Kajian Timur Tengah

Beranda » Lebanon – Hezbollah

Category Archives: Lebanon – Hezbollah

Lebanon (2)

Penjelasan dari Richard Medhurst (jurnalis independen, ayahnya Inggris, ibunya orang Suriah) menjelaskan tentang Lebanon.

Poin penting: kejadian di Beirut 14 Agustus lalu harus diletakkan dalam konteks yang lebih luas di kawasan Timteng, yaitu kubu resistensi vs kubu imperialis.

Bahasan lengkap (25 menit) silakan simak di channel YT Richard Medhurst), di video ini saya terjemahin 4 menitan aja.

https://www.youtube.com/watch?v=OFBhhLCxlDE

Lebanon (1)

Di Lebanon, semua aktor politik terpaksa disebutkan afiliasi agama/mazhabnya. Karena, struktur politik mereka memang sangat sektarian (istilahnya: konfesionalisme). Jabatan politik dibagi-bagi atas dasar agama dan mazhab. Jadi, ketika saya membahas Lebanon dan menyebut agama/mazhab, ini memang “terpaksa.” Harap diperhatikan, ini kejadian di Lebanon, ketika agama/mazhab mereka disebut-sebut, orang Indonesia tidak usah baper ya.

Hari Kamis 14 Agustus, para pendukung Hizbullah (Muslim Syiah), Partai Amal (Muslim Syiah), dan Partai Marada (Kristen) melakukan aksi demo damai (tidak bersenjata) di depan gedung “Istana Keadilan” (Palace of Justice), menuntut agar hakim yang sedang menyelidiki kasus meledaknya gudang amonium nitrat di Beirut (Agt 2020) bersikap adil.

(lebih…)

Daraa

Karena besok saya akan webinar, membahas hoaks (saya khusus bahas hoaks Suriah, narsum lain, bahas topik lain), saya jadi teringat pada kisah kota Daraa.

Dulu, di akhir tahun 2011, saya pernah menulis soal Daraa, kota tempat dimulainya aksi-aksi demo menentang Bashar Assad. Banyak yang menyamakan aksi demo ini dengan aksi demo di negara-negara Timteng lainnya di masa yang sama (Arab Spring). Padahal tidak, yang terjadi di Suriah berbeda (demikian pula Libya).

Di Daraa, sebelum aksi demo yang menurut media Barat “damai”, senjata-senjata sudah disiapkan, masuk dari Jordan. Tentara-tentara berbahasa non-Arab sudah berdatangan di perbatasan Jordan-Suriah. Lalu, ketika terjadi bentrokan antara polisi dan demonstran, media Barat (dan media-media nasional di Indonesia yang cuma modal copas-terjemah) dengan sangat masif menyebarluaskan narasi: Assad diktator, membantai rakyatnya sendiri.

(lebih…)

Beda Imperialisme dan Resistensia

Richard Medhurst ini jurnalis Suriah. Yang dia tulis: “Truk-truk AS meninggalkan Suriah, mencuri minyak kami; sementara truk-truk Iran masuk dengan membawa minyak untuk membantu orang-orang Lebanon. Itulah bedanya imperialisme dan kubu resistensi.”

Apa betul AS mencuri minyak Suriah?

(lebih…)

Minyak Iran Tiba di Lebanon

Lebanon saat ini dalam kondisi krisis. Pemerintahan tidak mampu melaksanakan tugas dengan baik; krisis internal, sistem politik yang buruk (sistem konfesionalisme, posisi dibagi-bagi berdasarkan agama dan mazhab), embargo dan campur tangan AS (dan sekutunya) membuat Lebanon menghadapi krisis ekonomi dan politik yang parah.

Salah satu kesulitan terbesar saat ini adalah krisis BBM. Antrian panjang terjadi untuk membeli BBM. Kondisi ini merembet pada naik drastisnya harga bahan pokok, dan terhalangnya berbagai layanan publik (misal, rumah sakit tidak ada listrik).

(lebih…)

Dr. Ang dan Tragedi Sabra-Shatila

Tanggal 16-18 September 1982 terjadi pembantaian di kamp pengungsi Palestina di Beirut, Sabra Shatila. Pelakunya, milisi Kristen Lebanon (Phalangis) dan tentara Israel. Sekitar 3500 orang warga sipil di kamp itu tewas dibantai secara sadis.

Dr. Ang adalah seorang penganut Kristiani, datang ke Beirut sebagai relawan medis bersama tim Christian Aid. Dia ditempatkan di RS Gaza, di kamp pengungsi Sabra-Shatila dan menjadi saksi mata pembantaian massal itu.

Di video ini (tahun 2014, Ted Talks) intinya mendorong kaum perempuan untuk melakukan perubahan meskipun kecil, yang bila dilakukan secara konsisten akan menjadi perubahan besar.

Video lengkap ada di sini: https://www.youtube.com/watch?v=u9oH7HoxmLk&t=932s

Saya menerjemahkan sekitar 4 menitan, bagian kesaksian dia mengenai tragedi Sabra-Shatila.

Salah satu tulisan Dr. Ang mengenai apa yang disaksikannya di Sabra Shatila bisa dibaca di sini (sudah diterjemahkan): https://ic-mes.org/…/kesaksian-dr-ang-tentang…/

#FreePalestine#SabraAndShatila

Hajj and the struggle against the apartheid regime of Israel

TEHRAN- One of the messages of Hajj is to fight racism. Everyone who performs Hajj must perform tawaf and sa’i. During tawaf, a pilgrim must also circle the tomb of Sayidah Hajar, which is attached to one part of the Kaaba. Then, he or she must perform sa’i, to run back and forth, from Safa to Marwah. 

Sa’i is a Hajj ritual that imitates what Hajar did. Who is Hajar? She was a black slave who was married to Prophet Ibrahim. In the sight of Allah, even a black slave woman turned out to have a very noble degree. Allah says the noblest among humans is the most pious, not the richest, or a specific gender or race. Therefore, Muslims should fight racism in this world. One nation that is still a victim of racism is the Palestinian nation. Palestine is colonized by the Zionist-Israel group, who claimed to be nobler and had the right to carry out occupation and various crimes against humanity against the Palestinian people.

In April 2021, Human Rights Watch issued a report describing Israel as committing apartheid and persecution towards the Palestinian people. Israel formally implemented an apartheid system of government that separated social, economic, and political life based on race. The Israeli Jews get far more special rights and facilities than Palestinians.
The legal term “apartheid” has long been used by observers, writers, or diplomats who support the Palestinian cause. The 1973 International Convention on the Suppression and Punishment of the Crime of Apartheid and the 1998 Rome Statute for the International Criminal Court (ICC) define apartheid as a crime against humanity as consisting of three main elements: the intention to maintain the dominance of one racial group over another; systematic oppression by dominant groups over marginalized groups; and inhuman actions (HRW, 2021). 

(lebih…)

Milisi teror yang dihadapi oleh tentara Suriah memang bukan kaleng-kaleng. Mereka punya senjata lengkap, disuplai oleh negara-negara kaya raya (plus dari uang sumbangan rakyat berbagai negara, termasuk Indonesia).

Jadi aneh bila ini dibilang “perang saudara” atau
“rezim menindas rakyat”. Rakyat model apa yang punya persediaan senjata sekuat/lebih kuat dari negara?

Beberapa tahun pertama perang (2012- akhir 2016), tentara Suriah kelabakan, bahkan sekitar 70% wilayahnya dikuasai milisi teror ini. Karena itulah Suriah minta bantuan Iran, Rusia, dan Hizbullah. Sejak Desember 2016, posisi berbalik, satu persatu wilayah Suriah berhasil dibebaskan. Kini tersisa 1 provinsi yang berbatasan dg Turki, Idlib. Inilah front terakhir para teroris. Turki dan AS pun turun tangan membantu para teroris ini.

[kalau dishare, pengantar dari saya tidak terbawa, perlu dicopas dulu]

https://web.facebook.com/theSyriainsider/videos/138045994227094/?t=0

“Demokrasi Itu untuk Kaum Kafir”

Setelah Aleppo sepenuhnya bebas dari teroris, netizen dari Lebanon bernama Hadi Nasrallah ini (background pendidikannya HI, dan selama ini aktif di medsos melawan narasi Barat dan propagandis Al Qaida) datang ke Aleppo.

Ia mendatangi pinggiran Idlib, melewati tol Aleppo-Damaskus yang sudah dibuka lagi. Di jalan, ia mendapati 200 papan pengumuman yang tertulis ‘Jabhah Al Nusra’ (artinya, dibuat oleh JN alias Al Qaida).

Salah satu di antara isinya: demokrasi adalah untuk orang kafir.

Sungguh aneh, AS yang sering dijadikan kiblat demokrasi dan memerangi berbagai negeri demi demokrasi, justru membantu JN dkk di Idlib. Bukan cuma AS, bahkan Turki yang mengaku negeri demokratis sampai terjun ke Idlib berperang langsung melindungi JN dkk.

Suporter JN di Indonesia juga mengharamkan demokrasi. Jadi kalau mereka berkuasa, tentu akan ada plang kayak gini di berbagai sudut kota.


[kalau link ini dishare, pengantar dari saya tidak terbawa, jadi harus dicopas dulu]

Israel Berperan Penting dalam Pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani

Ini berita yang ditayangkan Jerusalem Post [media Israel] 7 jam yang lalu (9:23 WIB, saat saya menulis ini).

Saya terjemahkan apa adanya, lalu kalimat di dalam […] adalah kritikan dari saya.

**
Intelejen Israel berperan penting dalam pembunuhan AS terhadap kepala Pasukan Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Quds, Mayjen. Qasem Soleimani, NBC News melaporkan pada hari Minggu.

Soleimani menggunakan kekuatan dan pengaruh besar dan sangat penting sebagai arsitek yang menyebarkan dan mempertahankan pengaruh Iran di Libanon, Suriah, Irak, Yaman dan di tempat lain di kawasan ini melalui tindakan terorisme.

[Soleimani membantu Suriah&Irak melawan ISIS; membantu Hezbollah Lebanon melawan Israel; dan membantu Houthi melawan Saudi —> karena ISIS, Saudi, dan Israel berteman, tindakan Soleimani disebut “terorisme” oleh media Israel ini.]

Setelah terbang ke Irak dari Damaskus dengan Cham Wings Airbus A320, ia dan rombongan keamanannya tewas oleh empat serangan rudal AS yang menargetkan dua kendaraan mereka ketika mereka meninggalkan Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari. Abu Mahdi al-Muhandis, seorang pemimpin penting dari Pasukan Mobilisasi Populer [PMU/Hashd Al Shaabi] yang didukung Iran, juga tewas.

(lebih…)