Kajian Timur Tengah

Beranda » Libya

Category Archives: Libya

Libya, Suriah, dan Klaim Dakwah/Antikekerasan HTI

HTI

Republika (24/10) menurunkan berita dengan judul bombastis:  “Aksi Tolak Perppu Ormas Jadi Lautan Bendera Tauhid”. Ngawurnya ada dua, pertama apakah sih definisi bendera tauhid sebenarnya (apa kalau tidak pakai bendera itu artinya tidak bertauhid?) Apakah bendera HTI itu bendera tauhid? Ini silahkan didiskusikan dengan ahli agama, setahu saya sih tidak demikian. Kedua, judul itu jelas ingin membangun opini: Perppu Ormas (sekarang sudah jadi UU) adalah anti Islam. Menariknya, wartawan Republika itu juga menyebutkan bahwa tidak ada satupun bendera merah putih yang terlihat.

HTI selalu mengklaim diri sebagai semata-mata organisasi dakwah Islam dan atas alasan itu, Perppu Ormas (kini UU) secara salah kaprah disebut anti Islam. Padahal yang disasar ormas-ormas yang ideologinya membahayakan NKRI (anti Pancasila, pro kekerasan, dll).

Jawaban untuk Klaim HTI

(1) HTI Organisasi Dakwah?

Klaim bahwa HTI adalah organisasi dakwah bertentangan dengan pernyataan yang dimuat di situs-situs HT di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang secara jelas menyatakan bahwa Hizbut Tahrir adalah partai politik yang memiliki tujuan untuk mendirikan kekhalifahan Islam.

Saat diwawancarai oleh Aiman dari Kompas TV (12/6), Ismail Yusanto mengelak menjawab, bagaimana proses terbentuknya kekhilafahan serta siapa dan dari negara mana asal sang khalifah.

(lebih…)

Iklan

Makelar Perang: Bernard Henry Levy

 

levy

BHL dan milisi bersenjata Libya

Dalam setiap perang, selalu ada ‘pembisik’ yang membisiki dan mendorong para elit/pengambil keputusan untuk mengobarkan perang. Beberapa tahun ini terakhir, para pembisik alias makelar perang ini mulai narsis, dan menunjukkan perannya secara terang-terangan. Di antaranya adalah seorang (mengaku) filsuf bernama Bernard Henry Levy (BHL).

Ia adalah pria keturunan Yahudi yang lahir di Aljazair pada tahun 1948 namun dibesarkan di Prancis. Penampilannya yang mahal membuatnya tampak lebih mirip selebritis, atau James Bond yang dengan gagah berani terjun ke daerah berbahaya. Dalam film dokumenter berjudul ‘The Oath of Tobruk’ yang disutradarai dan dibintanginya sendiri, BHL menampilkan dirinya sebagai sosok yang memainkan peran penting dalam me-lobby para pemimpin negara-negara Barat untuk menggulingkan Qaddafi.

(lebih…)

Bocah di Kursi Oranye dan NFZ

orange boyKompilasi status FB
Alih-alih memberikan jawaban yang logis untuk menjawab argumen-argumen yang saya berikan, mereka malah sibuk menghujat, membully, dan bahkan membuat meme yang menggunakan foto saya dan anak saya.
Kalian ikhwan akhwat soleh/ah, ga ingat sama akhiratkah, kok berani-beraninya berbuat demikian? Semoga kalian gak kaget kelak catatan amal kalian kosong karena sudah ditransfer ke saya.
Berikut ini video tentang White Helmets, “aktor” dalam video bocah di kursi oranye. Mereka menampilkan diri sebagai relawan, tapi sebenarnya mereka adalah jihadis/teroris yang berganti baju dari hitam menjadi rompi&helm putih. Dalam video ini terlihat mereka membawa senjata (relawan bawa senjata?), atau mereka berteriak-teriak Allahu Akbar di tengah para jihadis/teroris berbaju hitam. Atau, setelah seorang jihadis/teroris melakukan eksekusi mati pada seseorang, langsung anggota WH datang dan membungkus jasad korban (jadi, WH ada di tempat itu saat eksekusi mati). Atau WH berpose bersama mayat-mayat tentara Suriah.

Pejuang Kemanusiaan

archipelagoSejak konflik Libya 2011, saya menemukan bahwa di dunia ini ada yang disebut ‘jurnalis independen’. Mereka tidak terikat pada media mainstream. Jangan harap berita dan artikel yang mereka tulis bisa kita baca di situs-situs terkenal macam CNN atau Aljazeera. Tapi yang mereka lakukan sangat berarti untuk dunia, meskipun mungkin baru dirasakan ‘nanti’ atau ‘kelak’.

Misalnya saja, saat saya menulis tentang Libya tahun 2011, sebenarnya saya sejak awal sudah mendeteksi bahwa serangan masif media internasional mendiskreditkan Moamar Qaddafi sangat terkait dengan proyek minyak Imperium. Tapi bagaimana saya bisa menuliskannya kalau data-data dari lapangan sangat minim? Yang tersedia umumnya berita senada, disuguhkan oleh media mainstream dan diberitakan ulang oleh media-media lokal (yang ironisnya, tiba-tiba saja untuk kasus Libya, media-media “kafir” bisa senada dengan media-media “Islam”).

Jadi, waktu itu saya stay tune di globalresearch.ca. Dari situs itu saya tahu ada beberapa jurnalis pemberani mempertaruhkan nyawa untuk memberitakan kejadian yang sebenarnya di Libya, antara lain Mehdi Darius Nazemroaya dan Thierry Mayssan. Dari merekalah ‘dunia’ (yang mau membaca media anti-mainstream, tentu saja) tahu bahwa ada demo sangat besar di Tripoli MENDUKUNG Qaddafi; bahwa NATO tidak sedang melakukan humanitarian intervention, tetapi membombardir Libya habis-habisan.

Berita yang mereka bawa jelas menghantam narasi media Barat + media “Islam” bahwa Qaddafi adalah rezim “thoghut” yang dibenci rakyatnya, sampai-sampai rakyatnya meminta bantuan NATO. Lalu NATO turun tangan ‘membantu’ dengan cara menghancur-leburkan infrastruktruktur Libya. Lalu, tentu saja untuk membangun kembali, pemerintah baru Libya berhutang ke Barat dan proyek-proyek rekonstruksi diserahkan kepada perusahaan Barat. Ini cerita lama, terulang terus, tapi opini publik mudah sekali tertipu berkali-kali.

Mehdi dan Thierry sempat hampir mati dibunuh para sniper saat mereka berada di Libya. Nasib lebih tragis dialami oleh jurnalis perempuan cantik, Sherena Shim. Di saat kaum “Islamis” mengelu-elukan Erdogan dan Turki, dia justru mengungkap support Turki dan Barat kepada ISIS. Dia mati dalam kecelakaan misterius, di perbatasan Turki-Suriah, tak lama setelah itu (Okt 2014). Tanggal 27 Desember kemarin, Naji Jerf, jurnalis Suriah pembuat film dokumenter anti-ISIS, tewas akibat tembakan di kepalanya, juga di Turki.

Jurnalis anti-mainstream lain yang saya hormati adalah Andre Vltchek. Dia keliling dunia dan memberitakan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Imperium. Andre istimewa karena banyak menulis tentang Indonesia. Pertama kali saya terpana membaca tulisannya yang berjudul Jakarta Kota Fasis. Lalu, saya membaca bukunya yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia, “Indonesia, Archipelago of Fear”.

Beberapa waktu yang lalu, saya dan putri saya Kirana, berkesempatan bertemu dengannya. Kami berbincang-bincang cukup lama, hampir dua jam. Dan saya mendapat jawaban dari beberapa pertanyaan yang mengganggu saya selama ini. Lalu saya membaca ulang buku Andre. Rupanya diskusi langsung dengan Andre memberi saya ‘mata’ yang berbeda saat kembali membaca buku itu. Menurut saya, buku ini penting sekali dibaca orang Indonesia. Mungkin nanti saya akan tuliskan panjang lebar di blog, tapi sekarang saya cuma ingin cerita bahwa Kirana melakukan wawancara singkat dengan Andre dan sudah ditulis di blognya. Ada yang menohok dalam jawaban Andre: “sulit buatmu untuk bisa jadi pejuang kemanusiaan, karena lingkunganmu pasti akan mencegahmu; di Indonesia orang-orang masih egois…”

Waduh… saya jadi bertanya dalam hati, benarkah saya ingin anak saya jadi pejuang kemanusiaan? Relakah saya kalau kelak dia tewas terbunuh saat menyuarakan kebenaran seperti Sherena Shim? Ah, jangan jauh-jauh punya impian idealis, bila sekarang saja, saya sudah berkeberatan dengan impiannya sekolah di luar negeri dan mendoktrinnya, “Masuk HI Unpad aja, biar kakak ga jauh dari mama!”

Interview Kirana dengan Andre, bisa dibaca di kiranams.wordpress.com

Globalisasi Konflik

Copas status di facebook:

Sering saya temukan, ketika saya (atau orang lain) menulis “Barat ada di balik konflik negara X”, muncul bantahan seperti ini “Jangan nyalah-nyalahin Barat! Itu kan salah warga negara X sendiri karena..bla..bla..” atau “Anda ini pakai teori konspirasi!” atau kecaman senada dengan berbagai model. Saya sungguh heran, di zaman internet begini, masih juga banyak yang belum paham bahwa dunia sudah jauh berubah. Tidak ada konflik yang berdiri sendiri di era globalisasi ini.

Tentu saja, yang dimaksud ‘Barat’ adalah politisi, korporasi, media mainstream yang memang sangat krusial perannya dalam konflik. Jadi, sangat tidak setara (not apple-to-apple; qiyas ma’al faariq) bila kita bilang Barat itu ‘baik’ hanya dengan bukti betapa baiknya rakyatnya (civil society) mengurusi para pengungsi. Ya, secara kemanusiaan, sangat mungkin civil society di Barat sangat humanis dan baik hati. Tapi kita sedang bicara soal politik internasional, soal siapa yang mendalangi perang.

(lebih…)

Surat Terbuka Untuk Ustadz Arifin Ilham

Yang saya hormati, Ustadz Arifin Ilham,

Assalamualaikum ww. Perkenalkan, saya Dina Y. Sulaeman, seorang ibu rumah tangga biasa, yang senang belajar dan menulis. Kecintaan saya untuk menuntut ilmu mendorong saya untuk kuliah lagi di program doktor Hubungan Internasional; sama sekali tak ada karir yang menuntut saya untuk itu. Tulisan-tulisan saya selama ini, kelihatannya cukup banyak diapresiasi orang; dalam arti, bukan tulisan ngawur. Bahkan ada tulisan saya yang sempat dimuat di majalah Az-Zikra yang Antum terbitkan, Ustadz.

Hanya saja, sejak saya aktif memberikan penjelasan tentang bagaimana sebenarnya konflik Suriah, saya tiba-tiba dimusuhi oleh kelompok-kelompok radikal pro-jihad Suriah. Dan tiba-tiba saja, seorang ibu rumah tangga seperti saya mendapat ‘kehormatan’ dinobatkan jadi “Tokoh Syiah Indonesia” oleh media-media pro-jihad Suriah, yang pemiliknya adalah teman-teman Antum sendiri, Ustadz. Meskipun isi artikel berjudul Tokoh Syiah itu fitnah, tapi setidaknya tiba-tiba saja ada gelar ‘tokoh’ dilekatkan kepada saya. Siapa tahu gelar ini (meskipun ngawur), membuat saya dianggap sah untuk lancang menyurati seorang tokoh besar seperti Antum.

Ada pesan penting yang ingin saya sampaikan kepada Antum, Ustadz. Tolong, ingatlah lagi kronologi konflik Suriah, dengan mengaitkannya pada konflik Libya. Mengapa? Karena saya tahu, Antum sangat dirugikan oleh konflik Libya. Saya baca berita tahun 2011, bantuan dari Libya untuk yayasan Antum terputus gara-gara perang.

Saya juga beberapa kali menulis tentang Libya. Salah satu pegangan utama saya adalah kata-kata antum di Facebook, Ustadz, yaitu bahwa sesungguhnya Presiden Qaddafi adalah seorang hafiz Quran dan sangat consern pada Islam. Ini yang antum tulis waktu itu Ustadz:

“Alhamdulillah, sudah 3 X ke Libya, & 2 X sholat berjamaah di lapangan Moratania & Lapangan Tripoli sholat berjamaah yg dihadiri 873 ulama seluruh dunia & rakyat Libya, dg Imam langsung Muammar Qoddafy, bacaan panjang hampir 100 ayat AlBaqoroh, sbgn besar jamaah menangis, sebelumnya syahadat 456 muallaf dari suku2 Afrika, & dakwah beliau sll mengingatkan ttg ancaman Zionis & Barat, Pemimpin Arab boneka AS, selamatkan Palestina, Afghan & Irak…inilah kesanku pd almarhum, sahabatku FIllah.”

Pernyataan Antum itu mematahkan tuduhan kaum ‘mujahidin’ Libya (yang disebarkan juga oleh media-media pro-jihad di Indonesia) bahwa Qaddafi adalah thoghut, kafir, musuh Islam; dan membuktikan kebohongan gerakan jihad mereka.

Saat konflik Libya baru meletus, data yang bisa saya dapat sangat sedikit, karena terhambatnya arus informasi dari sana (tapi kemudian segalanya menjadi jelas setelah ada jurnalis-jurnalis independen yang nekad masuk ke sana dengan taruhan nyawa). Di awal, saya pakai data-data dari PBB, bahwa HDI dan GDP Libya adalah tertinggi di Afrika (artinya, Libya adalah negara yang sangat-sangat makmur). Kesaksian beberapa orang yang pernah di Libya juga menambah keyakinan saya bahwa data ini sama sekali tidak cocok dengan skenario ‘gelombang demokratisasi’. Terlepas dari keburukan alm. Qaddafi (yang digambarkan media massa Barat, jadi saya tidak tahu pasti benar-tidaknya, Antum yang lebih kenal alm. Qaddafi, Ustadz), fakta tak terbantahkan adalah beliau menggunakan kekayaan alam untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

(lebih…)

Aplikasi Teori Speech-Act untuk Eramuslim.com

eramuslimAda rubrik menarik di LiputanIslam.com, situs yang kelihatan baru muncul sebulan yang lalu, yaitu rubrik Tabayun. Saya salut sekali pada kejelian penulis rubrik ini, juga kegigihan mencari ‘sumber asli’ sebuah berita.

Nah, salah satu artikelnya yang berjudul ‘Eramuslim Menyensor Berita Kontradiksi dari Al Arabiya’ menarik dibahas dengan mengaplikasikan salah satu teori dalam studi HI, speech act.

Entah disadari atau tidak oleh penulisnya, dia sedang mengaplikasikan teori speech-act (tentu saja, tidak detil, tapi ‘spirit’-nya). Teori speech act banyak dipakai untuk menganalisis isu security dan sekuritisasi. Mengapa sebuah kondisi dinyatakan tidak aman? Mengapa Bush menyebut war of terror sebagai ‘perang salib’? Mengapa Obama mengatakan bahwa AS dan Israel memiliki kesamaan kepentingan; apapun yang mengancam keamanan Israel artinya mengancam kepentingan AS? Nah, semua terkait dengan ‘pernyataan’ kan? Pernyataan-pernyataan seperti ini ketika disebarluaskan akan memunculkan kondisi ‘aman’ atau sebaliknya, ‘tidak aman’; pernyataan akan memunculkan perang, atau sebaliknya mendamaikan.

Masalahnya, pernyataan siapa yang bernilai ‘sekuritisasi’ itu? Pernyataan seseorang ‘entah siapa’ (seperti yang dikutip Eramuslim.com), atau pernyataan elit?

(lebih…)

Hipokritas Para Presiden AS

Coba perhatikan foto ini (karya White House photographer Pete Souza, foto-foto lain bisa lihat di sini).

s3.amazonaws.com_policymic-images_f447585fb6b3bc992974d7c35124d7f5e2f30e05d2beaa42385b52c0f2219161

George W. Bush satu pesawat dengan Obama menuju Afsel untuk menghadiri pemakaman Mandela

s3.amazonaws.com_policymic-images_564c9a94eefc1fdba2cfa0d7556a7a61b5faf70274e667f9476e13f6c7de4c96

Di ruang makan pesawat Air Force One yang mewah itu, Bush berbincang akrab dengan Hillary Clinton & Michelle Obama (istri Bush juga ada di foto ini, paling depan-kanan)

Orang yang mudah terkagum-kagum, sangat mungkin berkomentar “Subhanallah ya… Di AS itu meskipun saling berseteru dalam politik tapi mereka tetap rukun…”

Tapi hakikatnya sebenarnya tidak demikian. Foto-foto ini menunjukkan bukti bahwa para presiden AS itu, baik dari Republik atau Demokrat, sebenarnya dari ‘jenis’ yang sama. Perseteruan mereka saat kampanye hanya demi kursi saja. Setelah dapat kursi jabatan, model pemerintahannya sama saja, hanya gaya yang berbeda.

(lebih…)

Disertasi tentang Hipokritas Humanitarian Intervention

Dina Y. Sulaeman*

Humanitarian intervention (intervensi kemanusiaan, untuk selanjutnya dalam tulisan ini disingkat HI) bisa didefinisikan sebagai penggunaan kekuatan militer lintas nasional untuk menghentikan atau mencegah penderitaan manusia dalam skala besar (Bakry, 2013). HI dilakukan NATO di Libya pada tahun 2011 dengan alasan bahwa saat itu telah terjadi pembunuhan massal rakyat sipil oleh rezim Qaddafi. PBB  menyetujui HI dengan tujuan mencegah pembantaian yang lebih besar lagi. Serangan militer NATO terhadap Libya ini disebut ‘intervensi kemanusiaan’, sebuah frasa yang terdengar positif dan bertujuan baik.

Namun, benarkah demikian adanya? Dalam disertasi yang disusun oleh Umar Suryadi Bakry, kita bisa mendapatkan jawabannya secara ilmiah. Bakry adalah Doktor  Hubungan Internasional lulusan universitas dalam negeri pertama di Indonesia (Universitas Padjadjaran), yang lulus dengan yudisium cumlaude pada tanggal 27 September 2013. Dalam disertasinya yang berjudul Intervensi Kemanusiaan NATO di Libya: Perspektif Konstruktivis, Bakry menjelaskan bahwa pada dasarnya, HI memiliki itikad baik untuk melindungi umat manusia dari pelanggaran HAM berat yang dilakukan pemerintah suatu negara. HI dianggap sah bila memenuhi empat kriteria berikut ini:

  1. Just cause:  intervensi militer boleh dilakukan bila negara sasaran perang itu benar-benar dalam kondisi bencana kemanusiaan; bila ada realitas ‘kehilangan jiwa dalam skala besar’ atau ‘pembersihan etnis dalam skala besar’.
  2. Just intention: intervensi militer harus dilakukan dengan tujuan yang benar, yaitu untuk menghentikan penderitaan manusia.
  3. Just authority: keputusan intervensi militer harus diambil oleh otoritas yang paling berhak (yaitu PBB)
  4. Last resort: intervensi militer hanya boleh dilakukan ‘jika dan hanya jika’ semua upaya damai lain sudah dilakukan dan tidak menemui hasil.

Hasil penelitian Bakry menemukan bahwa dari keempat kriteria itu, hanya criteria just authority yang terpenuhi dalam operasi HI di Libya (yaitu bahwa keputusan intervensi memang diambil oleh Dewan Keamanan PBB). Untuk just cause, sama sekali belum ada data akurat yang menyebutkan berapa jumlah korban kekejaman Qaddafi. Untuk just intention, penelitian Bakry menemukan bahwa motif utama para negara-negara pendukung perang Libya sesungguhnya bukanlah untuk menyelamatkan rakyat Libya, melainkan untuk menggulingkan Qaddafi. Sementara itu kriteria last resort juga tidak terpenuhi, mengingat sangat pendeknya jarak antara fenomena ‘krisis kemanusiaan’ di Libya dengan pengambilan keputusan intervensi militer oleh DK PBB. Ini menunjukkan bahwa komunitas internasional sebenarnya belum melakukan upaya damai yang cukup sebelum memutuskan menyerbu Libya.

(lebih…)

Palestina dan Dr Jose

Sebelum ‘ribut-ribut’ soal Suriah, saya hanya ‘kenal nama’ saja dengan Dr. Joserizal. Beliau relawan MER-C yang aktif memberikan pertolongan kemanusiaan di berbagai wilayah konflik dan bencana, terutama Palestina. Ketika saya mulai sering disudutkan gara-gara bersuara melawan mainstream soal Suriah, saya mendapatkan tulisan beliau ‘Mengapa Harus Suriah‘ dan saya posting ulang di blog ini. Lalu, ketika saya selesai menulis buku Prahara Suriah, saya mengontak beliau via FB dan meminta endorsment dari beliau, alhamdulillah bersedia.

Lalu tiba-tiba, sebuah situs penebar kebencian menyebut Dr Joserizal Syiah, hanya gara-gara pendapat beliau soal Suriah. Saya spontan nulis status di FB membela beliau. Bukan apa-apa, saya sangat sadar bahwa fitnah terhadap Dr Jose sangat melemahkan upaya penggalangan bantuan untuk rakyat Palestina. Waktu itu, sudah ada yang bikin blog fitnahan terhadap saya. Foto saya, suami, dan anak-anak secara illegal ditaruh di blog itu dan dijelek-jelekkan. Tapi, saya pikir, saya toh ibu RT biasa. Kalau karakter saya dibunuh sedemikian rupa, sebenarnya ga banyak ‘rugi’. Emangnya siapa gue, gitu loh? Tapi, kalau Dr Jose yang merupakan tokoh penting perjuangan kita melawan Israel (lewat misi kemanusiaan), efeknya akan sangat besar.

Beberapa waktu yll, di FB, seorang wartawan (Hendi Jo) menulis status (karena dishare utk publik, saya pikir tidak salah bila saya copas di sini):

Beberapa hari lalu saya bertemu dengan dr.Joserizal Jurnalis di RS. Siaga, Pasar Minggu, niat ingin wawancara tapi jadi ngobrol-ngobrol santai ngalor ngidul. Saat saya tanya tentang tuduhan ia sudah menjadi Syiah sekarang, ia hanya tertawa saja.”Ya tuduhan itu membuat saya banyak kehilangan kawan, tapi ga apa-apa. Toh, saya yakin mereka tau siapa saya bahkan sejak dulu. Saya hanya ingin berdiri di tengah sekaligus memberitahukan bahwa apa yang saat ini kita tengah hadapi adalah murni soal politik bukan soal agama. Saya tak akan mati untuk mazhab atau organisasi. Kalau MER-C pun ternyata ke depannya tidak benar, bubarkan saja. Kan gampang?”

Subhanallah, sikap dan kalimatnya yang sedemikian tawakal dan positive thinking, memberi semangat ke saya yang sempat down gara-gara berbagai intimidasi ke saya. Iya ya.. emang saya rugi apa sih difitnah dan dijelek2in sedemikian parah oleh banyak orang begitu? Karir? Gw kaga punya karir pun.. *logat Upin Ipin* Uang..? Lha, emang itu media online, FB-er dan blogger yang menjelek-jelekkan saya itu selama ini ngasih duit gitu, ke saya? Bahkan yang remove-remove saya di FB itu aslinya juga tidak saya kenal. Yang memberi rizki itu Allah kok. Keselamatan? Saya sangat yakin, Allah akan melindungi saya sekeluarga. Laa hawlaa wa laa quwwata illaa billaah…

Dan, baru saja saya menonton video paparan Dr Jose soal konflik Timteng. Bagus sekali cara beliau memaparkan. Ini pertama kali saya menyaksikan beliau bicara.

(lebih…)