Kajian Timur Tengah

Beranda » Keamanan Global

Category Archives: Keamanan Global

Terorisme dan Cara Mencegahnya

A Syrian refugee child cries at the Al Zaatri refugee camp in the Jordanian city of Mafraq, near the border with SyriaDefinisi Terorisme
Hingga kini tidak ada kesepakatan global mengenai definisi terorisme. Berbagai lembaga, organisasi, dan cendekiawan memberikan definisi mereka masing-masing atas terorisme. Menurut Crenshaw (2007:68) meskipun PBB telah mengeluarkan berbagai konvensi anti terorisme, namun negara-negara anggota PBB hingga kini tidak bersepakat atas definisi terorisme karena dua alasan. Pertama, negara-negara anggota PBB masih belum bersepakat apakah negara dikategorikan teroris bila angkatan bersenjata mereka melakukan serangan kepada warga sipil. Kedua, terkait dengan justifikasi moral terhadap aksi kekerasan; apakah gerakan perlawanan melawan pendudukan asing (misalnya di Palestina, Irak, atau Afghanistan) dikategorikan teroris.
Menurut KBBI, terorisme berarti: penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik).

Kisah Bocah di Kursi Oranye

aleppoCopas Status FB

Baca timeline pagi-pagi, banyak yang share foto bocah Suriah yang disebut sebagai korban bom. Berita ini disebarluaskan media Barat (dan diberitakan ulang berbagai media Indonesia).

Sekedar memberikan berita pembanding, silahkan baca analisis di sini

Beberapa poin yang saya ambil dari artikel tsb:
1. Di artikel ini ada analisis foto dan video, serta pembandingan dengan foto seorang anak yang ‘asli’ korban bom tapi tidak diberitakan luas.
2. Jurnalis yang disebut mengambil foto si bocah (Omran Daqneesh) bernama “Mahmoud Raslan”, tapi jika di-google, tidak ada rekam jejak karyanya yang lain.
3. Beberapa keanehan: si bocah terlihat dibawa ke dalam ambulan yang baru (in a brand new, very well equipped ambulance). Ada sekitar 15 pria berdiri di tempat itu dan tidak melakukan apapun (perhatikan: mrk katanya berada di lokasi yang “baru saja dibom”, tidak takut ada bom susulan?). Minimalnya ada 2 laki-laki disamping si videografer yang mengambil foto/video.
4. Di video diperlihatkan bahwa relawan yang menolong adalah White Helmets yang baru-baru ini mengajukan diri untuk menjadi pemenang Nobel Perdamaian 2016 (baca tulisan saya sebelumnya ttg siapa funding WH dan bahwa personel WH tak lain dari “jihadis” Al Qaida/Al Nusra yang berganti baju).

(lebih…)

Charlie Hebdo dan Absurditas di Tanah Voltaire

(terjemahan: saya bukan Charlie)

(terjemahan: saya bukan Charlie)

Oleh: Dina Y. Sulaeman* (Dimuat di Sindo Weekly Magazine**, 15/1/2015)

Charb, Cabu, Wolinski dan Tignous tewas. Empat kartunis Perancis yang gemar mengolok-olok lewat kartun yang mereka publikasikan itu seolah menjadi tumbal bagi kebebasan berbicara (freedom of speech). Kebebasan berbicara konon salah satu kredo utama di Perancis. Kredo yang dibangun oleh Voltaire, “Saya tidak menyetujui perkataan Anda, tapi saya akan membela hak Anda untuk mengatakannya.”

Pembunuhan atas empat kartunis dan tujuh orang lainnya yang bekerja di tabloid satire Charlie Hebdo, serta seorang polisi, sesungguhnya dipenuhi kejanggalan. Sulit diterima bahwa dua bersaudara keturunan Aljazair yang bekerja sebagai pengantar pizza, Said dan Cherif Kouachi, bebas mendapatkan logistik yang sempurna: Kalashnikov, roket peluncur, amunisi, rompi, sepatu tentara, dan Citroen hitam. Keduanya pernah ditangkap pada kasus terorisme tahun 2008, sehingga semestinya selalu dalam pengawasan Sous-direction de l’anti-terrorisme (Sub Direkturat Anti Terorisme).

Polisi mengetahui identitas Kouachi bersaudara karena mereka kebetulan (?) meninggalkan kartu identitas di Citroen hitam. Sungguh mirip dengan peristiwa 911. Penyelidik mengetahui identitas pengebom Menara Kembar WTC dari paspor yang ditemukan di sela-sela puing-puing bangunan. Gilad Atzmon, penulis Yahudi yang selalu mengkritik Israel pun menulis, “Sejak kapan seorang teroris membawa kartu identitas saat beraksi?”

Namun, tak urung, diskusi publik dipenuhi oleh perdebatan mengenai ‘kebebasan berbicara’. Narasi yang terus diulang: Islam anti kritik dan anti kebebasan, dan lebih suka melawan pena dengan pedang. Sayangnya, narasi itu memang memiliki konteks yang nyata. Citra Islam akhir-akhir ini semakin buram akibat aksi-aksi pemenggalan kepala oleh ISIS. Mereka membunuh –dengan cara terbrutal yang bisa dibayangkan manusia modern—siapa saja yang bukan bagian dari mereka, baik itu Muslim Sunni dan Syiah, Alawi, Kurdi, Kristen, atau Yazidi. Sesama jihadis tetapi berbeda ‘imam’, tak luput dari aksi barbar ISIS. Ini pula agaknya yang dimaksud Charlie Hebdo dalam salah satu kartun satirenya: bahkan Nabi Muhammad pun dipenggal oleh ISIS.

(lebih…)

Nasib Muslim Tatar dan Jihad Ukraina

Analisis terbaru saya, dimuat di www.LiputanIslam.com

Nasib Muslim Tatar : Isu Jihad Baru di Ukraina?

Doku Umarov dan pasukan jihadnya

Doku Umarov dan pasukan jihadnya

Mereka yang intens mengikuti konflik Suriah dan Timteng pada umumnya, semestinya merasakan adanya alarm yang berbunyi, saat membaca tulisan koran Republika edisi cetak halaman 25 (10/3) berjudul “Tanda X di Pintu Rumah Muslim Crimea”. Track record Republika yang ikut bergabung dalam koor media mainstream soal Suriah, menyebarluaskan ilusi bahwa konflik di Suriah adalah kekejian kaum Syiah pro-Assad terhadap kaum Sunni (salah satunya bisa dibaca di artikel ini: Syria di Republika), membuat saya melihat tulisan itu dengan cara berbeda.

Dalam artikel yang ditulis oleh Ferry Kisihandi (dan bersumber dari Reuters, jaringan berita milik keluarga Rothschild) diceritakan tragedi 1944, ketika diktator Soviet, Josef Stalin, memerintahkan polisi membuat tanda X pada pintu-pintu rumah Muslim Tatar. Dalam beberapa hari, 200 ribu Muslim diusir dari rumahnya dan dikirim ke wilayah Uzbekistan. Ribuan orang kehilangan nyawa dalam perjalanan itu. Pada 1960-an, Uni Soviet mulai mengizinkan Muslim Tatar yang masih hidup di pengasingan untuk kembali ke Krimea.

Menurut Republika, pengusiran tahun 1944 itu berpotensi berulang pada tahun ini, menyusul masuknya tentara Rusia ke Krimea dan menghendaki Krimea memisahkan diri dari Ukraina. Pasalnya, Muslim Tatar warga Krimea lebih memilih untuk bergabung dengan Ukraina. Dan pilihan itu melahirkan konsekuensi, karena akhir-akhir ini muncul goresan tanda X di pintu-pintu rumah beberapa muslim Krimea, tulis Republika.

Mengingat mayoritas kaum muslim kelihatannya sedemikian mudah diprovokasi tanpa mau sejenak merenung dan mencari ‘berita di balik berita’, isu penindasan Muslim Tatar saya perkirakan akan dipakai untuk menggalang jihad melawan Rusia. Masih belum luput dari ingatan, betapa mudahnya kaum Muslim di Indonesia diprovokasi dengan berbagai foto dan video palsu. Mereka pun rela merogoh kocek dalam-dalam, sehingga terkumpul ratusan juta rupiah tanpa audit yang jelas, demi ‘menolong kaum Sunni yang ditindas Assad’. Jihadis dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Indonesia berbondong-bondong datang ke Suriah demi menggulingkan Assad. Dan ironisnya, akhir-akhir ini di antara mereka (para jihadis) malah saling bunuh dengan cara-cara barbar, karena perebutan wilayah, jarahan, dan legitimasi (mana yang ‘khilafah asli’).

Umat muslim dunia kebanyakan menerima saja apa yang dicekokkan media kepada mereka. Dan ironisnya, sejak kasus Suriah, banyak media berlabel Islam yang bergotong royong dengan media mainstream tanpa mau mengaitkan konflik lokal dengan konstelasi politik global. Dalam artikel saya berjudul L’Ukraine est une autre Syrie (Ukraina adalah Suriah yang lain), saya sudah menulis berbagai persamaan antara konflik Suriah dan Ukraina. Berbeda dengan Suriah yang perlu dua tahun sebelum (sebagian) publik menyadari konspirasi Barat, di Ukraina, kecurangan Barat terungkap dengan sangat cepat.

Baca selanjutnya di LiputanIslam.com ya 🙂

Suriah dan Hari Toleransi Internasional

Menulis tentang Suriah, seperti menjadi sebuah titik balik buat saya. Awalnya saya tidak menyadari sensitivitas masalah Suriah. Saya menulis analisis apa adanya, sebagaimana juga saya menulis analisis tentang konflik di negeri-negeri lain di Timur Tengah. Hingga tiba-tiba masuk inbox-inbox  di FB dan email-email yang mengata-ngatai saya Syiah, bukan Islam, kafir, ‘percuma berkerudung kalau membela Assad’, saya baru menyadari ada sesuatu yang ‘besar’ dalam konflik Suriah ini. Semakin lama, keanehan semakin muncul: mengapa orang-orang yang selama ini membela Palestina malah berbalik badan dan mendukung penggulingan rezim Assad, yang selama ini justru memberikan pelayanan terbaik di Timteng (menurut UNHCR) kepada para pengungsi Palestina?

Padahal, tesis yang saya bangun sejak awal menulis tentang Suriah adalah bahwa ada Israel dan AS di balik konflik Suriah dan fakta ini semakin hari, semakin terang-benderang. Namun tetap saja banyak orang tak mampu menangkap fakta itu. Sebagian rakyat awam tak mampu menangkap fakta, karena akses informasi yang terbatas. Ketika para ustadz dengan fasih berorasi di masjid-masjid, berkisah tentang ‘kekejaman kaum Syiah membantai kaum Sunni Suriah’, itulah yang mereka percayai. Tapi, sebagian orang tidak mau menangkap fakta, bukan tidak mampu. Misalnya saja, para facebooker dan mereka yang familiar dengan internet.

Seharusnya mereka lebih bisa meneliti, betapa luar biasanya distorsi informasi yang dilakukan media internasional, termasuk media-media berlabel Islam. Perang di Suriah bukan perang Sunni-Syiah. Tapi ada pasukan asing datang dari berbagai negara ke Suriah, bekerjasama dengan segelintir warga Suriah, untuk menggulingkan rezim Assad. Alasan yang mereka kemukakan dalam memerangi Assad adalah karena Assad adalah Syiah. Padahal, tentara Suriah mayoritasnya Sunni; mayoritas warga Suriah pun Sunni. Bom tidak memiliki mata: sehingga yang tewas akibat bom-bom yang diledakkan para pemberontak tentu saja mayoritasnya Sunni.

Ini bukan tentang mazhab. Ini tentang uang dan kekuasaan. Tentu panjang sekali kalau saya jelaskan lagi. Silahkan saja baca di blog ini, di kategori ‘Syria‘, atau yang lebih terstruktur, di buku Prahara Suriah.

Dan karena isunya mazhab, maka konflik Suriah pun dibawa-bawa hingga ke Indonesia. Mereka menggalang dana dengan membangkitkan kebencian. Seharusnya, mereka yang familiar dengan internet meluangkan waktu sedikit untuk mendeteksi foto-foto palsu yang digunakan oleh lembaga-lembaga yang menggalang dana itu.

Salah satunya foto ini:

 Capture3

Syria Care salah satu lembaga yang gencar menyebarluaskan sentimen kebencian terhadap Syiah di Indonesia-Malaysia, dengan memanfaatkan konflik Suriah, dan ujung-ujungnya menggalang dana.

(lebih…)

Karen Amstrong: Mengartikulasikan Islam yang Welas Asih

Dina Y. Sulaeman*

Konflik di Timur Tengah yang semakin hari semakin memanas seolah menampilkan sebuah wajah Islam yang kelam. Selain aksi bom bunuh diri yang seolah dianggap ‘lazim’ dilakukan oleh para teroris berlabel Islam di berbagai negara, kita disuguhi parade kebencian yang akut hingga ke level yang paling mengerikan, seperti menggorok leher, mutilasi mayat, atau memakan jantung mayat yang direkam dan diperlihatkan dengan bangga oleh para pelakunya.

Inikah wajah Islam sejati? Pastinya, setiap  muslim yang berhati nurani akan menjawab TIDAK. Lalu, mengapa semua ini bisa terjadi dan bagaimana mengatasinya?

Karen Amstrong, seorang pemikir kelas dunia yang telah menulis banyak buku tentang sejarah dan dialog agama-agama,  telah memberikan tawaran solusinya. Pada tanggal 14-15 Juni yang lalu, Amstrong datang memberikan kuliah umum di beberapa universitas di Indonesia. Di Universitas Paramadina, dia menjelaskan dengan  indah, betapa esensi Islam dan berbagai agama samawi lainnya, adalah cinta dan welas asih (compassion). Esensi ini semakin hari semakin terkubur, namun selalu ada semangat dari segelintir orang untuk menggali dan mengartikulasikannya kembali.

(lebih…)