Kajian Timur Tengah

Beranda » Inggris

Category Archives: Inggris

Bourne Ultimatum

Tadi pagi saya terbangun dengan pikiran yang lelah. Saya mimpi dikejar-kejar, mau dibunuh, entah oleh siapa. Mungkin ini gara-gara film yang saya tonton sebelum tidur, Bourne Ultimatum. Film ini amat-sangat seru (mungkin karena itu terbawa mimpi). Bercerita tentang agen CIA bernama Jason Bourne yang pernah mengikuti program yang memodifikasi perilaku [diberi nama program Treadstone, kemudian dilanjutkan dengan nama Blackbriar].

Program itu membuatnya menjadi pembunuh yang sangat ahli, tapi ia lupa siapa saja yang ia bunuh; bahkan lupa siapa dirinya sebenarnya. Proyek Treadstone/Blackbriar bertujuan menciptakan agen-agen CIA yang siap diperintah membunuh “demi melindungi rakyat AS”. Namun, Bourne selalu merasa gelisah, ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Upayanya ini mengancam kerahasiaan program Blackbriar sehingga ia dikejar-kejar oleh agen CIA lain, untuk dibunuh.

Karena penasaran, saya coba google. Ternyata, CIA memang pernah membuat program modifikasi perilaku, namanya “MKUltra”, dimulai tahun 1953. Awalnya program ini tentu saja rahasia karena prosedurnya ilegal, namun terungkap ke publik pada tahun 1970-an sehingga dihentikan pemerintah AS pada 1977. Tahun 2001, dokumen-dokumen rahasia MKUltra dibuka untuk publik (karena aturan di AS memang demikian).

(lebih…)

Pendiri White Helmets Tewas Bunuh Diri?

Baru saja berbagai media memberitakan matinya pendiri White Helmets, James Le Mesurier. Ia tewas terjatuh dari balkon apartemennya di Istanbul. Entah bunuh diri, entah dibunuh. [1]

Saya nyaris speechless. Saya teringat kejadian Agustus 2016, ketika menulis klarifikasi tentang kisah “si bocah di kursi oranye” yang diproduksi White Helmets. Tulisan saya dibalas sangat sadis oleh para “ikhwan” dan “akhwat”, yaitu dengan mencuri foto saya yang sedang memangku anak, lalu membuat meme sadis dan disebar masif. Karena bawa-bawa anak saya, rasa sakit hati saya saat itu tentu lebih besar.

Lalu saya menulis ini (status FB tahun 2016, sedikit diedit supaya lebih ringkas):

***

Alih-alih memberikan jawaban yang logis untuk menjawab argumen-argumen yang saya berikan, mereka malah sibuk menghujat, membully, dan bahkan membuat meme yang menggunakan foto saya dan anak saya.

(lebih…)

Tiba-tiba teringat Assad, dia bilang [kepada negara-negara penyokong “jihadis” yang menyerbu Suriah selama 8 tahun], “Terorisme bukan kartu yang bisa Anda mainkan lalu Anda masukkan lagi ke kantong. Seperti kalajengking, ia akan menggigit Anda kapan saja.”

Ini nasehat yang juga sangat patut diingat oleh setiap elit di Indonesia. Memelihara kelompok radikal dan menjadikan mereka sebagai kartu politik belaka [indikasinya: tidak pernah mau bertindak tegas, terstruktur, dan sistematis menghadapi radikalis] adalah tindakan berbahaya yang menghancurkan bangsa ini. Dan negara ini bagaikan kapal, kalau tenggelam, semua ikut tenggelam, termasuk yang memeliharanya dan menjadikannya alat politik.

Semoga Allah menjaga bangsa ini.

sumber meme: @SyrianperNews

Diskusi dengan Kaum Bigot Itu Pekerjaan Sia-Sia

[Bigot adalah kata dalam bahasa Inggris, artinya fanatik buta. Bigot bisa berasal dari agama apa saja, atau ‘isme’ apa saja.]

Suatu hari, saya pernah hadir di sebuah acara diskusi yang diselenggarakan sebuah ormas besar untuk bicara soal Suriah. Saya dipanelkan dengan seorang ustadz terkemuka di daerah itu (dari kalangan pro “jihadis”) dan seorang ustadz Syiah. Si ustadz Syiah mengklarifikasi (membantah) semua tuduhan-tuduhan yang diberikan ustadz anti-Syiah dengan argumen dan data.

Lalu, saya menjelaskan panjang lebar soal konflik Suriah. Saya tampilkan foto-foto dan video-video untuk memperlihatkan betapa banyak hoax yang tersebar. Saya jelaskan soal geopolitik Timteng. Saya bicara soal perebutan jalur pipa gas. Semua itu saya sampaikan untuk mendukung argumen saya bahwa konflik Suriah bukan konflik antarmazhab.

Anda tahu apa yang terjadi? Si ustadz anti-Syiah mengabaikan sama sekali semua paparan ustadz Syiah dan mengulangi tuduhannya. Jadi misalnya, “Qur’an-nya Syiah itu beda”. Padahal sudah diklarifikasi dengan argumen yang sangat logis, tapi si ustadz kembali mengulangi tuduhannya: “Qur’an-nya Syiah itu beda”.

(lebih…)

Propaganda Kucing dan Bangau ala “Jihadis”

Dulu, di medsos, para petempur ISIS (yang berasal dari negara Barat) mempropagandakan “jihad” dengan memposting foto-foto mereka bersama kucing-kucing lucu. Si kucing ditaruh di sebelah senapan, atau senjata lainnya. Sasarannya gadis-gadis muda di Barat, demi membuat mereka terpesona pada “kegagahan” sekaligus “kelembutan” para teroris itu, lalu mau meninggalkan negara mereka demi bergabung dengan ISIS (sekarang banyak perempuan dari Eropa itu yang berada di kamp penampungan di Suriah setelah ISIS kalah, mereka memohon-mohon supaya boleh pulang).

Demo di Irak dan Relasi Iran-Irak

Hari-hari ini Irak dilanda demonstrasi besar. Isu yang diangkat, tak jauh bedalah dengan isu-isu demo di berbagai negara berkembang, yaitu mengecam pemerintah yang dituduh korup, tidak menyediakan lapangan kerja, harga-harga mahal, dan bahkan: memprotes kerjasama Irak dengan China. Mirip ya dengan fenomena di sebuah negara di Asia Tenggara?

Pertanyaannya: mengapa harus bakar-bakaran? Mengapa melakukan perusakan fasilitas umum sehingga akhirnya bentrok dengan aparat? Kelihatan ya, “template” demo-nya? (Baca tulisan saya sebelumnya yang berjudul “template”).

Yang tidak banyak orang tahu: kedutaan besar AS di Baghdad adalah kedutaan yang terbesar yang dimiliki AS di seluruh dunia. Luasnya 42 hektar, dengan staf lebih dari 16.000 orang, termasuk 2000-an diplomat asli AS. Belum kalau dihitung “aktivis” dari berbagai negara asing (setahu saya, dulu juga ada tuh orang Indonesia), yang bebas keluar masuk Irak, blusukan kemana-mana. Yang tidak banyak orang tahu juga: massa diprovokasi melalui medsos, 79% cuitan seruan demo berasal dari Arab Saudi. Tentu media massa Barat tak ketinggalan memanaskan situasi.

(lebih…)

Demokrasi, Palestina, dan Para Pecundang di Indonesia

  Tanggal 21-22 Mei lalu, kita menyaksikan amuk massa para pecundang. Mereka mengklaim sedang berdemokrasi dan melakukan aksi ‘damai’, tapi melanggar aturan dan melakukan aksi-aksi brutal. Aparat yang memang bertugas menjaga ketertiban, disalahkan dan disebut melanggar HAM dan membungkam demokrasi.

Apakah demokrasi bermakna ‘boleh melakukan apa saja dan berkata apa saja’? Orang waras akan menjawab TIDAK. Kebebasan kita akan selalu dihalangi oleh kebebasan orang lain, sehingga lahirlah aturan.

Demokrasi memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk berserikat dan berkumpul. Tetapi, ada aturannya: jam demo, tidak menggunakan kekerasan, tidak merusak properti orang lain. Para pelanggar aturan ini wajib dihukum (dalangnya apalagi, lebih wajib lagi ditangkap dan diajukan ke pengadilan). Ini sungguh sesuatu yang logis.

(lebih…)

Imam Palestina

Sejak sebelum Ramadhan, saya mendapat kiriman beberapa e-flyer tentang kedatangan “imam dari Palestina”. Mereka didatangkan oleh lembaga-lembaga amal yang memang sudah biasa menggalang dana untuk Palestina.

Solidaritas global kaum Muslim untuk membantu Palestina sudah dimulai sejak puluhan tahun yang lalu. Di Indonesia, tahun 1938 (saat itu bahkan kita belum merdeka), dalam Muktamar NU ke-13 (12-15 Juli) di Banten, KH Abdul Wahab Chasbullah sudah menyerukan penggalangan bantuan untuk Palestina. Saat itu, Palestina berada di bawah penjajahan Inggris.

Inggris angkat kaki dari Palestina pada 14 Mei 1948 dan di hari yang sama komunitas Zionis mendeklarasikan berdirinya Israel. Persiapan pendirian Israel sudah dimulai jauh hari. Tahun 1917, Menlu Inggris Lord Balfour, sudah menjanjikan kepada pemimpin komunitas Yahudi Inggris, Lord Rothschild bahwa Inggris akan mendirikan negara (“a national home for Jewish people”). (lebih…)

Reportase Saya dari Iran, Soal Hezbollah

Pagi-pagi baca postingan di Fanpage Felix Irianto Winardi membuat saya teringat pada arsip tulisan lama saya. Romo Felix menulis apa saja kunci kemenangan Hez lawan Israel selama ini (https://www.facebook.com/felix.irianto.winardi/posts/368004823955639).

Tahun 2006, saya menulis ‘laporan pandangan mata’ dari Iran, karena saat Perang 34 Hari Hez vs Israel berlangsung, saya sedang berada di Iran, bekerja sebagai jurnalis di IRIB.

***

Menatap Wajah Hezbollah dari Iran (Dina Sulaeman, dimuat di Padang Ekspres, 3 Agustus 2006)

Sejak meletusnya perang di Lebanon, suasana perang amat terasa di Iran, terutama jika kita banyak menonton televisi. Betapa tidak, tiap sebentar diputar filler (film pendek) berisi adegan-adegan perang, dilatarbelakangi lagu-lagu heroik berbahasa Arab. Pidato Sayid Hasan Nasrallah, pemimpin Hezbollah Lebanon, yang berisi ancaman-ancaman terhadap Israel disiarkan live atau siaran tunda. Laporan-laporan reporter televisi Iran disampaikan secara live dari Lebanon, bahkan ada reporter yang melaporkan kondisi terakhir dengan diiringi suara bom beruntutan dan asap hitam di belakang punggungnya. Setiap hari, berita channel satu pukul sembilan malam akan dimulai dengan kalimat, “Perjuangan hari kesekian (ketiga.. ke sembilan..ke duapuluh)…” lalu mengabarkan kondisi terbaru di medan perang.

(lebih…)

Suriah dan Orang-Orang Prancis

Kerusuhan di Prancis yang sudah berlangsung sekitar 3 pekan memunculkan deja vu bagi orang-orang yang intens mengamati Perang Suriah; bisa terlihat di berbagai komentar netizen [umumnya yang dari Barat/Timteng] di Twitter.

Rana Harbi, selebtwit cantik dari Lebanon menulis, “Bayangkan bila beberapa negara memutuskan mengirimkan senjata senilai miliaran [dollar] kepada para demonstran di Prancis, memaksakan berbagai sanksi [terhadap pemerintah Perancis], dan membantu semua kelompok antipemerintah; termasuk kelompok-kelompok dengan ideologi ekstrim; lalu membuat koalisi untuk mengebom Prancis. Keterlaluan? Nah, itulah yang sedang terjadi di Suriah sejak 2011!”

Seseorang entah siapa, membuat akun bernama ‘Benoite Abedoux’ [plesetan dari selebtiwit cilik asal Suriah, Bana Al Abed]. Isi tweet-nya bikin saya tertawa miris; mirip sekali dengan apa yang selama ini dicuit oleh Bana yang mengaku berada di Aleppo timur.

(lebih…)