Kajian Timur Tengah

Beranda » Irak

Category Archives: Irak

China Daily tentang perkembangan terbaru Saudi-Iran(mengutip pendapat saya)

Pada KTT yang dipimpin Dewan Kerjasama Teluk baru-baru ini di Jeddah, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal Bin Farhan mengatakan kepada wartawan bahwa pembicaraan antara negaranya dan Iran telah positif, dan bahwa tangan Saudi diperluas ke Iran untuk mencapai hubungan normal.

Dan, “Irak memiliki peran penting dan mendasar dalam mendorong negosiasi ke depan dengan cara yang membuat kami dapat melanjutkan pembicaraan ini,” menteri luar negeri Saudi seperti dikutip oleh Rudaw, sebuah kelompok media di Wilayah Kurdistan Irak.

Dina Yulianti Sulaeman, direktur Indonesia Center for Middle East Studies, mengatakan kepada China Daily bahwa para pemimpin Saudi kali ini “bersikap lebih rasional” karena mereka menyadari bahwa kekuatan hegemonik Amerika Serikat tidak lagi berfungsi sebaik “sebelumnya”.

Selengkapnya:

https://www.chinadailyhk.com/article/282110?fbclid=IwAR3R3ZJmsBP3thj-qF2E0YbOwGUhIWKDvatKXQ6W-CBQyvNXg1iTCbPNjKw#Saudi-Iran-pragmatic-talks-seen-good-for-region

Upaya Penggulingan Rezim di Venezuela, Suriah, dan Iran

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/1812391585926100

Sebenarnya, sudah banyak yang tahu bahwa AS melakukan operasi penggulingan rezim di berbagai penjuru bumi. Sudah sangat banyak buku, report, paper, dan artikel membahas hal ini. Indonesia pun pernah mengalaminya (era Presiden Sukarno).

Tapi, baru-baru ini, kudeta yang didalangi AS kembali ramai dibahas publik. Pasalnya, 13 Juli yll, seorang mantan pejabat tinggi AS mengakui di wawancara live dengan CNN bahwa AS memang mendalangi kudeta di banyak negara.

Namanya John Robert Bolton (lahir 20 November 1948). Dia pernah jadi orang penting di berbagai era kepresidenan AS. Tahun 1985-1989, ia menjabat sebagai Asisten Jaksa Agung Amerika Serikat era Presiden Reagan. Dia menjadi Duta Besar AS untuk PBB 2005-2006 (era Bush). Sebelumnya, tahun 2001-2005, ia menjadi Wakil Menteri Luar Negeri untuk Pengendalian Senjata dan Urusan Keamanan Internasional. Bolton adalah salah satu arsitek Perang Irak. Ingat, invasi Presiden Bush ke Irak yang akhirnya menggulingkan Saddam Hussein diluncurkan tahun 2003.

(lebih…)

George W. Bush “Mengakui” Kejahatannya

Mantan Presiden AS, George W Bush, dalam sebuah pidatonya mengatakan, “Rusia telah melakukan invasi yang sepenuhnya tidak dapat dibenarkan dan brutal ke IRAK.”

Yang dia maksud tentu saja Ukraina. Bush salah bicara, lalu ia pun mengoreksi, “Maksud saya.. Ukraina..” Tapi kemudian, ia seolah bercanda, “Irak juga…”

Lalu, hadirin di ruangan itu tertawa.

Benar-benar orang-orang yang tidak punya hati nurani.

(lebih…)

Pembunuhan Demi Demokrasi

https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/289616323275797

Madeleine Albright, mantan Menlu AS, meninggal kemarin (23/3). Ingatan tentang 500.000 anak-anak Irak yang tewas di “tangan”-nya pun kembali.

Bisa disimak di video, Albright (saat itu menjadi Dubes AS di PBB) ditanya wartawan, apakah setimpal, atau layak, mengorbankan nyawa 500.000 nyawa anak-anak itu? Ini bahkan lebih banyak daripada anak-anak yang tewas akibat bom Hiroshima.

Albright menjawab: ya setimpal, tujuannya kan supaya Saddam Hussein tidak lagi jadi ancaman.

Ancaman bagi apa? Ancaman bagi demokrasi liberal. Inilah ideologi dasar AS yang “dijual” ke berbagai penjuru dunia, dan kalau perlu, gulingkan rezim-rezim di seluruh dunia demi agar mereka menjadi rezim yang demokrasi-liberal.

(lebih…)

Dubes Ukraina, Apa Anda Paham Etika Diplomasi?

Meskipun saya menyatakan ketidaksetujuan kepada Kemenlu karena memilih mendukung resolusi anti-Rusia dalam Sidang Umum PBB (saya bilang: abstain lebih tepat) saya tetap akan membela pemerintah kalau ada negara lain bersikap tidak sopan pada pemerintah. Karena pemerintah adalah “orang tua” dari bangsa ini. Kita berhak mengkritik ortu, tapi dengan alasan yang benar dan cara yang sopan. Tapi kalau ortu kita dihina orang lain, pastilah kita bela. Ya kan?

Jadi begini ceritanya, ternyata, Dubes Ukraina di Jakarta mengirim surat terbuka kepada Presiden Jokowi. Surat itu, menurut saya, telah melanggar ETIKA DIPLOMASI. Kalau pun mau menulis surat, kirim saja lewat jalur diplomatik, bukan surat terbuka.

Selain itu, dalam surat ini terlihat sekali nada “white supremacist”-nya, yaitu nada “merasa lebih tinggi” daripada kulit berwarna, merasa berhak mengajari seorang presiden di sebuah negara sebesar Indonesia.

Berikut ini saya komentari beberapa bagian.

(lebih…)

Ukraina adalah Suriah yang Lain (2)

Bagian ini sebenarnya adalah copas dari tulisan saya tahun 2014 yang judulnya “L’Ukraine est une autre Syrie” (Ukraina adalah Suriah yang Lain). Memahami peristiwa 2014 penting untuk mengikuti apa yang terjadi hari ini.

Kerusuhan di Ukraina (2014) terlihat jelas menggunakan template atau cetakan yang sama dengan Suriah. L’Ukraine est une autre Syrie. Ukraina adalah Suriah yang lain.

Kehadiran tokoh Zionis-Prancis, Bernard-Henri Levy, di depan lautan manusia yang memenuhi Maidan –singkatan dari Maidan Nezalezhnosti atau Lapangan Kemerdekaan—di Kiev, menjadi simbol utama kesamaan template itu. Levy adalah seorang makelar perang. Dia dulu memprovokasi masyarakat Barat untuk ‘membantu’ rakyat Suriah menggulingkan Assad (sebelumnya, juga hadir di Libya, di depan para demonstran anti-Qaddafi).

Kini di Kiev, dia berpidato berapi-api, menyeru rakyat Ukraina, “Les gens de Maidan, vous avez un rêve qui vous unit. Votre rêve est l’Europe!” (wahai orang-orang Maidan, kalian punya mimpi yang mempersatukan kalian. Mimpi kalian adalah Eropa!)

(lebih…)

Kumpulan tweet pagi gini: Biden salah ngomong

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/317998080284417

(1) Biden, presiden super power dunia, kesulitan mengingat, negara mana yang sudah/sedang dikacaukannya: “And there is no way we were ever going to unite Ukraine…I mean excuse me Iraq…Afghanistan.”

(2) Yang dia maksud adalah “tidak ada jalan bagi AS untuk mempersatukan Afghanistan.” “Kecelakaan” bicara ini sebenarnya menunjukkan beberapa hal: a) telah terlalu banyak negara yang dicampuri urusannya oleh AS, sampai si presiden di lupa, nama negara yang dimaksudnya.

(3) b) AS, negara “kampiun demokrasi”, yang menebar perang di sana-sini, menebar dana di sana-sana utk NGO, dg alasan “menegakkan demokrasi”, ternyata tidak mampu memilih presiden yang sehat di antara 330 jt rakyatnya.

(4) ini menunjukkan bahwa demokrasi di AS adalah demokrasi yang lumpuh, yang bermain adalah kekuatan uang raksasa, yang digelontorkan perusahaan senjata, minyak, dll. Dengan uang mereka bisa mengatur siapa yang terpilih sbg presiden.

(5) Kalaupun yang menang partai sebelah, kondisi tak jauh berbeda. Baik Republik maupun Demokrat keduanya sama saja, para presidennya tetap gila perang, demi mencari profit bagi perusahaan senjata dan migas.

(6) 5 perusahaan senjata terbesar mengeluarkan dana utk lobby politik thn 2020: Lockheed Martin, Boeing, Northrop Grumman, Raytheon Technologies, dan General Dynamics, total $60 juta. Menurut data dari OpenSecrets, Biden saat kampanye pilpres menerima jutaan usd dari mrk.

Follow twitter saya: @dina_sulaeman

Kisah Seorang Lelaki Penumpas ISIS

Lelaki ini tidak bisa disebut namanya karena algoritma Facebook hari-hari terakhir ini sepertinya disetel untuk memblokir akun-akun yang menyebut namanya.

Mengapa mereka sedemikian takut pada lelaki ini, sehingga segala upaya dilakukan agar namanya hilang dari ingatan publik? Nanti saya ceritakan.

Dini hari, hari ini, tanggal 3 Januari, 2 tahun yang lalu, lelaki ini dan sahabatnya, serta para pengawal mereka, dibunuh oleh militer AS. Presiden Trump secara terbuka mengakui bahwa dia menginstruksikan pembunuhan itu. Sedemikian besarkah pengaruh si lelaki ini di Timur Tengah sehingga pembunuhan atasnya dilakukan secara “resmi” oleh AS? Apa yang sudah dilakukannya?

(lebih…)

“Model Kerja Sama Pemerintah/Militer AS dengan Pebisnis: dari Timteng sampai Indonesia”

Kekuatan resistensi (perlawanan) telah menyerang pangkalan militer AS di Al-Tanaf (Suriah) (25/11). Pangkalan militer ini ilegal karena tidak diizinkan oleh pemerintah Suriah. Ini adalah kali pertama kali al Tanaf diserang secara langsung. Jubir Pentagon mengatakan, drone yang dipakai adalah buatan Iran tapi tidak diluncurkan dari Iran. Jubir Pentagon juga menyebut AS berhak “membela diri” tapi belum merencanakan pembalasan. (Bagaimana mungkin AS, yang secara ilegal menduduki Suriah, bicara soal “membela diri”?)

Serangan di Al Tanaf Itu terjadi hanya beberapa hari setelah pesawat tempur Israel, terbang dari arah pangkalan Amerika itu, mengebom Suriah, menyebabkan 1 tentara Suriah tewas dan melukai 3 lainnya. Kemudian, ada serangan teroris di Damaskus, yaitu bom yang ditempelkan ke bis militer (20/11). Korban tewas 14 personel militer Suriah. Tidak ada milisi teror yang mengaku sebagai pelaku, dan karena ini bukan bom bunuh diri ala “jihadis”, kemungkinan besar agen Israel pelakunya.

(lebih…)

Hajj and the struggle against the apartheid regime of Israel

TEHRAN- One of the messages of Hajj is to fight racism. Everyone who performs Hajj must perform tawaf and sa’i. During tawaf, a pilgrim must also circle the tomb of Sayidah Hajar, which is attached to one part of the Kaaba. Then, he or she must perform sa’i, to run back and forth, from Safa to Marwah. 

Sa’i is a Hajj ritual that imitates what Hajar did. Who is Hajar? She was a black slave who was married to Prophet Ibrahim. In the sight of Allah, even a black slave woman turned out to have a very noble degree. Allah says the noblest among humans is the most pious, not the richest, or a specific gender or race. Therefore, Muslims should fight racism in this world. One nation that is still a victim of racism is the Palestinian nation. Palestine is colonized by the Zionist-Israel group, who claimed to be nobler and had the right to carry out occupation and various crimes against humanity against the Palestinian people.

In April 2021, Human Rights Watch issued a report describing Israel as committing apartheid and persecution towards the Palestinian people. Israel formally implemented an apartheid system of government that separated social, economic, and political life based on race. The Israeli Jews get far more special rights and facilities than Palestinians.
The legal term “apartheid” has long been used by observers, writers, or diplomats who support the Palestinian cause. The 1973 International Convention on the Suppression and Punishment of the Crime of Apartheid and the 1998 Rome Statute for the International Criminal Court (ICC) define apartheid as a crime against humanity as consisting of three main elements: the intention to maintain the dominance of one racial group over another; systematic oppression by dominant groups over marginalized groups; and inhuman actions (HRW, 2021). 

(lebih…)