Kajian Timur Tengah

Beranda » Libya (Laman 2)

Category Archives: Libya

Aplikasi Teori Speech-Act untuk Eramuslim.com

eramuslimAda rubrik menarik di LiputanIslam.com, situs yang kelihatan baru muncul sebulan yang lalu, yaitu rubrik Tabayun. Saya salut sekali pada kejelian penulis rubrik ini, juga kegigihan mencari ‘sumber asli’ sebuah berita.

Nah, salah satu artikelnya yang berjudul ‘Eramuslim Menyensor Berita Kontradiksi dari Al Arabiya’ menarik dibahas dengan mengaplikasikan salah satu teori dalam studi HI, speech act.

Entah disadari atau tidak oleh penulisnya, dia sedang mengaplikasikan teori speech-act (tentu saja, tidak detil, tapi ‘spirit’-nya). Teori speech act banyak dipakai untuk menganalisis isu security dan sekuritisasi. Mengapa sebuah kondisi dinyatakan tidak aman? Mengapa Bush menyebut war of terror sebagai ‘perang salib’? Mengapa Obama mengatakan bahwa AS dan Israel memiliki kesamaan kepentingan; apapun yang mengancam keamanan Israel artinya mengancam kepentingan AS? Nah, semua terkait dengan ‘pernyataan’ kan? Pernyataan-pernyataan seperti ini ketika disebarluaskan akan memunculkan kondisi ‘aman’ atau sebaliknya, ‘tidak aman’; pernyataan akan memunculkan perang, atau sebaliknya mendamaikan.

Masalahnya, pernyataan siapa yang bernilai ‘sekuritisasi’ itu? Pernyataan seseorang ‘entah siapa’ (seperti yang dikutip Eramuslim.com), atau pernyataan elit?

(lebih…)

Hipokritas Para Presiden AS

Coba perhatikan foto ini (karya White House photographer Pete Souza, foto-foto lain bisa lihat di sini).

s3.amazonaws.com_policymic-images_f447585fb6b3bc992974d7c35124d7f5e2f30e05d2beaa42385b52c0f2219161

George W. Bush satu pesawat dengan Obama menuju Afsel untuk menghadiri pemakaman Mandela

s3.amazonaws.com_policymic-images_564c9a94eefc1fdba2cfa0d7556a7a61b5faf70274e667f9476e13f6c7de4c96

Di ruang makan pesawat Air Force One yang mewah itu, Bush berbincang akrab dengan Hillary Clinton & Michelle Obama (istri Bush juga ada di foto ini, paling depan-kanan)

Orang yang mudah terkagum-kagum, sangat mungkin berkomentar “Subhanallah ya… Di AS itu meskipun saling berseteru dalam politik tapi mereka tetap rukun…”

Tapi hakikatnya sebenarnya tidak demikian. Foto-foto ini menunjukkan bukti bahwa para presiden AS itu, baik dari Republik atau Demokrat, sebenarnya dari ‘jenis’ yang sama. Perseteruan mereka saat kampanye hanya demi kursi saja. Setelah dapat kursi jabatan, model pemerintahannya sama saja, hanya gaya yang berbeda.

(lebih…)

Disertasi tentang Hipokritas Humanitarian Intervention

Dina Y. Sulaeman*

Humanitarian intervention (intervensi kemanusiaan, untuk selanjutnya dalam tulisan ini disingkat HI) bisa didefinisikan sebagai penggunaan kekuatan militer lintas nasional untuk menghentikan atau mencegah penderitaan manusia dalam skala besar (Bakry, 2013). HI dilakukan NATO di Libya pada tahun 2011 dengan alasan bahwa saat itu telah terjadi pembunuhan massal rakyat sipil oleh rezim Qaddafi. PBB  menyetujui HI dengan tujuan mencegah pembantaian yang lebih besar lagi. Serangan militer NATO terhadap Libya ini disebut ‘intervensi kemanusiaan’, sebuah frasa yang terdengar positif dan bertujuan baik.

Namun, benarkah demikian adanya? Dalam disertasi yang disusun oleh Umar Suryadi Bakry, kita bisa mendapatkan jawabannya secara ilmiah. Bakry adalah Doktor  Hubungan Internasional lulusan universitas dalam negeri pertama di Indonesia (Universitas Padjadjaran), yang lulus dengan yudisium cumlaude pada tanggal 27 September 2013. Dalam disertasinya yang berjudul Intervensi Kemanusiaan NATO di Libya: Perspektif Konstruktivis, Bakry menjelaskan bahwa pada dasarnya, HI memiliki itikad baik untuk melindungi umat manusia dari pelanggaran HAM berat yang dilakukan pemerintah suatu negara. HI dianggap sah bila memenuhi empat kriteria berikut ini:

  1. Just cause:  intervensi militer boleh dilakukan bila negara sasaran perang itu benar-benar dalam kondisi bencana kemanusiaan; bila ada realitas ‘kehilangan jiwa dalam skala besar’ atau ‘pembersihan etnis dalam skala besar’.
  2. Just intention: intervensi militer harus dilakukan dengan tujuan yang benar, yaitu untuk menghentikan penderitaan manusia.
  3. Just authority: keputusan intervensi militer harus diambil oleh otoritas yang paling berhak (yaitu PBB)
  4. Last resort: intervensi militer hanya boleh dilakukan ‘jika dan hanya jika’ semua upaya damai lain sudah dilakukan dan tidak menemui hasil.

Hasil penelitian Bakry menemukan bahwa dari keempat kriteria itu, hanya criteria just authority yang terpenuhi dalam operasi HI di Libya (yaitu bahwa keputusan intervensi memang diambil oleh Dewan Keamanan PBB). Untuk just cause, sama sekali belum ada data akurat yang menyebutkan berapa jumlah korban kekejaman Qaddafi. Untuk just intention, penelitian Bakry menemukan bahwa motif utama para negara-negara pendukung perang Libya sesungguhnya bukanlah untuk menyelamatkan rakyat Libya, melainkan untuk menggulingkan Qaddafi. Sementara itu kriteria last resort juga tidak terpenuhi, mengingat sangat pendeknya jarak antara fenomena ‘krisis kemanusiaan’ di Libya dengan pengambilan keputusan intervensi militer oleh DK PBB. Ini menunjukkan bahwa komunitas internasional sebenarnya belum melakukan upaya damai yang cukup sebelum memutuskan menyerbu Libya.

(lebih…)

Palestina dan Dr Jose

Sebelum ‘ribut-ribut’ soal Suriah, saya hanya ‘kenal nama’ saja dengan Dr. Joserizal. Beliau relawan MER-C yang aktif memberikan pertolongan kemanusiaan di berbagai wilayah konflik dan bencana, terutama Palestina. Ketika saya mulai sering disudutkan gara-gara bersuara melawan mainstream soal Suriah, saya mendapatkan tulisan beliau ‘Mengapa Harus Suriah‘ dan saya posting ulang di blog ini. Lalu, ketika saya selesai menulis buku Prahara Suriah, saya mengontak beliau via FB dan meminta endorsment dari beliau, alhamdulillah bersedia.

Lalu tiba-tiba, sebuah situs penebar kebencian menyebut Dr Joserizal Syiah, hanya gara-gara pendapat beliau soal Suriah. Saya spontan nulis status di FB membela beliau. Bukan apa-apa, saya sangat sadar bahwa fitnah terhadap Dr Jose sangat melemahkan upaya penggalangan bantuan untuk rakyat Palestina. Waktu itu, sudah ada yang bikin blog fitnahan terhadap saya. Foto saya, suami, dan anak-anak secara illegal ditaruh di blog itu dan dijelek-jelekkan. Tapi, saya pikir, saya toh ibu RT biasa. Kalau karakter saya dibunuh sedemikian rupa, sebenarnya ga banyak ‘rugi’. Emangnya siapa gue, gitu loh? Tapi, kalau Dr Jose yang merupakan tokoh penting perjuangan kita melawan Israel (lewat misi kemanusiaan), efeknya akan sangat besar.

Beberapa waktu yll, di FB, seorang wartawan (Hendi Jo) menulis status (karena dishare utk publik, saya pikir tidak salah bila saya copas di sini):

Beberapa hari lalu saya bertemu dengan dr.Joserizal Jurnalis di RS. Siaga, Pasar Minggu, niat ingin wawancara tapi jadi ngobrol-ngobrol santai ngalor ngidul. Saat saya tanya tentang tuduhan ia sudah menjadi Syiah sekarang, ia hanya tertawa saja.”Ya tuduhan itu membuat saya banyak kehilangan kawan, tapi ga apa-apa. Toh, saya yakin mereka tau siapa saya bahkan sejak dulu. Saya hanya ingin berdiri di tengah sekaligus memberitahukan bahwa apa yang saat ini kita tengah hadapi adalah murni soal politik bukan soal agama. Saya tak akan mati untuk mazhab atau organisasi. Kalau MER-C pun ternyata ke depannya tidak benar, bubarkan saja. Kan gampang?”

Subhanallah, sikap dan kalimatnya yang sedemikian tawakal dan positive thinking, memberi semangat ke saya yang sempat down gara-gara berbagai intimidasi ke saya. Iya ya.. emang saya rugi apa sih difitnah dan dijelek2in sedemikian parah oleh banyak orang begitu? Karir? Gw kaga punya karir pun.. *logat Upin Ipin* Uang..? Lha, emang itu media online, FB-er dan blogger yang menjelek-jelekkan saya itu selama ini ngasih duit gitu, ke saya? Bahkan yang remove-remove saya di FB itu aslinya juga tidak saya kenal. Yang memberi rizki itu Allah kok. Keselamatan? Saya sangat yakin, Allah akan melindungi saya sekeluarga. Laa hawlaa wa laa quwwata illaa billaah…

Dan, baru saja saya menonton video paparan Dr Jose soal konflik Timteng. Bagus sekali cara beliau memaparkan. Ini pertama kali saya menyaksikan beliau bicara.

(lebih…)

Syria di Republika

Dina Y. Sulaeman*

Pada 11 Februari lalu, kolom Resonansi  harian Republika menurunkan sebuah artikel yang menurut saya sangat menyedihkan. Bagaimana mungkin seorang jurnalis senior, mantan Pemimpin Redaksi harian besar di Indonesia itu, sedemikian awamnya dalam memahami konflik Syria dan konstelasi politik global? Sang jurnalis yang bernama Ikhwanul Kiram Mashuri (IKM) itu menyandarkan analisisnya dari sebuah video yang  belum diverifikasi kebenarannya, lalu menyimpulkan bahwa “musuh umat Islam tidak hanya Zionis, melainkan juga rezim brutal seperti Assad.”

Bagaimana mungkin seorang jurnalis senior sampai tidak tahu bahwa perang Syria sangat diwarnai perang propaganda dan bahkan disebut-sebut sebagai “A Photoshoped Revolution” saking banyaknya rekayasa informasi foto yang diunggah melalui internet untuk memprovokasi opini publik. Berkali-kali pihak oposisi mengunggah foto berdarah-darah di internet dan menyebutnya sebagai ‘korban Assad’. Lalu, biasanya para blogger-lah (sayang sekali, mengapa bukan jurnalis?) yang berjasa  menemukan bukti bahwa foto-foto itu mengabadikan kejadian berdarah di tempat lain (umumnya di Gaza).  Bahkan kantor berita sekelas BBC ketahuan menggunakan foto korban perang Irak dan menyebutnya itu korban pembantaian tentara Assad.

Kaum oposisi Syria pun membuat sangat banyak rekaman video amatir lalu diunggah di  internet. Video dari pihak oposisi ini dengan sangat cepat disebarluaskan ke seluruh dunia, bahkan direlay dan disiarkan ulang oleh media massa mainstream. Video-video itu terbagi ke dalam beberapa jenis: pembantaian sadis yang disebut sebagai korban kebrutalan Assad, pembantaian sadis yang diiringi takbir (dilakukan oleh pasukan oposisi), dan video berisi propaganda relijius, yang sepertinya dibuat utk membangkitkan semangat jihad Islam. Video seperti ini biasanya memperlihatkan para pemberontak sedang menembakkan senjata dengan diiringi takbir, tayangan para pemberontak sedang sholat berjamaah, atau (konon) demo sejumlah massa yang menginginkan khilafah di Syria.

Bila IKM menyodorkan video tentang Hamzah Al Khatib yang (konon) dibunuh oleh tentara Assad (IKM tidak memberi bukti apakah secara jurnalistik video itu sudah terverifikasi), bagaimana bila dia menonton salah satu video sangat brutal yang diunggah oleh kaum oposisi? Video itu sudah terverifikasi (The Guardian memverifikasinya kepada Mustafa al-Sheikh, Ketua Dewan Tinggi Militer FSA) dan bisa diliat di you tube dengan kata kunci ‘syrian+rebel+execute+Aleppo [1]. Dalam video itu, sejumlah pria tak berbaju diseret keluar oleh sejumlah orang besenjata lalu dijejerkan ke dinding, dan kemudian ditembaki (bukan ditembak satu persatu, melainkan dibombardir peluru secara terus-menerus selama 43 detik). Setelah itu hening sekejap lalu diikuti teriakan takbir. Dipastikan, pelakunya bukan tentara Assad. Mustafa al-Sheikh, Ketua Dewan Tinggi Militer FSA, menyebut korban pembantaian adalah klan Al Berri, dan menyebutnya sebagai shabiha. Dalam logika Sheikh, mereka sah-sah saja membantai Berri dengan alasan: Berri adalah shabiha.

(lebih…)

Antara Mesir, Iran, dan Syria

Dina Y. Sulaeman*

“Saya yakin di era baru ini, bangsa Mesir akan bergerak menuju puncak kehormatan dan kemajuan.”

[ucapan selamat Ahmadinejad kepada Mursi, atas keberhasilan referendum Mesir, 25/12/12]

Menarik sekali mengamati fenomena Mesir akhir-akhir ini. Setelah sebelumnya pemimpin Barat dan medianya sangat pro-revolusi Mesir, memberikan dukungan besar-besaran atas apa yang mereka sebut ‘proses demokratisasi Mesir’, angin pun berbalik. Sejak Presiden Mursi ‘nekad’ mengeluarkan Dekrit 22 November, media Barat beramai-ramai menghujatnya. Simak saja liputan CNN, AlJazeera (yang meskipun bermarkas di Qatar namun sejatinya corong Barat di Timur Tengah), atau New York Times. Sudut pandang pemberitaan mereka seragam: kelangsungan revolusi Mesir telah terancam; demokrasi telah disingkirkan oleh Ikhwanul Muslimin. Dengan gaya liputan yang seperti biasanya selama ini, mereka mewawancarai orang-orang di jalanan yang anti Mursi, sehingga seolah-olah sebagian besar rakyat Mesir memang marah pada Mursi. Tokoh-tokoh anti-Mursi pun naik daun, diwawancarai berkali-kali dan suara mereka seolah menjadi mewakili keinginan rakyat Mesir. Demo anti Mursi dibesar-besarkan, sementara demo pro-Mursi tidak diliput seimbang.

Dan, tentu saja, media-media yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin pun berjuang sebisanya meng-counter pemberitaan Barat itu. Blogger-blogger dari Al Azhar sibuk menulis, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di Mesir. Intinya, menurut versi mereka, sesungguhnya niat Mursi itu baik, karena tanpa dekrit, upaya perumusan konstitusi baru Mesir akan selalu diganggu oleh kelompok yang pro-Mubarak dan pro-Barat.

Hey, tidakkah ini seharusnya menimbulkan deja vu?

(lebih…)

Terungkapnya Jati Diri Para Aktor di Syria

(dimuat di IRIB dan The Global Review)

Dina Y. Sulaeman*

Konflik di Syria telah memasuki fase baru. Bila sebelumnya kaum oposisi ‘berjuang’ di bawah bendera Syrian National Council dan Free Syrian Army (FSA), kini masing-masing faksi di dalamnya mulai berpecah dan menampakkan ideologinya masing-masing. SNC dan FSA dibentuk di Turki. Di dalam FSA bernaung sebagian besar milisi (sebagian pihak menyebutnya ‘mujahidin’), termasuk Al Qaida. Mereka menjadikan Sheikh Adnan Al-Arour yang tinggal di Arab Saudi sebagai pemimpin spiritual. Dalam salah satu pidatonya yang bisa dilihat di You Tube, Al Arour menjanjikan bahwa bila pasukan mujahidin menang, kaum Alawi akan ‘dicincang lalu dberikan ke anjing’.

Kaum muslim ‘moderat’, dipimpin oleh Ikhwanul Muslimin, memilih untuk bergabung dalam National Coalition for Syrian Revolutionary and Opposition Forces yang baru dibentuk bulan November lalu di Doha, Qatar. Koalisi baru ini didukung oleh Qatar, Arab Saudi, AS, Inggris, dan Prancis. Negara-negara tersebut selama ini memang sudah membiayai, mengirimi senjata, dan memfasilitasi kedatangan pasukan ‘jihad’ dari berbagai negara Arab dan Libya untuk membantu FSA, namun kini secara terbuka telah menyatakan akan mengirim bantuan senjata kepada koalisi baru tersebut. Jadi, meskipun ‘moderat’, koalisi baru ini tetap akan angkat senjata melawan rezim Assad.

(lebih…)

Obama dan Hiperrealitas

Dina Y. Sulaeman*

Pilpres Amerika Serikat tahun ini terasa kurang seru. Sangat Amerika. Obama meraih kemenangan dengan mendulang suara kaum perempuan yang pro pada kebijakannya soal aborsi; kaum muda dan gay yang lebih merasa cocok dengan nilai-nilai liberal yang diusung Obama, atau kaum Hispanik yang merasa terlindungi oleh kebijakan pro-imigran Obama. Bahkan kaum sosialis pun mendukungnya, dengan alasan kebijakan ekonomi Obama lebih sosialis, dibandingkan Romney yang sangat pro-kapitalis.

Bandingkan dengan pemilu 2008 yang sangat gegap gempita. Slogan Change dan Yes We Can menggema ke seluruh penjuru dunia. Saat itu pilpres AS seolah menjadi pilpres bagi dunia. Demam Obama melanda warga dunia. Kemenangan Obama disambut meriah, mulai dari Beijing hingga Khartoum. Belasan juta orang saling berjejaring di internet, membangun sesuatu yang disebut the power of we, kekuatan kita bersama, demi mendukung Obama. Massa di akar rumput secara sukarela menggalang aksi-aksi pengumpulan dana untuk disumbangkan kepada Obama dan terkumpullah 1,6 juta dollar. Obama menjadi representasi mereka yang tertindas, kaum pariah, dan umat yang mendambakan perubahan. Obama tampil bak Messiah, Sang Juru Selamat.

(lebih…)

Petraeus: Antara Perselingkuhan dan Upaya Penggulingan Assad

Tulisan ini sebenarnya hanya sekedar menstruktur-ulang berbagai fakta yang berserakan di berbagai berita yang dipublikasikan media massa (dan sumbernya bisa dibaca dengan mengklik setiap link yang ada di tulisan ini), sehingga menjadi sebuah pemikiran yang runut. Saya menerjemahkannya, dengan  menambahkan sedikit pendahuluan, dari Washington Blog. (Dina Y. Sulaeman)

Mundurnya Petraeus seolah sederhana: tindakan ksatria seorang jenderal yang malu karena telah mengkhianati istrinya, sehingga tak pantas lagi memimpin sebuah lembaga negara.  Namun, benarkah demikian? Waktu pengunduran diri Direktur CIA, Petraeus, menjadi lebih menarik diperhatikan jika dilihat dari sisi bahwa dia mundur hanya beberapa hari sebelum dia dijadwalkan untuk bersaksi di bawah sumpah di depan Komite Parlemen yang mengusut skandal konsulat di Benghazi. Banyak yang berspekulasi bahwa ini bukanlah kasus perselingkuhan, melainkan upaya untuk menghindari pemberian kesaksian atas Benghazi.

Bila dirunut lagi, aksi penyerangan itu diawali dengan datangnya massa ke gedung konsulat AS di kota Benghazi. Mereka melakukan demo menyuarakan protes mereka atas pembuatan film yang menghina Nabi Muhammad. Lalu,  tiba-tiba sekitar 20 militan datang dengan membawa RPG7 dan membardir gedung konsulat sehingga menewaskan Dubes AS beserta 3 stafnya. Penyerangan seperti ini jelas memerlukan persiapan. Ini bukanlah proses ‘alami’ : ada demo, lalu situasi memanas, dan terjadilah aksi anarkhi. Bahkan sumber dari AS sendiri menyatakan bahwa penyerangan itu terlihat sudah direncanakan dan menjadi aksi demo sebagai pengalihan perhatian (CNN 13/9). Bila dilihat dari ‘sejarah’-nya, Konsulat AS di Benghazi sebelumnya (7 Juni 2012) juga pernah dibom  oleh  teroris yang memiliki link dengan Al Qaida, yaitu kelompok Omar Abdul Rahman. Para pengebom meninggalkan leaflet yang berisi pernyataan bahwa serangan itu sebagai  balasan atas tewasnya salah satu pimpinan mereka, Abu Yahya al Libi. Mereka juga menjanjikan akan melakukan serangan lagi terhadap AS. Tidak ada korban tewas dalam aksi terorisme bulan Juni itu.

Apa yang sebenarnya terjadi di Benghazi, tentu memerlukan penyelidikan, yang sepertinya akan terhambat karena pengunduran diri Petraeus. Tetapi, kita, publik awam, bisa melihat ada banyak kejanggalan dalam peristiwa ini. Di antara hal yang mengejutkan adalah bahwa Pemerintah AS tidak pernah meminta perlindungan  atau adanya pengakuan dari orang semacam Letnan Colonel Anthony Shaffer yang menyebutkan bahwa Presiden Obama secara personal menyaksikan  kejadian penyerangan itu secara langsung (real time) melalui video feeds pesawat pengintai yang terbang di atas konsulat AS di Benghazi.

Klaim-klaim ini hanya bisa dinilai, dan semua informasi yang simpang-siur ini bisa dipahami, jika kita menelaah terlebih dulu latar belakangnya secara lebih mendalam.

Banyak Teroris Syria yang Datang dari Libya

Gerilyawan Libya yang berperan dalam penggulingan Qaddafi, dengan dukungan NATO dan AS, sebagian besarnya terdiri dari teroris Al Qaeda .

Menurut laporan tahun 2007 yang dirilis oleh West Point’s Combating Terrorism Center’s center, kota Benghazi adalah salah satu markas Al Qaeda’s dan markas untuk pengiriman pasukan Al Qaeda ke Irak, sebelum penggulingan Qaddafi. Al Qaeda saat ini mengontrol sebagian besar Libya.  Bahkan, bendera Al Qaeda dikibarkan di gedung pengadilan Benghazi courthouse sesaat setelah Qaddafi terguling.

(Kebetulan, Qaddafi hampir menyerang Benghazi pada tahun 2011, empat tahun setelah laporan the West Point itu. Qaddafi mengklaim – dan kemudian benar terbukti– bahwa Benghazi adalah markas Al Qaeda dan sumber utama dari pemberontakan di Libya.  Tetapi pesawat-pesawat NATO menghentikan aksi Qaddafi, dan melindungi Benghazi.)

(lebih…)

Innocence of Muslims vs ‘Innocence’ of Zionist

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

Ada banyak analisis yang bisa ditulis terkait aksi terbaru kelompok Islamophobi yang membuat film nista berjudul Innocence Muslim. Saya ingin membahasnya dari sisi ini: “siapa yang memulainya pertama?”

Banyak yang mengecam aksi kekerasan di Libya. Sebagian orang Islam sendiri langsung ‘setuju’ dengan citra yang disebarluaskan oleh media Barat: bahwa aksi pembunuhan terhadap para diplomat AS di Libya adalah ‘balas dendam’ atas pembuatan film Innocence of Muslims. Lalu lagi-lagi, muslim disalahkan dan dicitrakan sebagai penganut agama kekerasan. Sebagian muslim pun malah saling menasehati, “Marah boleh, tapi jangan membunuh dong!” atau, “Rasulullah saja kalau masih hidup pasti akan memaafkan; beliau tidak akan setuju kalau kita berbuat biadab.” Pertanyaannya, siapa ‘kita’ yang dimaksud? Siapa yang membunuh Dubes AS?

(lebih…)