Kajian Timur Tengah

Beranda » Lebanon – Hezbollah

Category Archives: Lebanon – Hezbollah

JeSuisCharlie VS JeSuisJihadMughniyah

Aslinya begini:

Israelis watch bombings of Gaza from Sderot hillside

Orang Israel menonton bombardir terhadap Gaza sambil santai , Juli 2014 (sumber foto: The Guardian)

Lalu, ada yang membuat karikatur begini dan dimuat di  The Sydney Morning Herald (SMH):

Kartun karya Glen Le Lievre

Kartun karya Glen Le Lievre

Seminggu kemudian, tanggal 15 Agustus 2014, setelah diprotes oleh kalangan pro-Israel karena SMH dianggap “Violated Standards of Practice that all press must adhere to in Australia according to the Australian Press Council in its linking of “symbols of the Jewish faith” to criticism of Israel”, SMH pun meminta maaf.

Dalam artikel berjudul “We apologise: publishing cartoon in original form was wrong”, SMH menulis: The Herald now appreciates that, in using the Star of David and the kippah in the cartoon, the newspaper invoked an inappropriate element of religion, rather than nationhood, and made a serious error of judgment.

Jadi, yang dipermasalahkan adalah penggunaan simbol bintang David dan topi kippah dalam kartun, yang dianggap melecehkan simbol keagamaan Yahudi.
(lebih…)

Isu Mazhab di Syria: Bonus Buat Israel

©Dina Y. Sulaeman

Menganalisis Syria, buat sebagian orang, termasuk saya, terasa agak sensitif. Aroma mazhab menguar dengan kental, sehingga seolah-olah publik dipecah dua. Pendukung Syria diidentikkan dengan orang-orang Syiah, seolah-olah Bashar Assad adalah penganut Syiah yang taat dan harus dibela habis-habisan. Padahal, faktanya Assad adalah pemimpin yang sekuler. Dia penganut Syiah Alawi, mazhab yang berbeda jauh dengan Syiah ala Iran yang sangat patuh pada garis komando ulama. Jadi, Assad bukanlah pendukung Wilayatul Faqih (pemerintahan ulama di Iran). Fakta bahwa Syria berhubungan baik dengan Iran lebih ke faktor geopolitik, bukan mazhab. Sebaliknya, orang-orang Sunni lebih cenderung percaya pada pemberitaan betapa kejamnya Bashar Assad yang tega membunuhi rakyat sendiri, terutama membunuhi para aktivis Islam non-Syiah. Bahkan ada yang menilai Assad itu lebih kejam dari Israel.

Pertanyaan saya, mengapa kaum muslimin tidak keluar dari pengotak-kotakan seperti ini? Konflik di Syria sangat jelas, bukan konflik antarmazhab. Lalu mengapa publik harus berpihak pada salah satu pihak dengan landasan mazhab? Situasi perpecahan seperti inilah yang justru menjadi bonus buat Barat. Mereka ingin menggulingkan Assad demi kepentingan mereka. Namun, kekuatan propaganda mereka telah memberi keuntungan lain: semakin terpecahnya umat Islam. Alih-alih berdiri di barisan yang sama untuk menentang satu musuh bersama: aliansi AS-Israel-NATO, umat Islam malah saling tuduh.

Saya ingin mengutip satu dari sekian banyak analisis yang ditulis pengamat Barat anti-perang. Mereka ini dengan jernih berusaha mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi di Syria, lepas dari urusan agama. Prof. Michel Chossudovsky adalah salah seorang pengamat politik Timur Tengah yang aktif menulis tentang Syria. Motivasinya sederhana saja: mencegah perang, karena perang hanya akan merugikan warga dunia pada umumnya. Perang hanya menguntungkan segelintir elit politik dan para industrialis perang (penyedia senjata, juragan minyak, dll).

(lebih…)

Pro-Kontra Kerusuhan Mei di Beirut

Oleh: Dina Y. Sulaeman

Untuk lebih jelas terkait konstelasi politik Lebanon, sebaiknya baca dulu artikel sebelumnya https://dinasulaeman.wordpress.com/2007/11/26/siapa-di-balik-konflik-lebanon/

Jika kita membaca kerusuhan di Beirut selama sepekan lalu (8-14 Mei) dari media massa Barat atau pro-Barat, kejadiannya adalah, Hizbullah ngamuk setelah Perdana Menteri Siniora memutuskan menutup jaringan telekomunikasi Hizbullah dan mengganti kepala Bandara Beirut. Hizbullah (dengan embel-embel “didukung oleh Iran dan Suriah”) menyerang kelompok-kelompok pendukung pemerintah. Sebagian media bahkan menyebut bentrokan ini adalah antara mazhab Sunni melawan Syiah. New York Times memasang foto seorang wanita Druze yang menangis karena rumahnya dibakar. Tidak dijelaskan siapa yang membakar, tapi berita di bawah foto itu akan menggiring pembaca menyimpulkan bahwa pembakarnya adalah kelompok Hizbullah.

Tapi, mari kita sejenak menengok pemberitaan dari situs Al Manar, Kayhan, atau situs resmi Hizbullah. Kita akan menemukan fakta-fakta yang selama ini tersembunyi (atau disembunyikan) media Barat.

Misalnya, aksi Saad Hariri, anggota Parlemen Lebanon. Dia mempunyai kelompok bernama Al Mustaqbal. Di hari ke-6 bentrokan, Saad Hariri baru muncul dalam sebuah konferensi pers dan dengan enteng menyangkal bahwa kelompok Al Mustaqbal adalah kelompok bersenjata.
(lebih…)

Siapa di Balik Konflik Lebanon?

Oleh: Dina Y. Sulaeman

*Please honour the copyright, jangan asal copy-paste*

Lebanon bergejolak lagi. Jumat malam (23/11), Presiden Lebanon, Emile Lahoud, telah sampai pada akhir masa jabatannya (dimulai sejak tahun 1998, masa jabatan 6 tahun, lalu atas perintah parlemen, menyusul masa krisis tahun 2004 akibat tewasnya Rafiq Hariri, Lahoud diberi mandat untuk menjabat selama tiga tahun lagi). Namun, inilah untuk pertama kalinya dalam sejaran Lebanon, seorang presiden mengakhiri masa jabatannya ketika Parlemen belum berhasil menetapkan presiden baru. Sistem politik di Lebanon menetapkan bahwa Presiden harus dijabat oleh seorang Kristen (dan dipilih oleh parlemen), perdana menteri  harus dijabat oleh seorang Sunni dan ketua parlemen ada di tangan seorang Syiah.

Parlemen Lebanon telah bersidang lima kali untuk menetapkan presiden baru, namun sidang selalu ditunda, dan terakhir, ditunda lagi hingga tanggal 30 November. Menurut Nabih Berri, penundaan sidang kali ini adalah karena kuorum yang tak terpenuhi.

Sekarang pertanyaannya, siapa yang berkepentingan dengan penundaan pemilihan presiden di Lebanon, dan mengapa ditunda hingga tanggal 30 November?
(lebih…)

Analisis Kemenangan Hizbullah

oleh: Dina Sulaeman

Perang Lebanon telah usai. Meski menorehkan banyak luka, derita, dan kehilangan, rakyat Lebanon menyambut kemenangan ini dengan suka cita. Masyarakat Dunia Arab juga gembira. Kemenangan Hizbullah melawan agresi Israel, yang sering disebut-sebut sebagai kekuatan militer nomor satu di Timur Tengah, seolah-olah telah mengembalikan muka Dunia Arab. Sebagaimana diketahui, pada tahun 1967 Israel secara tiba-tiba melakukan serangan terhadap wilayah Mesir, Syria, Jordan. Hanya dalam waktu enam hari, ketiga negara yang  menjadi representasi perlawanan bangsa Arab terhadap Israel itu, kalah telak. Namun kini, sebuah kekuatan milter yang sederhana dari segi peralatan tempur ternyata tidak bisa dikalahkan Israel, meski rezim ini sudah menghabiskan dana antara 95-115 juta dollar AS per hari selama 34 hari perang. Bukan hanya Dunia Arab, Dunia Islam secara umum pun bangkit harga dirinya dan meraih keyakinan kembali bahwa Israel bukanlah negara tak terkalahkan, sebagaimana yang selama ini menjadi mitos.

Analis militer Iran, Doktor Ala’i, menyimpulkan bahwa anggota pasukan Hizbullah memiliki tiga karakteristik penting yang menjadi kunci kemenangannya dalam perang ini. (lebih…)

Menatap Wajah Hezbollah dari Iran

Oleh: Dina Sulaeman

Sejak meletusnya perang di Lebanon, suasana perang amat terasa di Iran, terutama jika kita banyak menonton televisi. Betapa tidak, tiap sebentar diputar filler (film pendek) berisi adegan-adegan perang, dilatarbelakangi lagu-lagu heroik berbahasa Arab. Pidato Sayid Hasan Nasrallah, pemimpin Hezbollah Lebanon, yang berisi ancaman-ancaman terhadap Israel disiarkan live atau siaran tunda. Laporan-laporan reporter televisi Iran disampaikan secara live dari Lebanon, bahkan ada reporter yang melaporkan kondisi terakhir dengan diiringi suara bom beruntutan dan asap hitam di belakang punggungnya. Setiap hari, berita channel satu pukul sembilan malam akan dimulai dengan kalimat, “Perjuangan hari kesekian (ketiga.. ke sembilan..ke duapuluh)…” lalu mengabarkan kondisi terbaru di medan perang.
(lebih…)

Mengapa Pierre Gemayel Dibunuh?

Latar Belakang:

1. Setelah kemenangan Hizbullah, Partai Kataeb pimpinan Amien Gemayel yang didukung 20 persen Kristen pelan-pelan mulai menarik diri dari kelompok 14 Maret (yang merupakan pendukung utama pemerintahan Perdana Menteri Siniora) dan menjalin dialog dengan Hasan Nasrallah. Hal ini juga diikuti oleh Michael Aoun dari The Free Patriotic Movement yang juga mendekati Hizbullah. Akibatnya, kelompok 14 Maret mulai tergembosi. (lebih…)