan bisa menilai dengan jernih kebobrokan ‘negara’ dan pemerintahan Zionis. Mereka menulis, melakukan aksi-aksi perdamaian, dan berorasi di berbagai negeri untuk membangkitkan kesadaran sesama Yahudi dan umat manusia umumnya, supaya berhenti mendukung Zionisme.  Kelompok “Women in Black” misalnya. Mereka secara rutin melakukan aksi berdiri dalam diam dengan mengenakan pakaian hitam-hitam, sambil membawa spanduk-spanduk anti penjajahan Palestina. Tak pelak, mereka dikata-katai ‘pelacur’ dan ‘pengkhianat’ oleh orang-orang Israel.

Apa yang membangkitkan kesadaran orang-orang itu? Tak lain, karena kondisi di dalam negeri Israel memang sangat buruk. Uri Avnery dan Gilad Atzmon adalah dua penulis Israel yang sering menyuarakan kritik terhadap pemerintahan Zionis. Dalam tulisan berjudul “Why Israel Will Not Attack Iran”, Avnery dengan gaya sarkasmenya menyebut Israel bagaikan anak sekolah yang mengancam “Hold me back, before I break his bones!”

(lebih…)