Kajian Timur Tengah

Beranda » Keamanan Global

Category Archives: Keamanan Global

Pendiri White Helmets Tewas Bunuh Diri?

Baru saja berbagai media memberitakan matinya pendiri White Helmets, James Le Mesurier. Ia tewas terjatuh dari balkon apartemennya di Istanbul. Entah bunuh diri, entah dibunuh. [1]

Saya nyaris speechless. Saya teringat kejadian Agustus 2016, ketika menulis klarifikasi tentang kisah “si bocah di kursi oranye” yang diproduksi White Helmets. Tulisan saya dibalas sangat sadis oleh para “ikhwan” dan “akhwat”, yaitu dengan mencuri foto saya yang sedang memangku anak, lalu membuat meme sadis dan disebar masif. Karena bawa-bawa anak saya, rasa sakit hati saya saat itu tentu lebih besar.

Lalu saya menulis ini (status FB tahun 2016, sedikit diedit supaya lebih ringkas):

***

Alih-alih memberikan jawaban yang logis untuk menjawab argumen-argumen yang saya berikan, mereka malah sibuk menghujat, membully, dan bahkan membuat meme yang menggunakan foto saya dan anak saya.

(lebih…)

Pierre Le Corf ini salah satu narasumber saya dalam menulis buku Salju di Aleppo. Beberapa foto karyanya saya muat juga di buku (tentu sudah minta izin).

Pierre Le Corf adalah seorang blogger Perancis yang berada di Aleppo di masa konflik. Le Corf menggagas misi kemanusiaan “We Are Superheroes” yang mengumpulkan cerita orang-orang dari berbagai negara. Namun sepertinya, Aleppo-lah yang menguras emosinya. Di Aleppo, ia tinggal bersama sebuah keluarga Suriah di sebuah apartemen yang berlubang akibat tembakan teroris Al Qaida.

Sehari-hari, Le Corf berkeliling mengunjungi keluarga-keluarga di Aleppo. Ia berjalan sambil sesekali berlari menghindari sniper. Ia mendengar dan mencatat kisah warga Aleppo, sambil menyerahkan kotak P3K dan mengajari mereka teknik pertolongan pertama jika sewaktu-waktu mereka terkena tembakan atau ledakan bom.

Le Corf kerap mengunggah tulisan dan foto-foto bocah-bocah Aleppo di Facebook. Cerita-cerita yang ditampilkannya mengguncang narasi yang disebarluaskan berbagai media arus utama bahwa warga sipil menjadi korban pembantaian Assad dan untuk itu dunia harus segera menggulingkannya.

Cerita-cerita Le Corf justru memperlihatkan betapa orang-orang Aleppo menjadi sengsara setelah Al Qaida mengambil alih kota itu. Banyak anak-anak dan orang tua menjadi cacat, bahkan tewas, akibat bom yang diledakkan oleh Al Qaida, bukan oleh gempuran rezim.

Di foto terbaru karya Le Corf ini, terlihat senyum bahagia anak Aleppo yang kini sudah bebas dari teroris.

**
[sekedar info, kalau status ini dishare, karena ini juga share status orang, tulisan pengantar dari saya tidak akan terbawa]

Siapa yang radikal?

Kemarin (sampai pagi ini) saya baca tulisan beberapa orang yang mengecam istilah “radikal” yang dikaitkan dengan Islam. Intinya, kata mereka, ini akal-akalan “penguasa” untuk membungkam oposisi.

Ya kalau kita balik lagi ke asal kata, radix (akar), makna kata radikal bisa saja baik, yaitu berpikir kritis hingga ke akarnya. Profesor saya dulu pernah menyebut saya ‘berpikir radikal’ setelah membaca paper saya yang mengulik sebuah topik sampai ke akar-akarnya.

Tapi, penggunaan istilah juga bisa disesuaikan dengan keumuman pemakaian saat ini. Umumnya (mungkin ya) orang Indonesia paham bahwa dalam konteks waktu beberapa tahun terakhir (sejak perang “khilafah” di Suriah dimulai 2012) yang dimaksud “radikal” adalah pemikiran sebagian kelompok Muslim yang menginginkan perubahan sistem secara radikal (sampai ke akar-akarnya), misalnya, dari yang sekarang demokrasi ke khilafah. Atau menginginkan perubahan perilaku sampai ke akar-akarnya pada semua orang (kalau tidak sama dengan mereka, auto kafirlah kita). Jadi kalau ada yang tersinggung dikatai radikal, ya mungkin karena dia mengusung ide perubahan sistem sampai ke akar-akarnya itu, atau karena dia abai bahwa ada kelompok seperti ini (dan berkeras pada definisi yang dia pegang soal “radikal”), atau entah apa.

(lebih…)

Tiba-tiba teringat Assad, dia bilang [kepada negara-negara penyokong “jihadis” yang menyerbu Suriah selama 8 tahun], “Terorisme bukan kartu yang bisa Anda mainkan lalu Anda masukkan lagi ke kantong. Seperti kalajengking, ia akan menggigit Anda kapan saja.”

Ini nasehat yang juga sangat patut diingat oleh setiap elit di Indonesia. Memelihara kelompok radikal dan menjadikan mereka sebagai kartu politik belaka [indikasinya: tidak pernah mau bertindak tegas, terstruktur, dan sistematis menghadapi radikalis] adalah tindakan berbahaya yang menghancurkan bangsa ini. Dan negara ini bagaikan kapal, kalau tenggelam, semua ikut tenggelam, termasuk yang memeliharanya dan menjadikannya alat politik.

Semoga Allah menjaga bangsa ini.

sumber meme: @SyrianperNews

Propaganda Kucing dan Bangau ala “Jihadis”

Dulu, di medsos, para petempur ISIS (yang berasal dari negara Barat) mempropagandakan “jihad” dengan memposting foto-foto mereka bersama kucing-kucing lucu. Si kucing ditaruh di sebelah senapan, atau senjata lainnya. Sasarannya gadis-gadis muda di Barat, demi membuat mereka terpesona pada “kegagahan” sekaligus “kelembutan” para teroris itu, lalu mau meninggalkan negara mereka demi bergabung dengan ISIS (sekarang banyak perempuan dari Eropa itu yang berada di kamp penampungan di Suriah setelah ISIS kalah, mereka memohon-mohon supaya boleh pulang).

Demo di Irak dan Relasi Iran-Irak

Hari-hari ini Irak dilanda demonstrasi besar. Isu yang diangkat, tak jauh bedalah dengan isu-isu demo di berbagai negara berkembang, yaitu mengecam pemerintah yang dituduh korup, tidak menyediakan lapangan kerja, harga-harga mahal, dan bahkan: memprotes kerjasama Irak dengan China. Mirip ya dengan fenomena di sebuah negara di Asia Tenggara?

Pertanyaannya: mengapa harus bakar-bakaran? Mengapa melakukan perusakan fasilitas umum sehingga akhirnya bentrok dengan aparat? Kelihatan ya, “template” demo-nya? (Baca tulisan saya sebelumnya yang berjudul “template”).

Yang tidak banyak orang tahu: kedutaan besar AS di Baghdad adalah kedutaan yang terbesar yang dimiliki AS di seluruh dunia. Luasnya 42 hektar, dengan staf lebih dari 16.000 orang, termasuk 2000-an diplomat asli AS. Belum kalau dihitung “aktivis” dari berbagai negara asing (setahu saya, dulu juga ada tuh orang Indonesia), yang bebas keluar masuk Irak, blusukan kemana-mana. Yang tidak banyak orang tahu juga: massa diprovokasi melalui medsos, 79% cuitan seruan demo berasal dari Arab Saudi. Tentu media massa Barat tak ketinggalan memanaskan situasi.

(lebih…)

Untuk yang tertarik dengan studi terorisme, ini pembahasan yang menggelitik: AS memasukkan IRGC (Garda Revolusi Iran) sebagai organisasi teroris asing (Foreign Terrorist Organization/FTO). Iran membalas, mendeklarasikan bahwa CENTCOM (Komando Sentral AS) dan segenap tentara AS di Timur Tengah adalah “organisasi teroris”. Nah bagaimana analisisnya? Siapa yang sebenarnya bisa dikategorikan FTO?

Silahkan dibaca, ditulis oleh Prihandono Wibowo (Staf Pengajar di UPN “Veteran” Jawa Timur)

Masalah Pelabelan “Teroris” Terhadap Garda Revolusi Iran

Template

Seorang mahasiswa bertanya, setelah kita mempelajari geopolitik Timur Tengah, apa pelajaran yang bisa kita ambil sebagai rakyat Indonesia?

Jawaban saya singkat: pelajari polanya, template-nya. Lihat siapa power yang berkepentingan untuk mendistribusi ruang (dengan segenap sumber daya alamnya) di Timteng, lalu selidiki, apakah aktor-aktor yang sama juga “bermain” di Indonesia?

Berikut ini saya copas tulisan lama saya soal Suriah. Mungkin nama-nama orang dan organisasi yang saya sebut ini tidak ‘terlihat’ di Indonesia. Apalagi keterbukaan informasi di negeri kita sangat minim, terlalu banyak info yang kita tidak tahu, jadi sulit mengidentifikasi siapa saja yang ‘bermain’ (kecuali bila kita orang lapangan, bisa masuk ke ‘dalam’). Tapi dengan sedikit kerajinan ‘melacak’, minimalnya bisa ketemu jejaringnya di Indonesia dan memperkirakan apakah template yang sama sedang dipakai di Indonesia.

***

The NGOs

Berbagai NGO (Non-Government Organization) atau LSM, bersama lembaga-lembaga “think tank” (pusat studi) memiliki rekam jejak dalam upaya penggulingan rezim di berbagai penjuru dunia. Di Mesir, misalnya, aksi-aksi demo penggulingan Mobarak dimotori oleh aktivis LSM yang dilatih oleh AS (melalui Freedom House dan National Endowment for Democracy/NED) agar mahir menggalang massa dan mengelola isu. FH dan NED juga bermain di Suriah. Bedanya, bila di Mesir aksi demo bisa tereskalasi (jumlah pendemo sangat masif) sehingga Mobarak terguling dengan mudah, di Suriah modus ini gagal total. Yang muncul malah demo tandingan yang jauh lebih masif, menunjukkan dukungan kepada Assad. Kejadian sama juga terlihat di Libya, aksi demo tidak pernah tereskalasi, bahkan yang terjadi demo luar biasa besar di Tripoli mendukung Qaddafi. [1]

Ada lagi LSM bernama CANVAS, yang memberikan pelatihan berbagai strategi revolusi kepada para aktivis yang ingin menggulingkan rezim di negara mereka. Para pendukung dana CANVAS adalah lembaga-lembaga terkemuka seperti United States Institute for Peace (USIP) yang didanai Kongres AS, New Tactics (didanai Ford Foundation dan Soros Foundation), dan lain-lain. Foreign Policy melaporkan, selama enam bulan pertama tahun 2012, 40 aktivis oposisi Syria mengadakan pertemuan di Jerman yang dikoordinir oleh USIP untuk merancang bentuk dan agenda pemerintahan pasca-Assad.

Nah karena aksi demo “damai” tidak berhasil di Libya dan Suriah, masuklah para “jihadis” untuk melakukan “tugas” mereka. Kali ini tentu saja mereka tidak membawa isu demokrasi, melainkan khilafah (dan khusus di Suriah, mereka membawa isu Sunni-Syiah, yang terbukti sangat efektif dalam menggalang pasukan dan dana dari kaum Muslim di berbagai penjuru dunia). Untuk Libya, terbukti, setelah Qaddafi tumbang, tidak ada khilafah, meski bendera Al Qaida sempat berkibar-kibar di gedung pemerintah. Kapitalis Barat berpesta pora menguasai sumber daya alam sementara sebagian rakyat sibuk bertempur satu sama lain; sebagian lagi mengungsi ke negeri-negeri jauh dan banyak yang mati di tengah jalan.

Jadi, dalam menganalisis soal Suriah, penting untuk menoleh tajam ke arah NGOs dan think-tank yang berkeliaran di sana (atau bersuara berisik dari luar negeri). Di awal konflik, Amnesty International dan Federation of Human Rights (FHR) menggalang aksi demo massa di jalanan Paris dengan membawa bendera Suriah era mandat Prancis (hijau-putih-hitam). FHR didanai oleh NED. Mantan Sekjen PBB, Kofi Annan, yang awalnya ditugasi menjadi mediator perdamaian di Syria, ternyata adalah trustee (penasehat) di International Crisis Group (ICG), bersama tokoh-tokoh Zionis, seperti George Soros, Zbigniew Brzezinski, dan Shimon Peres. Brooking Institution juga berperan, antara lain menerbitkan desain perubahan rezim di Libya, Suriah, dan Iran. Baik NED, ICG, Brooking, dll, didanai oleh Big Oil (Conoco-Philips, Chevron, ExxonMobil), Coca Cola, Bank of America, Microsoft, Standard Chartered, Citigroup, Hilton, McDonald, GoldmanSach, dll. (Goldman Sachs dan Rockefeller juga berada di belakang Médecins Sans Frontières, relawan di bidang medis, yang ‘bermain’ di Suriah).

Ada dua LSM yang sering sekali dikutip media Barat (dan media jihad), Syrian Observatory of Human Rights dan Syrian Network of Human Rights yang berkantor di Inggris. Keduanya seolah paling tahu atas setiap serangan, jumlah korban, nama-nama, dan berbagai hal soal Suriah (dan datanya jelas beda dengan data yang dimiliki media-media alternatif). Donaturnya, Uni Eropa dan Soros. Silahkan browsing, rekam jejak Soros dan upaya penggulingan rezim di berbagai negara, terutama Eropa Timur (juga penggulingan Soeharto). Soros juga ada di balik CANVAS. Aliran dana untuk the White Helmets (yang juga mengaku ‘relawan medis’), juga terlink dengan Soros.

See the template, follow the money.

***
[1] video bisa lihat di sini: https://dinasulaeman.wordpress.com/2016/05/04/prahara-aleppo-3-tamat/

Tulisan Miko Peled yang sudah diterjemahkan tim ICMES

Late post
Ini tulisan Miko Peled yang sudah diterjemahkan tim ICMES. Saya sudah pernah cerita ya, siapa Miko Peled ini. Dia anak seorang jenderal Israel yang akhirnya berbalik membela Palestina.

Di paragraf terakhir, ia menulis:

Proyek Zionis memperoleh banyak sekali keuntungan dari konflik ini. Untuk melawan keteguhan para pejuang keadilan dan kemerdekaan Palestina, mereka melakukan operasi-operasi yang melibatkan seluruh aparat negara Israel dan pengumpulan dana besar-besaran. Dengan dukungan penuh militer, intelejen, serta keuangan yang tak terbatas, Israel mampu melakukan perlawanan di sangat banyak front, jauh lebih banyak daripada yang disebutkan di artikel ini. Sementara itu, para pejuang keadilan untuk Palestina tidak mendapatkan dukungan dari aparat pemerintah, tak ada militer dan intelijen yang melindungi, dan tidak ada dana yang cukup. Tapi jika ingin merdeka, kubu Palestina harus terus bertahan, hadir dengan gigih dan waspada di semua front, dan bila memungkinkan, menciptakan front-front perjuangan baru.

Selengkapnya:
https://ic-mes.org/…/pertempuran-tiada-henti-demi-palestina/

Tentang Bukalapak dan ACT

Sejak kemarin dumay dihebohkan oleh tulisan facebooker bernama Dahono Prasetyo yang berjudul “Bukalapak Bukalah Topengmu”; dicopas di mana-mana, antara lain di [1].

Sebagai ‘martir’ untuk isu Suriah (menulis soal Suriah sejak 2011, habis-habisan dibully, bahkan diancam bunuh, tapi terbukti bahwa kemuliaan tidak akan tertukar; karma itu ada, lihat siapa yang sekarang ketakutan dan tiarap), saya merasa perlu menulis tanggapan.

1. Poin utama kasus ini adalah: BL (dan sangat banyak lembaga lainnya) bekerjasama dengan ACT. Nah, masalahnya, untuk isu Suriah, ACT selama ini secara jelas menunjukkan keberpihakan kepada pemberontak Suriah (oleh fans disebut “mujahidin”). Lihat di foto, bendera pemberontak Suriah-lah yang dipakai saat penggalangan dana ACT (hijau-putih-hitam, bintang 3), bukan bendera resmi Suriah (merah-putih-hitam, bintang 2).

2. Perlu diketahui, ada ratusan kelompok teror di Suriah, mulai dari FSA, Jaish al Islam, Faylaq ar Rahman, Harakat Nour al-Din al-Zenki, dan Harakat Ahrar al-Sham al-Islamiyya, hingga ISIS. ISIS ini adalah “keturunan” dari kelompok teroris yang berafiliasi dengan Al Qaida, namanya Al Nusra. Jadi, di antara mereka ini berkoalisi, lalu pecah, lalu ganti nama, dll. Kalau khilafah berdiri di Suriah, dipastikan mereka akan saling bunuh satu sama lain, rebutan jabatan.

(lebih…)