Kajian Timur Tengah

Beranda » Inggris

Category Archives: Inggris

Iklan

Demokrasi, Palestina, dan Para Pecundang di Indonesia

  Tanggal 21-22 Mei lalu, kita menyaksikan amuk massa para pecundang. Mereka mengklaim sedang berdemokrasi dan melakukan aksi ‘damai’, tapi melanggar aturan dan melakukan aksi-aksi brutal. Aparat yang memang bertugas menjaga ketertiban, disalahkan dan disebut melanggar HAM dan membungkam demokrasi.

Apakah demokrasi bermakna ‘boleh melakukan apa saja dan berkata apa saja’? Orang waras akan menjawab TIDAK. Kebebasan kita akan selalu dihalangi oleh kebebasan orang lain, sehingga lahirlah aturan.

Demokrasi memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk berserikat dan berkumpul. Tetapi, ada aturannya: jam demo, tidak menggunakan kekerasan, tidak merusak properti orang lain. Para pelanggar aturan ini wajib dihukum (dalangnya apalagi, lebih wajib lagi ditangkap dan diajukan ke pengadilan). Ini sungguh sesuatu yang logis.

(lebih…)

Iklan

Imam Palestina

Sejak sebelum Ramadhan, saya mendapat kiriman beberapa e-flyer tentang kedatangan “imam dari Palestina”. Mereka didatangkan oleh lembaga-lembaga amal yang memang sudah biasa menggalang dana untuk Palestina.

Solidaritas global kaum Muslim untuk membantu Palestina sudah dimulai sejak puluhan tahun yang lalu. Di Indonesia, tahun 1938 (saat itu bahkan kita belum merdeka), dalam Muktamar NU ke-13 (12-15 Juli) di Banten, KH Abdul Wahab Chasbullah sudah menyerukan penggalangan bantuan untuk Palestina. Saat itu, Palestina berada di bawah penjajahan Inggris.

Inggris angkat kaki dari Palestina pada 14 Mei 1948 dan di hari yang sama komunitas Zionis mendeklarasikan berdirinya Israel. Persiapan pendirian Israel sudah dimulai jauh hari. Tahun 1917, Menlu Inggris Lord Balfour, sudah menjanjikan kepada pemimpin komunitas Yahudi Inggris, Lord Rothschild bahwa Inggris akan mendirikan negara (“a national home for Jewish people”). (lebih…)

Reportase Saya dari Iran, Soal Hezbollah

Pagi-pagi baca postingan di Fanpage Felix Irianto Winardi membuat saya teringat pada arsip tulisan lama saya. Romo Felix menulis apa saja kunci kemenangan Hez lawan Israel selama ini (https://www.facebook.com/felix.irianto.winardi/posts/368004823955639).

Tahun 2006, saya menulis ‘laporan pandangan mata’ dari Iran, karena saat Perang 34 Hari Hez vs Israel berlangsung, saya sedang berada di Iran, bekerja sebagai jurnalis di IRIB.

***

Menatap Wajah Hezbollah dari Iran (Dina Sulaeman, dimuat di Padang Ekspres, 3 Agustus 2006)

Sejak meletusnya perang di Lebanon, suasana perang amat terasa di Iran, terutama jika kita banyak menonton televisi. Betapa tidak, tiap sebentar diputar filler (film pendek) berisi adegan-adegan perang, dilatarbelakangi lagu-lagu heroik berbahasa Arab. Pidato Sayid Hasan Nasrallah, pemimpin Hezbollah Lebanon, yang berisi ancaman-ancaman terhadap Israel disiarkan live atau siaran tunda. Laporan-laporan reporter televisi Iran disampaikan secara live dari Lebanon, bahkan ada reporter yang melaporkan kondisi terakhir dengan diiringi suara bom beruntutan dan asap hitam di belakang punggungnya. Setiap hari, berita channel satu pukul sembilan malam akan dimulai dengan kalimat, “Perjuangan hari kesekian (ketiga.. ke sembilan..ke duapuluh)…” lalu mengabarkan kondisi terbaru di medan perang.

(lebih…)

Suriah dan Orang-Orang Prancis

Kerusuhan di Prancis yang sudah berlangsung sekitar 3 pekan memunculkan deja vu bagi orang-orang yang intens mengamati Perang Suriah; bisa terlihat di berbagai komentar netizen [umumnya yang dari Barat/Timteng] di Twitter.

Rana Harbi, selebtwit cantik dari Lebanon menulis, “Bayangkan bila beberapa negara memutuskan mengirimkan senjata senilai miliaran [dollar] kepada para demonstran di Prancis, memaksakan berbagai sanksi [terhadap pemerintah Perancis], dan membantu semua kelompok antipemerintah; termasuk kelompok-kelompok dengan ideologi ekstrim; lalu membuat koalisi untuk mengebom Prancis. Keterlaluan? Nah, itulah yang sedang terjadi di Suriah sejak 2011!”

Seseorang entah siapa, membuat akun bernama ‘Benoite Abedoux’ [plesetan dari selebtiwit cilik asal Suriah, Bana Al Abed]. Isi tweet-nya bikin saya tertawa miris; mirip sekali dengan apa yang selama ini dicuit oleh Bana yang mengaku berada di Aleppo timur.

(lebih…)

Apakah Dubes Saudi Perlu Diusir?

Kasus cuitan Dubes Saudi untuk Indonesia, Osamah Al Shuaibi, kebetulan saya ikuti sejak awal, sebelum viral. Dia mencuit hari Minggu, sekitar jam 14, lalu diomel-omeli oleh beberapa pengguna twitter yang paham bahasa Arab. Sekitar jam 21 malam, saya cek lagi, cuitannya sudah dihapus. Tentu saja, sudah ada yang ambil screenshot-nya. Besoknya, mulai ramai yang berkomentar berdasarkan SS tersebut.

Berikut ini komentar saya:

1. Dubes Osama mungkin saja kepleset nge-tweet (menyebut Banser sebagai ‘organisasi sesat’) lalu segera dihapus setelah sadar konsekuensinya. Tapi kalaupun kepleset, itu menunjukkan bahwa sang Dubes (dan rezim Saud) memang memandang negatif pada Banser&NU.

Mengapa? Kalau dilihat dari sejarahnya, NU dulu didirikan dengan tujuan melawan Wahabisme Saudi. Selama ini pun, ormas yang paling depan melawan ormas-ormas Wahabi adalah NU.

Mengapa Wahabi harus dilawan? Contoh kasusnya: perang di Suriah selama 7 tahun adalah karena para penganut ideologi Wahabi akut rame-rame angkat senjata. Mereka disponsori dana dan senjata oleh Saudi, Qatar, AS, Inggris, dll.

(lebih…)

Islam dan Terorisme Menurut Karen Amstrong

Setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, saya selalu teringat pada Karen Amstrong, penulis asal Inggris, yang telah menulis banyak buku tentang tentang sejarah agama. Saya sangat terkesan berjumpa dengannya, mendengarkan bagaimana ia menceritakan tentang Nabi Muhammad dengan sangat indah.

Dalam kuliah umum (dan promo bukunya, “Compassion”) di Univ. Paramadina Jakarta (2013), antara lain Karen bercerita, kisah favoritnya adalah kisah perjanjian Hudaibiyah. Saat itu, Rasulullah mengajak umatnya di Madinah untuk berhaji ke Makkah, tanpa membawa senjata. Bagaimana mungkin perjalanan menuju markas musuh dilakukan tanpa membawa senjata untuk membela diri? Tapi itulah yang dilakukan oleh Rasulullah yang memang selalu membawa pesan cinta dalam setiap langkahnya.

Lalu, ketika orang-orang Makkah menghalangi masuknya rombongan haji ke Makkah, dilakukanlah negosiasi dan ditandatanganilah Perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian ini sangat luar biasa dari sisi compassion dan menunjukkan betapa Nabi Muhammad adalah sosok yang sangat welas asih dan telah melepaskan egonya secara total. Beliau sendiri yang mencoret kata ‘Rasulullah’ dalam naskah perjanjian itu, karena negosiator dari Makkah menolak adanya kata itu.

(lebih…)

Bendera Itu (Lagi)

Cuma mau ikut komen soal kejadian terbaru yang menghebohkan itu. Pakai logika sederhana aja: kalau itu bendera umat Islam secara umum, tentu ga akan ada masalah ya? Siapapun bebas mengibarkannya, apalagi di negara-negara mayoritas Muslim.

Tapi ketika ada kejadian: ada orang (siapapun itu) yang memasangnya di dinding rumah, di sebuah negara Islam, lalu datang aparat untuk menangkap si penghuni rumah akibat keberadaan bendera itu, ARTINYA: itu bendera ormas/kelompok tertentu yang tidak direstui pemerintah setempat.

Gitu aja kok ruwet mikirnya, ya?

Untuk yang suka baca paper, ini ada paper yang meneliti seluk-beluk kiprah Hizb Tahrir. Di dalamnya ada paragraf menarik tentang seseorang bernama Omar Bakri Muhammad. Ini saya terjemahin ya. Kata-kata di dalam […] adalah tambahan dari saya.

(lebih…)

Panggilan “JIhad”, Kali Ini ke Poso

Beberapa hari yang lalu, akun Syria News memposting foto orang ini, diberi caption (ini terjemahannya): “Abu Walid Indonesian (Mohamed Karim Fayez). Saat ini dia adalah Emir ISIS di Indonesia timur. Note: Tangannya berlumuran darah warga Suriah dan Irak.”

Baru saja saya menemukan poster ini, sumber dari akun Twitter TRACterrorism.org. Poster ini berbahasa Inggris, “Join us in Poso region” (bergabunglah dengan kami di Poso). Lalu ada kutipan ayat Quran tanpa terjemahan. Artinya: seruan ini adalah untuk orang-orang di luar sana yang berbahasa Inggris dan Arab.

Bila sebelumnya orang-orang radikal dari berbagai negara diseru untuk “berjihad” ke Suriah dan Irak, kini mereka diseru untuk datang ke Poso.

Orang biasa seperti kita, tidak bisa berbuat apa-apa. Ini tugas pemerintah, TNI, Polri. Semoga saja mereka bisa melindungi kita warga sipil Indonesia dan NKRI. Untuk deradikalisasi (menyembuhkan orang-orang yang sudah terlanjur teradikalisasi) juga perlu ilmu khusus.

(lebih…)

Trump, Saudi, dan Gerakan ‘Ganti Presiden’ di Indonesia

Trump baru-baru ini berpidato, “AS yang melindungi Saudi selama ini. Kalau saja tidak ada AS, hanya dua minggu, sudah tumbang itu kerajaan! Jadi saya bilang ke King Salman, ‘King! Anda harus bayar perlindungan ini!’”

Buat sebagian fesbuker pengamat Timteng, pidato Trump ini hanya membuka kedok. Selama ini kita juga tahu bahwa AS adalah ‘centeng’-nya Saudi. Tapi, fakta ini ditutupi oleh gaya diplomatis presiden-presiden AS sebelumnya. Sementara Trump, justru fakta ini dipakai untuk menyombongkan dirinya.

Yang perlu dicatat di sini: mengapa Saudi bisa runtuh hanya dua pekan kalau saja tidak ada AS? Mudah sekali jawabannya, rezim Bani Saud yang bercorak monarkhi ini memang didirikan atas bantuan Barat. Lebih dari itu, sejarah mencatat betapa pembentukan rezim ini diwarnai dengan proses penaklukan dan peperangan. Selama 3 tahun terakhir rezim ini pun dengan berdarah dingin membantai warga Yaman dan memblokade mereka sehingga menderita wabah kelaparan dan kolera yang parah.

Selama era Perang Dunia I, Inggris memberikan senjata dan uang kepada klan Saud (untuk membantu Inggris melawan Ottoman), lalu pada 1915 Inggris mengakui klan Saud sebagai pemimpin di provinsi Nejed. Saat itu, Bani Saud menerima £5,000 per bulan dari Inggris.

(lebih…)

Hoax Demi Kekuasaan

Denny Siregar baru-baru ini menulis soal Nayirah, gadis 15 tahun yang mengaku sebagai perawat di Kuwait. Dengan sangat meyakinkan, ia menangis menceritakan betapa bayi-bayi dikeluarkan dari inkubator, lalu dibuang ke lantai. Presiden AS saat itu, Bush sr. mengutip ‘kesaksian’ Nayirah berkali-kali dalam pidatonya, sampai akhirnya Kongres menyetujui dimulainya Perang Teluk I.

Sekitar setahun kemudian, ketika semua sudah terlanjur, ketika ratusan ribu nyawa melayang akibat bom AS, baru ketahuan siapa sebenarnya Nayirah. Ia ternyata putri Dubes Kuwait untuk AS. Skenario kesaksiannya dirancang oleh sebuah perusahaan Public Relation besar dan mahal, Hill & Knowlton. [1]

Akting Nayirah bukan satu-satunya kebohongan yang dipakai para kapitalis perang selama ini. Perang Suriah juga menampilkan banyak aktor/aktris yang berbohong.

Saya sudah berkali-kali menulis soal hoax White Helmets. Ada pula aktris cilik, Bana Al Abed. Dia disebut Tempo sebagai ‘Anne Frank dari Suriah’. Saya pun menulis surat kritik kepada redaktur Tempo, ini saya copas sebagian:

(lebih…)