Kajian Timur Tengah

Beranda » Lebanon – Hezbollah

Category Archives: Lebanon – Hezbollah

Israel Berperan Penting dalam Pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani

Ini berita yang ditayangkan Jerusalem Post [media Israel] 7 jam yang lalu (9:23 WIB, saat saya menulis ini).

Saya terjemahkan apa adanya, lalu kalimat di dalam […] adalah kritikan dari saya.

**
Intelejen Israel berperan penting dalam pembunuhan AS terhadap kepala Pasukan Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Quds, Mayjen. Qasem Soleimani, NBC News melaporkan pada hari Minggu.

Soleimani menggunakan kekuatan dan pengaruh besar dan sangat penting sebagai arsitek yang menyebarkan dan mempertahankan pengaruh Iran di Libanon, Suriah, Irak, Yaman dan di tempat lain di kawasan ini melalui tindakan terorisme.

[Soleimani membantu Suriah&Irak melawan ISIS; membantu Hezbollah Lebanon melawan Israel; dan membantu Houthi melawan Saudi —> karena ISIS, Saudi, dan Israel berteman, tindakan Soleimani disebut “terorisme” oleh media Israel ini.]

Setelah terbang ke Irak dari Damaskus dengan Cham Wings Airbus A320, ia dan rombongan keamanannya tewas oleh empat serangan rudal AS yang menargetkan dua kendaraan mereka ketika mereka meninggalkan Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari. Abu Mahdi al-Muhandis, seorang pemimpin penting dari Pasukan Mobilisasi Populer [PMU/Hashd Al Shaabi] yang didukung Iran, juga tewas.

(lebih…)

Perang Dimulai?

Kemarin (7 Jan), parlemen Iran menetapkan bahwa tentara AS adalah teroris. Dua hari sebelumnya (5/1) Parlemen Irak merilis resolusi, meminta tentara AS angkat kaki dari Irak. Kemarin, Menlu Javad Zarif, ditolak visanya oleh AS, sehingga dia tidak bisa datang ke Sidang Dewan Keamanan PBB dimana ia dijadwalkan untuk pidato. Artinya, upaya diplomasi Iran sudah dihalangi oleh AS dan PBB pun tidak bisa berbuat apa-apa, meski hanya sebatas menjamin hak kedatangan perwakilan sebuah negara anggotanya.

Tadi malam (Rabu dini hari, 6/1), pukul 01:20 waktu Irak, [kabarnya ini waktu yang sama dengan penembakan roket yang menyebabkan Jend Qassem Soleimani dan rombongan gugur] Iran meluncurkan puluhan rudal.

Targetnya adalah pangkalan militer AS “Ain Al Assad” di provinsi Anbar, barat Irak. Pangkalan ini pertama kali digunakan oleh pasukan AS setelah menginvasi Irak tahun 2003 dan menggulingkan Saddam.

(lebih…)

Tentang Qassem Soleimani (2)

Kembali ke Jenderal Qassem. Di Irak, Islamic State of Irak (ISI) terbentuk sejak 2004 dan secara resmi berbaiat pada Al Qaida. Setelah Saddam tumbang (2003), pasukan AS terus bercokol di sana dengan alasan “menegakkan demokrasi di Irak”. Proses-proses demokrasi di Irak dimulai dengan pileg pada 2005. Selama proses demokrasi ini berlangsung, ISI melakukan sangat banyak serangan bom bunuh diri. Karena ideologinya yang takfiri, target pembunuhan mereka adalah kaum Syiah Irak, namun kaum Sunni juga menjadi korban. Aksi teror terjadi di mana-mana. Tahun 2013, ISI menyatakan membentuk ISIS, yaitu menggabungkan gerakan pembentukan khilafah di Irak dan di Suriah.

Kota demi kota, desa demi desa di Irak dan Suriah jatuh ke tangan ISIS. Dalam sebuah film dokumenter disebutkan bahwa tentara AS di Irak awalnya sama sekali tidak memberikan bantuan kepada tentara nasional Irak untuk melawan ISIS. Puncaknya, kota Mosul jatuh ke tangan ISIS pada bulan Juni 2014. Kejatuhan Baghdad sudah di depan mata. Untuk pertama kalinya, pada 13 Juni 2014, ulama besar Irak yang bermazhab Syiah, Ayatulah Sistani, mengeluarkan fatwa jihad melawan ISIS. Fatwa ini berlaku untuk semua Muslim (demografi Irak: 64,5% Syiah, 31,5% Sunni, 2% Yazidi, 1,2% Kristen, 0,8 lain-lain).

Soleimani datang dan membantu pembentukan jaringan milisi The People’s Mobilization Forces (PMF) atau People’s Mobilization Forces (PMU) atau dalam bahasa Arab: al-Hashd al-Shaabi. Milisi yang dibentuk 15 Juni 2014 ini menggabungkan berbagai milisi dari berbagai faksi, Sunni, Syiah, maupun Kristen, yang bergerak bersama tentara nasional Irak. Pasukan Iran juga bergabung dalam perang ini, dan ini legal karena direstui oleh pemerintah Irak.

Akhir Langkah Sang Jenderal

(lebih…)

Tentang Qassem Soleimani (1)

Karena panjang, 1800-an kata, saya bagi 2 ya.

Gugurnya Komandan Quds Force Iran, Jenderal Qassem Soleimani, akibat serangan roket [1] yang ditembakkan militer AS secara sengaja atas perintah Trump telah mendapat pemberitaan luas. Saya membaca cukup banyak di antaranya, baik media Barat maupun nasional. Seperti biasa, umumnya media nasional melakukan copas-terjemah-edit sumber-sumber Barat, dan frasa yang sering diulang adalah bahwa Jend. Soleimani “berperan dalam meluaskan pengaruh Iran di Timteng”. Sungguh frasa khas Washington.

Ada beberapa yang menulis bahwa Jend Soleimani ‘berperan’ dalam melawan ISIS; lebih banyak lagi yang menyebut ‘berperan’ dalam ‘perang saudara’ di Suriah. Di media sosial, termasuk grup-grup WA, yang disebarkan lebih sadis: Jend Soleimani berperan dalam “membunuh kaum Sunni di Irak dan Suriah”. Padahal kita tahu, di Suriah bukanlah ‘perang saudara’ melainkan perang sebuah bangsa melawan ISIS dan ratusan milisi lainnya yang berafiliasi dengan Al Qaida. Pasukan milisi teror tersebut jelas bukan Sunni, tapi Wahabi. Dalam Muktamar Ulama Aswaja di Chechnya tahun 2016, Wahabi dinyatakan bukan bagian dari Ahlussunnah karena Ahlussunnah sama sekali tidak berpaham takfiri, apalagi membunuh sesama Muslim dengan tuduhan ‘kafir’ sebagaimana yang diajarkan ideolog Wahabi.[2]

Apa yang Sebenarnya Dilakukan Sang Jenderal?

(lebih…)

Reportase Saya dari Iran, Soal Hezbollah

Pagi-pagi baca postingan di Fanpage Felix Irianto Winardi membuat saya teringat pada arsip tulisan lama saya. Romo Felix menulis apa saja kunci kemenangan Hez lawan Israel selama ini (https://www.facebook.com/felix.irianto.winardi/posts/368004823955639).

Tahun 2006, saya menulis ‘laporan pandangan mata’ dari Iran, karena saat Perang 34 Hari Hez vs Israel berlangsung, saya sedang berada di Iran, bekerja sebagai jurnalis di IRIB.

***

Menatap Wajah Hezbollah dari Iran (Dina Sulaeman, dimuat di Padang Ekspres, 3 Agustus 2006)

Sejak meletusnya perang di Lebanon, suasana perang amat terasa di Iran, terutama jika kita banyak menonton televisi. Betapa tidak, tiap sebentar diputar filler (film pendek) berisi adegan-adegan perang, dilatarbelakangi lagu-lagu heroik berbahasa Arab. Pidato Sayid Hasan Nasrallah, pemimpin Hezbollah Lebanon, yang berisi ancaman-ancaman terhadap Israel disiarkan live atau siaran tunda. Laporan-laporan reporter televisi Iran disampaikan secara live dari Lebanon, bahkan ada reporter yang melaporkan kondisi terakhir dengan diiringi suara bom beruntutan dan asap hitam di belakang punggungnya. Setiap hari, berita channel satu pukul sembilan malam akan dimulai dengan kalimat, “Perjuangan hari kesekian (ketiga.. ke sembilan..ke duapuluh)…” lalu mengabarkan kondisi terbaru di medan perang.

(lebih…)

Suriah dan Orang-Orang Prancis

Kerusuhan di Prancis yang sudah berlangsung sekitar 3 pekan memunculkan deja vu bagi orang-orang yang intens mengamati Perang Suriah; bisa terlihat di berbagai komentar netizen [umumnya yang dari Barat/Timteng] di Twitter.

Rana Harbi, selebtwit cantik dari Lebanon menulis, “Bayangkan bila beberapa negara memutuskan mengirimkan senjata senilai miliaran [dollar] kepada para demonstran di Prancis, memaksakan berbagai sanksi [terhadap pemerintah Perancis], dan membantu semua kelompok antipemerintah; termasuk kelompok-kelompok dengan ideologi ekstrim; lalu membuat koalisi untuk mengebom Prancis. Keterlaluan? Nah, itulah yang sedang terjadi di Suriah sejak 2011!”

Seseorang entah siapa, membuat akun bernama ‘Benoite Abedoux’ [plesetan dari selebtiwit cilik asal Suriah, Bana Al Abed]. Isi tweet-nya bikin saya tertawa miris; mirip sekali dengan apa yang selama ini dicuit oleh Bana yang mengaku berada di Aleppo timur.

(lebih…)

Israel Membantu White Helmets Demi Apa?

Pagi ini saya baca twitter PM Israel Netanyahu (lihat foto), intinya…”Saya dikontak Presiden AS dan PM Kanada, dan beberapa negara lain, yang meminta bantuan Israel agar menyelamatkan anggota White Helmets. … Kami tidak akan berhenti melakukan aksi di Suriah MELAWAN UPAYA IRAN membangun pangkalan militer di sana.”

Perhatikan frasa ‘melawan Iran’.

Pada bulan Maret 2016, Wikileaks mempublikasikan email Hillary Clinton. Tertulis di dalam email itu, “Hubungan strategis antara Iran dan rezim Bashar Assad membahayakan keamanan Israel… Berakhirnya rezim Assad akan mengakhiri aliansi berbahaya ini… Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak mengatakan bahwa ‘penggulingan Assad akan menjadi serangan besar kepada Iran… ini akan amat melemahkan Hizbullah di Lebanon, Hamas dan Jihad Islam di Gaza.”

AS memiliki kebijakan khusus untuk membuka dokumen-dokumen rahasia kepada publik setelah melewati jangka waktu. Dalam dokumen rahasia CIA tahun 1983 yang sudah bisa diakses publik, terlihat bahwa AS berencana menyerang Suriah. Dalam dokumen ini disebutkan bahwa Suriah adalah penghalang bagi kepentingan AS di Lebanon dan Teluk karena rezim Assad menutup jalur pipa minyak Irak. CIA merekomendasikan agar Pemerintah AS meningkatkan tekanan kepada Assad dengan merancang diam-diam serangan militer di perbatasan Irak, Israel, dan Turki.

(lebih…)

JeSuisCharlie VS JeSuisJihadMughniyah

Aslinya begini:

Israelis watch bombings of Gaza from Sderot hillside

Orang Israel menonton bombardir terhadap Gaza sambil santai , Juli 2014 (sumber foto: The Guardian)

Lalu, ada yang membuat karikatur begini dan dimuat di  The Sydney Morning Herald (SMH):

Kartun karya Glen Le Lievre

Kartun karya Glen Le Lievre

Seminggu kemudian, tanggal 15 Agustus 2014, setelah diprotes oleh kalangan pro-Israel karena SMH dianggap “Violated Standards of Practice that all press must adhere to in Australia according to the Australian Press Council in its linking of “symbols of the Jewish faith” to criticism of Israel”, SMH pun meminta maaf.

Dalam artikel berjudul “We apologise: publishing cartoon in original form was wrong”, SMH menulis: The Herald now appreciates that, in using the Star of David and the kippah in the cartoon, the newspaper invoked an inappropriate element of religion, rather than nationhood, and made a serious error of judgment.

Jadi, yang dipermasalahkan adalah penggunaan simbol bintang David dan topi kippah dalam kartun, yang dianggap melecehkan simbol keagamaan Yahudi.
(lebih…)

Isu Mazhab di Syria: Bonus Buat Israel

©Dina Y. Sulaeman

Menganalisis Syria, buat sebagian orang, termasuk saya, terasa agak sensitif. Aroma mazhab menguar dengan kental, sehingga seolah-olah publik dipecah dua. Pendukung Syria diidentikkan dengan orang-orang Syiah, seolah-olah Bashar Assad adalah penganut Syiah yang taat dan harus dibela habis-habisan. Padahal, faktanya Assad adalah pemimpin yang sekuler. Dia penganut Syiah Alawi, mazhab yang berbeda jauh dengan Syiah ala Iran yang sangat patuh pada garis komando ulama. Jadi, Assad bukanlah pendukung Wilayatul Faqih (pemerintahan ulama di Iran). Fakta bahwa Syria berhubungan baik dengan Iran lebih ke faktor geopolitik, bukan mazhab. Sebaliknya, orang-orang Sunni lebih cenderung percaya pada pemberitaan betapa kejamnya Bashar Assad yang tega membunuhi rakyat sendiri, terutama membunuhi para aktivis Islam non-Syiah. Bahkan ada yang menilai Assad itu lebih kejam dari Israel.

Pertanyaan saya, mengapa kaum muslimin tidak keluar dari pengotak-kotakan seperti ini? Konflik di Syria sangat jelas, bukan konflik antarmazhab. Lalu mengapa publik harus berpihak pada salah satu pihak dengan landasan mazhab? Situasi perpecahan seperti inilah yang justru menjadi bonus buat Barat. Mereka ingin menggulingkan Assad demi kepentingan mereka. Namun, kekuatan propaganda mereka telah memberi keuntungan lain: semakin terpecahnya umat Islam. Alih-alih berdiri di barisan yang sama untuk menentang satu musuh bersama: aliansi AS-Israel-NATO, umat Islam malah saling tuduh.

Saya ingin mengutip satu dari sekian banyak analisis yang ditulis pengamat Barat anti-perang. Mereka ini dengan jernih berusaha mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi di Syria, lepas dari urusan agama. Prof. Michel Chossudovsky adalah salah seorang pengamat politik Timur Tengah yang aktif menulis tentang Syria. Motivasinya sederhana saja: mencegah perang, karena perang hanya akan merugikan warga dunia pada umumnya. Perang hanya menguntungkan segelintir elit politik dan para industrialis perang (penyedia senjata, juragan minyak, dll).

(lebih…)

Pro-Kontra Kerusuhan Mei di Beirut

Oleh: Dina Y. Sulaeman

Untuk lebih jelas terkait konstelasi politik Lebanon, sebaiknya baca dulu artikel sebelumnya https://dinasulaeman.wordpress.com/2007/11/26/siapa-di-balik-konflik-lebanon/

Jika kita membaca kerusuhan di Beirut selama sepekan lalu (8-14 Mei) dari media massa Barat atau pro-Barat, kejadiannya adalah, Hizbullah ngamuk setelah Perdana Menteri Siniora memutuskan menutup jaringan telekomunikasi Hizbullah dan mengganti kepala Bandara Beirut. Hizbullah (dengan embel-embel “didukung oleh Iran dan Suriah”) menyerang kelompok-kelompok pendukung pemerintah. Sebagian media bahkan menyebut bentrokan ini adalah antara mazhab Sunni melawan Syiah. New York Times memasang foto seorang wanita Druze yang menangis karena rumahnya dibakar. Tidak dijelaskan siapa yang membakar, tapi berita di bawah foto itu akan menggiring pembaca menyimpulkan bahwa pembakarnya adalah kelompok Hizbullah.

Tapi, mari kita sejenak menengok pemberitaan dari situs Al Manar, Kayhan, atau situs resmi Hizbullah. Kita akan menemukan fakta-fakta yang selama ini tersembunyi (atau disembunyikan) media Barat.

Misalnya, aksi Saad Hariri, anggota Parlemen Lebanon. Dia mempunyai kelompok bernama Al Mustaqbal. Di hari ke-6 bentrokan, Saad Hariri baru muncul dalam sebuah konferensi pers dan dengan enteng menyangkal bahwa kelompok Al Mustaqbal adalah kelompok bersenjata.
(lebih…)