Kajian Timur Tengah

Beranda » Irak (Laman 2)

Category Archives: Irak

Iklan

Deskripsi Kebrutalan ISIS

Baiat terhadap ISIS, di Syahida Inn UIN Ciputat, Jakarta, Juli 2014

Baiat terhadap ISIS, di Syahida Inn UIN Ciputat, Jakarta, Juli 2014

Saya menemukan kalimat-kalimat yang dengan tepat mendeskripsikan seperti apa kebrutalan ISIS, berikut ini:

“Binatang buas bernama ISIS yang tidak membedakan antara kawan, lawan dan mitra seperjanjian adalah ancaman bagi semua. Dalam sejarah tidak ada yang menyerupai kekejaman ISIS. Mereka mengubur anak-anak kecil dan kaum wanita Yazidi. Entah bagaimana mereka bisa sedemikian kejam. Lihatlah aksi mereka di Suriah dan Irak, mereka membunuh semua orang. Ada yang beranggapan bahwa di Irak terjadi perang Syiah-Sunni. Berapa jumlah Syiah di Salahuddin dan Nineveh, sedangkan ISIS telah menghancurkan semua masjid dan membabat para pemuka agama komunitas-komunitas adat Ahlussunnah yang enggan membaiat mereka?”

“ISIS tak kenal belas kasih kepada Sunni, Syiah, Kristen, Yazidi dan lain-lain. Mana ada logika agama yang membolehkan penjebakan dan pengepungan puluhan ribu orang ke gunung supaya mereka mati tercekik kelaparan dan kehausan, apalagi di depan mata khalayak dunia?”

“Bahaya hewan buas yang tidak membedakan umat Islam Syiah dan Sunni serta umat Kristiani, Druze, Yazidi, Arab dan Kurdi ini, kian hari kian berkembang dan membesar. Di Suriah dan Irak memang ada pihak-pihak yang berjuang melawan ISIS, tapi tampaknya fasilitas dan perlengkapan yang telah diberikan kepada mereka sangat banyak dan besar, dan inilah yang membangkitkan kekhawatiran semua orang, dan sudah seharusnya mereka khawatir.”

“Sebagian pemimpin Kurdi beranggapan bahwa ISIS akan berhenti di satu titik dan bukan ancaman bagi wilayah otonomi Kurdistan. Ini terjadi mungkin karena ada jaminan-jaminan tertentu dari ISIS dan para pendukungnya di kawasan. Nyatanya sekarang ISIS sudah berada di kawasan yang berjarak sekitar 30-40 kilometer dari Arbil, dan kitapun lantas mendengar teriakan minta tolong mereka (Kurdi) kepada Amerika, Barat, Iran, Irak dan lain-lain.”

“Karakteristik ISIS antara lain ialah memanfaatkan para penganut faham Wahhabi dan simpatisan al-Qaeda. Karena itu ISIS menarik para anggota Front al-Nusra, terutama dengan imbalan uang Dolar Amerika Serikat, dan tidak ada persoalan antarmereka dari segi ideologi, pemikiran dan perilaku. Perbedaan antara mereka hanya berkenaan dengan masalah kekhalifahan, antara Abu Muhammad al-Julani dan Abu Bakar al-Baghdadi.”

Deskripsi di atas adalah kata-kata Sayid Hasan Nasrallah, Sekjen Hizbullah. Hizbullah telah bertempur langsung melawan ISIS dan kelompok teror-jihad lainnya, di perbatasan Suriah-Lebanon. (Sumber: www.liputanislam.com)

“Sekarang kami berkeyakinan bahwa setiap orang yang berkemampuan harus terlibat dalam perang ini demi membela Lebanon, Suriah, Irak, Palestina dan semua kawasan, serta demi membela umat Islam, Kristen dan penganut agama-agama minoritas. Semua polemik pemikiran, strategis, taktik dan politik harus dikesampingkan, karena sekarang ada sebuah bahaya besar yang sedang melakukan aksi pendudukan, pergerakan dan pembunuhan mengerikan yang tak mengenal ketentuan dan batasan pemikiran, moral, kemanusiaan dan syariat apapun,” kata Nasrallah.

Bila Anda cukup kuat mental untuk melihat foto-foto brutal penjagalan yang dilakukan ISIS, silahkan klik ini

Iklan

Amnesia Kedua: ISIS Adalah Pengalihan Isu Gaza ?!

salah satu individu yang menyebut ISIS adalah pengalihan isu Gaza, masih banyak yang lain

salah satu individu yang menyebut ISIS adalah pengalihan isu Gaza, masih banyak yang lain

Kalian ciptakan narasi baru: ISIS adalah ‘aktor’ baru yang tiba-tiba muncul. Blow-up berita tentang ISIS adalah pengalihan atas isu Gaza. Lihatlah di Gaza, umat Islam sedang berjuang melawan Israel. Tapi kini gara-gara ISIS, Israel bisa semena-mena menggempur Gaza tanpa ada kepedulian dari dunia.

Maaf, saya terpaksa katakan, inilah bentuk amnesia kalian yang lain.

Induk ISIS adalah Al Qaida; Al Qaida muncul sejak 1988 di Afghanistan. Al Qaida menyebar ke berbagai penjuru dunia dengan berbagai nama dan kedok, salah satunya ISIS. Jadi, dalam menganalisis, perhatikan ideologi dan geneologinya, jangan terpaku pada nama. (btw, coba browsing: tokoh politik di Indonesia yang pernah membuat puisi memuja Osama bin Laden).

Lalu, coba ingat, bukankah sudah 66 tahun Israel menjajah bangsa Palestina? Sejak berdiri tahun 1948, Israel terus membunuh, mengusir dari rumah dan tanah; menghancurkan kebun-kebun bangsa Arab-Palestina. Sejak 2005 Israel memblokade Gaza sehingga distribusi orang, barang, jasa sangat terhambat. Warga Gaza seolah berada dalam penjara terbesar di dunia.

Lalu, selama ini, apa yang kalian lakukan untuk membantu Palestina? “Hanya” demo, orasi, penggalangan dana (tentu saja, bantuan dana tetap penting, tapi tidak cukup, ini hanya panadol yang menghilangkan rasa sakit sementara).

Lalu, apa yang dilakukan para jihadis untuk Palestina selama ini? Tidak ada. Mereka justru sibuk meledakkan bom di negeri-negeri muslim.

Ada 3 kekuatan yang riil membantu Palestina (dengan politik, dana, dan senjata) selama ini:

  1. Hizbullah: organisasi militan ini berdiri dengan tujuan melawan Israel (karena Israel dulu juga menjajah wilayah Lebanon selatan) dan menjaga Lebanon agar Israel tidak kembali lagi. Hizbullah bukan tentara resmi Lebanon, sehingga tidak bisa disebut representasi ‘negara’. Backing utama logistik Hizbullah adalah Iran.
  2. Suriah: inilah negara Arab terakhir yang tetap menentang Israel, setelah tumbangnya Saddam. Saddam, meskipun tokoh zalim (terutama terhadap Iran: Saddam memerangi Iran selama 8 tahun, termasuk dengan senjata kimia yang sadis), namun ia menentang Israel. Dia memutus jalur minyak Kirkuk-Haifa yang sebelumnya menjadi urat nadi kehidupan Israel. Begitu Saddam digulingkan AS, minyak itu kembali mengalir bebas. Sedangkan Suriah memberikan perlindungan kepada tokoh-tokoh Hamas, menampung para pengungsi Palestina. UNHCR menyebut Suriah sebagai negara yang memberikan pelayanan terbaik di antara semua negara-negara Arab lain. Pengungsi Palestina diperlakukan sama dengan warga asli Suriah. Suriah adalah negara sosialis yang memberikan layanan kesehatan dan sekolah gratis, serta subsidi berbagai bahan pokok. Suriah juga menyuplai bantuan senjata kepada Hamas. Salah satu buktinya, dalam perang tahun ini, Hamas ketahuan menggunakan roket M302 Khaibar dari Suriah.
  3. Iran: selain menyuplai dana segar untuk Hamas secara rutin (digunakan untuk menjalankan roda pemerintahan), Iran juga menyuplai senjata dan teknologi militer. Salah satu buktinya: Hamas menggunakan roket Fajr 5 yang dibuat Iran.

Lalu, apa yang dilakukan ISIS (dan para kelompok mujahidin lain dengan berbagai ‘nama’, tapi jika dilihat ideologi dan geneologinya, mereka sama saja) selama ini?

  1. Mereka justru memorak-porandakan Suriah. Pembantaian dengan cara sangat barbar (kepala digorok, dipanggang, ditendang-tendang bak bola, memakan jantung mayat) yang dilakukan ISIS bukan hanya terhadap muslim Syiah, tetapi juga muslim Sunni (termasuk ulamanya, seperti Syekh Buthi), dan Kristen (termasuk dengan menancapkan salib ke dalam mulut jasad Kristen).
  2. Di Irak, pasca Saddam mereka melakukan berbagai pemboman dan pembunuhan atas dasar mazhab untuk adu-domba. Kehadiran mereka membuat Irak tak pernah berhenti bergolak (dan minyak Irak tetap leluasa mengalir ke Israel). Dan kebrutalan ISIS di Irak-lah yang kini membuat dunia terperangah. Bagaimana mungkin ada manusia (mengaku muslim pula) melakukan kejahatan masif sedemikian sadis dan brutal?
  3. Di Lebanon, dalam perang Gaza tahun ini, ketika Hizbullah sudah ancang-ancang membantu Gaza (dan sudah meluncurkan roket-roketnya ke wilayah Israel), justru Al Nusra (organisasi teror ‘keturunan Al Qaida juga) menyerang Hizbullah.
  4. Target utama ISIS (dan organisasi teror sejenis) adalah Iran (selama ini  narasi yang mereka ungkapkan sebagai landasan perjuangan adalah :melawan rezim Syiah; bahkan menyebut Iran sebagai sekutu Israel, karena itu Iran harus dilawan). Iran memang belum tersentuh, tetapi berbagai kepentingan Iran di luar negeri sudah kena, antara lain pengeboman kedubes Iran di Lebanon. Iran ‘diganggu’ melalui tekanan politik dan embargo oleh Barat dan Israel.

Intinya, kekuatan-kekuatan yang memback-up pejuang Gaza untuk melawan Israel justru diganggu dengan sangat dahsyat oleh ISIS.

Jadi, siapa yang ‘mengalihkan’ siapa?

Think!

Baca:

Amnesia-nya Pendukung ISIS

Amnesia Ketiga: Mereka yang Mendadak Anti-Hoax

Ternyata, ISIS yang Menculik Tiga Remaja Israel Itu

three-boys

tiga warga Israel yang terbunuh (sumber: times of israel)

Riuhnya urusan pilpres di Indonesia membuat banyak pihak lupa pada nasib Palestina. Padahal, seperti berkali-kali saya tulis di blog ini, membela Palestina pada dasarnya membela ‘kita’.Israel ‘hidup’ hingga hari ini, mampu melanjutkan kejahatannya di Palestina, tak pernah bisa diajak bernegosiasi secara adil demi kehidupan damai di Palestina, berkat suplai uang dari seluruh dunia, melalui perusahaan-perusahaan transnasional (terutama minyak dan gas) yang dikuasai oleh orang-orang kaya Zionis. Demi meraup uang sebanyak-banyaknya, mereka berbuat makar di berbagai penjuru dunia lewat aktivitas ekonomi kotornya. Ini membuat Gilad Atzmon (penulis Yahudi yang gigih mengkritik Israel dan Zionisme) menyimpulkan, “Kita semua ini adalah bangsa Palestina dan kita memiliki satu musuh yang sama (yaitu Israel)”

Saya juga pernah menulis bahwa pola ‘jihad’ kelompok-kelompok radikal Islam ternyata bersesuaian dengan agenda Israel. Mereka justru   memorak-porandakan negara-negara yang memang ingin dipecah-pecah menjadi negara-negara kecil oleh Israel. Agenda Israel itu bisa dibaca dalam dokumen The Oded Yinon’s Plan.

Sejak Juni lalu, Israel meningkatkan serangannya terhadap Palestina. Alasan yang dipakai Israel: untuk mencari tiga warga Yahudi hilang di dekat Al-Khalil (Hebron) di bagian selatan Tepi Barat pada Kamis (12/6).  Israel menuduh HAMAS terlibat dalam penculikan tersebut sehingga militernya melancarkan operasi di Gaza dan Tepi Barat, dan menangkap lebih dari 600 orang Palestina, termasuk anggota parlemen, mantan tahanan dan pemimpin masyarakat. Mereka menggeledah setiap rumah bahkan hingga ke pemakaman dan saluran air. Padahal, baik Hamas maupun Fatah menolak mentah-mentah tuduhan ini.

Dan, siapakah ternyata penculik dan pembunuh ketiga warga Israel? Tak lain, organisasi teror ‘cabang’ ISIS. Lagi-lagi aksi mereka sesuai dengan pola sebelumnya di Suriah dan Irak: membuka jalan masuk bagi Israel. Di Suriah, kehadiran Front Al Nusra dan ISIS (keduanya ‘anak kandung Al Qaida, namun akhirnya berseteru satu sama lain), telah melemahkan pemerintahan Assad, satu-satunya negara Arab yang menolak berdamai dengan Israel (dan bahkan penjadi tuan rumah terbaik bagi para pengungsi Palestina, baca: Syria: Prahara di Negeri Pengungsi). Di Irak, perpecahan antar suku dan mazhab yang dipicu oleh ISIS, berpotensi memunculkan perpecahan dan terbentuknya negara-negara kecil  berlandaskan mazhab (persis seperti yang diagendakan oleh The Oded Yinon’s Plan). Tapi untungnya, bangsa Irak tidak terprovoklasi dan bahkan bersatu-pada melawan ISIS. Keuntungan bagi Israel: minyak Irak kini leluasa mengalir ke Israel (dulu Saddam menghentikan ekspor minyaknya ke Israel).

Berikut berita tentang siapa pelaku penculikan dan pembunuhan warga Israel itu, yang saya copas dari situs Liputan Islam:

Sebuah kelompok yang menamakan diri “Ansar al-Daulah al-Islamiyyah fi Bait al-Maqdis” menyatakan bertanggungjawab atas penculikan dan pembunuhan tiga pemuda Yahudi di al-Khalil. Mereka mengancam masih akan menyerang Israel. Tapi, naifnya, mereka juga mengancam akan menyerang para pemimpin Palestina.

“Aksi ini dilakukan dalam rangka membantu kekhalifahan Islam dan Abu Bakar al-Baghdadi,” ungkap kelompok tersebut dalam situs resminya, sebagaimana diberitakan kantor berita Palestina, Maan Senin (1/7/2014).

Ansar al-Daulah al-Islamiyyah juga menyatakan bertanggungjawab atas penembakan roket dari Jalur Gaza dan serangan terhadap sasaran-sasaran Israel dalam satu setengah bulan terakhir. Kelompok ekstrimis itu mengancam masih akan melancarkan operasi serangan terhadap sasaran-sasaran Israel di wilayah pendudukan.

Lebih lanjut, kelompok itu juga mengancam akan menyerang pemerintah dan para pemimpin Palestina di Tepi Barat maupun Jalur Gaza.

Kelompok ini diduga kuat terafiliasi dengan jaringan teroris al-Qaeda dan Daulat Islam Irak dan Suriah (ISIS). Mereka juga mengecam Hamas dan menganggapnya sebagai gerakan ambisius.

Semula kelompok itu bernama “Ansar Bait al-Maqdis”, namun berganti nama setelah ada deklarasi kekhalifahan Abu Bakar al-Baghdadi Ahad (29/6/14) .

Sejak terjadi penemuan tiga mayat warga Yahudi korban penculikan tersebut pada Senin malam (30/6/14) tentara Israel mempersengit serangannya terhadap Palestina. Malam itu tentara Israel mendatangi dan meledakkan rumah dua warga Palestina di al-Khalil yang dituduh Israel sebagai pelaku penculikan. Rumah keduanya hancur bersama semua isi yang ada di dalamnya. Satu di antara dua rumah itu merupakan bangunan apartemen yang dihuni oleh 25 orang.

Tentara Israel juga mendatangi Jenin, Tepi Barat, dan membunuh seorang pemuda Palestina. Israel menuduh Hamas sebagai pelaku penculikan, namun Hamas membantahnya. (mm/liputanislam.com)

 

Tentu saja, media Israel tidak mengungkap ini. Times of Israel misalnya, menyebut Hizbullah-lah pelaku penculikan itu. Dan berita dari media Israel itulah yang disebarluaskan oleh media-media di Indonesia. Contohnya, ini:

sumber foto: LiputanIslam.com

sumber foto: LiputanIslam.com

Jangan lupa pula, bahwa ISIS  sudah memiliki cabang di Indonesia. 

 

Say No to ISIS, ISIS Bukan Sunni

Sejak awal, saya mendedikasikan blog ini untuk Kajian Timur Tengah dari perspektif studi politik internasional (bukan studi agama). Bahkan saat membahas Palestina pun, selama ini saya menggunakan argumen-argumen politik, bukan agama. Tapi, sejak konflik Suriah, agama/mazhab sangat dominan diposisikan sebagai akar masalah (pivotal factor). Kalau saya, lebih setuju melihat agama trigger/pemicu, bukan akar; akarnya adalah ekonomi. Rumusnya: follow the money, lihat siapa yang meraup keuntungan terbesar dari konflik. Selengkapnya aplikasi teori resolusi konflik untuk Suriah baca di sini:https://dinasulaeman.wordpress.com/2013/03/23/resolusi-konflik-syria/)

Kini, seiring merebaknya teror mengerikan yang dilakukan ISIS/ISIL di Irak, media-media mainstream dan media-media nasional (apalagi media Islam-takfiri), kembali terjebak (atau sengaja) memetakan konflik ini sebagai Sunni vs Syiah. Mereka menyebut ISIS/ISIL sebagai militan Sunni yang sedang melawan Syiah. Benarkah? Mau tak mau, para penstudi HI perlu mengetahui ‘pemetaan mazhab’ ini, supaya tidak salah kaprah saat menganalisis.

Berikut saya posting ulang tulisan lama saya. Yang jelas, saya yakin, setiap Sunni sejati (bukan takfiri), pasti menolak bila militan sesadis para pembantai ini dikatakan sebagai ‘pejuang Sunni’:

notorious isis-2notorious isis-3

 

Sunni = Takfiri?

Dina Y. Sulaeman*
Mau tak mau, ada beberapa istilah yang sepertinya harus kita pahami bersama saat menganalisis atau membaca analisis tentang konflik Timur Tengah. Beberapa istilah yang sering muncul dalam membahas konflik Suriah adalah takfiri dan wahabi. Era Muslim baru-baru ini dalam sebuah artikel yang mengutip pidato Sayyid Hassan Nasrallah, membuat judul yang provokatif : Hasan Nasrallah : Kami Tidak akan Biarkan Suriah Jatuh Ke ‘Takfiri’ (Muslim Sunni).

Eits, sebentar, judul ini cukup mengganggu pikiran saya. Takfiri adalah perilaku mengkafir-kafirkan sesama muslim dan melakukan kekerasan terhadap orang yang mereka anggap kafir. Apakah benar takfiri itu adalah muslim Sunni? Saya tanya kepada Anda semua yang mengaku Sunni, apakah Anda menyukai perilaku demikian? Apakah Anda menyukai perilaku main serang ke sebuah lembaga atau sebuah kampung hanya dengan alasan lembaga itu kafir atau penduduk kampung itu kafir (muslim tapi karena dinilai ‘sesat’, jadi dikategorikan kafir)? Atau apa Anda setuju dengan perilaku pemberontak Suriah yang makan jantung mayat atau memutilasi mayat sambil berteriak takbir? Saya yakin, jawaban sebagian besar dari kita semua adalah TIDAK.

Baru-baru ini ada kejadian yang menurut saya membuktikan bahwa kaum takfiri itu beda dengan Sunni. Kejadian ini berlangsung di kantor Grand Shaikh Al-Azhar Kairo Mesir (Masyikhah). Wah, para syekh Al Azhar ini kurang Sunni apa? Mereka kan benar-benar Sunni tulen, sudah tingkat ulama ‘Grand” pula? Tapi, kantor mereka digeruduk oleh para demonstran dari kalangan ‘Islam radikal’ (ini istilah yang dipakai dalam berita ini. Tapi, di berita itu disebutkan pula bahwa mereka meneriakkan yel-yel dan cacian terhadap instansi Al-Azhar, Grand Shaikh Al-Azhar Prof. DR. Ahmad Thayeb, dan seluruh pegawai Al-Azhar. Mereka menyatakan bahwa Al-Azhar adalah instansi kafir. So tak salah lagi, inilah kaum takfiri itu. Bahwa para penentang ulama Al Azhar adalah kaum takfiri, bisa dibaca juga dalam pernyataan seorang Syekh Al Azhar, Dr. Ahmad Karimah di sini.

Saya pun bertanya kepada Bapak Agus Nizami, blogger http://www.kabarislam.wordpress.com dan owner web http://www.media-islam.or.id yang aktif memberikan analisis konflik Timur Tengah dengan menggunakan landasan teks agama.  Berikut kutipan diskusi kami.

(lebih…)

Michael Moore, Irak, dan Dilema Demokrasi

DINA-SULAIMAN-OKETulisan terbaru saya di Nefosnews.com

“Mosul fell. Mosul is the second largest city in Iraq. The Iraqi government we “installed”, has now lost Fallujah, Ramadi, Mosul and other large swaths of the country we invaded at the cost of thousands of American lives, tens of thousands of Iraqi lives and a couple trillion dollars.”

Demikian tulis Michael Moore, sutradara kawakan AS, di fanpage-nya, pada Rabu (11/6/2014). Moore mengungkapkan kekesalannya terhadap pemerintah AS yang telah menginvasi Irak atas nama demokrasi. Uang triliunan US$ dihabiskan pemerintah AS, ribuan tentaranya tewas. Dan yang lebih menderita tentu saja rakyat Irak. Janji demokrasi yang dibawa AS pada tahun 2003 ternyata bohong belaka. Setiap detik kehidupan mereka kini terancam oleh bom dan letusan senjata.

Moore pernah membuat film dokumenter Fahrenheit 911 yang mengungkap berbagai kebohongan yang dilakukan rezim Bush. Salah satu adegan yang sangat melekat di benak saya adalah ekspresi wajah Bush saat dibisiki oleh pengawalnya, menginformasikan serangan terhadap WTC pada 11 September 2001. Bush saat itu sedang berada di sebuah kelas taman kanak-kanak. Dia diam saja, tidak menunjukkan keterkejutan, dan meneruskan membacakan buku kepada anak-anak TK. Dan buku yang dibacanya itu terbalik.

Entah apa yang sebenarnya ada di benak Bush saat itu. Yang jelas, sejak saat itu, AS melancarkan Perang Melawan Terorisme. AS menggempur Irak pada tahun 2003, dengan alasan Saddam memiliki senjata pembunuh massal yang mengancam keselamatan umat manusia. Dan ternyata keberadaan senjata pembunuh massal di Irak hanya isapan jempol. Bush pun pada 2004 mengakuinya, namun menyalahkan CIA yang memberinya laporan palsu. Pretext (alasan) perang Irak pun diubah, bukan lagi untuk memusnahkan senjata massal, melainkan untuk menggulingkan Saddam yang diktator dan menegakkan demokrasi di Irak.

Segera setelah AS mendirikan pemerintahan “demokratis” di Irak, tiba-tiba saja muncul kelompok-kelompok teror yang berafiliasi dengan Al Qaeda. Mereka menyerang rakyat sipil, meledakkan bom bunuh diri di berbagai tempat. Situasi ini dijadikan alasan oleh AS untuk tetap mempertahankan pasukannya di Irak. Di saat yang sama, perusahaan-perusahaan minyak dan kontraktor Barat juga terus mengeruk uang di Irak, mengendalikan berbagai proyek.

 

…. mengapa penegakan demokrasi harus ditebus dengan harga jutaan nyawa? apa kaitannya dengan demokrasi dan pilpres kita?

baca selengkapnya di Nefosnews

Kaitan antara Jatuhnya Mosul (Irak) dan Suriah

In Pictures: ISIL militants show Iraq’s Mosul under their controlTulisan ini bagus sekali, mengungkap apa yang terjadi di Irak baru-baru ini. Sebagaimana telah diberitakan berbagai media massa, kota-kota di Irak berjatuhan ke tangan ISIS (teroris Al Qaida yang kini menamakan diri Islamic State of Iraq and Syria) atau kadang disebut ISIL (Islamic State of Iraq and Levant) . Yang belum banyak diungkap adalah, mengapa kota Mosul yang jadi sasaran? Dan, ternyata aksi ISIS/ISIL ini sangat erat kaitannya dengan Suriah. Tulisan berikut saya copas dari rubrik opini di web www.liputanislam.com

Menguak Agenda Tersembunyi AS di Balik Jatuhnya Mosul

Oleh: Ayudia az-Zahra

Jatuhnya Mosul, adalah pukulan telak bagi pemerintahan Irak. Bagaimana tidak, Mosul merupakan salah satu kota terbesar di Irak yang memiliki sumber daya alam yang melimpah dan dihuni oleh kurang lebih dua juta jiwa. Terletak di persimpangan Turki dan Suriah, Mosul memiliki posisi yang sangat strategis.

Rusia Today (RT), media terkemuka dari Rusia merilis laporan terkait Mosul terkini, dan disebutkan bahwa Mosul jatuh ke tangan ISIL setelah pasukan Irak melarikan diri dari pertempuran. Keterangan ini diperkuat dari laporan Washington Post, media Amerika Serikat – tentang diunggahnya sebuah video dan foto-foto terkait Mosul di jejaring sosial. Foto dan video itu memperlihatkan jalan-jalan yang kosong, kendaraan militer yang hancur, dan tumpukan seragam militer yang ditanggalkan oleh pasukan Irak saat mereka melarikan diri dari pertempuran di Mosul.

Pembicara parlemen Irak, Osama al-Nujaifi juga membenarkan pelarian tersebut. Dikatakan, saat pertempuran semakin sulit di kota Mosul, pasukan pemerintah meletakkan senjata mereka dan meninggalkan pos, dan membiarkan Mosul dimangsa dengan mudah oleh para teroris.

Aksi melarikan diri dari pertempuran, adalah pilihan terakhir yang rasional, minimal untuk menyelamatkan diri. Tapi tentu saja, aksi seperti ini merupakan hal yang sangat memalukan untuk dilakukan oleh tentara di negara manapun. Dalam perang Suriah, bisa kita saksikan bagaimana heroiknya Tentara Suriah dalam mempertahankan negaranya dari serangan teroris. Dalam mempertahankan sebuah wilayah, tempat itu hanya benar-benar dikuasai pemberontak setelah pertempuran habis-habisan. Contoh: Rumah Sakit Al-Kindi yang dijaga ketat oleh Tentara Suriah, setelah diserang dengan 2 bom mobil dengan kekuatan dahsyat hingga menewaskan seluruh tentara, baru bisa dikuasai oleh pemberontak.

Dari laporan RT juga disebutkan, bahwa Mosul yang dibiarkan jatuh ke tangan teroris adalah kota yang menyimpan berbagai senjata canggih buatan Amerika. Lalu helikopter  Black Hawk,  helikopter serba guna angkut menengah bermesin ganda yang diproduksi oleh Sikorsky Aircraft  dan bertugas dalam pertempuran selama konflik di Grenada, Panama, Irak, Somalia, Balkan, Afghanistan, dan daerah lain di Timur Tengah – juga dikabarkan terdapat di Mosul.

Artinya, dengan membiarkan Mosul jatuh ke dalam cengkraman ISIL, maka otomatis segala persenjataan canggih buatan Amerika Serikat akan dikuasai kelompok militan ini. Laporan Washington Post juga  mengungkapkan, ISIL berhasil menyita sejumlah besar persenjataan dari pasukan keamanan saat mereka menguasai markas-markas tentara maupun aparat keamanan, termasuk kendaraan, dan amunisi, yang  tentunya akan memudahkan kelompok ini dalam serangan berikutnya. Washington Post menyebutkan, bahwa persenjataan tersebut merupakan buatan Amerika Serikat.

(lebih…)

Palestina dan Dr Jose

Sebelum ‘ribut-ribut’ soal Suriah, saya hanya ‘kenal nama’ saja dengan Dr. Joserizal. Beliau relawan MER-C yang aktif memberikan pertolongan kemanusiaan di berbagai wilayah konflik dan bencana, terutama Palestina. Ketika saya mulai sering disudutkan gara-gara bersuara melawan mainstream soal Suriah, saya mendapatkan tulisan beliau ‘Mengapa Harus Suriah‘ dan saya posting ulang di blog ini. Lalu, ketika saya selesai menulis buku Prahara Suriah, saya mengontak beliau via FB dan meminta endorsment dari beliau, alhamdulillah bersedia.

Lalu tiba-tiba, sebuah situs penebar kebencian menyebut Dr Joserizal Syiah, hanya gara-gara pendapat beliau soal Suriah. Saya spontan nulis status di FB membela beliau. Bukan apa-apa, saya sangat sadar bahwa fitnah terhadap Dr Jose sangat melemahkan upaya penggalangan bantuan untuk rakyat Palestina. Waktu itu, sudah ada yang bikin blog fitnahan terhadap saya. Foto saya, suami, dan anak-anak secara illegal ditaruh di blog itu dan dijelek-jelekkan. Tapi, saya pikir, saya toh ibu RT biasa. Kalau karakter saya dibunuh sedemikian rupa, sebenarnya ga banyak ‘rugi’. Emangnya siapa gue, gitu loh? Tapi, kalau Dr Jose yang merupakan tokoh penting perjuangan kita melawan Israel (lewat misi kemanusiaan), efeknya akan sangat besar.

Beberapa waktu yll, di FB, seorang wartawan (Hendi Jo) menulis status (karena dishare utk publik, saya pikir tidak salah bila saya copas di sini):

Beberapa hari lalu saya bertemu dengan dr.Joserizal Jurnalis di RS. Siaga, Pasar Minggu, niat ingin wawancara tapi jadi ngobrol-ngobrol santai ngalor ngidul. Saat saya tanya tentang tuduhan ia sudah menjadi Syiah sekarang, ia hanya tertawa saja.”Ya tuduhan itu membuat saya banyak kehilangan kawan, tapi ga apa-apa. Toh, saya yakin mereka tau siapa saya bahkan sejak dulu. Saya hanya ingin berdiri di tengah sekaligus memberitahukan bahwa apa yang saat ini kita tengah hadapi adalah murni soal politik bukan soal agama. Saya tak akan mati untuk mazhab atau organisasi. Kalau MER-C pun ternyata ke depannya tidak benar, bubarkan saja. Kan gampang?”

Subhanallah, sikap dan kalimatnya yang sedemikian tawakal dan positive thinking, memberi semangat ke saya yang sempat down gara-gara berbagai intimidasi ke saya. Iya ya.. emang saya rugi apa sih difitnah dan dijelek2in sedemikian parah oleh banyak orang begitu? Karir? Gw kaga punya karir pun.. *logat Upin Ipin* Uang..? Lha, emang itu media online, FB-er dan blogger yang menjelek-jelekkan saya itu selama ini ngasih duit gitu, ke saya? Bahkan yang remove-remove saya di FB itu aslinya juga tidak saya kenal. Yang memberi rizki itu Allah kok. Keselamatan? Saya sangat yakin, Allah akan melindungi saya sekeluarga. Laa hawlaa wa laa quwwata illaa billaah…

Dan, baru saja saya menonton video paparan Dr Jose soal konflik Timteng. Bagus sekali cara beliau memaparkan. Ini pertama kali saya menyaksikan beliau bicara.

(lebih…)

Obama dan Hiperrealitas

Dina Y. Sulaeman*

Pilpres Amerika Serikat tahun ini terasa kurang seru. Sangat Amerika. Obama meraih kemenangan dengan mendulang suara kaum perempuan yang pro pada kebijakannya soal aborsi; kaum muda dan gay yang lebih merasa cocok dengan nilai-nilai liberal yang diusung Obama, atau kaum Hispanik yang merasa terlindungi oleh kebijakan pro-imigran Obama. Bahkan kaum sosialis pun mendukungnya, dengan alasan kebijakan ekonomi Obama lebih sosialis, dibandingkan Romney yang sangat pro-kapitalis.

Bandingkan dengan pemilu 2008 yang sangat gegap gempita. Slogan Change dan Yes We Can menggema ke seluruh penjuru dunia. Saat itu pilpres AS seolah menjadi pilpres bagi dunia. Demam Obama melanda warga dunia. Kemenangan Obama disambut meriah, mulai dari Beijing hingga Khartoum. Belasan juta orang saling berjejaring di internet, membangun sesuatu yang disebut the power of we, kekuatan kita bersama, demi mendukung Obama. Massa di akar rumput secara sukarela menggalang aksi-aksi pengumpulan dana untuk disumbangkan kepada Obama dan terkumpullah 1,6 juta dollar. Obama menjadi representasi mereka yang tertindas, kaum pariah, dan umat yang mendambakan perubahan. Obama tampil bak Messiah, Sang Juru Selamat.

(lebih…)

Serangan Militer ke Iran: Kisah dari Pulau Diego Garcia

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

 

Berita-berita tentang ancaman serangan militer dari AS dan Israel terhadap Iran akhir-akhir ini semakin intens. Dalam doktrin militer AS, Iran memang dikategorikan sebagai ‘ancaman utama bagi kestabilan di Timur Tengah dan Asia Tengah’. Menurut Chomsky, kestabilan dalam terminologi AS bermakna ‘berada di dalam kontrol AS’. Artinya, bila ada sebuah rezim yang tidak berada dalam cengkeraman kontrol AS, rezim itu menjadi ancaman bagi ‘kestabilan’. Dalam menghadapi ‘ancaman’ ini, AS sudah melakukan berbagai langkah. Antara lain sejak November lalu, AS dan Eropa beramai-ramai memperketat sanksi:  bank Inggris memutus hubungan finansial dengan bank sentral Iran, Kanada menutup pintu ekspor untuk barang-barang yang dianggap berkaitan dengan industri petrokimia, gas, dan minyak Iran, beberapa negara Eropa mem-black-list tokoh-tokoh Iran yang dianggap berperan penting dalam proyek nuklir, dll.

Hal yang tidak banyak dibahas adalah kisah dari sebuah pulau bernama Diego Garcia. Seiring dengan meningkatnya intensitas ancaman serangan ke Iran, pemerintahan Obama juga diberitakan telah menambah kapasitas militernya di pulau Diego Garcia. Konon di sana bercokol lebih dari 2000 tentara, pelabuhan yang muat untuk 30 kapal perang, tempat pembuangan limbah nuklir, stasiun mata-mata satelit, dan tempat hiburan untuk para tentara: mall, bar, dan lapangan golf. Pada bulan Maret 2010, Sunday Herald melaporkan bahwa AS telah mengirimkan 10 kontainer berisi amunisi ke Diego Garcia, di antara bom “Blu” yang mampu meledakkan struktur bawah tanah secara masif. Kapal-kapal selam bertenaga nuklir yang bisa meluncurkan rudal Tomahawk  juga ‘mangkal’ di sana; rudal Tomahawk sendiri bisa dipasangi hulu ledak nuklir.

Pada masa perang Irak, John Pilger mencatat bahwa ada berita sekilas yang berbunyi, “Pengebom Amerika, B-52 dan Stealth, tadi malam dilepaskan dari  sebuah pulau-tak berpenduduk-milik-Inggris untuk mengebom Irak dan Afghanistan.”

Ya, Diego Garcia ternyata adalah sebuah pulau yang dijadikan pangkalan militer AS; salah satu yang terbesar di dunia. Serangan-serangan udara AS ke Irak dan Afghanistan diketahui dilancarkan dari Diego Garcia. Namun, di balik kecanggihan perlengkapan militer yang disimpan di sana, Diego Garcia menyimpan kisah pilu yang semakin menunjukkan wajah bengis negara-negara arogan dan haus perang: AS dan Inggris.

(lebih…)

Kritik untuk EraMuslim Lagi: Mengapa AS Menyerang Irak?

Selama ini berkali-kali saya menemukan analisis yang amburadul di Era Muslim bila sudah terkait dengan Iran. Namun karena banyak juga tulisan informatif lainnya di Era Muslim, saya tetap setia berkunjung ke situs ini. Sebenarnya saya berpikir, tak ada gunanya menghabiskan waktu untuk mengomentari analisis-analisis yang kacau itu; toh mereka sepertinya tak peduli. Tapi, sesekali memang ada yang sudah keterlaluan dan membuat saya benar-benar geregetan.

Tulisan di rubrik Liputan Khusus berjudul “Alasan Sebenarnya AS Menyerang Irak”  adalah contoh tulisan yang amburadulnya luar biasa dan berhasil membuat saya tidak tahan untuk tidak menulis. Terserah EraMuslim mau peduli atau tidak.

Alur logika tulisan yang ditulis oleh penulis berinisial ‘sa’ itu begini: AS menyerang Irak karena ingin mendudukkan Muqtada Sadr yang Syiah sebagai pemimpin Irak. Setelah Muqtada Sadr jadi pemimpin Irak, maka Irak akan diserahkan ke Iran.

Ini saja sudah kacau kan? Pertanyaan saya: trus, kalau diserahkan kepada Iran, mau diapakan oleh Iran? Membuat negara Iran Raya? Bukankah AS malah akan semakin terancam? Dalam tulisan itu memang tidak eksplisit dijawab, tapi bisa diambil kesimpulan logika ngawurnya: AS dan Iran itu bersekutu, mereka sama-sama ingin membasmi muslim Sunni di seluruh dunia.

Mari kita lihat argumennya, saya akan nukil dua di antaranya saja (yang dicetak miring adalah kalimat aslinya):
1. Amerika Serikat tidak menyerang Iraq untuk minyak. Kenyataannya mereka telah menghabiskan miliaran dolar untuk perang ini dan yang paling banter mereka dapatkan ketika keluar dari Iraq adalah untuk mendapatkan uang mereka kembali. Jadi minyak hanyalah sebagai kompensasi besar saja. Yang benar adalah bahwa sama seperti Israel yang menyerang Libanon untuk membuat Hizbullah terlihat seperti pahlawan, AS menyerang Iraq sebenarnya untuk membuat Muqtada al-Sadr sebagai pahlawan Iraq.

a. Israel menyerang Lebanon untuk membuat Hizbullah sebagai pahlawan?! Meskipun ini kalimat paling tidak logis sedunia, izinkan saya sedikit memberi bantahan: memangnya apa keuntungan Israel kalau Hizbullah jadi pahlawan? Kekalahan Israel dalam perang 33 Hari melawan Hizbullah jelas-jelas mempermalukan Israel yang selama ini menyandang mitos sebagai kekuatan militer terbesar di Timur Tengah. Bangsa Arab (bukan raja-rajanya, tapi rakyatnya) terselamatkan harga dirinya: akhirnya ada juga orang Arab yang berani dan sukses melawan Israel. Hamas malah semakin percaya diri untuk meneruskan perjuangannya.

Kalau mengikuti  logika ngawur tulisan itu, mungkin inilah jawabannya: “Hizbullah dan Israel itu bersekutu ingin membasmi orang Sunni sedunia.”

(lebih…)